Mahasiswa Tarbiyah IAIN Ar-Raniry Deklarasi Hari Sastra Asia Tenggara

Foto bersama setelah Deklarasi hari Sastra Asia Tenggara, Bedah Novel Teuntra Atom, dan Launcing SEMEsTA (Sekolah Menulis Tarbiyah) IAIN, di Aula Fakultas Tarbiyah, IAIN, Banda Aceh, 11 Mei 2013/1 Rajab 1434 H.
Banda Aceh - Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas ( BEMAF) Tarbiyah IAIN Ar-Raniry  mendeklarasikan Hari Sastra Asia Tenggara dan Launching Sekolah Menulis Tarbiyah atau yang disingkat dengan SEMESTA di Aula Fakultas Tarbiyah, Banda Aceh, Sabtu (11/5/ 2013) bertepatan pada 1 Rajab 1434 H.

Deklarasi tersebut juga dikemas dengan bedah Novel “Teuntra Atom” karya seorang mantan Kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Thayeb Loh Angen, yang kini konsen di dunia sastra Aceh serta memimpin Sekolah Sastra Hamzah Fansuri. 

Acara yang dihadiri oleh Sastrawan, Penulis dan para akademisi dari berbagai daerah ini di buka oleh PD 3 Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry, Dr. Syabuddin Gade, M,Ag. Dalam sambutannya, Syabuddin berharap acara ini jangan hanya sebatas seremonial saja, namun juga harus terus diasah agar lahir para penulis – penulis Aceh yang mampu mewarnai dunia Kepenulisan dan sastra Aceh.

Sebagai narasumber dan pembedah, selain Thayeb Loh Angen, acara deklerasi sastra ini menghadirkan Teuku Zulkhairi dari kalangan penulis, Rahmat Banta dari Penerbit CAJP, Herman RN dan Muda Balia yang menunjukkan kebolehannya membaca hikayat Aceh sebagai pertanda pendeklerasian Hari Sastra Asia Tenggara, 11 Mei 2013.

Gubernur Mahasiswa Fakultas Tarbiyah, Muhammad Sufri dalam sambutannya mengatakan hadirnya SEMESTA ini diharapkan menjadi oase dalam kegersangan dunia kepenulisan Mahasiswa. “Ini akan menjadi tonggak kemajuan ke penulisan mahasiswa kedepan, sebagai oase dalam kegersangan dunia kepenulisan mahasiswa saat ini,” imbuh Sufri.

Narasumber lainnya, Teuku Zulkhairi mengatakan, kejayaan sastra Aceh di masa silam yang ditulis oleh para ulama sangat identik dengan kepentngan dakwah Islam dan sangat sarat dengan nilai-nilai Islami.

“Maka sastra Aceh yang harus dibangun ke depan arahnya harus memuat kepentingan dakwah Islam,” tegas Zulkhairi yang menulis buku “Catatan Seorang Santri Aceh” ini. Maka, “pendeklerasian Hari Sastra Asia Tenggara ini harus menjadi momentum awal menggapai cita-cita tersebut,” sambungnya.

Sementara Thayeb Loh Angen, inisiator dan pencetus Hari Sastra Asia Tenggara saat membaca Naskah Deklarasi mengatakan, Hamzah Fansuri adalah orang pertama yang menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa literasi dan sastra sehingga ia menjadi tolok ukur yang pantas.

“Hari lahir atau meninggalnya Hamzah Fansuri adalah hari sastra Asia Tenggara,” kata Thayeb yang juga pengurus Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT).Rilis Fak Tarbiyah IAIN Banda Aceh
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki