Home » , , » Ameer Hamzah, Sastrawan Politisi Sang Sufi

Ameer Hamzah, Sastrawan Politisi Sang Sufi

Written By Peradaban Dunia on Monday, 20 May 2013 | 21:27

Ameer Hamzah
Sudah lama saya ingin menemui sastrawan senior yang sekaligus penceramah ini. Kata orang rumahnya di Lambhuk, Banda Aceh. Ke mana-mana saya tanya tidak ada yang tahu di mana tepatnya rumah beliau dan berapa nomor teleponnya. Beberapa hari lalu tanpa sengaja saya bertemu dengan Ardabili, ia memeberitahukan alamat Ustaz Ameer Hamzah. Itu adalah tempat yang setiap pekan saya lewati.

Saya harus menemui Ameer Hamzah karena ingin mengundang beliau menjadi pemateri dalam Diskusi Terfokus ‘Mengembalikan Penyair Istana pada 25 Mei 2013 di ACC Sultan II Selim, Banda Aceh. Acara ini sukarela dilaksanakan oleh PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki) kerja sama dengan managemen ACC Sultan II Selim.

Sebelum menemuinya, saya sudah sampaikan ke rekan-rekan bahwa beliau sebagai pemateri, ditemani Agus Nur Amal dan Muda Balia. Nah, saya jadi takut juga, bagaimana kalau nantinya beliau tidak bisa memenuhi undangan tersebut sementara sudah dipublis? Saya tidak ambil pusing, karena acara itu diskusi bukan seminar.

Begitu sampai di sebuah tikungan yang dimasksud, terlihat sosok yang saya duga itu Ameer Hamzah. Saya perhatikan agar wajahnya terlihat, namun tidak bisa, orang tersebut menghilang ke halaman samping yang ditanami bambu kecil. Saya berbalik menuju samping pagar. Tidak tampak, pagar itu tertutup kanopi.
Saya berbalik lagi ke jalan dan bertanya pada orang di samping rumah tersebut. Benar, itu rumah yang saya cari. Heran, rumahnya belum selesai.

“Bukankah beliau pernah menjadi anggota DPRA selama satu periode, kenapa rumahnya seperti ini sementara sekarang, anggota DPRK yang baru menjabat tiga tahun saja bisa sudah membangun rumah besar?”

Pagarnya tidak terkunci. Saya masuk, memberi salam beberapa kali, tidak ada yang menjawab. Lalu menuju halaman samping yang dipagari, langsung ke bagian belakang rumah. Begitu bertemu. Ia sambut dengan ramah. Setelah basa-basi, saya katakan bahwa beliau tidak kenal saya walau saya kenal beliau. Kekhawatiran saya hilang. Ia memang seorang senior yang bersahabat.

“Saya datang untuk minta bantuan,” kata saya, tidak berani mengatakan mengundangnya sebagai pemateri karena acara tersebut bersifat sukarela. Jadi, saya minta bantuannya untuk menjadi pemateri.
Lalu saya diajak ke teras depan rumah. Sebelum saya ceritakan maksud dengan detil, ia lebih dulu menceritakan pengalamannya di kampus dan dunia media.

“Bukankah Bapak juga pernah jadi anggota DPRA?” Tanya saya.
“Ya, benar. Tapi saya menderika saat jadi anggota DPRA,” kata dia.

“Menderita?” Saya heran. Maka ia menceritakan, ia pikir dirinya bisa mendapatkan uang dengan benar saat di DPRA. Tapi tidak bisa karena sebaigan gajinya harus disetor ke partai dan banyak orang yang butuh bantuannya. Ia tidak mau mencuri sebab itu bertentangan dengan batinnya. Ia terinspirasi dengan gaya hidup rasullah yang amanah dan sederhana.

“Kalau mau mencuri, ya banyak harta, bisa bangun tumah besar dan beli beberapa mobil. Saya tidak ada mobil, begitu tugas habis, mobil dinas ditarik. Rekan-rekan lain ada tiga mobilnya,” kata dia.
Lalu ia menceritakan cara anggota dewan mencuri uang rakyat, di antaranya, mengambil uang jalan tidak sesuai dengan jumlah hari acara, memalsukan tiket pesawat dan hotel, jika dianggarkan yang kelas mewah dipakai yang kelas ekonomi, uang lebihnya diambil.

Begitu juga dengan uang aspirasi, setiap bantuan yang diberikan telah ada perjanjian tidak tertulis bahwa ada bagian untuk anggota dewan yang mengganggarkan, bahkan ada yang sampai lima puluh persen untuk anggota dewannya. Ia pernah membantu sebuah mesid, panitianya menelpon setelah uang masuk ke rekening, ingin diberikan sedikit untuknya.

“Saya tidak perlu itu untuk kalian pergunakan sebaik mungkin,” jawabnya.

“Media tidak mempublis itu. Orang-orang yang begitu akrab dengan rekan-rekan media sehinga keburukannya didak pernah terangkat. Saat saya di media, saya redaktur, wartawan ada yang pakai mobil, saya tidak. Entah bagaimana mereka menjalin kerjasama dengan penjabat. Saya tidak sampai hati,” kata dia.

Setelahnya ia cerita tentang bertemu dengan Dr Mehmet Ozay. Saat itu ia masih anggota dewan. Mehmet mewawancarainya untuk TV Turki.

“Insyaallah, saya akan hadir memberi materi di acara tersebut. saya akan tulis makalahnya sekitar enam halaman, kalau perlu bisa diperbanyak nantinya,” kata dia. Saya pamit.

Thayeb Loh Angen, pengurus PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki), juru propganda kebudayaan.
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Web Design : Peradaban Dunia Team | Redaksi | About
Copyright © 2011. Peradaban Dunia - All Rights Reserved
www.peradabandunia.com