Rapai dan Tambo Paloh Dayah

Kolam Teungku Chik Di Paloh, Kota Budaya Paloh Dayah. Dalam kolam ini keluar rapai jika berhasil berhubungan dengan alam ghaib.
Rapai, Budaya yang Kembali Mengapung di Permukaan Peradaban Aceh

Oleh Lodins

Kota Budaya Paloh Dayah, New Istanbul - Di bagian belahan benua manasaja di dunia mempunyai kebanggaan tersendiri. Di Aceh, salah satu warisan keramatnya adalah Rapai, walaupun telah berabad berlalu keagungannya masih tetap selalu terjaga.
Di sebuah gampong yang berjarak lebih kurang 4 km dari pesisir utara Lhokseumawe, Paloh Dayah, salah seorang ureung meurapai (penabuh Rapai -red) Hasbi yang bercerita tentang warisan budaya ini.

Pada Tahun 2007, gema keangkuhan Rapai kembali terdengar membahana ruang langit malam di Paloh Dayah setelah sekian lama Aceh direngkuh konflik bersenjata mengusik ketenangan para pemuja kolonial yang sangat tidak menyukai embun budaya ini membasuh kembali kolopak daun negeri.

Acara ini terlaksana atas kerja keras sanggar Budaya ‘Seuneumah Nanggroe,’ sebuah sanggar seni budaya didirikan dengan basis ‘Seni, Budaya, dan syariah yang dikemas satu agar citarasa islaminya tidak lentur. Momen akbar ini sempat terabadikan oleh alat rekam seorang perempuan jurnalis asal Norwegia. Sang journalis ini sempat tidak berkedip ketika menyaksikan atraksi debus yang disertai tabuhan Rapai dengan irama yang heroik oleh para penabuh.

Ketika ditanya soal ini, ia menjawab “Aneh, ya! Orang menusuk-nusuk diri dengan senjata tajam sungguhan tetapi tidak mati,’ permainan orang Aceh  sangat mengerikan, menghancurkan diri sendiri dijadikan sebagai alat permainan.’ Menurutnya, sangatlah wajar jika di masa silam,  Portugis dan Nedherland selalu kalah ketika menyerang Aceh.

Tentang irama Rapai, M Amin seorang Syeh Rapai di Paloh Dayah mengatakan bahwa permainan Rapai ada tujuh irama, masing-masing punya seni tersendiri. Artinya, Rapai bukan sekedar alam musik, tapi punya irama musik khas sejak masa silam. Rapai, bukan kata benda saja, tapi juga kata kerja.

Mengenai bagaimana cara membuat sebuah Rapai, Dadeh bin Abdullah seorang yang ahli dalam membuat Rapai yang punya ruh gaib sebagaimana yang terdapat dalam dokumen penulis. Pada tahun 1893 ia memasuki jauh kepedalaman (Rimba) Lhokseumawe untuk mencari ukheu bak tualang.

Sebagaimana dinukilkan dalam Hikayat Teungku Malem, ketika Teungku Malem berangkat ke rumah Putroe Bungsu yang sedang mengadakan pesta, Teungku Malem datang dengan membawa Rapai sambil bersyair:

 “Baloh bak tualang kulet jih himbe,
bek kabie male ke jak bak keurija,
Nyoe han kamuesu lage ban dile,
Kupeih bak batei beukah dua.”

Dengan selembar kulit kambing yang telah dikeringkan di rumahnya, Teungku Dadeh mengambil sidak (rotan pengencang kulit Rapai yang dipasang di bagian dalam ketika ingin ditabuh -red) dan dengan ketelitiannya yang luar biasa itu ia menjadikan baloh dari bak tualang, kulit kambing, boh grik-grik (semacam tambore tapi bentuknya selebar telapak tangan, dimasukkan di bagian baloh Rapai) dan sejumlah rotan maka jadilah sebuah Rapai yang ajaib atau Rapai Ulee.

Kala itu, jika setiap diadakannya pesta pertaruhan Rapai atau Rapai uroh-uroh, peserta membawa Rapai buatan Teungku Dadeh, maka group Rapai Paloh Dayah pulang sebagai juara. Selalu begitu.
Rapai uroh-uroh biasanya dilaksanakan dengan mempertandingkan dua grup dari gampong berlainan. Siapa yang suara Rapainya dapat menindih suara Rapai grup lain, maka keluar sebagai pemenang.  Jika Syehnya lebih pengalaman, ketika suara Rapai grupnya ditindih suara Rapai grup lain, ia bisa keluar dengan cara menggantikan irama dengan irama yang dapat menindih irama grup lain tadi. Begitulah selama Rapai Uroh-Uroh berlangsung.

Selain keahlian Syeh dan anggota grup Rapai, kekuatan Rapai sendiri menjadi syarat kemenangan. Rapai Ulee adalah andalan sebuah grup Rapai. Keahlian ureueng tob daboh (pedebus -red) pun jadi kategori untuk menang. Gampong pengundang menyediakan tempat acara, makanan dan ongkos kenderaan grup yang mereka undang. Selain itu, panitia juga wajib menyediakan sidak dan menggantikan kulit Rapai yang rusak selama pertandingan.

Selain membuat Rapai, Teungku Dadeh juga membuat Reumoh Aceh. Ia juga sempat membuat satu tambo (beduk) besar  dari uram bak iboh dan kulit sapi untuk dihadiahkan ke gampong yang dipakai sebagai memberi kabar (untuk menginformasikan sesuatu kala itu. Jika mengumumkan berita kematian maka jumlah ketukan beduknya beda dengan ketukan untuk pengumuman yang lain).

Gema pekikan tambo ini seakan memekakkan telinga para masyarakat di lima gampong sekeliling Paloh Dayah setiap tambo itu ditabuh. Sehingga lahir sebuah pameo su keuh lage su Tambo Dayah (bicaramu seperti suara Tambo Dayah, beraung besar) untuk orang-orang yang suka membual. Sampai beberapa tahun lalu, pameo ini masih berkembang di seputar Paloh Dayah. Tambo itu kemudian sedikit demi sedikit melusuh tanpa perawatan yang memenuhi kini beduk tersebut hanya jadi kenangan.

Perdebatan yang tidak beralasan tentang Rapai kini sering terdengar ada yang mengklaim bahwa melestarikan kembali budaya Rapai adalah bertentangan dengan hukum syara.’ Ini mungkin karena langit kita telah berbeda, tetesan hujan pun telah berubah menjadi jarum yang menusuk, dan air zamzam berubah berlumpur.

Dalam fakta sejarah, ‘Nedherland tak bisa mengengalahkan bangsa Aceh dengan berbagai senjata fisik kecuali harus bisa menjelma jadi seorang ‘ulama (Snouck H). Masyarakat Aceh akan melakukan apa saja asal orang yang menyuruhnya melilitkan ‘kain ridak di leher, berjubah, bersurban mengucapkan beberapa penggal ayat dan hadits.

Dengan cara ini Belanda telah mampu untuk tersenyum hingga hari ini. Jika cermin dari langit memantul, membias lagi di wajah peradaban maka kita juga bisa untuk menimbang dengan agama, budaya, sejarah dan dengan pegetahuan yang cukup.

 Teungku Abdussalam (Teungku Chik Di Paloh) berdasarkan penelitian memiliki rapai yang sering dipakai di waktu-waktu senggang di rumahnya. Sambil duduk seperti tasyahud menghadap kiblat menabuh rapai dengan aturannya yang tersendiri yang diselingi dengan menyebut-nyebut kebesaran Illahi. Teungku Teungku Chik Di Paloh merupakan seorang tokoh relegi yang bermukim di Paloh Dayah berberketurunan Turki-Yamani. Di Turki sendiri tarikat Naqshabandi juga memiliki tarian khas yang diiringi dengan irama dari sejumlah alat musik tradisi.

Teungku Chik Di Paloh, menurut pendapat kebanyakan masyarakat di Paloh Dayah, beliau masih hidup. ‘Jiwa yang telah menyatu dengan Sang Khaliq adalah abadi namun tak berwujud. Semoga beliau selalu mendapat kasih sayang Illahi. Amin.

Lodins, seniman Kota Budaya Paloh Dayah
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki