Seumubeuet di Paloh Dayah

Fitrizal alias Adek. Foto: Lodins
Oleh Fitrizal

Dalam masa yang bergejolak ini, kita perhatikan sejenak tentang suatu peristiwa yang mungkin sedang dirasakan oleh kalangan penerus Aceh. Dari masa silam sudah banyak pengertian tersendiri tentang ilmu dan pengembangan sejarah seumubeuet (proses belajar-mengajar) yang berfaedah dan memiliki hal-hal positif terutama para guru seumubeut.

Sejarah seuemeubeut merupakan kebudayaan turun –temurun dari nenek moyang orang muslim khususnya, khususnya di Aceh. Sampai kini sejarah seumeubeut masih berlanjut dan wajib dipertahankan, apapun yang akan terjadi ke depan. 

Mengenang sejarah seumeubeut, kita ambil contoh di Paloh Dayah, Lhokseumawe, Aceh. Puluhan tahun silam, para guru  seumeubeut lebih fokus kepada hal yang lebih wajib seperti Al-quran dan kitap kuning yang diiringi dengan hadits-hadits.
“Sejarah seumeubeut di Paloh Dayah, yang masih diingat, sejak masa Teungku Imum Wahab dan H. Yusuf (keduanya meninggal dunia belasan tahun lalu –red), sangat rapi dan santun karena kedisiplinan antara guru dan murid selalu dijaga. Di sisi fasilitas seumeubeut yang serba kekurangan, dulu  seumeubeut masih diterangi oleh lampu apa adanya seperti panyet kleng, panyet seulungkee dan masih banyak penerang ruangan lainnya dan tempat seumeubeut masih di rumah-rumah. Beberapa tahun kemudian  mulai pindah ke balai-balai,” kataTgk. Muhammad Amin Sulaiman, salah seorang guru seumubeuet dan penggerak kelangsungan pembangunan Masjid Assa’adah Tgk. Chik Di Paloh. Ia juga Bendahara gampong Paloh Dayah.
Kata dia, seumeubeut (mengajar pengajian) masa dulu sangat digemari oleh golongan anak-anak , remaja, dan dewasa bahkan yang lanjut usia karena proses seumeubeut sangat mendasar dan mudah untuk dimengerti. Bila malam harinya melakukan pengajian, esoknya guru dan murid sama-sama menuju ke sawah atau ladang yang dimiliki oleh guru pengajian (teungku atau guree).

Geuchik Paloh Dayah Tgk M. Ali Ismail, mengaakan, seujarah seumeubeut masa Imum Wahab  dan H. Yusuf sangat disiplin dalam hal pengajian. Pada masa itu, kata geuchik, pengajian masih di dalam rumah. Satu ruangan satu luas yang terdiri dari teungku dan murid. Teungku seumeubeuet berada di tengah-tengah ruangan. Dan ilmu dasar yang diajarkan adalah Al-quran dan juz Amma memakan waktu lama, tapi tamatan dari Juz Amma bisa menjadi keramat.

“Keramat bukanlah dinilai dari berapa tahun lama menerima didikan tetapi tergantung dari berapa ketekunan dan keikhlasan yang dikembangkan. Keramat bukanlah hal yang mudah didapat begitu saja tanpa keikhlasan dan ketekunan yang mendalam, namun itu butuh proses waktu lama, “ kata Tgk. M. Ali.

Kata Tgk M. Ali,  semua yang menekuni ajaran agama masa itu akan mendapatkan keistimewaan yang tiada terhinnga karena masa itu belum mengenal pengaruh-pengaruh barat seperti masa kini. Geuchik Ali –panggilan akabnya- mengharapkan ke depan kalangan pemuda khususnya harus lebih kreatif dalam mengikuti pegajian agama sebagaimana kegigihan para guru masa silam.

“Gure seumubeuet dulu tidak mengenal lelah dan putus asa dalam membela dan menciptakan kader pemuda Paloh Dayah yang lebih mengerti  agama. Ke depan masih banyak hal yang harus dilakukan demi membela agama dari hal-hal yang dianggap melanggar, ini demi membela perjuangan indatu,” kata Tgk. M. Ali Ismail.

Fitrizal, Guru Pengajian di Kota Budaya Paloh Dayah
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki