Kenangan di Dayah Gampong dan Hayalan Tentang Dayah Masa Kesultanan

Oleh Thayeb Loh Angen

Pada usia Madrasah Ibtidaiyah (MI), sekitar tahun 1987, setiap sore saya harus berjalan kaki sejauh dua kilo meter setengah untuk sampai di Dayah Nurul Muhtadie (sekarang Dayah Nuruh Muhtadie Al Aziziyah) di komplek mesjid Attaqwa Paloh, Muara Satu, Lhokseumawe. Tepat di sisi Simpang Empat Paloh.

Karena saya menginap malam, maka harus mengikuti jadwal belajar setelah subuh. Di dayah itu, Abang saya Muhammad Amin selalu membimbing dengan tabah. Ketika pagi tiba, saya pulang ke Paloh Dayah, berjalan kaki. Tidak ada kenderaan. Juga tidak akan ada yang membonceng saya karena di jalan saya temui orang-orang dari arah berlawanan. Mereka berangkat dari Paloh Dayah ke arah utara untuk kerja di kompleks perumahan atau kilang LNG PT Arun.

Kala itu, dayah tersebut banyak murid. Di waktu malam hari dari setelah magrib sampai setelah ‘isya, para pemuda sekemukiman mengaji dalam beberapa kelas. Kelas terbawah namanya Tajziyah, mengajarkan kitab jawi seperti kitab Masailal Muhtadi Li Ikhwanil Mubtadie, kitab Majmu,’ Hidayatussalikin, dan sebagainya. Saya masuk kelas itu pertama kali.

Sebagai murid terkecil dan cepat memahami pelajaran, tentu guru menyayangi saya. Kawan-kawan sekelas berusia sekolah menengah, tapi saya mendapatkan peringkat ketiga dan dua dari dua puluhan murid di kelas itu.

Ini agak aneh, saya lebih sering mendapat peringkat ke dua, walau kadang nilai sama banyak dengan yang peringkat pertama. Saat mengikuti lomba novel tahun 2006, saya juga peringkat dua. Tapi tidak apa, dalam rumus terakhir yang saya dapat, disebutkan, Anda harus mendapat peringkat pertama atau kedua. Peringkat ketiga dan di bawahnya di luar hitungan.

Baik, kembali ke dayah itu. Setelah kelas Tajziyah, baru masuk kelas satu. Di kelas ini mulai diajarkan kitab-kitab berbahasa Arab yang ada barisnya. Kitab Matan Taqrib (figah), Jarumiyah (saraf), ‘awamel (nahwu), dan kitab alat (pendukung) lainnya. Menurut seorang rekan yang pernah ke Wadi, Hadramaut, Yaman. Di salah satu negeri tertua dunia itu, para murid diwajibkan menghafal kitab Matan Taqrib.

Kelas dua mulai diajarkan kitab berbahasa Arab tanpa baris. Fiqahnya kitab bajuri dua jilid, nahwunya matan mimah, dan kitab alat lainnya. Kelas tiga figahnya kitab I’anatuththalibin dua jilid. Kitab ini empat jilid, dua jilid lagi diajarkan di kelas empat. Secara rutin saya belajar mengikuti sistem itu.

Di siang hari, para gadis dari Paloh Dayah, Paloh Meuria, dan Blang Kumbang (sekarang Padang Sakti), Paloh Punti, Cot Trieng, Blang Pulo, Batuphat, belajar ke sana. Maka wajar saja generasi para gadis seusia itu di sekitanya memahami Islam dengan baik dan alim. Itu generasi di atas saya. Acara perayaan hari besar Islam dilakukan semarak. Dayah Nurul Muhtadie menjadi pusat pengembangan Islam di wilayah itu.

Kakak saya Nurlaila, tidak ikut kelas siang itu, ia selalu pergi bersama saya ke Dayah Nurul Muhtadie khusus putri, di rumah pendiri dayah tersebut (almarhum) Tgk H Muhammad Thaib bin Mahmud. Ia pergi sore dan pulang pagi seperti saya.

Beberapa tahun setelahnya, Bapak saya (Almarhum) Tgk Sulaiman bin Dadeh membeli sebuah sepeda untuk saya agar bisa cepat pergi dan pulang ke tempat pengajian. Saat sudah ada sepeda, saya sering pulang lewat jalan di tepi sawah tanpa melewati bukit Cot Pinto Karo. Jalan persawahan itu disebut ‘Jalan Yup Kupula.’ Itu melewati pemakaman umum gampong, yang sesekali ada mitos munculnya burong alias kuntilanak.

Saya sering pulang tengah malam, bahkan saat hujan rintik-rintik di sana. Tidak pernah berjumpa dengan burong. Tapi saya percaya itu ada, karena orang-orang yang bisa dipercaya mengatakan pernah menjumpainya. Saat itu saya tidak takut. Tapi, sekarang tampaknya saya tidak lagi seberani itu. Mitos telah mempengaruhi saya.

Dan kebudayaan orang Asia memang percaya pada adanya burong, hantu, dan semacamnya. Walau saya tidak seberani itu, tapi ketakutan tidak akan menghalangi saya, sebab dalam rimba gulita sekalipun saya berani berjalan sendirian. Rasa takut itu wajar, tapi kita memang harus melakukan yang seharusnya dilakukan, pikir saya.

Begitulah, tahun-tahun berlalu, sesekali saya ikut kelas yang diajarkan kitab Mahalli, sebuah kitab fiqah tertinggi yang menjadi pelajaran wajib bagi murid dayah di Aceh. Saya bawa kitab juga, walau hanya hanya menyimak penjelasannya, tidak peduli lagi pada kitab alat saat itu. Kitab fiqah selain Mahalli seperti Tufah, sudah bisa dipelajari sendiri oleh murid tanpa perlu bimbingan guru jika mereka telah bisa membaca dan memahami Mahalli.

Waktu terus berjalan, saya pun tahu, hanya sebagian kecil orang Aceh sekarang yang pernah masuk ke dalam sistem pendidikan ala salafiayah. Yang saya temukan di sana, kalau cuma kitab-kitab itu yang diajarkan dalam dayah-dayah di masa silam, maka Aceh tidak pernah gemilang di masa lalu.

Maka, bagaimana pendidikan masa silam dan kapan mata pelajaran di dayah-dayah Aceh berubah? Mengapa kitab Syekh Hamzah Fansuri, Syekh Abdurrauf, Tgk Chik Kuta Karang tidak diajarkan di dayah-dayah? Sehingga beberapa guru dayah menganggap ulama Aceh tidak mengarang kitab, karena ia tidak tahu sejarah.

Adalah telah hampir seribu tahun, sistem pendidikan di Aceh memakai sistem akademik lengkap seperti di Nidhammiyah Baghdad saat Kekhalifahan Bani Umayah. Kita bisa baca sejarah, saat itu, Amerika Serikat belum ada, dan Eropa belum mengenal sistem universitas. Adalah Baghdad yang memulainya.

Di Aceh, sistem itu diperkuat oleh usulan-usulan Syekh Hamzah Fansuri kepada para sultan. Saat itulah Aceh kuat di dalam bidang intelektual, ekonomi dan ketahanan nasional sehingga bisa menghalau Portugis di perairan Malaka.

Entah bagaimana ada yang memfitnah ulama terbesar di Asia Tenggara tersebut, dan fitnah itu seharusnya hilang sekarang. Hanya Allah Maha Tahu. Di Malaysia, Brunei, dan negeri lainnya Syekh Hamzah Fansuri sangat dihormati, karya-karyanya menjadi mata pelajaran wajib.

Dalam bidang ketentaraan dan senjata, Aceh didukung oleh Turki Usmani. Saat itu Sultan II Selim Khalifah Turki Usmani mengirim ahli perang dan senjata serta mendirikan dayah ketahanan nasional dan politik, sebuah akademi militer terbesar di Asia Tenggara kala itu bernama Ma’had Baitul Maqdis.’ Saat itu mulailah pengaruh Turki menguat dalam peradaban di Aceh sampai sekarang.

Sistem dayah di Aceh berubah saat bangsa kurang beradab bernama Belanda menyerang Kesultanan Aceh Darussalam. Setelahnyalah, mata pelajaran ekonomi, politik, kepemimpinan, pertanian, hubungan diplomatik, dilarang pelajari di dayah-dayah. Hanya figah, tasauf, dan kitab alatnya yang diizinkan Belanda. Begitulah.

Sampai sekarang, saya menghormati orang-orang dari dayah yang tulus belajar dan mengamalkan ilmunya, yang berani berkata dan bersikap benar terhadap penguasa, yang terus memimpin umat menuju jalan kebenaran. Kembalikan sistem dayah Aceh sebagaimana masa Kesultanan Aceh Darussalam.

Thayeb Loh Angen, Aktivis kebudayaan di Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT), bekas anggota Polisi Militer GAM.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki