Kemenlu-Dubes: Aceh Penting Bagi Iran, Hamzah Fansuri Turunan Persia

Abu Taqiyuddin Menyampaikan Materi dalam International Conference The Contribution of Persia in Nusantara, 2 Mei 2013, di Auditorium Ali Hasjmy, Banda Aceh. Foto: CISAH
Peradaban Dunia, Banda Aceh – Sebagai sebuah negara Islam, Iran memiliki kepentingan terhadap Indonesia yang merupakan sebuah negara dengan penduduk muslim terbanyak. Dalam hal ini, Aceh adalah yang terpenting karena memiliki sejarah terkuat dengan Persia secara langsung.

Demikian kata utusan Kementrian Luar Negeri Republik Islam Iran, Mr Dawlatyar, dalam Konferensi Internasional bertema Kontribusi Persia di Nusantara, Dulu, Kini, dan Esok, yang dilaksanakan pada Kamis 2 Mei 2013 di Auditorium Ali Hasjmy, IAIN, Banda Aceh. Iran, kata Dawlatyar, memiliki sejarah penting di Aceh dan Asia Tenggara yang akan terus dipelihara sepanjang zaman.

Hal tersebut dinyatakan Dawlatyar untuk menjawab pertanyaan seorang peserta, Thayeb Loh Angen, yang menghadiri konferensi tersebut atas nama PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki). Thayeb menanyakan, seberapa pentingkah Aceh bagi Iran sehingga harus mempengaruhinya supaya mendapat dukungan penduduk Indonesia sebagai sebuah negara berpenghuni muslim terbanyak.

Pertanyaan kedua Thayeb, bagaimana Iran sekarang menyebarkan lagi pengaruhnya di Aceh sementara Syiah dan Sunni memiliki perbedaan pendapat. Serta, kata Thayeb, di Aceh pengaruh Persia terjadi pada masa Kesultanan Pasai sementara pada masa Kesultanan Aceh Darussalam adalah pengaruh Turki Ottoman.

“Bagaimana Iran akan masuk ke dalam kebudayaan Aceh yang Sunni dengan tetap berideologi Syiah. Bagaimana Iran akan membantah hal itu di Aceh, sekarang?” Tanya Thayeb yang juga Kepala Sekolah Hamzah Fansuri.

Dawlatyar menjawab pertanyaan tersebut dalam bahasa Inggris. Jabawan ini kemudian dipertegas oleh Peneliti Artefak Samudera Pasai Abu Taqiyuddin dalam makalahnya, bahwa sejarah Persia dengan Aceh memang telah dimulai sejak Kesultanan Samudera Pasai.

“Tapi saat itu kepemimpinan di Persia masih Sunni. Ketika masa Aceh Darussalam, Aceh juga memiliki hubungan diplomatik dengan kerajaan Islam di Persia yang saat itu mulai dipimpin Syiah. Maka sekarang, hubungan Aceh dengan Iran adalah hubungan sejarah dan kebudayaan yang sangat kental,” kata Abu Taqiyuddin.

Utusan Kedutaan Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Ali Rabbani, mengatakan, pengaruh Persia ke nusantara dibawa oleh Hindia. Bahkan, kata dia, nama Iran sendiri adalah sebutan dari suku Aryan yang bermukim di India.

“Sebelum masa Islam, Iran dan India telah memiliki hubungan kebudayaan sehingga saling mempengaruhi. Setelah Islam masuk ke Persia dan menyebarkannya ke seluruh dunia, salah satunya melalui pengaruh India. Karena ada kesamaan budaya dan keyakinan, India harus disebut sebagai pintu keluarnya pengaruh Islam dari Persia,” kata Ali Rabbani dalam bahasa Persia yang diterjemahkan oleh stafnya.

Salah satu peristiwa terbesar, kata dia, titik tolak penting sejarah, ketika Iran ditaklukkan oleh Mongol, mereka berpindah ke India dan mempengaruhi peradaban di sana. Di selatan India, kata dia, pada abad XVI dipengaruhi oleh Persia yang menduduki tempat penting dalam kerajaan tersebut.

“Penjabat di posisi penting ini punya pengaruh besar, bahkan bahasa Persia menjadi bahasa resmi di India selatan ini. Saat itu banyak sekali pemikir, sastrawan, penyair dan ilmuan yang dikirim ke Asia Tenggara, sekitar 800 orang juru dakwah disebarkan. Saat itulah Jalaluddin Rumi muncul,” kata Utusan Dubes.

Menurutnya, Indonesia disebut sebagai India kecil atau Hindia Belanda adalah bukti besarnya pengaruh india di Asia Tenggara. Kata dia, bangsa Persia membawa Islam ke Asia Tenggara melalui gerbang kebudayaan India. Sebutan Syiah Kuala, kata dia, adalah sebutan khas bahwa ia turunan Persia, yang membawa Islam dengan Pendekatan sufi.

“Selain Persia, Yaman juga berperan dalam penyebaran Islam ke Aceh melalui India. Bahkan para ahli di Aceh seperti Hamzah Fansuri adalah keturunan Alhul Bait (keturunan nabi Muhammad SAW –red) dari Persia. Arab membawa Islam ke Persia dan dikemas menjadi filosofis, lalu ke India dikemas dengan tasauf, baru ke Aceh, dan Aceh menyebarkannya ke seluruh Asia Tengara,” kata Ali Rabbani dalam acara yang diketuai oleh Kamaruzzaman Bustamam Ahmad,Ph.D ini.

Dalam makalahnya, Dr. Syarifuddin menegaskan, syair-syair Bapak Sastra Asia Tenggara Maulana Syekh Hamzah Fansuri Alfarisi, dipengaruhi oleh penyair besar dari Persia. Namun, kata Syarifuddin, Hamzah Fansuri berhasil membentuk pola baru syair untuk pertama kalinya di Asia Tenggara.

“Hamzah Fansuri menciptakan sistem kepengarangan berestetika dan simbolik. Ia juga menciptakan model bahasa Jawi (Bahasa Melayu Pasai yang menjadi cikal bakan bahasa Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Pattani, dan Singapura -red) menjadi kaya makna dan majas,” kata Syarifuddin. Dalam acara berskala internasional tersebut, penyair senior Aceh, L.K. Ara, membaca sebuah puisi terjemahan dari Persia.tla
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki