Air Mata di Sudut Lhokseumawe (Puisi-Puisi Raudhah Kamisna)



Puisi-Puisi Karya Raudhah Kamisna

Puisi 1

Air Mata di Sudut Lhokseumawe

Kata matahari,
ia suka menusuk pori kulitmu sampai bersisik,
benar?
Sendimu rapuh meminta minta, jika tak dapat ibu mengupat,
Badanmu pedas panas tak rasa,
kau bertanya kemarin pada matahari jua,
kenapa aku terlahir ke negri ini?
Lalu matahari berlari menjauh menyadari air matamu telah menyayat seisi sudut kota.

Puisi 2

Aduhai

Aduhai hati menjadi kayu, suara kusut menasbihkan wajahku,
Terasa semilir membuat geli,tapi citraku berbisik
Ia tak lagi sendiri, dan kayu hatiku, roboh seraya rayap berebutaan menyergakinya
Aduh, duh, duduh aduduh...
Mati sudah jiwa dan raga,
Duduh aduhai...
Bagaimana diri mencintai engkau..
Daku berseluput dalam plasenta, kau sendiri belum pun terlahir
Jangan kau bilang kau rindu
Nanti aku melonjak mati berdiri


Puisi 3

Kelu Sudah

Si bunga mulai kelu, putiknya beku, sarinya hangus,
Harimau laknat mata tertutup genderang hilang,
Mengisap sari mengelupas biadap, tapi rasakan amukan derita
menyusup perawan semerbak,
Menghela menepis menjentik temannya
Kumbang perkasa acuhkan lalu
Sedang si bunga terkelupas tak bersisa,
 terjatuh lumpuh,
terhayun lunglai
busuk tak berperi !
ku cerita ia tlah wafat
kelana itu asa yang putus, perihnya rapuh,
Seonggok dagingnya terpisah terkubur.
Ada yang berkata,
Hei tolong dia! Paraunya tinggi,
Tapi telat si harimau telah berlalu, sedangkan
Bunga mulai di hisap si dewa tanah.

Puisi 4

Laksana
(
26 Des 09)

Gemirincing  petikan hujan
Bosan memikul panasnya alam
Lalu mulai menari di balutan tirai sutra
Berpanggung jiwa di atas puing luka
Kantong bulan menciut pikuk
Sang pungguk nan jauh kikuk tak kikuk
Kertas hati terhampar di atas tilam pengantin
Menemui mimpi, das!! Hilang si anak pergi.

Puisi 5

Kerok-Kerok

Kerok- kerok si jantan kodok
Minta hujan disambar petir
Indung di pinang si Raja kodok
Kerok, kerok, kerok, kerok
            Telur kerok goyang pinggul
            Serune kalee dibibir sawah
Pantang takdir si Raja merayu
Kerok, kerok, si raja basah

Puisi 7

Sensalabin

Sensalabin hai ratu odet
Putri kau buang salabin kutuk
Hatilah hancur semerbak layu
Tak kunjung datang Sang Raja Doli
            Sensalabin hai ratu Odet
            Risauku sesak penuhi hampa
            Sensalabinku sensalabinmu
Sensalabinku rinduku itu.

Raudhah Kamisna, Mahasiswa IAIN Banda Aceh.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki