Home » , , » Rencana Deklarasi Hari Sastra Asia Tenggara Diprotes

Rencana Deklarasi Hari Sastra Asia Tenggara Diprotes

Written By Peradaban Dunia on Thursday, 2 May 2013 | 01:09

Majelis Sastra Hamzah Fansuri
Peradaban Dunia, Banda Aceh – Rencana Pendeklarasian Hari Sastra Asia Tenggara menuai protes dari berbagai kalangan pegiat sastra. Menurut mereka, deklarasi dan penetapan hari tersebut harus dilakukan oleh para penggerak sastra dalam sebuah keputusan bersama.

Ketua Balai Sastra Samudra Pasai, Zulfadli Kawom, di Banda Aceh, 1 Mei 2013 menangapi rencana ditetapkannya Hari Sastra Asia Tenggara oleh beberapa kalangan di Aceh. Menurutnya, sebelum ditetapkan dalam kalender sastra sebagai agenda tetap pada tanggal dan bulan yang sama setiap tahun, ada tahap-tahap yang harus dilaksanakan.

“Untuk menetapkan Hari Sastra Asia Tenggara, harus ada kesepakatan bersama dulu, minimal diadakan semacam simposium atau lokakarya untuk mementukannya, paling kurang ada perwakilan dari Semenanjung Melayu, Sumatra dan Malaysia dalam pertemuan tersebut,” kata Zulfadli.

Selain Zulfadli, para penulis di Aceh juga menuai protes akan rencana tersebut. Menurut mereka, acara tersebut harus melibatkan semua pihak terkait dengan sastra. Sebagian lagi, setuju saja akan usaha pendeklarasian tersebut karena menurut mereka memang perlu dan itu menandakan kebangkitan sastra di Asia Tenggara. Hal prosedur, kata sumber tersebut,  bisa disepakati bersama.

Promotor Hari Sastra Asia Tenggara, Thayeb Loh Angen, mengatakan, pada Sabtu 11 Mei 2013, pihaknya hanya menyiapkan bahan awal untuk mendeklarasikan hari sastra.

“Itu bukan penetapan. Tanggal 11 Mei 2013 Auditorium Ali Hasyimi, Banda Aceh adalah usaha awal untuk mencapai Deklarasi Hari Sastra Asia Tenggara. Sepuluh hari setelahnya kita lanjutkan di ACC Sultan II Selim, Banda Aceh pada Selasa 21 Mei 2013, dalam acara tersebut baru kita undang sastrawan dari beberapa negara,” kata Thayeb yang juga Kepala Sekolah Hamzah Fansuri.

Acara 21 Mei, kata Thayeb, direncanakan untuk Penetapan Hari Hamzah Fansuri Hari Sastra Asia Tenggara. Itupun, kata dia, jika dalam acara di hari tersebut dapat disepakati dan memenuhi syarat penetapan.

“Bicara sastra Aceh adalah bicara sastra Asia Tengara karena bahasa Melayu adalah hadiah orang Aceh ke Asia Tenggara. Dalam hal ini, Hamzah Fansuri adalah tokoh kunci sehingga dialah yang menjadi tolok ukur sastra di Asia Tenggara,” kata Thayeb yang akan meluncurkan novelnya Aceh 2021 pada 12 Juni 2013.
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Web Design : Peradaban Dunia Team | Redaksi | About
Copyright © 2011. Peradaban Dunia - All Rights Reserved
www.peradabandunia.com