Cerpen Ruhoi

Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae). Foto: Antara | Puspa Perwitasari
Karya Mahdi Idris

    Kakekku meninggal setahun yang lalu dalam usia seratus tahun. Dialah yang paling tua di antara saudara-saudaranya. Bahkan orang-orang yang sebayanya telah lama mangkat. Menurut tutur ibuku, mereka meninggal rata-rata dua puluh tahun yang lalu. Bukanlah usia lama yang membuat orang kagum, tersentuh hati padanya. Namun peristiwa kematian kakeklah yang sempat orang terpana, geleng-geleng kepala. Betapa tidak, pada malam ia menutup mata, suara auman harimau terdengar seluruh pelosok kampung. Hingga kampungku yang gaduh, sorak-sorai orang-orang di kedai kopi yang sedang menyaksikan acara sepak bola piala dunia pada tahun yang lalu itu, bubar seketika. Mereka segera meninggalkan kedai itu. Hanya beberapa orang yang jauh rumahnya dari kedai itu yang masih menunggu pagi, baru mereka pulang ke rumah masing-masing.

    Keesokan pagi, telapak kaki harimau itu membekas pada tanah yang becek. Aku merinding membayangkannya, telapak itu sebesar telapak kaki seekor lembu jantan berusia dua tahun. Karena hal itu, prosesi pemakaman jenazah kakek dipercepat. Tidak sampai matahari setinggi galah, penguburannya usai.
    Auman harimau itu terdengar sampai hari seuneujoh kakek. Tak ada yang berani datang ke kuburannya di antara keluargaku pada hari-hari kenduri kematian kakek, yang sebelumnya direncanakan Beut Meuruwang. Hanya samadiah  biasa yang dibacakan para pelayat dari kampung dan kerabat yang datang ke rumahnya.
    Pada hari kesepuluh, kuberanikan diri menziarahi kuburannya. Saat itulah aku terkejut melihat kuburan kakek penuh cakaran harimau di atasnya. Batu nisan yang ditanam pada sisi kepala dan kaki juga hilang. Pohon jarak pun tak ada lagi. Hanya gundukan tanah berwarna kekuning-kuningan saja yang menandakan bahwa itu kuburan.

    Sekembalinya aku dari kuburan kakek yang tak jauh, hanya seratus meter dari rumahnya, aku langsung mengkhabarkan hal itu pada orang tuaku. Mereka sama terkejutnya sepertiku. Ibuku menangis. Katanya ia malu pada orang-orang kampung atas kejadian itu. Ibu menambahkan, arwah pasti tak tenang di alamnya. Itu bertanda tak baik. Berarti kakek ada pengaruh ilmu hitam yang dimiliki semasa hidupnya. Namun orang kampungku tak ada yang berkata demikian. Entahkah karena mereka takut datang harimau itu, atau pun mereka tak berprasangka lain terhadap kakek.

    Kejadian aneh itu telah berlalu tanpa yang mengusiknya sampai kini. Hanya pikiranku saja yang bergayut, mengurai peristiwa tak masuk akal itu pada hari kenduri ruhoi kakek yang pertama. Aku ingin melihat peristiwa apalagi yang terjadi pada saat ini. Apakah semua itu terulang kembali seperti kala itu?
    Di tengah kegamanganku, seorang lelaki tua datang ke rumah kami. Lelaki itu berpakaian serba hitam. Kepalanya diikat dengan kain hitam selebar telapak tangan. Ada bungkusan kecil di tangannya yang dibalut dengan kain hitam pula. Semua tingkahnya kusambut curiga, penuh tanya tentang sosok yang berdiri di depanku dengan tatapan semu, hambar lelakunya seolah punya maksud bersahaja dengan air mukanya itu.

    Tanpa kuminta, lalu ia memperkenalkan diri sembari menjabat tanganku sebelum menyerahkan benda aneh itu padaku.
    “Nama saya Saleh, saya datang dari kampung Pualam di pesisir selatan pantai Aceh. Kedatangan saya ingin menyerahkan benda ini untuk menenangkan arwah kakekmu, tolong tanamkan di bagian kepala kuburannya nanti sore. Jangan besok.”     Kemudian laki-laki itu mohon diri sebelum aku mempersilahkannya duduk terlebih dahulu. Aku penasaran, mengapa ia mengenalku sebagai cucu kakek. Padahal kami tak pernah bertemu sebelumnya.
    Tak lama kemudian aku keluar rumah, beberapa saat setelah kepergian lelaki tua itu. Sial, aku tak sempat melihat arah pulangnya. Hingga aku berada di jalan depan rumahku, tak seorang pun yang kulihat di sana. Aku tak ingat ketika ia masuk ke rumahku tadi, bersama siapa, atau memakai kenderaan apa. Semua  kabur dalam ingatanku. Tapi, sepertinya tak ada suara kenderaan ketika ia datang. Aneh, jangan-jangan…, Ah, aku kalut.
    Namun, aku tak peduli. Kemudian kuselidik pada beberapa orang yang sedang duduk-duduk di kedai seberang jalan rumahku perihal kedatangan lelaki serba hitam itu. Mereka mengatakan, tak melihat seorang pun yang masuk ke rumahku tadi.
    Aku semakin curiga. Lalu aku memberitahu Ibu dan pamanku tentang kedatangan lelaki itu bersama benda anehnya. “Ya, kita coba saja mengikuti sarannya. Siapa tahu kalau memang itu benar,” kata paman dengan tenang, tak menaruh curiga.
  
 “Kenapa paman bisa yakin?” tanyaku.
    “Sebab setahuku, Ayah dulu  pernah di sana, mengaji pada sebuah dayah. Beliau pernah menceritakannya padaku bahwa banyak temannya di sana yang memiliki ilmu kebatinan, hingga mereka mengetahui tentang peristiwa pada saat ayah meninggal.”
    Aku sendiri tak mudah mempercayai pernyataan paman. Sebab tampang lelaki itu mencurigakan. Datang dan perginya tiba-tiba, seperti angin. namun aku pun menghindari perselisihan dengan paman. Maka aku mengikuti saja perkataannya. Pada sore itu kami mendatangi kuburan kakek. Menanami benda itu tepat di bagian kepala kuburannya.
 
    Ruhoi, kenduri setahun setelah meninggal kakek dilaksanakan di rumahku, atas permintaan Ibuku pada paman dan bibi. Sebab pada acara kenduri-kenduri sebelumnya; kenduri kematian selama tujuh hari, tiga puluh, empat puluh, empat puluh empat, dan seratus hari, selalu diadakan di rumah kakek sendiri.
    Pada kenduri Ruhoi yang pertama ini, ibu mengundang banyak orang; dari kalangan murid dayah, teungku-teungku gampong, semua kaum laki-laki di kampungku, dan beberapa orang terhormat dari kampung tetangga. Hingga acara kenduri itu benar-benar meriah dan khidmat.

    Seusai samadiah, para tamu undangan hendak pamit. Sekonyong-konyong terdengar suara auman harimau dari kuburan kakek. Ngeri, menakutkan. Membuat bulu kuduk merinding. Orang-orang yang sedang bangkit, hendak meninggalkan rumahku, segera duduk. Wajah mereka terbius ketakutan. Suara harimau itu tambah keras. Disusul suara anjing menyalak dari sudut kampung. Lembu dan kerbau yang sedang lelap di kandangku berloncatan. Lalu berlarian tanpa arah.
    Malam itu, seperti dugaanku. Peristiwa yang telah dilupakan oleh sekalian orang, muncul kembali. Tak pelak lagi, lelaki itu telah membawa petaka. Terlanjur mempercayainya, kejadian ini terkait dengannya.
    Paman melambaiku. Aku segera menemuinya yang sedang berdiri dipintu tengah menuju dapur.
    “Ada apa paman?” bisikku.
    “Tolong panggil Abi Mahmud kemari, ada yang ingin saya bicarakan,” kata paman.

    Aku menemui lelaki terhormat itu. Mengatakan yang patut kubicarakan perihal kedatangan seorang lelaki  tadi siang. Abi Mahmud terperanjat mendengarnya.
    “Teungku Nusi, ayahmu itu adalah pawang harimau,” kata Abi Mahmud.
    “Jadi apa hubungannya dengan semua ini?” sela Paman
    “Jelas sangat dekat sekali. Pada suatu hari beliau pernah mengatakannya padaku, bahwa di kampung Pualam ada seekor rimueng daya (harimau jadi-jadian). Semua orang takut, tak ada yang berani melawan bila harimau itu mengamuk. Bahkan setahun sekali, pada bulan haji, harimau itu mencari mangsa manusia. Pada hal harimau itu jelmaan manusia penganut ilmu hitam yang sudah turun temurun. Tak ada yang berani melawannya, Ya, hanya ayahmu. Saya tidak tahu beliau dapat ilmu dari mana, hingga ia dikenal dengan pawang harimau.

    “Menurutnya lagi, ia punya seekor harimau, tapi sudah mati dimangsa oleh harimau jadi-jadian itu. Karena sebab itulah ayahmu marah. Nah, ketika seorang teman menjemputnya kemari untuk membunuh harimau itu, ia langsung ikut temannnya ke sana. Seperti saya katakan tadi, harimau itu tak sampai mati dibunuhnya. Inilah akibatnya sekarang. Tapi, kalian jangan khawatir, kita akan berusaha untuk membendungnya,” papar Abi Mahmud pada kami.
    “Jadi, apakah bisa kita laksanakan sekarang?” tanyaku tak sabar lagi.
    “Jangan, kita mesti melihat dulu kondisi kuburan kakekmu, karena menurut almarhum beliau, harimau itu akan mencari salah satu tulang rusuk musuhnya untuk menambah kesaktiannya. Kalau memang kuburan beliau itu dikorek-korek, berarti benar hal itu dilakukannya,” ujar orang alim itu padaku.
    “Oh iya, Abi, kenapa lelaki tadi siang itu menyuruhku untuk menanam benda itu di kuburan kakek?” tandasku lagi.
    “Kalau itu saya kurang mengerti, ya… bisa saja manteranya. Saya juga kurang tahu pasti,” jawabnya.
    Aku dan paman hanya manggut-manggut mendengarnya. Kami saling menatap. Kemudian Abi Mahmud beserta para undangan lain minta diri setelah auman harimau itu tak terdengar lagi. Rumahku berlanjut sepi. Tumpukan piring yang berisikan hidangan para undangan itu tak ada yang berani membawa keluar untuk dicuci. Selain para undangan, tak ada juga yang keluar. Para kerabat yang menghadiri kenduri itu, semua menginap di rumahku.

    Suasana mencekam itu baru hilang ketika matahari menampakkan sinarnya di ufuk timur, namun pagi itu berkabut. Cahaya matahari menatap bumi malu-malu. Aku keluar rumah dalam remang. Samar-samar, pandanganku menumpuk pada sesuatu di bawah pohon jambu di samping rumahku. Aku mendekati perdu jambu itu. Kaget, Kulihat dua ekor lembuku terburai ususnya keluar. Darahnya masih meleleh, segar. Aneh. Kedua lembu itu hilang kepala, ekor, dan alat pencerna lainnya.
    Tiba-tiba aku melihat paman sedang berdiri di pintu kandang di belakang rumah. Ia termangu. ”Paman, di sini!”`Kucoba membuyarkan lamunannya. Ia menatapku, lesu tanpa gairah.
    “Baiknya, kita ke rumah Abi Mahmud sekarang?”
    “Boleh, tapi tak baik juga bertamu pagi-pagi. Lebih bagus kita tunggu saja sebentar  lagi.”
    “Kalau begitu tak apa juga.”
    “Ohya, paman. Apa tidak ke kuburan dulu kita, sebelum ke rumah Abi?”
    “ Iya, ya, saya jadi lupa.”
    “Kalau begitu, mari ke sana.”

    Kami terkejut melihat kuburan kakek yang terbuka tepat pada bagian kepalanya, di tempat kutanam benda itu kemarin sore. Badanku gemetaran. Gigiku gemeretakan. Paman bersumpah-serapah, namun tak mampu berbuat suatu pun jua. Sebab hal ini perlu melibatkan Abi Mahmud.
    Kemudian ia menutupi lubang itu. Kulihat ia memalingkan wajahnya dari itu. Berarti suatu keganjilan telah terjadi. Aku menanyakannya, tapi ia diam seperti tak mendengar pertanyaanku.
    Lalu kami meninggalkan kuburan kakek menuju ke rumah Abi Mahmud. Kami tiba di rumahnya hanya beberapa menit dengan jalan kaki, merambah semak-semak, menelusuri jalan setapak, agar lebih cepat sampai di rumah seorang terpandang di kampung kami. Ketika kami sudah sampai ke rumah itu, ia sedang shalat dhuha. Kami terpaksa harus menunggunya sampai wiridnya usai dibaca, sembari menikmati kopi  bikinan Ummi Zulaikha, istrinya.
  
    Paman menceritakan semua hal yang kami lihat di kuburan kakek. Abi Mahmud hanya manggut-manggut mendengarkannya. Lalu ia memintaku untuk memotong salah satu batang lawah  yang berada di kuburan mana pun, tak mesti batang lawah yang tumbuh di kuburan kakek.
    Aku pun langsung turun dari rumah panggung Abi Mahmud, menuju pekuburan. Karena batang lawah itu tak mesti di kuburan kakek, aku memilih ke pekuburan di samping Meunasah kampungku, yang letaknya sebelah utara rumah Abi Mahmud. Perjalanan kupersingkat dengan melewati jalan tanggul irigasi untuk mencapai pekuburan itu.

    Aku memotong bagian penting dari batang pohon lawah, batang  paling bawah yang sebesar lengan tanganku, sebagaimana anjuran Abi. Aku segera kembali setelah dengan membawa batang itu. Namun di tengah perjalanan menuju rumah Abi Mahmud, aku melihat seekor harimau berlari ke arahku  diikuti oleh tiga ekor anjing dan beberapa orang laki-laki di kampungku. Dari kejauhan aku bisa mengenali mereka Bang Do, Apa Asan, Cek Ma’e dan bang Maun. Masing-masing mereka memegang sebilah parang dan sebuah tombak yang biasanya digunakan untuk menombak babi.

    Ketika aku menyadari harimau itu semakin mendekat, aku mulai mencari batang pepohonan untuk kupanjat. Tanpa sengaja aku melompat saluran irigasi selebar empat meter. Sial, aku jatuh sebelum mencapai tanggul sebelahnya. Tubuhku basah. Namun aku tak lagi menghiraukan, terus saja bangun, hanya berharap bisa berlindung dari terkaman harimau itu.
    Aku berlari sambil menoleh ke belakang, ke arah harimau itu dan beberapa orang yang mengikutinya. Tak ada tanda harimau itu mengikutiku. Aku lega setelah memasuki halaman rumah Abi Mahmud. Sesampai di dalam rumah, aku langsung menyerahkan batang lawah dan menceritakan perihal yang kulihat tadi di tanggul irigasi.

    “Mereka terlalu berani. Saya mengkhawtirkan atas keselamatan mereka,” kata Abi setelah mendengar ucapanku. Pamanku hanya termangu, tak berkata apapun. Kemudian Abi meninggalkan kami menuju kamarnya. Entah apa yang dilakukan dalam waktu hampir satu jam kami menunggu beliau keluar dari kamarnya. Hanya bacaan-bacaan doa, sayup-sayup kudengar dari kamarnya. Kemudian ia keluar dengan memegang batang lawah yang sudah dibalut kain putih serupa kafan. Beliau menyuruh kami mengikutinya ke ruang dapur.

    “Batang lawah ini harus dilayu lebih dulu,” katanya pada kami.
    Kami tak berkata apapun, hanya masih membuatku penasaran. Namun aku segan menanyakannya.
    Batang lawah itu dilayu dengan bara api yang sangat panas, dan dibolak-balik supaya merata sampai kain putih balutannya itu berwarna kehitam-hitaman. Butuh waktu yang lama untuk melakukannya. Sehingga hari menjelang siang, barulah selesai batang itu dilayu.

    Kemudian kami pamit pada Abi. Namun, sebelum sempat kakiku menginjak anak tangga rumahnya yang terakhir, Cek Maun yang kulihat tadi sedang mengejar harimau bersama kawan-kawannya di tanggul irigasi itu datang, membawa berita kematian ketiga kawannnya itu. Abi mahmud menggeleng-geleng kepala, “Baiklah sebentar lagi saya datang ke sana,” kata Abi yang sedang berdiri di pintu rumahnya pada laki-laki itu. Kemudian ia mempersilakan kami dan Cek Maun naik ke rumah.
    “Kamu tahu, harimau itu ke mana larinya?” Tanya Abi.
    “Ke pekuburan di samping meunasah, Abi,” jawabnya dengan nada gemetaran dan  masih menyimpan rasa takut.
    “Jadi, kamu kenapa bisa selamat?”
    “Ketika harimau itu berhenti, saya langsung berlari mundur mencari batang pohon dan memanjatnya. Tapi mereka malah maju, menombak ke arahnya. Tombakan mereka meleset, akhirnya ketiga mereka diterkam. Ketiganya langsung meninggal di sana. Seluruh isi perut mereka terburai keluar. Harimau itu langsung meninggalkan mereka dengan auman keras.”

    “Kenapa kalian ingin membunuh harimau itu?”
    Cek Ma’un tertegun, diam sejenak. Abi mahmud menatapnya begitu dalam. Lalu Cek Ma’un menceritakannya dengan suara terbata-bata, hampir tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun lagi.
    “Sebenarnya…Abi, harimau itu datang tiba-tiba di depan rumahku. Awalnya aku melihat sebuah bayangan hitam berkelebat, pada saat aku dan kawan-kawanku yang meninggal tadi itu sedang berbicara tentang peristiwa aneh ketika Kek Nusi meninggal dan kuburannya digaruk-garuk oleh seekor harimau. Tanpa kami duga sama sekali, tiba-tiba ia muncul dengan mengeluarkan auman keras. Lalu aku mengajak ketiga kawanku yang sedang duduk itu untuk mengejar dan membunuhnya.”
    Setelah mengetahui keterangan Cek Maun dengan jelas sekali, Abi mengajak kami turun dari rumahnya menuju rumah Teungku Imum Akob, di mana ketiga jenazah itu disucikan. Ketiga jenazah itu sengaja dibawa ke rumah tokoh agama kampung itu, untuk memudahkan pengurusannya.
     
    Pada malam itu, kami sudah siap menunggu kedatangan harimau itu di pekuburan ketiga mangsanya pada siang tadi, di pekuburan  samping meunasah. Hampir satu jam kami menunggu, namun binatang itu tak datang juga. Kemudian Abi Mahmud mengatur letak posisi kami, yang tak boleh berkumpul pada satu tempat, tapi berpencar supaya harimau itu tak langsung melihat jumlah lawannya.
    Aku ditunjuk di sebelah utara, bersembunyi di semak-semak batang kayu kunyit setinggi dada. Pamanku di sebelahku di bawah pohon siren. Cek Ma’un di sebelah selatan, bersembunyi di belakang Pusu. Abi Mahmud sendiri duduk di antara ketiga kuburan yang masih baru itu.

    Hanya beberapa menit kemudian, harimau itu meloncat tinggi ke arah Abi Mahmud yang entah dari mana datangnya. Abi yang sudah siap sejak semula, langsung menggeserkan tubuhnya ke samping, sehingga harimau itu jatuh berguling-guling di atas rerumputan liar. Abi mengayun batang lawah yang sudah dilayu itu, memukulkan pada tubuh harimau sebesar anak sapi itu yang sedang bangkit. Ia mengerang kesakitan. Abi tambah mengayunkannya lagi seperti orang yang sedang mempermainkan pedang. Tubuh harimau itu terhuyung-huyung. Ia ingin melarikan diri, tapi cepat menghadangnya, dan memukulnya berkali-kali sehingga harimau itu rubuh, mengeluarkan suara aumannya yang sangat keras. Walaupun harimau sudah tak berdaya lagi, Abi tetap masih memukulnya. Lalu mengeluarkan sebilah rencong dan menusuknya di bagian perut harimau jadi-jadian itu.

    “Ayo, semua keluar!” Seru Abi memanggil kami. Aku masih ragu untuk keluar, khawatir harimau itu masih hidup dan mengamuk. Namun karena Abi sudah beberapa kali memanggil kami, aku pun segera meninggalkan semak belukar itu dengan perasaan diselimuti takut. Mungkin juga Pamanku dan Cek Ma’un.
    Mereka baru keluar saat aku sudah berada di samping kanan Abi yang sedang menatap tubuh harimau yang sudah terburai keluar isi perutnya. Bau tubuh binatang itu sangat menyengat hidung, hingga aku mundur beberapa langkah ke belakang.
    “Abi, bagaimana kalau kita bakar saja bangkai harimau ini,” usul Cek Ma’un.
    “Jangan, jangan dibakar, tanam saja nanti,” sahut Abi pelan.
    “Di mana kita tanam Abi?” Tanya Pamanku.
    “Bagaimana kalau kita tanam di pinggir sungai,” kataku pada Abi.
    “Boleh, tapi harus kita tanya dulu pada pemilik tanah di sana, apa boleh kita tanam bangkai harimau ini di tanah mereka?”  Jawab Abi.
  
 Di sela-sela perbincangan kami, tiba-tiba orang-orang kampung berdatangan ke Meunasah. Beberapa orang di antara mereka langsung datang ke pekuburan, di mana kami sedang berada. Kemudian Abi menyuruh beberapa anak muda yang datang itu untuk menyeret bangkai harimau itu ke pinggir sungai setelah Abi meminta kebun kelapa pak Geuchik sebagai tempat penguburan binatang itu.      
  
 Aku dan paman merasa lega dengan kematian harimau jadi-jadian itu, yang sebelumnya sempat menggulanakan hati kami. Bahkan semua orang kampung sempat panik dan ketakutan atas kejadian aneh itu. Betapa tidak, tiga orang kampung menjadi mangsa makhluk iblis itu. Namun, peristiwa itu tak mudah dilupakan oleh semua orang. Ihwal itu karena berkaitan kematian bang Don, Apa Asan dan Cek Ma’e. Kelak kami tak pernah menginginkan hal itu terulang kembali, seperti pada kenduri ruhoi kakek yang pertama, biar beliau tenang di alam barzakhnya, terputus dengan segala perihal
duniawi.                                                                          
         (Rayeuk Kuta, 16 Oktober 2009)

Mahdi Idris, penulis sastra, bergiat di Balai Sastra Samudra Pasai, Aceh. Cerpen dan puisinya terhimpun dalam Kerdam Cinta Palestina (Folipenol, 2010), Sesayat Munajat Doa (Leutika Prio, 2011), Bingkai Kata: Sajak September (Leutika Prio, 2012), Narasi Tembuni (KSI Awards, 2012), dan Epitaf Arau (antologi puisi Kota Padang, 2012). Kumpulan puisinya Nyanyian Rimba memenangkan juara II pada sayembara Puskurbuk Kemendikbud 2011. Cerpennya Badee Cot Uroe Timang memenangkan juara I pada lomba cerpen berbahasa Aceh yang diselenggarakan PUSBADA Unsyiah 2012. Kumpulan cerpennya yang telah terbit Lelaki Bermata kabut (Cipta Media, 2011).
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki