Pegiat sosial Aceh: Aceh Butuh Penyair Istana

Tjek Gu PA (kiri) dan rekan-rekan dalam sebuah deklarasi.
Peradaban Dunia, Banda Aceh – Sebelum adanya teknologi informasi di Aceh, pembacaan hikayat adalah media publik untuk menyampaikan pesan-pesan penting. Sampai era 1980-an, tradisi baca hikayat masih kuat di Aceh.

Demikian kata pegiat sosial Aceh, Tjek Gu PA, di Banda Aceh, Selasa, 14 Mei 2013. Kini, kata dia, tradisi tersebut harus dihidupkan kembali.

“Hikayat Aceh dibaca di acara pesta perkawinan, syukuran, dan acara pelantikan pejabat formal dan nonformal. Syair-syair yang terkandung dalam hikayat tersebut menceritakan kegagahan para pahlawan, yang kalau di Pase, seperti hikayat Malem Dewa, Putroe Bunsu, Indra Budiman, Raja Jeumpa, dan sebagainya,” kata Tjek Gu.

Namun, kata dia, saat ini tradisi membaca hikyat sudah begitu langka. Bahkan, menurutnya, hampir punah. Pembaca hikayat sendiri, kata dia, terakhir terdengar adalah Tgk Adnan PMTOH.

“Kini, setelah Tgk Adnan meninggal, hampir tidak ada generasi berikutnya yang mengikuti jejak beliau. Bahkan, di pantai Utara dan Timur Aceh jarang terdengar,” Tjek Gu.

Kata dia, untuk menyambung sejarah budaya bidang dunia sastra Aceh, para penghikayat harus diseleksi untuk diangkat sebagai penyair istana.

Imran Samudera Pase

Sementara, tokoh pemuda Aceh Utara, Imran Samudera Pase, mengatakan, harus dicari figur yang cocok untuk pengganti Tgk Adnan PMTOH. Selama ini, seolah budaya asli Aceh sudah terkubur.

“Dengan adanya orang yang mendalami seni khas Aceh bidang hikayat dapat menguatkan kembali budaya Aceh yang pernah dikenal di berbagai belahan bumi,” kata Imran yang pernah bekerja di Bidang Satker Agama Sosial Budaya di BRR Aceh-Nias Regional II.pd

Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki