Agus Nur Amal: Alangkah Baiknya jika Gubernur Jalan Kaki ke Mesjid Raya


Agus Nur Amal dalam Diskusi Terfokus Mengembalikan Penyair Istana yang dilaksanakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT) kerjasama dengan ACC Sultan II Selim, Banda Aceh, 25 Mei 2013.
Peradaban Dunia, Banda Aceh - Alangkah baik jika Gubernur Aceh berjalan kaki ke Mesjid Raya untuk salat jumat atau lainnya, seperti sultan-sultan Aceh di masa lampau. Hal itu juga bisa membuat masyarakat di sekelilingnya hening sedikit dari sirine pengamanan.

Demikian kata Agus Nur Amal dalam Diskusi Terfokus bertema Mengembalikan Penyair istana pada Sabtu, 25 Mei 2013 di Aceh Community Center (ACC) Sultan II Selim, Banda Aceh.
Usul ini sangat disetujui oleh penyair D Kemalawati dalam acara yang dilaksanakan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT) kerjasama dengan ACC Sultan II Selim tersebut.

Dalam materinya, Agus mengatakan, melahirkan kembali penyair istana di zaman ini sangat penting untuk melanjutkan budaya dalam bidang kepenyairan di Aceh.

“Dulu, baca hikayat dan meniup seurune kale ramai-ramai, itu ditiup sebagai terompet perang atau parade tentara. Perang membuat pembaca hilayat  dan peniup seurune kalee hilang satu pesatu sehingga setelahnya dan sampai kini seorang saja yang memainkannya. Kini penyair istana harus diangkat kembali,” kata Agus yang dikenal sebagai Agus PMTOH.

Sastrawan Ameer Hamzah, dalam materinya memaparkan bukti-bukti tentang pantasnya Ali Hasjmy dijuluki dengan nama Khalifah Pujangga Baru.

“Paus Sastra Indonesia, H.B .Yassin memberi gelar kepada Amir Hamzah sebagai Raja Penyair Pujangga Baru. Saya memberi gelar kepada guru saya A Hasjmy sebagai Khalifah Pujangga Baru. Gelar ini sangat tepat, sebab beliau memiliki tiga hal yang tidak dimilki Amir Hamzah, sang pangeran dari langkat,” kata Ameer.

Tiga hal itu, kata dia, A. Hasjmy seorang pujangga yang cukup banyak mengarang buku-buku Sejarah dan Agama, juga novel-novel yang bernafaskan Islam. Hasjmy, kata Ameer, juga seorang penyair yang melebihi religiusitas Amir Hamzah.

“Kedua, A. Hasjmy seorang ulama  dan intelektual islam, seorang guru besar pengcipta Fakultas Dakwah di Indonesia. Beliau juga bidan melahirkan Unsyiah, IAIN Ar-Raniry, dan Dayah Tgk Chik Pante Kulu,” katanya.

Ketiga, menurutnya, A. Hasjmy juga seorang umara yang sukses. Hasjmy, kata dia, gubernur kedua Aceh setelah Tgk H. Muhammad Dawud Beureueeh. A. Hasjmy, kata dia, menjadi gebenrnur saat Aceh membara. Namun, menurutnya, berkat kepiawaiannya membawa air bukan api, bara dan nyala mulai padam.

“Beliau memperluas masjid raya, dari tiga kubah menjadi lima kubah, dari tidak ada menara menjadi dua menara waktu itu,” kata Ameer.

Namun seorang peserta, Muammar, mengkritis bahwa Ali Hasjmy kadang memuji tokoh yang kurang pantas. Hal itu ditanggapi Ameer Hamzah sebagai tukaran untuk pembangunan seperti Unsyiah dan sebagainya.

Seorang peserta, Sarjev, mengatakan bahwa harus menjalin komunikasi antara wilayah di Aceh dengan cara kebudayaan agar bisa maju.

Peserta Herman RN menyarankan, jika 23 kabupaten/kota atau Aceh belum bisa membuat penyair istana, bagaimana Kota Banda Aceh memulainya sebagai contoh.

Ketua DPRK Banda Aceh Yudi Kurnia mengatakan, Banda Aceh bsia melakukannya, tinggal diatur mekanismenya dengan lengkap dalam kelompok kecil setelah diskusi tersebut.

Peserta lainnya, Hamdani, meminta diskusi di lain waktu dilangsungkan dengan mamakai bahasa Aceh.
Penyair D Kemalawati, menawarkan hari puisi Indonesia. Menurutnya, ide penyair istana, menarik dan cocok untuk Aceh.

Acara ini dimeriahkan oleh peraih rekor MURI Muda Balia dengan membawa hikayat. Sebelumnya, Abi Husaini imam mesjid Oman Banda Aceh, membaca hikayat berbahasa Melayu.pd
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki