Halimatunsakdiah: Beliau Bersama Kami Menjelang Diterjang Smong

Written By Peradaban Dunia on Thursday, 18 December 2014 | 15:08

Halimatunsakdiah, isteri sosiolog almarhum Muhammad Isa Sulaiman.
Foto: Aldi Yukihiro.
Muhammad Isa Sulaman, Sosiolog Handal Yang Hilang Tidak Terganti

Banda Aceh - Prof M Isa Sulaiman seorang sosiolog Aceh pendiri Aceh Institute yang meninggal dunia pada bencana smong 26 Desember 2004. Tatkala smong (air bah dari laut atau tsunami) datang, ia berada di dalam kamar.

“Pada saat bencana smong terjadi di hari 26 Desember 2004, kami berada di rumah. Saya lebih dahulu keluar karena mengejar seorang anak kami yang masih kecil yang telah lebih dahulu lari keluar,” kenang Halimatunsakdiah yang merupakan isteri almarhum Muhammad Isa Sulaiman.

Semua kisah meninggalnya Isa Sulaiman dan karya-karyanya akan dikemukakan pada Rabu 24 Desember 2014 pada pukul 15:00 WIB sampai selesai di gedung Turki, Aceh Community Center Sultan II Selim, Banda Aceh.

Pencerita tentang itu adalah peneliti Aceh Institute Saiful Mahdi, sekjen ACSTF Juanda Jamal, dan isteri almarhum Isa Sulaiman Halimatunsakdiah.

Prof M Isa Sulaiman merupakan tokoh Aceh yang paling penting di antara banyak tkoh cendkiawan di Aceh. Dia, merupakan seorang sosiolog hebat yang pernah dimiliki oleh Aceh.

Orang-orang di Aceh seyogianya mengingat Isa Sulaiman, mengingat perjuangannya dan mempelajaripengetahuan yang diwariskannya di antaranya yang berada di dalam buku-bukunya, seperti: “Sejarah: Sebuah Gugatan Terhadap Tradisi”, “Aceh Merdeka: Ideologi Kepemimpinan dan Gerakan”, dan “Mosaik Konflik Aceh”.

Kegiatan dalam rangka memperingati bencana smong ke 10 tahun itu diperbuat oleh organisasi antarabangsa Pusat Kebudayaan Aceh - Turki (PuKAT) secara kebersamaan yang tempat untuk acaranya diberikan hak pakai cuma-cuma oleh pengurus gedung Turki ACC Sultan II Selim.ldn

24 Des Halimatunsakdiah Bicara Tentang Isa Sulaiman

Written By Peradaban Dunia on Wednesday, 17 December 2014 | 23:28

Banda Aceh - Halimatunsakdiah akan bicara tentang Prof M Isa Sulaiman, seorang sosiolog Aceh pendiri Aceh Institute yang meninggal dunia pada bencana smong 26 Desember 2004.

"Pada saat bencana smong terjadi di hari 26 Desember 2004, kami berada di rumah. Saya lebih dahulu keluar karena mengejar seorang anak kami yang masih kecil yang telah lebih dahulu lari keluar," kata kenang Halimatunsakdiah yang merupakan isteri almarhum Muhammad Isa Sulaiman.

Acara mengenang jasa Isa Sulaiman tersebut dilangsungkan pada Rabu 24 Desember 2014 pada pukul 15:00 WIB sampai selesai di gedung Turki, Aceh Community Center Sultan II Selim, Banda Aceh.

Kegiatan dalam rangka memperingati bencana smong ke 10 tahun itu diperbuat oleh organisasi antarabangsa Pusat Kebudayaan Aceh - Turki (PuKAT).

Aktivis PuKAT, Thayeb Loh Angen, mengatakan bahwa Prof M Isa Sulaiman merupakan tokoh Aceh yang paling penting. Dia, kata Thayeb, merupakan seorang sosiolog hebat yang pernah dimiliki oleh Aceh.
Halimatunsakdiah, isteri Muhammad Isa Sulaiman. Foto: Aldi Yukihiro.

"Kita mengajak orang-orang di Aceh untuk mengingatnya, mengingat perjuangannya dan mempelajaripengetahuan yang diwariskannya di antaranya yang berada di dalam buku-bukunya, seperti: "Sejarah: Sebuah Gugatan Terhadap Tradisi", "Aceh Merdeka: Ideologi Kepemimpinan dan Gerakan", dan "Mosaik Konflik Aceh"," kata Thayeb.

Menurutnya, Aceh memiliki banyak tokoh cendikiawan. Kita mengajak sekalian orang untuk mengingat mereka dan belajar dari pengalaman hidup dan karya-karya mereka.

Muhammad Isa Sulaiman
"Pembicara di bincang-bincang ini adalah Saiful Mahdi, Juanda Jamal, dan Halimatunsakdiah yang merupakan isteri almarhum Muhammad Isa Sulaiman. Ini adalah kegiatan kebersamaan yang tempat untuk acaranya diberikan hak pakai cuma-cuma oleh pengurus gedung Turki ACC Sultan II Selim tersebut," kata Thayeb.zhr

Eungkhui akan Dihidangkan di Travelog Aceh ke Istanbul

Eungkhui di dalam piring putih di atas meja kayu berwarna coklat. Foto: Zahraini
Banda Aceh - Salah satu makanan khas Aceh yang sudah jarang dibuat, eungkhui, akan dihidangkan pada acara Travelog Aceh ke Istanbul: Sebuah Perjalanan Ariful Azmi Usman.

Acara tersebut dibuat oleh organisasi antarabangsa Pusat Kebudayaan Aceh - Turki (PuKAT) pada Kamis 25 Desember 2014 pukul 19:30 WIB sampai selesai, di gedung Turki Aceh Community Center Sultan II Selim, Banda Aceh.

Ahli tata boga di Banda Aceh, Zahraini, yang meramu engkhui tersebut dengan tambahan resep, mengatakan bahwa eungkhui adalah makanan khas masyarakat Aceh pesisir utara yang telah berkembang dari zaman ke zaman.

“Bahan utama kue lezat ini merupakan hasil tumbuhan khas Sumatera, yakni: sagu rumbia, kelapa, dan pisang. Kali ini saya tambahkan bahannya, seperti: susu, coklat, gula, dan hiasan buah-buahan seperti nangka, strawberi, anggur dan semacamnya di atasnya. Kuwih ini nantinya akan kita kemas dengan baik supaya sesuai diletakkan di tempat acara,” kata Zahraini.

Zahraini mengatakan bahwa orang di seputaran Aceh Besar dan Banda Aceh menyebut eungkhui untuk sebuah jenis kue lain yang penduduk di pantai utara Aceh menyebutnya jeuleupak, yakni hayakan kasar daripada tepung ketan yang ditumbuk dengan jingki, yang kemudian ditambah dengan beberapa bahan lain sehingga rasanya lebih lezat.

Acara Travelog Aceh ke Istanbul merupakan sebuah program kerja sama antara PuKAT dengan YTB (T.C. Başbakanlik) Yurtdişi Türkler ve Akraba Topluluklar Başkanliği. Acara ini adalah kelanjutan daripada berkunjungnya Ariful Azmi Usman ke Istanbul selama Agustus 2014 dalam rangka program Harman Intership.

Acara seperti ini akan dibuat sebanyak empat kali. Pertama di ACC Sultan II Selim pada 25 Desember 2014 pukul 19:30 WIB, pada 8 Januari 2015 di Auditorium FKIP Unsyah pukul 9:30 WIB, pada 20 Januari 2015 di SMA N 1 Peukan Bada Banda Aceh pukul 9:30 WIB, dan terakhir di Aula FISIP Unimal Lhokseumawe pada 10 Januari 2015 pukul 9:30 WIB.ldn

24 Des Aceh Kenang Sosiolog M Isa Sulaiman

Written By Peradaban Dunia on Tuesday, 16 December 2014 | 17:40

Banda Aceh - Organisasi antarabangsa Pusat Kebudayaan Aceh - Turki (PuKAT) mengadakan bincang kebudayaan secara terbuka tentang almarhum Prof M Isa Sulaiman, seorang sosiolog Aceh pendiri Aceh Institute yang meninggal dunia pada bencana smong 26 Desember 2004.

Acara tersebut dilangsungkan pada Rabu 24 Desember 2014 pada pukul 15:00 WIB sampai selesai, di gedung Turki Aceh Community Center Sultan II Selim, Banda Aceh.

"Prof M Isa Sulaiman merupakan tokoh Aceh yang paling penting. Beliau sosiolog hebat yang pernah dimiliki oleh Aceh. Kita mengajak orang-orang di Aceh untuk mengingatnya, mengingat perjuangannya," kata Thayeb Loh Angen dari PuKAT.

Thayeb menyarankan supaya orang-orang di Aceh mempelajari apa yang pernah diwariskan oleh M Isa Sulaiman di dalam buku-bukunya, seperti: "Sejarah: Sebuah Gugatan Terhadap Tradisi", "Aceh Merdeka: Ideologi Kepemimpinan dan Gerakan", dan "Mosaik Konflik Aceh".

"Aceh memiliki banyak tokoh cendikiawan. Kita mengajak sekalian orang untuk mengingat mereka dan belajar dari pengalaman hidup dan karya-karya mereka. Pembicara di bincang-bincang tersebut adalah peneliti Aceh Institute Saiful Mahdi, Sekjen ACSTF Juanda Jamal, dan isteri almarhum M Isa Sulaiman," kata Thayeb.

Thayeb menjelaskan bahwa scara tersebut terbuka untuk umum dan cuma-cuma sebagai bentuk usaha kita menguatkan kebudayaan di Aceh dan mengembangkan pengetahuan dengan cara belajar daripada cendikiawan-cendikiawan. Tempat untuk acara ini diberikan hak pakai cuma-cuma oleh pengurus gedung Turki ACC Sultan II Selim.ldn

25 Desember Joel Pase Meriahkan Travelog Aceh ke Istanbul

Joel Pase. Foto: Teuku Abdul Malik.
Banda Aceh - Bintang Aceh Joel Pase dijadwalkan memeriahi acara Travelog Aceh ke Istanbul: Sebuah Perjalanan Ariful Azmi Usman.

Acara tersebut dibuat oleh organisasi antarabangsa Pusat Kebudayaan Aceh - Turki (PuKAT) pada Kamis 25 Desember 2014 pukul 19:30 WIB sampai selesai, di gedung Turki Aceh Community Center Sultan II Selim, Banda Aceh.

"Saya suka Turki karena bangsa besar ini telah menjalin hubungan dengan Aceh sejak ratusan tahun lalu. Dalam acara ini saya akan menyanyikan lagu yang berkenaan dengan sejarah Aceh serta ikut memandu acara," kata Joel Pase yang juga seorang guru.

Joel Pase adalah seorang guru yang menyukai sejarah. Bakat seninya membuatnya terjun ke dalam dunia musik khas Aceh sejak beberapa tahun lalu. Seniman yang guru dan pencinta sejarah, Joel Pase ingin pada suatu masa bisa membuat konser di Istanbul.

"Karena Istanbul adalah bekas ibukota dunia tatkala dipimpin Islam dan juga sekarang Istanbul telah dinyatakan sebagai kota budaya di Eropa, dan dari kota itulah Khalifah Truki Usmani memerintahkan caendikiawan menuju Bandar Aceh Darussalam, maka saya berkeinginan pada suatu saat nanti akan membuat konser di Istanbul, insyaallah," tegas Joel Pase.

Aktivis di PuKAT, Thayeb Loh Angen mengatakan bahwa acara Travelog Aceh ke Istanbul merupakan sebuah program kerja sama antara PuKAT dengan YTB (T.C. Başbakanlik) Yurtdişi Türkler ve Akraba Topluluklar Başkanliği. Acara ini adalah kelanjutan daripada berkunjungnya Ariful Azmi Usman ke Istanbul selama Agustus 2014 dalam rangka program Harman Intership.

"Kita membuat empat kali acara seperti ini. Pertama di ACC Sultan II Selim pada 25 Desember 2014 pukul 19:30 WIB, pada 8 Januari 2015 di Auditorium FKIP Unsyah pukul 9:30 WIB, pada 20 Januari 2015 di SMA N 1 Peukan Bada Banda Aceh pukul 9:30 WIB, dan terakhir di Aula FISIP Unimal Lhokseumawe pada 10 Januari 2015 pukul 9:30 WIB," kata Thayeb.ldn

Agama Apapun Aman di Aceh

Written By Peradaban Dunia on Monday, 15 December 2014 | 18:33

Sahnan Ginting
Banda Aceh - Umat selain Islam di Aceh hidup damai dalam naungan Syari’at Islam. Syari’at Islam telah belasan tahun diterapkan di Aceh senantiasa menjaga kerukunan bergama. Pola hubungan umat Islam dengan umat beragama lainnya terjalin begitu baik dan mesra.
Sahnan Ginting, S.Ag, Pembimas Agama Hindu Kanwil Kementerian Agama Prov. Aceh mengatakan, kami tahu bahwa syari'at Islam yang diberlakukan di Aceh sesuai dengan konsep ajaran Islam, yakni hanya untuk umat Islam saja. 

"Walaupun itu hanya untuk umat Islam, namun kami yang bukan umat Islam di Aceh menyesuaikan diri dengan kondisi masyarakat/umat Islam di Aceh,” ujar Sahnan di ruang  kerjanya di Kanwil Kementerian Agama Aceh, Selasa, (9/12).
Sahnan juga mengakui, selama dirinya menjabat sebagai Pembimas Hindu selama tujuh tahun di Aceh, belum pernah ia jumpai adanya keluhan umat Hindu apabila mereka berhubungan dengan masyarakat Muslim di Aceh yang menerapkan syari’at Islam. 

“Dalam agama kami sendiri, kami diajarkan untuk menghormati umat lain, sebab, bagaimana kita menghormati diri sendiri jika kita tidak menghormati orang lain, “ ujarnya lagi.
Sahnan menyebutkan, misalnya perihal berpakaian yang sesuai dengan lingkungan. Menurutnya, berbusana yang sopan itu dalam masing-masing agama sebenarnya sudah ada. Hanya di dalam Islam dijelaskan lebih terang lagi aturan berpakaian yang bernuansa syari’at, misalnya dengan menutupi bagian-bagian tubuh.
“Kami sangat memaklumi penerapan syari’at Islam di Aceh,” kata Sahnan.
Umat Budha Nyaman Hidup dalam Syari'at Islam

Wiswadas
Agamawan Budha, Wiswadas, S.Ag, M.Si, mengakui damai hidup di Aceh meskipun Aceh memberlakukan Syari’at Islam.
“Secara pribadi saya mendukung pelaksanaan syari’at Islam di Aceh, dalam artian pelaksanaan syaria’t Islam benar-benar dilaksanakan dengan tepat sehingga efek dari pelaksanaan syari’at islam bisa memberikan keteduhan, perlindungan dan keamanan bagi umat selain Islam itu sendiri, “ ujar Wiswadas kepada Suara Darussalam, Selasa, (9/12).
Wiswadas punya pengalaman bahwa dirinya bisa berinteraksi dengan warga setiap umat Islam. Menurutnya, umat Islam bisa berbaur dan menghargai, dalam konteks yang sifatnya umum seperti gotong royong, kunjungan orang sakit dan sebagainya. 

"Ini suatu kebiasaan yang lazim nilai-nilai yang berlaku secara universal. Kalau syari’at Islam itu ditegakkan, maka kita tidak akan takut meninggalkan barang-barang berharga kita di depan umum. “ kata Wiswadas.suaradarussalam.com

Rahasia Samudera Pasai ada di Buku Ini

Written By Peradaban Dunia on Sunday, 14 December 2014 | 22:09



Samudera Pasai adalah sebuah kesultanan yang telah berjasa besar dalam mengembangkan Islam di Asia Tenggara. Diyakini bahwa sultan-sultannya, maha guru-maha gurunya, panglima-panglimanya, bangsawan-bangsawannya, orang kaya-orang kayanya, dan sekalian rakyatnya telah mengukir kegemilangannya di zaman mereka.

Samudera Pasai adalah sebuah negara yang bermata uangkan emas. Adalah di masa kejayaannya Bahasa Jawi (Melayu Pasai) berkembang ke seluruh dunia Melayu bersamaan Islam dihantarkan ke negeri-negeri itu. Walaupun ianya adalah induk daripada Bahasa Jawi, tidak ada seorang pun di masa kini yang mengukuhkannya sebagai pusat dunia Melayu.

Apapun pendapat atau pengetahuan kita tentang Samudera Pasai berdasarkan bacaan ataupun cerita daripada orang-orang, niscaya akan timpang sebelum membaca buku hasil penelitian daripada Taqiyuddin Muhammad, seorang peneliti sejarah kebudayaan Islam yang filsuf.

Dialah pendiri sebuah organisasi kebudayaan bernama CISAH (Central Information for Samudera Pasai Heritage) yang memusatkan perhatiannya pada penelitian terhadap tinggalan Samudera Pasai sejak beberapa tahun lalu.

Di sini tidak akan diceritakan apa saja isi daripada buku tersebut. Sekalian orang akan terkejut begitu membacanya bahwa apapun yang diketahui sebelumnya tentang Samudera Pasai telah terbantahkan dengan bukti-bukti daripada hasil penelitian Taqiyuddin Muhammad bersama CISAH-nya.tla 

 Judul: Daulah Shalihiyyah di Sumatera 
 Penulis:  Taqiyuddin Muhammad  
Cetakan Pertama:  Desember 2011
Cetakan Kedua: Nopember 2013  
Penerbit: Central Information for Samudera Pasai Heritage.
Tebal:  308 hlm + xxiv; 160 x 240 mm
Harga Jual: Rp 60,000.





Mizuar Duta Nisan Aceh

Perjalanan mengikuti meuseuraya yang dibuat oleh Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh) atas ajakan Mizuar Mahdi, di Makam Meurah Ji-ee, Lam Blang Trieng, Lamreueng, Darul Imarah, Aceh Besar, Ahad 14 Desember 2014

Mizuar Mahdi tengah merekam gambar nisan Aceh di pemakaman Meurah Ji-ee, Lam Blang Trieng, Lamreueng, Darul Imarah, Aceh Besar, 14 Desember 2014. Foto: Lodins.
Ini adalah kali ketiga saya mengunjungi kegiatan pembersihan dan penelitian nisan-nisan Aceh yang tersebar di seluruh penjuru negeri yang dilakukan secara suka rela. Kali ini, meuseuraya dibuat di pemakaman Meurah Ji-ee, Lam Blang Trieng, Lamreueng, Darul Imarah, Aceh Besar.

Pagi menjelang siang, Ahad, 14 Desember 2014, saya menghubungi Mizuar untuk kepastian acara yang digerakkannya. Ia adalah sekretaris sebuah perkumpulan pencinta benda bersejarah yang bernama Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh), sebuah perkumpulan pencinta sejarah yang awalnya haya berada di dunia maya bernama facebook.com.

Kemudian beberapa orang daripda mereka pun bergerak di dunia nyata dengan pemusatan kegiatan pada pembersihan makam-makam berbatu nisan Aceh. Sebagian besar lagi adalah pendukung secara moril dan kadang materil, kebanyakan mereka memiliki organisasi sendiri yang berada di Aceh atau luar Aceh.

Sebagaimana biasanya, kegiatan meuseuraya hari ini dipawangi oleh Mizuar Mahdi dengan Mapesa-nya yang didukung oleh orang-orang dari beberapa organisasi kebudayaan, sebagai bentuk persaudaraan.

Saya dan Lodins pun berangkat melalui Pango lalu melintasi Batoh dan melalui Lampeuneurut, menuju Lam Blang Trieng. Jalan-jalan di Banda Aceh pada hari Ahad lebih luang daripada biasanya, hari libur. Sesampai di gampong Lam Blang Trieng, saya tidak langsung menghubungi Mizuar Mahdi. Sebagaimana Ahad lalu, saya pun tersesat di sana. Lalu saya pun menghubungi pemuda keturunan Turki Bitai tersebut.

Setelah beberapa kali bertanya pada orang-orang di sekitar sana dan tersesat beberapa kali, kami pun menemukan Makam Meurah Ji-ee. Yang terakhir, kami bertanya pada orang yang tengah menanam padi, lalu dia menunjuk bukit kecil yang ditumbuhi pehon rindang, sekitar lima puluh meter di hadapannya, terlihat langsung karena antara tempat kami berdiri dengan Makam Meurah Ji-ee adalah padi-padi yang baru ditanam.

Begitu melihat ke arah yang ditunjuk terlihat kerumunan orang dan suara Mizuar Mahdi memanggil. Ternyata, itu hanya beberapa ratus meter dari tempat saya menikung untuk pulang pada Ahad lalu.

Setelah meletakkan kendaraan di tepi jalan berbatu yang dipayungi oleh pohon rindang. Saya mencari jalan masuk ke pemakaman tersebut. Harus melalui sebuah jambo pandai besi yang merupakan milik penjaga pemakaman tersebut.

Bukit kecil tempat makam itu dikelilingi oleh kulam atau sungai kecil. Saya tidak tahu mengapa sungai itu digali. Mungkin supaya bukit makam tidak akan digerus air bah atau apa karena sudah ada aliran air di sekelilingnya, pikir saya.

Selain Mizuar Mahdi, di sana telah ada Duta Museum Aceh Mujiburrizal, Syahrial, Muammar dari SILA (Sejarah Indatu Lamuria Aceh), Edi dari Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh), Khairul dan seorang lagi dari anggota CISAH (Central Information for Samudera Pasai Heritage), Teuku Rizasyah Mahmudi dari FSKN (Forum Silaturrahmi Keraton Nusantara) - orang ini datang di belakang saya lalu ia ikut tersesat karena mengikuti saya, akan tetapi kemudian dia lebih dahulu sampai karena saya salah jalan lagi.

handai taulan yang telah lebih dahulu berada di sana tenah sibuk menggali sebuah nisan besar yang rebah untuk kemudian ditegakkan kembali ke tempat asalnya. Tali, pacul, cangkul, dan parang adalah benda wajib disertakan di setiap meuseuraya ini.

“O, beginilah rupanya kerja bakti orang-orang ini, setelah semua diletakkan ke tempat asalnya, dibersihkan dan dibaca oleh peneliti sejarah dan Kebudayaan Islam yang filsuf Taqiyuddin Muhammad. Sebuah perjuangan secara suka rela yang butuh kerja sama kuat,” seru saya di dalam hati.

Saya pun mencari luang supaya bisa ikut menggali atau mengangkat nisan yang rebah. Mengotori tangan dengan tanah untuk menyelamatkan benda bukti sejarah adalah hal yang penting, pikir saya. Untung ada Mizuar dan rekan-rekan Mapesa-nya dan CISAH mengajak-ajak orang untuk acara begini. Kalau tidak, nisan-nisan itu akan terus rebah dan tertimbun semak belukar dan tanah.

Dari ketinggian pemakaman Meurah Ji-ee, terlihat pemandangan asli perkampungan Darul Imarah yang damai. Peneliti sejarah kebudayaan Islam yang filsuf tidak terlihat hari itu sebagaimana pada Ahad lalu. Mungkin tengah memeriksa hasil penelitiannya kemarin di pemakaman Meurah II, pikir saya.

Dua nisan berukuran besar pun telah berhasil diangkat dari keterbenamannya, lalu didirikan kembali dengan rapi. Untuk mengangkat sebuah nisan yang tertanam, perlu usaha keras dan kehati-hatian. Kadang, sebuah nisan besar rebah dan terbenam menindih nisan lainnya. Nisan yang tertimbun di sisi atau di bawah nisan yang rebah teratas biasanya terluka kena pacul atau cangkul.

Tatkala tengah hari tiba, sebagian orang sudah haus sementara minuman belum didatangkan. Maka Edi, seorang anggota Mapesa yang merupakan penduduk asoe lhok di sana meminta kelapa kepada penjaga makam itu dan dipersilakan untuk memanjat pohonnya sendiri untuk dipetik buah berair itu. Maka seorang pun memanjat kelapa tanpa seulingkreuet.

Dari atas jalan pematangan sawah terlihat Agam Usmani muncul. Ia datang seorang diri. Beberapa saat setelahnya muncul pula dua orang perempuan anggota Mapesa. Menjelang azan zuhur, Ipan dan seorang temannya datang membawa kue-kue dan minuman.

Kami menyelesaikan pekerjaan hari itu, mendirikan kedua nisan besar yang telah berhasil diangkat. Dua orang anggota CISAH mengambil air dari kulam dan membersihkan ukiran di nisan yang telah didirikan. Mereka menyikat ukiran-ukiran itu.

Pengalaman bertahun-tahun mengikuti penelitian Taqiyuddin Muhammad membuat mereka tahu apa yang harus dilakukan tanpa perintah, seru saya di dalam hati seraya melihat Mizuar ikut membantu dan merekam gambarnya.

Setelah semua dianggap selesai, kami pun keluar dari pemakaman tersebut. Mujiburrizal dan handai taulan lainnya menunaikan sembahyang zuhur di dayah dekat makam di seberang persawahan. Saya dan Lodins terus keluar dan menunaikan sembahyang zuhur di masjid utama Darul Imarah, dekat jalan raya.

Dengan kegigihan Mizuar megajak orang-orang untuk membersihkan nisan-nisan Aceh untuk diselamatkan dan kemudian diteliti dan kemudian lagi dijadikan tempat belajar sejarah, saya berpikir, pemuda keturunan Turki di Bitai itu patut diberikan penghargaan dengan lakab Duta Nisan Aceh atau Orang Kaya Nisan Aceh.

Nisan Aceh adalah batu nisan berukir tulisan data sejarah tentang siapa yang dimakamkan di bawahnya. Orang Malaysia menyebutnya 'batu Aceh', misalnya di Johor. Ada sebuah buku tebal berisi nisan-nisan Aceh dengan judul 'Batu Aceh Johor'.

Oleh Thayeb Loh Angen, aktivis di Pusat Kebudayaan Aceh – Turki (PuKAT).

Mengikuti Jejak Tgk Taqiyuddin Muhammad di Meurah II

Written By Peradaban Dunia on Saturday, 13 December 2014 | 22:50

“Mencintai sejarah adalah suatu kewajiban, bukan profesi dan kesukaan”

Peneliti sejarah kebudayaan Islam yang filsuf, Taqiyuddin Muhammad, membaca pahatan kaligrafi di nisan-nisan yang berada di Kumpulan Makam Meurah II, Ulee Tuy, Mata Ie, Aceh Besar. Di sinilah ia menemukan nisan Tun Meurah Orang Kaya Kapal, seorang Laksamana perempuan di Kesultanan Aceh Darussalam. Jumat 12 Desember 2014. Foto: Lodins.
Mengingat nama Tgk Taqiyuddin Muhammad, terasalah hidup saya umpama dihantar  keberatus-ratus tahun silam berjalan di antara para wazir-wazir, syahbandar, laksaamana, dan Malikul Qadi Aceh Darussalam.

Pada suatu sore di hari Jum’at, karena alasan tersebut, maka saya dan bang Thayeb Loh Angen, bergeraklah menuju Ulee Tuy, Mata Ie. Kami Menyusuri jalanan, melewati beberapa persimpangan dan lampu merah yang mendidik orang untuk menghargai dan memberi kesempatan pada pengguna jalan umum.

Dalam perjalanan, saat melintasi jalanan di lampeut, bang Thayeb menunjuk- nunjuk ke seberang jalan. Sambil memperlambat laju kereta, saya sesekali melirik ke arah yang ditunjuk-tunjuknya.

“Itu adalah bangunan ‘istana wali nanggroe yang dibangun dengan gaya Eropa,” katanya dengan irama agak kusar beraduk sedih. Ingatan saya pun secara tiba-tiba teringat pada satu makalah tentang ‘bahaya konspirasi global dunia’, yang dipinjamkan oleh kawan saya Muhammad Amin Zakaria.

Dalam salah satu buku yang dipinjamkannya tersebut, terdapat gambar ‘istana wali nanggroe’ yang telah ditandai ‘ditubuh bangunan tersebut ada satu lambang, kode konspirasi global Yahudi.

Di tengah perjalanan, di depan gerbang stasiun TVRI Banda Aceh, kami pun berhenti untuk menanyakan arah menuju ke makam Meurah II. Setelah beberapa menit berhenti, lalu bang Thayeb  mengisyaratkan pada saya untuk melanjutkan perjalanan. Sementara itu ia terus berkomunikasi melalui telepon genggam dengan seseorang yang menjadi pengarah perjalanan kami ke arah makam tersebut.

Di Makam Meurah II

Setelah melintasi berpuluh jurong  dan berpuluh tikungan dalam perkampungan, dan yang pasti setelah tersesat beberapa kali, maka sampailah kami ke makam Meurah II. Dan barulah saya tau bahwa kami sampai ke tempat ini dengan dipandu oleh Mizwar pemuda berdarah Turki yang merupakan anggota Tgk Taqiyuddin Muhammad, melalui telepon genggam kurang lebih menghabiskan waktunya 12 menit.

Sesampainya di makam Meurah II, kami melihat Tgk Taqiyuddin Muhammad sendirian di ujung sudut timur makam. Kami pun mendekati beliau. Saya yang mencoba bertanya diberi isyarat oleh bang Thayeb agar tidak menanyakan apa pun, atau dengan bahasa yang sederhana, ‘jangan mengganggu beliau’.

Di tempat pemakaman makam Meurah II ini, saya sempat terpana menyaksikan berpuluh makam dengan berbatu nisan berukir ukuran besar dan tinggi. Maklum, dalam pengalaman saya, kali ini adalah ziarah yang ke tiga setelah ke makam Sulthan Malikussaleh di Geudong Samudra, dan ke makam Kandang XII, yaitu Makam Sultan Al Qahhar yang mula membangun hubungan diplomatik Aceh dengan Turki secara besar-besaran.

Barisan makam-makam ini terletak di atas ketinggian bukit kecil dengan ditumbuhi oleh satu pohon besar yang membuat bang Thayeb terkagum- kagum hingga ia meminta difoto dengan latar belakang pohon besar tersebut. Saya pun menjepret- jepret beberapa kali, walau kurang tahu bagaimana cara mengambil gambar foto yang baik, tapi tidak jadi masaalah, dari pada bang Thayeb men-self timer kameranya di atas pagar, demikian  fikir saya.

Setelah shalat ‘ashar di mushalla yang  sedikit berdebu kurang terawat di sebelah timur makam, saya mencari- cari di sudutnya barangkali ada satu risalah surat Yasin, namun tidak menemukannya. Ketika hendak keluar, kaki saya terpijak oleh satu kepala tokek yang telah mengering.

Keluar dari mushalla, lalu saya pun naik ke balai yang terletak di utara makam. Di sini saya melihat ada banyak kitab dan risalah-risalah Islam. Kebetulan saya menemukan yang saya cari, mengambil satu risalah Yasin lalu menuruni tangga balai berjalan menuju ke dalam pagar pemakaman melewati beberapa bocah- usia sepuluh tahunan yang sedang asyik bersepak bola kaki.

Gerbang di sebelah barat menjadi pintu masuk ke makam, saya geser perlahan yang seketika mengeluarkan suara derit kecil. Perlahan saya merasakan begitu terasingnya kita dengan situs- situs peradaban emas masa lalu yang telah menjadi penghubung antara logika sejarah dan penyatuan arah tujuan.

Tiba di dekat sebatang pohon di sisi makam, saya melepaskan sandal jepit, melangkah perlahan ke bawah pohon tua yang berukuran besar, mencari akar yang nyaman sebagai tempat duduk dan sedikit agak berjauhan dengan Tgk Taqiyuddin Muhammad, guna membuat beliau tidak terganggu dengan kedatangan kami. Beliau sedang menilik tulisan-tulisan, sesekali terlihat beliau mengapur bagian yang timbul pada cetakan batu-batu nisan tersebut.

Lodins di Kumpulan Makam Meurah II, Ulee Tuy, Mata Ie, Aceh Besar tatkala menyaksikan penelitian yang dilakukan oleh peneliti sejarah kebudayaan Islam yang filsuf, Taqiyuddin Muhammad yang hari itu berhasil membaca  nisan Tun Meurah Orang Kaya Kapal, seorang Laksamana perempuan di Kesultanan Aceh Darussalam. Jumat 12 Desember 2014. Foto: Thayeb Loh Angen.
Di atas akar di sisi-sisi salah satu makam yang terdekat dengan perdu pohon, saya membuka risalah Yasin dan mulai membacanya dengan suara setengah berbisik. Walau saya menyadari memiliki keterbatasan dalam bacaan dan tajwid yang pas-pasan, saya tetap memberanikan diri untuk membacanya dari pada tidak sama sekali.

Mulailah saya membaca bismillah memulai risalah kalam. Merenangi lembar demi lembar ayat demi ayat hingga perlahan suasana saya rasakan perlahan menjadi berubah. Kulit-kulit tubuh saya merinding merasakan suatu energi dari alam lain menjelma. Merangkul pikiran saya menjadi tentram, damai dan merasa seolah- olah berada dalam kafilah keluarga istana yang tengah berkabung di acara pemakaman salah satu orang yang sangat mereka cintai telah pergi mewariskan negeri ini pada kita cucu-cucunya.

Dalam bacaan-bacaan ayat suci Alqur-an tersebut, air mata sedikit menitik namun dengan sekuat daya upaya, saya menjaga untuk tidak meneteskan air mata yang menampakkan air mata kesedihan, takut kalau-kalau bang Thayeb Loh Angen atau Tgk Taqiyuddin Muhammad melintas dengan tiba-tiba lewat dekat tempat saya pasti mereka akan tahu bahwa perasaan sedih berselimut jiwaku. Ini tidak boleh terjadi! Demikian bisik batin saya. Namun andai tidak ada siapa pun, pasti saya akan terisak-isak, meneteskan air mata dengan deras bercucuran sepuas-puasnya. Karna tidaklah salah bila ekspresi tersebut berada dalam nuansanya yang tepat.

Dalam rentang bacaan-bacaanku dari ayat ke ayat tiba-tiba, tergambarkan seakan masuk ke rekaman acara berkabung di suatu hari di masa silam.

”Beberapa orang dewasa memikul, menandu satu keranda jenazah yang ditutupi dengan kain tebal, berwarna emas kecoklat-coklatan dengan benang-benang sulam berwarna emas terayun-ayun bergantung terjulur di tepi- tepi kain. Di sisi sebelah kanan para pemandu keranda berjalan dua orang dara di sisi seorang perempuan. Dara yang satunya berusia sekitar sembilan tahun, satunya lagi berusia lima belas tahun. Sedangkan yang satunya lagi seorang perempuan yang berusia sekitar empat puluh lima tahun. 

Perempuan berusia pertengahan dan dua dara tersebut berpakaian warna cokelat agak kehitaman bersulam di ujung lengan, dan bagian baju bawah yang mereka pakai bersulam dengan benang emas. Tidak seperti pakaian Aceh yang biasa dipakai oleh para linto baro dan dara baro dalam acara kenduri perkawinan. Para dara dan perempuan setengah tua itu berjalan dengan sedikit menunduk terbeban oleh  duka, dan rasa kehilangan yang sempurna.

Saya tidak melihat ada orang-orang kampung yang menyertai jenazah tersebut sampai ke tempat pemakaman. Mungkin adat di lampau tidak mengizinkan bagi penghantar jenazah ikut selain anggota keluarga yang berkabung memasuki sampai ke tempat pemakaman. Kemudian saya menghentikan gambaran masa lalu tersebut di dalam pikiran saya.

Namun keharuan pun kembali menyelimuti sendi-sendi dan aliran darah yang mengalir di tubuhku, saya merasakan kehadiran beberapa orang tua bercakap-cakap.

Kumpulan Makam Meurah II, Ulee Tuy, Mata Ie, Aceh Besar. Di sinilah terdapat nisan Tun Meurah Orang Kaya Kapal, seorang Laksamana perempuan di Kesultanan Aceh Darussalam yang baru berhasil dibaca oleh peneliti sejarah kebudayaan Islam yang filsuf, Taqiyuddin Muhammad. Jumat 12 Desember 2014. Foto: Thayeb Loh Angen.
Menurut tafsir batinku, mereka mengatakan;

“Apa yang telah kalian lakukan di negeri ini
Kau sia-siakan amanah nabi
Hendak ke mana kalian
Sedang di rumah sendiri telah terkunci
Apapun yang kalian temui 
tidak akan menerangkan segala haru negeri
Kami rindu ziarah-ziarah kalian
Menjauhlah dari kebodohan
murka dan azab tuhan tiada siapa yang akan menolong
Berjalanlah dengan iman
Bergurulah pada ulama yang jujur
Tabahlah dalam setiap cobaan 
Kami menanti cucu-cucu yang kembali pada jalan yang kami lalui!”

Selesai membaca surah Yasin, kemudian saya meletakkan risalah tersebut di atas akar pohon. Kemudian berjalan-jalan di sepanjang makam yang berjumlah empat puluh satu makam itu. Sang surya senja pun berbagi sinarnya melalui celah-celah pohon-pohon di Ulee Tuy membuat bayang-bayang kami merayap sewaktu berjalan- jalan di dekat makam para pembangun negeri.

“Ternyata ini makam seorang laksamana perempuan yang dilakabkan ‘orang kaya laut, Tun Meurah,” tiba-tiba Tgk. Taqiyuddin Muhammad menjelaskan dari tempatnya berdiri di dekat makam di sebelah timur di sudut kanan. Kemudian Tgk.Taqiyuddin Muhammad minta izin untuk shalat ‘ashar di balai sebelah utara makam.

Saya dan bang Thayeb Loh Angen berjalan-jalan mengamati batu- batu makam satu persatu dan ada juga beberapa potongan batu bagian dari nisan, ada yang telah tergeletak terpenggal oleh waktu dan walau pun demikian, tak henti-hentinya hati kami merasa takjub melihat keindahan ukiran-ukiran pahatan para pemahat abad pertengahan. Dan betapa berharganya nilai sebuah figur; adil dan bijaksana dalam memimpin menjadikan kenangan yang berharga walau mereka berabad telah tiada.
Desiran angin yang menghembus sejuk menerjang-nerjang celah-celah bebatuan makam. Kemudian karena waktu senja pun hampir menjamah magrib dan Tgk Taqiyuddin Muhammad menyudahi dulu kajiannya di makam Meurah II pada hari itu. Kami pun pulang melalui jalan berkerikil berbatu perkampungan.

Setelah beberapa kali bertemu dengan beliau saya menyaksikan beliau adalah satu figur yang mulia abad ini dengan sebab ini,betapa semua anggota Cisah  loyal pada segala instruksi yang beliau amarankan yang beliau gerakkan dengan segala kerelaan hati seorang anak bangsa yang menjunjung tingi nilai suatu peradaban yang mulia.

Ketika telah berada di genggam, sejarah akan bisa ditabur kembali
hingga tumbuh di mana lahan ini terus selalu kita perkenalkan
Maka dengan itu terciptalah jadi satu kesan berharga hingga kami pun menulis pengalaman ini untuk saudara-saudara yang mencintai sejarah.

Guna kita membangun kembali bersama negeri ini yang telah tragis terancam, tenggelam dalam laut kejahilan dan pembodahan secara global oleh kaum kapitalis barat secara merata. Wassalam.

Oleh Lodins, Pecinta budaya dan seni dari Paloh Dayah yang kini sedang menyelesaikan satu novel kehidupan Samudra Pasai menilik suka dukanya bernegara.

Laksamana Tun Meurah

Menyaksikan pembacaan nisan Aceh oleh Peneliti Sejarah Kebudayaan Islam yang filsuf Tuan Taqiyuddin Muhammad di Kompleks Makam Meurah II di Gampong Ulee Tuy, Mata Ie, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar pada Jumat 12 Desember 2014.

Peneliti sejarah kebudayaan Islam yang filsuf, Taqiyuddin Muhammad, membaca pahatan kaligrafi di nisan-nisan yang berada di Kumpulan Makam Meurah II, Ulee Tuy, Mata Ie, Aceh Besar. Di sinilah ia menemukan nisan Tun Meurah Orang Kaya Kapal, seorang Laksamana perempuan di Kesultanan Aceh Darussalam. Jumat 12 Desember 2014. Foto: Lodins.
Petang, menjelang waktu ‘asar pada hari Jumat 12 Desember 2014, Mizuar Mahdi menghubungi dan mengatakan bahwa peneliti Sejarah dan Kebudayaan Islam Taqiyuddin Muhammad jadi meneliti nisan-nisan yang berada di Kumpulan Makam Meurah II di Gampong Ulee Tuy, Mata Ie, Darul Imarah, Aceh Besar.

Saya memang telah berjanji tadi malam bahwa akan mengunjungi penelitian di tempat yang dikabarkan memiliki nisan-nisan berukuran tinggi dan besar itu. Pemastian dari Mizuar Mahdi adalah kabar bagus. Maka saya dan Lodins pun berangkat menuju selatan dari tempat kami saat itu di Gampong Pineung, Banda Aceh.

Sebelum keluar dari Gampong Pineung, kami singgah di sebuah kedai nasi untuk makan. Lalu melanjutkan perjalanan. Setelah melewati empat persimpangan besar berlampu penanda (lampu merah) kami menikung ke selatan, arah Mata Ie, dari simpang empat Keutapang. Sesampai di hadapan kantor sebuah stasiun televisi pemerintah, saya memberi tanda kepada Mizuar Mahdi.

Dan dia pun menelpon kembali. Pemuda keturunan Turki itu memandu penjalanan dengan telepon genggam, sementara dia masih di kantor kerjanya. Mungkin dia tidak ingin saya tersesat lagi sebagaimana beberapa hari lalu dan pulang tanpa menemukan tempat yang dimaksud.

Dengan sabar, ia terus memandu. Akan tetapi, walaupun dipandu dari jarak jauh, saya masih sempat salah mengambil jalan sehingga harus memutar ke arah yang benar. Setelah menikungi persimpangan yang di sisinya ada pohon asam berukuran besar, Lodins terus melajukan kenderaan. Kami terus mengikuti panduan daripada jarak jauh.

Setelah sampai di sebuah rawa kecil yang dipenuhi oleh perdu-perdu rumbia, terlihatlah sebuah bukit kecil yang bagian atasnya rata. Saya pun terkejut, nisan-nisan berukuran besar pun terlihat. Ternyata itulah nisan-nisan yang disebutkan oleh Mizuar Mahdi beberapa waktu lalu.

“Apa Ustaz (Tgk Tqaqiyiddin Muhammad) ada di sana?” Tanya Mizuar Mahdi.

“Ya,” jawab saya karena peneliti tersebut terlihat tengah menatap kaligrafi (tulisan Arab berhiaskan seni) di sebuah nisan besar di antara puluhan nisan lainnya. Lalu pemuda turunan Turki itu pun menutup telepon dan saya melihat catatan, ia telah bicara selama dua belas menit untuk memandu saya. Luar biasa anak muda ini mahu memandu melalui telepon genggam selama itu.

Seorang lelaki yang berusia sekira setengah abad menyapa kami. “Apakah Teungku penjaga makam-
makam ini?” Tanya saya. Ia pun mengiyakannya. Dan saya terus berlalu dengan masygul.

Sebatang pohon keutapang berusia tua tinggi menjulang dan berukuran besar pun berdiri kukuh di pemakaman itu. Apabila ada tiga orang dewasa merentangkan kedua tangannya untuk memeluk pohon itu, mungkin hujung tangan mereka baru bisa bersentuhan. Saya suka dan takjub pada pohon besar yang rindang itu, akan tetapi nisan-nisan di sampingnya jauh lebih menyentuh hati saya.

Saya tidak berani berkata apa-apa dan tidak mencoba menyentuh pagarnya sekalipun. Takut. Ya, takut. Itu perasaan pertama saya tentang makam itu. Saya takut karena seakan-akan bisa merasakan aura yang terpancarkan dari nisan-nisan itu, aura pemahatnya, aura orang-orang yang disemayamkan di bawahnya.

“Betapa tinggi seni orang di masa silam, dan betapa orang-orang yang dimakamkan di sana telah memiliki sejarah hidup yang besar sehingga orang-orang membuat nisan yang begitu indah untuk mereka,” saya pun membatin.

Thayeb Loh Angen takjub pada nisan-nisan di Kumpulan Makam Meurah II, Ulee Tuy, Mata Ie, Aceh Besar. Jumat 12 Desember 2014. Foto: Lodins.
Saya semakin takut ditambah merasa kecil. Saya tidak sanggup berkata apa-apa, bahkan  memberikan salam untuk Taqiyuddin Muhammad dan penghuni makam itu pun saya tidak lagi ingat. Ketakutan dan kegamangan itu telah membuat saya membiarkan peneliti tersebut meneruskan tatapannya pada tulisan di nisan tanpa diusik oleh sapaan, apalagi pertanyaan daripada saya.

Perasaan takut telah menghantui saya karena melihat nisan-nisan berukiran seni tinggi yang berukuran besar dan jumlahnya empat puluh satu buah itu. Saya tidak sanggup menghayal tentang seni dan tingkatan ketinggian peradaban orang-orang Aceh di masa silam. Dan, saya tidak akan berani mereka-reka tentangnya, rekaan tentang sejarah adalah sampah.

Saya tidak akan mahu menambah sampah-sampah itu yang telah mengisi banyak pustaka dan kedai buku hasil kesimpulan sementara orang-orang tentang Aceh. Biarkanlah itu diterangkan oleh orang-orang seperti Taqiyuddin Muhammad yang telah menghibahkan hidupnya untuk itu.

Hari itu, maha guru dan pendiri LSM CISAH (Central Information for Samudera Pasai Heritage) itu sendirian menatap sebuah tulisan yang terpahat indah di batu nisan setinggi orang dewasa. Tidak ada orang lain di sana. Hanya deru-deru angin daripada arah persawahan.

“Dia sendiri datang ke sini dari jauh hanya untuk mengetahui apa yang telah dituliskan di pustaka terbuka atau batu nisan-batu nisan Aceh ini,” seru saya di dalam hati seraya terus memperhatikan kelakuannya  di kumpulan makam yang telah dibersihkan tersebut.

“Tidak akan cukup usia untuk membaca itu,” seru saya lagi, masih di dalam hati. Kegamangan dan kemasygulan kembali menghinggapi diri saya. Hidup hampir tidak ada artinya. Di bawah nisan-nisan itu disemayamkan orang-orang berkuasa di masa mereka hidup, akan tetapi bahkan setelah nisan-nisan untuk mereka dibuat sedemikian megah, tidak ada yang mengingatnya.
Saya pun teringat surat al ‘Ashr di dalam kitab suci Al-Quran.

“Demi masa manusia berada di dalam kerugian, melainkan orang-orang yang beriman dan beramal shalih, serta mereka yang menyeru-nyerukan kebenaran dan mereka yang menyeru-nyerukan kesabaran.”

Taqiyuddin Muhammad menyapukan kapur tulis di atas ukiran nisan yang timbul supaya ia bisa dengan mudah membacanya. Saya tidak mendekatinya supaya ia bisa memusatkan pikiran pada pekerjaan itu. Akan tetapi ia menyadari kehadiran kami. Ia pun menyapa. Saya menjawab dengan suara berat dan tercekat. Ketakutan dan kegamangan masih menghinggap.

Kemudian, saya pun ke mesjid yang berada di dekat makam untuk menunaikan sembahyang ‘asar.  Sementara Taqiyuddin Muhammad kini tengah bertinggung di hadapan sebuah nisan besar paling timur seraya menyapukan kapur tulis ke aksaranya.

Setelah selesai bersembahyang, saya pun mendekati pagar nisan-nisan itu dan masuk melalui pintunya yang terletak di sebelah barat, di tepi sebuah jalan di sisi papan namanya. Saya memandang dari jauh, memperhatikan nisan-nisan itu satu per satu. Maka perasaan gamang itu pun semakin kuat. Perasaan takut pun bercampur gundah. Betapa banyaknya sejarah yang masih tidak diketahui.

Di tengah barisan nisan itu, terdapat nisan paling besar dan tinggi. Saya memperhatikannya lebih lama daripada nisan yang lain. Akan tetapi tidak berencana menayakannya pada Taqiyuddin Muhammad tentangnya saat itu, saya seperti orang yang melihat betapa banyaknya mayat-mayat setelah perang.

Sampai di hujung timur barisan makam itu, saya takjub pada nisan besar yang tengah dibaca oleh Taqiyuddin Muhammad. Akan tetapi saya tidak menanyakan apapun. Taqiyuddin Muhammad butuh keheningan, pikir saya yang masih masygul.

Namun, ternyata ada sebuah makam bernisan seukuran paha dan setinggi lutut terletak paling timur. Saya tertawa di dalam hati. Sepasang nisan itu seperti seorang bayi di tengah orang-orang dewasa yang bertubuh besar. Karenanya kegamangan dan kemasygulan saya sirna sedikit.

Saya melintasi Taqiyuddin Muhammad yang masih memusatkan perhatiannya pada tulisan di nisan. Ia menyapa dengan ramah. Saya pun menjawab singkat untuk menghindari keadaan bahwa kehadiran saya telah mengusik perhatiannya pada pembacaan itu.

Saya pun berdiri lebih lama di sana, memeperhatikan pembacaan Taqiyuddin Muhammad dan nisan yang dibacanya. Lalu saya melangkah ke barat, ingin mengelilingi makam itu, tadi di barisan sebelah selatan kini di barisan sebelah utara.

Lodins tengah memperhatikan nisan Tun Meurah Orang Kaya Kapal, seorang Laksamana perempuan di Kesultanan Aceh Darussalam yang baru berhasil dibaca oleh peneliti sejarah kebudayaan Islam yang filsuf, Taqiyuddin Muhammad, yang berada di Kumpulan Makam Meurah II, Ulee Tuy, Mata Ie, Aceh Besar. Jumat 12 Desember 2014. Foto: Thayeb Loh Angen.
“Ini makam seorang Laksamana,” kata Taqiyuddin Muhammad menunjuk nisan terbesar paling timur, selang satu daripada nisan terkecil yang paling timur.  Itu menghentikan langkah saya dan serta merta berbalik.

“Perempuan atau laki-laki?”

“Perempuan.”

“Apakah Keumala Hayati?”

“Bukan”

“Aceh Darussalam?”

“Ya.”

Taqiyuddin Muhammad pun menunjuk tulisan di makam, saya tidak bisa membacanya walaupun telah ditunjuk. Kapur tulis putih yang disapukan di timbulan pahatan itu telah terhapus. Tinggal putih tipis kabur.

“Tun Meurah. Orang Kaya Kapal,” kata Taqiyuddin Muhammad seraya menunjuk-nunjuk tulisan di batu itu yang dipahat dengan keahlian seni yang tinggi.

“Berarti sayalah orang yang pertama ia sampaikan hasil bacaan tersebut sehingga saya adalah orang kedua yang tahu bahwa ada seorang laksamana perempuan untuk Aceh Darussalam selain Keumala Hayati, setelah Taqiyuddin Muhammad yang pertama tahu sebagai penemu bukti sejarah itu karena bisa membacanya,” saya terkesan dengan kenyataan ini karena baru itu kali pertama saya mendengar ada seorang laksamana perempuan di Aceh Darussalam selain Keumala Hayati.

Lalu, saya melanjutkan ke barat untuk memperhatikan semua nisan di sana secara berkelilingan. Saya tidak bertanya apapun pada Taqiyuddin Muhammad tentang apa dan siapa yang dimakamkan di sana walaupun ingin mengetahui mengapa bentuk nisan di sana berbeda. Saya tidak menanyakanya supaya waktunya yang terbatas di sana bisa digunakannya untuk membaca nisan-nisan.

“Bahu-bahu nisan itu sebagian besar seperti menurut budaya India, bubuhan bunga bergaya Arab atau Turki atau Persia,” pikir saya merasakan bahwa gaya Hindu atau Buddha masih menghiasai bagian luar nisan dan bagian dalam yang lebih halus telah mengambil gaya Arab atau Persia atau Turki.

“Walapun ada gaya India (orang-orang menyebutnya gaya Hindu atau Buddha), akan tetapi hati orang Aceh telah bersatu dengan Arab (orang-orang menyebutnya gaya Islam),” pikir saya, mereka-reka filosofi daripada ukiran di nisan-nisan itu. Saya tidak tahu apakah orang lain atau para ahli berpikir seperti itu, akan tetapi saya mengambil kesimpulan begitu dan tidak akan peduli pada pendapat orang karena itu adalah penilaian terhadap sebuah gaya seni, bukan sejarah.

Taqiyuddin Muhammad pun mengambilkan tasnya, lalu menuju kulah (tempat wudhu’), lalu dia sembahyang ‘asar di sebuah balai di didekat makam. Balai dan masjid berada di luar pagar pemakaman Meurah II tersebut. Setelah menunaikan sembahyang ‘asar, ia turun daripda balai itu dan mendekati kami.

"Kita minum kopi di Lambaro,” kata Taqiyuddin Muhammad seraya menghidupkan kendaraan. Saat itulah muncul Khairil dan seorang anggota CISAH lainnya. Mereka datang tepat ketika kami ingin pulang. Kami pun meninggalkan tempat bersemanyam orang-orang yang telah berjasa mengiatkan negeri dan Islam selama hidupnya.

Anak-anak bermain sepak bola di sisi Kumpulan Makam Meurah II, Ulee Tuy, Mata Ie, Aceh Besar. Jumat 12 Desember 2014. Foto: Lodins.
Kami menjauhi pemakaman Meurah II karena senja telah pun datang. Sementara di sana, anak-anak masih bermain sepak bola di landaian tanah di sisi makam di ketinggian bukit kecil yang di bawahnya ada persawahan dan rimbunan perdu-perdu rumbia. Di pematangan sawah, seorang lelaki menghalau dua ekor kambing untuk keluar daripada sawah yang terpagari dan telah ditanami padi.

Saya tidak mengajak Lodins untuk langsung pulang karena ingin bincang-bincang sedikit tentang Makam Meurah II dan pernelitian Taqiyuddin Muhammad seraya minum-minum kopi di kedai atau bincang-bincang di rumah Mizuar. Kami melewati jalanan kampung di antara rumah-rumah penduduk, bentangan persawahan lalu keluar ke jalan utama menuju Lambaro Kafe.

Sesampai di Lambaro Taqiyuddin Muhammad memilih duduk di sebuah kedai yang sepertinya ia telah beberapa kali ke sana. Ternyata di sebuah meja yang terletak di hadapan kami duduk, ada dua orang yang dikenalnya yang kemudian diminta pindah untuk semeja dengan kami. Itu adalah kawan-kawan lamanya, lulusan Timur Tengah.

Mereka berbicara dalam waktu sedikit lama. Kesempatan saya untuk bincang-bincang tentang Meurah II dan penelitiannya hari itu pun hilang. Pembicaraan tersebut membuat saya mual-mual karena berisi tentang belanja kuliah (beasiswa) dan pekerjaan menjadi pegawai pemerintah. Taqiyuddin Muhammad lebih banyak mendengarkan daripada berkata-kata.

“Betapa sabarnya dia mendengarkan pembicaraan orang-orang tentang hal yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan yang dia lakukan dan tidak ada gunanya sama sekali,” kata saya di dalam hati menyadari bahwa Taqiyuddin Muhammad berada di tingkatan lebih tinggi daripada saya tentang seni mendengarkan.

Ketika azan magrib terdengar, kami pun menuju masjid jamik Lambaro untu menunaikan sembahyang magrib. Saya tidak berniat untuk segera pulang karena berpikir mungkin setelah magrib punya kesempatan berbicara sedikit tentang Meurah II dan penelitiannya hari itu. Akan tetapi ketika kami baru saja duduk di sana, datang kawan yang kemudian tajuk pembicaraan tentang hal lain. Kemudian datang pulang seorang pencinta sejarah yang ia banyak bicara pula.

Setelah sekira dua jam, majelis kedai kopi itu pun bubar. Saya mengajak Lodins untuk pulang, tidak mungkin lagi mengikuti Taqiyuddin Muhammad ke Bitai atau kedai Punge di malam itu. Saya harus pulang dan sesegera mungkin menulis tentang perjalanan hari itu. Perjalanan untuk meneliti bukti sejarah adalah bagian terpenting daripada sejarah itu sendiri bahagi orang-orang di masa hadapan.

Demikianlah, saya telah mengambil banyak pelajaran dengan mengikuti filsuf Taqiyuddin Muhammad selama beberapa jam.

Oleh Thayeb Loh Angen, aktivis di Pusat Kebudayaan Aceh – Turki (PuKAT)

Bulan Krueng Punge

Written By Peradaban Dunia on Friday, 12 December 2014 | 01:21


Karya: Thayeb Loh Angen

Bulan di sungai Krueng Punge adalah bayang-bayang
hidupku kedua yang lahir dari kasihmu, Puan.

Sampai masa kunikahkan bulan dengan bintang
dan aku sendiri menikah menjadi sejarah seperti nisan-nisan.
Biarlah itu menghilang sementara aku dan engkau abadi.

Kita akan membawa jalan-jalan bercemara ke peraduan
keturunan akan menentukan masa depan ini
melupakan sekolah-sekolah palsu

Aku menemanimu menenun rajutan waktu
sampai menjadi kenangan orang-orang
bahwa kita pernah membina peradaban
mereka akan melupa akan mengingat
kita akan berangkat.

Fatih Güler Penyair Bisu Turki

Fatih Güler
Ia, lelaki yang tak memiliki kemampuan untuk berbicara, juga tak memiliki pengendalian yang utuh atas sendi-sendi tubuhnya. Ia lelaki cacat, yang hidup dalam kebisuan dan kesunyian. Baginya, tak ada kawan hidup yang lebih mengerti dan membahagiakan kecuali kesunyian itu sendiri, ditengah kebisuan dan kecacatan indera dan tubuhnya.

Meski demikian, ia tak lantas menyerah di hadapan kecamuk dan amuk hidup. Kebisuan bukan alasan untuk tidak bersyukur, berusaha, dan memiliki prestasi. Lelaki itu pun belajar untuk bisa membaca dan menulis, hingga ia mampu menulis beberapa buku kumpulan puisi. Hebatnya, baru-baru ini ia dinobatkan sebagai peraih penghargaan sastra internasional.

Tokoh utama dari kisah patriotik ini adalah seorang pemuda Turki, bernama Fatih Güler. Ia rajin merenung dan menulis, di tengah kesendirian dan kesunyian hidupnya. Tulisan-tulisannya menjelma dalam puisi-puisi yang sarat makna, begitu dalam, indah, juga menyentuh dan menggugah.

Baru-baru ini, Güler didapuk sebagai peraih "Çubuk Medal", sebuah penghargaan sastra bergengsi dan berkelas internasional, yang para calon pemenangnya pun merupakan jajaran sastrawan dan penyair besar dari Turki, Slovakia, Azerbaijan, Albania, China, dan beberapa negara lainnya.

Pasca penobatannya, Jum’at (1/1) Güler diwawancarai oleh kanal televisi Arab MBC I. Saat menjawab pertanyaan pun, Gular menulisnya lewat komputer. "Saya menyambut baik serta mengucapkan terimakasih kepada anda semua. Saya sampaikan salam kehormatan, kemuliaan, dan cinta kepada saudara-saudara saya dalam kemanusiaan di dunia Arab," tulisnya.

Ia lalu melanjutkan, bahwa "sangatlah picik dan mustahil rasanya ketika seorang manusia melarikan diri dari takdir buruk yang telah diberikan Tuhan kepadanya. Selayaknya dia berusaha, untuk bisa merubah takdir tersebut menjadi lebih baik."

Güler sendiri mulai menderita lumpuh dan bisu ketika usianya beranjak lima tahun. Tapi Gular gemar berfikir dan merenung, dan ia tuangkan hasil renungan dan pemikirannya itu lewat bait-bait puisi. Hingga saat ini, khazanah susastra Turki telah menyimpan kurang lebih 135 kumpulan puisi Gular. Banyak dari puisi-puisi Gular yang dibacakan di beberapa kanal televisi dan radio, baik di Turki atau di belahan dunia lainnya.


Sang penyair Güler, yang kini berusia 32 tahun dan dilahirkan di bilangan Kars, Turki, belajar membaca dan menulis secara otodidak, dibantu oleh kedua orang tuanya yang dengan sepenuh hati terus menjaga dan memperhatikannya. Hal ini pulalah yang menjadikan Güler memiliki kepercayaan diri dan kekuatan lebih untuk terus hidup, serta lebih menonjol dari kawan-kawannya.A.Ginanjar Sya’ban

Asal Kabar: http://www.eramuslim.com/berita/dunia-islam/fatih-g-ler-penyair-bisu-turki-itu-meraih-penghargaan-sastra-internasional.htm#.VInV5MnvAqM

Mengenal Jalaluddin As Suyuthi

Written By Peradaban Dunia on Wednesday, 10 December 2014 | 00:08

Oleh Lodins

Di antara berjuta tetes tinta emas para Ulama yang pernah menitik ke lembar zaman

Iman Jalaluddin al Suyuthi Al Mishri as Syafi’i adalah seorang ulama syafi’iyah yang terkenal. Dilahirkan di Asiyuth, Mesir pada tahun 809 H dan wafat di Mesir dalam usia 102 tahun.

Banyak kitab- kitab karangan As-Sayuthi lebih dari 600 buah terdiri dari kitab besar berjilid. Kitab-kitab tersebut mencakup berbagai keagamaan seperti tafsir, hadits, fiqih, ushul fiqih; sejarah, nahwu, sharaf, bayan, ma’ani, targib tarhifa, akhlaq, tasauf, thabaqaad, madaih an nabawiyah dan lain-lain.

Kalau jumlah hari umurnya dibandingkan dengan seluruh pagina kitab-kitab karangannya, mungkin akan terdapat bahwa As Suyuthi telah mengarang 20 pagina sehari, dalam tulisan tangan. Ini adalah suatu ilham dan kekeramatan bagi Imam Jalaluddin as Suyuthi (Wafat: 911 H).

Sebahagian dari kitab-kitab karangan Imam Jalaluddin as Suyuthi, adalah:

A. Tafsir

1. Ad Durul Mantsur fit Tafsir bil Ma’tsur.
2. Seperdua dari Tafsir Jalalain.
3. Majmaul Bahraein Wa Mathla’ul Badrein.
4. Syawahidul Akbar fi Hasyiyah ‘alal Anwar. (Hasyiyah Tafsir Anwarut Tanzil karangan Baidlawi).
5. Mafatihul Gaibi.
6. Mfatihul Afran fi Mubhimatil Qur’ati.
7. Al Iblil fi Istinbathit Tanzil.
8. Lubabun Nuqul fi Asbabin Nuzul.
9. Lubabun Nuqul Fima Waqa’fil Qur’an Minad Mu’arrabi wal Manqul.
10. Majazul Furqaan Ila Majazil Qur’an.
11. Nasikhul Qur’an wa Mansukhihi.
12. Azharul Fatihah alail Fatihah.
13. Al Amaaii alal Qur’an.
14. Syarah al Is’ti’adzah wal Basmallah.
15. Maidanul Fursaan fi Syawahidil Qur’an.
16. Tafsir Al Fatihah.
17. Mizanul Ma’dalah fi Syuyuni (Basmallah).
18. Tarjumah Al Qur’an al Masannad (5 jilid).
19. Hasyiyah Anwarut Tanziil.


B. Hadits

20. Al Jamius Shagir min Ahditsir Basyir wan Na-dzir. Kumpulan Hadits dari seluruh perawi yang diatur menurut abjad.(Kitab tebal dan berjilid-jilid).
21. Tanwirul Halik, Syarah Muwatha’ Imam Malik.
22. Is’aful Mubath-tha’ fi Rijalil Muwatha’ (Menerangkan sanad kitab Muwatha’ Imam Malik).
23. Is’afut Thulab, Mukhtashar Jami’is Shagir.
24. Al Ahaditsul Hasan fi Fadllit Thailasan.
25. Ahaditsul Munifah fi salthanah as Syarifali.
26. Adabul Mufarad
27. Adzkairul Adzikaar fi Mukhitashar Hulliyatul Abrar.
28. Arba’in fi Rafi’il Yadani. (40 adits tentang mengangkat tangan ketika mendo’a).
29. Arba’in fi Jihad. (40 adits tentang jihad fi sabilillah).
30. I’anatul Mustagirts fi Hilli Ba’dli Musykilatil Hadits.
31. Taqribul Qarib fi Hadits.
32. Talkhisll Arba’in.
33. At tausyiih ‘alal Jami’is Shahih al Bukhari.
34. Jam’ul Jawami’. (kumpulan segala kumpulan).
35. Hushulun Nawal fi Ahadittsis Soal.
36. Al Khabrud Dal ala Wujudil Quthub wal Autad wan Nujaba’ wal Abdaal. (Hadits yang menyatakan adanya quthub, Autad, nujaba’, dan Abdaal).
37. Durarul Bihar fi Ahaditsil Qashar.
38. Ad Durarul Muntatsirah fi Ahadits as Shahibah.
39. Syarah al Fiyah al Iraqi.
40. Syarah Hadits Arba’in, karangan Imam Nawawi.
41. ‘Urul Wardi fi Akhbaril Mahdi.
42. ‘Uqudud Zabarjad ‘ala Musnad Imam Ahmad.
43. Qutul Maqtadzi ala Jami’at Tirmidzi.
44. Kasyful Muqtha’
45. Qanzul Maqal fi Sunanil Aqwal wal Af’al.
46. Al Kaukabus Sathi fi Syarah Jamul Jawani’.
47. Al Kaukabul Munir Syarah Jami’us Shagir.
48. Al Aalil Mashnu’ah fi Ahaditsil Maudlu’ah. (hadits-hadits Maudlu’).
49. Al Alil Manitsurah fi Ahadits Mansyurah.
50. Ma Rawahul Asathin fi ‘Adamit Dukhul ‘alas Shalathin.
51. Musnad Shahabat yang wafat di zaman Nabi.
52. Mishbahuz Sujajah ‘ala Sunan Ibnu Majah.
53. Minhajus surunaih wa Miftahul Jannah.
54. Takhrij Ahadits Syarhil Kabir.
55. Hadits Arba’in (4 bab dari 40 hadits; 1. Keutamaan jihad, 2. Keutamaan mengangkat tangan ketika berdo’a, 3. Hadits-hadits riwayat malik, 4. Hadits-hadits pelbagai tujuan).
56. Al Luma’ fima Wadla’.

C. Fiqih

57. Al Ibtihaj fi Musykilil Minhaj. (Syarah Minhajut Thalibin).
58. Adabul Qadli ‘ala Madzhabis Syafi’i (tata cara menjadi ketua pengadiilan menurut madzhab syafi’i).
59. Izh-harl Fidl-dilah ala Syarah Ar Raudlah (Syarah kitab Raudlah karangan imam Nawawi)
60. Al Asybah wan Nazhair.
61. Al Inshaf fi Tamyizil Auqaf.
62. Manasik Haji.
63. As Tsubut fi  Dlabti Alfazhil Qunut.
64. Azz Zahrul Basiim fina Yujauwizu bihi al Hakim. (Wanita-wanita yang boleh dikawinkan oleh Hakim).
65. Al Gundiyah fi Mukhtashar ar Raudlah.
66. Al Kafi fi Zawaidil Muhazdzab.
67. Futhhul Qarib fi Hawasyi Mughnil Labib.
68. Al wafi Syarah kitab Tanbih Abu Ishaq as Syirazi.
69. Al hawi Lil Fatawi. (Fatwa-fatwa agama).

D. Kitab-kitab Thabaqat (Sejarah)

70. Thabaqatul Ushuliyiki. (kumpulan, nama-nama Ahli ushul fiqih).
71. Thabaqatul Mufassiriin. (Nama-nama ahli tafsir).
72. Thabaqatul Bayaniyiin. (Nama-nama ahli bayan).
73. Thabaqat Thaibi’in. (Nama-nama Thabi’in).
74. Thabaqat nahwiyiin. (Nama-nama ahli Nahwu).
75. Thabaqat Sya’ara’. (Nama-nama penyair).
76. Thabaqatul Khath-thatiin. (Nama-nama penulis indah).
77. Thabaqatul Huffazh. (Nama-nama ahli Hadits).
78. Thabaqatul Fuqaha’ as Syafi’i yah. (nama-nama ahli Fiqih Syafi’iyah).
79. Thabaqatul Lagwiyiin wan Nuhaat. (ahli bahasa dan nahwu).

E. Nahwu

80. Al Iqtirah fi Ushulin Nahwu. (pokok-pokok ilmu Nahwu).
81. Al Bahjatul Mudliah. (Syarah al Fiyah Ibnu Malik).
82. Jam’ul jawami.
83. Qatarun. Nida fi Ujuduil Hamzah hi Ibtida.
84. Mashaid al ‘Aliyah fi Qawa’id an Nahwyah.
85. Nukat al afiyah. (Nahwu-Sharaf-Khatih).
86. Al Wafiyah fi Mukhtashar al Alfiyah.
87. Al Asybah wan ‘Nazhair.

F. Sejarah

88. Al Anwarus Saniyah fi Tarikhil Muluk wal Khulafa’ bi Mishra as Sanniyah. (sejarah raja-raja dan khalifah di mesir).
89. Badi’uz Zuhur fi Waqa’id Duhur. (sejarah purbakala).
90. Tarikhul Khulafa’. (sejarah Khalifah-Khalifah).
91. Manaqibul Imam Abu Hanifah. (keutamaan Imam Abu Hanifah).
92. Tufatul Kiram bi Akhbaril Ahram. (sejarah bukit Ahram)
93. Tuhfatul ‘Mudzakhik al Muntakhab mjn tarikh  Ibnu ‘Asakir’ (sejarah yang dipetik dari sejarah Ibnu Asakir).
94. Tarjumah an Nawawi wal bulqini. (sejarah Imam Nawawi dan Imam Bulqini).
95. Tazyiinul Mamalik bi Manaqibil Imam Malik. ( Keutamaan Imam Malik).
96. Tahdzibul Asma. (membetulkan penulisan nama-nama).
97. Husnul Muhadlarah fi Akhbari Mishra wal Qahir.ah (sejarah Mesir dan Kairo).
98. Durrus Shahabah fiman Dakhala Mishra minas Shahabah. (sejarah sahabat-sahabat Nabi yang masuk Mesir).
99. Rahlatul Fayumiya wal Makkiyah wad Dimyathiyah. (perjalanan ke Fayumi, Mekkah, dan Dimyath).
100. Raful Bas’in  Banil abbas (sejarah Bani Abbassiyah).
101. As Symarikh fi limit Tarikh (ilmu sejarah).
102. Minhajus Sawi fi Tarjumah an Nawawi. (sejarah Imam Nawawi)
103. Tarikh Khulafaur Rasyidin (sejarah khali’fah Rasyidin)
104. Nazham Jamul Jawam’ (ushul fiqih).

Demikianlah dari sebagian kecil di antara sekian banyaknya kitab-kitab karangan ulama besar Imam Jalaluddin as Suyuthi. Untuk kisah selengkapnya, sekalian pecinta ilmu pengetahuan bisa membaca kitab “Hidayatul ‘Arifin” karangan Isma’il Basya al Baghdadi, yang tertera pada halaman 534 s/d 544, jilid 1.

Sesungguhnya Imam Jalaluddin as Suyuthi adalah seorang ulama terdahulu yang luar biasa, sulit untuk dipikirkan oleh kita, karena beliau mengarang sampai 600 kitab yang bukan kitab-kitab kecil, tetapi besar-besar dan berjilid-jilid dalam berbagai ilmu.

Inilah cermin masa lalu yang bisa kita ambil dan memakainya kembali. Maka jelaslah bahwa ilmu pengetahuan adalah tanpa batas. Carilah ia dan sandingkan dengan adab dan akhlaq yang mulia. Inilah kunci pembuka gerbang peradaban yang agung.

Bayangkan! Bila hari ini di negeri kita ini ada satu, seratus, atau seribu orang yang berwawasan seperti Jalaluddin as Suyuthi, bersatu untuk membangun negeri tercinta.

Asal Kabar:
K.H. Sirajuddin Abbas (seorang dari keturunan Abbassiyah yang menetap di Padang), Thabaqatus Syafi’iyyah, Jakarta: Pustaka Tarbiyah, 2011.

P Ramlee Lahir di Paloh Pineung Lhokseumawe?

Written By Peradaban Dunia on Sunday, 7 December 2014 | 21:08

Kerabat P Ramlee di Lhokseumawe, Khadijah, 2012. Foto: Lodins
Oleh Fitrizal Adek
Guru Pengajian

Pembicaraan dengan Khadijah, isteri daripada adik kandung P Ramlee di Blang Panyang, Lhokseumawe, 2012.

P Ramlee dilahirkan di Paloh Pineung, Lhokseumawe, Aceh. Semasa masih di Lhokseumawe, ia hidup sebagaimana masyarakat kebanyakan walaupun dilahirkan sebagai seorang bangsawan.

Pada masa remaja, P Ramlee yang suka bersama nelayan pun berlayar ke Pulau Pinang, sebuah pulau yang penghuni terbanyaknya adalah orang Aceh di dekat Semenanjung Melaka (Malaysia).

 “Semenjak beranjak ke pulau Pinang, P Ramlee tidak pernah kembali ziarah ke Aceh. P Ramlee pun punya putra tunggal yang bernama Nasir. Nasir yang menjadi tuan tanah di Malaysia jarang berziarah ke tempat di mana orang tuhanya dilahirkan,” kata Khadijah di rumahnya yang terletak di sisi SPBU Blang Panyang, Lahokseumawe, pada 2012.

Khadijah yang pada tahun 2012 telah berusia lebih daripada 80 tahun adalah isteri daripada Muhammad Ali yang merupakan saudara kandung P Ramlee. Khadijah yang bermukim di gampong Blang Panyang, Lhokseumawe. Dari awal tidak pernah bertatap mata dengan P Ramlee, apalagi mengenalnya.

Muhammad Ali adalah adik kandung dari P. Ramlee. Keduanya bertempat lahir di Paloh Pineung, Lhokseumawe. Khadijah dan Muhammad Ali menetap di Tumpok Dalam, tetangga Paloh Pineung. Namun, setelah Muhammad Ali meninggal dunia, Khadijah yang sudah lanjut usia pun berpindah ke Blang Panyang supaya dekat dengan anak cucunya.

Di masa penjajahan Jepang, Khadijah sudah berusia 20 tahun dalam status sudah berkeluarga dan ia sempat menyaksikan penggalian gua-gua di Cot Panggoi yang terletak di utara mesjid Assa’adah Teungku Chik Di Paloh, Paloh Dayah. Cot Panggoi, salah satu bukti-bukti sejarah sejak Jepang berada di tanah Aceh.

Pengakuan Khadijah ini membuat orang mempertanyakan pernyataan orang Malaysia yang menyebutkan P Ramlee lahir di Pangkal Pinang di Pulau Pinang. Dan harus diperiksa data sejarah arkeologis sejak kapan ada nama tempat Pangkal Pinang itu.

Sebagaimana diketahui, Malaysia baru mengangkat P Ramlee setelah bintang Asia Tenggara asal Aceh tersebut meninggal dunia. Semasa hidupnya, P Ramlee pernah dihujat sehingga tujuannya mengangkat film Melayu ke tingkat yang lebih tinggi terkendala. Karenanya lahirlah lagu “Air mata di Kula Lumpur” beberapa saat sebelum ia meninggal dunia.

Berita Pilihan

Berita Campuran

 
Web Design : Peradaban Dunia Team | Redaksi | About
Copyright © 2011. Peradaban Dunia - All Rights Reserved
www.peradabandunia.com