Lambang Buraq dan Singa Sesuai Islam

Lambang Aceh

Oleh Thayeb Loh Angen

Baru-baru ini, ada beberapa pihak mempermasalahkan qanun bendera dan lambang Aceh. Perkara bendera telah kita sebutkan di tulisan lain. Kini kita bicarakan tentang Lambang Aceh semata.

Lambang Aceh berbentuk gambar yang terdiri dari Singa, bintang lima, bulan, perisai, rincong, buraq, rangkaian bunga, daun padi, semboyan Hudep Beu Sare Mate Beu Sajan dalam tulisan Jawi, huruf ta dalam tulisan arab, dan jangkar.

Ada beberapa pihak yang menentang lambang ini dengan alasan masing-masing. Ada yang memprotes singa. Bila ingin pakai perlambangan binatang perkasaan, bukan singa yang cocok, tapi harimau. Singa tidak ada di Aceh, cuma ada harimau. Dalam istilah Aceh pun sering ditemukan metafora ‘rimueng’ untuk kekuatan. Begitulah alasan mereka.

Ada lagi yang memprotes buraq. Kata orang tersebut, gambar buraq yang ada sekarang, termasuk di lambang Aceh adalah hasil hayalan orang Yahudi yang sengaja dilukis untuk menghina Nabi Muhammad. Nah, begitu halusnya cara orang menyusupi pikiran anak Aceh untuk menentang pemerintah Aceh sehingga tugas mereka berkurang.

Sikap kritis sengaja dimunculkan dari orang Aceh dengan cara membangkitkan egonya. Sikap kritis itu dibangkitkan supaya orang Aceh melawan kebijakan pemerintahnya yang mengangkat Aceh untuk menutupi fakta bahwa masalah di Serambi Mekkah terjadi karena penyelewengan Jakarta. Bahan pemicu protes yang dipakai, kalau di Aceh, adalah agama. Maka dicari-carilah alasan supaya lambang itu tidak sesuai dengan agama. Dicarilah hadits-hadits. Rupanya, cara devide et impera Belanda masih dipakai sekarang.

Cara yang dipakai untuk memprovokasi itu sangat halus, saking halusnya, bahkan orang yang sudah dikenal memiliki pengetahuan ikut memprotes lambang tersebut. Ketika sudah ada orang Aceh yang dengan rasa sok tahunya menentang kebijakan Aceh, maka orang dari luar dinilai berhasil oleh golongannya.

Kalau kita mulai mempermasalahkan sejarah dan filosofi lambang-lambang di sekitar kita, maka kian menariklah itu. Pemrotes mempermasalahkan, dari manakah asal cerita ditaruhnya bintang dan bulan di kubah mesjid-mesjid di seluruh di dunia? Apakah ada ayat Alquran atau hadits tentangnya?

Di Indonesia, sudah ada upaya penghilangan syiar Islam dengan melarang azan pakai pengeras suara. Kalau orang Aceh bersedia berpikir, dengan alasan yang sama, mengapa mereka tidak memprotes lambang burung garuda sekeras menghujat buraq dan singa.

Mengapa tidak memprotes larangan azan dengan pengeras suara. Dan mengapa tidak memprotes aturan tentang keamanan dalam negeri yang berlebihan. Menyedihkan, ketika orang yang berlabel intelektual masih dapat digembala seperti biri-biri.

Yang membedakan Aceh dengan Papua, bukan warna kulit, agama atau budayanya, tapi setiap orang Papua sepakat menentang kebijakan Jakarta, sementara di Aceh ada yang menentang dan ada yang menerima. Elit politik Papua memikirkan wilayahnya, tapi elit di Aceh sebagian besar memikirkan diri dan keluarganya. Inilah risiko ketidakwaspadaan rakyat terhadap kepentingan politik dari beberapa elit politik Aceh.

Orang-orang yang memprotes bendera dan lambang Aceh adalah mereka yang terlambat sadar tentang politik. Ketika mereka tersadar, ternyata Aceh punya bendera dan lambang. Sementara mereka dulu tertidur.

Untuk menutupi ketidaktahuan mereka, maka orang-orang itu memprotes seakan juga peduli Aceh. Sementara ribuan orang telah meninggal karena mempertaruhkankan nyawanya untuk bendera dan lambang tersebut. Perang tidak ada lagi, bagaimana mau menjadi pahlawan?

Thayeb Loh Angen, Aktivis kebudayaan di Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT), Mantan anggota Polisi Militer GAM
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki