Di Usia 71 Tahun, Azimar Lahirkan Buku Pertama

Written By Peradaban Dunia on Wednesday, 26 November 2014 | 02:55

Oleh Thayeb Loh Angen
Penulis novel Teuntra Atom ( Terbitan CAJP, tahun 2009) dan novel Aceh 2025 – 1446 H (Terbitan Yatsrib Baru, tahun 2014)

Ini merupakan hal langka, perempuan yang berusia 71 tahun menulis riwayat hidupnya, tepatnya kisah cintanya yang pilu karena suaminya yang hanya sempat 9 tahun bersamanya dan meninggal dalam usia muda karena peristiwa berdarah dan bersejarah.

Tulisan itu dibantu perbaiki oleh jurnalis handal Zainal Arifin M Nur. Buku ini tentang kehidupan seorang dara dan pemuda Aceh yang membina rumah tangga pada masa-masa peralihan dua konflik besar di Aceh, yaitu akhir perang DI TII dan awal meletusnya perang Aceh Merdeka.

Perempuan itu adalah Azimar yang pada tahun 2014 berusia 71 tahun. Dia memulai buku ini dengan kisah tentang awal mula perkenalannya dengan Muchtar Y Hasbi, yang kemudian menjadi Perdana Mentri Aceh Merdeka atau Wakil Hasan Tiro.

Cerita tentang riwayat hidup mereka biarlah dibaca oleh orang di buku tersebut. Di sini saya ingin memperjelaskan mengapa seorang perempuan yang berusia 71 tahun menulis kisah hidupnya. Keinginannya menulis sebuah buku adalah hal terpenting di dalam rangkaian peristiwa terbitnya buku tersebut. Apabila telah banyak buku yang ditulis oleh orang Aceh, maka akan semakin banyak orang Aceh yang suka membaca.

Azimar (kiri) dan Thayeb Loh Angen. Foto: Irfan M Nur.
Alangkah hebatnya apabila banyak orang yang seperti Azimar, mahu menuliskan kisahnya karena kisah pribadi terkait dengan masa di mana orang itu hidup yang dengannya melukiskan zaman tersebut yang akan menjadi ingatan baik bagi generasi mendatang. Orang tuha saja bisa melahirkan buku, bagaimana dengan orang muda.

Tidakkah kita malu apabila belum melahirkan sebuah buku pun? Dari kenyataan Azimar melahirkan buku, saya kian tersadarkan bahwa buku-buku yang kita tulis, sebenarnya untuk diwariskan kepada orang-orang setelah kita sehingga menulislah yang bermanfaat bagi bangsa kita dan siapapun manusia.

Thayeb Loh Angen (kiri) saat acara bedah naskah buku "Perjuangan Janda Mantan PM Aceh Merdeka" karya Azimar dan Co Witer Zainal Arifin M Nur di Banda Aceh, 15 Nopember 2014. Foto: Ariful Azmi Usman.
Di dalam acara bedah naskah sebelum cetak pada 15 Nopember 2014  lalu, saya sempat menanyakan alasan Azimar menulis buku tersebut. Dari jawaban singkat yang diberikannya, buku itu lahir karena cinta dan rindunya kepada suaminya alm dr. Muchtar Y Hasbi. Saya terenyuh. Ternyata cinta telah melahirkan sebuah buku di tangan seorang perempuan berusia 71 tahun.

Beruntunglah kiranya seorang jurnalis handal yang berbaik hati membuat tulisan Azimar menjadi sebuah buku. Apabila saya hanya memiliki sebuah piagam, saya tidak tahu, sebenarnya harus saya berikan kepada siapa, apakah kepada Azimar yang berkeinginan kuat melahirkan sebuah buku tentang kisah cintanya dengan suaminya yang telah meninggal dunia puluhan tahun silam, ataukah kepada Zainal Arifin M Nur yang mati-matian membantu supaya tulisan Azimar menjadi sebuah buku yang menarik dan mudah dibaca yang kemudian diterbitkan. Kedua orang dari dua generasi yang berbeda itu memang hebat. Kehebatan mereka melahirkan sebuah buku yang kiranya menjadi warisan sejarah.

Selamat membaca buku:

Judul: Perjuangan Janda Mantan PM Aceh Merdeka 
- Catatan Azimar (Istri dr. Muchtar Y Hasbi)
Penulis | Azimar
Co Writer & Editor | Zainal Arifin M Nur
Tata Letak | Irfan M Nur
Cover | Jalaluddin Ismail
Copyright ©2014 | Azimar & Zainal Arifin M Nur
Cetakan Pertama | Desember 2014
Penerbit | Bandar Publishing
ISBN | 978-602-1632-36-9

Misteri Lam Raba (1)

Written By Peradaban Dunia on Tuesday, 25 November 2014 | 19:48

Catatan perjalanan menyertai meuseuraya pembersihan makam yang direncanakan oleh Mapesa dan penelitian Taqiyuddin Muhammad dan Deddy Satria, 23 Nopember 2014 di Gampong Lambaro Biluy, dan Lhoknga, Aceh Besar.

Masyarakat membersihkan nisan-nisan Aceh di makam silam gampong Lambaro Biluy, Darul Kamal, Aceh Besar. Di sanalah makam Lam Raba. Foto: suarakomunikasi.com
Ini musim hujan, akan tetapi pagi itu cerah, tidak seperti kemarin. Ada janji saya kepada Mizuar Mahdi bahwa pagi itu akan kuikuti kafilah MAPESA (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh dalam rangka membersihkan makam-makam bernisan Aceh di gampong Lambaro Biluy, Darul Imarah, Aceh Besar. Acara akan dimulai pukul 09:00 pagi.

Petisi Bangkai Kapal Sophie Rickmers Wreck

Sementara pada pukul 8:00 ada acara penandatanganan petisi menolak pengangkatan kargo di bangkai kapal tentara Jerman yang tentukan tempat di lapangan Blang Padang. Karena saya belum tahu itu kargo dan kapal apa, maka saya membuka internet untuk mencari kabaran tentang kapal Sophie Rickmers yang telah lebih setengah abad berdiam di dasar laut Sabang.

Disebutkan bahwa kapal Sophie Rickmers atau Wreck merupakan kapal bermesin uap buatan Jerman 1920 yang karam di Teluk Proa Loat dekat Teluk Sabang pada Perang Dunia II. Tahun 1940, Sophie ditenggelamkan oleh krunya demi mencegah penyitaan oleh tentara yang menjadi musuhnya kala itu. Kapal sepanjang 134 meter ini pun tenggelam bersama seluruh isi kargonya di kedalaman 55 meter.

Rencananya, di sekitar situs kapal Sophie Rickmers nanti, Pemerintah Kota Sabang akan membangun bunker minyak raksasa untuk melayani kapal-kapal besar yang melintas tak jauh dari perairan itu. Proyek ini dimulai dengan peninjauan dan pengangkatan isi kargo kapal seperti yang tertuang dalam surat yang diajukan kepada Menteri Kelautan dan Perikanan.

Saya tahu acara penanda tanganan petisi itu ketika aktivis senior TAF Haikal mengirimkan pesan (SMS) untuk mengahadiri acara tersebut. Ketika menerimanya tadi malam, saya terkejut karena ketidaktahuan tentang benda dan lingkungan yang ingin diselamatkan, dan meminta seorang kawan untuk membaca SMS itu dengan harapan semoga dia mengerti apa saja tentang kapal yang dimaksud. Ternyata tidak. Dan malam itu saya lupa mencari kabar tentangnya di internet sehingga harus mencarinya pagi itu.

Setelah mengetahui tentang kapal Eropa tersebut, selaku aktivis kebudayaan saya sepakat dengan aktivis lingkungan hidup untuk menyelamatkan -kehidupan dan benda purbakala bawah laut- untuk petisi menolak diangkatnya Sophie Rickmers di kedalaman perairan Sabang.

Saya tertegun seraya merasakan bahwa harus menandatangani petisi tersebut. Saya masih ingat pada tahun 2013 tatkala pegiat kebudayaan meminta dukungan banyak organisasi di Aceh melalui forum LSM Aceh –saat itu Asiah Uzia yang bergerak di depan mengajak semua LSM melalui Forum LSM Aceh- dan lainnya untuk menyelamatkan Situs Lamuri supaya tidak dibuat lapangan golf, puluhan organisasi tersebut mendukung hajat itu. TAF Haikal adalah presidium Forum LSM Aceh. Dan alhamdulillah, Situs Lamuri sekarang mulai diketahui orang penting untuk dirawat dan peneliti dari USM Malaysia, USU Medan, dan Unsyiah telah menelitinya secara gabungan ahli.

Saya pun menuju lapangan Blang Padang dan menandatangani petisi penolakan rencana itu. Dan saya menandatangani itu tadi hanya direkam oleh panitia, artinya saya tidak memiliki foto untuk saya siarkan sendiri tentang keikutsertaan dalam acara penyelamatan lingkungan bawah laut dan benda bersejarah tersebut.

Tatkala saya di sana, baru ditandatangani oleh bebepa orang saja alias spanduknya masih putih. Setelah menunggu beberapa saat terlihat dua orang yang saya kenal melintas dan berlalu. Setelah bertahun-tahun di banda Aceh, itu adalah kali pertama saya melihat kegiatan pagi di Blang Padang, ada tentara yang berlatih parade dengan senjata lengkap, ada orang-orang berlari-lari mengelilingi lapangan, ada yang berjualan, dan ada yang terbingung-bingung seperti saya karena tidak ada kawan. Mizuar Mahdi belum pun terhubung. Rencananya, saya mengajaknya untuk ikut menandatangani petisi ini.

Menuju Gampong Lambaro Biluy Darul Kamal

Maka saya pun pulanglah. Setelah sampai di rumah, Mizuar memanggil melalui telepon genggam. Dia baru saja menjemput Deddy Satria yang tinggal sekitar satu kilo meter dari tempat tinggal saya. Karena salah mengerti alamat tempat berjumpa, saya memutar-mutar sekitar satu dua kilo meter (batu). Namun setelah beberapa kali berbicara melelaui telepeon dengan Mizuar, kami pun bertemu.

Mizuar Mahdi adalah pemuda berketurunan Turki penghuni gampong Turki Bitai-Emperom sejak kakek buyutnya. Kakeknya dari pihak ayah adalah seorang panglima perang. Kakeknya dari pihak ibu adalah seorang geuchik di Emperom. Tanah kakek neneknya luas di sana. Ia kini sebatang kara, seluruh kerabat dan sanak saudaranya telah menghilang lenyap disapu smong (tsunami) 26 Desember 2004. Untung dia masih hidup, kalau tidak, maka tidak ada tulisan ini karena saya tidak akan ke Makam Tgk Meurah hari ini.

Mizuar Mahdi membawa arkeolog Deddy Satria menuju tempat meuseuraya membersihkan makam-makam tua. Kami pun mengendarai sepeda motor menuju makam dimaksud. Melintasi jalan-jalan aspal menusuri perkampungan di sekitar Darul Imarah, Aceh Besar. Tikungan-tikungan kecil di persawahan dan semak belukar pun terlewati.

Setelah beberapa puluh menit, sampailah kami di sebuah pemakaman bernisan Aceh, itulah makam Tgk Meurah. Peneliti kebudayaan Islam Asia Tenggara, Taqiyuddin Muhammad, dan rekan-rekan sudah berada di sana telebih dahulu. Sebagian dari mereka mencoba untuk membenarkan letak nisan supaya tulisan yang ada di sana bisa terlihat dengan jelas.

"Oh, ternyata bukan bebukitan sebagaimana disebutkan," seru saya di dalam hati seraya meletakkan kendaraan, lalu menuju tempat pemakaman yang berada di dataran setinggi satu setengah meter daripada jalan, akan tetapi itu bukan bukit. Pemakaman itu berada di tengah-tengah pemukiman, dan telah dibersihkan oleh Mapesa seminggu lalu.

Setelah menyalami orang-orang yang telah lebih dahulu hadir, saya memperhatikan satu persatu nisan yang ada di sana.

 "Nisan ini berukuran kecil, tidaklah setinggi yang disebutkan bahwa nisan Aceh di sini ada yang setinggi orang dewasa. Mizuar pandai juga merayu orang sehingga mahu ke tempat ini," seru saya lagi, masih di dalam hati.

Saya pun teringat percakapan dengan Dr Mehmet Ozay beberapa hari lalu saat kami mengunjungi makam-makam di kampong Pande.

“Kata rekan-rekan bahwa nisan di kumpulan makam Tgk Meurah di Lambaro Biluy Darul Imarah ada yang lebih besar dari pada yang ada di sini,” kataku.

"Tidak, saya sudah ke sana beberapa tahun lalu, nisan-nisan yang berada di sini lebih besar," kata Dr Mehmet Ozay yang merupakan peneliti independen, seorang seosiolog asal Istanbul yang ianya jua pakar bidang Asia Tenggara. Lalu Mehmet Ozay menceritakan banyak tentang Dinasti Mamluk, Seljuk dan Turki Utsmani. Ia menunjukkan beberapa nisan kecil di makam Kampung Pande.

“Itu nisan serupa dengan peninggalan zaman Bani Saljuk Turki, itu di masa sebelum Aceh Darussalam,” Kata Mehmet Ozay. Lamunan saya hari itu seakan masuk ke zaman silam yang disebutkan dan memiliki gambaran tentang ketinggian peradaban manusia kala itu, yang tentu saja dipimpin oleh kebudayaan Islam dan pemerintahannya orang Turki.

Saya pun keluar daripada lamunan dan kembali mendekati –saya tidak dapat bagian untuk menarik nisan itu- handai taulan yang tengah berkerja keras untuk masih mencoba mencabut sebuah nisan yang memiliki berat sekitar seratus kilogram untuk ditanam kembali dengan letak yang benar.

"Beginikah kerja Taqiyuddin Muhammad beserta kawan-kawan selama bertahun-tahun? Benarlah mereka telah menghibahkan hidupnya untuk mencari kebenaran sejarah bangsa ini. Tidak ada dua tiganya," saya pun termenung, tidak bisa berkata apa-apa. Ini bukan bidang saya yang merupakan aktivis di Pusat Kebudayaan Aceh – Turki (PuKAT).

PuKAT tidak meneliti dengan cara seperti ini, organisasi antarabangsa tersebut biasanya membuat musyawarah tentang kebudayaan dalam bentuk seminar, tidak meneliti ke lapangan secara resmi. Namun kami datang ke setiap tempat bersejarah sebagai perbandingan hasil kebudayaan antarabangsa, serta menyiarkan apapun daripada hasil penelitian handai taulan di banyak organisasi kebudayaan.

"Ini adalah sebuah perkara yang tidak diketahui hujung-akhirnya, dan sejatinya kita dipaksa tunduk menyerah kepada takdir, seandainya bahan penting sejarah hanya ada di nisan-nisan seperti ini dan apabila hancur ianya sebelum dibaca dan disiarkan, niscaya orang zaman ini dan setelahnya akan menyakini hal yang bertentangan dengan kenyataan," saya masih tertegun, masygul.

... Bersambung ke bagian II

Oleh Thayeb Loh Angen, aktivis di Pusat Kebudayaan Aceh - Turki (PuKAT).

Murizal Hamzah: Rahasia Tentang Hasan Tiro Ada dalam Buku Setebal 684 Halaman ini

Written By Peradaban Dunia on Friday, 21 November 2014 | 11:58

Banda Aceh - Rasa penasaran tentang Hasan Tiro selama bertahun-tahun telah membuat Murizal Hamzah menulis dan menyelesaikan buku biografi "HASAN TIRO; Jalan Panjang Menuju Damai Aceh".

Jurnalis ini menginginkan supaya pembaca bisa melihat Hasan Tiro dari sisi yang berbeda dikarenakan di dalam buku tersebut terdapat banyak dokumen yang selama ini menjadi rahasia.

Tuduhan deklarator Aceh Merdeka DR Hasan M di Tiro, Ph.D, LL.D melawan Indonesia karena tidak mendapat proyek di PT Arun Blang Lancang Aceh Utara sebagaimana disuarakan selama ini, telah disanggah dalam buku terbaru. Demikian antara lain benang merah yang disimpulkan dari buku biografi HASAN TIRO yang diterbitkan oleh Bandar Publishing (BP).

Direktur Utama BP Mukhlisuddin Ilyas, Jumat (21/11) mengatakan bahwa keliru besar menyatakan Hasan Tiro mendirikan Aceh Merdeka karena tidak mendapat tender di PT Arun. Ia menegaskan dalam buku yang ditulis oleh Murizal Hamzah (wartawan) dengan editor M. Adli Abdullah (sejarawan) dipaparkan bahwa benih perlawanan terhadap rezim Indonesia sudah dilakukan sejak 1960-an.

"Bahkan di buku Atjeh bak Mata Donja yang terbit 1968, Hasan Tiro secara terbuka menyatakan Aceh adalah sebuah negara yang berdaulat. Ada fakftor utama dan faktor pemulus sehingga Hasan Tiro mendirikan ASNLF. Alasan Wali Negara mendirikan Aceh Merdeka dibahas di buku sederhana ini dilengkapi foto dan dokumen," kata Mukhlisuddin singkat.

Direktur Utama BP itu menambahkan di buku ini juga ditampilkan salinan surat yang dikirim oleh Hasan Tiro kepada Perdana Menteri Mr. Ali Sastrowidjojo. Ini pesan surat itu sudah lazim kita ketahui yakni meminta Indonesia menyelesaikan perlawanan DI/TII di Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi dan lain-lain di meja perundingan. Hasan Tiro mengetik rapi surat sepanjang tiga halaman tersebut. Hasan Tiro juga mengirim tembusan surat itu kepada Presiden Sukarno. Ini dokumen terbaru yang jarang diungkapkan.

“Ternyata surat terbuka dari Hasan Tiro ini disajikan di halaman pertama harian terbitan Jakarta dan ini dimuat di buku setebal 684 halaman,” ajak Mukhlisuddin.

Buku yang terdiri dari tiga bab ini diawali dari kepulangan Hasan Tiro ke Aceh pada Oktober 2008 dan meninggal dunia pada Juni 2010 (2015 genap 5 tahun Hasan Tiro wafat). kemudian bab 2 mengulas masa kecil Hasan Tiro hingga menikah dengan Dora di Amerika. Terakhir, bab 3 berkaitan dengan Pergulatan GAM, melatih AGAM di Libya hingga anggota GAM yang tidak syahid walaupun diserbu bertubi-tubi dengan senjata panjang. Unsur-unsur mistik GAM menarik dikupas termasuk dijelaskan biaya perang di Aceh yang miliara per hari pada era Darurat Militer.

"Abu Doto (Gubernur Aceh dr. H. Zaini Abdullah) dalam sambutannya menulis bahwa buku ini adalah biografi pertama tentang Wali," kutip Mukhlisuddin.

Sebelum mencetak buku bersampul Hasan Tiro bersama tentara AGAM di Libya, BP telah menerbitkan buku Hasan Tiro, The Unfinished Story of Aceh yang beredar pada Juli 2010 (44 hari wafatnya Hasan Tiro) dan buku Aceh di Mata Dunia yang beredar pada 2013 dan 2014. Sedangkan buku terbaru ini diperkirakan dapat dibaca sebelum 4 Desember 2014 dengan mengirim email pesan ke hasantiro@cakradonya.com.

“Info dari percetakan, Minggu ini buku biografi Wali sedang dijahit, Insya Allah awal Desember ini sudah di tangan pembaca,” ingat Mukhlisidin optimis.

Sebagaimana diketahui, buku tersebut telah bisa dipesan sebelum 24 desember 2014. Silakan pesan Buku Biografi Hasan Tiro; Jalan Panjang Menuju Damai Aceh.

"Ini buku biografi Wali yang pertama” (Sambutan Gubernur Aceh dr. H. Zaini Abdullah)

Tebal : 684 halaman
Sampul : Hard cover
Kertas : bookpaper

Benarkah Dr. Tengku Hasan M. di Tiro, BS., MA.,Ph.D,.LLD mendirikan Aceh Merdeka karena gagal mendapat proyek di PT. Arun? Mengapa perjuangan ini bisa bertahan selama lebih 30 tahun?

Penulis : Murizal Hamzah
Editor : M. Adli Abdullah
Penerbit : Bandar Publishing
Cover & Lay Out : aSOKA Communication

Pastikan Anda yang pertama membaca dokumen-dokumen tentang Hasan Tiro yang jarang dipublikasikan

Harga pre order: Rp 350.000 (Belum termasuk ongkos kirim)
Ke nomor rekerning :
BCA = 0430815580 /
A/n : Muhammad Tanzil Maulana
BRI = 3339 01 026124 53 7
A/n : Muhammad Tanzil Maulana
Bukti tranfer difoto/scan serta nama dan alamat pengirim diemail
ke <hasantiro@cakradonya.com>

Limited edition ini tidak beredar di toko buku. Buku dikirim ke pemesan pada awal Desember 2014.
Buku akan dikirim dengan pos dari Jakarta.pd

PuKAT Bincang Rencana Kebudayaan dengan Badan Kajian Melayu dan Turki

Written By Peradaban Dunia on Saturday, 15 November 2014 | 22:37

Penasehat Badan Kajian Melayu dan Turki yang merupakan Penasehat Sosio-Budaya Kerajaan Malaysia yang juga Presiden Universiti Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM), Tan Sri Dr Rais Yatim (kanan) berbincang dengan pengurus Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT) Thayeb Loh Angen di ruang VIP Bandar Udara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang . Foto: Aldi Yukihiro.
Banda Aceh - Aktivis dari organisasi antarabangsa Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT) berbincang dengan Badan Kajian Melayu dan Turki tentang usaha mengangkat kembali sejarah kebudayaan Islam di Asia Tenggara yang terhubung dengan Turki Utsmani.

Penasehat Badan Kajian Melayu dan Turki yang juga Penasehat Sosio-Budaya Kerajaan Malaysia, Tan Sri Dr Rais Yatim, menjelaskan bahwa pihaknya tengah merencanakan sebuah kegiatan berterusan dalam bidang menguatkan kembali pengaruh kebudayaan Islam di Asia Tenggara.

“Kita akan melibatkan ahli-ahli daripada universitas di Aceh, Sumatera, dan sekitarnya, organisasi kebudayaan antarabangsa seperti PuKAT memiliki peran dalam membuat rencana tersebut berlangsung dengan baik,” kata Tan Sri Dr Rais Yatim yang juga merupakan pejabat Presiden Universiti Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM), di ruang VIP Bandar Udara Sultan Iskandar Muda Blang Bintang, Aceh, Sabtu 15 Nopember 2014.

Menanggapi hal tersebut, pengurus PuKAT, Thayeb Loh Angen yang didampingi Aldi Yukihiro, mengatakan bahwa pihaknya akan menanggapi rencana Badan Kajian Melayu dan Turki. Namun, kata Thayeb, PuKAT akan mempertimbangkan apakah akan melibatkan diri secara langsung ataupun tidak, tergantung keadaan nantinya.

“Ini adalah rencana yang mulia, dan PuKAT memiliki kegiatan sendiri secara berkala dan terus menerus. Kita akan membantu apa saja baik langsung mahupun tidak langsung di sela-sela kegiatan yang telah dirancang untuk beberapa tahun ke depan,” kata Thayeb yang akan meluncurkan novelnya Aceh 2025 dalam waktu dekat.

Selain bincang perencanaan dengan Badan Kajian Melayu dan Turki, pada 19 dan 22 Nopember 2014, PuKAT membuat acara di Aceh Community Center (ACC) Sultan II Selim Banda Aceh.

“19 Nopember kita meluncurkan buku “Kesultanan Aceh dan Turki” karya Dr Mehmet Ozay, pada 22 Nopember ini kita memutar film dokumentari tentang maestro seni P Ramlee,” kata Thayeb.pd

22 Nop 2014, Aceh Kenang Sang Maestro P Ramlee

Written By Peradaban Dunia on Friday, 14 November 2014 | 22:19


Banda Aceh - Organisasi antar bangsa Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT) membuat sebuah acara Kenang Rindu untuk P Ramlee yang bertajuk "P Ramlee: Anak Aceh Bintang Asia Tenggara". Acara ini diperbuat di Aceh Community (ACC) Sultan II Selim Banda Aceh pada Sabtu 22 Nopember 2014 pukul 10:45 Waktu Aceh.

Tajuk acara tersebut sebagaimana tajuk film dokumentari yang diputar di permulaan acara. Film ini dibuat di Malaysia oleh Mehmet Ozay, seorang sosiolog Islam dari Istanbul, Turki, yang merupakan pakar tentang perkembangan Asia Tenggara. Acara tersebut untuk mengenang akan jasa P Ramlee yang telah mengangkat seni Melayu dikenal di dunia.

P Ramlee adalah seniman besar Asia Tenggara yang berkarya di Tumasek (Singapura) dan Semenanjung (Malaysia). Ianya ialah putera Aceh yang lahir di Pulau Pinang pada dekade awal abad 20. Karya-karyanya dalam bentuk film dan lagu telah melegenda yang akan terus dinikmati oleh orang-orang sepanjang zaman.

Seniman-seniman di Asia Tenggara bisa belajar darinya bagaimana seharusnya sebuah karya dilahirkan serta mempersembahkan seluruh hidup untuk menghasilkan karya terbaik. Aceh yang merupakan orang-orang yang sedarah dengan P Ramlee sudah sepatutnya menjadikan P Ramlee sebagai tauladan dalam berkarya.

"P Ramlee telah memberi pengaruh banyak dalam mengangkat nama Malaysia di dunia antar bangsa. Kita ingin bagaimana orang Aceh bisa mengambil kegunaan dari semangat berkarya dari sang legenda P Ramlee," kata Mehmet Ozay yang baru-baru ini film dokumentarinya tentang P Ramlee disiarkan oleh sebuah stasiun televisi negara Turki.

Setelah pemutaran film, acara dilanjutkan dengan bincang-bincang tentang P Ramlee bersama Mehmet Ozay dan seorang pakar musik jazz Indonesia asal Aceh, Moritza Thaher. Sekolah Musik Moritza disebutkan akan menyanyikan beberapa lagu P Ramlee di dalam acara ini.

"P Ramlee adalah maestro musik dunia," kata Moritza Thaher di dalam sebuah bincang-bincang dengan aktivis kebudayaan.

Siaran Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT),
Thayeb Loh Angen

Istanbul, Tahta Islam Warisan Kerajaan Bizantium

Written By Peradaban Dunia on Wednesday, 12 November 2014 | 02:38

Gereja Ayasofya warisan Bizantium dan Mesjid Sultanahmed warisan Islam di Istanbul, Turki. Gambar: Ariful Azmi Usman
Gereja Ayasofya warisan Bizantium dan Mesjid Sultanahmed warisan Islam di Istanbul, Turki. Gambar: Ariful Azmi Usman

Abu Qubail menuturkan dari Abdullah bin Amr bin Ash, “Suatu ketika kami sedang menulis di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau ditanya, “Mana yang terkalahkan lebih dahulu, Konstantinopel atau Romawi?” Beliau menjawab, “Kota Heraklius-lah yang akan terkalahkan lebih dulu.” (H.R. Ahmad, ad-Darimi, al-Hakim)
“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (H.R. Ahmad bin Hanbal al-Musnad 4/335)

Hadis di atas merupakan salah satu motivasi umat Islam dalam merebut Konstantinopel. Letak Istanbul sangat strategis, karena itu Napoleon Bonaparte pernah menggambarkan,”Jika di dunia hanya terdapat satu negara, maka ibukotanya adalah Istanbul”. Selain penghubung Asia dan Eropa, kota ini sejak dulu menjadi pusat peradaban dan kebudayaan. Istanbul terpilih menjadi Ibokota Kebudayaan Eropa hingga tahun 2010 dan terdaftar dalam salah satu daftar warisan pusaka dunia UNESCO sejak tahun 1985. (wikipedia)

Istanbul merupakan kota dengan kepadatan penduduk terbesar ketiga di Eropa. Sebagai pusat kebudayaan dan finansial negara Turki. Kota ini terletak di barat daya wilayah Marmara di tepi bagian selatan selat Bosporus yang menghubungkan benua Asia dan Eropa. Bagian barat Istanbul adalah Eropa sedangkan Bagian Timur Istanbul masuk wilayah Asia. Luasnya sekitar 1536 kilometer persegi.

Dalam perjalanan sejarahnya, kota ini menjadi ibukota dari beberapa imperium besar, kerajaan Romawi (330-395 M), Byzantium (395-1204 M dan 1261-1453 M), kerajaan Latin (1204-1261 M) dan terakhir Turki Usmani tahun 1453-1922 M. (wikipedia)

Istanbul Sebelum Islam

Sejarah Konstantinopel dimulai pada abad ke-empat masehi. Kekuasaan Imperium Romawi Kuno berkembang dengan pesat. Konstantinus Yang Agung merasa kota Roma sudah tidak layak untuk menjadi ibukota. Akhirnya ia memilih daerah yang sekarang bernama Istanbul sebagai ibukota baru kerajaan Romawi.

Ia membangun benteng dan memperluas kota Konstantinopel. Kaisar Konstantinus Yang Agung membangun gedung pemerintahan, rumah-rumah ibadah, istana, dan pemandian umum. Kemudian pada tahun 330 M, Kaisar Konstantinus secara resmi menetapkan Konstantinopel sebagai ibukotanya. Konstantinopel berarti Kota Kaisar Konstantinus. Penerusnya, Kaisar Konstantinus II melanjutkan pembangunan. Ia mengembangkan dan memperindah kota dengan membangun saluran air dan monumen.

Pada tahun 395 masehi, kerajaan Romawi akhirnya dibagi menjadi dua wilayah, Romawi Barat dan Romawi Timur. Romawi Barat runtuh pada abad kelima masehi, sedangkan Romawi Timur mampu bertahan selama seribu tahun.

Sejarawan modern memilih Byzantium untuk menyebut Romawi Timur. Tujuannya untuk membedakan dengan Romawi Barat. Agama Nasrani awalnya berkembang pada masa Byzantium. Segala bentuk upacara keagamaan mengikuti tradisi Kristiani. Sedangkan hukum dan peraturan pemerintahan diadopsi dari Roma.

Pada pertengahan abad kelima masehi, Kaisar Theodosius memperluas kota Konstantinopel. Ia mengitari kota dengan membangun sebuah benteng yang megah. Panjang benteng mencapai 6492 meter. Satu abad kemudian, kerajaan Byzantium mencapai puncak kejayaannya di bawah Kaisar Justinian.

Masa-masa keemasan telah dilalui kerajaan Byzantium. Kota Konstantinopel berhiaskan monumen dan gereja. Keadaan ini mengundang hasrat dari bangsa Persia dan Arab untuk merebut Konstantinopel. Beberapa serangan dari Persia mampu dipatahkan oleh Byzantium. Namun antara tahun 726 hingga 842 M, keluarga kerajaan saling berebut kekuasaan. Gereja dituduh menjadi dalang dibalik segala keributan. Akibatnya pemerintah melarang segala jenis bentuk peribadatan. Hampir semua simbol keagamaan seperti patung dan lukisan dihancurkan. Setelah itu, tahta kerajaan dengan mudah berpindah tangan dari raja satu ke raja lain.

Akibat krisis intern kerajaan, Byzantium tidak mampu bertahan ketika Kerajaan Latin menduduki Konstantinopel tahun 1204 M. Tentara Latin berisi prajurit dari angkatan perang pada Perang Salib keempat. Selama 57 tahun tentara Latin merampok biara, monumen dan gereja yang ada di Konstantinopel. Baru pada tahun 1561 M pihak kerajaan mampu mengambil kendali Konstantinopel. (istanbul.gov.tr)

Penaklukan Istanbul

Usaha-usaha penaklukan Konstantinopel telah dilakukan umat Islam sejak masa sahabat. Upaya pertama dilakukan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan pada tahun 668 M, namun gagal dan salah satu sahabat Rasulullah SAW yaitu Abu Ayyub al-Anshari ra. gugur. Sebelumnya Abu Ayyub sempat berwasiat jika ia wafat meminta dimakamkan di titik terjauh yang bisa dicapai oleh kaum muslim. Dan para sahabatnya berhasil menyelinap dan memakamkan beliau persis di sisi tembok benteng Konstantinopel di wilayah Golden Horn. (Syalabi, 1998: 16)

Generasi berikutnya, baik dari Bani Umayyah dan Bani Abbasiyyah hingga Turki Utsmani pada masa pemerintahan Murad II juga gagal menaklukkan Byzantium. Salah satu peperangan Murad II di wilayah Balkan adalah melawan Vlad Dracul, seorang tokoh Perang Salib yang bengis dan sadis. Selama 800 tahun kegagalan selalu terjadi, hingga anak Sultan Murad II yaitu Muhammad II naik tahta Turki Utsmani. Muhammad al-Fatih menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453 M. (Hitti, 1970: 905-906). Sejak saat itu sultan Muhammad mengganti nama Konstantinopel menjadi Istanbul, artinya “Tahta Islam”. Ia juga memindahkan ibukota kerajaan ke daerah baru tersebut. Sebelumnya ibukota Kerajaan Usmani adalah Adrianopel. Sebuah kota dari negara Asia yang terletak di wilayah Eropa (Maryam, 2003:131)

Sejarah menyebutkan tidak pernah ada pembantaian terhadap penduduk Konstantinopel. Bahkan, pemerintahan Islam Usmani bekerja sama dengan umat Kristen untuk kembali membangun perekonomian, menjalin persahabatan dengan Yunani. Dinasti Usmani juga terus mengepakkan sayap kekuasaannya ke wilayah Mesir, Arabia, dan Syiria. Yang tak kalah pentingnya, kerajaan Usmani menyebarkan ajaran Islam hingga ke kawasan Balkan. (www.yunusnews.com.)

Seiring dengan menancapnya dominasi Islam, wajah bekas kota Konstantinopel itu pun berganti rupa. Bangunan masjid bermunculan, namun tetap dengan corak arsitektur Bizantum yang khas.
Guna menambah jumlah penduduk Muslim di Istanbul, umat Islam yang tinggal di Anatolia dan Rumelia dianjurkan untuk bermigrasi ke Istanbul. Akhir 1457, penduduk Edirne migrasi besar-besaran ke Istanbul. Pada 1459, kota terbesar di Eropa itu dibagi menjadi empat wilayah administratif.


Perkembangan Peradaban Islam

Penaklukkan Konstantinopel merupakan jalan mulus bagi Muhammad al-Fatih untuk membuka pintu perluasan ke Eropa. Dari sinilah zaman baru bagi Turki Usmani dimulai. Era keemasan Turki Usmani terjadi pada masa pemerintahan Sulaiman I (1520-1574) dan Salim II (1566-1574). Raksaa baru ini berdiri mengangkang di Bosporus, satu kakinya di Asia dan kaki lainnya di Eropa. Penguasa Turki merasa bahwa ialah pewaris kekaisaran Byzantium.

Sebagai ibukota,di sinilah tempat berkembangnya kebudayaan Turki yang merupakan perpaduan bermacam-macam kebudayaan. Bangsa Turji Usmani mengambil ajaran etika dan politik dari bangsa Persia. Sebagai bangsa yang berasal dari Asia Tengah, Turki memang mudah berasimilasi dengan bangsa lain. Dalam bidang pemerintahan dan kemiliteran, Turki mengambil dari kebudayaan Byzantium. Sedangkan dalam bidang keagamaan, ilmu, prinsip-prinsip kemasyarakatan dan hukum mereka berguru kepada bangsa Arab. Hingga akhirnya huruf Arab menjadi huruf resmi kerajaan. (Yatim, 2001: 288)

Sebagai sebuah kota besar pada zamannya, di Istanbul berdiri berbagai sarana dan prasarana publik. Tak kurang ada 81 masjid besar serta 52 masjid berukuran sedang di kota itu. Untuk mendidik para generasi muda, tersedia 55 madrasah, tujuh asrama besar untuk mempelajari Al-Qur’an.

Semasa Sulaiman I memimpin, ia membangun banyak masjid di Istanbul. ia juga membangun sekolah, rumah sakit, pemandian, dan saluran air. Sebanyak 235 buah bangunan berdiri pada masanya.

Fasilitas sosial pun bermunculan, tak kurang lima takiyah atau tempat memberi makan fakir miskin berdiri. Tiga rumah sakit disediakan untuk mengobati penduduk kota. Tujuh buah jembatan juga dibangun untuk memperlancar arus transportasi. Guna menunjukkan kejayaannya, kerajaan Usmani membangun 33 istana dan 18 unit pesanggrahan. (Syalabi, 1998: 25)

Selain itu, 33 tempat pemandian umum juga telah disediakan di berbagai penjuru kota. Untuk menyimpan benda-benda bersejarah, pemerintah Usmani pun menyediakan lima museum (Yatim, 2001: 106). Kemakmuran muncul karena adanya kedamaian pada penduduknya, simbol dari kemakmuran sebuah bangsa adalah peninggalan yang berfungsi memenuhi kebutuhan tersier manusia, sebagai bukti untuk masa depan.

Pada 14 Juli 1509, Istanbul sempat diguncang gempa bumi dahsyat atau yang dikenal sebagai ‘kiamat kecil’. Ribuan bangunan yang awalnya berdiri kokoh akhirnya luluh lantak. Mulai 1510 M, Sultan Bayezid bahu membahu membangun kembali kota Istanbul selama 80 tahun. Hingga akhirnya, kota Istanbul kembali tampil megah dan gagah.

Masyarakat Istanbul sangat heterogen. Kesultanan Usmani membentuk reaya yang terorganisasi menjadi sejumlah komunitas kecil. Sudut pandang Usmani menekankan kelancaran urusan pendidikan, pembayaran zakat, pengadilan dan sedeqah.

Dalam bidang pendidikan, Sultan Sulaiman I mendirikan beberapa universitas di Istanbul. Pada akhir abad 15, beberapa perguruan tinggi dalam sebuah hirarki yang menentukan jenjang karir bagi ulama-ulama besar. Madrasah diorganisir menurut fungsi dan tingkat pendidikan yang diajarkan. Madrasah tingkat rendah mengajarkan nahwu, sharaf, mantiq, teologi, astronomi, geometri dan retorika. Perguruan Tinggi mengajarkan hukum dan teologi. (Maryam, 2003: 137)

Pada mulanya, perkembangan kehidupan keagamaan di Istanbul hanya di bidang Tarekat. Kajian kajian ilmu keagamaan seperti Fiqh, Kalam dan Hadis tidak mengalami perubahan berarti. Para penguasa cenderung menegakkan satu paham keagamaan dan menekan paham lain. Kitab al-Hushun al-Hamidiyah menunjukkan Sultan Abdul Hamid II ingin mempertahankan Asyariyah dari kritikan lawan. Ulama hanya diperbolehkan menulis syarah dan hassiyah terhadap kitab-kitab klasik. Akibatnya, ijtihad pada masa itu tidak bisa berkembang (Yatim, 2001: 137).

Pada tahun 1727 M pada masa Ibrahim Muteferika -seorang ilmuwan terkemuka- membuka percetakan di Istanbul. Sebagai respon terhadap fatwa dari Syekh al-Islam kerajaan. Buku-buku selain al-Quran, Hadits, Fikih, ilmu Kalam dan Tafsir juga mulai diperbolehkan untuk dicetak. Sejak itulah, buku-buku tentang kedokteran, astronomi, ilmu pasti, sejarah, dan lainnya dicetak. Apalagi mulai 1727 M sudah mulai berdiri badan penerjemah.

Berbeda dengan Umayyah, Abbasiyah dan Andalusia, penekanan pembangunan pada masa Daulah Usmani lebih berkonsentrasi pada pertahanan dan armada perang. Fungsinya untuk memperluas wilayah kekuasaan. Sementara perkembangan ilmu pengetahuan kurang mendapat prioritas.

Aya Sophia

Bangunan Aya Sophia didedikasikan oleh Kaisar Kostantinus II (337-361) pada tahun 360. Aya Sophia dirancang oleh Isidorus dan Anthemus. Arsitekturnya mengikuti model bangunan lengkung Romawi Klasik. Pada saat itu Aya Sophia lebih dikenal dengan gereja Theodosius. Lebih seratus tahun berikutnya, tepatnya tahun 532 gereja Theodosius dihancurkan, dan secara besar-besaran, atas perintah Raja Justinianus I (527-565 M) kembali dibangun. Raja Justinianus I mendatangkan arsitek dari seluruh dunia ke Konstantinopel untuk pembangunannya. Bahan-bahan bangunan juga didatangkan dari berbagai negara seperti Syria, Mesir dan Anatholia beserta corak arsiteknya. Gereja kembali dibuka tanggal 27 Desember 537 setelah memakan waktu selama 5 tahun, 10 bulan dan 24 hari. (commongroundnews.org)

Setelah Konstantinopel berpindah ke tangan kerajaan Islam, maka Sultan Muhammad II merobah Aya Sophia menjadi masjid. Shalat Jum’at pertama dilakukan pada tanggal 1 Juni 1453. Selanjutnya Sultan ini selalu melakukan shalat Jum’at di Masjid ini, sekaligus untuk memelihara bangunannya. Sultan Muhammad II juga mendirikaan masjid yang semegah Aya Sophia. Semasa kepemimpinan Sultan Mahmud (1750-1754). Masjid direhab oleh arsitek Hoja Sinan yang tidak menyukai corak bangunan barat. Sebuah bangunan masjid yang indah penuh dengan kaligrafi di dalamnya serta berbagai keramik dengan corak yang menarik dipandang mata. Tak heran, jika pengaruh Bizantium ikut mewarnai gaya arsitektur Islam di Turki. Kemegahan bangunan Gereja Aya Sophia banyak mewarnai arsitektur masjid di Istanbul. (Maryam, 2003: 137)

Bentuk dan corak Aya Sophia menjadi inspirasi bagi kemajuan arsitektur. Bentuk bangunannya yang lengkung dan khas Romawi Klasik dijadikan acuan untuk membuat bangunan lain. Beberapa arsitek kemudian merancang fitur seperti kubah tunggal yang besar, menara yang tinggi menjulang, dan tiang besar yang menyangga ruang tengah istana. Hal tersebut dapat dilihat pada masjid Sultan Muhammad II, masjid Abu Ayyub al-Anshari, masjid Sulaiman al-Qanuni dan masjid Bayazid. (Maryam, 2003: 137)

Kehidupan Keagamaan

Agama dalam tradisi masyarakat Istanbul mempunyai peranan besar dalam lapangan sosial politik. Masyarakat digolongkan berdasarkan agama. Kerajaan sangat terikat kepada syariat. Fatwa ulama menjadi hukum yang berlaku. Dalam bidang pemerintahan, sultan-sultan Usmani menempatkan Mufti atau Syaikhul Islam di Istanbul sebagai wakil sultan dalam mengurusi bidang agama. Mufti berwenang memberi fatwa resmi terhadap problema keagamaan yang dihadapi masyarkat. Tanpa legitiasi seorang mufti, keputusan hukum kerajaan tidak bisa berjalan. Sedangkan untuk urusan non-keagamaan, ditunjuklah seorang Shadrul Adham (Yatim, 2001: 137).

Para Sultan menyadari kebesaran Turki Usmani tidak bisa lepas dari peran Tarekat Bektasy. Ahmad Yasawi (w. 562/1167) mendirikan Yasawiyyah di Turki. Tarekat ini berpengaruh di Turkestan Barat, dan dari tarekat induk itu lahir tarekat Bektasyiyyah, yang dikembangkan oleh Hajji Bektasy (w. 1338). Ia berkembang di Anatolia. Ketika ibukota Turki Usmani pindah ke Istanbul, pusat gerakan Tarekat Bektasy juga pindah. Hal ini dikarenakan sebagian besar prajurit elit Jenissari menganut mazhab ini. Sebuah sumber mengkategorikan Bektasy sebagai tarekat pengikut Syiah (van Bruinessen: 89-92). Tarekat lain yang berkembang adalah Maulawi. Bedanya, tarekat Maulawi mendapat dukungan dari kaum sipil dan penguasa. (Yatim, 2001: 137)

Secara umum, kedua tarekat ini mengajarkan keyakinan bahwa tasawuf mampu mengantarkan manusia berkomunikasi langsung dengan Tuhan. Ajaran lainnya adalah tentang berkah, syafaat, karamah dan ziarah kubur. Tarekat ini banyak dianut karena berfungsi mempertautkan batin manusia dengan Tuhan. Selain itu, tasawuf yang diajarkan oleh tarekat ini bersikap sangat toleran terhadap keyakinan dan praktek keagamaan lokal. Sikap ini sangat menarik mereka yang baru saja masuk Islam dan setengah Islam. (Lapidus: 444-445)

Sikap di atas pernah ditunjukkan oleh Sultan Muhammad II, ia melakukan penataan hal ihwal orang Kristen Yunani yang tinggal di Istanbul. Dalam penataan tersebut, sultan Muhammad II memberikan bebas pajak kepada gereja. Sultan sebagai orang Islam menghormati keyakinan orang lain. Hal yang sama juga berlaku bagi agama Yahudi. Setiap agama mempunyai komunitasnya sendiri yang disebut millet. Sultan memberikan kebebasan umat Kristen untuk memilih patriach. Setelah patriach terpilih, Sultan secara langsung melantiknya dengan memberikan tongkat dan memasukkan cincin ke jarinya.
Istanbul adalah ibukota Turki di Eropa, kota ini lebih terkenal dari ibukota Turki di Asia, Ankara. 

Sebagaimana Jakarta, Istanbul merupakan gambaran keanekaragaman orang Turki. Di sana terdapat peninggalan-peninggalan yang menunjukkan proses pencarian identitas dari bangsa Turki. Sebuah bangsa yang semula hanyalah suku-suku kecil nomaden. Mereka memeluk Islam dan menjadi prajurit–prajurit kerajaan Abbasiyah. Hingga kemudian menguasai tiga benua (Asia, Afrika dan Eropa) selama tiga abad dari tahun 1453 M sampai abad 18 M. (Hitti, 1970: 914)

Saat ini, cara berpikir orang Turki dalam bidang keagamaan terbelah menjadi dua bagian. Bagian barat dan bagian Timur. Gerakan Keislaman di Turki bagian Barat berpusat di Ankara dan Istanbul, sedangkan di bagian Timur berpusat di Kahramannaraz dan Mardin. Mayoritas penduduk Istanbul bermazhab Hanafi. (Abdullah, 1996: 188)

Di Istanbul terdapat dua kelompok pemikiran yang mewakili kehidupan keagamaan di Turki, yaitu 
Kelompok Tarekat dan Kelompok Fundamentalis

Tarekat Naqsyabandiyah adalah kelompok yang basisnya sebagian besar di wilayah Anatolia. Pengikut tarekat ini kebanyakan taat kepada syeikh yang akhirnya membentuk perkumpulan politik. Hingga saat ini, golongan Naqsyabandi mempunyai hubungan yang erat dengan pemerintah dan partai politik.

Kelompok Fundamentalis ini tidak mengidentifikasi dirinya dengan kelompok tertentu. Mereka lebih suka bila disebut Muslim saja. Meskipun pada kenyataannya dalam kehidupan keagamaan mengikuti mazhab Hanafi. Sebagaimana kelompok Tarekat, kelompok ini ingin mengembalikan Islam seperti zaman sahabat (Abdullah, 1996:185).

Pandangan umat Islam Indonesia terhadap muslim Turki hingga saat ini masih miring. Hal itu merupakan efek dari sekularisasi yang dilakukan oleh Kemal Attaturk. Dalam pandangan kita, sekularisasi selalu bermakna negatif. Kenyataannya itu sudah berlangsung pada masa lalu (tahun 1930-an). Sejak dasawarsa 1980-an, perkembangan Islam di Istanbul, atau Turki pada umumnya sampai sekarang sudah banyak berubah. Kerinduan akan nuansa agamis pemuda-pemuda Turki sudah mendapat perhatian dari pemerintah.

Asal Kabar: http://sejarah.kompasiana.com/2010/05/30/istanbul-tahta-islam-warisan-kerajaan-bizantium-153394.html

Oleh Ajib PurnawanPendidik Sejarah

Perahu P Ramlee

Written By Peradaban Dunia on Sunday, 9 November 2014 | 08:10

P Ramlee dan perahu di dalam film pertamanya 'Chinta'. Foto: sgfilmhunter.files.wordpress.com

Karangan Thayeb Loh Angen

Perahu menghalau engkau ke Pulau
Nelayan perantau, tidak pernah kembali.
Hanyalah nyanyianmu pulang
menumpang sayup angin laut
membangkit rindu Sumatera.

Perahu itu tidak pernah pulang
ke pantai Lhokseumawe.
Namun nyanyi-nyanyianmu
berlabuh kembali di hati kami,

Engkaulah bintang
setelah Hamzah Fansuri
di gulita seni Asia Tenggara.

Banda Aceh, 9 Nopember 2014.


Aceh di Mata Mehmet Ozay

Written By Peradaban Dunia on Friday, 7 November 2014 | 01:00


Saya bertemu dengan Mehmet Ozay untuk pertama kali pada akhir tahun 2009. Saat itu saya masih berkerja pada surat kabar Harian Aceh. Mehmet Ozay menanyakan beberapa hal tentang sejarah Aceh dan barang apa saja tindakan orang Aceh terhadapnya, itu mengejutkanku.

Saya mengambil sejarah Mehmet Ozay ini untuk orang Aceh yang tidak sempat membaca buku "Kesultanan Aceh dan Turki - Antara Fakta dan Legenda" tahu bagaimana seorang sosiolog asal Istanbul, Turki memandang Aceh. Ini pun saya maksudkan sebagai perbandingan bagaimana kafilah Turki di masa Sultan Selim II yang dikirim ke Bandar Aceh Darussalam untuk tidak pernah kembali lagi ke Turki sampai akhir hayat mereka.

Saya harus menjelaskan kepada sekalian orang Aceh bahwa orang Turki tersebut, datang ke Aceh dengan pengorbanan yang besar dengan meninggalkan keluarga, handai taulan dan masa-masa indah mereka di negeri yang besar. Bayangkan saja apabila seseorang atau beberapa orang dikirim ke negeri yang jauh di seberang samudera raya tanpa diharapkan untuk kembali.

Ditambah lagi, sebagian besar daripada orang Turki yang dikirim tersebut akhirnya terlibat langsung dalam perang melawan Portugis di perairan Selat Melaka atas nama Aceh Darussalam, bukan atas nama Turki.

Di dalam bukunya yang berjudul "Kesultanan Aceh dan Turki - Antara Fakta dan Legenda" Mehmet Ozay menuliskan tentang citra Aceh dalam pikirannya tatkala pertama kali menginjakkan kakinya di tanah Aceh saat itu.

Mehmet Ozay menerangkan bahwa tsunami bukanlah peristiwa pertama yang menyadarkannya mengenai keberadaan Aceh di muka bumi ini, tidak sama halnya dengan kebanyakan orang Turki lain yang bahkan tidak pernah mendengar sebuah wilayah bernama Aceh. Dalam ingatan Mehmet Ozay, Aceh adalah 'Serambi Mekkah'.

Ketika masih belajar di bangku SMP, Mehmet Ozay pernah berpartisipasi dalam sebuah jurnal bulanan berskala nasional di Turki yang berjudul 'Islam'. Jurnal ini terbit sebagai buah dari upaya, dorongan dan kontribusi besar dari al-marhum Prof. Dr. Muhammed Esad Coşan. Setiap bulan selalu ada berita yang menginformasikan tentang kondisi dunia Islam, termasuk dan terutama daerah konflik bersenjata seperti Aceh, Patani, dan Mindanao di Asia Tenggara dan wilayah lainnya dalam dunia Islam.

Selain beberapa berita yang dikumpulkan dari kantor kantor media, juga ada beberapa liputan wawancara dengan Tgk. Dr. Hasan di Tiro yang diterbitkan pada bulan September 1984. Selain itu, Mehmet Ozay ingat persis ada dua buku tentang Aceh yang diterbitkan di Istanbul. Salah satu di antaranya adalah sebuah terjemahan singkat sejarah Aceh berjudul "Ace Sumatera Dosyası"; dan satunya lagi adalah terjemahan dari The Price of Freedom: Diari Tgk. Hasan Mohamad di Tiro yang belum Selesai. Oleh karena itu Mehmet Ozay bersyukur ketika dirinya tiba di Aceh, meskipun tidak banyak, dia memiliki pengetahuan tentang latar belakang dan kondisi di Aceh.

Meskipun dampak tsunami terhebat memukul wilayah Aceh, bagian paling utara pulau Sumatra, lembaga-lembaga internasional terlambat menyentuh kenyataan di sini. Indikasi sebab Aceh kehilangan kontak dengan dunia luar adalah dikarenakan konflik. Kekurangan pengetahuan tentang Aceh juga dialami oleh Turki. Awalnya, masyarakat Turki mengetahui bencana tsunami di Pulau Maladewa di mana beberapa pesepak bola Turki sedang menghabiskan masa liburannya dan beberapa destinasi pariwisata sebagaiamana yang terlihat di layar televisi.

Beberapa waktu kemudian, Aceh muncul penuh dengan kenyataannya! Di sisi lain, ada kalangan di Turki yang memiliki sejarah pribadi dengan Aceh menulis beberapa hal esensial mengenai Aceh. Salah satunya adalah Coşkun Aral yang mengeluarkan sebuah karya berjudul ‘Açeli Türkler’ pada tanggal 31 Desember 2004. Tulisan ini dimuat dalam Sabah, sebuah koran harian. Coşkun Aral mengingatkan pembaca-pembaca Turki ikatan sejarah dengan Aceh yang berkembang pada pertengahan abad ke-16.

Coşkun Aral turut memperkaya ulasannya dengan simbol bendera Aceh-bulan sabit dan bintang didampingi dua garis di atas dan bawah-, sebuah foto makam Sultan Iskandar Muda dan makam-makam penting lain yang berdekatan dengan sebuah persawahan.

Mehmet Ozay memiliki kesempatan berjumpa dengan Coşkun Aral di Aceh, salah satu gambar mesjid di Bitai hasil rekaman fotografer internasional berkebangsaan Turki tersebut pun menghiasi lapik belakang buku Mehmet Ozay "Kesultanan Aceh dan Turki - Antara Fakta dan Legenda" tersebut.

Saya hanya mengutip sedikit saja tentang Mehmet Ozay masa pertama ke Aceh dan pengetahuannya tentang Aceh jauh tahun sebelum ia ke daratan utara Sumatera ini. Tentang pengabdiannya untuk Aceh selama di Sumatera dan Semenanjung, yang merupakan sebuah sejarah besar bagi hubungan Aceh dengan Turki di zaman ini yang terhubung dangan masa silam, biarlah dibaca sendiri oleh sekalian orang di dalam bukunya tersebut.


Oleh Thayeb Loh Angen
Catatan:
Sebagian besar tentang Mehmet Ozay di atas merupakan kutipan daripada buku "Kesultanan Aceh dan Turki - Antara Fakta dan Legenda" karya Mehmet Ozay, Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT). Buku tersebut diluncurkan pada 19 Nopember 2014 di Aceh Community Sultan II Selim, Banda Aceh.

Novel Aceh 2025 - 1446 H

Written By Peradaban Dunia on Wednesday, 5 November 2014 | 04:43


Teruntuk sekalian handai taulan

Insyaallah, pada Nopember 2014, buku ACEH 2025 (1446 H), akan diluncurkan pertama kali di Banda Aceh.

Judul Buku         : Aceh 2025 - 1446 H
Penulis               : Thayeb Loh Angen
Pemeriksa Cerita: Zahraini ZA
Seni Letak Halaman: Zulham Yusuf
Seni Lapik           : Jalaluddin Ismail
Tebal Buku         : 336 halaman
Jenis                  : Fiksi (Novel)
Genre                : Masa hadapan (Futuristik)
Lama Penulisan  : 2010-2014
Percetakan        : Bali
Cetakan 1 (Bahasa Melayu-Sumatera/Jawi): Nopember 2014
Penerbit             : Yatsrib Baru

RINGKASAN cerita di dalam buku:

Keadaan Aceh sekitar tahun 2025 Masehi (1446 Hijriah) yang sudah maju dan lebih beradab. Bandar (kota) besar di Aceh ada 6 yang dibangun menurut jarak antar wilayah.

KOTA dan NEGARA yang menjadi tempat (setting) di dalam cerita:
Aceh, Male (Maladewa), Venesia (Italia), Istanbul (Turki), Silicon Valley dan New York (Amerika Serikat), Hadramaut (Yaman), Mumbay/Bombay (India).

PERISTIWA bencana di dalam cerita:


Air bah dari laut (smong/tsunami) menghancurkan pesisir Aceh Utara bagian Barat dan Kota Lhokseumawe sekitar tahun 2020
Badai raya pada 2025, merusak Male, menghancurkan Amsterdam, dan London.

PERISTIWA BESAR di dalam cerita: Revolusi pada 2020 di Banda Aceh

TOKOH Utama: Tuanku Ben Suren dan Cut Benti Surenia.

TEKNOLOGI di dalam cerita yang dibuat (diproduksi) di Aceh:

pesawat kecil untuk anak-anak tanpa bahan bakar yang bisa terbang setakat lewat pucuk kelapa tertinggi,
mesin pemecah badai (angin laknat),
jembatan antara Banda Aceh - Sabang - Pulo Aceh,
Kereta rel listrik - jalan tanpa hambatan (tol) dengan tiga lajur, yakni dari Banda Aceh - Lhokseumawe - Medan / dari Banda Aceh - Meulaboh/Nagan - Barus/Singkil / Lhokseumawe - Takengon - Meulaboh/Nagan,
dan lain-lain.,

HARGA JUAL Buku: Rp 45,000. (Empat Puluh Lima Ribu Rupiah)

CARA PESAN: Kirimkan (transfer) pembayaran seharga Rp 45,000.  (Empat Puluh Lima Ribu Rupiah) ke:

No. Rekening        : 0037-01-006140-53-4
Bank                     : BRI Banda Aceh
Atas Nama            : Thayeb Loh Angen 

Kemudian kirimkan bukti pembayaran Anda ke email: thayeb.zs@gmail.com

Buku akan diserahkan pada hari peluncuran pertama di Banda Aceh. Bagi Anda yang tidak sempat hadir dan bertempat tinggal di luar Banda Aceh, akan dikirimkan ke tempat (ongkos kirim ditanggung oleh pemesan).

Selamat datang di masa hadapan!

Wassalam

Tertanda:
Penulis

Thayeb Loh Angen
Banda Aceh

Gigiku Rusak, Peri Gigi Tidak Kunjung Jua

Written By Peradaban Dunia on Monday, 3 November 2014 | 20:23

Secuil Kisah Thayeb Loh Angen di Masa Kecilnya

Kota Budaya Paloh Dayah, Aceh, Sumatera.

Ini terjadi pada masa usiaku masih sekolah Madarasah Ibtidaiyah (MI) dan bukanlah di Paloh Dayah, akan tetapi di sebuah rumah di Ujong Rimba, kerumunan perumahan buruh prusahaan gas. Tatkala itu saya masih pun menjadi seorang murid di Dayah Nurul Muhtadie Paloh.

Lagi-lagi itu bukan di Paloh Dayah, akan tetapi dayah tersebut berada di lingkungan Mesjid Attaqwa Paloh, Paloh Meuria, Aceh Utara (kini masuk ke dalam wilayah kota Lhokseumawe). Dayah itu didirikan oleh Tgk H Muhammad Thaib bin Mahmud, seorang tokoh penting di wilayah mukim Paloh.

Di sana saya merupakan salah seorang murid yang patuh dan rajin sehingga sering mendapatkan juara kelas di tahun-tahun awal saya menjadi murid di sana. Sebahagian besar daripada kami adalah remaja tanggung yang baharu akil baligh, beberapa orang telah menjadi pemuda. Hanyalah saya seorang diri yang pada masa itu belum pun sampai lima belas tahun, masih anak ingusan.

Karenanya pula saya lebih disayangi oleh guru dan kawan-kawan yang lebih tuha disebabkan saya suka membantu mereka membaca kitab-kitab jawi yang kami pelajari –tatkala itu saya baharu kelas tajziyah, kelas sebelum kelas satu- yang belum mempelajari kitab Arab akan tetapi kitab berbahasa Jawi (Melayu Pasai).

Bulan maulid adalah bulan kegembiraan bagi kami karena di sela acara belajar ada liburan memenuhi undangan daripada meunasah-meunasah atau rumah orang-orang di sekitar. Saya termasuk salah seorang anggota penzikir maulid, untuk meramaikan sahaja karena saya tidak bisa menjadi radat (pemimpin bacaan).

Pada bulan maulid itu kami mendapatkan akan undangan daripada salah seorang kawan daripada pengurus mesjid yang merupakan seorang buruh perusahaan gas PT Arun, yang suka pada acara agama. Saya tidak tahu siapa nama orang itu. Yang saya tahu adalah Ujong Rimba, nama tempat dia tinggal karena di dalam salam pembuka disebutkan begini:

Assalamu’alaikum saleuem kamoe bri
Keu ayah ngon ummi di Ujong Rimba.
Saleuem kamoe bri hajat neu sambot
Bek nebri rhet u luwa tika.

Begitulah barzanji dimulai sampai beberapa buah syair yang dibacakan secara berjama’ah dengan dipimpin oleh saatu dua orang radat. Ada yang dibacakan seraya duduk dan ada yang disampaikan seraya berdiri. Apabila telah disampaikan secara berdiri maka itu pertanda bahawa zikir barzanji akan segera habis. Semuanya diiringi dengan leungiek (tarian kepala). Begitulah kebiasaan kami dalam seni yang bernafaskan Islam yang kami yakini mendapatkan fahala dengan menjalaninya.

Bertamu ke rumah buruh perusahaan gas itu adalah hal baharu bahagi sahaya tatkala itu yang merupakan anak seorang petani miskin. Pertama kali menginjakkan lantai rumah itu, saya merasa asing, ruangan berlapiskan permadani disejuki oleh pengatur suhu udara. “Wangi dan sejuk” seru saya dalam hati. Tentu sahaja beberapa daripada kami telah terbiasa dengan keadaan itu karena mereka berasal daripada keluarga hartawan.

Setelah acara pembacaan barzanji selesai, tibalah pada acara makan-makan. Yang pertama sekali dihidangkan adalah kuwih-kuwih terbaik. Pemilik rumah menghidangkan aneka kuwih dan minuman halal untuk kami yang menurutnya tamu terbanggakan, anak-anak yang belajar agama. Sebagaimana handai taulan lainnnya, saya pun mulai mengambil akan sepotong kuwih itu dan memakannya dengan lahap.

Namun, begitu menggigit sepotong roti kering, gusi di gerahang saya yang berlubang terasa sakit bukan alang-kepalang. Saya ingin menangis sesedu-sedunya, akan tetapi saya batalkan rencana menangis itu karena takut akan dinilai memalukan oleh sekalian orang di sana. Tadi, saya tidak sehati-hati biasanya tatkala memakan nasi dan lauknya karena mengira roti adalah makanan lunak yang tidak akan menyakitkan gusi yang giginya telah pun berlubang. Saya salah.

Dan akibat daripada kesalahan tersebut, niscaya sepanjang hari itu saya menahan sakit di gusi. Perjalanan memenuhi undangan maulid di rumah orang kaya pun menjadi bencana kecil, alih-alih hal yang diharapkan. Saya tidak menceritakan hal itu kepada siapapun sampai saya menuliskan ini untukmu, sekedar untuk diketahui dan berbahagi pengalaman di waktu kecil yang akan terus saya ingat. Betapa lucunya cara berpikir anak kecil.

Kawan-kawan dekatku di masa itu kadang bersenda,

"Mattayeb (panggilan akrab untuk saya oleh kawan-kawan masa kecil yang saya tidak suka apabila itu disebutkan oleh orang yang bukan daripada Paloh Dayah atau bukan kawan masa kecil di sekitarnya), igoe kah kagantoe keudeh, ka preh uroe makmeugang, kagantoe ngon igoe leumo.”

(Mattayeb, gantilah sahaja gigimu, tunggulah hari meugang, kamu ganti gigimu dengan gigi lembu). Lalu, kami pun tertawa setiap setelah itu disebutkan karena semua mereka menyebut itu untuk bercanda.

Ibu saya, Cut Zubaidah binti Teuku Juhan, yang sampai usianya sekira tujuh puluh tahun masihlah mempunyai gigi sehat yang sanggup mengunyah pinang, sesekali

"Ata ate kuyue afai doa ubat igoe meusidroe keuh han katem, meutai-tai kuyue, hana ka tem meusidroe pih.”

(Salahmu sendiri, saya sudah berkali-kali bahkan setengah memaksa kalian supaya menghafal doa untuk kesehatan gigi akan tetapi tidak ada seorang pun dari kalian yang mahu menghafalnya). Maka bahagi sekalian orang yang masih diberikan akan gigi yang sehat, bersyukurlah akan Allah Ta’ala.

Sampai kini, hampir seluruh gigi saya rusak, namun, berdasarkan banyak pengalaman, maka saya amat sangat hati-hati mengunyak makanan, bahkan sayur atau roti lunak sekalipun tidak bisa saya kunyah dengan mudah. Selalu sahaja lidah saya harus menghidarkan akan makanan dari lubang-lubang di gusi. Dan segera setelah memakan sesuatu, saya harus berkumur-kumur dan mencungkil apa saja sisa makanan di lubang gusi. Itu cara saya supaya tidak kesakitan amat sangat karena gusi yang tidak sehat. Cara itu saya temukan sendiri karena apabila sedikit saja ada sisa makanan di lubang gusi, maka dijamin saya segera kesakitan, bahkan akan memarlah wajahku.

Dahulu saya berpikir, tidak apa-apa apabila rusaknya gigi, bukankah bisa digantikan dengan gigi buatan (palsu)? Lagi-lagi saya salah. Gigi palsu bukanlah gigi kita. Tidak ada yang sesempurna pemberian Tuhan. Apabila ada nikmat Allah yang terlalu cepat dicabut daripada saya, maka itulah nikmat adanya gigi.

Saya tidak iri pada orang-orang yang memiliki gigi sehat karena salah saya sendiri yang amat sangat malas membersihkan gigi dengan sikat dan terlalu banyak makan dan minum yang berasa manis, bahkan sampai sekarang.

Dan, terbukti bahwa peri gigi itu tidak pernah ada di dunia ini, apabila ada, maka dia sudah pun datang menjumpaiku untuk memberikan akan daku seluruh gigiku yang telah menghilang dimakan ringkeh (ulat atau bakteri pemakan gigi dalam istilah Aceh). Hanya bahagian hadapan gigi bawahku yang masih bagus karena bahagian itu yang sering kubersihkan dengan sikat dan pasta.

Oleh karena itu, apabila ada di antara handai taulan yang mengajak akan daku untuk bertanding demi menentukan gigi siapakah yang paling tajam dan kuat, maka sesungguhnya saya tidak berani, saya tidak punya gigi sekuat kalian. Saya tidak berani unjuk gigi, gigiku sudah lama rusak dan peri gigi tidak kunjung datang untuk menggantikannya.

Oleh Thayeb Loh Angen

Diplomasi Aceh

Written By Peradaban Dunia on Saturday, 1 November 2014 | 19:26

Sahari Ayah Gani

SEJARAH mencatat dengan tinta emas reputasi dan kiprah Kerajaan Islam Aceh Darussalam dalam diplomasi internasional pada abad 16-17 lalu. Sultan Iskandar Muda pada masa itu telah menjalin hubungan politik, ekonomi, dan budaya dengan beberapa kekuatan adidaya dunia seperti, seperti Inggris, Amerika, Belanda, Prancis, Portugis, dan Arab. Tercatat nama-nama, Abdul Hamid, Mir Hasan (misi ke Belanda), Habib Abdurrahman misi ke Turki (kemudian berpihak ke Belanda), dan Panglima Tibang misi ke Malaya, yang sekian lama dicap pengkhianat oleh orang Aceh. Padahal Tibang justeru dikhianati oleh penerjemahnya Arifin yang berasal dari Muko-Muko, Bengkulu, yang membocorkan lobi Tibang dengan konsul Amerika di Penang kepada pihak Belanda. Mereka adalah diplomat kawakan Kesultanan Aceh Darussalam pada masa itu.

Fenomena di atas, menyadarkan kita betapa ratusan tahun silam penguasa Aceh telah memiliki kesadaran dan pemahaman yang cukup baik tentang konsep, visi dan arti strategis hubungan internasional. Pakar sejarah Winfred Cantwell menyebut Kesultanan Aceh pada masa itu, telah masuk dalam kelompok lima besar kerajaan Islam dunia, bersama Ottoman, Maroko, Isfahan, dan Mogul. Suatu success story yang mengagumkan, piawai berkomunikasi, dan berinteraksi dengan berbagai bangsa di dunia. Ironi, jika generasi Aceh Baru kini di era kecanggihan teknologi komunikasi yang menisbikan faktor jarak dan waktu tidak mampu melanjutkankan dengan lebih baik.

Kisah lain diplomasi Aceh yakni pada 8 November 1883, seorang raja di belahan barat Aceh, Teuku Imeum Muda Teunom yang layak ditabalkan sebagai diplomat ulung. Saat itu, sebuah kapal milik Inggris bernama Nisero yang mengangkut gula dari Surabaya (Jawa Timur) ke kota pelabuhan Marseille di Perancis, terdampar di sekitar perairan laut di Teunom, dekat Panga, Aceh Jaya. Kapal beserta seluruh awaknya kemudian disandera oleh penguasa Teunom untuk political bargaining dengan Belanda. Awak kapal yang terdiri dari 19 warga multinasional, 10 Inggris, 2 Belanda, 2 Jerman, 2 Norwegia, 2 Italia dan 1 Amerika.

 Krisis diplomatik
Peristiwa itu kemudian menjadi isu panas politik dalam negeri Inggris di Westminster gedung parlemen Inggris. Dalam hubungan luar negeri berujung pada krisis diplomatik (diplomatic crisis) antara Inggris dan Belanda, dua kekuatan global masa itu. Inggris menuding Belanda tidak becus menjaga keamanan perairan di wilayah kekuasaannya. Kisah ini kemudian dituang dalam sebuah buku best seller bertajuk The Wreck of Nisero oleh William Bradley seorang mualim III Nisero. Kini, setelah 300 tahun lebih sejak kasus itu, buku tersebut menjadi literatur sejarah klasik di museum-museum Eropa.

Raja Teunom minta tebusan kepada Belanda, kendati Teunom telah mengakui kedaulatan Belanda dalam perjanjian Korte Verklaring. Namun Raja Teunom menjadikan Kapal Nisero sebagai bargaining chip (alat negosiasi) andalan strategi diplomasi untuk menekan Belanda. Sasaran sebenarnya adalah untuk memaksa Belanda menghentikan gangguan armada lautnya yang menghalangi akses ekspor lada Teunom, yang saat itu merupakan komoditi ekspor unggulan dan menjadi sumber utama devisa kerajaan Tunom.

Sebelumnya Teunom bebas menjual ladanya secara langsung kepada importir luar negeri, namun kemudian dipaksa Belanda harus melalui perantaranya. Menghadapi kemarahan Inggris, penguasa tertinggi Belanda, Gubernur Laging Tobias secara rahasia mengirim pasukan militer yang terdiri dari orang-orang Aceh yang telah bersahabat dengan Belanda, di antaranya Teuku Umar yang telah menyatakan takluk kepada Belanda.

Paul Van Teer, menyebut Teuku Umar dimanfaatkan Inggris untuk memimpin operasi militer pembebasan sandera. Bersama pasukannya Teuku Umar diangkut kapal Belanda bernama Bengkulen. Selama pelayaran ia diperlakukan sangat tidak hormat seperti seorang kuli, harus tidur di geladak kapal, dimaki oleh kelasi Belanda yang sedang mabuk. Teuku Umar sangat tersinggung, tipikal orang Aceh terhormat ketika diremehkan oleh Belanda. Ia medendam selama di kapal Belanda itu.

Begitu Teuku Umar dengan pasukannya didaratkan dengan sebuah sekoci di pantai Panga, seketika seluruh awak kapal di sekoci itu dibunuhnya. Selanjutnya Teuku Umar dan pasukannya bergabung dengan rakyat Teunom menghadapi tentara Inggris dan Belanda. Benang merah yang ingin digais-bawahi dari peristiwa di atas, ukanlah soal penyandeaan, tetapi ingin menggambarkan kepiawaian diplomasi penguasa Aceh masa silam, agar menjadi cermin bagi penguasa Aceh hari.

Pemerintah Aceh hari ini perlu lebih inovatif dan progresif lagi melakukan ekspansi dan ekstensifikasi diplomasi dengan dunia internasional. Selama ini kesan yang muncul adalah pola-pola penanganan diplomasi masih sangat konvensional. Lebih didominasi kunjungan rombongan pejabat eksekutif ataupun legislatif bergantian ke luar negeri, menjajakan potensi dan peluang investasi Aceh. Namun kita tidak tahu bagaimana realisasi konkret selanjutnya setelah itu, kecuali sederetan MoU di berbagai sektor.

Seharusnya yang diprioritaskan adalah kesinambungan berjangka panjang. Misalnya dalam wujud aliansi strategis (strategic linkeage), khususnya di bidang ekonomi, politik dan kultural.

Semestinya perlu dikembangkan adalah multytrack diplomacy (diplomasi multijalur) yang melibatkan berbagai stakeholder terkait seperti pelaku UKM, Kadin, HIPPMI dan asosiasi usaha lainnya. Selama ini anggota delegasi Aceh ke luar negeri lebih banyak terdiri dari pejabat pemerintah dan kadangkala turut disertai isteri.

 Perlu meniru Mahathir
Perlu meniru Mahathir Mohammad, setiap kunjungannya ke luar negeri, ia selalu membawa para pengusaha Malaysia dalam jumlah besar untuk negosiasi dagang secara langsung dengan mitra di luar negeri. Upaya ini juga akan memperkaya wawasan internasional para pebisnis Malaysia. Pemerintah perlu meniru pola Mahathir, sehingga program agenda aksi outreach Aceh untuk go international bergerak secara simultan. Dengan demikian prestasi historis di bidang diplomasi generasi Aceh terdahulu berlanjut ke depan.

Sudah saatnya pemerintah Aceh menggarap bidang ini secara terencana dan konsepsional. Basis legalitas telah dituangkan dalam butir-butir MoU Helsinki yang memberikan Aceh akses luas berkiprah di dunia internasional. Perlu lebih dioptimalkan penguatan postur diplomasi Aceh ke mancanegara. Langkah-langkah berikut mungkin perlu dilakukan: Pertama, unit kerja Biro Kerjasama Luar Negeri sudah harus dibentuk. Sangat mengherankan di era globalisasi, urusan luar negeri masih disubordinasikan secara ad hoc pada level staf ahli gubernur. Padahal di level kabupaten dan kota unit semacam ini harus eksis.

Kedua, para pejabat dan staf terkait tupoksi perlu dibekali pengetahuan seluk beluk hubungan internasional, utamanya tentang ekonomi internasional, isu-isu strategis ekonomi pada tingkat bilateral; regional; dan multilateral; hukum perdagangan internasional serta komunikasi internasional. Ketiga, perlu dibuka kantor perwakilan (representative office) Aceh di sentra-sentra pusaran bisnis dan keuangan internasional di mancanegara. Kantor ini laiknya berfungsi sebagai “kedutaan besar Aceh” dan cukup dilayani oleh 2-3 orang profesional yang memiliki kompetensi hubungan internasional. Kantor ini melayani informasi cepat saji tentang berbagai potensi Aceh di bidang ekonomi, peluang investasi, regulasi dan destinasi wisata.

Bagi pelaku eksportir di Aceh, kantor ini juga berfungsi sebagai sumber informasi tentang perkembangan pasar di manca negara, komoditi atau produk apa yang sedang diminati pasar. Di samping fungsinya sebagai unit promosi, kantor ini bisa meng-counter publikasi isu-isu negatif oleh media luar negeri, yang dapat merusak citra iklim usaha Aceh di mata internasional. Langkah ini merupakan urgensi di era gobalisasi, khususnya mempersiapkan aparatur daerah yang memiliki mindset internasional, terutama menyongsong Pasar Bebas ASEAN (AFTA) 2015. Aceh secara geografis dan geoekonomi bersentuhan langsung dalam pusaran ekonomi ASEAN. Abai dan tidak acuh atas berbagai dinamika internasional hari ini, alamat Aceh ketinggalan kereta. Jadi tunggu apa lagi?

Oleh Sahari Ayah Gani, Alumnus S2 Hubungan Internasional American University, London, dan Mantan Staf Multilateral Kedutaan Besar RI di London, Inggris. Saat ini menjadi Dosen tamu pengasuh mata kuliah Politik Internasional, FISIP Unsyiah Banda Aceh. Email: ayieganissy02@gmail.com


Asal Kabar: http://aceh.tribunnews.com/2014/06/19/diplomasi-aceh

Memaknai Aktivisme Kebudayaan di Aceh dan Sumatera


Perjuangan ini kita jalankan sampai nafas terakhir berhembus. Pesta kemenangan hanya bersifat sementara, sebab esok pagi ada lagi pembaharuan. Dunia tidak akan berakhir, hanya kita yang terhenti secara jasad, pikiran dan warisan senantiasa berada selama-lama.
 Sejak bangsa bajak laut Belanda menyerang Aceh pada 26 Maret 1873 peradaban Aceh telah pun runtuh sehingga satu per satu dahan-dahan kebudayaan patah berderak dihempas badai pemaksaan ideologi terbelakang yang dibawa oleh penjajah yang biadab. Di masa ini aktivisme kebudayaan di Aceh muncul setelah berakhirnya perang antara GAM dan RI pada 15 Agustus 2005.
Mengeluh, mengumpat, menghujat, dan membenci peristiwa itu tidak akan ada gunanya karena tidak akan ada satu curak pakaian Aceh pun terpakai kembali dengannya, tidak akan ada satu curak pemikiran daripada peradaban Aceh pun yang diilhami karenanya, tidak akan ada bentuk dan hiasan rumah Aceh yang tergunakan lagi dengannya, dan lain sebagainya.
Memberikan tauladan seraya meneru-nyerukan kegiatan menghidupkan kembali semua sisi kebudayaan adalah satu-satunya cara yang bisa ditempuh di zaman yang benda telah dijadikan tujuan hidup sebagai pengganti Tuhan. Maka orang Aceh dan Sumatera sebaiknya kembali memakai budayanya di dalam semua segi kehidupan ini serta menjadikan Allah Ta’ala –atau Tuhan menurut agama masing-masing- sebagai Tuhan kembali.
Aktivisme kebudayaan yang kita tindakkan dan serukan di Aceh dan Sumatera adalah berbeda dengan yang dibuat di dunia Barat seperti Kanada. Mereka semata menentang kapitalime, akan tetapi kita mengembalikan Aceh dan Sumatera kepada peradaban dan sejarahnya, mengembalikannya akan kemanusiawian dan jalan Tuhan. Kita mengembalikan pemikiran dan peradaban orang Aceh dan Sumatera kepada keadaan di mana ianya pernah berperadaban tinggi dan gemilang.
Maka daripada itu, walaupun istilah yang kita pakai kadang disebut serupa, akan tetapi kita pertegas bahawa aktivisme kebudayaan di Aceh dan Sumatera adalah berdiri sendiri dengan ideologinya sendiri sebagai orang timur di Asia Tenggara. Aceh dan Sumatera yang dimaksudkan di sini adalah orang-orang yang menempati sebuah wilayah bumi dengan keberagaman suku dan budayanya.
Secara istilah, kata ‘aktivisme’ kita maknai sebagai ‘sebuah paham yang menghadapankan peradaban sebagai acuan’, dan kata ‘aktivis’ kita maknai sebagai ‘pejuang’. Maka daripada itu, aktivisme kebudayaan adalah sebuah paham yang menjadi benteng daripada peradaban Aceh dan Sumatera. Dan, aktivis kebudayaan adalah orang-orang yang memperjuangkan Aceh dan Sumatera supaya memakai hal yang sesuai dengan dirinya tatkala berperadaban tinggi dengan membawa kembali budayanya sepanjang zaman.
Aktivis terbagi ke dalam empat jenis, yaitu:
1. Aktivis idealis. Orang jenis ini hanya melakukan sesuatu yang sesuai dengan buah pikiran diri dan organisasinya serta akan mempertahankan sikap tersebut dalam keadaan bagaimanapun.
 2. Aktivis setengah hati. Orang ini akan mengikuti jalan idealism diri dan organisasinya sejauh itu memberikan keuntungan bagi dirinya sendiri. Orang jenis ini tidak bisa diandalkan walaupun masih bisa diterima dan tidak mengganggu.
 3. Aktivis percubaan. Orang ini masih pada tingkatan mencuba mengenali kegiatan diri dan organisasi yang ia cuba bergabung. Dia akan menjadi aktivis idealis atawa aktivis setengah hati, akan tetapi tidak mungkin menjadi pengacau.
4. Aktivis pengacau. Orang ini tidak menyukai sama sekali apa yang diperjuangkan oleh diri dan organisasi yang ia susupi. Dia hanya berniat mengacaukannya. Orang ini terkadang bersikap lebih idealis daripada aktivis idealis sekalipun. Orang jenis ini terkadang sengaja dikirim oleh pihak tertentu sebagai pengacau. Namun, dia hanya bisa menipu orang yang awam, akan tetapi ianya akan runtuh apabila menghadapi aktivis idealis yang memiliki strategi.
Apapun yang kita lakukan sebaiknya dilengkapi dengan pengetahuan yang cukup dan apabila belum ada niscaya kita tambahkan pengetahuan diri kita dengan belajar kepada orang-orang yang ahli serta mahu berpikir bersebab kita adalah hamba miskin lagi fakir daripada ilmu pengetahuan. Hanya apa yang dihadiahkan oleh Allah Ta’alalah yang ada di dalam diri kita ini.
Thayeb Loh Angen, Aktivis di Pusat Kebudayaan Aceh Dan Turki (PuKAT).
Asal Kabar: http://atjehpost.co/m/read/13981/Memaknai-Aktivisme-Kebudayaan-di-Aceh-dan-Sumatera 

Begini Cara Anak-Anak Baca Buku Kesultanan Aceh Turki

Written By Peradaban Dunia on Thursday, 30 October 2014 | 12:21

Nada Dharaura yang berusia 1,2 tahun bersama buku Kesultanan Aceh dan Turki - Antara Fakta dan Legenda karya Mehmet Ozay. Gambar direkam pada 30 Oktober 2014 oleh Zahraini ZA. Buku ini diluncurkan dan dibedah pada Rabu 19 Nopember 2014 pukul 15:00 Waktu Aceh di ACC (Aceh Community Center) Sultan II Selim Banda Aceh.

Nada Dharaura yang berusia 1,2 tahun bersama buku Kesultanan Aceh dan Turki - Antara Fakta dan Legenda karya Mehmet Ozay. Gambar direkam pada 30 Oktober 2014 oleh Zahraini ZA. Buku ini diluncurkan dan dibedah pada Rabu 19 Nopember 2014 pukul 15:00 Waktu Aceh di ACC (Aceh Community Center) Sultan II Selim Banda Aceh.
Nada Dharaura yang berusia 1,2 tahun bersama buku Kesultanan Aceh dan Turki - Antara Fakta dan Legenda karya Mehmet Ozay. Gambar direkam pada 30 Oktober 2014 oleh Zahraini ZA. Buku ini diluncurkan dan dibedah pada Rabu 19 Nopember 2014 pukul 15:00 Waktu Aceh di ACC (Aceh Community Center) Sultan II Selim Banda Aceh.

Nada Dharaura yang berusia 1,2 tahun bersama buku Kesultanan Aceh dan Turki - Antara Fakta dan Legenda karya Mehmet Ozay. Gambar direkam pada 30 Oktober 2014 oleh Zahraini ZA. Buku ini diluncurkan dan dibedah pada Rabu 19 Nopember 2014 pukul 15:00 Waktu Aceh di ACC (Aceh Community Center) Sultan II Selim Banda Aceh.


Pengakuan Turki Terhadap Sejarah Lada Sicupak

Written By Peradaban Dunia on Wednesday, 29 October 2014 | 12:33

Pengungkapan (Resensi )Buku ‘Kesultanan Aceh dan Turki – Antara Fakta dan Legenda’ karya Tuan Mehmet Ozay


Judul                           : Kesultanan Aceh dan Turki – Antara Fakta dan Legenda
Penulis                         : Mehmet Özay
Penerjemah                  :  Afdhal Muchtar
Kategori                      : Esai Ilmiah
Genre                          : Sejarah
Cetakan 1                    : October, 2014
ISBN                           : 978-967-12871-0-0
Penerbit                       : Hawash Enterprise, Gombak Selangor, Malaysia.
   Pusat Kebudayaan Aceh Dan Turki (PuKAT).
Diluncurkan di            : Aceh Community Center (ACC) Sultan II Selim, Banda Aceh, Rabu 19 Nopember 2014 pukul 15:00 Waktu Aceh sebagai bentuk peringatan smong (tsunami) Aceh ke 10 tahun.

Tarikh atawa sejarah ialah suluh penerang bahagi suatu bangsa baik ianya tengah berada di zaman gemilangnya yang terang benderang bagaikan siang mahupun di tengah jatuh runtuhnya bagaikan malam gulita di mana bulan padam. Rentang jarak waktu yang disebut di dalam sejarah ialah daripada mulanya bumi dan manusia sampai hari ini.

Maka karena tidak terhitungnya sekalian zaman itu, niscaya untuk bisa memahaminya, kita mesti mengambil satu atawa beberapa masa sahaja di dalam sejarah. Di dalam kitab Mehmet Özay ini, masa sejarah yang diambil ialah berkisar daripada waktu sejak peristiwa Lada Sicupak yang terjadi pada tahun 1560-an Masehi.

Pada bahagian Lada Sicupak, Tuan Mehmet Ozay mengawali kitabnya tersebut dengan pertanyaan:
1.      Mengapa Turki begitu penting dalam ingatan sosial masyarakat Aceh seperti yang tercermin dalam kebiasaan pengucapan (tradisi lisan) dan beberapa karya yang melegenda?;
2.      Mengapa Kesultanan Aceh Darussalam memilih Turki Utsmani, bukannya kekuatan (kerajaan) lain misalnya bangsa Safawi di Timur Tengah?;
3.      Bagaimana tanggapan Turki Utsmani terhadap permintaan untuk menjalin hubungan ini - apakah hubungan ini hanya terbatas pada (memberikan akan faedah dalam bentuk (kontribusi) militer belaka?; dan seterusnya...

Kemudian di sepanjang bab tersebut, dia menjawab akan seluruh pertanyaannya itu secara ilmiah dengan bahasa yang mudah dimengerti sehingga bisa menyadarkan akan kita bahawa hubungan Aceh dengan Turki merupakan sebuah kenyataan adanya, bukanlah hikayat penghibur pelipur lara (legenda). Mehmet menawarkan akan kita tentang sebuah sudut pandang tercerdas daripada sebuah sejarah.

Sudut pandang tersebut bisa menyembuhkan penyakit rusaknya jati diri (Identity Crisis) yang menimpa orang Aceh, daripada rakyat jelata sampai penjabat di pemerintahan, bahkan orang-orang di perguruan tinggi. Mempelajari sejarah bukan semata menghafal akan nama-nama orang dan angka tahun serta apa yang terjadi, akan tetapi jua tentang mengapa itu terjadi dan apa akibatnya. Orang mesti Aceh memandang akan sejarahnya daripada sudut pandang sendiri yang menguatkan dirinya dan Islam.

Orang Aceh mesti menulis sejarahnya sendiri dengan sudut pandang ini supaya pendustaan yang dilakukan oleh penulis-penulis daripada Barat yang bermental penjajah dapat diluruskan. Karenanya, marilah kita membersihkan sejarah Aceh daripada sekalian hikayat penghibur pelipur lara dan pendustaan, lalu kita angkat kebenaran ke muka bumi ini.

Buku ini, walaupun singkat, namun mengemukakan data-data penting tentang hubungan Aceh dengan negeri Rum (Turki) di dalam sejarah karena Tuan Mehmet Ozay turut memakai acuan (referensi) daripada buku dan syarah (artikel) berbahasa Turki, yang tentu saja tidak bisa dilakukan oleh Denis Lombard dan lain-lain.

Yang paling penting, dengan adanya buku Tuan Mehmet Ozay ini, niscaya orang Aceh atawa siapa saja bangsa di dunia ini bisa tahu bagaimana pandangan orang Turki terhadap sejarah Lada Sicupak yang sangat dibanggakan oleh sekalian orang Aceh. Buku Tuan Mehmet ini merupakan pengakuan orang Turki atas sejarah hubungan Aceh dengan Turki.



Oleh Thayeb Loh Angen

Berita Pilihan

Berita Campuran

 
Web Design : Peradaban Dunia Team | Redaksi | About
Copyright © 2011. Peradaban Dunia - All Rights Reserved
www.peradabandunia.com