Ketika si Anak Gayo Gugur Demi Bendera Aceh

Pengibaran bendera saat upacara di wilayah Batee Iliek, Aceh, tahun 2001. Pengibar yang berada di tengah adalah anak dari suku Gayo bernama Yoga, ia gugur dalam sebuah pertempuran dengan pasukan RI pada tahun 2003. Foto: REUTERS | Rizky Abdul Manan
Oleh Thayeb Loh Angen

Baru-baru ini ada semacam pergeseran keharmonisan antara penduduk Aceh. Ada pengelompokan aneh dari orang-orang, antara pesisir dan pegunungan, antara utara dan selatan, antara seberang Geurute atau seberang Seulawah. Itu persis yang Snouck Hurgronje lakukan dulu.

Ini amat menyedihkan. Pemerintah Aceh harus segera mengatasi kerancuan itu agar keadaan menjadi baik kembali. Persatuan dan keharmonisan akan membuat kita bisa membangun peradaban dengan baik, termasuk memakmurkan ekonomi. Siapapun Anda, bertindaklah menyatukan kembali orang-orang di Aceh.

Di sini kita bicarakan tentang seorang kawan dari Gayo yang jadi anggota TNA dengan jabatan Polisi Militer. Mereka ikut memperjuangkan Aceh seperti yang lain. Adalah fakta tetaplah fakta bahwa sepanjang sejarah, orang pesisir dan pegunungan sama-sama ‘Aceh.’

Penting dipahami di sini, ‘Aceh’ yang kita maksudkan di sini adalah nama sebuah wilayah, bukan etnik. Jika bicara etnisentrik, saya undur dari permasalahan ini karena saya sendiri keturunan dari Wadi Hadramaut Yaman, Hindi, Farsia dan Turk. Turk sendiri punya beberapa ras termasuk Mongol.

Yang penting, sejak indatu kita hidup di tanah yang sama, di bawah panji bendera yang sama. Tujuan kita sama, mempertahankan Islam di tanah Aceh, baik pesisir maupun pegunungan. Dan, iman menyatukan kita.

Kita heran, sangat heran, dengan keadaan Aceh beberapa waktu terakhir. Sudah mulai dipecahkan dengan ‘Devide Et Impera.’ Apalagi pasca DPRA mensahkan Qanun Nomor 3 tahun 2013 tentang bendera Aceh. Ada sebagian kecil pihak di bagian tengah dan selatan barat Aceh yang menolaknya. Bahkan ada yang dengan nyata mengatasnamakan sukunya.

Pertanyaannya, siapa yang memberi kuasa kepada mereka untuk mengatakan itu atas sukunya? Tidak ada sama sekali, dan penebar kebencian itu pun cuma beberapa orang, yang hampir semuanya tidak mau tinggal di pegunungan. Jika orang Gayo mengatakan mereka menolak PA atau KPA, itu salah besar dan hanya pemutarbalikan fakta oleh orang-orang kurang pengetahuan.

“O, itu opinimu saja, Thayeb,” mungkin ada yang berkata begitu. Tidak, ini fakta. Jika ada yang ingin membantahnya, orang itu harus memprotes Tuhan, mengapa tidak membuat peristiwa dan fakta seperti harapan mereka. Sejarah yang mereka bantah terlalu kukuh. Inilah faktanya.

Semasa di medan gerilya, saya bertemu dengan anggota GAM dari Wilayah Linge. Mungkin ada yang berkata, “Mereka pasti orang pesisir yang berbahasa Aceh, pindah ke bagian tengah Aceh karena alasan keamanan?”

Jika ada yang menduga begitu, ia salah besar. Mereka adalah keturunan Gayo yang lahir dan besar di pegunungan Takengon dan sekitarnya. Mereka bergerak ke pegunungan selatan Aceh Utara karena beberapa urusan lalu kembali ke wilayah mereka.

Mungkin ada yang mengatakan, “O, itu cuma satu atau dua orang saja.” Salah lagi. Mereka berjumlah belasan orang sebagai perwakilan rekan sewilayahnya. Bahasa apa mereka pakai untuk berkomunikasi dengan anggota GAM dari Wilayah Pase? Bahasa Aceh? Bukan, tapi bahasa Melayu Pasai yang sekarang dikenal dengan nama bahasa Indonesia.

Sesungguhnya orang daratan tinggi itu, sama seperti orang Pase, Tamiang, Pidie, Daya, Singkel, Simeulue, dan lain-lain memperjuangkan Aceh dalam satu kenangan dan harapan. Atau, boleh juga jika ada yang mengatakan bahwa mereka ikut-ikutan saja tanpa berperang seperti orang lain.
Itu lebih salah.

Marzuki alias Yoga (kanan dengan senjata M 16), anggota Polisi Militer GAM asal Linge dalam sebuah acara 'kenegaraan' di wilayah Batee Iliek, Aceh, tahun 2001. Yoga gugur dalam sebuah pertempuran dengan pasukan RI pada tahun 2003. Foto:Willian Nesson
“Kau jangan bohong, Thayeb, bisa-bisa saja kau bilang orang Gayo separatis seperti orang lain,” mungkin ada yang bereaksi seperti itu. Baiklah. Saya punya buktinya, dan ini mungkin jarang dikatakan orang.  Separatis itu penjahat. Dan, saudara-saudara kita yang berjuang itu adalah orang-orang tulus demi kembalinya martabat kita.

Rekan-rekan anggota GAM yang saya sebutkan dari Linge tadi banyak. Namun, saya mengisahkan seorang saja karena dengan dia saya berkomunikasi dalam beberapa waktu, sebelum akhirnya kami berpisah karena status Aceh saat itu Darurat Militer.

Saya tidak tahu nama asli kawan tadi. Tapi ia disebut Yoga. Begitulah panggilannya. Ia berperawakan tinggi. Tentu saja, kalau tidak mana mungkin bisa lulus jadi Polisi Militer atau Bentara Milite. Ia pernah dengan jabatan itu dalam satu periode. Saya lihat kini, fotonya banyak di internet. Yakni foto pengibaran bendera Aceh oleh tiga orang berseragam militer dengan baret biru.

Dalam foto itu, si Yoga yang di tengah. Di kiri dan kanannya adalah senior dia dalam grup tersebut. Keduanya masih hidup. Sementara Yoga sendiri telah gugur dalam sebuah pertempuran yang amat sangat mengerikan. Itu pertempuran, bukan pembantaian. Mereka sama-sama tentara. Tidak ada yang salah.

Risiko tentara dalam sebuah pertempuran, jika tidak membunuh, ya dibunuh. Menjadi jagoan dan menang atau menjadi pahlawan dan tewas, hanyalah perkara nasib. Tidak ada satupun teori yang berlaku di medan tempur. Keahlian hanya beberapa persen, selebihnya hanya nasib.

Peristiwa mengerikan itu terjadi beberapa bulan setelah dinyatakan Aceh berstatus Darurat Militer oleh Presiden Megawati Sukarno Putri. Dalam sebuah pengepungan di pegunungan bagian selatan Aceh Utara, Yoga dan seorang rekannya terperangkap dalam sebuah jurang.

Saat itu mereka terdesak, berusaha tidak menyalakkan senjata agar bisa selamat dari kepungan lawan yang sama sekali bukan tandingan. Kalah jumlah, apalagi senjata. Lawan ada ratusan, mereka hanya berdua.
Namun Persembunyian mereka diketahui. Apa boleh buat, pertempuran tidak seimbang pun berlangsung. Maka Yoga dan rekannya melepaskan satu-persatu peluru AK-56 buatan negeri komunis yang masih mereka miliki.

Tidak sampai satu jam. Pertempuaran yang sangat tidak seimbang itu berakhir. Tubuh Yoga dan temannya hancur ditembusi peluru-peluru dari lawan. Senjata mereka diambil sebagai barang bukti. Saya tidak tahu jenazah keduanya disemayamkan di mana.

Sebagaimana banyak makam tentara GAM yang syahid jarang yang mengunjungi, makam Yoga yang saya tidak tahu di mana pun mungkin jarang ada yang kunjungi.

Begitulah fakta dan peristiwa yang saya tahu tentang seorang anggota militer GAM yang merupakan anak Gayo dan syahid pada tahun 2003 dalam sebuah pertempuran dengan pasukan elit RI. Perlu diingat, tulisan ini hanya untuk memenuhi keinginan kawan, tidak ada maksud apapun. Agar orang Aceh, termasuk dari suku Gayo tahu bahwa Aceh ini milik kita bersama, dan harus diperjuangkan bersama. Terserah perjuangan itu bentuknya seperti apa.

Yang penting, kita harus memperjuangkan agar peradaban lebih bermutu baik.
Saya tidak mau berspekulasi tentang sebuah perang. Seburuk apapun sebuah fakta, tetap saya katakan sebagaimana adanya. Saya sangat anti terhadap permitosan untuk mengangkat daerah atau suku tertentu karena Aceh adalah tanah warisan indatu yang harus dijaga bersama oleh setiap penduduknya. Terserah suku apapun ia.

Sekali lagi, saya nyatakan, kematian Yoga bukanlah pembantaian, ia meninggal dengan cara ksatria sebagai seorang tentara. Lawan perangnya hari itu pun tentara, yang kemungkinan juga ada beberapa meninggal dalam perang tersebut. Bersatulah wahai putera-puteri demi membangun negeri warisan indatu.


Itu hanyalah secuil contoh kecil bahwa orang di wilayah Linge dan lainnya memperjuangkan Aceh, Yoga yang kita bicarakan tadi sama seperti Ilyas Leube, memperjuangkan martabat Aceh. Jagalah perdamaian dan kerukunan dan bingkai NKRI yang kita cintai ini. Cintai Aceh.

Oleh Thayeb Loh Angen
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki