Kami adalah

Written By Peradaban Dunia on Tuesday, 3 March 2015 | 14:46



Karya Thayeb Loh Angen

Kami dekat dengan makam, tetapi bukan hantu
Kami dekat dengan ilmu, tetapi bukan guru
Kami dekat dengan perang, tetapi bukan tentara
Kami dekat dengan mesjid, tetapi bukan 'abid

Kami dekat dengan seni, tetapi bukan seniman,
Kami dengat dengan lagu, tetapi bukan penyanyi.
Kami adalah rakyat barollah
yang muncul tidak dianggap dan pergi tidak ditangisi.
Kami adalah orang-orang yang tidak diingat.

3 Maret 2015


Ketika Bunda Gemakan Ratib di Lamuri

Oleh Thayeb Loh Angen
Aktivis di Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT), penulis novel Aceh 2025

Benteng Inong Balee, Aceh Besar. Foto: hananan.com
Zikir bersama dalam bentuk ratib berisi nazam tujuh pucuk, yakni: Saleuem Aceh, Pembicaraan Anak dan Ibu, Anak Tidak Berbakti, Bumoe Aceh Seuramoe Mekkah, Pengakuan Insan terhadap Po Teuh Allah, Pengakuan Nabi Saat Menjelang Wafat, Amanah Para Ulama, telah berkumandang di Benteng Inong Balee.

Ratib merupakan hal yang biasa di dalam kebudayaan Aceh. Ianya adalah bagian dari jenis ibadat sunat kepada Allah Ta’ala. Ratib tidak pernah menjadi masaalah bagi orang-orang yang beriman. Yang menjadi masalah ialah cara memandang sebuah ratib bagi orang-orang yang lemah imannya, atau bahkan tidak beriman sama sekali.

Adalah hal yang mengejutkan tatkala ada sebuah berita bertajuk “Ada Praktik Aneh Di Benteng Inong Bale” muncul di sebuah media online di Aceh. Ini terjadi karena kurangnya komunikasi di antara penilai kejadian dan penyiar berita tersebut, atau ada pihak yang sengaja atau secara kebetulan telah berusaha menghindari terangkatnya situs Lamuri di permukaan perbincangan dari sisi baik.

Di dalam sebuah perbincangan panjang, di hadapan beberapa lelaki dan perempuan anggotanya, pada Senin 2 Maret 2015, Bunda menjelaskan bahwa penilaian tidak baik itu ditujukan kepadanya berawal dari kesalahan pengunjung yang tidak memberikan salam saat datang, sementara pihaknya telah terlebih dahulu berada di Benteng Inong Balee.

Di dalam budaya Aceh, adalah kewajiban bagi tamu untuk menghormati pemilik tempat atau orang yang telah terlebih dahulu berada di suatu tempat. Pemberitaan yang syarat jurnalistiknya kurang memadai tersebut telah melahirkan bias yang beragam.

Di sini terlihat bahwa Bunda dan Lembaga Inong Merdeka (LIM) telah melakukan hal yang penting dengan mengunjungi benteng Aceh yang dibuat orang-orang yang telah berjasa di dalam memperjuangkan kejayaan Islam di masa dahulu.

Apabila ada orang yang menilai dengan cara salah apa yang dilakukan oleh Bunda dan anggotanya di sana, maka itu adalah kesalahan orang tersebut. Sebaiknya kita tidak membicarakan hal yang tidak kita mengerti, dan hanya mengabarkan kebaikan kepada khalayak demi kebaikan ummat.

Ratib yang dipermasalahkan itu terjadi pada sore Minggu 15 Februari 2015 yang turut dihadiri geuchik Lamreh, anggota Polsek Krueng Raya, dan anggota kompi Lampanah. Acara ini dibuat oleh LIM yang memiliki akta Notaris no 27, 20 Agustus 2014.

Untuk melaksanakan acara tersebut, pihak LIM telah memiliki Surat Izin Polsek Krueng Raya, No: SI/03/I/2015/Polsek. LIM juga melayangkan sepucuk Surat ke BPCB dengan nomor 009/Lim/NPJ/II/2015, ditanda tangani oleh geuchik Gampong Lamreh. Selain itu, untuk acara ini, LIM telah membuat sebuah rapat keikutsertaan di Gampong Lamreh, tanggal Jumat 23 Januari 2015, pukul 14.40 sampai WIB. Rapat itu berlangsung dan ditandatangani oleh seratusan orang penduduk setempat.

Sekali lagi, penting untuk diingat bahwa tidak ada pemburu harta karun di Benteng Inong Balee dan di situs Lamuri Lamreh. Apabila ada yang menyebutnya begitu, maka harus dipertanyakan kesadaran orang tersebut. Kita tahu bahwa Karun tidak pernah membawa hartanya ke sana, akan tetapi itu terbenam di sebuah kampung di bagian tengah bumi.

Di Benteng Inong Balee hanya ada bebatuan yang tersusun terekat sebagai benteng pertahanan Laksamana Keumala Hayati dan beberapa makam, dan di bekas Kerajaan Lamuri hanya ada nisan-nisan berlumut dan semak belukar.

Di Benteng Inong Balee, Bunda dan LIM hanya ingin membangun sebuah balai, museum, dan semacamnya sebagai tempat untuk memudahkan pengunjung supaya bisa membaca dan memahami sejarah Laksamana Keumala Hayati di tempat itu. Hanya itu. Harta karun Aceh yang sebenarnya adalah tokoh-tokohnya yang setingkat dengan tokoh besar di dunia lainnya.

Mendengar perkataaan Bunda yang penuh semangat untuk mengangkat marwah Aceh pada malam itu, di hadapan beberapa orang anggotanya yang semuanya bekas gerilyawan, kita langsung terbayang akan suatu masa tatkala Laksamana Keumala Hayati memimpin armada Aceh Darussalam di Selat Melaka yang di kapal-kapalnya berkibar bendera merah bersulam bulan sabit dan bintang lima, sebagai anggota koalisi Kekhalifahan Turki Utsmani.

Dari raut wajah Bunda terlihat semangat ini sebagaimana pernah terlihat pada diri sahabat karibnya almarhumah Cut Nur Asikin yang syahid dihempaskan gelumbang raya di dalam penjara.

Hanya semangat seperti itulah yang mampu mengumpulkan puluhan ribu lelaki dan perempuan untuk berlayar memerangi Portugis di Selat Melaka. Hanya semangat seperti itulah yang dibutuhkan oleh Aceh di masa kini. 

Ikuti P Ramlee Show Lintas Zaman 27 Feb 2015

Written By Peradaban Dunia on Saturday, 21 February 2015 | 00:35


Kesempatan Emas Sekali ini | Daftarkan Menjadi Peserta Konser Kebudayaan

"P RAMLEE SHOW LINTAS ZAMAN"

Peserta terbatas 350 orang


Pendaftaran dan masuk: Pre tektok

Daftarkan Nama Lengkap dan alamat/organisasi Melalui:
Email: pukatfoundation@gmail.com SMS: 0852 7613 3071

Pendaftaran ditutup pada pukul 23:59 26 Feb 2015.
(Apabila sebelum waktu tersebut jumlah terpenuhi, maka pendaftaran ditutup).
Pendaftar harap datang sebelum pintu tempat acara ditutup pada pukul 20:00 WIB Jumat 27 Feb 2015.

Tempat acara; Aula (Lantai II) ACC Sultan II Selim Banda Aceh


Berbagi Keluh Positif Bersama Made Tentang Kesenian Aceh

Written By Peradaban Dunia on Thursday, 19 February 2015 | 21:41

Ramadhan Moeslem Arrasuly (Made). Foto: Muhammad Rain.
Oleh: Muhammad Rain

Ada satu pesan saat bertemu Made di dalam proses berkesenian di Aceh selama ini. Menurutnya berkesenian itu simpel dan sederhana saja, Made menyebutkan sebagaimana kehidupan di alam dunia, manusia harus saling menghargai satu sama lainnya, dapat bermanfaat bagi orang lain. Begitu juga terhadap proses berkesenian, sebaiknya para pelaku seni hendaknya dapat menghargai sesama pelaku seni apapun jenis kesenian yang digelutinya dan seni itu sendiri.

Idealnya proses di dalam berkesenian bukan hanya untuk kepuasan/kepentingan pribadi saja, tapi dapat juga bermanfaat bagi orang lain yang menikmati karya seni yang telah tercipta dengan berbagai pesan yang bermanfaat pula. Janganlah lagi seni dijadikan asas manfaat bagi pihak-pihak tertentu yang tidak bertanggung jawab dan hanya untuk meraup keuntungan dan akhirnya merugikan para pekerja seni/seniman.

Tidak ada istilah yang namanya seniman hebat, malahan akhirnya menjadikan dia seniman yang tidak ada apa-apanya. Karena tidak memberikan contoh tauladan yang baik secara langsung atau secara tidak langsung. Malahan banyak seniman yang merasa hebat akhirnya menghina dirinya sendiri, menghina sesama pelaku seni juga menghina seni itu sendiri. Iklas, tulus dan Jujurlah dalam berkarya.

Berkesenian itu bebas dan merdeka. Jangan sampai terkesan kita seperti dipenjara dan terkekang di dalam proses berkesenian. Berkesenian bukan bertujuan untuk terkenal dan dikenal, bukan untuk meraup keuntungan besar dari apa yang dibuat.

Jiwa berkesenian Made sudah ada dari masa kanak-kanak, tapi sayangnya tidak tersalurkan dengan baik. Selain musik juga suka akan desain/gambar/lukisan, gaya berpakaian, juga style rambut. Awal konsen di seni musik tahun 1999-2000 bergabung dengan komunitas Tanggul Rebel, (Plastik exs) adalah nama sebuah Band bergenre musik Punk Hardcore dan tercipta sebuah karya lagu perdamaian berjudul "Geundrang Perang".

Tahun 2001 mendirikan group band (Tanda Seru), bergenre musik Rock and Roll, Blues, Slow Rock, yang menyuarakan pesan-pesan sosial, pesan perdamaian, pesan kritik terhadap perilaku remaja, bermacam ragam pesan. Salah satu lagu yang tercipta adalah Aceh ‘Negri Khayalan’, lalu tahun 2002-2004 hijrah ke Jakarta & Jogyakarta, saat di Jogyakarta sempat mendirikan sebuah band (Juzt Q Dink) bergenre musik pop jazz yang didominasi pemuda Aceh. Tahun 2006-2007 mendirikan sebuah band (Aceh People) bergenre musik reggae. Hingga akhirnya pada tahun 2008 mendirikan band (Made in Made) bergenre musik Melayu Reggae.

Awalnya ingin sedikit berbeda dari group musik Aceh lainnya yang hanya menggunakan bahasa Aceh di setiap lagu-lagunya sementara band Made in Made hanya menggunakan bahasa Melayu/Indonesia, akan tetapi cerita yang diangkat di dalam lagu semuanya bercerita tetang kehidupan sehari-hari khususnya di Aceh.

Salah satu lagunya yaitu tentang Kerusakan lingkungan Aceh. Alm. Mukhlis ‘Nyawong" dan Group Musik Kande adalah sebagai inspirasi yang sangat kuat dan hingga akhirnya Made in Made memperlengkap genre musiknya menjadi ‘Melayu, Aceh and Reggae’ karena berkesenian di Aceh harus indetik dengan keA-cehannya, baik itu lagu yang berbahasa Aceh, lagu-lagu daerah Aceh yang dikemas ulang, menggunakan alat tradisional Aceh dan juga memakai atribut Aceh lainnya seperti pakaian Aceh dan berbagai properti.

Salah satu lagu yang sangat populer selama ini “kupi Reggae” dan “Dara Atjeh”. Made In Made juga memiliki beberapa lagu berbahasa Inggris salah satunya berjudul International Reggae Music & Aceh-Engglish. Mulai dari tahun 2008 hingga tahun 2015, berbagai macam event telah dilalui baik di lokal, nasional hingga internasional berbagai even kemanusiaan/bencana alam Aceh/Indonesia, event seni/budaya Aceh. Beberapa karya Made in Made turut mengisi panggung di Indonesia seperti di Medan, Bukittinggi, Padang, Jakarta dan Jogjakarta. Juga di negara Thailand dan Kuala Lumpur/Malaysia.

Insya Allah pada 28-30 Agustus 2015, Made in Made akan hadir di event Kuala Lumpur Magic Forest Arts and Music Festival 2015, Kem Isi Rimba, Kemensah. Selanjutnya Made In Made juga akan menjadi bagian di even Bokor River Internasional Reggae Party, Kepulauan Meranti Riau, 28-29 Oktober 2015. Akan turut dihadiri oleh band Raggae asal Afrika, Malaysia, Philipina, Singapura, Thailand, Jepang, USA, Jakarta, Papua dan lainnya.

Kesusastraan Sakit, Aceh Butuh Pertemuan Penulis dan Kritikus Sastra

Acara peluncuran buku novel Aceh 2025 karya Thayeb Loh Angen. Foto: Eka Agusniar.
Kehadiran orang-orang yang memahami dunia kesusastraan di Aceh patut disyukuri dan diharapkan ada beberapa di antara mereka yang mengambil posisi sebagai kritikus yang adil, atas dasar standar dan dilengkapi dengan keahlian yang cukup. Demi majunya dunia sastra di Aceh, orang-orang yang telah memposisikan dirinya sebagai senior dan menyamankan diri di menara gading kita minta keluar ke halaman atau setidaknya bukalah jendela atau pintu, lihatlah sekeliling dunia sastra kita.

Indonesia kekurangan kritikus sastra, apalagi Aceh. Tulisan-tulisan yang tersebar di beberapa media di Aceh terlihat berjalan sendiri tanpa ada pengamat yang disebut kritikus sastra. Fakta ini terjadi karena beberapa sebab, di antaranya: kurangnya orang yang memahami seluk beluk tentang kesusastraan. Para lulusan akademik bidang sastra pun jarang menampilkan dirinya untuk ambil bagian sebagai kritikus. Jika mereka tidak bisa berkarya bagus, setidaknya menggerakkan orang lain untuk berkarya bagus dan standar nasional dan dunia.

Di Aceh, kebanyakan dari orang-orang yang menggeluti sastra memposisikan dirinya sebagai pengkarya, yang kebanyakan telah memilih masa aman tanpa memperbaiki mutu karyanya lagi sehingga kemajuan sastra di Aceh terhenti pada menara gading yang mereka bentuk, maka menara gading puja-puji semu itu harus diruntuhkan kini, dan telah runtuh. Perasaan senioritas dari kalangan penulis bikin mutu karya sastra yang tersebar di Aceh tidak meningkat.

Tidak adanya orang yang ambil resiko sebagai kritikus sastra di Aceh karena penerimaan dari pengarya yang miring. Ini terjadi karena penulis hanyut dalam utopia yang menganggap karyanya begitu hebat sementara di balik penolakan itu ada rasa ingin diakui tapi tidak percaya diri untuk menerima kekurangan karyanya. Memang, media dan juri bukan hakim untuk karya penulis, di samping itu, para penulis harus sadar benar kelebihan dan kekurangan karyanya karena tidak pernah ada yang sempurna diciptakan.

Selama ini, orang yang jadi kritikus di Aceh rada-rada setengah hati, mungkin karena sikap penerimaan para pengarya yang kurang beretika. Walau begitu penghakiman untuk sebuah karya sebaiknya dihindari karena kita hanya butuh wawasan, jadi para kritikus bisa mengatakan kelebihan dan kekurangan sebuah karya dari segala sisi. Nah, penting dipahami oleh penulis yang baru-baru muncul, bahwa bagi kritikus, yang penting menguasai konteks sastra dari segala lini, tak penting apa para kritikus itu punya karya atau tidak.

Kitikus satra penting hadir di Aceh sebagai cermin untuk karya-karya seperti hikayat, cerpen, puisi, dan novel yang telah dilahirkan. Adanya kritikus bikin dunia sastra hidup, tidak hilang gaungnya begitu saja, dan penulis atau pembaca punya pilihan penilaian selain yang telah miliki sendiri. Di negara luar, sastra mereka maju karena selain banyak penulis yang serius menelorkan karya bagus juga banyak kritikus yang serius mengulas karya mereka. Di Indonesia, Chairil Anwar yang melegenda itu tidak pernah dikenal orang bila tidak ada HB Jassin –Disebutkan sebagai Paus Sastra Indonesia- yang habis-habisan membela karya Chairil Anwar.

Sejarah sastra Aceh yang gemilang sudah saatnya dikembalikan di zaman ini seraya membikin perbaikan mendasar dalam setiap sendi sastra di Aceh. Kehadiran beberapa organisasi yang bergerak di bidang sastra telah memperbaiki keadaan ini walau jauh dari cukup karena masing-masing organisasi tersebut telah membuat tempurung diri mereka masing-masing dan menilai dunia dengannya –rasa senioritas dan pakar tak tertandingi- sebuah klaim kebenaran terhadap ideologi organisasi. Tapi setidaknya mereka telah melakukan sesuatu dan sampai tahap tertentu itu berguna bagi sastra di Aceh.

Pertemuan Sastra di Aceh

Demi mendukung perbaikan dunia sastra di Aceh, penting dihadirkan fakultas sastra dan seni jika atau merealisasikan Institut Kesenian Aceh –tapi harus diurus oleh orang tepat. Pertemuan-pertemuan berbasis budaya dan sastra sebaiknya lebih sering diadakan untuk membahas tentang budaya, sastra dan peradaban Aceh. Peran organisasi bidang kepenulisan, sekolah-sekolah, perguruan tinggi dan pemerintah amat penting dalam memajukan sastra di Aceh.

Pertemuan yang menghadirkan para penulis di Aceh yang karya mereka telah dipublis di media atau tidak, penting dilakukan pertemuan ini untuk mengetahui apa masalah sehingga sastra di daratan peninggalan Bapak Sastra Melayu Hamzah Fansuri ini belum mengatasi zaman.

Para penulis yang telah memilih jalan sunyi dalam keputusasaan harus dijemput kembali karena mereka adalah wakil zaman, dan kita sandingkan mereka kembali dengan para penulis yang baru muncul agar kedua generasi ini saling terispirasi.

Yang generasi awal terispirasi pada muda bahwa kenapa ia yang lebih dulu tidak lagi sekreatif dan sesemangat yang muda. Yang muda terispirasi dengan generasi lebih awal bahwa semangat yang lebih awal patut dihargai karena telah menyambungkan tali dunia sastra kita di saat orang-orang tidak menghiraukannya. Kekompakan, persatuan adalah sumber kemajuan peradaban, budaya, dan sastra kita.

Pertemuan sastra di Aceh perlu segera diadakan dengan konsep rapi dan terarah agar tidak terjebak pada romantisme dan seremonial seperti yang dialami pengurus sastra di negara Malaysia dengan acaranya DIALOG UTARA, juga tidak terjebak hal serupa seperti pertemuan-pertemuan lain di Indonesia. Aceh harus lebih cerdas dan harus punya konsep selangkah lebih maju, agar tidak malu pada indatu kita yang jadi penggebrak dunia kesusastraan di Asia Tenggara. Salam dunia menulis, salam humanisme, salam persatuan dan perdamaian.

Esai Sastra Harian Aceh, Minggu 7 Maret 2010
Oleh Thayeb Loh Angen, Penulis Novel Aceh 2025 dan novel Teuntra Atom

Realita Aceh itu Terbatas, tapi Imajinasi Rakyatnya Tidak (Bincang Novel Aceh 2025)

Written By Peradaban Dunia on Friday, 13 February 2015 | 22:37

Percakapan Lepas pada Peluncuran Novel “Aceh 2025” karya Thayeb Loh Angen, Kamis, 12 Februari 2015, di Banda Aceh:

Oleh:
Musmarwan Abdullah
Cerpenis, Pengamat Sastra

Thayeb Loh Angen ( berdiri), Duduk (dari kiri): Teuku Zulkhairi, Salman Yoga S, Herman RN, Musmarwan Abdullah, di acara peluncuran buku Aceh 2025 karya Thayeb Loh Angen. Foto: Subur Dani.
“Aceh 2025” atau “Aceh Gagal”
Bertapa tipisnya sekat pemisah antara menghayal dan berpikir. Ini ibarat sebuah novel yang ditulis di Aceh pada tahun 2015 dengan judul “Aceh 2025”, dengan sebuah novel lain yang ditulis di negeri yang sama pada tahun 2025 dengan judul “Aceh 10 Tahun yang Lalu”, yang mana, titik pijakannya adalah sama. Yakni, hari ini.

Sebuah novel yang berjudul “Aceh 10 Tahun yang Lalu” sudah barang tentu bercerita tentang Aceh di penghujung interval 10 tahun masa yang telah lewat, yang merupakan hasil inspirasi berdasarkan keotentikan data-data yang bersifat benda dan nonbenda. Saya menyebut ini sebagai “hasil kreatifitas daya khayal”.

Dan sebuah novel yang berjudul “Aceh 2025” juga sudah barang pasti bercerita tentang Aceh di penghujung interval waktu yang merentang sepanjang 10 tahun. Yang namun, karena titik pijaknya adalah hari ini, maka ia tentu berbicara tentang masa yang akan datang.

Untuk mencapai inspirasi buat membangun sebuah ilusi tentang masa yang akan datang, itu juga membutuhkan data-data otentik yang telah ada, baik data materi maupun empiri. Nah, data-data inilah yang dikumpulkan, diurai, diacak-acak, diobservasi, diinkubasi, dihitung, dianalisis, lalu diblender dalam matematika berbasis kimia-antropologi sehingga menghasilkan apa yang namanya “Aceh 2025”. Sebuah buku. Bergenre novel. Karya Thayeb Loh Angen. Saya menyebut “Aceh 2025” sebagai “hasil kreatifitas daya pikir dan keberanian mendahului kepastian proses evolusi”.

Novel “Aceh 2025” berkisah tentang betapa majunya Nanggroe Aceh pada sepuluh tahun mendatang. Jika di tahun 2025 kelak ternyata Aceh tak sehebat dalam “Aceh 2025”, apakah Thayeb Loh Angen sebagai pengarang novel itu masuk dalam katagori “pemikir yang tak berhasil” atau khilaf-prediksi alias Sang Penerawang yang gagal? Tidak. Tapi justru Aceh dan segenap elemennyalah yang gagal.

Ganja, Giok dan “Aceh 2025”
Konon, kata orang, ganja Aceh tergolong ganja berkualitas terbaik dunia. Tapi, berpuluh-puluh tahun, bahkan hingga hari ini, realita tentang ganja Aceh begitu terbatas. Para peladang “pemberani” menanam ganja. Ketika cukup umurnya, ganja dipanen. Lalu dikeringkan, digonikan, dijual, dan, kemudian, beredarlah ganja hingga ke luar daerah, bahkan ke luar negeri, di samping juga sebagian terbanyak beredar di Aceh sendiri.

Kita tidak tahu bagaimana nasib ganja yang beredar di luar negeri. Mungkin menemui jalannya yang lebih mulia di tabung-tabung kaca steril laboratorium-laboratorium hingga berujung di haribaan dedikasi dunia kesehatan yang membantu tersambungnya nyawa-nyawa manusia. Sedang yang beredar di daerah lain di Indonesia, semoga, tidak malah membebani moral keacehan yang lebih mengukuhkan diri sebagai benteng pertama dan terakhir kecusian spiritual islami di Nusantara.

Sedangkan ganja yang beredar di Nanggroe sendiri, sebagian terkecil menjadi bumbu penyedap masakan berbasis daging, namun sebagian terbanyak menjadi bahan campuran rokok, untuk dihisap, terutama oleh para pemuda, yang membuat saraf pikir mereka berada dalam kondisi rehat, rehat dari kondisi sebelumnya yang justru tak pernah lelah, istirahat dari kondisi sebelumnya yang justru tak pernah digunakan untuk bekerja dan berpikir.

Itulah siklus dinamika dari realita ganja Aceh. Belum disinggung risiko hukum yang lebih memenjarakan jiwa-raga dibandingkan kemerdekaan kepulan asap dapur yang diperoleh darinya. Begitu sempit dan terbatas. Samasekali tanpa sentuhan kreatifitas yang membuat ia berdayaguna lebih dari hanya sekedar untuk dihisap dan diracik sebagai bumbu masak untuk mengempuk gulai daging. Seakan-akan Aceh ini hanya dihuni oleh para pemabuk dan pemakan daging.

Giok juga apa bedanya. Capek-capek ramai-ramai rakyat Aceh mengeruk tanah indatunya, menggerogoti tebing alamnya, menyongkel gunung Tuhannya, lalu bongkahan-bongkahan bebatuan itu dipikul dengan beban yang membuat tulang belakang sampai melengkung dan tulang-tulang rusuk berkeratakan, namun ujung-ujungnya sang giok hanya menempel di liontin yang menggantung di antara dua “gunung” perempuan, dan selebihnya berakhir di jemari buduk para lelaki genit setengah edan.

Namun hingga hari ini, bahkan mungkin sampai kelak gunung-gunung dipahat serata lembah, belum bakal ada sebuah masjid pun sempat dibangun yang dinding dan lantainya tersusun dari batu giok sebagai paduan mahakarya alam dan kreatifitas inspirasi kelas dunia dari manusia yang hidup di persada yang tanahnya berlapis batu giok ini.

Realita kematerian dan emiri Aceh masih begitu purba, masih sebagaimana Tuhan menurunkannya lima milyar tahun yang lalu bersama proses penciptaan keseluruhan semesta ini. Tuhan menciptakan alam, lalu takdir evolusi menyorongkan kepala kita muncul satu-persatu di atas daratan penghujung sebuah pulau sebagai sisa-sisa tanah yang masih luput dari invasi bahari dan amuk gelombang ini. Kita menyebut ini sebagai Aceh.

Lalu, karena hidup mewajibkan kita untuk survive, kita pun berburu tokek (memotong elemen sikhlus ketergantungan dalam system rantai makanan mereka), berburu landak (merusak system keseimbangan ekologi), berburu barang-barang antik (menghilangkan kekeramatan antropologis berbasis bukti sejarah), menggali emas (membreidel hutan sembari meracuni lingkungan dengan merkuri), menyongkel giok (merusak tatanan tekstur alam).

Namun semua itu kita sebut: “Sumber Ekonomi Baru”. Atau dengan kata lain, kita gagal menolong diri-sendiri dengan sumber-sumber ekonomi kreatif yang tidak mengharuskan kita menyumpal mulut anak-anak kita tanpa harus melukai tanah persada warisan Indatu. Artinya, kita gagal menyentuh segala yang ada dengan kreatifitas dan keberanian berinspirasi. Namun dalam dunia kesusatraan, Thayeb Loh Angen dengan “Aceh 2025”nya nekat mendobrak “realita keacehan” dengan kenakalan inspirasi hasil kreatifitas khayali.

Aceh adalah Fakta, dan Novel adalah Fiksi
Mari sejenak kita menapaki lantai dingin di ruang-ruang sepi perpustakaan. Dan kita pun menelisik buku-buku yang berjejer di segenap rak. Jika ada yang berbicara tentang Aceh, itu nyaris pasti bukan melalui novel.

Sebagai sebuah genre sastra, novel adalah karya fiksi. Sedangkan Aceh, dengan segenap entitas sebagai sebuah negeri, dia adalah nyata. Lalu bagaimanakah mempertanggungjawabkan kalimat ini: “Jika ada yang berbicara tentang Aceh, itu nyaris pasti bukan melalui novel.” Karena, bukankah Aceh itu realita?

Novel memang tidak memuat narasi sebagai sebuah peristiwa yang dapat diklaim sebagai buah tangan yang mengandung data-data otentik. Bahkan data-data otentik sendiri akan menjadi bias dan imajiner dalam kunyahan geraham kesustraan. Tetapi data dan materi tidak selamanya berdiri-sendiri secara utuh sebagai realita indrawi. Dia akan selalu tergantung pada rekayasa sentuhan imajinasi manusia.

Sebagai contoh bahwa kenyataan tak ada apa-apanya tanpa sentuhan imajinasi adalah kisah tentang sebongkah campuran mineral padat, di mana, kendati ia berwarna lumut yang memiliki campuran kimia alamiah dengan struktur kristal tertentu, toh, orang menyebutnya sebagai batu. Dan walau bagaimana, itu tetap batu. Namun bangsa yang memiliki daya khayal yang sedikit “nakal” telah menyebutnya sebagai “giok”. Kemudian, saat sang giok semakin dibungkus dengan fantasi dan keajaiban imajinasi, lalu terbangunlah ilusi keindahan. Yang akhirnya, si batu gunung yang betul-betul hanya sekedar batu gunung itu benar-benar menggelinding di arus perebutan harga yang berjuta-juta bahkan ratusan juta.

Sebagai karya fiksi yang panjang, novel menyediakan ruang yang hampir tak terbatas untuk merekam imajinasi penulisnya. Imajinasi setiap orang terbentuk dari pergumulan pikiran, perasaan, fenomena non indrawi, dan gejala-gejala empiris di lingkungan kehidupannya. Dan seorang yang merekam imajinasinya, tanpa sadar ia telah merekam sebagian besar cita-cita, kegagalan, derita dan kegalauan negerinya.

Lalu kita kembali ke kalimat, “Jika ada yang berbicara tentang Aceh, itu nyaris pasti bukan melalui novel.” Artinya, kita memiliki sangat sedikit catatan tentang data-data empiris yang telah mengalami proses blender dan permentasi liar gaya berpikir bebas ala imajinasi. Semua yang bersifat data dan realita cendrung kita gunakan untuk membantu tindakan-tindakan empirisme lainnya yang akan menuai hasil pasti sebagai fakta lanjutan. Kita acap lupa, imajinasi, yang dalam hal ini adalah daya khayal, mampu merevolusionerkan segala kekakuan hasil warisan berabad-abad.
Sekali lagi, Jika di tahun 2025 kelak ternyata Aceh tak sehebat dalam “Aceh 2025”, itu bukan Thayeb Loh Angen yang gagal, tapi orang-orang Aceh dan Pemerintahan Acehlah yang gagal.

Aceh, Negeri Tanpa Catatan Sejarah Perasaan
Orang Aceh, dari zaman ke zaman, adalah pemikir berat dan teramat serius. Terbukti, dalam kontek kenusantaraan, banyak kearifan hasil buah pikir manusia yang mendiami tanah persudutan di paling ujung pulau Sumatera ini menjadi rujukan dalam skala keindonesiaan. Begitu juga dalam menulis; kita adalah penulis-penulis yang amat serius dan “memikir”.

Syukur, generasi masa itu masih mau mencatat, sehigga kita tahu tanggal-tanggal perang dimulai dan tanggal-tanggal tentang hari-hari yang agung saat kita menyilang tangan di tengkuk, menyerah, takluk dan patuh pada sang pemenang. Syukur, generasi masa itu masih mau mencatat, sehigga kita tahu tanggal-tanggal saat di mana kekuasaan diperebutkan, saat fitnah strata sosial diledakkan, dan saat agama dikapling-kapling dalam rivalitas doktrin dan dogma.

Saat itu, baik saat sejarah sedang berlangsung maupun saat sejarah sedang ditulis, perasaan menjadi anak tiri. Terabaikan. Terlunta-lunta. Luput dari peta prioritas pencatatan. Luput dari ranah eksistensi diri kita sebagai manusia. Seakan-akan perasaan telah dikutuk hanya sebagai konsekwensi binal dan cengeng dari dinamika keseharian manusia yang tak perlu diberi atensi sedikit pun. Seakan-akan bukan perasaan yang mengawali segala debut kolosal ledakan sejarah-sejarah bangsa ini.

Padahal, saat tanah kita ditapaki orang dengan “hana kom-hana saleum” dan dengan gaya invasi yang angkuh, hati kita terasa sakit, marwah kita sebagai sang pemilik merasa dihinakan, kita merasa kepala kita sebagai perangkat paling agung yang hanya boleh disentuh oleh orangtua sendiri dan guru mengaji, diinjak-injak. Saat itulah perangkat berpikir kita mulai menggeliat, merancang-rancang taktik perlawanan, mengatur-atur strategi pembalasan dan pengusiran.

Namun yang kita catat tetap yang terakhir, yakni ketika semuanya telah meledak sebagai perang. Kita mengabaikan hal-hal kecil sebelumnya seperti, misalnya, “Subuh itu aku melihat pantai tidak sebening biasanya dengan riak-riak yang santun menjilati pepasiran dan sepoi bayu yang hanya menebar aroma laut. Aku melihat sebuah kapal asing terpacang di sana, dan sejumlah sampan kecil yang lalu-lalang mengantar penghuni kapal ke darat. Pantai sudah penuh dengan orang-orang yang siaga dengan pedang di tangan.

“Dari balik perdu pandan berduri tempat aku mengintip, aku dengan jelas dapat mengidentifikasi wajah mereka sebagai wajah-wajah yang bukan wajah orang-orang negeriku. Dan tanpa bisa lagi membuang hajat sebagai rutinitas pagiku di balik pandan berduri itu, aku bergegas lari ke rumah kepala desa. Sampai di sana, sambil menggedor pintu, aku berseru, ‘Abu! Abu! Kafir Belanda sudah mendarat! Kafir Belanda sudah mendarat!’”

Kita acap mengabaikan detil deskripsi fisiologis dalam dunia pencatatan (kendati si pencatat itu adalah saksi sejarah itu sendiri), seakan reaksi insaniah (dalam persentuhannya dengan segala fenomena di luar dirinya) tidak termasuk perihal manusiawi dalam kehidupan kita, di mana, hal ini, pada akhirnya akan membentuk pola keyakinan umum bahwa, yang namanya mencatat adalah mencatat kesimpulan-kesimpulan dan, yang namanya membaca adalah membaca urutan-urutan peristiwa. Padahal berawal dari detil penggambaran tingkah laku, sisi manusiawi dipancing untuk muncul. Lalu terbentuklah rasa. Maka dari rasa, saraf pikir diajak untuk berdenyut. Yang kita tahu, kita berpikir dan bertindak. Kita lupa bahwa keduanya berawal dari rasa.

Dan novel adalah sebuah genre sastra yang memberi kita ruang bebas dan konprehensif untuk menumpahkan segala rasa yang telah terpenjara selama 400 tahun. Thayeb Loh Angen dan “Aceh 2025” telah memulainya. Yakni dalam wujud rasa yang mengkristal hingga berbentuk cita-cita. Sekali lagi, “Aceh 2025” tak pernah gagal. Jika novel itu gagal, maka Acehlah yang gagal. *** (Kembang Tanjong, 5 Februari 2015)

Novel Aceh 2025 dan Mitos Menulis itu Mudah

Written By Peradaban Dunia on Tuesday, 10 February 2015 | 00:00

Oleh Thayeb Loh Angen
Penulis novel Teuntra Atom dan novel Aceh 2025


Judul: Aceh 2025 - 1446 H
Penulis: Thayeb Loh Angen
ISBN: 978-602-71720-0-5
Tebal: 340 Halaman
Penerbit: Yatsrib Baru

Apakah Anda pernah mendengar kalimat “Menulis itu mudah”? Saya pernah mendengarnya. Saya suka kalimat itu, bisa membangkitkan semangat orang untuk menulis. Namun setelah saya belajar menulis selama beberapa tahun, dari tahun 2005 sampai 2015, saya baru menyadari bahwa kalimat tersebut adalah sebuah kedustaan yang disengaja, hanya sebuah mitos. Baik, ini kubuktikan bahwa kalimat itu adalah dusta belaka.

Sejak akhir tahun 2010, saya mulai mengarang sebuah cerita yang menggambarkan keadaan Aceh sekitar tahun 2021. Saya telah meminta beberapa orang kawan untuk membaca naskah kacau tersebut, dan Alhamdulillah mereka memberikan beberapa pendapat yang membuat cerita itu lebih baik. Saya ingin naskah itu bisa diterbitkan pada tahun 2012, apatah daya, ternyata belum bisa.

Akhirnya saya harus mengubah angka tahun dan menyesuaikan beberapa bagian cerita sehingga judulnya menjadi Aceh 2025 (1446 H). Naskah itu telah diubah beberapa kali, termasuk menambahkan bagian akhir ceritanya. Di sini, kukatakan tentang bagaimana saya menulis sebuah novel.

Apabila saya telah menetapkan ingin menulis sebuah novel, yang pertama kali kubuat adalah kerangka ceritanya. Biasanya saya menulis bab pertama dan yang terakhir terlebih dahulu. Setiap orang memiliki cara berbeda, akan tetapi saya ingin tahu sebuah cerita itu berakhir bahkan sebelum dimulai.

Saya ingin melihat gambaran besarnya terlebih dahulu. Baru kemudian memilih tema-tema yang sesuai dengan cerita tersebut, dan menentukan judul babnya. Bagiku, membuat bab pertama dan terakhir adalah bagian tersulit dari sebuah novel, karenanya aku menulisnya terlebih dahulu lalu kuperbaiki lagi setelah semua bab lain selesai. Dan, membuatnya menjadi sebuah cerita yang memiliki isi yang mendalam ternyata lebih sulit lagi. Maka, apanya yang mudah?

Itu sudah kualami sejak menulis draf novel Teuntra Atom pada tahun 2005 yang mengikuti riwayat hidupku sendiri yang diubah sedikit di beberapa bagian. Memang, menulis riwayat hidup sendiri jauh lebih mudah, akan tetapi, yang terhitung mudah itu pun butuh waktu beberapa tahun. Sekali lagi, di manakah mudahnya?

Apalagi kalau kita menulis cerita masa depan yang tahunnya hanya berjarak sepuluh atau belasan tahun dari buku itu ditulis atau diterbitkan. Itu berkali-kali lebih sulit daripada menulis cerita yang mengambil masanya saat sekarang, masa silam, atau masa depan yang lebih seratus tahun setelah buku itu ditulis atau diterbitkan.

Menulis cerita seperti Aceh 2025 yang diluncurkan pada 2015 jauh lebih sulit karena penulisnya harus menyiapkan diri menghadapi banyak cercaan tatkala orang-orang dan dirinya melewati masa yang disebutkan di dalam buku tersebut. Memang, itu hanya cerita karangan, akan tetapi sebagian orang tidak menganggapnya begitu.

Sebagai kabar untuk Anda, di sini kugambarkan sedikit tentang isi buku Aceh 2025. Buku ini mengisahkan keadaan Aceh pada masa sekitar tahun 2025 Masehi yang ceritanya diketahui melalui perjalanan tokohnya Tuanku Ben Suren dan Cut Benti Surenia. Di dalamnya tersebut bagaimana kronologis Aceh bisa berubah.

Perubahan total Aceh, di dalam buku ini disebutkan berawal dari sebuah revolusi yang terjadi di Banda Aceh pada tahun 2020 Masehi. Revolusi itu digerakkan oleh sebuah perkumpulan yang tidak diketahui, namun ada sedikit gambaran tentangnya.

Tahun 2025 adalah puncak dari perubahan tersebut. Saat itu Aceh telah dibagi ke dalam enam wilayah pembangunan, yaitu: Banda Aceh - Sabang, Meulaboh - Nagan Raya, Barus-Kutacane, Lhokseumawe-Aceh Utara, Takengon-Bener Meriah, Tamiang-Medan. Setiap wilayah ini memiliki hak otonom dan masing-masing penduduknya membangun wilayah sendiri dalam kesatuan Aceh.

Peristiwa besar yang tertulis di dalam novel Aceh 2025, di antaranya: revolusi pada tahun 2020 Masehi, badai pada 2025 yang menyebabkan tokoh utamanya terdampar ke Male di Maladewa, Hadramaut di Yaman, Siprus dan Istanbul di Turki, dan New York dan Silicon Valley di Amerika Serikat.

Kejadian besar lainnya adalah pembangunan Jembatan Banda Aceh-Sabang-Pulo Aceh, pembangunan jalan rel kereta listrik dari Banda Aceh-Meulaboh-Medan, Banda Aceh-Lhokseumawe-Medan, Lhokseumawe-Takengon-Meulaboh, dan lain sebagainya.

Novel Aceh 2025 mengisahkan bagaimana sistem pemerintahan, pendidikan, ekonomi, hukum, kehidupan beragama dijalankan dengan baik. Pola kehidupan itu terlihat dari perjalanan kedua tokohnya dan cerita orang-orang kepada mereka yang berusia sekira dua puluh tahun pada 2025. Buku ini punya 21 bab. Bab 1 mengangkat keadaan Aceh pada tahun 2020 Masehi dan bab terakir tentang 2030. Bab 2 sampai 20 mengisahkan Aceh di tahun 2025.

Untuk pertama kali, Novel Aceh 2025 akan diluncurkan di (bekas) restoran Lamnyong, kedai Aneuk Kupi, Banda Aceh pada 12 Februari 2015. Dalam peluncuran itu, penulis Musmawan Abdullah, Herman RN, dan Salman Yoga S akan bicara tentang buku tersebut. Untuk kali kedua, rencananya, insyaallah, diluncurkan di Paloh Dayah, Lhokseumawe, pada Jum'at 13 Maret 2015. Pembicara: Arafat Nur, Mahdi Idris, dan sastrawan lainnya. Direncanakan, peluncuran dan bedah buku ini akan diperbuat di beberapa tempat di Aceh dan luarnya.

Kembali pada kalimat bahwa menulis itu mudah. Setahuku, itu hanya benar jika kita menulis “Aku cinta kamu” di pasir pantai, dengan jari telunjuk, tanpa dilihat seorang pun. Kalau ada orang yang bisa membuktikan bahwa menulis itu mudah, silakan kirim bukti tersebut dan gambar orangnya ke emailku, yakni thayeb.zs@gmail.com. Lalu, saya akan memberinya baterai baru karena ia bukan manusia, akan tetapi robot yang dibuat untuk menjadi penulis.

51 Hari di Kota Al Kahhar Yang Agung

Written By Peradaban Dunia on Saturday, 7 February 2015 | 19:20

Petualangan Anak Paloh Dayah di Bandar Aceh Darussalam

Oleh Lodins
Peneliti 44 mesjid yang meliputi wilayah Aceh Utara, Lhokseumawe, Bireuen, Aceh Besar, dan Banda Aceh.

Di Banda 2015
Di antara ratusan gedung ini, aku melihat seorang pemuda 
yang menikmati alam kota Banda dari puncak gedung bagaikan di atas angin. 
Aku heran mengapa ia tak peduli pada kota yang telah hilang tempat adiknya bermain, 
pada lapangan luas yang dahulu tempat ratusan gajah perang berhenti, 
pada mesjid- mesjid di mana para syeikh menjadi minyak dalam lentera, 
pada tinta-tinta emas yang dulu menulis fatwa-fatwa.

Lodins tengah memperhatikan nisan Tun Meurah Orang Kaya Kapal, seorang Laksamana perempuan di Kesultanan Aceh Darussalam yang baru berhasil dibaca oleh peneliti sejarah kebudayaan Islam yang filsuf, Taqiyuddin Muhammad, yang berada di Kumpulan Makam Meurah II, Ulee Tuy, Mata Ie, Aceh Besar. Jumat 12 Desember 2014. Foto: Thayeb Loh Angen.
Desember 2014

Dalam hujan gerimis siang ini berangkatlah aku ke Banda Aceh, kota Sultan Al Kahhar Yang Agung. Kukatakan kepada ibunda bahwa mungkin akan dua bulan lamanya di Banda, izin itu pun kudapatkan setelah mengatakan maksud dan tujuan mengapa harus begitu lama di sana.

Ketika petang menaung kota Banda Aceh, tibalah aku di sana dan dijemput oleh bang Thayeb Loh Angen (selanjutnya kusebut TLA) di dekat Mesjid Raya Baiturrahman dan dibawa ke tempat tinggalnya di Gampong Pineung.

Minggu pertama di Banda aku tinggal di rumah Ariful. Selama tinggal di sana aku lebih banyak berada di rumah seraya belajar mengedit video, membaca buku, dan lain-lain.
Kenangan hebatnya selama tinggal di sana adalah pernah tak punya cukup uang untuk beli makanan selama tiga hari hanya makan dua atau tiga kue basah dalam sehari. Akibatnya, di hari ketiga tubuhku jadi panas dalam dan demam hingga waktu malamnya harus pakai jaket tebal.

Keadaan semacam ini ternyata hanya masaalah biasa bagi TLA yang telah bertahun-tahun tinggal di Banda Aceh. Namun bagiku ini adalah pelajaran pertama untuk melatih diri menjadi pengembara.
Beberapa hari sebelum acara travelogue membawa beberapa potong kuwih eungkhui dalam beberapa curak resep yang diambilnya di dapur uji coba boga.

“Ini eungkhui. Kuwih (kue) yang akan menemani ratusan hadirin di acara travelog nanti,” kata TLA. Saya dan Ariful mencicipi satu persatu dan membedakan mana resep yang paling mengena di lidah.
“Jadikanlah harus lebih manis lagi, dan lebih lunak,” demikan saran TLA pada peracik resep eungkhui di ruang boga profesional Banda.

Cerita tentang eungkhui ini bermula ketika bulan lalu di Loh Angen (sebuah nama tempat di Paloh Dayah yang di sanalah rumah kami).

“Tolong tanyakan pada ibu bagaimana cara membuat resep eungkhui beureunee,” demikian pesan singkat dari TLA. Setelah mengirim resep kuwih tersebut aku menanyakan untuk apa dan hendak dibawa ke mana resep eungkhui tersebut. Ia mengatakan akan menyerahkan resep eungkhui itu pada ahli boga untuk disiapkan menjadi kuwih khas Aceh yang lezat dan akan menemani timphan di acara travelogue nantinya. Kemudian, esoknya TLA membawakan sedikit uang saku untukku yang berhasil dipinjamkan daripada salah satu teman terdekatnya yang sangat baik hati.

Pekan kedua di Banda, dari rumah Ariful aku pindah ke tempat di mana TLA tinggal. Yaitu tempat yang disewa oleh temannya berupa ruko dua lantai. TLA tinggal di tempat itu atas desakan kawannya tersebut.

Terus terang, sebenarnya di hari pertama berada di tempat itu batinku merasakan penolakan dari berbagai raut rona wajah para penghuni di tempat tersebut. Apa saja yang kulakukan di tempat itu selalu terkesan dimata-matai sehingga dari hari ke hari kekhawatiran semakin menggunung dan aku pun lebih memilih tidur di atas kursi di lantai bawah guna menjaga jarak dari mereka yang tidur di lantai dua.

Sebagaimana hari-hari Ahad lalu sebelumnya aku dan TLA berziarah ke beberapa makam abad pertengahan yang bertebaran di seluruh kota Banda Aceh dan Aceh Besar bersama anggota Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa). Di sana kami membantu Mapesa meuseuraya membersihkan, membetulkan kembali letak batu-batu nisan yang telah berserakan di tanah ke tempat asal di mana batu- batu tersebut pertama kali ditanamkan.

Hari itu kami meuseuraya di pemakaman Indra Puri. Di antara barisan batu-batu, salah satunya adalah batu nisan yang bertuliskan ‘makam penjaga pintu ka’bah’. Dan menurut Mizuar, di pemakaman tersebut ada makam seorang ulama sufi.

Yang anehnya adalah masyarakat setempat tidak tahu bahwa di tempat mereka ada makam-makam bersejarah. Seorang anggota Mapesa, Amrizal, tersenyum tatkala mendengar ada masyarakat yang menduga itu makam orang Hindu. Hanya orang yang tidak mahu peduli sahaja yang menduga semacam itu. Padahal tulisan-tulisan Laa ilaa ha illallaah, Muhammadurrasuulullaah, sangat lah jelas tertulis di nisan-nisan tersebut.

Usai acara meuseraya di Indra Puri, aku dan TLA kembali ke Gampong Pineung. Di tengah jalan kami disalami oleh hujan lebat dan berhenti di suatu muka portokoan untuk berteduh. Akhirnya kami tetap melanjutkan perjalanan walaupun hujan belum reda, dengan alasan hari semakin mendekati malam.

Beberapa kilometer bertolak dari tempat kami berteduh di tengah perjalanan, kembali kami dihadapkan dengan masaalah. Akan tetapi kali ini hanya perihal kehabisan bahan bakar. Syukur sepeda motor berhenti tepat didekat kedai kecil yang menyediakan bensin eceran.

Lalu, di tengah hujan itu, kami berdua turun masing- masing memeriksa saku sendiri. Setelah kuperiksa semua saku celana hanya menemukan dua ribu rupiah, dan TLA menemukan lima ribu rupiah. Lalu, kami pun membeli bensin dan meneruskan perjalanan.

Sebelum sampai di Gampong Pineung, kami menyempatkan diri berhenti di rumah seorang kawan TLA untuk membicarakan uang untuk menyewa tempat acara travelogue.

Pada malam harinya kami bertemu bang Irfan (selanjutnya kusebut Irfan) dan kawan-kawan di suatu kedai kopi berwi-fi. TLA sibuk dengan tugas- tugasnya, demikian juga hal Irfan dengan kawan-kawannya. Ketika kedai mulai sepi oleh larutnya malam, Irfan meminta laptopku untuk diupdate dan menginstal windows 8 di laptop tuhaku. Karena kantuk sangat, maka aku mencari tempat tidur di bagian mushalla kedai tersebut yang bisa dipakai. Maka tertidurlah aku sampai pagi baru dibangunkan oleh panggilan Irfan yang berpamit untuk pulang.

Aku dan TLA pun kembali ke Gampong Pineung. Di tempat kawannya tersebut, saya merasa sangat kantuk dan tertidurlah sampai siang. Lalu setelah ‘ashar kami pergi ke ACC Sultan Selim II. Ke sana TLA tidak membawa laptop, aku juga meninggalkannya di sisi laptop TLA, di atas tempat tidur.
Di ruang direktur gedung itu TLA, aku, dan Arif berbicara tentang hal apa saja dengan bang Fauzan (direktur gedung ACC Sultan Selim II, selanjutnya kusebut Fauzan). Di sini aku menemukan karakter Fauzan, sama persis seperti yang pernah kubaca di buku-buku pengaturan diri (self managemen), pengaturan usaha (managemen bussines), dan buku-buku pemberi semangat (motivasi).

“Ia memiliki jiwa kepemimpinan yang handal,” demikian batinku menilai.

Di ruang itu pun kami menyerahkan sejumlah uang kepada Fauzan untuk belanja sew
a tempat yang telah kami pergunakan di acara travelogue beberapa hari yang lalu. Kemudian dilanjutkan dengan penyerahan satu foto mesjid Istanbul oleh Ariful, foto yang direkamnya sendiri ketika magang satu bulan di sana. Pertemuan dengan Fauzan tersebut kami akhiri dengan acara berfoto bersama.

Saat aku tengah bertindak sebagai juru foto, di menit-menit tersebut, batinku memaksa untuk kembali ke tempat kami tinggal di Gampong Pineung. Kata batin itu muncul berulang-ulang sehingga perasaanku menjadi gelisah. Namun aku terus membidik-bidik lensa kamera ke wajah-wajah mereka. Perasaan khawatir tersebut tidak kusampaikan pada TLA karena berbagai pertimbangan dan alasan.

Setelah magrib aku dan TLA pergi ke satu kedai kopi yang menghadap ke terminal bus. Di sini kami menjumpai R. A Karamullah, pembuat film dokumenter ‘Pulau Aceh Surga Yang Terabaikan’. Ia ditemani oleh beberapa orang temannya. Sekira beberapa belas semenit berselang, datanglah bang Moritza Thaher, pendiri salah satu sekolah musik di Banda Aceh.

Memang itu adalah pertemuan yang di sengaja, dengan maksud TLA ingin memahami sedikit tata cara berolah vokal untuk menyeimbang nada falsnya, dan tentang rencana membuat acara konser menyanyikan lagu-lagu P Ramlee.

Sejam kemudian kulihat Irwandi Yusuf melintas di dekat tempat kami duduk, lalu setelah bekas gubernur tersebut melintas dan pergi sekira lima belas menit kemudian masuk seorang perempuan asing setinggi 6,3 kaki, bertubuh kurus, dan berambut pirang. Si pirang tersebut diapit oleh beberapa 
pemuda setempat sebagai pemandu. Mereka duduk di sisi depan kanan kedai.

Pukul sepuluh malam itu kami pun pulang, kembali ke tempat masing-masing. Hujan gerimis masih juga belum reda. Kami pun tiba di tempat kediaman sementara. Ia masuk lebih dahulu namun sebentar sahaja ia kembali keluar memberitahu bahwa laptopnya hilang. Kemudian aku menyarankan supaya ia memeriksa dahulu di kedai kopi yang berada di dekat tempat itu, yang di sana dirinya memang biasa berlama-lama dengan laptopnya. Siapa tahu lupa diambil saat pulang. Setelah mengatakan itu aku lalu beranjak ke masjid.

Sekembalinya aku dari masjid, ia masih berdiri di depan pintu dengan tangannya menyilang di dada. Masih belum juga menemukannya. Maka langsung sahaja saya kembali ingat bahwa, sebelum pergi laptop kami letakkan di tempat yang sama, di atas tempat tidur di lantai bawah ruko tersebut. Lalu aku pun berkata, jika memang laptop TLA hilang maka laptop Lodins juga hilang.

Setelah berkata demikian lalu aku pun masuk ke dalam dengan setengah berlari. Ternyata memang benar! Laptop kami telah dicuri oleh maling. Di tempat kami meninggalkannya tadi petang, hilang!
Ketika kami pulang hanya ada seorang lelaki hitam gemuk sendirian di dalam, ketika naik ke lantai dua pemuda itu berpura-pura tertidur pulas. Sebenarnya aku tahu ia tadi yang barusan mengintip kami yang sedang kebingungan di lantai bawah.

Setelah kejadian tersebut selama satu hari TLA menyendiri di ruko tersebut. Ia merasa tidak ada satu alasan pun yang tepat untuk keluar dan tidak tahu harus pergi kemana.

Januari 2015
Dua hari selang setelah peristiwa tersebut TLA pun dilanda demam yang hebat sehingga terpaksa harus beristirahat meskipun sebenarnya masih banyak pekerjaannya yang harus diselesaikannya.
Melihat kondisinya yang demikian, aku menanyakan apabila keadaannya seperti itu biasanya bagaimana cara ia mengatasinya. Lalu atas sarannya aku mencoba mencarikan untuknya obat-obatan atau makanan yang bernutrisi seperti buah-buahan. Dan Alhamdulillah, aku bersyukur karena dalam masa dua hari kesehatannya kembali membaik. Sepertinya ia telah terlatih untuk mengobati diri sendiri.

Dalam menghadapi semacam itu aku merasa bahawa selama ini aku sering lalai dari mengingat sang pemilik alam dan segala kejadian.

Saat malam mulai sepi aku pun pergi ke mesjid. Di malam itu tiba-tiba dua orang berpakaian putih mendekatiku yang tengah duduk di dekat sebuah tiang di tepi saf terdepan dan di kedua tanganku memegang mushaf yasin fadhilah. Mereka langsung duduk di sisiku dan berbicara dengan bahasa Arabian. Kejadian itu makin membuatku jadi bertambah pusing dan aku hanya melihat mulut-mulut mereka yang sedang berbicara karena tidak mengerti.

Lalu aku pun mencoba mengingat bagaimana cara bertanya di dalam bahasa Arab, maka dari mulut mereka terdengar kata, “Pakistani!”

“Alhamdulillah!” demikian batinku girang karena tidak sia-sia pertanyaan konyol yang kurangkai bisa mereka pahami dengan baik. Kemudian aku bertanya lagi.

“Munir Ahmad,” jawab salah satu yang tertua dari mereka (kemudian saya tahu bahwa dia dikenal sebagai Maulana Munir Ahmad). Sekali lagi aku gembira karena merasa tidak sia-sia bertanya sebab mereka bisa memahaminya. Dan aku pun memperkenalkan diri, “Jamaluddin Sulaiman.”

“Jamaluddin Sulaimani?” tanya Maulana, memperjelas.
“Na’am!” jawabku. Mereka menambahkan huruf ‘i’ pada kata ‘Sulaiman’ menjadi ‘Sulaimani’, memberikan baris kasrah pada huruf nun yang sebelumnya disukunkan. Jadi, dari kata Jamaluddin Sulaiman menjadi Jamaluddin Sulaimani. Dan Lodins, adalah nama panggilanku di rumah.

Namun aku sempat diliputi oleh rasa cemas, bagaimana jika ada orang yang melihatku tengah berbicara dengan mereka (aku menduga mereka kafilah jamaah tabliq?). Kemudian karena merasa tidak tahu apa yang harus kulakukan, maka mushaf yasin fadhilah yang ada di tanganku pun kuletakkan di lantai masjid. Dan mereka marah.

Aku menafsirkan bahwa mereka mengatakan risalah yang ada di tanganku adalah bagian dari Al-Qur’an. Jangan diletakkan di lantai. Lalu saya mengatakan, “Na’am!” seraya meletakkan risalah tersebut di atas pangkuan kembali.

Setelah agak lama berbicara, sesaat sebelum pergi, mereka sempat mendo’akanku dengan do’a yang sangat panjang. Ketika Maulana tersebut selesai mendo’ai kebaikan untukku, maka dengan cepat kuucapkan “Amiin!”

“Alhamdulillah telah dihibur oleh kawan muslim dari Pakistan. Perihal mereka berbeda faham dengan kita itu urusan mereka,” demikian batin kecilku membisik. Dan aku pun meneruskan menyelesaikan membaca risalah yang ada di tangan.

Foto hasil rekaman Lodins: Peneliti sejarah kebudayaan Islam yang filsuf, Taqiyuddin Muhammad, membaca pahatan kaligrafi di nisan-nisan yang berada di Kumpulan Makam Meurah II, Ulee Tuy, Mata Ie, Aceh Besar. Di sinilah ia menemukan nisan Tun Meurah Orang Kaya Kapal, seorang Laksamana perempuan di Kesultanan Aceh Darussalam. Jumat 12 Desember 2014.
Pada pekan ke empat, aku dan TLA mengambil keputusan untuk pergi secara diam-diam menjauh dari ruko berlantai dua yang dahulu pernah menjadi tempat tinggal TLA selama beberapa bulan.
Kepada si pemuda berkulit gelap berbadan gemuk yang tinggal di ruko tersebut, kami mengatakan akan pulang kampung. Malam itu kami pergi ke kedai kopi, dan ternyata di sana kami bertemu lagi dengan mereka. Sesudah mereka pulang, malam itu kami pun tertidur di kedai tersebut karena belum tahu harus pergi ke mana.

Akhirnya kamipun menghubungi salah satu kerabat yang telah lama menetap di kota ini. Ia adalah teman sewaktu kecil dan teman satu sekolah dasar. Selama tinggal di sana aku tidak pergi ke mana-mana, melainkan apabila penting sangat seperti shalat Jum’at dan mengikuti pengajian di mesjid, barulah aku keluar.

Di suatu malam Ahad aku pergi ke salah satu mesjid di Keutapang. Setelah selesai shalat magrib, ada pengajian yang dipimpin oleh seorang ulama hadits dari negeri Yaman. Menarik sekali menikmati suasana semacam ini, sehingga aku memusatkan perhatianku pada semua petuah-petuah yang disampaikan oleh syeikh tersebut.

Aku mendapati ada beberapa hal yang berbeda antara syeikh Yaman ini dengan da’i yang biasa kulihat, dari cara mereka menyampaikan;

-Penda’i musiman kampung yang telah terkenal sebagai artis da’i:
Cara mereka adalah dengan mengaduk ilmu agama dengan canda-canda yang kadang-kadang berlebihan bahkan mengakibatkan para ulama besar marah kepada mereka. Mereka mencari uang dengan perantara dakwah.
-Penda’i besar (ulama) sangat berhati-hati ketika hendak mengeluarkan ucapan. Setiap yang mereka ucapkan adalah bersumber dari Alqur’an dan hadits, ijma’ dll. Demikian sederhananya, sehingga umumnya mereka tidak meminta bayaran atas dakwah-dakwah yang mereka sampaikan karena yang mereka sampaikan adalah dari para ulama terdahulu, dari para sahabat nabi Saw, dari Allah. Swt. (Ma’af menggurui..haha..)

Sekali lagi di hari Ahad terakhir di Banda, aku ikut TLA dan Dr. Mehmet ke makam para menteri di masa negara Aceh Darussalam dan ke makam Syaikhul Islam ulama tauhid dan ulama syar’i di Pango bergabung dengan kaula meuseuraya Mapesa.

Di sini kusaksikan bahwa Dr. Mehmet bagaikan terlahir satu indatu dengan para petualang armada Khalifah Utsmaniyyah yang pusara-pusara mereka bertebaran sini. Ia bermeuseraya dengan penuh semangat.

Sepulangnya dari makam itu kami melanjutkan lagi perjalanan ke Mesjid Raya Baiturrahman untuk menemui seorang ulama Aceh yang masih ada di masa ini, Abuya Jamaluddin Waly. Tujuan kami adalah meminta izin kepada beliau, bahwa di bulan Maret 2015, organisasi antarabangsa, PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh-Turki), akan mengadakan acara haul mengenang Allahyarham Abuya Muhibbuddin Waly.

Selain memintakan izin, yang terpenting adalah memohon kesediaan beliau untuk menjadi salah seorang daripada pembicara di acara tersebut karena beliau adalah ulama sekaligus adik daripada Allahyarham. Alhamdulillah, beliau mengizinkan acara itu diperbuat dan bersedia menghadiri dan berbicara di sana.

Hari selanjutnya, usai shalat maghrib aku dipanggil oleh TLA ke rumah Dr Mehmet. Sesampai di sana aku  diberitahu bahwa istri Mehmet tadi siang pukul 02:00 tanggal 20 Januari 2015 telah melahirkan anak kedua dari mereka. Karenanya, aku diminta membantu menanam adoe (ari-ari) si bayi yang baru lahir tersebut. Aku pun sentak terkejut karena tidak pernah sekalipun sebelumnya terlibat dalam acara semacam ini.

Lalu kami menanyakan ke Paloh Dayah pada bidan yang berpengalaman tentang mengurusi hal tersebut. Setelahnya, aku betindak sebagai penggali lubang. Tatkala mencangkul, aku senantiasa berselawat kepada Nabi Muhammad SAW. Setelah lobang siap, Dr Mehmet mengambil adoe tesebut dan menanamnya, aku dan TLA ikut membantu.

Menurut kepercayaan orang Aceh, kelak ketika sang bayi besar, jiwa dan kehidupannya akan dipengaruhi oleh berbagai sebab, dan salah satunya dipengaruhi oleh kejiwaan si penanam adoe (?). Lalu aku pun berpesan;

“Wahai bayi dari adoe ini, sembahlah Allah, Nabi Muhammad nabi kita, Islam agama kita, patuh dan setialah pada kedua orang tuamu, jadilah Laksamana Malahayati muda yang membela negeri.”
Malam itu aku pun tak lupa mencicipi satu butir kue tradisional Turki Hacizade persediaan jamuan 

Dr Mehmet untuk menjamu TLA malam itu. Jika dibandingkan dengan makanan di Aceh, rasa kue 
ini hampir sama dengan meuseukat, mungkin saja demikian, dugaku.
Ketika semua usai, dalam keadaan masih letih, Dr Mehmet Ozay pun meluncur dengan cepat ke sebuah rumah sakit di Banda Aceh. Ia tidak sabar ingin mengetahui bagaimana keadaan Malahayati kecilnya di sana.

Dan beberapa hari kemudian dalam subuh Kamis yang perlahan menjemput mentari aku kembali ke Paloh Dayah bersama beberapa pengalaman yang nun indah dalam ingatanku yang terus menemani. Wassalam.

Pesan: Cintailah ilmu, Ulama, budayakan kembali membaca,menulis kapan, dan dimana saja, demi peradaban negeri yang agung ini.

Catatan

Tempat- tempat yang Sempat Kukunjungi Ketika di Banda

Mesjid
1. Masjid Raya Baiturrahman.
tanda seseorang telah dihapuskan dari dosa- dosa, ialah ketika melakukan ibadat merasa damai dengan ibadahnya dan ikhlas .
2. Masjid Gampong Pineung.
3. Mesjid di Ajun
4. Mesjid Baiturrahim di Ulee Lheue.
5. Mesjid Baitul Makmur Ateuk. (Punya kesamaan dalam tata cara shalat jum’at di pedalaman di    Aceh utara. Cintailah ulama. Mari belajar ilmu agama pada para ulama.
6. Mesjid Keutapang. Memakan makanan yang haram adalah penyebab tertolaknya do’a.
7. Mesjid Baburrahmah di Lamteumen. Nasehat khatibnya, nabi adalah orang yang sedikit makan dan sedikit  tidur. Hatinya selalu mengingat Allah walau tubuh dan matanya terlihat sedang tidur.

Makam
1. Makam Syiah Kuala
2. Makam Sultan Iskandar Muda
3. Makam Kandang XII Sultan Al Qahhar Yang Agung.
4. Makam Meurah Seupeung, Lam Blang Trieng, Darul Imarah, Aceh Besar.
5. Makam Meurah ji-ee, Lam Blang Trieng, Darul Imarah, Aceh Besar.
6. Makam Meurah II, Mata Ie, Aceh Besar.
7. Makam di Indrapuri
8. Makam Tgk Di Bitai
9. Makam para menteri-menteri kerajaan negeri Aceh Darussalam abad silam di Pango
10. Makam para Syaikhul Islam ulama syar’I dan ulama tauhid di Pango.

Tempat-tempat Umum
1. Mesium Negeri Aceh, rumah Aceh.
2. Mesium Tsunami Aceh.
3. Gedung Turki Aceh Community Center (ACC) Sultan Selim II.

Tentang Harapan

Written By Peradaban Dunia on Friday, 6 February 2015 | 16:52

Oleh Thayeb Loh Angen
Penulis novel Aceh 2025, aktivis di PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh - Turki) 


Tatkala mentalmu terjatuh dan keadaan terasa begitu buruk menimpamu namun setelah beberapa saat setelahnya engkau berpura-pura menyakini bahwa keadaan akan segera lebih baik, itulah salah satu contoh harapan.

Sebagai orang yang dilahirkan dan dibesarkan di dalam keluarga miskin, saya tahu tentang itu. Akan tetapi itu belum seberapa, ada yang lebih buruk, yakni ketika engkau terjebak di dalam sebuah perang atau terlibat dengan sebuah perang yang tidak mungkin dimenangkan. Hal lainnya adalah saat dikhianati, putus cinta, dan sebagainya yang bahkan bisa membuat lelaki perkasa pun bisa menangis, biasanya di tempat yang tidak dilihat oleh seorang pun.

Harapan, bisa dipikirkan dan dirasakan. Maka, di bagian anggota tubuh manakah terletaknya harapan itu? Apakah di hati ataukah di otak? Mungkin, itu bukan di keduanya, akan tetapi harapan berhabitat di tulang punggung setentang jantung, setelah dikilaskan oleh hati dan ditanggapi oleh otak kiri untuk diperintahkan ke seluruh anggota tubuh.

Harapan itu tidak memakai otak kanan, hanya sanya otak kiri, setelah diolah, lalu disimpan di tulang punggung. Karenanya, harapan itu tidak pernah logis, akan tetapi ia telah membuat jutaan orang di bumi ini bisa hidup lebih lama daripada orang yang hilang harapan yang seharusnya, bisa mengubah keadaan sulit menjadi keberuntungan, karena orang itu memiliki harapan.

Apabila ada yang bertanya, bukankah manusia itu berpikir dengan otak, tidak dengan hati atau tulang punggung? Benar sekali. Setelah berdiam di tulang punggung, otak kiri dan otak kanan mengolah data yang disebut ‘harapan’ itu dan menyebarkannya ke seluruh tubuh.

Lalu, bagaimanakah kita menyiasati diri supaya selalu memiliki harapan walaupun di tengah keadaan yang dianggap terburuk sekalipun? Sebagian orang menyebut harapan sebagai pikiran optimis.
Sebagai contoh, sebelum penandatanganan (MoU) perdamaian antara RI-GAM di Helsinki pada tahun 2005, orang GAM menciptakan slogan untuk menjaga harapannya dengan tiga kata, yakni ‘Sibak rukok teuk’ (sebatang rokok lagi), lengkapnya, ‘Sibak rukok teuk ka meuase nanggroe’ (Sebatang rokok lagi disulut-hisap] negeri ini [Aceh] sudah berhasil [merdeka). Itu sangat ampuh sebagai propaganda menarik pendukung baru atau mempertahankan pendukung yang sudah ada.

Dalam yang lebih tinggi, harapan pada Allah Ta’ala akan membuat orang merasa tenteram hidup di dunia dan meyakini ia juga akan tenteram damai di hari kebangkitan yang ia percayai akan adanya. Harapan, tentu ada tertujunya, harapan pada apakah. Misalnya, karena memiliki harapan akan diberikan dan ditambahkan cinta Allah Ta’ala kepada dirinya, maka seseorang akan mengamalkan semua yang diperintahkan dan menjauhi segala larangan-Nya. Begitu pun dalam segala bidang yang lain. Kita, manusia adalah anak harapan.

Barang siapa yang tidak memiliki harapan apapun lagi di dunia ini karena putus asa, orang itu akan mati. Dan barang siapa yang tidak memiliki harapan apapun pada kepentingan duniawi yang sia-sia, niscaya orang itu akan menjadi manusia yang kasyaf, tabir-tabir penghalang dunia nyata dengan yang tersembunyi akan disingkapkan dari pandangannya.

Orang dengan tingkatan jiwa seperti ini akan sanggup menghadapi keadaan sesulit apapun. Rasa sakit dan senang tidak akan mengubah pendiriannya. Harapan, biasanya akan mempengaruhi seluruh rentang waktu kehidupan sesorang. Maka, apakah harapanmu?

Engkau termasuk orang yang sial apabila harapan-harapanmu hanya untuk kepentingan dunia, sampai dirimu dijemput ajal saja, yang engkau dan aku tahu bahwa hanya ada beberapa orang saja yang berkesempatan hidup seratus tahun atau lebih.

Maka, dunia ini adalah medan perjuangan untuk mendapatkan yang terbaik di akhirat. Kita akan menikmati dunia ini sebatas yang sesuai dengan sunnah Nabi dan Tuhan seru sekalian alam. Apakah begitu harapanmu? Hanya orang-orang yang bisa mengendalikan harapannya sendirilah yang bisa menjadi manusia sejati.

12 Februari 2015 Buku Aceh 2025 Diluncurkan

Written By Peradaban Dunia on Thursday, 5 February 2015 | 14:11


Buku ini tentang keadaan Aceh pada masa sekitar tahun 2025 yang dipertunjukkan melalui perjalanan tokohnya Tuanku Ben Suren dan Cut Benti Surenia. Di dalamnya tersebut bagaimana kronologis Aceh bisa berubah.

Perubahan total itu diawali dengan sebuah revlusi yang terjadi di Banda Aceh pada tahun 2020 Masehi. Revolusi itu digerakkan oleh sebuah perkumpulan yang tidak diketahui.

Puncak dari perubahan itu terlihat jelas pada tahun 2025. Saat itu Aceh telah dibagi ke dalam enam wilayah pembangunan, yaitu: Banda Aceh - Sabang, Meulaboh - Nagan Raya, Barus-Kutacane, Lhokseumawe-Aceh Utara, Takengon-Bener Meriah, Tamiang-Medan. Setiap wilayah ini memiliki hak otonom dan masing-masing penduduknya membangun wilayah sendiri dalam kesatuan Aceh.

Peristiwa besar yang tertulis di dalam novel Aceh 2025, di antaranya: revolusi pada tahun 2020 Masehi, badai pada 2025 yang menyebabkan tokoh utamanya terdampar ke Male di Maladewa, Hadramaut di Yaman, Siprus dan Istanbul di Turki, dan New York dan Silicon Valley di Amerika Serikat.Peristiwa besar lainnya adalah pembangunan Jembatan Banda Aceh-Sabang-Pulao Aceh, pembangunan jalan rel kereta listrik dari Banda Aceh-Meulaboh-Medan, Banda Aceh-Lhokseumawe-Medan, Lhokseumawe-Takengon-Meulaboh, dan lain sebagainya.

Novel Aceh 2025 mengisahkan bagaimana sistem pemerintahan, pendidikan, ekonomi, hukum, kehidupan beragama dijalankan dengan baik. Selamat datang di masa depan. Buku tersebut diterbitkan oleh Penerbit Yatsrib Baru.

Dapatkan diskon khusus pada acara peluncuran "Aceh 2025" sebesar 20% dari harga normal.

Pengantar: Thayeb Loh Angen (Penulis Buku Aceh 2025)
Pembicara: Herman RN, Musmarwan Abdullah, Salman Yoga S.

Mengenal Abuya Muhibbuddin Waly

Mengenal Alm. Saidul Mursyidin. Abuya Syaikh Prof. DR. H. Tgk. Muhibbuddin Muhammad Waly (17 dec 1936 M / Kamis 3 Syawal 1355 H - 7 Maret 2012 M / 14 Rabiul Akhir 1433 H)

Kalimat terakhir Abuya Muhibbuddin Waly

“Jangan kita mengupas mangga yang belum masak, artinya jangan kita mengambil pengajian tarikat pada yang bukan ahlinya. Jika begitu, tunggulah kiamatnya. Dia harus bisa menyelesaikan dan mensyurahkan permasalahan syari’at yang terjadi pada masyarakat, ilmu hakikat, ilmu ma’rifat, Ihya ulumuddin dan Al-Hikam dalam memberikan pengertian dan pemahaman. Jadilah engkau hidup di dunia ini seolah-olah engkau hidup selamanya, tapi kalau soal agama tidak bisa, mesti sekarang juga karena mungkin esok kita mati , akhirnya muncullah penyesalan yang tidak ada habis-habisnya….. Hidup ini adalah perjalanan panjang yang azab, sebentar lagi rehat. “

Abuya Muhibbuddin Waly. darussalamalwaliyyah.blogspot.com

Oleh: Tgk Amal Muhibbuddin Waly
Anak daripada Almarhum Abuya Muhibbuddin Waly

Beliau adalah putra tertua dari Syaikh Haji Muhammad Waly Al-Khalidy dengan Hajjah Rasimah, istri beliau yang pertama. Rais ‘Am Dayah/pesantren Darussalam Labuhan Haji Aceh Selatan. Lulusan pertama secara resmi dari Asia Tenggara di abad modern, yang mendapat doktor (Ph.D) Syariah Islam, dalam bidang Ushul Fiqh al-Islami (The Roots-The oracle of Islamic Law Section) di universitas Islam terbaik dan tertua di dunia yaitu Al-Azhar, Kairo,  Mesir – Egypt (1964-1970). Beliau adalah Satu-satunya mahasiswa yang mempertahankan thesis di Aula Syaikh Muhammad Abduh di Mesir. Mendapatkan gelar Professor dari Universitas Ilmu Al-Qur’an di Jakarta dan menjadi Imam besar Masjid Istiqlal Jakarta pada saat itu. Abuya Muhibbuddin Waly juga menjadi guru besar (Professor) Pensyarah kuliyyah of Laws di Universitas Islam Antar Bangsa (International Islamic University) di Malaysia.

Beliau memiliki ribuan murid yang tersebar di seluruh tanah Melayu Nusantara mulai dari Aceh sampai ke tanah Jawa, Sulawesi, Malaysia bahkan Brunei Darussalam dan pattani (siam). Ulama yang gigih dalam memperjuangkan aqidah Islam Ahlussunnah waljama’ah dan mengarang syarahan kitab Al-Hikam (Hakikat Hikmah Tauhid dan Tasawwuf) yang dibuat oleh Al Imam Ahmad Abul Fadhal gelar Tajuddin bin Muhammad bin Abdul Karim bin Athaillah Iskandari (Askandari). Kitab syarahan Al-Hikam ini telah diakui oleh seluruh ulama-ulama Melayu Nusantara pada pertemuan di Singapore bulan Februari 1992 Untuk ditetapkan sebagai acuan utama bagi syarahan resmi Al-Hikam yang dipakai oleh seluruh ulama di tanah Melayu Nusantara.

Selain mendapatkan ijazah Thariqat dari Syaikh Haji Abdul Ghani Al Kampari dan dari ayah beliau Syaikh Haji Muhammad Waly, Beliau juga mendapatkan ijazah dalam menyebarkan seluruh hadist-hadist Rasulullah SAW dan ajaran Thariqat-Thariqat Mu’tabar di kalangan ahli tasawwuf dari ulama besar Masjidil haram Syaikh Muhammad Yasin Al Fadaany dan Al ‘Alim Al Muhaddist Syaikh Sayyid Muhammad bin sayyid ‘Alawy bin Sayyid Abbas Al Maaliki Al Hasany yang mana beliau merupakan anak dari ulama besar Masjidil Haram yang juga merupakan guru dari Syaikh H. Muhammad Waly Al-Khalidi yang bernama Syaikh Ali Maliky.

Beliau yang alim pada segala bidang ilmu ini meninggalkan ratusan tulisan, manuskrip, buku dan makalah-makalah agama, sosial kemasyarakatan, politik, ekonomi (perbankan), national security (Militer), sejarah kesultanan Aceh, dan pemerintahan serta perundang-undangan yang dibuat untuk generasi Ahlussunnah Wal Jama’ah ke depan.

Ini Syair Nasehat dari Abuya Muhibbuddin Waly

Kebatinan Islam

Karya Abuya Muhibbuddin Waly (Abuya Professor)

Jadilah kau di sisinya laksana mayit di pemandinya
Ia patuh pada kehendak pemandi membalik batang tubuhnya
Jangan kau sanggah perintahnya apa yang kau masih jahilnya
Karena kau menyanggahnya berarti kau membantahnya

Terima saja apa yang kau lihat dilakukannya
Bila kau lihat itu tak baik berarti ia menutupnya
Dalam sejarah yang mulia Nabi khaidir cukup baktinya
Anak kecil dibunuhnya sedangkan Musa mencegahnya

Tatkala surya muncul dari malam rahsianya
Tatkala pedang terhunus memancung leher penghujatnya
Begitulah ilmu mereka sangat jarang ada tandingannya.

Anatolia, Museum Segala Zaman (1)

Written By Peradaban Dunia on Sunday, 1 February 2015 | 23:49

Penyadur: Ali Hasjmy

Tulisan ini adalah catatan Ali Hasjmy yang ditulis dengan mesin ketik biasa. Naskah aslinya tersimpan di Perpustakaan dan Museum Ali Hasjmy yang kemudian dirangkapkan oleh Mehmet Ozay, lalu diketik ulang oleh Thayeb Loh Angen untuk disiarkan atas nama lembaga PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh-Turki.
Ali Hasjmy adalah sastrawan besar Aceh yang juga disebut sastrawan pujangga Baru Indonesia. Ia merupakan orang yang memiliki banyak pencapaian di masa hidupnya; pernah menjadi Gubernur Aceh, Rektor IAIN (Sekarang UIN) Banda Aceh, dan Ulama.

Peta Anatolia, Turki. Foto: folkemord.wordpress.com
Di Turki Sekarang Pendidikan Islam Wajib di Sekolah Dasar dan Menengah

Dalam majalah Al Farabi terbitan 1987, termaktub sebuah karangan berupa lapuran utama tentang Anatoli, bagian Asia dari Republik tersebut, yang ditulis oleh wartawannya, Suleiman Madhar. Dengan jelas sekali, dia melukiskan Anatoli yang merupakan bahagian terbesar dari Republik Turki, baik mengenai kehidupan keagamaan (Islam) mahupun kehidupan kebudayaan. Di bawah ini, akan saya sadur bahagian-bahagian yang penting diketahui para pembaca di Indonesia.

Anatoli Museum Segala Zaman

Jantung Anatoli…., jantung yang memberikan kehidupan, yang tidak mengenal diam dan tidak bersahabat dengan kesedihan, demikian Suleiman Madhar memulai lapurannya yang ditulis dengan bahasa-bahasa yang puitis. Ia, Anatoli, selalu ketawa, bernyanyi, menari, menabuh rebana dan memetik gitar……Segala sesuatu difilsafatkan, senda dipadukan dengan hikmah, gurau diadukkan dengan kesungguhan, persis seperti yang diperbuat Nasaruddin Khawaja….orang Turki ketika dia hidup dengan menghamburkan senyum dan menarik tawa…dari hati Anatoli.

Berbagai warna hidup terlihat di jantung Anatoli, kemajuan yang silih berganti, kebudayaan yang bangun dan jatuh, bangsa-bangsa yang silih bertukar tamaddunnya masing-masing; yang baru dipadukan dengan yang lama; diserapnya sumber-sumber kehidupan baru dari berbagai unsur, yang kemudian dipadukan menjadi Warisan Kebudayaan Turki.

Sejak beribu-ribu tahun lampau, telah berkembang di Anatoli bermacam unsur bangsa dengan kebudayaannya masing-masing: Kebudayaan Yunani, Kebudayaan Rumawi dan kepahlawanan Eygur dan Turkestan. Dalam pada itu, kita mendengar hikayat Khoja Warjankoun, yang hidup bersih dari segala pengaruh kebudayaan itu; karya-karya sastranya samasekali tidak berbekas dengan pengaruh lama itu; musiknya dan lagunya, demikian pula dramanya tampil dengan gaya sendiri.

Kira-kira 800 tahun lalu, rakyat Anatoli telah membangun tamaddunnya, kebudayaannya. Pada waktu itu mereka telah membentuk satu kelompok teater yang mempertunjukkan kepahlawanan Turki Bani Saljuk, bahkan pada waktu mereka telah menampilkan Sastra Sufi yang menjelmakan dirnya lewat tali-tali gitar dan tarian Darwis…..

Orang yang menyangka, bahwa Turki ialah apa yang dilihatnya di Istanbul, itu tidak benar, jauh menyimpang dari hakikat.

Turki bukanlah kota yang terletak di pintu masuk selat Bosporus, atau Ayasofya, atau Mesjid Suleiman dan bukan jembatan  yang terbentang di atas Dardanela. Semua itu, hanya setitik dari air laut Turki yang luas. Istanbul hanyalah kepala yang menantang Eropah, sementara tubuh, hati, bangsa, dan hayah ialah yang hidup di Anatoli; Semenanjung luas yang mencakup 97 % dari luasnya Republik Turki yang berpenduduk sekitar 50 juta jiwa dan 45 juta di antaranya bermukim di Anatoli.

Orang sering menganggap, bahwa Istanbul ialah Turki dan Turki ialah Isltanbul. Hal ini karena sejarah Istanbul itu sendiri yang merupakan pusat kekuatan Imperium Byzantium yang menyaingi Imperium Rumawi yang berpusat di Roma. Benteng dan kota yang bernama Konstantinopel itu dapat direbut oleh Sulthan Muhammad Al Fatih dan kemudian dijadikan Ibukota Kesultanan Turki Usmaniyah dengan diubahnya nama menjadi Istanbul.

Anatoli ialah hakikat dari Republik Turki. Di sana hidup bangsa Turki yang sebenarnya; mereka petani, nelayan dan pejuang, yang hidup dan bertani di daratan-daratan rendah dan tinggi, di lembah-lembah dan ladang-ladang, di pantai-pantai sebagai nelayan. Mereka bukan saja petani dan nelayan, mereka juga tukang-tukang yang ahli, pemahat yang cerdas, penenun kain dan pemadani yang bernnilai tinggi, pekerja yang rajin.

Anatoli kaya dengan hasil pertanian, dengan bermacam-macam buah-buahan, dengan hasil tambang, termasuk minyak bumi, dengan hasil industri dan sebagainya. Minyak bumi yang dihasilkan dapat memenuhi 50 % kebutuhan negara.

Bahasa Al Quran

Sesuatu yang ajaib kita temui di Anatoli, jarang sekali orang dapat berbahasa Arab, sekalipun penduduk negeri itu hampir 100 % beragama Islam. Bukankah ini benar-benar suatu keanehan, bahwa bahasa Al Quran hampir tidak dikenal di tiap-tiap tempat? Demikian tanya Suleiman Madhar. Apa yang akan diperbuat, sedangkan anda benar-benar berada di Negara Islam, tetapi bahasa Arab telah ditiadakan, bahasa Al Quran, dengan perintah dan undang-undang. Tiada seorang saudagar yang berani menulis di dalam buku dagangannya sepatah kalimatpun dengan huruf Arab. Sekalipun demikian, 99 % penduduknya adalah muslim.

Setelah berlalu waktu-waktu tertentu, yaitu permulaan penyelewengan ke “sekulerisme”, mesjid-mesjid yang dikunjungi para pemuda dengan imam-imam yang berusia lanjut. Tetapi sekarang lain halnya, masjid-mesid penuh dengan anak muda-muda, hatta pada hari Juma’at mereka melimpah keluar, sampai ke jalan; kebanyakan jama’ah adalah anak muda-muda. Sekarang tidak ada rintangan sedikit pun bagi kegiatan pengembangan Islam, selama ia tidak memasuki bidang politik kenegaraan. Nyatanya sekarang, sudah memerlukan pembangunan mesjid-mesjid baru, karena yang ada sudah tidak mencukupi lagi.

Dr Akmaluddin Ihsan Oglu, Direktur Pusat Sejarah dan Kebudayaan Islam, menjelaskan kepada Suleiman Madhar, bahwa arah gerakan Islam di Turki sekarang sangat kuat; pembaharuan pemikiran Islam tumbuh dengan subur.

Untuk mendukung pembharuan pemikiran Islam, maka di Anatoli sekarang berdiri banyak lembaga-lembaga pendidikan Islam dalam berbagai tingkat, baik di kota-kota maupun di kampung-kampung. Yang lebih menggembirakan lagi, bahwa pendidikan agama Islam diwajibkan pada Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah, dan ditetapkan dalam Undang-Undang Dasar 1982, setelah sebelumnya merupakan mata pelajaran pilihan.

Adapun pelajaran bahsa Arab, telah ditetapkan menjadi salah satu pelajaran bahasa asing yang diharuskan untuk mempelajarinya di Sekolah Menengah, dan kesulitan yang dihadapi sekarang ialah sangat sulit mendapat guru-gurunya.

Yang amat menggembirakan, bahwa Menteri Pendidikan Turki telah menetapkan perlunya diajarkan bahasa Arab di dalam sekolah-sekolah di Turki, dan pada waktu mengeluarkan ketentuan tersebut beliau menegaskan: Dengan bantuan Allah, kami akan berhasil dalam gerakan ini.

Semua surat-surat kabar di Turki menyambut keputusan ini dan mereka turut mendorongnya, karena dianggap amat penting dalam usaha meningkatkan kembali hubungan Turki dengan dunia Arab.
Turki sekarang menyaksikan Gerakan Baru dalam dua bidang yang sangat asasi, yaitu Gerakan Bahasa Arab dan Gerakan Kebangkitan Islam.

Kebangkitan Baru itulah yang kami dapati di jantung Anatoli, demikian penegasan Suleiman Madhar, sekalipun ia masih tetap memelihara peninggalan lama, sejak sebelum zaman Islam, hatta Anatoli menjadi Museum Segala Zaman.

(Bersambung….)

Oh, Dara Anatoli

Written By Peradaban Dunia on Saturday, 31 January 2015 | 16:13

Dara Anatolia, Turkey, dalam acara pernikahan. Foto: Flickr.com

Aku rindu padamu, Jamilah,
mari kita bersama ke penghulu,
untuk membina perkawinan kita.

Alangkah indahnya rambutmu terurai
menutupi tubuhmu semampai,
Dalam khayalku ia laksana malam,
ketika engkau pergi jauh,
rindu mendorongku untuk m enangkapmu.

Mari, datanglah Jamilah,
Aku menanti kedatanganmu,
Selama engkau sedang berjalan,
Selagi engkau menyahuti panggilan.
Tidak ada siapapun yang lebih layak untukmu
kecuali diriku....

Mari, datanglah Jamilah,
dengan baju putihmu yang gemerlapan,
Sungguh, ia gilang gemilang,
laksana gemilangnya bintang di langit,
Dan engkau berada di sana,
laksana cahaya bulan.

Oh, Jamilah...
Oh, Afifah....
Oh, Dara Anatoli......!

Sebuah nyanyian rakyat Anatoli, Turki. Penerjemah: Ali Hasjmy. Asal Catatan: Pustaka Ali Hasjmy.

Berita Pilihan

Berita Campuran

 
Web Design : Peradaban Dunia Team | Redaksi | About
Copyright © 2011. Peradaban Dunia - All Rights Reserved
www.peradabandunia.com