Cerpen: Relung Hati

Karya Halim Mubary
            Raut wajahnya mengesankan kekusutan yang sangat. Air mukanya keruh serupa air sungai yang baru didera hujan deras, dan banyak menghanyutkan limbah dari hulu. Seperti biasanya, sebelum aku masuk ke ruang pernikahan, terlebih dulu aku memeriksa ulang kelengkapan berkas pernikahan calon pengantin. Hal itu aku lakukan untuk menjaga kemungkinan adanya dokumen yang salah atau pemalsuan identitas calon pengantin itu sendiri.
        
 Aku tak ingin kasus-kasus yang dianggap ringan, ternyata di kemudian hari berdampak besar dan akhirnya menyeret diriku ke ranah hukum sebagai Kepala KUA Kecamatan. Meskipun itu bukan kesalahan yang aku lakukan. Sebut saja misalnya kasus pernikahan sejenis yang sempat menghebohkan beberapa waktu lalu di sebuah KUA tetangga. Namun, setelah memeriksa semua berkas dokumen, aku tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan pada pasangan yang sebentar lagi akan menikah ini. Sepertinya semua dokumen pernikahan sudah lengkap semuanya. 
            Sengaja aku tidak berbarengan memangghil pasangan itu ke ruang kerjaku, agar bisa bertanya lebih rileks dan terbuka. Walaupun semua pertanyaan yang aku ajukan ini, sebelumnya sudah pernah ditanyakan oleh stafku saat kedua catin melaporkan rencana pernikahan dan pengajuan berkas dokumen pernikahan mereka sepuluh hari yang lalu.
Setelah catin laki-laki, sekarang giliran catin perempuan yang duduk di depanku. Aku melihat identitasnya; Alena nama gadis itu. Wajah tirusnya menegsankan kegalauan dan kegelisahan. Air mukanya jauh dari ceria layaknya orang yang  akan mengarungi kehidupan baru yang sakral. Pada lembaran N, umurnya baru 20 tahun dengan pendidikan mahasiswi. Hasil tes urine dari Puskesmas negatif. Artinya secara medis si gadis memang benar masih perawan.  Namun, mengapa air mukanya jauh dari bahagia?
Aku menatapnya. “Maaf, kalau boleh tahu, adakah yang mengganjal hati saudari?”  aku mulai bertanya. “Saya tidak akan melanjutkan pernikahan Anda, jika sejauh ini Anda masih menyimpan aral!”
Wajah di depanku menunduk. Serupa anak SD yang baru saja dimarahi gurunya. Helaan napasnya terdengar berat. Namun mulutnya masih terkunci. Bintik keringat bertaburan di wajahnya yang putih.   
“Kalau memang masih ada yang mengganjal, sebaiknya diselesaikan terlebih dulu antar keluarga!” sergahku, begitu melihat dia belum bereaksi.
Gadis itu masih bungkam. Ada betiran air mata yang jatuh dari kedua kelopak matanya. Selama 12 tahun menjadi kepala KUA, baru kali ini aku menghadapi kasus sesendu ini. Air mata itu menjelaskan ada yang tak beres. Tapi Apa? Aku mengambil Alquran yang ada di pinggir meja kerjaku dan menyodorkan ke depannya. “Bacalah, mungkin dengan ini hati Anda akan lebih tenang nantinya. Quran biasanya menjadi solusi bagi kita!”
Si gadis mengusap air matanya dengan sapu tangan. Perlahan, ia  mulai membuka lembaran Alquran. Dalam suasana hening, lafadznya mengalun merdu. Setiap tarikan suaranya seakan mampu menentramkan hati siapa pun yang mendengarnya. Sungguh aku tak menyangka jika gadis ini sangat fasih dalam irama dan tajwidnya.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah, diciptakan-Nya untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri, supaya kamu mendapat ketenangan hati dan dijadikan kasih sayang di antara kamu. Sesungguhnya yang demikian itu menjadi tanda-tanda kekuasaan-Nya bagi orang-orang yang berfikir”.
  Ia membaca QS Ar-Rum ayat 21 dengan penuh kekusyukan. Waktu seperti berhenti berputar. Betapa agungnya ayat yang dibacakannya itu. Juga keluasan makna dan kaedah hidup yang dikandungnya.
“Masih ragukah Anda dengan gerbang yang akan Anda masuki sebentar lagi?” aku bertanya setelah Alena menuntaskan bacaannya. 
Wajahnya terangkat. “Saya sama sekali tidak pernah membayangkan kejadiannya akan seperti ini. Jika saja peristiwa itu tidak menimpa pada diriku, aku akan sangat bahagia menjalaninya pernikahan ini, Teungku!” itulah suara pertamanya di luar bacaan kalam Allah. 
Aku tersentak dengan kalimatnya yang menyimpan rintihan itu. “Boleh saya tahu maksudnya?”
Helaan napas beratnya kembali terdengar.  “Saya terlahir ke dunia ini, atas sebuah musibah yang dilakukan oleh kedua orang tua saya yang tak punya syarat agama maupun hukum negara!” katanya dengan napas berat.
Oo, itukah yang mengganjal gadis ini untuk merasa berbahagia di hari pernikahannya hari ini? “Tapi itu bukan salah Saudari!” gelengku.
“Ya, salah orangtua saya. Merekalah yang membuat saya begini. Saya terhukum oleh perbuatan sesat mereka!”  
“Anda tetap anak yang suci ketika dilahirkan ke dunia ini. Setiap amal kebaikan saudari akan berbalas pahala, anakku!”
“Tapi orang sudah terlanjur mencap saya sebagai anak haram…” suaranya iba bercampur isakan.
“Baik, bagaimana dengan calon suami, Saudari? Apakah dia sudah tahu tentang semua ini?”
Gadis itu menggeleng.
“Lalu.…”
“Kedua orangtua saya merahasiakan selama ini, agar mereka dianggap suci dengan perbuatannya dulu. Sebenarnya saya belum siap dengan semua ini. Terlalu mahal harganya jika calon suami saya tahu yang sebenarnya. Saya akan malu sekali, Pak!”
Keheningan menyungkup sekian lama. Detak jarum jam mengisi ruangan.
“Saya akan panggil ayah Anda. Dia hadir di sini kan?”
Gadis itu mengangguk.
***

Alfian, calon suami Alena pada awalnya sangat terpukul dengan semua yang didengarnya dari pihak keluarga Alena. Namun, akhirnya ia mau juga menerima Alena dengan segala kekurangannya, sebagai calon istrinya kelak.  
Hari ini, pernikahan yang sempat tertunda selama dua minggu lalu, kembali dilangsungkan. Akan tetapi bukan di kantor KUA lagi seperti rencana semula. Mereka memilih di sebuah masjid di luar kota yang jauh dari hiruk pikuk dan gunjingan. Betapa pun, aib terkadang mesti disimpan di tikungan jalan. Setelah ijab kabul berlangsung dengan wali hakim, aku tidak lagi melihat ada galau yang merengkuh di mata Alena.
Suatu hari, beberapa tahun setelah peristiwa itu. Aku memperoleh undangan syukuran atas nama Alena. Alamatnya sekitar setengah jam perjalanan dari rumahku. Kebetulan aku dan istriku punya waktu senggang untuk menghadiri syukuran  itu.
Alena dan suaminya menyambut kami dengan sumringah. “Terima kasih Pak, Bu, sudah bersedia memenuhi undangan kami ini,” sambut Alena riang.
“Bagaimana keadaan kalian sekarang?” tanyaku begitu berada di sebuah ruangan yang di tata sebagai ruang prasmanan.
“Seperti yang Bapak lihat!” Alena tersenyum lebar. “Ini, Allah menganugerahkan dua anak sekaligus kepada kami!”
“Alhamdulillah, ini luar biasa. Jadi kalian punya anak kembar?” aku dan istriku bertanya serempak.
Alena mengangguk.
Aku diseret istriku untuk melihat si kembar Alena. “Lihat, Bang, seandainya kita diberikan Allah anak seperti ini, betapa bahagianya hidup kita. Oh, tentu hari-hari kita akan penuh warna dengan tangisan dan candaan dari anak-anak kita. Tidak sepi lagi seperti selama ini!”
“Husss, jangan berkata demikian. Allah tidak suka melihat orang cengeng dan putus asa. Siapa tahu nanti kita diberikan tiga anak sekaligus. Apa kamu sudah siap?”
Sebulan kemudian. Istriku mual dan suka muntah-muntah. Aku langsung memboyong istriku ke dokter kandungan dengan perasaan harap-harap cemas.  
“Istri Saudara positif  hamil.” Dokter langganan kami tersenyum. “Kemungkinan Bapak dan Ibu punya anak dua sekaligus.”
“Maksud dokter, istri saya mengandung anak kembar!”
Dokter mengangguk. “Ini saya rasa buah dari kesabaran yang selama ini Bapak dan Ibu pupuk.”
“Alhamdulillah ya Allah!” aku langsung memeluk istriku erat.
Mata istriku berbinar-binar. “Akhirnya… setelah 14 tahun, Bang. Kerinduan itu datang juga menghampiri kita.” 
Aku mengangguk mantap. Bayangan terhadap bayi-bayi mungil nan lucu, menari-nari di mataku. 

Halim Mubary, penyuka sastra dan membahani mahasiswa menulis di STAI Al-Aziziyah Samalanga, Bireuen. Cerpen ini telah dimuat di surat kabar Harian Aceh, 2012.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki