Tarmizi A Hamid: UU Perlidungan Anak Cukup Sampai Besitang

Tarmizi A Hamid (kanan, baju putih) dalam sebuah diskusi di Banda Aceh.
Banda Aceh – Undang-Undang Perlindungan Anak, cukup sampai Besitang, tidak perlu sampai ke Aceh, karena di wilayah ini telah ratusan tahun memiliki aturan yang lebih berguna untuk generasinya.


Demikian kata kolektor manuskrip Aceh, Tarmizi A Hamid, dalam sebuah diskusi, di Banda Aceh, 28 April 2013. Aceh, kata dia, punya cara sendiri dalam mendidik generasinya.

“Undang-undang perlindungan anak tidak cocok untuk Aceh karena di sini telah ratusan tahun ada aturan sendiri tentangnya. Diakui atau tidak, anak-anak Aceh di masa lalu lebih punya martabat dari pada yang sekarang. Dan saat itu tidak ada undang-undang perlindungan anak,” kata Tarmizi.

Keberagaman budaya di Indonesia, kata dia, lebih penting dari pada undang-undang yang baru diciptakan seperti itu. Menurutnya, kekhususan Aceh dalam bidang budaya memberikannya hak atas aturan sendiri dalam mendidik Anak.

“Efek undang-undang perlindungan akan sangat buruk, misalnya anak-anak akan berani melawan orang tua, dengan sendirinya orang tua akan kehilangan wibawa. Tidak mungkin membiarkan anak-anak tumbuh kesadaran sendiri, tapi harus dibimbing. Singa saja harus mendidik anaknya agar jadi singa, apalagi manusia,” kata Tarmizi.

Kata dia, selain UU Perlindungan Anak, masih banyak aturan lain yang tidak cocok dengan budaya Aceh. Aturan-aturan itu, kata kolektor manuskrip, tidak perlu sampai ke Serambi Mekkah, tapi cukup di perbatasan Aceh.

“Sudah waktunya Aceh mengurus diri sendiri dalam bidang hukum, kami punya banyak aturan yang jauh lebih manusiawi dan lengkap daripada yang ditawarkan itu,” kata Tarmizi.

Menurutnya, Islam telah mengatur tentang itu sesuai dengan tujuan pendidikan yang manusiawi. Aceh, kata dia, yang menganut syariat Islam tentu harus memilih aturan agama.

“Rasulullah bersabda, 'Perintahkan anakmu untuk shalat ketika umur tujuh tahun dan pukullah bila umurnya sepuluh tahun (bila tidak shalat -red) dan pisahkan tempat tidur mereka (antara laki-laki dan perempuan -red),” kata Tarmizi.tla
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki