background img

The New Stuff

Udin Pelor di Taman Ghairah (Taman Putroe Phang), 2012. Foto: Lisma Linda.
Banda Aceh - Penulis novel Aceh 2025, Thayeb Loh Angen, mengajak rekan-rekan seniman dan masyarakat umum untuk menjenguk seniman Aceh yang melegenda, Udin Pelor (70) yang sudah sebulan lebih terbaring lemah di rumahnya, Banda Aceh.

Thayeb mengatakan, pada Sabtu 29 Agustus 2015, Udin Pelor mengirimkan pesan singkat dalam jumlah banyak padanya, berisi puisi berjudul ‘Udin Pelor di Kala Senja”.

“Keberadaan Udin Pelor, sebagaimana seniman  lainnya yang beberapa tahun ini meninggal dunia, mengajarkan kita betapa mirisnya nasib seniman di Aceh. Beberapa bulan lalu kita kehilangan
Maestro Seudati Syeh Lah Geunta, tahun lalu kehilangan penyair dan pedebus Yun Casalona dan penyair Doel CP Alisah,” kata Thayeb, di Banda Aceh, (30/08/2015).

Seniman di Aceh, kata Thayeb, baik pemusik, penulis, pelukis, dramawan, penyair, dan sebagainya, belum mampu menghidupi dirinya dengan karya mereka, tanpa melakukan kegiatan lain yang kadang berjauhan dengan penciptaan seninya.

“Marilah kawan-kawan, kita kunjungi seniman legendaris ini. Juga, kawan-kawan yang ingin membuat Kemah Seniman Aceh, sebaiknya menyertakan Udin Pelor. Kalau belum sehat saat acara nantinya, setidaknya nama dan karyanya disebut. Udin Pelor mencerminkan nasib kita,” kata Thayeb.

Thayeb mengaku, dalam beberapa hari ini, akan mengajak langsung para seniman, terutama yang menetap di Banda Aceh dan Aceh Besar untuk mengunjungi Udin Pelor.

“Tahun lalu saya mengajak kawan-kawan peduli pada keluarga Yun Casalona. Juga beberapa bulan lalu, berencana mengunjungi rumah duka Syeh Lah Geunta di Aceh Timur, namun batal. Sayangnya, saat Doel CP Alisah tutup usia, saya di luar Banda Aceh. Sebaiknya kita saling membantu, setidaknya saling bersilaturrahim, selagi masih bisa,” kata Thayeb.pd

Thayeb Loh Angen: Udin Pelor Sakit, Mari Kita Kunjungi


Filsuf Islam Al Farabi

Oleh Thayeb Loh Angen
Aktivis Kebudayaan, Penulis buku Aceh 2025

Definisi Aceh Merdeka sudah waktunya diganti, dari merdeka dalam arti politik semata, menjadi merdeka dalam arti peradaban. 

Aceh baru merupakan Aceh yang mandiri dan terlepas dari ideologi negara Kesultanan Aceh Darussalam, negara Aceh Sumatra yang dicetuskan oleh Hasan Tiro, atau sistem negara yang tunduk pada penjajahnya.

Konsep Aceh Baru, Aceh yang dimaksudkan merupakan sebuah wilayah dalam peta bumi di Pulau Sumatra, bukan nama sebuah suku bangsa. Aceh bisa maju dengan penduduknya mandiri, makmur, beradab, dan terhormat.

Dalam konsep ini, status Aceh dalam kewilayahan tidak penting. Aceh bisa maju dengan status apapun. Aceh bisa maju, baik ianya berstatus sebagai sebuah propinsi, sebuah kabupaten, sebuah kecamatan, sebuah mukim, bahkan sebuah kampung sekalipun.

Aceh bisa maju walaupun statusnya berada dalam wilayah negara lain, tidak mesti menjadi negara yang berdaulat secara politik atau “Aceh Merdeka” sebagaimana diserukan oleh seorang pakar politik dunia lulusan Universitas Colombia Amerika Serikat, yang juga sastrawan, Hasan Tiro.

Dengan keadaan Aceh sebagai sebuah propinsi di negara luas yang miskin, banyak hutang, dan pejabatnya korup, ditambah perjuangan membutuhkan simpati dari negara yang pada dasarnya terlibat dalam menghancurkan Aceh di abad lalu, tidaklah mungkin bisa dijalankan.

Aceh tidak perlu status sebagaimana yang ditulis di dalam MoU Helsinki, yakni mengatur diri sendiri atau self govement karena hal itu masih pada kubangan politik. Selama obsesi orang-orang masih pada politik, maka selama itu pula Aceh dapat dihina oleh orang lain.

Aceh Baru mendasarkan dirinya pada ilmu pengetahuan yang mengambil hikmah kemanusiaan dan keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Aceh Baru merupakan laboratorium pengetahuan. Siapapun yang bisa mewujudkan ini, dialah yang wajar diangkat menjadi pemimpin.

Lupakanlah orang-orang yang berkampanye ingin menjadi penjabat atas dasar perpolitikan. Zaman mereka harus segera diakhiri dengan bijaksana. Lupakanlah mereka karena orang-orang itu hanya membawa Aceh pada kubang kebodohan, miskin, dan terancam.

Tinggalkanlah orang-orang partai politik dan carilah cendikiawan atau orang yang punya impian besar, memiliki konsep, memiliki sifat jujur, menyayangi sesama manusia dan alam, dan takut pada Tuhan.

Pasang baik-baik telinga, pandangan, perasan, dan pikiran kita ke arah orang-orang, temukan siapa di antara  mereka yang memiliki konsep memandirikan Aceh yang terpisah dari politik.

Temukan orang yang bisa mengangkat derajat kehidupan Aceh hanya dengan memanfaatkan manusia Aceh yang ada sekarang, hanya dengan mengolah apa yang ada di atas bumi bukan menguras kandungan alamnya.

Apabila ada orang demikian, maka ikutilah dia. Dia akan membawa kita pada cahaya masa depan, Aceh yang beradab. Definisi Aceh Merdeka sudah waktunya diganti, dari merdeka dalam arti politik semata, menjadi merdeka dalam arti peradaban.

Konsep Aceh Baru



Oleh Thayeb Loh Angen
Pemerhati Perang ASNLF-RI, Aktivis Kebudayaan, Jurnalis, Penulis Novel “Aceh 2025”

GAM (Gerakan Aceh Merdeka) merupakan sebutan media untuk organisasi politik garis keras pemerdekaan Aceh yang didirikan oleh Hasan Di Tiro di Gunung Alimon, 4 Desember 1976. Nama organisasi itu adalah Acheh Sumatra National Liberation Front (Barisan Terdepan Pembebas Bangsa Aceh Sumatra). 

Ketika pertama kali didengungkan, pemerintah RI di bawah pimpinan Suharto menamakan kafilah ideolog garis keras ini dengan GPK (Gerakan Pengacau Keamanan), dan rakyat Aceh sendiri menyebutnya AM (Aceh Merdeka). Kemudian, Suharto menyebut kafilah ini dengan nama GPLHT (Gerakan Pengacau Liar Hasan Tiro).

Setelah Suharto dijatuhkan oleh kaum kapitalis dengan membuat krisis moneter Asia Tenggara -yang takut pada kebangkitan Indonesia- dengan memakai tangan orang Indonesia sendiri, GAM pun merasa mendapatkan angin murni untuk nafas baru.

Itu, sebenarnya kesempatan ASNLF, namun salah dimanfaatkan sehingga tujuannya tidak tercapai. Itu terjadi karena ASNLF tidak siap menerima perubahan sehingga berhasil disusupi. Anggota Hasan Tiro tidak bisa beradaptasi dengan perubahan Indonesia dan dunia.

Secara ramai-ramai anak muda Aceh merapat ke pelarian Aceh yang baru pulang dari Malaysia dan akhirnya menjadi gerilyawan di pegunungan. Mereka mengikrarkan dirinya sebagai “Teuntra Wali” atau tentara Aceh di bawah komando wali negara Hasan Di Tiro. Saat inilah media-media mulai menyebut GAM untuk ASNLF.

Aceh yang sebelumnya tenang-tenang saja, kini menjadi ladang pertempuran siang dan malam. Korban mulai berjatuhan secara terang-terangan, berbeda dengan di masa Suharto, semua dilakukan secara sembunyi oleh pasukan siluman.

Dari 1998-2005, perang itu berlangsung. Itu adalah perang merebut Aceh kembali dari pihak GAM dan mempertahankan wilayah kesatuan negara dari pihak RI. Sebutan pun berbeda.

GAM menyebut ‘Si Pa-i Jawa’ untuk TNI-Polri (Tentara Nasional Indonesia-Polisi Republik Indonesia), dan TNI-Polri menyebut ‘Kelompok Sepataris Aceh’ untuk GAM. TNI-Polri menyebut ‘gugur’ untuk anggotanya yang tewas dalam mempertahankan wilayah NKRI dengan memerangi pemberontak GAM. GAM menyebut ‘syahid’ untuk anggotanya yang tewas dalam perang melawan penjajah RI.

Masyarakat Aceh sendiri menyebut ‘Awak Geutanyoe’ untuk GAM’ dan ‘Awak Si Pa-i’ untuk TNI-Polri. Dari sebutan ini, terlihat bahwa rakyat Aceh memakai istilah yang dibuat oleh GAM yang lebih sering bersama mereka dan muncul dari kalangan mereka sendiri.

Sekitar tahun 2000-an media menyebut ‘tentara GAM’ untuk anggota GAM yang bersenjata dan berperang melawan TNI-Polri. Dan masyarakat menyebut ‘teuntra’ untuk anggota GAM yang bersenjata. Untuk anggota GAM yang sipil, rakyat Aceh menyebutnya ‘ureueng nanggroe’.

Sekitar tahun 2003, media mulai menyebut TNA (Tentara Neugara Aceh) untuk anggota GAM yang bersenjata. Sebutan ini dari pihak GAM sendiri yang menyamakan perbandingan antara TNI dengan TNA.

Dalam hal ini, salah satu kesalahan GAM adalah meniru format RI dalam buntuk ketentaraanya, dengan waham mereka adalah tentara sah dari Negara Aceh Sumatra. Mereka lupa bahwa di luar sana, penduduk dunia hanya mengakui negara RI dan tidak mengenal Aceh.

Status GAM sendiri adalah gerilyawan yang seharusnya melawan secara sembunyi-sembunyi tanpa meninggalkan jejak bukan malah dengan sengaja menunjukkan diri, bergaya-gaya dengan mobil dan pakaian serta hiasan diri yang gemerlap.

Sejak saat itu, tanpa disadari, perjalanan GAM menuju seremonial bunuh diri secara massal, bukan lagi memerdekakan Aceh dari RI. Kesalahan ini dimulai dari petinggi-petinggi GAM saat itu, kemudian diteruskan kepada anggotanya secara tanpa sadar.

Alasan Orang Masuk GAM dan Sikap Mereka Setelahnya

Ketidakadilan Suharto telah mengakibatkan Hasan Tiro mengobarkan semangat perang dari penduduk Aceh. Lahirnya ASNLF karena ada dua orang, yang pertama Hasan Tiro, kedua Suharto. Penjajahan melahirkan pahlawan dari anak terjajah.

Sebagian orang di Aceh bergabung dengan ASNLF untuk memperjuangkan nasib Aceh yang terjajah. Ketidak adilan ekonomi, hukum, dan sosial oleh pemerintahan RI. Sementara hasil alam Aceh lebih banyak dari Brunei Darussalam dan Timur Tengah. Ini menandakan, ketimpangan ekonomilah yang memicu perwalawan dan kemudian menjadi masalah politik.

Kedaulatan politik dan ekonomi Aceh adalah tujuan utama dari orang-orang ini. Sebagian lagi bergabung karena tidak ada pekerjaan lain, sebagian lagi karena ingin tekenal, sebagian lagi karena memang bermusuhan dengan Polri disebabkan kasus pencurian, perampokan, narkoba, atau pembunuhan. Orang-orang ini telah mempercepat proses hancurkan GAM dari dalam. Satu bagian lagi, bergabung untuk mencuri rahasia, sebagai penyusup.

Golongan pertama, yang bergabung untuk memperjuangkan keadilan dan kedaulatan Aceh, setelah masuk GAM, sikapnya semakin baik dan bijaksana. Mereka menjadi lebih taat beribadah dan menghormati setiap orang. Golongan ini banyak yang telah tewas karena mereka bersungguh-sungguh dalam ideologi mereka namun kurang strategi. Mereka menganggap kematian di dalam perang tersebut adalah syahid.

Ada beberapa orang baik dan bijak ini yang tersisa, namun tidak muncul ke hadapan masyarakat disebabkan mereka bukanlah orang yang mencari kemasyhuran duniawi (popularitas) ataupun kekayaan. Kini, di antara mereka ada yang menjadi petani biasa, peternak, bekerja di perusahaan, dan sebagainya, pekerjaan yang mereka dalami dulu sebelum masuk GAM, atau serupa dengannya.

Tidak ada dari mereka yang menjadi kontraktor ataupun berebutan menjadi pejabat pemerintah. Merekalah GAM yang sejati, jarang dikenal orang. Mereka tidak akan melawan RI lagi karena mereka menuruti perintah pemimpin tertinggi, yakni Wali Nanggroe. Mereka seperti ronin yang bijak.

Selain dari golongan yang sedikit ini adalah orang-orang yang masuk GAM dengan alasan lain yang telah disebutkan. Merekalah yang muncul, dan itulah yang secara membabi-buta dijadikan refresentatif
(acuan) oleh orang untuk GAM, baik dari kalangan terdidik mahupun tidak.

Dengan berpendapat begitu, orang-orang telah menghina dan memfitnah orang baik dan tulus, sesuatu yang tersalah menurut aturan negara dan agama manapun.

Tulisan ini tidaklah bertujuan untuk menyerukan supaya orang memandang baik terhadap semua orang anggota GAM yang sebagian kini menjadi anggota KPA (Komite Peralihan Aceh), PA (Partai Aceh), dan semacamnya. Tidak. Kalau mereka salah, maka kritiklah dan jangan sekali-kali mengikuti mereka.

Saya hanya ingin, handai taulan sebagai orang yang bijaksana, marilah kita melihat sesuatu dengan kebijaksanaan. Hanya sekitar sepuluh persen dari semua anggota GAM yang merupakan golongan pertama.

Kalau mereka yang menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat ataupun gubernur, bupati, dan walikota, maka setahun setelah 2006, Aceh sudah sejahtera, dan bermartabat. Namun kemungkinan besar mereka tidak akan mendapatkan kepercayaan itu, sebab tidak akan mahu menjilat atau menyingkirkan orang lain untuk mendapatkannya.

Mereka tidak tertarik untuk menyakiti dan merampas hak orang lain supaya mereka dapat menambah jumlah mobil, rumah, istri, dan memperluas kebun. Tidak. Tujuan mereka hanyalah mengembalikan martabat Aceh, menyelamatkannya dari kezaliman penguasa tanpa menjadi penindas pengganti.

Semoga Allah mengizinkan Aceh kembali menjadi penduduk dunia yang terhormat. Amin. Hanya Allahlah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa atas segala kehendak-Nya.

Awalnya, GAM Pembela Rakyat Aceh yang Sejati


Awesome Sunset View at Resor Maldives. Foto: arch-ideas.com.
 Karya: Thayeb Loh Angen

Zahraini, sayang.

Kehadiranmu di dalam hidupku telah menyertakan cahaya dan wewangian kehidupan
Baik engkau tahu, atau belum, tetapi cintaku padamu lahir dari sanubari.

Aku akan membawanya serta, sepanjang hayat.

Cinta ini akan kubawa selalu bersama diri. Selamanya.

Kehadiranmu



Lhokseumawe - Sekitar 500 orang menghadiri acara Silaturrahim Turunan Tgk Chik Di Paloh, di Cot Trieng, Paloh Timu, Lhokseumawe, Minggu 2 Agustus 2015.

Seorang hadirin yang merupakan Ketua Fraksi Partai Aceh Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Lhokseumawe, Tarmizi A Wahab, mengatakan, pertemuan tersebut menghasilkan program rencana mendirikan sekolah sampai perguruan tinggi bernama Tgk Chik Di Paloh, seorang cendikiawan asal Hadramaut, Yaman bernama Syekh Abdussalam.

“Selain khanduri ada doa bersama santunan anak yatim dan penetapan pengurus sementara dang terbentuk pengurus definitif menurut musyawarah kepala suku ke depan,” kata Tarmizi.

Tarmizi mengatakan, secara umum, acara tersebut hanya sebatas seremonial makan siang karena sebagian hadirin belum berhasil membawa silsilah arakata turunan mereka.

“Namun demikian acara tersebut merupakan ukhuwah silaturahim dan sebagian besar hadirin dari kalangan bangsawan turunan Tgk Chik Di Paloh dengan gelar nama ampon (Teuku),” kata Tarmizi.

Tarmizi menilai sebagai langkah awal silaturrahmi ini cukup berhasil. Dia mengharapkan semoga tidak ada oknum yang memamfaatkannya untuk hal politis dan komersil. Selain Tarmizi, di acara tersebut terlihat penyanyi Aceh Joel Pase dan Lodins.tla

Hadramaut, Yaman.

Karya Lodins

Dulu orang-orang Aceh menganggap buku Aceh 2025 hanyalah lelucon seorang sastrawan. Kini, setelah sembilan tahun Revolusi Putih terjadi, aku menatap langit di negeriku dan ternyata, khayalan yang dianggap dongeng itu telah lama menjadi kenyataan. 

Langit di atas Pelabuhan Udara Antarabangsa Cot Panggoi biru begitu cerahnya. Aku menatap laut yang beberapa tahun lalu mulai ramai kembali setiap harinya. Dua puluh kapal besar dan lima puluh kapal kecil selalu melabuh di pelabuhan dunia Krueng Geukueh itu. Terlihat bendera di kapalku terus berkibar. Walau dari kejauhan pun aku dapat melihat dengan jelas kapal bewarna putih berbendera merah. Bendera itu panjangnya 7 meter dengan lebar 5 meter. 

Warna air laut biru jernih disebabkan pencemarannya oleh perusahaan penjual gas alam Aceh telah berakhir. Besi dari kilang gas tersebut lima tahun yang lau telah dibongkar dan dileburkan kembali dan dijadikan tiang-tiang pelabuhan udara ini. Tempat ini berjarak sekitar tiga puluh menit jalan kaki dari rumahku yang berada di Kota Paloh Dayah bagian selatan.

Sejak Sembilan tahun lalu Aceh mulai merangkak hingga kuat berdiri di atas kakinya sendiri. Bukti-bukti tersebut telah dapat kita lihat dengan jelas seperti jembatan Banda Aceh-Sabang, tiruan Bab El-Yaman dan gedung pencakar langit berbentuk rincong kembar di kota Budaya Paloh Dayah, Bandar zaman sillam, gedung kesenian yang memuat sepuluh ribu pengunjung di Nagan Raya.

Di kota bergedung rincong kembar ini aku tinggal bersama istriku dan anak-anak kami, yakni yang sulung bernama Osman, adiknya Gulsen, dan Mehmet. Istriku adalah orang Istanbul. Wanita berambut pirang, berwajah berbentuk daun sirih, hidung mancung, dan berkulit putih kemerahan ini tidak pernah bosan membantuku dalam banyak hal terutama dalam mengurus dokumen-dokumen dagang. 

Namun ketika tahun pertama kependudukannya di Aceh, ia kesulitan mencari bahan-bahan dasar resep makanan sebagaimana di Istanbul. Tetapi ternyata itu tidaklah sesulit yang dikira Rania. Semua bahan yang dibutuhkannya untuk memasak gulai dan kue ada di Pasar Aceh, namun disebut dengan nama dan bahasa yang berbeda. 

Senja ini, Rania menyusun letak piring-piring masakan Turkinya. Meja berkaca hitam itu pun telah dipenuhi oleh kebab, sutlu kadaif, baklafa, dan hacizade atau orang Aceh menyebutnya meuseukat, dan beberapa jenis makanan lainnya.

Ini adalah tahun ketujuh ia menjadi guru besar bidang arsitektur dan sastra di universitas peradaban Hamzah Fansuri. Orang-orang Istanbul menyebut universitas ini dengan nama Makhad Almaqdis. Menurut professor Tenzen dari Jepang, universitas yang didirikan sejak tiga tahun sebelum Revolusi Putih di Aceh ini adalah organisasi pendidikan terbesar di Asia Tenggara di bidangnya. Pengakuan itu disampaikannya pada sebuah media antarabangsa di hari ilmu pengetahuan. Dalam acara tersebut Rania juga mendapat anugerah arsitektur dari kementrian arsitektural negara Jepang. Sebenarnya, selain membuka kelas sastra dan arsitek, universitas ini juga membuka kelas penelitian kelautan dan pelayaran, ilmu kelistrikan dan daya pembangkitnya, bio tekhnologi, ilmu kedoktoran, ilmu falak dan astronomi, ilmu pasti, dan lain-lain.

Pada hari perayaan tahun ke sembilan Revolusi Putih, permintaan akan kapal buatan Aceh meningkat hingga mencapai delapan puluh persen dari sebelumnya yang hanya enam puluh persen. Kini telah pun kapal-kapal buatan Aceh bertebaran di seluruh perairan Asia Tenggara. Untuk melakukan berbagai kepentingan, kami bekerja sama dengan perkumpulan pembuat kapal Istanbul dan Jepang. Semua hasil dari penjualan seluruhnya jadi kas kota untuk membangun fasilitas umum. Itu sesuai dengan yang digaung-gaungkan oleh para pelajar dan mahasiswa ketika Revolusi Putih terjadi.

Di kilang perusahaan pembuat kapal ini aku memeriksa kadar kekuatan kapal dengan beberapa tahap pemeriksaan. Di sini tugasku hanya memeriksa tahap akhir pembuatan dan sebagai kepala penjualan. 

Awan yang berarak ke arah barat terlihat lamban akan menjadi mendung. Malam ini Menteri Ekonomi Turki, Yilmaz Bey, menyerahkan piagam penghargaan pembaharuan ekonomi Asia Tenggara kepada "Tun Abdul Jalil Muhammad Yusuf." Itu adalah namaku. Aku bangkit naik ke panggung ruang akbar itu untuk menerima piagam tersebut. 

Ratusan pencari kabar dari berbagai negara mengarahkan alat rekam gambar ke arahku. Dalam pada itu aku berpesan, 

“Kita semua dilahirkan ke dunia untuk menyelesaikan suatu tugas yang mulia. Semua adalah yang terbaik, apabila belum melakukannya maka carilah guru terbaik dan anda akan menjadi yang terbaik.” 

Sebenarnya aku  tidak menyukai piagam apapun namun untuk menghormati aku hanya memajangnya di sebuah lemari di ruang yang jarang dilihat oleh orang lain. Dalam hal rendah hati aku sering mengingatkan anak-anakku untuk mengucap alhamdulilah apabila mendapat kebaikan dari orang lain dan melakukan kebaikan pada orang lain dengan tidak mengharap pujian dari orang yang kita tolong. Ratusan kembang api malam itu pun berhenti dan berganti dengan hujan gerimis membasahi kota Paloh Dayah yang terselimut oleh malam.

Pada bulan Zulqaidah beberapa tahun lalu, aku dan Rania ke Banda Aceh untuk menghadiri undangan peresmian jembatan Banda Aceh-Sabang. Ribuan rakyat telah lama hadir di bawah terik matahari menanti acara dimulai karena dihadiri oleh seluruh penyanyi Aceh dari Joel Pasee, Imum Jhon, Rafli, sampai Liza Aulia. Mereka hadir hanya untuk menyanyikan satu lagu yang berisi semangat kebangsaan dengan gaya Dombira. 

Di sepanjang jembatan tersebut dipasang seratus kamera pengintai yang berada lima puluh meter di kedalaman laut. Ada lima orang perancang jembatan ini. Rania termasuk salah seorang darinya. empat orang lagi adalah Diana Celvin bersama dengan suaminya James dari Inggeris, Anna dari Jerman, dan Sharife Hanem adik kandung isteriku. Rania mengatakan kepadaku bahwa dalam menyelesaikan jembatan ini, kesabaran dan ketereraturan kerja sangat diutamakan oleh dirinya dan tim. 

Melihat lebih banyak para wanita yang terlibat dalam pembuatan jembatan tersebut, seorang turis dari Belanda terheran-heran. Maka aku pun menjelaskan pada Lidya Hurgronje itu.

“Dalam Islam. Perempuan dan seni tidak dapat dipisahkan. Mereka lebih tahu. Namun yang menyelesaikannya adalah para lelaki. Apabila para lelaki tiada maka terpaksa kaum wanita harus menyelesaikannya,” kataku. 

Ucapan itu kutiru dari Ummul Naqib, seorang wanita penjual minyak Zaitun di sebuah kedai dekat Masjidil Aqsha, sebuah mesjid yang telah dibebaskan oleh Recep Tayyib Erdogan dari  rampasan Israel, tanah kedaulatan bangsa Palestin. Pengunjung wanita Belanda itu pun mangangguk pelan dengan mata menyipit. Setahunya, di Belanda, tidak ada persamaan hak antara kaum wanita dan kaum lelaki. Di negeri yang penghuninya bermental penjajah itu, perempuan adalah warga negara kelas dua.

Di bulan Rajab aku ke Bandar Zaman Silam untuk menambah pengalaman tentang sejarah dunia. Di sana aku bertemu dan berbincang-bincang dengan Zaid Hanafi, seorang lelaki yang berasal dari Pattani. Lelaki itu ditugaskan untuk mengurusi hal yang berkenaan dengan gajah dan kuda. Dua hari lalu ia telah menambahkan dua ekor gajah lagi di sini. Yang tertua bernama meurah sabil dan yang putih bernama meurah khan. 

Kuda-kuda yang baru ia titipkan di penampungan yang berada di utara danau Laut Tawar selama satu bulan supaya nantinya binatang itu bisa menyesuaikan diri dengan iklim di Bandar. Bandar ini merupakan perwujudan sebuah perpustakaan dalam bidang fisik sejarah kejayaan masa silam. Di sini aku berkeliling di antara replika istana Topkapi kekhalifahan Ottoman, istana Daruddunia kesultanan Aceh Darussalam, dan banyak istana negeri lain yang telah tinggal sejarah.

Pada suatu ketika, perusahaan pembuat kapal tempat kerjaku yang berkantor pusat di Bireuen memberikan cuti selama satu bulan. Aku manfaatkan waktu itu untuk berziarah ke makam buyutku di Yaman. Sebenarnya rencana ke sana sudah dari bulan Rajab namun terbentur dengan jadwal Rania yang sedang mengumpulkan hasil tesis para murid sastra di kampusnya.

Syukur, rencana ke Yaman pun akhirnya terlaksana. Rania dan aku ke sana di bulan Zulhijjah tahun ini. Kami menempuh perjalanan yang panjang dengan pesawat Siwah Airlines dari pelabuhan udara Cot Panggoi langsung ke Yaman. Sungguh sebuah perjalanan yang sangat melelahkan. Walaupun begitu, ketika sampai di Hadramaut, kami tidak menyewa kendaraan karena ingin berjalan kaki di gurun pasir. Namun itu pilihan bodoh karena kami harus berjalan kaki sejauh beberapa batu menusuri gurun dan lembah berbatu. Lebih parah lagi, kami tersesat. 

Kulit kaki kami sedikit terkelupas. Betapa panasnya saat butiran pasir masuk ke dalam sepatu. Untung di dalam tas Rania ada obat kebas sisa yang dipakainya untuk luka bakar kemenakan kami, kemarin. Obat itu seharusnya dimasukkan ke dalam tas yang satu lagi, tetapi karena terburu-buru ia memasukkannya ke dalam tas barang rias dan uang. Tuhan Maha Pengasih. Itu telah menyelamatkan kami hari ini. Dan akhirnya kami pun tiba di makam buyutku, Syeikh Shalih bin Makmur, di Tarim. Ada belasan orang di pemakaman tua itu. Dari bentuk tubuh, bahasa, dan pakaiannya, kuperkirakan mereka adalah penduduk negeri ini.

Gurun pasir ini sesekali diitiup angin kencang yang panas. Di langit ada beberapa ekor burung elang. Mereka terbang melintasi tempat kami duduk. Seorang penjaga kebun kurma yang kebetulan lewat mendekat. Begitu mengetahui kami datang dari Aceh, ia menghadiahkan sekeranjang buah-buahan manis yang dibawanya. Ia  menanyakan, buah apakah yang paling lezat di kampungku. 

Tiba-tiba saja, elang kulihat di langit tadi menukik turun mendekat dan hinggap di dekat kaki kami. Di dalam cengkraman kuku-kuku tajamnya ada sebuah durian ranum. Lalu, sebelum sempat kami menanyakan apapun, raja burung telah pun menjauh. 

Aroma durian yang lezat itu pun menebar bersama angin gurun. Lelaki itu menanyakan tentang bau apa yang tercium oleh hidung mancungnya. Rupa-rupanya ia belum pernah melihat durian sebelum ini. Aku mengambil buah berkulit duri itu dan membukanya. Kemudian kuberikan kepada lelaki yang mengenakan dirinya dengan nama Abi Muaz Umar tersebut. Aku memakan buah kurma itu, tanpa sengaja lengket di lelangit dan merihku. Melihat itu, Rania segera mengulurkan air mineral dari botol yang dibawanya.

Liburan ke Tarim


Naskah fotografi surat Sultan Zainal Abidin Samudra Pasai yang tersimpan di Museum Negeri Aceh. Foto: CISAH/misykah.com

Karya: Lodins

Cerpen ini diselesaikan pada Sabtu 2 Syawwal 1436 H/18 Juli 2015, terinspirasi dari data sejarah di dalam buku "Daulah Shalihiyyah di Sumatera" karangan Taqiyuddin Muhammad, terbitan CISAH (Central Information for Samudera Pasai Heritage), 2011.

Bismillahillahirrahmanirrahim.

Seorang yang bertugas mengangkut kitab-kitab berharga dari berbagai belahan dunia melintas di depanku. Kepulan debu-debu jalanan yang terjemur oleh musim kering itu menyerangku. Aku menarik ujung daripada kain sorban untuk menutup wajah sesaat. 

Aku mendekati suatu benda yang seakan mirip satu kotak tipis dari kulit kayu. Ternyata hanya sebuah kitab. Mungkin ada baiknya juga bila aku membaca dahulu kitab itu sebelum mengejar Tuan Mahmud si pengangkut kitab-kitab itu dari Bandar tengah menuju ke istana di bagian perpustakaan kesultanan Alkahhar.

“Amma Ba’du. Aku hamba Allah yang miskin lagi hina adanya berasal dari garis keturunan Sultan Iltumish raja yang disegani di Delhi. Kitab ini aku persembahkan pada siapa yang menyukai akan manfaat dalam suatu hal menjaga sejarah berharga pada suatu bangsa, yakni kesultanan Asshalihiyyah, Samudera Pasai. Selama menjadi diwan di istana ini selama tiga puluh tahun yakni aku mulai pada tujuh hari sebelum kami menenggelamkan kapal Portugal di Selat Melaka yang ingin merampas lada-lada para pedagang Pasai.”

Itulah kalimat-kalimat awal isi dari kitab tersebut dan pada halaman terakhir tertulis nama kota Antiokhia dan nama seseorang pada yang tintanya telah rusak mengembang karena terkena air. Saya menduga itu adalah nama kota dan penyalin dari tulisan dari yang aslinya.

Di antara tiga belas bab saya mencoba membaca bab yang berjudul; 
“Ibnu batuthah sang petualang dari Maghrib”, 
“Ra-Ubabdar”, dan 
“Sang Laksamana Sufi dari Pasai”.

Masih terasa seakan puluhan gajah yang gagah pasai baru saja berlalu walau sebenarnya telah satu jumat kawanan gajah perang itu diistirahatkan kembali ke kandangnya di tebing gunung Geureudong. Dan riak gelombang pantai Samudra Pasai pun kini kembali tenang.

Tatkala Samudra Pasai diserang oleh armada Majapahit yang dikomandoi langsung oleh Patih Gajah Mada, panglima yang sangat disegani di negerinya.

“Dengan izin Allah penyerangan itu dapat diatasi oleh para askar Samudra Pasai dengan tanpa hambatan,” demikian kataku pada petualang sufi tangguh yang berasal Maroko, Ibnu Batuthah.

Ibnu Batutah terdampar di sini ketika sedang menuju ke Tiongkok. Kami mengagumiya, ia punya kesamaan dengan Sultan Pasai. Kami habiskan hari-hari dengan petualang hebat ini dengan melihat-lihat keadaan kota kami Samudra Pasai seperti ke tempat tenunan sutera, pertanian lada, pasar, pelabuhan, zawiyah-zawiyah, dan berziarah ke makam Sultan Malikusshalih.

Aku beserta dengan Amir Daulatsah, Qadhi Syarif Sayyid As-Syirazi, dan Syeikh Tajuddin Al-Ashbahani. Selama lima belas hari kami menemaninya. Sultan Mahmud Malik Al-Zahir di tiap ketika usai muzakarah ilmu agama suka berlama-lama berbincang-bincang baik tentang kesultanan Maroko dan lain-lain. 

Sebelum meneruskan perjalanan ke Tiongkok, Ibnu Batuthah menulis sebuah catatan kecil tentang Pasai yang kelak semua catatan petualangannya ke berbagai benua ditulis dalam kitab Tuhfat Al-nazhar. Dan dalam dua kali kunjungannya ke Samudra Pasai, negeri ini telah pun sangat membekas di ingatannya hingga nama Sultan Malik Az-zahir yang memerintah negeri Samudra Pasai ditulis di antara tujuh nama raja-raja yang dikagumi, yang memiliki kelebihan yang luar biasa.

Namun lama setelah kegagalannya dalam penyerangan ke Samudra Pasai, Majapahit kembali menyusun kekuatan untuk menyerang kembali dan berhasil membujuk menantu sultan untuk berkhianat pada Pasai.

Pada penyerangan tahap ini Patih Gajah Mada tewas di pantai Samudra Pasai. Karena penganut Shiwa suka membuat patung bagi pemimpin mereka yang mati, maka kami pun memberi ramuan kapur barus pengawet untuk jasad Gajah Mada lalu menyerahkan jasad tersebut kepada para pajuritnya. Kemudian mereka mundur dan kembali ke Majapahit. Di tengah laut badai menghantam kapal yang membawa jasad Patih Gajah Mada, jasad itu pun menghilang di laut sedangkan para prajurit berhasil menyelamatkan diri.

Namun di waktu lain mereka menyerang kembali. Berdasarkan saran-saran dari si menantu sultan, Patih Nala pun berhasil memasuki kawasan Bandar Salasari, Syarkha, dan kota Madan. Kenyataan pahit ini melukai kedamaian negeri, membuat setengah dari kekuatan politik Pasai jadi suram, sultan dibunuh oleh sang menantu yang ingin menggantikan kedudukannya sebagai sultan.

Namun harapan sang menantu untuk menjadi sultan terlempar jauh dari hadapan karena seluruh rakyat Pasai menentang pengkudetaan itu dan memilih Ratu Dannir sebagai sultanah. Dan si menantu sultan pun dibunuh oleh istrinya, Ratu Dannir.

Namun, walaupun Ratu Dannir menjabat sebagai sultanah, gerak dan pengaruhnya dibatasi oleh Majapahit. Contohnya, para saudagar Pasai boleh bebas berhubungan dagang dengan para pelaut Portugal. Akan tetapi tidak dengan negara-negara Arab, Rum, dan Persia. Apabila membeli rempah-rempah, mereka dikenakan cukai yang tinggi sehingga enggan berhubungan dagang dengan Pasai.

Sedangkan di Ampel Majapahit, rekan- rekan kami yang berhasil ditawan dan dibawa ke sana telah berhasil mengislamkan seluruh penduduk Ampel yang kala itu masih menganut pada pemujaan Dewa Shiwa.

Kembali berita duka melanda Pasai, Malikah Dannir wafat diracuni oleh seorang yang berpura-pura sebagai juru masak istana. Maka diangkatlah panglima Patih Nagur Rabbat Abdulkadir Syah sebagai ganti Ratu Dannir oleh Majapahit. Namun pria berkulit hitam tinggi itu suka bermegah-megah di tengah keadaan kemiskinan yang semakin meruncing dan menyengsarakan rakyat.

Dengan kenyataan ini para petani lada pun mulai enggan ke ladang karena harga lada tidak menguntungkan pihak mereka. Pemuda-pemuda juga enggan menuntut ilmu ke zawiyah-zawiyah karena dalam undang-undang tidak lagi menanggung biaya pendidikan ilmu agama. Dengan kenyataan ini maka lebih daripada setengah rakyat tidak bisa baca tulis.

Kami yang berhasil menyingkir, kini mulai menyusun kekuatan kembali dan menjalin hubungan dengan luar negara secara rahasia. Sementara putra mahkota Pasai Sultan Muda Zainal ‘Abidin yang dibesarkan oleh seorang ulama sufi di Baidhawiy, Persia. Syeikh Tajuddin Al-Ashbahani mengirim surat untuk syeikh tersebut yang isinya menerangkan kemunduran peradaban di Pasai akibat pengkudetaan yang terjadi. Memahami bagaimana keadaan di Pasai yang benar-benar sangat membutuhkahkan sultan untuk kembali, maka Syeikh Nashruddin Al-Baidhawiy pun memberikan izin kepada Sultan Muda Zainal ‘Abidin untuk kembali ke Pasai. 

Setelah berhaji di Baitullah, mengunjungi masjid Nabawi, masjid Aqsha, dalam perjalanan ke Pasai, sultan Zainal Abidin singgah di pegunungan Himalaya untuk beruzlah selama satu bulan.
Ketika tiba di Pasai aku dan syeikh Tajuddin Al-Ashbahani tidak mengenalinya karena ia berpakaian ala budak juga tidak seorang pun mencurigainya karena ia hanya seorang pengangkut lada-lada ke Bandar.

Pada suatu dhuha di bulan Muharram tanpa sengaja aku melihat keganjilan dari caranya bekerja. Semua upah yang didapatkan pada siang hari disedekahkan pada malam hari. Ia membagi-bagikannya kepada anak-anak, peminta-minta dan orang sakit yang tidak dikenalinya. Karena penasaran, maka ketika lelaki aneh tersebut masuk ke masjid, aku mendekati kereta kudanya. Di sana kudapatkan satu naskah Mushaf Al-Quran gaya Utsmani yang ditulis dengan khat ta’liq, bertinta emas.

Tiga bulan kemudian kami telah berhasil bermufakat dengan lelaki aneh tersebut dan menemukan titik terang bagaimana membebaskan Pasai dari kekuatan musuh. Aku pun mengumpulkan para askar muda yang telah aku latih selama tiga tahun. 

Pada hari pembebasan, kami menyembunyikan senjata di dalam karung-karung lada dan barang lainnya yang dibawa ke Bandar. Dan di hari itu, patih Nagur Rabbat Abdul Kadir Syah terbunuh. Majapahit mengalami kehilangan ribuan prajuritnya dalam satu hari. Sedangkan Patih Nala terbunuh di suatu tempat yang berjarak tujuh mil di arah selatan Pasai.

Kami juga terpaksa menenggelamkan kapal Portugis yang kebetulan sedang merampas kapal pengangkut lada. Mereka tidak menduga apabila Pasai bangkit dengan tiba-tiba dan menyerang mereka.

Setelah masa-masa pembebasan tersebut maka tercatat dalam sejarah, Samudra Pasai yang dipimpin oleh Putra Mahkota yang berhak atas Kesultanan Pasai itu perlahan mampu memperkenalkan Islam ke seluruh Asia Tenggara.

Kini bandar pun ramai kembali. Kebun lada kembali dirawat, zawiyah kembali menjadi tempat paling disukai oleh para pemuda Pasai, juga banyak para pelajar dari seluruh Asia Tenggara menuntut ilmu di negeri berperadaban tinggi ini. Terlihatlah Pasai bagaikan kota pelajar Asia Tenggara yang menjadi penerang bagi dunia ilmu pengetahuan.

Hingga lazimlah bila orang-orang Pasai memberi gelar pada sultan yang tampan dan alim ini sebagai Ra-Ubabdar (penakluk gelombang), karena dalam setiap pelayaran ke seluruh sudut-sudut negeri di Asia Tenggara, beliau sendiri yang memimpin langsung armada-armada Pasai menaklukkan gelombang dalam usahanya mengislaman seluruh penduduk Asia Tenggara. 

Pada suatu hari aku terlibat dalam suatu penjamuan yang besar, hari itu para hulubalang Pasai menyambut kedatangan seorang pelaut muslim dari Tiongkok, Laksamana Cheng Ho. Ia datang beserta 27.000 anak buah kapal dan dengan menumpang 307 armada kapal laut. Armada itu terdiri dari kapal besar dan kecil. Yang terbesar panjangnya sekitar 127 meter dengan lebar 50 meter.

Lelaki yang bergaris keturunan dari seorang putra sultan Bukhara ini mengetahui Samudra Pasai atas khabar dari Ibnu Batuthah yang terlebih dulu pernah singgah di Pasai. Dalam silaturrahimnya ke Samudra Pasai, Laksamana Cheng Ho menghibbahkan sebuah lonceng besar kepada Sultan Zainal Abidin. Hadiah dari sultan sing fa. Kemudian lonceng besar tersebut dibawa ke istana dengan dibantu oleh seekor gajah yang biasa kupakai. 

Dan tugasku pun bertambah tatkala usia Nahrasyiah beranjak remaja. Anak Sultan Zainal Abidin yang cantik dan berwajah khas India ini sangat cerdas, pemberani, dan alim. Setiap usai shalat dhuhur ketika matahari sangat panas aku melatihnya ilmu beladiri, cara menggunakan pedang, tumbak, busu bleut, dan lain-lain. Aku memberi beban besi pada kedua kakinya untuk latihan lari dan melompat ke atas kuda ketika kuda sedang berlari kencang.

Kemudian pada suatu masa setelah sultan merasa harus meninggalkan jabatan kesultanan untuk kembali beruzlah, maka beliau pun mengangkat putri Nahrasyiah sebagai pemimpin Pasai. Seluruh rakyat telah mengenal baik siapa Nahrasyiah, yang mana telah banyak membantu ayahandanya dalam menyelesaikan berbagai permasaalahan yang dihadapi Pasai.

Di usia sebelas tahun ia telah menghafal tiga puluh juz Alquran, telah beberapa kali ikut armada sultan ke berbagai negeri, berhasil menghalau tujuh kali penyerang dari timur dan barat, menyukai sastra, juga fasih berbicara di depan umum dalam bahasa Arab, Urdu, dan Portugis.

Kami menyetarakan Ratu Kami Ratu Nahrasyiah sebanding dengan Rabiah Al-Adawiyyah dalam soal hal kesufian, dan setara dengan laksamana Artemisia dari Achemenia Persia dalam segi memimpin perang.

Pada saat tiap usai shalat maghrib di malam purnama ia suka berdiri berlama-lama mematung di pelabuhan menatap ke utara melintasi jutaan gelombang. Kepemimpinan Ratu Nahrasyiah selama menjadi Malikah Samudra Pasai terbukti telah berhasil membawa samudra Pasai menjadi negeri yang paling disegani di Asia Tenggara kala itu. Sedangkan di mata rakyatnya, ia adalah penguasa yang pemurah atau sering disebut dengan gelar Ra-Bakhsya Khadiyu (Penguasa yang Pemurah).

Hari ini usiaku telah mencapai seratus sebelas tahun dan menghabiskan sisa hidupku di Lembah Indus. Suatu hari aku mendengar khabar dari Abu Jalaluddin yang baru kembali dari Samudra Pasai bahwa Ratu yang dipertuan agung ini telah meninggalkan dunia fana ini menuju negeri keabadian pada hari Senin tanggal tujuh belas Zulhijjah tahun delapan ratus tiga puluhsatu Hijriah. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ampunan kepada para pemimpin kami yang salih, pemurah, adil, dan bijaksana. Amiin.

Penakluk Gelombang


Popular Posts