Kebudayaan Tamiang yang Agung di Timur Aceh


Tari Zapin. Foto: Baksagada.
Wawancara dengan Zulfadli Kawom, pemerhati adat Aceh, Ketua Balai Sastra Samudra Pasai, Selasa 30 April di Banda Aceh. 

Bagaimana pandangan Anda tentang budaya Tamiang?

Sebetulnya budaya Tamiang sama dengan budaya Melayu umumnya, khusunya budaya Melayu Deli dan Serdang serta Kepulauan Riau.

Apakah antara Melayu Tamiang dengan Melayu di Riau dan kepulauan serta Semenjanung Malaysia itu serumpun?

Dalam sejarahnya, mereka (Tamiang) adalah sebuah kerajaan, kerajaan bendahara. Tamiang adalah satu-satunya kerajaan Melayu yang tunduk (setia) ke Aceh Darussalam, ketika saat itu Deli dan Siak berkhianat pada Sultan Aceh dan bergabung dengan Belanda. Jadi secara sejarah, politik dan budaya mereka diakui oleh Kesultanan Aceh dan seni budaya mereka sudah diakui oleh Aceh.

Zulfadli Kawom dengan sepeda unta warisan.
Saudara mereka masih banyak di Deli dan mereka masih berhubungan secara keluarga. Misalnya tari Zapin, di Kepulauan Riau ada, di Deli ada zapin Melayu, di Tamiang juga ada Zapin Melayu yang sudah menjadi bahagian dari khasanah budaya Aceh dan ditampilakan dalam tiap pertunjukan PKA (Pekan Kebudayaan Aceh) di Banda Aceh.

Apa posisi Tamiang dalam kemajemukan budaya di Aceh?

 Menurut saya, sangat bagus, mereka telah mewarnai sejarah dan politik Aceh, jadi total budaya juga ikut sendiri dan menjadi bahagian budaya Aceh. Mereka terbukti setia pada Aceh, itu sudah terbukti sepanjang sejarah. Ketika Deli dan Siak berkhianat pada Aceh, mereka tetap menyatakan setia dan bergabung dengan Kesultanan Aceh.

Apa hubungan bahasa Tamiang dengan Melayu Pasai?

Kalau kita lihat hampir sepenuhnya sama, karena sebelumnya orang-orang Pasai juga punya andil dalam pendirin Kesultanan Deli. Begitu juga perkembangan Bahasa ke Tanjung Pinang (sekarang Kepulauan Riau) dulu, banyak juga makam-makam pejuang Aceh tersebar di Kepulauan Riau, mungkin ini dalam masa melawan Portugis.

Kasus orang Tamiang, mirip Korea Utara dan Selatan, sebelumnya mereka bersatu, namun secara kekeluargaan mereka masih kuat, walau dalam poltik berbeda pandangan. Secara geografis dan sistem roda pemerintahan, memang Kabupaten Aceh Tamiang adalah Aceh, tetapi jika dipandang atau dikaji dari sudut pandang kaca mata budaya, ternyata Aceh Tamiang ‘bukan Aceh,’ sebab seni budaya Tamiang sangat berbeda dengan seni budaya Aceh.

Sedangkan persamaan antara seni budaya Aceh dengan seni budaya Tamiang yaitu sama-sama seni budaya yang sangat kental dengan nilai-nilai religius atau bernafaskan Islam. Seni budaya Tamiang memang bukan seni budaya Aceh, tetapi seni budaya Tamiang mirip dengan seni budaya Melayu Deli dan Langkat, bahkan mirip dengan seni budaya Melayu Malaysia. Seni budaya Tamiang bukan seni budaya Aceh, namun ada juga kesamaannya yaitu sama-sama berkoridor atau bernafaskan Islam.

Kalau dilihat dari budaya pakaian Tamiang tentu saja tidak sama dengan pakaian budaya Aceh. Makanya seni tari Tamiang pakaiannya tidak sama dengan pakaian Aceh. Pakaian yang dipakai seni tari Tamiang labih bernuansa Melayu. Begitu juga pakaian pada upacara adat seni budaya Tamiang tidak sama dengan pakaian yang dipakai pada upacara adat seni budaya Aceh.

Pakaian budaya Tamiang lebih kental didominasi dengan warna kuning seperti seni budaya pakaian Melayu. Begitu juga pelaminan pesta perkawinan yang bernuansa adat budaya Tamiang, didominasi dengan warna kuning tua.

Selain dari aspek seni budaya pakaian, dari aspek seni tari Tamiang juga berbeda dengan warna gerak tari Aceh. Tari Tamiang identik dengan Tari Melayu, tetapi tidak sama. Bahkan dalam komunitas Tari Melayu, ternyata seni tari Tamiang juga memiliki perbedaan. Misalnya tari Zapin Tamiang tentu saja beda dengan tari Zapin Melayu Malaysia, Melayu Sumatera Utara, Melayu Riau dan ”Melayu” lainnya.

Begitu juga tari Payung Tamiang, tidak sama dengan tari Melayu Malaysia dan ”Melayu” lainnya. Hanya dalam konteks ini karena halaman yang tersedia sangat terbatas, tentu saja tidak cukup untuk membahas keseluruhan perbedaan dan persamaan tersebut.

Selain itu, gerak tari persembahan Aceh dan tari persembahan Tamiang juga tidak sama. Kalau Tari Persembahan Aceh (Ranup Lam Puan) dan Tari Persembahan Tamiang jika menyambut tamu yang berkunjung ke daerah Tamiang dan menyambut pengantin dipersembahkan dengan penampilan tari persembahan yaitu ”Tari Tepak.” Ada juga yang menyembutnya dengan nama ”Tari Sekapur Sirih.”tla
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki