Terjebak Diplomasi Serumpun, Aceh Tidak Serumpun dengan Melayu

Foto: Hermansyah
Oleh: Ayah Panton

Jikalau benar Aceh adalah modal dalam mendirikan republik di tataran international (dalam forum Perserikatan Bangsa-Bangsa) maka dalam hal menyelesaikan berbagai persoalan yang timbul di kemudian hari seharusnya diselesaikan dengan modal yang pernah diberikan oleh Aceh dari semenjak itu, misalnya kasus dengan melayu yang terjadi saat ini.

Tidak heran kalau Indonesia terjebak dalam politik diplomasi serumpun yang dibangun oleh Malaysia sehingga terjadi berbagai pencaplokan, penetrasi dan penjajahan terhadap budaya nusantara yang disebabkan republik ini dan bangsanya lagi terlena, terkesima, dan tersanjung dengan adanya pemberian anugerah dan gelar lainnya kepada tokoh dan pembesar di republik ini oleh penguasa di negera jiran tersebut.

Aceh adalah pewaris Pase, pada masa jayanya Kerajaan Pasé ini dikenal sebagai bangsa yang ahli dalam menggarungi samudera dan ilmunya diperoleh dari bangsa phonesia maupun dari bangsa asal Aceh itu sendiri. Dalam melakukan pelayaran biasanya orang-orang Pasè menemukan ada sekawanan manusia yang hidup di atas perahu dan bila mereka di darat mereka membuat api unggun dan mereka mengelilingi api tersebut secara melingkar untuk berdiang (madeuëng) atau meulayu, maka oleh orang Pasè digelar kepada bangsa tersebut dengan julukan “Biëk Meulayu” (Bangsa berdiang) atau dikenal sekarang dengan bangsa Melayu.

Bangsa Aceh adalah bangsa yang menggunakan aksara laten dan Arab di samping sebuah aksara yang pernah dipergunakan yaitu aksara rencong. Disamping itu pula pada masa kerajaan Aceh juga terdapat dua bahasa yang digunakan sebagai bahasa resmi kerajaan yaitu bahasa Arab sebagai bahasa ilmu pengetahuan, dan bahasa jawoë sebagai bahasa pengantar (komunikasi diplomasi) serta bahasa Aceh sebagai bahasa ibu yang dipergunakan sebagai bahasa keseharian.

Bahasa Melayu berasal dari basa Meulayeuë yang diciptakan oleh orang Pasè ketika melakukan pelayaran dalam mengarungi samudera luas merupakan sandi pelayaran atau sebutan lain kepada bahasa ini adalah bahasa jawoö karena digunakan ketika “Sira Geujakwoë” (bukan ketika pulang pergi) maksud dari istilah ini adalah duluan pulang dari pada pergi dan inilah yang sering digunakan oleh orang melayu. Ada juga yang menyebut bahasa ini dengan bahasa jawi itu tidak lebih karena memakai aksara Arab yang mengharuskan kita menulis dan memulainya dari kiri atau dalam narit Aceh (Meujawië).

Apalagi bila ada yang mengatakan bahasa (Narit) Aceh adalah serumpun dengan bahasa Melayu, tidak ada dalil dan bukti-bukti yang kuat dan bisa menjelaskan tentang itu. Karena bahasa serumpun adalah dari penulisan, gaya baca, dan arti hampir bersamaan atau dalam bahasa (nariët) Aceh ”Saré lakap, saré seunurat dan saré makna.” Mari kita ajukan sebuah pertanyaan besar tentang itu, misalnya tolong tunjukkan dunia melayu mana yang menulis seperti orang Aceh, yang memakai diakritik di atas beberapa huruf hidup (Vokal) atau  “changkonek di ateuh arah” kalau jawabannya tidak ada maka kita tidak serumpun dengan bahasa Melayu.

Coba kita telaah lagi dari penulisan kosakata, cara baca dan arti maka antara Aceh dan Melayu sangat jauh berbeda seperti ketika di Aceh dikatakan ruëng maka Melayu mengatakannya punggung dan bila di Aceh dikatakan punggông maka melayu mengatakannya pantat, ketika di Aceh disebutkan neuheun mereka mengatakannya tambak, bila di Aceh menyebutkan tambak mereka mengatakannya timbun, dan banyak lain lagi kata-kata yang tidak sama.

Kalau melihat dengan rumpun bahasa Indo-german masih terdapat beberapa persamaan yang lebih jelas dengan bahasa Aceh separti ketika di Aceh di katakan göd maka Inggris mengatakan good, bila di Aceh dikatakan röd maka di inggris dikatakan road, bila di Aceh dikatakan pr`èt maka di Inggris dikatakan press begitu juga bila di Aceh dikatakan sipreuëk maka di inggris dikatakan spray demikian pula ketika di Aceh dikatakan riwang inggris mengatakan rewain, bila di Aceh dikatakan ùët Inggris mengatakan eat. Dengan demikian apakah dalil-dalil di atas belum cukup untuk membuktikan bahwa kita tidak serumpun dengan mereka.

Dan malahan negeri merekanpun adalah merupakan daerah penaklukan yang pernah dijajah oleh Aceh ini terbukti dengan tulisan yang terdapat pada batu lisan yang terukir dari salah satu makam Ratu Pasè yang menyebutkan memerintah Keudah dan Perak. Dan malahan ketika Pasè sudah sangat maju dan telah mampu membangun industry armada perang lautnya yang memproduksi armada dengan menyusun papan berlapis sehingga meriam kapal musuh (Portugis) tidak mampu menembusinya dan bahkan Pasè pada waktu itu sudah menggunakan uang dirham emas yaitu satu-satunya kerajaan pada waktu itu yang menggunakan emas sebagai nilai tukar serta sudah menguasai kaligrafi, bukankah pada waktu itu raja Malaka masih bertaik kuku dan primitif, bukan orang Aceh kah yang membawa peradaban kepada mereka sehingga hari ini mereka sudah tidak lagi menjadi manusia-manusia biadab dan primitive dan tidak lagi disebut sebagai manusia perahu.

Hal ini sangat jelas dan gampang sekali kita membuktikannya karena dalam kesehariannya orang Melayu menyadari dan menyebut dirinya dalam sehari-hari adalah dengan kata hamba atau budak yang dalam bahasa Aceh disebut lamiet (hal ini sangatlah hina di Aceh) sedangkan orang Aceh menyebut diri nya adalah Tuan, bukan budak/hamba (lamiet) seperti lazim kita dengarkan dalam kata ketika orang Aceh menyebutkan dirinya dengan ULON TUWAN.

Jangan cari jalan keluar pada melayu mereka memang tidak punya, karena jangankan untuk memberi solusi pada pihak lain mereka sendiri tidak memilikinya. Ini dibuktikan oleh bahasa mereka sendiri, karena bila ditanya naik kemana? Mereka akan menjawab ke atas dan bila kita tanya turun kemana? mereka dengan cepat dapat menjawab ke bawah, selanjutnya bila ditanya masuk kemana? mereka juga dengan gampang menjawab ke dalam, tapi bila kita bertanya keluar kemana? ‘Iya,’ keluar jawab mereka, bukankah ini menunjukkan bahwa mereka tidak tahu jalan keluar. Bahasa menunjukkan bangsa, ini tidak ada tawar menawar lagi karena telah merupakan kesepakatan manusia dunia yang ada di atas permukaan bumi ini.

Di Aceh lah yang memiliki solusi dalam bentuk apapun, lihat saja Aceh selalu memenangkan perang dengan Eropa dan Asia lainnya. Kalaupun dalam pergolakan ataupun pemberontakan tidak mampu ditumpaskan begitu saja tetapi harus selalu diselesaikan dengan perundingan damai, artinya draw atau seri (tidak kalah). Karena apa ? di Aceh ada jalan keluarnya seperti bila kita telusuri pertanyaan yang diajukan kepada melayu diajukan kembali kepada orang Aceh misalnya ek u wateuh, tron u miyub, tamong u dalam teubit u luwa jelas nian tujuannya orang Aceh.

Begitulah suku bangsa Aceh ini yang banyak cara (model) dalam meyelesaikan perkara karena banyak pilihannya sedang orang Melayu hanya punya dua cara yaitu begini dan begitu, kalo begini tidak boleh dan begitu tidak boleh maka tidak ada cara lain selebihnya. Sedangkan di Aceh andai begini (Meuno) dan begitu (Meudeh) tidak boleh bagi melayu tetapi di Aceh masih bisa, coba cermati kalimat ini “dikah jeut kajak keudéh eunteuk, tapi watèë trôh keudéh dikah bèk meudéh meunoë,” ini menunjukkan bahwa dia boleh ikut serta, walaupun bersyarat. Kenapa ? karena di Aceh masih tersedia cara lain yaitu MEUNAN di sampaing meudéh dan meunoë.

Ayah Panton, Pegiat Budaya Aceh
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki