Puisi-puisi Karya Pilo Poly

Pilo Poly membaca puisi
PUISI 1

Amat Rhang Manyang
sebelum matamu tumbuh bunga, engkau hanya serupa ladang hampa, kering tak dihirau hujan, gigil di ganyang angin nakal, hingga suatu petang, ibu memintal doa pada Tuhan, “Untuk anakku, tolong Tuhan beri jalan.”

dan tahta, membuat bunga dimatamu tak lagi semekar doa. di laut Krueng Raya, ibu membisu, tongkatnya lepas karena kau guncang. “Kau bukan ibuku, kau bukan ibuku.” katamu lancang.

dan doa kesekian ibu,
menjadikan engkau batu
dihempas lautan samudara:
kuingat sebagai pertanda

Puri Gading, 2013

***
PUISI 2

Hikayat Kupu-kupu
Saya hanya kupu-kupu yang tak punya tempat singgah. Tapi di sini saya serasa menemukan rumah. Menemukan kisah. Lewat angin yang telah lama dingin. Lewat hujan yang telah lama kering. Lewat udara yang pengap, atau pun isyarat yang telah lama lenyap. Lalu saya mulai percaya lagi, di dunia ini memang lebih banyak orang mengumpat dari pada pengingat.

Dan untuk malam ini, mau atau tidak, ijinkan saya mengeja tentang. Tentang dari arah mana saya terbang, atau sekedar memberitahu kalian beberapa kupu-kupu lain yang dipisahkan angin ketika kami ingin bertualang. Bertualang mencari Tuhan. Tuhan yang tak kami gapai tangan. Tapi serasa kami ingin segera sampai. Sampai di pucuk perjanjian.

Tapi, apakah kalian mengerti apa yang saya katakan? Karena semenjak tadi ketika saya melesap aroma dingin dan hujan yang kering, tak ada kalian mengiyakan atau memberi tanda untuk sebuah anggukan. Sebuah anggukan yang telah lama saya nanti. Seperti tidak ada anggukan dari ibu saya untuk bertualang. Ibu saya takut, takut saya tersesat di antara kupu-kupu tiruan. Yang menyerahkan dirinya pada bunga-bunga malam.

Lalu saya mulai percaya lagi, di dunia ini memang lebih banyak orang diam dari pada memberi arahan. Makanya saya lebih ingin dekat dengan Tuhan. Kembali pada ibu tak mungkin saya lakukan, karena saya lupa dari arah mana saya terbang.

Puri Gading, 2012

***
PUISI 3

Sepenggal Puisi untuk Renata
Ruang ini telah banyak menghadirkan tentangmu,
kutulis dan kueja kepada siapa yang mau
kadang aku melukisnya agar tak lupa,
tentang aroma Cassanova dari tubuhmu,
atau tangisan angin yang lengket dirambutmu.

aku tahu, Renata. Air matamu sudah terlalu dangkal,
seperti mandulnya situ  di negeri ini ,
sehingga ketika langit menangis,  orang-orang harus siap berenang,
membawa segala lukisan hidup mereka di atas air yang bergenang.

barangkali kau masih ingat saat aku berwujud rakit,
kita larungkan Ayah dan Bundamu untuk berobat,
tapi karena jarak yang terlalu gelap, Ayah dan Bundamu diselamatkan oleh takdir,
berkubur di bawah tangisan langit dan ribuan kubit banjir.

oh, Renata! Sudah terlalu banyak pengorbananmu,
tapi apa yang tertuai? Hanya segunung duka panjang.
dan aku pun tahu, sampai detik ini kau masih berjuang,
menyelamatkan Ayah dan Bunda lain,
untuk menyeberang harapan.

Puri Gading, 2012

Pilo Poly, nama pena dari Saifullah S. Mahasiswa Lp3i Pondok Gede, Jakarta. Beberapa karya puisinya telah di muat di harian Lokal dan Nasional. Puisi dan cerpennya juga tercantum dalam antologi bersama seperti Senyum Bidadari Kecil (2011), Surat Untuk Israel (2012),  Jatuh Cinta Pada Palestina (2012), Sang Jejak (2012), Presiden untuk Presidenku (2012), Ayat-ayat Rindu (2013), dan Cinta Dalam Koper (2013). Ia bergiat di CENDOL (Cerita Nulis Diskusi Online).


Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki