Misteri Meurah Pupok yang Malang

Written By Peradaban Dunia on Friday, May 31, 2013 | 4:26 PM

Makam Pangeran Pocut Meurah Pupok putra Sultan Iskandar Muda korban fitnah.
Oleh Thayeb Loh Angen
Meurah adalah julukan raja-raja di Aceh sebelum datangnya agama Islam. Setelahnya, gelar Meurah berganti dengan Sultan. Meurah Pupok memiliki nama panggilan sayang, yaitu Poteu Tjoet (Pocut). Poteu artinya “raja”, sedangkan Tjoet artinya “kecil”. Meurah Pupok adalah putra kesayangan Sultan Iskandar Muda.

Kematian Meurah Pupok adalah salah satu malapetaka terbesar dalam Kesultanan Aceh Darussalam. Ketika para pembantunya menanyakan kepada Sulan Iskandar Muda, mengapa hingga sampai hati melaksanakan hukuman pancung pada anak laki-lakinya yang telah dipersiapkan untuk menggantikan kedudukan beliau sebagai Sultan Aceh nantinya, maka Sultan menjawab,

“Matee aneuk meupat jirat, tapi matee hukom pat tamita”.

(tewas anak dapat ditandai makamnya tapi bila hilang hukum akan dicari kemana).

Meurah Pupok, putranya tersebut merupakan satu-satunya penerus Kesultanan Aceh. Berdasarkan literatur Bustanussalatin dan keterangan dari pamplet yang tertera di makam Meurah Pupok di Komplek Peutjut (Kherkoff).

Malapetaka itu berawal ketika seorang tentara asal Pedir melaporkan bahwa Meurah Pupok telah berzina dengan istrinya. Ia mengaku telah membunuh perempuan tersebut. Ia meminta keadilan Sultan Iskandar Muda supaya membunuh Meurah Pupok demi keadilan. Sultan Iskandar Muda ingin menyampaikan itu kepada Qadhi Malikul Adil sebagai ketua mahkamah kesultanan. Namun Putri Kamaliah atau Putroe Phang bersikeras bahwa sultan bisa melakukan hukuman itu sendiri.

Sebelum eksekusi pancung dilaksanakan, keputusan ini telah dicegah oleh banyak pihak dalam istana Darud Dunia termasuk Seri Raja Panglima Wazir Mizan (Menteri Kehakiman Kerajaan Aceh) dengan membujuk agar hukuman itu tidak dilaksanakan. Tetapi Putri Kamaliah tetap bersikeras bahwa Meurah Pupok harus dipancung. Sultan Iskandar Muda tidak percaya tuduhan terhadap putranya yang ta’at tersebut, namun karena desakan Putri Kamaliah dan orang di sekelilingnya, maka tanpa pengadilan Meurah Pupok pun dipancung di hadapan ribuan masyarakat banyak.

Setelah Meurah Pupok dibunuh, sehari setelahnya Sultan mengangkat Iskandar Tsani sebagai putra mahkota penggantinya. Tak lama setelah itu, Sultan Iskandar Muda wafat karena sakit yang menurut dugaan orang terpercayanya, ia diracun. Satu pihak lagi mengatakan bahwa penyesalan karena membunuh anaknya sendiri tanpa kesalahan membuat ia kehilangan semmangat hidup. Maka lemahlah pemerintahan kesultanan saat itu.

Karena Iskandar Tsani telah diangkat sebagai putra mahkota, maka ia diangkat sebagai sultan Aceh pengganti Iskandar Muda. Namun, Putri Safiatuddin mencium ketidak beresan itu. Bagaimana sebuah peristiwa bisa begitu aneh, orang-orang yang dicintainya meninggal dalam waktu hampir bersamaan. Karena tidak percaya abang kesayangannya berzina, maka ia dan pengawal terpercayanya mencari kebenaran. Ia menemukan bahwa itu adalah fitnah yang telah dirancang. Lelaki yang melaporkan istrinya berzina tersebut, tewas beberapa hari setelahnya.

Setelah Safiatuddin berhasil menguak kebenaran, ia menyampaikannya kepada Tuha Peuet Kesultanan dan seluruh menteri, maka suaminya yang merupakan anak Putri Pahang, Iskandar Tsani, dimakzulkan. Safiatuddin menemukan bahwa Putri Pahang di balik konspirasi itu kerjasama dengan Nuruddin. Karena peristiwa itulah makam Putri Pahang tidak diketahui sampai sekarang, dan Nuruddin melarikan diri ke negeri asalnya, Ranir, India setelah kalah debat dengan seorang murid Hamzah Fansuri. Lalu, Safiatuddin memasang batu nisan selayaknya keluarga kesultanan di makam Meurah Pupok.

Sumber: Po Cut Salma, dan orang tua turunan pembesar Kesultanan Aceh Darussalam lainnya.

Thayeb Loh Angen, juru propaganda kebudayaan.

Air Mata di Sudut Lhokseumawe (Puisi-Puisi Raudhah Kamisna)

Written By Peradaban Dunia on Tuesday, May 28, 2013 | 1:05 AM



Puisi-Puisi Karya Raudhah Kamisna

Puisi 1

Air Mata di Sudut Lhokseumawe

Kata matahari,
ia suka menusuk pori kulitmu sampai bersisik,
benar?
Sendimu rapuh meminta minta, jika tak dapat ibu mengupat,
Badanmu pedas panas tak rasa,
kau bertanya kemarin pada matahari jua,
kenapa aku terlahir ke negri ini?
Lalu matahari berlari menjauh menyadari air matamu telah menyayat seisi sudut kota.

Puisi 2

Aduhai

Aduhai hati menjadi kayu, suara kusut menasbihkan wajahku,
Terasa semilir membuat geli,tapi citraku berbisik
Ia tak lagi sendiri, dan kayu hatiku, roboh seraya rayap berebutaan menyergakinya
Aduh, duh, duduh aduduh...
Mati sudah jiwa dan raga,
Duduh aduhai...
Bagaimana diri mencintai engkau..
Daku berseluput dalam plasenta, kau sendiri belum pun terlahir
Jangan kau bilang kau rindu
Nanti aku melonjak mati berdiri


Puisi 3

Kelu Sudah

Si bunga mulai kelu, putiknya beku, sarinya hangus,
Harimau laknat mata tertutup genderang hilang,
Mengisap sari mengelupas biadap, tapi rasakan amukan derita
menyusup perawan semerbak,
Menghela menepis menjentik temannya
Kumbang perkasa acuhkan lalu
Sedang si bunga terkelupas tak bersisa,
 terjatuh lumpuh,
terhayun lunglai
busuk tak berperi !
ku cerita ia tlah wafat
kelana itu asa yang putus, perihnya rapuh,
Seonggok dagingnya terpisah terkubur.
Ada yang berkata,
Hei tolong dia! Paraunya tinggi,
Tapi telat si harimau telah berlalu, sedangkan
Bunga mulai di hisap si dewa tanah.

Puisi 4

Laksana
(
26 Des 09)

Gemirincing  petikan hujan
Bosan memikul panasnya alam
Lalu mulai menari di balutan tirai sutra
Berpanggung jiwa di atas puing luka
Kantong bulan menciut pikuk
Sang pungguk nan jauh kikuk tak kikuk
Kertas hati terhampar di atas tilam pengantin
Menemui mimpi, das!! Hilang si anak pergi.

Puisi 5

Kerok-Kerok

Kerok- kerok si jantan kodok
Minta hujan disambar petir
Indung di pinang si Raja kodok
Kerok, kerok, kerok, kerok
            Telur kerok goyang pinggul
            Serune kalee dibibir sawah
Pantang takdir si Raja merayu
Kerok, kerok, si raja basah

Puisi 7

Sensalabin

Sensalabin hai ratu odet
Putri kau buang salabin kutuk
Hatilah hancur semerbak layu
Tak kunjung datang Sang Raja Doli
            Sensalabin hai ratu Odet
            Risauku sesak penuhi hampa
            Sensalabinku sensalabinmu
Sensalabinku rinduku itu.

Raudhah Kamisna, Mahasiswa IAIN Banda Aceh.

Agus Nur Amal: Alangkah Baiknya jika Gubernur Jalan Kaki ke Mesjid Raya

Written By Peradaban Dunia on Saturday, May 25, 2013 | 10:46 PM


Agus Nur Amal dalam Diskusi Terfokus Mengembalikan Penyair Istana yang dilaksanakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT) kerjasama dengan ACC Sultan II Selim, Banda Aceh, 25 Mei 2013.
Peradaban Dunia, Banda Aceh - Alangkah baik jika Gubernur Aceh berjalan kaki ke Mesjid Raya untuk salat jumat atau lainnya, seperti sultan-sultan Aceh di masa lampau. Hal itu juga bisa membuat masyarakat di sekelilingnya hening sedikit dari sirine pengamanan.

Demikian kata Agus Nur Amal dalam Diskusi Terfokus bertema Mengembalikan Penyair istana pada Sabtu, 25 Mei 2013 di Aceh Community Center (ACC) Sultan II Selim, Banda Aceh.
Usul ini sangat disetujui oleh penyair D Kemalawati dalam acara yang dilaksanakan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT) kerjasama dengan ACC Sultan II Selim tersebut.

Dalam materinya, Agus mengatakan, melahirkan kembali penyair istana di zaman ini sangat penting untuk melanjutkan budaya dalam bidang kepenyairan di Aceh.

“Dulu, baca hikayat dan meniup seurune kale ramai-ramai, itu ditiup sebagai terompet perang atau parade tentara. Perang membuat pembaca hilayat  dan peniup seurune kalee hilang satu pesatu sehingga setelahnya dan sampai kini seorang saja yang memainkannya. Kini penyair istana harus diangkat kembali,” kata Agus yang dikenal sebagai Agus PMTOH.

Sastrawan Ameer Hamzah, dalam materinya memaparkan bukti-bukti tentang pantasnya Ali Hasjmy dijuluki dengan nama Khalifah Pujangga Baru.

“Paus Sastra Indonesia, H.B .Yassin memberi gelar kepada Amir Hamzah sebagai Raja Penyair Pujangga Baru. Saya memberi gelar kepada guru saya A Hasjmy sebagai Khalifah Pujangga Baru. Gelar ini sangat tepat, sebab beliau memiliki tiga hal yang tidak dimilki Amir Hamzah, sang pangeran dari langkat,” kata Ameer.

Tiga hal itu, kata dia, A. Hasjmy seorang pujangga yang cukup banyak mengarang buku-buku Sejarah dan Agama, juga novel-novel yang bernafaskan Islam. Hasjmy, kata Ameer, juga seorang penyair yang melebihi religiusitas Amir Hamzah.

“Kedua, A. Hasjmy seorang ulama  dan intelektual islam, seorang guru besar pengcipta Fakultas Dakwah di Indonesia. Beliau juga bidan melahirkan Unsyiah, IAIN Ar-Raniry, dan Dayah Tgk Chik Pante Kulu,” katanya.

Ketiga, menurutnya, A. Hasjmy juga seorang umara yang sukses. Hasjmy, kata dia, gubernur kedua Aceh setelah Tgk H. Muhammad Dawud Beureueeh. A. Hasjmy, kata dia, menjadi gebenrnur saat Aceh membara. Namun, menurutnya, berkat kepiawaiannya membawa air bukan api, bara dan nyala mulai padam.

“Beliau memperluas masjid raya, dari tiga kubah menjadi lima kubah, dari tidak ada menara menjadi dua menara waktu itu,” kata Ameer.

Namun seorang peserta, Muammar, mengkritis bahwa Ali Hasjmy kadang memuji tokoh yang kurang pantas. Hal itu ditanggapi Ameer Hamzah sebagai tukaran untuk pembangunan seperti Unsyiah dan sebagainya.

Seorang peserta, Sarjev, mengatakan bahwa harus menjalin komunikasi antara wilayah di Aceh dengan cara kebudayaan agar bisa maju.

Peserta Herman RN menyarankan, jika 23 kabupaten/kota atau Aceh belum bisa membuat penyair istana, bagaimana Kota Banda Aceh memulainya sebagai contoh.

Ketua DPRK Banda Aceh Yudi Kurnia mengatakan, Banda Aceh bsia melakukannya, tinggal diatur mekanismenya dengan lengkap dalam kelompok kecil setelah diskusi tersebut.

Peserta lainnya, Hamdani, meminta diskusi di lain waktu dilangsungkan dengan mamakai bahasa Aceh.
Penyair D Kemalawati, menawarkan hari puisi Indonesia. Menurutnya, ide penyair istana, menarik dan cocok untuk Aceh.

Acara ini dimeriahkan oleh peraih rekor MURI Muda Balia dengan membawa hikayat. Sebelumnya, Abi Husaini imam mesjid Oman Banda Aceh, membaca hikayat berbahasa Melayu.pd

Ali Hasjmy, Khalifah Penyair Pujangga Baru

Ameer Hamzah
Oleh  Ameer Hamzah

Nun, demi pena dan apa yang engkau tulis (QS. Alqalam:1-2).
 
Kesusatraan Aceh dan Indonesia (Melayu)  terasa  lesu  setelah A. Hasjmy meninggal 1998. Sejak itu tidak muncul lagi para sastrawan yang produktif, baik dalam bahasa Aceh maupun bahasa Indonesia. Malah yang sudah punya nama seperti  Barlian AW, Fikar W Eda,  Doel CP Alisah, Wiratmadinata,  Nurdin F Joes, Rosni Idham, Nani  HS, Din Saja jarang sekali kita baca karya mereka yang baru.

Saya pribadi yang dianggap oleh teman-teman juga seorang sastrawan, juga mulai tumpul (bugam) setelah A.  Hasjmy meninggal dunia. Ada kondisi tertentu yang membuat saya semakin bugam di dunia sastra.  Setelah itu saya mendalami  dunia dakwah dan politik. Cita-cita saya ingin mengikuti jejak “Sang Guru” Prof. Tan Sri Kra Datu, A. Hasjmy, namun terbentur berbagai “mara” yang tak mampu ku sangga.

Sang guru memang luar biasa, ia bagaikan bintang kejora di langit zaman. Namanya  mendunia,  Pemimpin Agama Kathoilik  Sri Paus Paulus juga pernah mengundangnya ke Roma, namun gagal waktu itu karena setiba di Jakarta A Hasjmy sakit. Sebelum itu beliau sudah pernah diundang ke Mesir, Iran, Turki, Filipina, dan Jepang. Sedangkan Malaysia, Singapur dan Brunei Darussalam sama dengan kita pergi ke pasar Aceh, maksudnya terlalu sering.

Paus Sastra Indonesia , H.B .Yassin memberi gelar kepada Amir Hamzah sebagai Raja Penyair Pujangga Baru. Saya memberi gelar kepada guru saya A Hasjmy sebagai Khalifah Pujangga Baru. Gelar ini sangat tepat, sebab beliau memiliki tiga hal yang tidak dimilki Amir Hamzah, sang pangeran dari langkat.
1.    A. Hasjmy seorang pujangga yang cukup banyak mengarang buku-buku Sejarah dan Agama, juga novel-novel yang bernafaskan Islam. Beliau juga seorang penyair yang melebihi religiusitas Amir Hamzah.
2.    A. Hasjmy seorang ulama  dan intelektual islam, seorang guru besar pengcipta Fakultas Dakwah di Indonesia. Beliau juga bidan melahirkan Unsyiah, IAIN Ar-Raniry, dan Dayah Tgk Chik Pante Kulu.
3.    A. Hasjmy juga seorang umara yang sukses. Beliau Gubernur kedua Prof Daerah Istimewa  Aceh setelah Tgk H. Muhammad Dawud Beureueeh. A. Hasjmy menjadi gebenrnur saat Aceh membara, namun berkat kepiawainnya membawa air bukan api, bara dan nyala mulai padam. Beliau memperluas masjid raya, dari tiga kubah menjadi lima kubah, dari tidak ada menara menjadi dua menara waktu itu.

Makna Khalifah
     Menurut A Hasjmy, semua sastrawan  seharusnya  menjadi khalifah Allah di bumi. Sebab Allah menciptakan manusia (Adam dan Bani Adam)  untuk itu. Sebagai khalifah di bumi, manusia harus memakmurkan bumi dengan kebaikan-kebaikan, perdamaian, saling menghargai antara satu bangsa dengan bangsa yang lain, anti kekerasan, pelanggaran HAM, apalagi perang.

    Khalifah bumi tidak boleh kalah dengan persak bumi, yakni Iblis (Syaithan)  yang selalu menggoda manusia untuk merusak alam, permusuhan dan peperangan. Pujangga (sastrawan dan penyair) harus terus menerus mengciptakan karya-karya yang memupuk iman dan takwa, bukan karya picisan yang membangkitkan nafsu syahwat.

    A.Hasjmy sering mengutip surah Asy-Syu’ara ayat 224-227: dengan terjemahan puitisnya  sebagai berikut:
Para sastrawan (penyair), pengikut mereka bandit petualang/berdiwana dari lembah ke lembah/bicara tanpa kerja/ kecuali sastrwan (penyair) beriman/ yang beramal bakti/senantiasa ingatkan Ilahi/Mereka mendapatkan kesenangan/setelah hidup dalam ancaman.

   Menurut ayat ini, memang para sastrawan  jahiliyah zaman Nabi, banyak yang  menggunakan keahliannya  menciptakan puisi-puisi (syair) untuk menghina Islam dan Rasulullah SAW. Sejumlah besar mereka berpihak kepada Abu Lahab, Abu Jahal Cs, hanya sejumlah kecil yang masuk  Islam dan beriman. Kondisi yang sama terjadi zaman  Naskaom (Nasional Agama dan Komunis (1954,55,56) antara sastrawan pro  PKI (Pramoedia Anantatoer Cs) dan Pro Islam (Taufiq Ismail Cs). A. Hasjmy kala itu termasuk yang anti Pram.

    A. Hasjmy bukan hanya membesarkan nama dirinya, tetapi juga mencetak penyair-penyair muda dengan memberi spirit dan motivasi kepada mereka, maka di tangan A Hasjmy banyak penyair muda yang muncul ketika itu, bahkan hampir semua penyair dan seniman muda datang kepadanya untuk meminta nasihat dan bimbingannya.

Penutup
 Sebagai penutup izinkanlah saya membaca sebuah puisi kecil buat Almarhum A. Hasjmy:

ZIARAH
Pagi tadi saat Dhuha meninggi
aku ziarah ke makammu wahai guru
Susana hening sepi….
Burung-burung kecil berzikir di pepohonan
Mengirim pahala buat guru di alam sana!
Suara Dedei Khueng  memancing sendu
Bulu romaku merinding, bergetaran di dada
Kuseka derai air mata yang membasahi pipi ini
Kala mengenang jasamu  bak laut tak bertepi
Dan ketika aku hendak pulang
Kubaca lagi tulisan terpahat di batu nasanmu:
 A. Hasjmy, Sastrawan Pujangga Baru
Meninggal dunia: 18 Juni 1998
Kupanjatkan seberkas doa buatmu
Allahummaghfirlahu warhamhu, wa’afihi wa’fuanhu

Terima kasih kepada PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki),  Dr. Mehmet OZay dan Thayeb Loh Angen. Mudah-mudahan usaha ini terus berkembang dan jaya. Apalagi  Aceh dan Turki, ibarat anak dan ayah Kandung yang tak mungkin dipisahkan. Hubungan Historis kita begitu indah, bendera  Bulan-Bintang  yang  warna merah seakan melambai-lambai menyatukan kita kembali.

Ali Hasjmy sendiri pernah bercerita kepada kami ,”Nenek moyang saya dari Instanbul yang hijrah ke Yaman, kemudian pindah ke Aceh. Ada kemungkinan kepindahan mereka dulu disebabkan tugas dari Khalifah Turki untuk membantu Aceh dalam bidang-bidang tertentu, sebagai  Sipai (tentara), sebagai Insinyur (ahli bangunan dan pertanian, sebagai ulama, dan sebagai ekonom untuk membangkitkan ekonomi Aceh. Wallahu a’lam.

Ameer Hamzah, sastrawan Aceh, penceramah, pendiri media Gema Bairurrahman


Makalah ini disampaikan dalam Diskusi Terfokus Mengembalikan Penyair Istana di Aceh Community Center (ACC) Sultan II Selim, Banda Aceh, 25 Mei 2013. Acara tersebut dilaksanakan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT) kerjasama dengan Aceh Community Center (ACC) Sultan II Selim.

Ameer Hamzah, Sastrawan Politisi Sang Sufi

Written By Peradaban Dunia on Monday, May 20, 2013 | 9:27 PM

Ameer Hamzah
Sudah lama saya ingin menemui sastrawan senior yang sekaligus penceramah ini. Kata orang rumahnya di Lambhuk, Banda Aceh. Ke mana-mana saya tanya tidak ada yang tahu di mana tepatnya rumah beliau dan berapa nomor teleponnya. Beberapa hari lalu tanpa sengaja saya bertemu dengan Ardabili, ia memeberitahukan alamat Ustaz Ameer Hamzah. Itu adalah tempat yang setiap pekan saya lewati.

Saya harus menemui Ameer Hamzah karena ingin mengundang beliau menjadi pemateri dalam Diskusi Terfokus ‘Mengembalikan Penyair Istana pada 25 Mei 2013 di ACC Sultan II Selim, Banda Aceh. Acara ini sukarela dilaksanakan oleh PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki) kerja sama dengan managemen ACC Sultan II Selim.

Sebelum menemuinya, saya sudah sampaikan ke rekan-rekan bahwa beliau sebagai pemateri, ditemani Agus Nur Amal dan Muda Balia. Nah, saya jadi takut juga, bagaimana kalau nantinya beliau tidak bisa memenuhi undangan tersebut sementara sudah dipublis? Saya tidak ambil pusing, karena acara itu diskusi bukan seminar.

Begitu sampai di sebuah tikungan yang dimasksud, terlihat sosok yang saya duga itu Ameer Hamzah. Saya perhatikan agar wajahnya terlihat, namun tidak bisa, orang tersebut menghilang ke halaman samping yang ditanami bambu kecil. Saya berbalik menuju samping pagar. Tidak tampak, pagar itu tertutup kanopi.
Saya berbalik lagi ke jalan dan bertanya pada orang di samping rumah tersebut. Benar, itu rumah yang saya cari. Heran, rumahnya belum selesai.

“Bukankah beliau pernah menjadi anggota DPRA selama satu periode, kenapa rumahnya seperti ini sementara sekarang, anggota DPRK yang baru menjabat tiga tahun saja bisa sudah membangun rumah besar?”

Pagarnya tidak terkunci. Saya masuk, memberi salam beberapa kali, tidak ada yang menjawab. Lalu menuju halaman samping yang dipagari, langsung ke bagian belakang rumah. Begitu bertemu. Ia sambut dengan ramah. Setelah basa-basi, saya katakan bahwa beliau tidak kenal saya walau saya kenal beliau. Kekhawatiran saya hilang. Ia memang seorang senior yang bersahabat.

“Saya datang untuk minta bantuan,” kata saya, tidak berani mengatakan mengundangnya sebagai pemateri karena acara tersebut bersifat sukarela. Jadi, saya minta bantuannya untuk menjadi pemateri.
Lalu saya diajak ke teras depan rumah. Sebelum saya ceritakan maksud dengan detil, ia lebih dulu menceritakan pengalamannya di kampus dan dunia media.

“Bukankah Bapak juga pernah jadi anggota DPRA?” Tanya saya.
“Ya, benar. Tapi saya menderika saat jadi anggota DPRA,” kata dia.

“Menderita?” Saya heran. Maka ia menceritakan, ia pikir dirinya bisa mendapatkan uang dengan benar saat di DPRA. Tapi tidak bisa karena sebaigan gajinya harus disetor ke partai dan banyak orang yang butuh bantuannya. Ia tidak mau mencuri sebab itu bertentangan dengan batinnya. Ia terinspirasi dengan gaya hidup rasullah yang amanah dan sederhana.

“Kalau mau mencuri, ya banyak harta, bisa bangun tumah besar dan beli beberapa mobil. Saya tidak ada mobil, begitu tugas habis, mobil dinas ditarik. Rekan-rekan lain ada tiga mobilnya,” kata dia.
Lalu ia menceritakan cara anggota dewan mencuri uang rakyat, di antaranya, mengambil uang jalan tidak sesuai dengan jumlah hari acara, memalsukan tiket pesawat dan hotel, jika dianggarkan yang kelas mewah dipakai yang kelas ekonomi, uang lebihnya diambil.

Begitu juga dengan uang aspirasi, setiap bantuan yang diberikan telah ada perjanjian tidak tertulis bahwa ada bagian untuk anggota dewan yang mengganggarkan, bahkan ada yang sampai lima puluh persen untuk anggota dewannya. Ia pernah membantu sebuah mesid, panitianya menelpon setelah uang masuk ke rekening, ingin diberikan sedikit untuknya.

“Saya tidak perlu itu untuk kalian pergunakan sebaik mungkin,” jawabnya.

“Media tidak mempublis itu. Orang-orang yang begitu akrab dengan rekan-rekan media sehinga keburukannya didak pernah terangkat. Saat saya di media, saya redaktur, wartawan ada yang pakai mobil, saya tidak. Entah bagaimana mereka menjalin kerjasama dengan penjabat. Saya tidak sampai hati,” kata dia.

Setelahnya ia cerita tentang bertemu dengan Dr Mehmet Ozay. Saat itu ia masih anggota dewan. Mehmet mewawancarainya untuk TV Turki.

“Insyaallah, saya akan hadir memberi materi di acara tersebut. saya akan tulis makalahnya sekitar enam halaman, kalau perlu bisa diperbanyak nantinya,” kata dia. Saya pamit.

Thayeb Loh Angen, pengurus PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki), juru propganda kebudayaan.

Awas! Generasi Neo-Sophist Makin Marak

Written By Peradaban Dunia on Friday, May 17, 2013 | 11:48 AM

Al-Kindi: "ilmuan Muslim tidak menerima bulat-bulat ilmu asing" (foto: ilustrasi)
Oleh: Edi Kurniawan

BARU-BARU ini sebuah kuliah Pluralisme Agama dalam bentuk seri mingguan diselenggarakan oleh sebuah organisasi yang menyematkan dirinya dengan ‘Jaringan Islam Liberal’ di kawasan Utan Kayu, Jakarta. Kuliah ini dihadiri oleh para mahasiswa yang berasal dari berbagai Perguruan Tinggi, terutama yang berada di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Sementara sang guru adalah aktifis organisasi tersebut yang selama ini banyak menyebarkan faham-faham yang ‘nyeleneh’ di tanah air.

Setiap peserta diwajibkan menulis sebuah artikel dengan tema Pluralisme Agama sebagai syarat kelulusan yang dipublikasikan melalui situs organisasi tersebut. Dalam sebuah artikel, dengan sangat lugu seorang peserta mengatakan, “Penulis meyakini, pintu menuju Tuhan itu tidak hanya satu, tetapi banyak, sebanyak pikiran manusia. Seperti kata Al-Quran: “Wahai anak-anaku, janganlah kalian masuk dari satu pintu yang sama, tapi masuklah dari pintu-pintu yang berbeda” (QS Yusuf: 67). … Hal ini menyimpulkan bahwa, sebenarnya agama itu hanya sebuah jalan menuju Tuhan. Meskipun jalan itu beragam, warna-warni, luas, plural, tetapi semuanya akan menuju ke arah vertikal yang sama: Tuhan Yang Maha Esa”.

Kutipan diatas hanyalah salah satu contoh dari beberapa tulisan yang sarat dengan dengan pemikiran sufastha’iyyah atau sophisme, yaitu faham yang menolak kebenaran absolut dan menganggap setiap pendapat sama benarnya karena semuanya bersifat relatif atau nisbi.

Keraguan yang berlebihan tanpa diiringi pemahaman dan ilmu yang memadai menjadikan si penulis hilang arah dan pupus imannya pada agama. Ia juga salah dalam menempatkan ayat tersebut (QS. Yusuf: 67). Sesungguhnya ini bukan ayat pluralisme agama, tetapi menceritakan perintah Nabi Yaʿkub as. kepada anak-anaknya agar memasuki kota Mesir melalui pintu yang berbeda, karena beliau khawatir terhadap keselamatan anak-anaknya yang mempunyai paras yang indah dari gangguan orang-orang jahat sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu ʿAbbas, Muhammad ibnu Kaʿab, Mujahid dan Qatadah yang dikutip oleh Ibn Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya.

Salah tafsir semacam ini juga kita jumpai dalam argumentasi guru dari si murid mengenai ‘ayat pluralisme’ yakni al-Baqarah ayat 62 dan al-Ma’idah ayat 69. Konon katanya keselamatan di akhirat kelak bukanlah milik umat Islam semata, Yahudi, Nashrani dan Sabi’in juga berhak mendapatkan keselamatan asalkan beriman dan beramal salih, kata mereka.

Sebenarnya jika kita lihat dengan jernih konteks siyaq, sibaq dan lihaq dari ayat ini dan tafsir al-Qur’an bi al-Qur’an serta penjelasan para mufassir, pendapat ini jelas keliru.

Ada juga praktek ‘menggunting’ teks oleh si guru untuk membenarkan yang batil. Misalnya ketika dikatakan ahlul kitab tidak terbatas hanya pada Yahudi dan Nashrani, melainkan Buddha, Hindu, Konghucu dan Shinto pun termasuk ahlul kitab. Mereka  mengutip pendapat Rasyid Ridha, tapi mengabaikan peringatan beliau akan seriusnya bahaya pernikahan antara laki-laki Muslim dengan perempuan ahlul kitab. (Lihat, Tafsir al-Manar (1948), IV: 193)

Dalam pembahasan ilmu kalam, sufastha’iyyah atau faham sophisme ini menjadi perbincangan tersendiri, bahkan Imām al-Nasafī memasukkannya kedalam pembahasan akidah: ḥaqaiq al-asy-ya’ tsabitah wa al-ʿilm biha mutahaqqiq, khilafan li al-sufastha’iyyah. Artinya, hakikat quidditas atau esensi segala sesuatu itu tetap, tidak berubah (yang berubah itu hanyalah sifatnya saja). Pengetahuan tentangnya benar adanya yang bersalahan dengan golongan sufastha’iyyah. (Saʿd al-Din al-Taftazani, Syarh ʿAqa’id al-Nasafiyyah (2000), hlm 20-21)

Al-Baghdadi adalah orang yang pertama membagikan sufastha’iyyah kedalam tiga bentuk yang kemudian diikuti oleh Imam al-Nasafi. Mereka adalah: pertama al-ʿindiyyah atau relativisme. Kelompok ini meyakini bahwa tidak ada yang objektif dalam ilmu dan kebenaran.

Semuanya bersifat subjektif. Ringkasnya, kelompok ini meyakini bahwa kebenaran itu tergantung kepada orang yang mengatakannya.

Kedua, al-ʿinadiyyah atau skeptisisme yang bermakna the obstinate alias keras kepala. kelompok ini merasa ‘masa bodoh’ dengan kebenaran walaupun kebenaran itu sudah jelas. Ringkasnya, kelompok ini mengatakan bahwa tidak ada manusia yang tahu.

Ketiga al-la adriyyah atau agnotisisme. Kelompok ini selalu ragu dalam melihat kebenaran karena tidak tahu hakikat kebenaran itu sendiri. ‘I do not know’, begitulah tepatnya.

Ringkasnya, kelompok ini mengatakan bahwa kebenaran itu tidak dapat dicapai oleh manusia. (Syarh ʿAqa’id al-Nasafiyyah, hlm 21-22. Lihat pula Syed Muhammad Naquib al-Attas, the Oldest Known Malay Manuscript: A 16th Century Malay Translation of The ʿAqā’id al-Nasafī (1988), hlm. 48)

Kelompok ini berawal dari sebuah gerakan filsafat pada zaman Yunani kuno oleh saintis gadungan alias ‘sophist’ (Greek: sophistāi) yang dipimpin oleh Protagoras (480-410 SM), Georgias (483-375 SM), Hippias dan Prodicus. Mereka ini kelompok yang menyesatkan dengan menyebarkan faham etika dan epistomologi relativisme.

Menganggap eksistensi itu tidaklah penting dan tidak akan pernah diketahui. Agama menurut mereka hanyalah sebuah penipuan belaka, sehingga sembahyang itu tidak ada gunanya serta validitas hukum itu hanya cocok untuk waktu dan tempat tertentu saja. Kemudian juga mereka memasukkan benih-benih keraguan dalam ilmu dan  kemungkinan untuk mendapatkannya serta memprakarsai faham skeptisisme. (The Oldest Known … hlm. 47-48).

Ciri-ciri dari faham ini yang telah digariskan oleh ulama kita tampak pada kelompok ‘neo-sophist’ atau mereka yang se‘nasab’ dengan mereka. Dalam bidang tafsir, tidak ada tafsir yang benar, semuanya relatif (ʿindiyyah), katanya.
Tapi aneh, mereka pun sering mengutip pendapat para mufassir yang otoritatif, tentu yang sesuai dengan selera mereka. Dalam bidang syariʿah, tidak ada lagi teks yang bersifat qathʿi (pasti) dan thawabit (tetap), semuanya dibolehkan untuk berijtihad.

“… Dengan mengecualikan ayat-ayat yang berkaitan dengan ritual murni seperti shalat, puasa, dan haji, ketentuan soal makanan dan minuman (math’umat dan masybuhat), seluruh ‘ayatul ahkam’ atau ayat-ayat hukum yang keseluruhannya turun di Madinah itu harus dianggap sebagai ayat yang berlaku temporer, kontektual, dan terbatas pada pengalaman sosial bangsa Arab abad ke-7 M. Ayat-ayat itu mencakup ketentuan tentang kewarisan, pernikahan, kedudukan perempuan, jilbab, qishas, jilid, potong tangan…”, begitulah katanya. (Abd. Moqsith Ghazali, dkk., Metodologi Studi al-Qur’an (2009), hlm. 136).

Bahkan yang lebih ‘nyeleneh’ lagi, homoseksual pun dihalalkan oleh salah seorang dari mereka. Mereka terjebak dalam keraguan yang tiada ujungnya.

Sikap Ilmuwan Muslim

Framework semacam ini digunakan dalam falsafah ilmu Barat modern dan diterima dengan ‘manut’ oleh mereka. Maka yang perlu kita tekankan disini adalah bahwa ilmu itu tidaklah netral atau bebas nilai, akan tetapi sarat nilai. Ilmu yang lahir dari rahim Barat, tidak dinafikan nilai-nilai Barat pun terselip di situ. Menolaknya secara mentah-mentah adalah bodoh.

Sementara bersikap taken for granted saja, itu ceroboh. Akan tetapi pilihlah mana yang sesuai budaya dan kebenaran agama kita. Hal inilah yang dilakukan oleh para ilmuan kita pada masa lalu ketika ilmu-ilmu dan filsafat Yunani, Persia dan India digalakkan untuk dikaji. Mereka tidak langsung menerima melainkan melalui proses penyaringan terlebih dahulu seperti yang dikatakan oleh al-Kindi bahwa mereka [ilmuan Muslim] tidak menerima bulat-bulat ilmu asing, tetapi ilmu itu mestilah melalui proses penyaringan yang berasaskan adat dan agama Islam. (Al-Kindi, Al-Kindi’s Metaphysics, (1974), hlm. 58). Wallahu aʿlam bi al-shawab.*

Penulis adalah mahasiswa master di Centre for Anvanced Studies on Islam, Science and Civilisation (CASIS) – Universiti Teknologi Malaysia, Kuala Lumpur dan Alumni IAIN STS Jambi.hidayatullah.com

Puisi: Murai di Dahan Pala

Written By Peradaban Dunia on Thursday, May 16, 2013 | 11:20 PM

Perempuan di kebun pala. Foto: baltyra.com
Murai di Dahan Pala

Karya Thayeb Loh Angen

Kau suka bersyair rindu di hulu kuala,
ketika murai rantau berkicau serentak
Kau suka mendengar kicau itu
sampai hulu tak lagi tampak

Akankah kudengar lagi hatimu
di sepanjang sungai antara kebun pala
sementara selendang mengganti ija sawak
dan jejak sejarah menuju pustaka

Bandar Aceh Darussalam

Hasbi Amiruddin: Ilmu Pengetahuan akan Mengalahkan Siapapun

Prof Dr Hasbi Amiruddin MA (tengah) dalam pengajian KWPSI (Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam), Rabu 15 Mei 2013, di warung Rumoh Aceh, Banda Aceh. Foto: Thayeb Loh Angen
Peradaban Dunia, Banda Aceh - Guru Besar IAIN Ar-Raniry  Prof Dr Hasbi Amiruddin MA, mengatakan Ilmu pengetahuan akan mengalahkan siapapun. Menurutnya, negara besar yang maju sekarang karena bangsanya punya pengetahuan. Misalnya, kata dia, negara Israel yang berpenduduk sedikit bisa menguasai negara adidaya.

 “Calon presiden Amerika Serikat tak terpilih jika tanpa dukungan Yahudi. Dulu, Turki Usmani menguasai dua pertiga dunia karena mengembangkan pengetahuan, mereka memiliki semua yang dibutuhkan sebuah negara adidaya, namun terakhir mereka tidak lagi mengembangkan hal tersebut. Ilmu pengetahuan akan mengalahkan siapapun,” kata dia.

Menurutnya, orang Korea Selatan sekarang mengambil ayat Al Quran untuk falsafah negaranya. Kata dia, ayat Al Quran yang bermakna ‘tidak akan mengubah nasib satu kaum sampai kaum itu mengubah nasibnya sendiri.’

“Ayat suci mat Islam itu mereka ambil menjadi pedoman negara dalam sebuah konferensi internasional Asia Fasifik di Malaysia. Mereka membuat konferensi tersebut setelah menelaah sistem di seluruh negara. Karena tidak ada yang cocok, mereka membuat konferensi untuk membuat sistem sendiri,” kata Hasbi.

Di Indonesia, kata dia, Habibi memproduksi pesawat terbang, namun USA selalu menghalanginya, sampai presiden setelah Suharto tersebut terpaksa menandatangani sesuatu dengan resiko tak bisa lagi memproduksi pesawat terbang.

Terkait isu Syiah, profesor mengatakan bahwa hal tersebut merupakan provokasi kerajaan Arab Saudi karena mereka takut revolusi Iran merambah Saudi sehingga runtuhnya sistem monarki di negara tersebut.

“Saat Shah Iran Reza Fahlevi masih raja Iran, tidak ada masalah antara Syiah Iran dengan Sunny Arab Saudi karena sistem kedua negara sama-sama monarki. Kalangan istana Saudi khawatir pada ide revolusi. Kini, di Saudi ada Syiah, mereka aman-aman saja, itu hanya isu kepentingan politik penguasa,” kata profesor dalam pengajian KWPSI (Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam), Rabu 15 Mei 2013, di warung Rumoh Aceh, Banda Aceh.

Menurutnya, aliran Syiah yang mencerca sahabat nabi, tau yang shalatnya aneh, tidak ada lagi sekarang karena kaum negara Iran melarangnya. Kata dia, konflik Syiah dan aliran Islam lain sudah selesai lebih seribu tahun lalu saat masalah itu muncul.

“Saya sudah beberapa kali ke Iran, tidak ada lagi yang seperti itu, bahkan saya dihormati di sana, mereka tahu saya Sunny. Tauhid dan fiqah antara Syiah dan Sunny sama. Itu yang saya lihat di Iran dan negara lain di timur tengah. Islam mencapai puncak keemasan itu saat memakai aliran yang paling rasional,” kata Hasbi.pd

Panitia Pembangunan Tugu Sastra Asia Tenggara Sepakat Siapkan Rancangan

Written By Peradaban Dunia on Wednesday, May 15, 2013 | 9:21 PM

Herman RN dalam rapat Panitia Penggalangan Dana ‘Malam Penggalangan Dana Pembangunan Tugu Sastra Asia Tenggara bernama Hamzah Fansuri di Kantor PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki), Banda Aceh, Rabu, 15 Mei 2013.
Peradaban Dunia, Banda Aceh – Panitia Penggalangan Dana ‘Malam Penggalangan Dana Pembangunan Tugu Sastra Asia Tenggara bernama Hamzah Fansuri’ pada Rabu 26 Juni 2013 di Banda Aceh.

Seorang panitia, Herman RN, mengatakan, acara tersebut dilaksanakan setelah menetapkan rancangan bentuk tugu dan tempat akan dibangunnya monumen bersejarah tersebut. Menurutnya, tugu tersebut harus dibuat dengan perencanaan matang sehingga berlangsung dengan baik.

“Malam penggalangan dana adalah awal, karena selanjutnya, kita harus disiplin melanjutkan program bersejarah ini,” kata Herman, dalam rapat perecanaan di Kantor PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki), Banda Aceh, Rabu, 15 Mei 2013.

Menurutnya, rancangan tugu tersebut harus dibuat oleh beberapa orang ahli secara maksimal. Supaya, kata dia, nilai seni dan kualitas bangunannya bertahan selama ratusan bahkan ribuan tahun.

“Ini momen sejarah besar yang harus dipertanggung jawabkan kepada generasi dan masyarakat dunia, semua seniman, masyarakat luas, dan pemerintah harus diajak,” kata sastrawan ini.

Dalam rapat yang dihadiri Zulfadli Kawom, Muda Balia, dan Thayeb Loh Angen tersebut disepakati, seni utama yang ditampilkan pada malam penggalangan dana tersebut adalah pembacaan hikayat oleh Muda Balia, peraih rekor MURI baca hikayat 26 jam, Ketua panitia Zulfadli Kawom, Administrasi/Keuangan Herman RN, bidang Logistik Imran Samudera Pase, Humas dan Jaringan Muda Balia, Mata Acara MC Udin Pelor, Seni pendukung Nandong Simeulue, dan semacamnya. Hari/Tanggal penggalangan Rabu, pukul 20.30 – 23.00 WIB, 26 Juni, 2013. Tempat Taman Sari, Banda Aceh. Penanggung Jawab Thayeb Loh Angen, PuKAT.pd

Aceh akan Galang Dana Bangun Tugu Sastra Asia Tenggara Hamzah Fansuri

Syekh Hamzah Fansuri Alfarisi
P Ramlee
Peradaban Dunia, Banda Aceh – Kalangan seniman dan tokoh pemuda Aceh berencana melangsungkan ‘Malam Penggalangan Dana Pembangunan Tugu Sastra Asia Tenggara Hamzah Fansuri’ pada Rabu 26 Juni 2013 di Banda Aceh. Peraih rekor MURI baca hikayat selama 26 jam, Muda Balia, akan tampil di acara ini.

Ketua panitia, Zulfadli Kawom, mengatakan, acara tersebut dilaksanakan sebagai penghormatan kepada ulama besar pembangun bahasa Melayu, Hamzah Fansuri. Kata dia, sumbangan besar bangsa Aceh kepada semenanjung Melayu adalah bahasa.

“Bahasa inilah yang telah memajukan peradaban Melayu Raya dalam bidang pendidikan, khususnya dunia sastra. Selain itu, bahasa ini juga sebagai bahasa diplomasi antar etnik yang hidup di semenanjung dan nusantara,” kata Zulfadli.

Menurutnya, secara terus menerus, anak bangsa Aceh membangkitkan dan memajukan syair-syair berbahasa Melayu. Yang di zaman ini, kata dia, P Ramlee dan Bob Rezal.


“Selain beberapa orang ulama Aceh yang mengarang kitab berbahasa Jawi atau Melayu, tokoh inilah yang telah membuat bangga orang Aceh perantauan di semenanjung. Setelah tiga generasi itu, inilah saatnya kita mengikuti jejak mereka, yakni, Hamzah Fansuri, P Ramlee, dan Bob Rezal,” kata Zulfadli.

Tokoh pemuda Aceh, Imran Samudera Pase, mengatakan, dirinya terpangil untuk ikut dalam setiap acara yang menyangkut tentang budaya dan sejarah Aceh. Apalagi, kata dia,  Syech Hamzah Fansuri Alfarisi adalah ulama pembangun sastra Melayu yang sangat ia kagumi.pd

Ampuh Devayan: Mendirikan Tugu Sastra Asia Tenggara, Ide Cemerlang, Saya Ikut!

D Kemalawati (kiri), Ampuh Devayan, Herman RN dalam sebuah diskusi.
Peradaban Dunia, Banda Aceh -  Penulis Aceh yang juga ketua Komunitas Panteue, Ampuh Devayan, mengatakan, ia sangat setuju dengan ide mendirikan Tugu Sastra Asia Tenggara oleh seniman. Menurutnya, membangun tugu tersbut di Banda Aceh merupakan ide cemerlang.

“Masalah tempat bisa disepati kemudian hari, yang jelas, lokasinya harus di tempat yang nyaman dan ada aura sastranya,” kata Ampuh Devayan, di Banda Aceh, Selasa, 14 Mei 2013.

Tanggapan tersebut ia sampaikan atas ide yang disampaikan Zulfadli Kawom terkait Deklarasi Hari Sastra Asia Tenggara yang dilakukan oleh Mahasiswa IAIN Ar-Raniry, pada 11 Mei lalu.

“Seniman harus mendirikan Tugu Sastra Asia Tenggara secara patungan. Misalnya, satu orang membeli satu sak semen, atau dua orang satu sak. Dengan begitu, maka tugu mungil itu segera siap,” kata Zulfadli.
Zulfadli Kawom

Ketua Balai Sastra Samudera Pasai ini melanjutkan, ketika siap, tugu tersebut harus diteken oleh orang nomor satu di Aceh serta seluruh seniman dan budayawan.

“Para penanda tangan itu harus menulis langsung namanya sebagai bukti sejarah. Tugu ini harus menjadi
Landa Mark Kota Banda Aceh seperti yang sudah ada, di antaranya simpang lima, kampus, mesjid raya, kuburan massal tsunami, dan mesium tsunami,” kata Zulfadli.

Tempat tugu tersebut, kata Zulfadli harus memakai land mark yang sudah ada, misalnya di Blang Padang, Taman Sari, dan sebagainya.

“Lokasi tugu tersebut harus di tempat umum. Orang yang lewat harus bisa membacanya tanpa sengaja,” kata Zulfadli.pd

Pegiat sosial Aceh: Aceh Butuh Penyair Istana

Written By Peradaban Dunia on Tuesday, May 14, 2013 | 6:28 PM

Tjek Gu PA (kiri) dan rekan-rekan dalam sebuah deklarasi.
Peradaban Dunia, Banda Aceh – Sebelum adanya teknologi informasi di Aceh, pembacaan hikayat adalah media publik untuk menyampaikan pesan-pesan penting. Sampai era 1980-an, tradisi baca hikayat masih kuat di Aceh.

Demikian kata pegiat sosial Aceh, Tjek Gu PA, di Banda Aceh, Selasa, 14 Mei 2013. Kini, kata dia, tradisi tersebut harus dihidupkan kembali.

“Hikayat Aceh dibaca di acara pesta perkawinan, syukuran, dan acara pelantikan pejabat formal dan nonformal. Syair-syair yang terkandung dalam hikayat tersebut menceritakan kegagahan para pahlawan, yang kalau di Pase, seperti hikayat Malem Dewa, Putroe Bunsu, Indra Budiman, Raja Jeumpa, dan sebagainya,” kata Tjek Gu.

Namun, kata dia, saat ini tradisi membaca hikyat sudah begitu langka. Bahkan, menurutnya, hampir punah. Pembaca hikayat sendiri, kata dia, terakhir terdengar adalah Tgk Adnan PMTOH.

“Kini, setelah Tgk Adnan meninggal, hampir tidak ada generasi berikutnya yang mengikuti jejak beliau. Bahkan, di pantai Utara dan Timur Aceh, jarang terdengar. Namun, kegamangan budaya ini, terobati dengan adanya seorang pemuda bernama Muda Balia yang telah mendedikasikan hidupnya menjadi pembaca hikayat Aceh,” Tjek Gu.

Kata dia, untuk menyambung sejarah budaya bidang dunia sastra Aceh, para penghikayat harus diseleksi untuk diangkat sebagai penyair istana.

Imran Samudera Pase

Sementara, tokoh pemuda Aceh Utara, Imran Samudera Pase, mengatakan, harus dicari figur yang cocok untuk pengganti Tgk Adnan PMTOH. Selama ini, seolah budaya asli Aceh sudah terkubur.

“Dengan adanya sosok terpilih, yang mendalami seni khas Aceh bidang hikayat dapat menguatkan kembali budaya Aceh yang pernah dikenal di berbagai belahan bumi,” kata Imran yang pernah bekerja di Bidang Satker Agama Sosial Budaya di BRR Aceh-Nias Regional II.pd

Teks Deklarasi Hari Sastra Asia Tenggara

Written By Peradaban Dunia on Monday, May 13, 2013 | 5:41 PM

Teks Deklarasi Hari Sastra Asia Tenggara
Peradaban Dunia, Banda Aceh - Deklarasi Hari Sastra Asia Tenggara oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas ( BEMAF) Tarbiyah IAIN Ar-Raniry, Sabtu, 11 Mei 2013 bertepatan dengan 1 Rajab 1434 H, di Aula Fakultas Tarbiyah, IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

Deklarasi tersebut diawali pembacaan hikayat oleh peraih Rekor MURI (Museum Record Dunia Indonesia) 2010 atas prestasi luar biasa membaca hikayat selama 26 jam, Teuku Muda Balia.  Pembaca Teks: Thayeb Loh Angen.

Dalam acara tersebut diluncurkan Sekolah Menulis Tarbiyah (SEMESTA) dan bedah Novel 'Teuntra Atom' karya Thayeb Loh Angen.pd

Mimbar Penyair Istana

Written By Peradaban Dunia on Sunday, May 12, 2013 | 1:56 AM

Wawancara dengan Muda Balia, peraih Rekor Muri Baca Hikayat 26 Jam Tahun 2010, 
                                  tentang rencana Deklarasi Mimbar Penyair Istana

PD: Menurut informasi, Anda berencana membuat sebuah Mimbar Penyair, program apakah itu dan bagaimana hal tersebut menjadi perlu?

Muda Balia: Ya, namanya Minbar Penyair Istana. Ini merupakan salah satu cara untuk membangkitkan kembali seniman hikayat di Aceh. Mimbar Penyair Istana harus kita deklarasikan terlebih dahulu.

 Insyaallah, melaluinya, kita akan melahirkan para penyair yang berakhlak baik  dan mampu mengharumkan nama Aceh di mata dunia seperti para penyair-penyair di masa silam. Meraka juga akan dapat menjadi penyair di masing-masing kabupaten-kota di Aceh. Merekalah yang menjadi penerus pembaca hikayat warisan budaya ini.
 

PD: Kapan dan di mana Anda akan mendeklarasikannya, dan bagaimana bentuk kegiatan Mimbar Penyair Istana tersebut setelah dideklarasikan?

Muda Balia: Insyaallah, kita akan mendeklarasikan Mimbar Penyair Istana ini dalam waktu dekat, kalau Gubernur mengizinkan, kita akan mendeklarasikannya di Meuligoe Gubernur Aceh. Setelahnya, kita akan melatih para penghikayat baru untuk masa depan, juga sesekali membuat pertunjukan, jika perlu.
 

Kalau MUNA (Majelis Ulama Nanggroe Aceh –red) berkenan berkerjasama, kita akan menjadikan Mimbar Penyair Istana ini sebagai seni media dakwah untuk mengangkat kembali marwah Islam di bumi Serambi Mekkah ini. Kita harap Gubernur dan MUNA Aceh akan setuju dengan ide ini untuk membangun generasi bangsa.

PD: Bagamana Anda bisa optimis dengan ide ini, sementara masih banyak hal lain yang harus diurus oleh Gubernur dan MUNA Aceh?

Muda Balia: Saya yakin ini akan berhasil karena saya tahu, Gubernur dan MUNA Aceh memiliki tujuan yang sama, yakni, mengharumkan nama Aceh di mata dunia.

PD: Baiklah, bagaimana rekan-rekan seniman akan mendukung program Mimbar Penyair Istana yang Anda canangkan?

Muda Balia: Insyaallah, ini akan terwujud. Kita tahu, semua rakyat Aceh, lebih lagi senimannya, baik yang berada di Aceh maupun di luar, pasti ingin seni warisan indatu dikenal di seluruh dunia.pd

Mahasiswa Tarbiyah IAIN Ar-Raniry Deklarasi Hari Sastra Asia Tenggara

Written By Peradaban Dunia on Saturday, May 11, 2013 | 3:42 PM

Foto bersama setelah Deklarasi hari Sastra Asia Tenggara, Bedah Novel Teuntra Atom, dan Launcing SEMEsTA (Sekolah Menulis Tarbiyah) IAIN, di Aula Fakultas Tarbiyah, IAIN, Banda Aceh, 11 Mei 2013/1 Rajab 1434 H.
Banda Aceh - Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas ( BEMAF) Tarbiyah IAIN Ar-Raniry  mendeklarasikan Hari Sastra Asia Tenggara dan Launching Sekolah Menulis Tarbiyah atau yang disingkat dengan SEMESTA di Aula Fakultas Tarbiyah, Banda Aceh, Sabtu (11/5/ 2013) bertepatan pada 1 Rajab 1434 H.

Deklarasi tersebut juga dikemas dengan bedah Novel “Teuntra Atom” karya seorang mantan Kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Thayeb Loh Angen, yang kini konsen di dunia sastra Aceh serta memimpin Sekolah Sastra Hamzah Fansuri. 

Acara yang dihadiri oleh Sastrawan, Penulis dan para akademisi dari berbagai daerah ini di buka oleh PD 3 Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry, Dr. Syabuddin Gade, M,Ag. Dalam sambutannya, Syabuddin berharap acara ini jangan hanya sebatas seremonial saja, namun juga harus terus diasah agar lahir para penulis – penulis Aceh yang mampu mewarnai dunia Kepenulisan dan sastra Aceh.

Sebagai narasumber dan pembedah, selain Thayeb Loh Angen, acara deklerasi sastra ini menghadirkan Teuku Zulkhairi dari kalangan penulis, Rahmat Banta dari Penerbit CAJP, Herman RN dan Muda Balia yang menunjukkan kebolehannya membaca hikayat Aceh sebagai pertanda pendeklerasian Hari Sastra Asia Tenggara, 11 Mei 2013.

Gubernur Mahasiswa Fakultas Tarbiyah, Muhammad Sufri dalam sambutannya mengatakan hadirnya SEMESTA ini diharapkan menjadi oase dalam kegersangan dunia kepenulisan Mahasiswa. “Ini akan menjadi tonggak kemajuan ke penulisan mahasiswa kedepan, sebagai oase dalam kegersangan dunia kepenulisan mahasiswa saat ini,” imbuh Sufri.

Narasumber lainnya, Teuku Zulkhairi mengatakan, kejayaan sastra Aceh di masa silam yang ditulis oleh para ulama sangat identik dengan kepentngan dakwah Islam dan sangat sarat dengan nilai-nilai Islami.

“Maka sastra Aceh yang harus dibangun ke depan arahnya harus memuat kepentingan dakwah Islam,” tegas Zulkhairi yang menulis buku “Catatan Seorang Santri Aceh” ini. Maka, “pendeklerasian Hari Sastra Asia Tenggara ini harus menjadi momentum awal menggapai cita-cita tersebut,” sambungnya.

Sementara Thayeb Loh Angen, inisiator dan pencetus Hari Sastra Asia Tenggara saat membaca Naskah Deklarasi mengatakan, Hamzah Fansuri adalah orang pertama yang menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa literasi dan sastra sehingga ia menjadi tolok ukur yang pantas.

“Hari lahir atau meninggalnya Hamzah Fansuri adalah hari sastra Asia Tenggara,” kata Thayeb yang juga pengurus Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT).Rilis Fak Tarbiyah IAIN Banda Aceh

Aceh Perlu Penyair Istana

Written By Peradaban Dunia on Friday, May 10, 2013 | 6:26 PM

Kitab Asrar Suluk Malik Al Muluk karangan Syekh Baba Daud Ar-Rumi, koleksi Tarmizi A Hamid. Foto: Thayeb Loh Agen
Banda Aceh - Sepanjang sejarah, sultan Aceh memiliki penyair khusus untuk menyampaikan pesan-pesan dari istana. Penyair tersebut adalah orang terpilih dari kalangannya.

Demikian kata pengurus Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT), Thayeb Loh Angen, dalam sebuah diskusi bersama seniman, di kantornya, Banda Aceh, Jumat, 8 Mei 2013. Kata dia, ketika perang Aceh dengan Belanda terjadi sejak 26 Maret 1873, keberadaan penyair istana hilang bersamaan dikuasainya istana Daruddunya oleh penjahat dari Eropa Utara tersebut.

“Adanya penyair istana telah diceritakan secara turun-temurun dari kalangan pewaris kebudayaan Aceh. Beberapa akademisi senior di Aceh membenarkan adanya penyair istana. Jika belum ada referensi tertulis tentangnya, maka peminat sejarah dan seni Aceh harus menulisnya. Ini kekayaan budaya kita,” kata Thayeb.

Ketika hilangnya istana dalam kekuasaan Aceh, kata Thayeb, para penyair ikut serta berperang dan membangkitkan semangat perang sabilillah bersama para ulama dan pejuang Aceh lainnya.

“Bahkan ulama sendiri, ikut menuliskan hikayat untuk kepentingan perjuangan tersebut. Misalnya Hikayat Prang Sabi yang dikarang oleh Teungku Chik Pante Kulu, Hikayat Prang Gompeuni, dan lain-lain,” kata Thayeb yang juga Kepala Sekolah Hamzah Fansuri.

Menurutnya, Hikayat Prang Sabi dibacakan di pusat keramaian dan rumah-rumah untuk menarik perhatian penduduk. Para penyair, kata Thayeb, menghafal bait-bait syair tersebut. Namun, menurut dia, ketika Belanda melihat pengaruh hikayat tersebut, Belanda mulai melarang membaca dan menangkap pembacanya.

“Jika di dunia Timur Tengah ada budaya membaca syair, di Eropa ada budaya membaca puisi, maka di Aceh dan Asia Tenggara ada budaya membaca hikayat. Pada awalnya semua jenis ini seni tutur, kemudian ketika peradaban manusia mengenal tulisan, maka syair, puisi dan hikayat pun ditulis,” kata Thayeb yang juga bekas anggota Polisi Militer GAM.pd

Galeri Foto: Diskusi Publik Memperingati 501 tahun Kesultanan Aceh Darussalam

Written By Peradaban Dunia on Wednesday, May 8, 2013 | 6:49 PM


Diskusi Publik Memperingati 501 tahun Kesultanan Aceh Darussalam, di Banda Aceh, Sabtu 31 Maret 2012. Ketua Panitia: Thayeb Loh Angen, Lembaga Budaya Saman. Foto: Teuku Abdul Malik.
Diskusi Publik Memperingati 501 tahun Kesultanan Aceh Darussalam, di Banda Aceh, Sabtu 31 Maret 2012. Acara ini dihadiri kalangan seniman, produser, aktivis, akademisi. Ketua DPRK Banda Aceh Yudi Kurnia dan Arkeolog Aceh, Dr. Husaini Ibrahim dari Unsyiah, turut hadir dalam acara yang dilangsungkan oleh Lembaga Budaya Saman ini. Foto: Teuku Abdul Malik.

Diskusi Publik Memperingati 501 tahun Kesultanan Aceh Darussalam, di Banda Aceh, Sabtu 31 Maret 2012. Ketua Panitia: Thayeb Loh Angen, Lembaga Budaya Saman. Foto: Teuku Abdul Malik.



(Dari kiri) Ketua DPRK Banda Aceh Yudi Kurnia, Peneliti Manuskrip Hermansyah, Direktur CAJP Rahmat Banta, Thayeb Loh Angen dalam Diskusi Publik Memperingati 501 tahun Kesultanan Aceh Darussalam, di Banda Aceh, Sabtu 31 Maret 2012. Ketua Panitia: Thayeb Loh Angen, Lembaga Budaya Saman. Foto: Teuku Abdul Malik.


Herman RN (memegang mikrofon, di kirinya Suryadi) saat memberikan pendapat dalam Diskusi Publik Memperingati 501 tahun Kesultanan Aceh Darussalam, di Banda Aceh, Sabtu 31 Maret 2012. Ketua Panitia: Thayeb Loh Angen, Lembaga Budaya Saman. Foto: Teuku Abdul Malik.
Diskusi Publik Memperingati 501 tahun Kesultanan Aceh Darussalam, di Banda Aceh, Sabtu 31 Maret 2012. Ketua Panitia: Thayeb Loh Angen, Lembaga Budaya Saman. Foto: Teuku Abdul Malik.
Diskusi Publik Memperingati 501 tahun Kesultanan Aceh Darussalam, di Banda Aceh, Sabtu 31 Maret 2012. Ketua Panitia: Thayeb Loh Angen, Lembaga Budaya Saman. Foto: Teuku Abdul Malik.

Cerpen: Relung Hati

Karya Halim Mubary
            Raut wajahnya mengesankan kekusutan yang sangat. Air mukanya keruh serupa air sungai yang baru didera hujan deras, dan banyak menghanyutkan limbah dari hulu. Seperti biasanya, sebelum aku masuk ke ruang pernikahan, terlebih dulu aku memeriksa ulang kelengkapan berkas pernikahan calon pengantin. Hal itu aku lakukan untuk menjaga kemungkinan adanya dokumen yang salah atau pemalsuan identitas calon pengantin itu sendiri.
        
 Aku tak ingin kasus-kasus yang dianggap ringan, ternyata di kemudian hari berdampak besar dan akhirnya menyeret diriku ke ranah hukum sebagai Kepala KUA Kecamatan. Meskipun itu bukan kesalahan yang aku lakukan. Sebut saja misalnya kasus pernikahan sejenis yang sempat menghebohkan beberapa waktu lalu di sebuah KUA tetangga. Namun, setelah memeriksa semua berkas dokumen, aku tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan pada pasangan yang sebentar lagi akan menikah ini. Sepertinya semua dokumen pernikahan sudah lengkap semuanya. 
            Sengaja aku tidak berbarengan memangghil pasangan itu ke ruang kerjaku, agar bisa bertanya lebih rileks dan terbuka. Walaupun semua pertanyaan yang aku ajukan ini, sebelumnya sudah pernah ditanyakan oleh stafku saat kedua catin melaporkan rencana pernikahan dan pengajuan berkas dokumen pernikahan mereka sepuluh hari yang lalu.
Setelah catin laki-laki, sekarang giliran catin perempuan yang duduk di depanku. Aku melihat identitasnya; Alena nama gadis itu. Wajah tirusnya menegsankan kegalauan dan kegelisahan. Air mukanya jauh dari ceria layaknya orang yang  akan mengarungi kehidupan baru yang sakral. Pada lembaran N, umurnya baru 20 tahun dengan pendidikan mahasiswi. Hasil tes urine dari Puskesmas negatif. Artinya secara medis si gadis memang benar masih perawan.  Namun, mengapa air mukanya jauh dari bahagia?
Aku menatapnya. “Maaf, kalau boleh tahu, adakah yang mengganjal hati saudari?”  aku mulai bertanya. “Saya tidak akan melanjutkan pernikahan Anda, jika sejauh ini Anda masih menyimpan aral!”
Wajah di depanku menunduk. Serupa anak SD yang baru saja dimarahi gurunya. Helaan napasnya terdengar berat. Namun mulutnya masih terkunci. Bintik keringat bertaburan di wajahnya yang putih.   
“Kalau memang masih ada yang mengganjal, sebaiknya diselesaikan terlebih dulu antar keluarga!” sergahku, begitu melihat dia belum bereaksi.
Gadis itu masih bungkam. Ada betiran air mata yang jatuh dari kedua kelopak matanya. Selama 12 tahun menjadi kepala KUA, baru kali ini aku menghadapi kasus sesendu ini. Air mata itu menjelaskan ada yang tak beres. Tapi Apa? Aku mengambil Alquran yang ada di pinggir meja kerjaku dan menyodorkan ke depannya. “Bacalah, mungkin dengan ini hati Anda akan lebih tenang nantinya. Quran biasanya menjadi solusi bagi kita!”
Si gadis mengusap air matanya dengan sapu tangan. Perlahan, ia  mulai membuka lembaran Alquran. Dalam suasana hening, lafadznya mengalun merdu. Setiap tarikan suaranya seakan mampu menentramkan hati siapa pun yang mendengarnya. Sungguh aku tak menyangka jika gadis ini sangat fasih dalam irama dan tajwidnya.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah, diciptakan-Nya untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri, supaya kamu mendapat ketenangan hati dan dijadikan kasih sayang di antara kamu. Sesungguhnya yang demikian itu menjadi tanda-tanda kekuasaan-Nya bagi orang-orang yang berfikir”.
  Ia membaca QS Ar-Rum ayat 21 dengan penuh kekusyukan. Waktu seperti berhenti berputar. Betapa agungnya ayat yang dibacakannya itu. Juga keluasan makna dan kaedah hidup yang dikandungnya.
“Masih ragukah Anda dengan gerbang yang akan Anda masuki sebentar lagi?” aku bertanya setelah Alena menuntaskan bacaannya. 
Wajahnya terangkat. “Saya sama sekali tidak pernah membayangkan kejadiannya akan seperti ini. Jika saja peristiwa itu tidak menimpa pada diriku, aku akan sangat bahagia menjalaninya pernikahan ini, Teungku!” itulah suara pertamanya di luar bacaan kalam Allah. 
Aku tersentak dengan kalimatnya yang menyimpan rintihan itu. “Boleh saya tahu maksudnya?”
Helaan napas beratnya kembali terdengar.  “Saya terlahir ke dunia ini, atas sebuah musibah yang dilakukan oleh kedua orang tua saya yang tak punya syarat agama maupun hukum negara!” katanya dengan napas berat.
Oo, itukah yang mengganjal gadis ini untuk merasa berbahagia di hari pernikahannya hari ini? “Tapi itu bukan salah Saudari!” gelengku.
“Ya, salah orangtua saya. Merekalah yang membuat saya begini. Saya terhukum oleh perbuatan sesat mereka!”  
“Anda tetap anak yang suci ketika dilahirkan ke dunia ini. Setiap amal kebaikan saudari akan berbalas pahala, anakku!”
“Tapi orang sudah terlanjur mencap saya sebagai anak haram…” suaranya iba bercampur isakan.
“Baik, bagaimana dengan calon suami, Saudari? Apakah dia sudah tahu tentang semua ini?”
Gadis itu menggeleng.
“Lalu.…”
“Kedua orangtua saya merahasiakan selama ini, agar mereka dianggap suci dengan perbuatannya dulu. Sebenarnya saya belum siap dengan semua ini. Terlalu mahal harganya jika calon suami saya tahu yang sebenarnya. Saya akan malu sekali, Pak!”
Keheningan menyungkup sekian lama. Detak jarum jam mengisi ruangan.
“Saya akan panggil ayah Anda. Dia hadir di sini kan?”
Gadis itu mengangguk.
***

Alfian, calon suami Alena pada awalnya sangat terpukul dengan semua yang didengarnya dari pihak keluarga Alena. Namun, akhirnya ia mau juga menerima Alena dengan segala kekurangannya, sebagai calon istrinya kelak.  
Hari ini, pernikahan yang sempat tertunda selama dua minggu lalu, kembali dilangsungkan. Akan tetapi bukan di kantor KUA lagi seperti rencana semula. Mereka memilih di sebuah masjid di luar kota yang jauh dari hiruk pikuk dan gunjingan. Betapa pun, aib terkadang mesti disimpan di tikungan jalan. Setelah ijab kabul berlangsung dengan wali hakim, aku tidak lagi melihat ada galau yang merengkuh di mata Alena.
Suatu hari, beberapa tahun setelah peristiwa itu. Aku memperoleh undangan syukuran atas nama Alena. Alamatnya sekitar setengah jam perjalanan dari rumahku. Kebetulan aku dan istriku punya waktu senggang untuk menghadiri syukuran  itu.
Alena dan suaminya menyambut kami dengan sumringah. “Terima kasih Pak, Bu, sudah bersedia memenuhi undangan kami ini,” sambut Alena riang.
“Bagaimana keadaan kalian sekarang?” tanyaku begitu berada di sebuah ruangan yang di tata sebagai ruang prasmanan.
“Seperti yang Bapak lihat!” Alena tersenyum lebar. “Ini, Allah menganugerahkan dua anak sekaligus kepada kami!”
“Alhamdulillah, ini luar biasa. Jadi kalian punya anak kembar?” aku dan istriku bertanya serempak.
Alena mengangguk.
Aku diseret istriku untuk melihat si kembar Alena. “Lihat, Bang, seandainya kita diberikan Allah anak seperti ini, betapa bahagianya hidup kita. Oh, tentu hari-hari kita akan penuh warna dengan tangisan dan candaan dari anak-anak kita. Tidak sepi lagi seperti selama ini!”
“Husss, jangan berkata demikian. Allah tidak suka melihat orang cengeng dan putus asa. Siapa tahu nanti kita diberikan tiga anak sekaligus. Apa kamu sudah siap?”
Sebulan kemudian. Istriku mual dan suka muntah-muntah. Aku langsung memboyong istriku ke dokter kandungan dengan perasaan harap-harap cemas.  
“Istri Saudara positif  hamil.” Dokter langganan kami tersenyum. “Kemungkinan Bapak dan Ibu punya anak dua sekaligus.”
“Maksud dokter, istri saya mengandung anak kembar!”
Dokter mengangguk. “Ini saya rasa buah dari kesabaran yang selama ini Bapak dan Ibu pupuk.”
“Alhamdulillah ya Allah!” aku langsung memeluk istriku erat.
Mata istriku berbinar-binar. “Akhirnya… setelah 14 tahun, Bang. Kerinduan itu datang juga menghampiri kita.” 
Aku mengangguk mantap. Bayangan terhadap bayi-bayi mungil nan lucu, menari-nari di mataku. 

Halim Mubary, penyuka sastra dan membahani mahasiswa menulis di STAI Al-Aziziyah Samalanga, Bireuen. Cerpen ini telah dimuat di surat kabar Harian Aceh, 2012.

Jangankan Tersenyum dan Berbicara, Menoleh pun Haram kepada Pencuri Uang Rakyat

Written By Peradaban Dunia on Monday, May 6, 2013 | 5:49 PM

Oleh Thayeb Loh Angen

Tadi pagi, saya dapat pesan singkat dari penyair Din Saja. Ia menanggapi pemberitaan media tentang uang 1,4 trilyun yang ingin dipakai Pemerintah Aceh tapi dilarang cairkan oleh mendagri.

"Bagaimana rusaknya mental penjabat pemerintah di Aceh. Seniman harus bicara kalau tidak ingin berdosa!" Teriaknya melalui pesan itu.

Saya enggan menanggapinya langsung karena tidak punya keahlian dalam menganalisa hal tersebut. Organisasi yang saya jalankan pun bergerak dalam bidang kebudayaan, bukan anti perampokan uang rakyat.

Saya hanya bicara tentang kebudayaan. Jika tidak sesuai, pejabat teras Jakarta atau UNESCO sekalipun kita protes. Namun, berdiam diri menghadapi kejahatan memang sebuah kesalahan.

Isi pesan singkat penyair tadi menarik untuk ditanggapi dengan cara lain. Jika seniman ingin bicara hal penyalahan anggaran oleh pemerintah, maka terlebih dahulu mereka harus bersatu untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, baru bisa mengurus hal pemerintahan.

Bukannya saya tidak mendukung aktivitas anti perampokan uang rakyat, tapi saya belum sepakat dengan cara yang dipakai sekarang oleh LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) tersebut untuk menyelamatkan uang rakyat. Perampokan uang rakyat yang disebut korupsi itu punya riwayatnya. Saya akan mendukung aktivitas anti perampokan terselubung itu jika yang dilakukan adalah mencegahnya.

Adalah kurang gunanya jika hanya mengangkat sebuah kasus ketika sudah ada dan mempublisnya di media. Sementara uang rakyat yang sudah diambil tidak kembali. Tahun depan begitu juga lagi kejadian, terus usut mengusut bukan cegah mencegah.

Kita harus fokus pada pembinaan mental dan akhlak para penjabat di Aceh agar mereka tidak merampok uang rakyat. Itu untuk jangka panjang. Untuk jangka pendek, boleh saja mengusut yang sudah terjadi. Yang terpenting adalah mencegah pencurian uang rakyat oleh penjabat dan perkumpulannya sejak anggaran APBA/APBK 2014 di Aceh.

Kalau untuk 2013 sudah lewat. Di dalam 1,4 Trilyun itu bukan semuanya dirampok oleh penjabat, tapi ada bagian tertentu dalam skala besar, mungkin. Porsi tersebut dilarang mendagri karena tidak sesuai dengan aturan yang dibuat RI.

Untuk mengetahui itu akan dirampok atau tidak, maka para aktivis anti perampokan uang rakyat harus memeriksa persiapan anggaran APBA/APBK di Aceh dari sekarang. APBA/APBK 2014, sekarang sudah mulai dirancang. Jangan cuma cari nama di media ketika sudah terjadi, jangan hanya mengelola isu, tapi bertindaklah langsung untuk mencegahnya secara sistematis.

Yang penting menyelamatkan uang rakyat yang belum dianggarkan bukan menghukum perampok yang sudah kedapatan merampok. Menghukum perampoknya dengan cara pemerintah cuma bagian terkecil dari menegakkan keadilan dalam penganggaran uang rakyat.

Kita juga harus mencegah tindakan nepotisme penerimaan PNS atau pegawai BUMN/BUMD di Aceh. Orang-orang yang masuk dengan cara tidak profesional cenderung akan mencari kesempatan merampok uang rakyat yang bukan jatahnya untuk mengganti uangnya yang telah habis saat mendapatkan jabatan tersebut.

Kita juga harus mencegah sistem penilaian yang tak adil di sekolah dan perguruan tinggi di Aceh. Yang pertama harus dilakukan adalah memperbaiki sitem pendidikan. Sistem pemilihan umum di Indonesia dan Aceh mendukung pencurian uang rakyat. Untuk kampanye agar terpilih butuh biaya ratusan juta, bahkan milyaran. Tentu pemenang akan berusaha mengembalikan uangnya yang telah habis saat kampanye. Sistem ini juga wajib diubah.

Apakah LSM Anti perampokan uang rakyat sudah punya konsep untuk ini? Apakah ulama sudah mulai bertindak untuk itu? Kalau sudah, maka saya ikut sekarang. Dan, hanya ulama tulus memperjuangkan kemaslahatan umat yang patut kita ikuti dengan sukarela.

LSM anti perampokan uang rakyat tidak bisa melakukan ini sendiri. Seniman, akademisi, ulama, dan pengusaha yang jujur harus ambil andil secara sukarela dalam melakukannya. Perkara pencurian uang rakyat di Aceh adalah perkara besar. Saking besarnya sehingga mustahil Aceh bisa bangkit lagi sebelum itu diselesaikan dan dicegah.

Sebutan ‘korupsi’ wajib diganti dengan bahasa ibu kita, misalnya diganti dengan kata ‘rampok uang rakyat’ atau carilah kata sepadan yang lain. Itu lebih sesuai dengan kebudayaan Aceh sehingga orang lebih tanggap ingin mencegahnya.

Sebaiknya para pencuri uang rakyat yang sudah terbukti, dihukum secara adat Aceh. Pelaku, keluarga, dan kerabatnya harus dikucilkan. Jangan hadiri kenduri di rumahnya. Ini baru bisa berhasil. Jangankan tersenyum dan berbicara, menoleh pun haram kepada pencuri uang rakyat.

Thayeb Loh Angen, Aktivis Kebudayaan di Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT), bekas anggota Polisi Militer GAM.

Berita Pilihan

Berita Campuran

 
Web Design : Peradaban Dunia Team | Redaksi | About
Copyright © 2011. Peradaban Dunia - All Rights Reserved
www.peradabandunia.com