background img

The New Stuff



CERPEN | Karya Thayeb Loh Angen
Aktivis kebudayaan, pengurus Sekolah Hamzah Fansuri.

Namaku Shema, anak dusun di pesisir ladang kurang air. Itu nama yang diberikan ibuku, akan tetapi ayah memangilku Rebuma, maka namaku adalah Shema Rebuma. Nama itu kucatat baik-baik di ingatan karena kampung dan negara ini tidak mahu mencatatkan nama kami. Bahkan kami tidak danggap ada.

Siang ini aku di ladang belakang rumah. Hujan yang jarang turun membuat tanaman-tanaman itu sulit berbuah. Kadang, air langit itu dilimpahkan dalam jumlah banyak sehingga membuat tanaman ini terkejut, sebagian rusak dan mati. Sisanya bisa kami angkut dengan berjalan kaki ke pasar yang berjarak dua batu dari ladang ini.

Hasil kebun itulah yang menghidupkan kami. Tentu, setelah sebagian hasilnya kami berikan kepada penguasa kampung yang orang Burma, karena kami orang Rohingya, yang tidak tercatat di negara ini, walaupun sudah ratusan tahun kami diami tanah yang dahulunya wilayah raja kami ini, sebelum ada orang Burma merampasnya.

Adikku, Abdula, muncul. Ia berlari mendekat. Sebuah kitab hukum syara’ karangan Syekh dari Aceh di tangannya. Ia suka menghafal isi kitab itu. Isi kitab suci Al-Quran pun telah dihafalnya sebanyak lima juz di usianya yang memasuki sepuluh tahun ini. Tahun depan, ia tidak akan diizinkan lagi ke sekolah, karena kami orang Rohingya.

“Sore ini ada sebuah kapal yang akan berangkat ke Thailand atau Malaysia. Paman telah membayar mahal supaya kita bisa pergi,” katanya.

“Ibu?” kutatap lekat-lekat mata adikku yang memancarkan sinar harapan.

“Ibu ikut. Ia yang mengatakannya.”

Kulihat kebun jagung yang segera kutinggalkan, dan orang Burma akan mengambilnya. Aku harus pergi. Hanya inilah kesempatan kami. Paman, adik ibuku telah belasan tahun menabung uang supaya bisa menyewa perahu untuk keluar dari tanah kelahiran namun penguasanya menjajah kami sejak lahir ini.

“Semoga Allah Ta’ala memudahkan perjalanan ini dan aku dapat suami yang baik. Aku ingin menikah di luar sana, yang bisa dalam usia muda, terhormat, dan tidak dihina saat mengajukan surat untuk menikah. Kudengar kabar, di luar sana, orang Islam merdeka menjalankan ajaran agamanya. Aku ingin seperti itu.”

Aku berlari menuju rumah. Setelah melewati hujung kebun dan halaman yang di sana berserakan dedaunan dan pelepah kelapa, terlihat Ibu tengah mengemas barang.

“Anakku, menjelang subuh kita berangkat. Kita akan meninggalkan tanah ini, meninggalkan kuburan ayah kalian, meninggalkan kuburan kakek nenek kita, semoga Allah merahmati mereka. Semoga kita akan berjumpa dengan mereka kelak, di surga,” kata Marhama, ibuku, disertai isakan. Namun tidak ada airmata yang keluar dari balik pelupuk matanya yang lembam.

Aku terdiam. Tidak bisa berkata apa-apa. Sebuah harapan muncul semakin menguat. Namun kabar bahwa sebagian orang kami yang keluar dari sini diusir di negeri tujuan dan dibuang ke laut, membuatku gemetar. Akan tetapi itu semua kehendak Allah Ta’ala. Apapun yang terjadi di luar sana, jauh lebih baik daripada di sini.

Begitu matahari terbenam, orang Rohingya sepeti kami harus berdiam di rumah masing-masing di dalam kelam, tidak boleh ada nyala lampu. Namun kami sesekali menyalakannya. Kalau diketahui penguasa kampung, tentu saja kami dibunuh.

Setelah salat isya, aku tidak bisa terlelap, membayangkan bagaimana nanti saat tiba di kapal. Apakah akan ada orang Burma yang melihatnya dan kami dicegah dan dibantai? Ah, semoga mereka tidak mengetahui hal ini.

Setelah beberapa jam berlalu, malam pun kian kelam.

Senyap.

Aku, Ibu, dan adik mengambil tas, lalu keluar dari rumah secara mengendap-endap. Kami harus melewati jalan bersemak belukar sejauh dua kilo meter untuk sampai di pantai tempat kapal ditambat.
Harus tepat waktu, kalau terlambat, maka tidak mungkin kami bisa hidup besok. Kalau orang Burma itu tahu bahwa kami ingin melarikan diri, maka itu akhir cerita kami di negeri ini.

“Tidak ada satupun orang Rohingya yang berkenan tinggal di Arakan ini karena pada akhirnya akan dibantai. Dan kalau kami bisa pergi, tidak ada seorang pun ingin kembali walau bagaimanapun keadaan di luar sana. Sungguh, perbudakan di negeri lain lebih manusiawi daripada menjadi penduduk biasa bagi orang Rohingya yang Islam,” aku memanggul tas yang agak berat.

Setelah satu jam, aku tiba di pantai tempat kapal ditambal. Ada ratusan orang di sana. Angin dingin datang lari laut malam, asin. Orang-orang Rohingya bergerak cepat memenuhi kapal itu dengan tubuh mereka yang malang. Berdesakan. Dinding kapal yang tinggi tidak bisa kunaiki. Seseorang menarikku dari atas setelah menarik Marhama. Lalu sesampai di sana, aku menarik Abdula.

Sejuk. Aku menggigil. Aku teringat ayah, Zakariya. Setahun lalu, orang Burma melemparnya ke api karena menunaikan salat di kebun. Siapapun yang ditemukan melaksanakan salat, di sana, akan dibakar.

Kapten kapal berteriak dalam bahasa Thai. Aku tidak tahu artinya, akan tetapi, perlahan-lahan, kapal yang kami naiki ini bergerak meninggalkan daratan Asia. Selamat tinggal negeriku, Arakan. Aku menjuju Arakan Baru, negeri di seberang laut.

Shema, Dara Rohingya


Direktur Gedung ACC Sultan II Selim, Muhammad Fauzan Azim Syah menerangkan pola kepemimpinan yang dijalankannya di gedung tersebut, Selasa, 19 Mei 2015, Banda Aceh. Foto: Hirmawan, Aidil.
Dengan setelan kemeja putih dan celana jeans keabu-abuan,Taufik berdiri tegap tapi gaya bicaranya santai. Kata-katanya sederhana, tidak menunjukkan kalau ia seorang akademisi.

“Saya lagi membicarakan bagaimana kita harus memimpin, tapi saya orang yang melayani tamu yang datang ke kedai kopi saya, karena sifat pemimpin itu memang harus melayani,” ujar pemilik kedai kopi Taufik ini.

Taufik diamanahkan sebagai penyampai materi tentang Kepemimpinan dan Sukarelawan Volunteerism dan Leadership) dalam acara seminar yang digagas oleh Lembaga PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh Turki) di Gedung ACC Sultan II Selim, Banda Aceh. Acara yang dilaksanakan pada hari Selasa (19/05) dibagi dalam dua bagian.

Pertama, seminar yang bertema “Volunteerism dan Leadership”. Kedua, acara peluncuran buku “Istanbul, Warna Ibukota Dunia” yang ditulis oleh Arifun Azmi Usman, travelog Aceh yang mengunjungi Istanbul selama sebulan.

Gedung ACC Sultan II Selim terus kedatangan tamu dari berbagai kalangan. Mulai akdemisi, wartawan, pejabat dan juga mahasiswa dari berbagai universitas yang ada di Banda Aceh. Gedung yang dibangun oleh Pemerintah Turki ini mempunyai dua lantai dan beberapa ruangan di dalamnya. Ruang seminar yang menampung peserta lebih kurang 350 orang terlihat hampir penuh, hanya sedikit kursi yang terlihat kosong.

Taufik masih menyampaikan materinya tentang kepemimpinan. Berlatar belakang sebagai pengusaha kedai kopi, ia hanya menyampaikan konsep kepemimpinan dari sudut pandang seorang pembisnis. Ia ingin menunjukkan kalau bisnis itu bisa ditekuni siapa saja, asalkan punya konsep bisnis yang bagus, tidak surut langkah dan harus siap menghadapi kerugian. Menurutnya, bisnis kedai kopi Taufik sekarang yang terus berkembang karena pelayanan yang diberikan harus bagus.

“Kalau kita melayani pelanggan dengan baik, maka orang akan senang,” ujar lelaki yang telah membuka usaha kedai kopi sejak 2005 itu. Taufik lalu menutup kuliahnya dengan mantap. “Mengelola bisnis lebih mudah dari pada mengelola suatu organisasi,” ujar Taufik.
***

Acara seminar ini juga menghadirkan dua narasumber lain, yaitu Nahar Aba Hakeem (Pengamat Kepemimpinan dan Sukarelawan) dan Muhammad Fauzan Azim Syah (Director Gedung Sultan II Selim). Tidak lama setelah Taufik menutup kuliahnya dan Juanda Djamal sebagai pemandu mengambil beberapa kesimpulan terkait yang disampaikan oleh Taufik. Lalu mempersilahkan kepada Nahar Aba Hakeem untuk menyampaikan kuliahnya mengenai kepemimpinan.

Nahar memakai kemeja merah dan dilapisi jaket hitam diluarnya. Ia terlebih dahulu bersepakat dengan semua peserta dalam kuliahnya, setiap orang pasti mau menjadi pemimpin. Namun banyak di antara pemimpin itu tidak semuanya menuai kesuksesan.

“Untuk menjadi pemimpin jangan muluk-muluk langsung ingin memimpin golongan yang besar,” ujar Nahar yang sering berpindah posisi di atas panggung. Ia memberi arahan, untuk menjadi pemimpin yang sukses harus berawal dari bawah.

“Kita tidak harus menjadi seperti Jokowi, Zaini, dan menjadi bupati. Cukup merangkul orang-orang sekitar, harus memulai dari golongan kecil dengan sukses,” kata lelaki berkulit gelap ini.

Sedangkan Muhammad Fauzan Azim Syah tidak membahas kepemimpinan secara luas. Ia hanya menyampaikan tentang sepak terjangnya dalam memimpin gedung Sultan II Selim sejak tiga tahun silam. Dengan sangat yakin ia mengatakan, kalau kepemimpinannya di gedung Sultan II Selim tidak berhasil dalam waktu singkat.

“Sejak saya diamanahkan untuk memimpin gedung ini, saya menargetkan waktu 6 bulan untuk membawa perubahan yang lebih baik, jika lewat waktu tersebut tidak ada perubahan, saya bersedia mundur,” ujar lelaki yang akrab di panggil Fauzan.

Ia melanjutkan, pantas menaruh waktu seperti itu untuk mencapai target. Karena itu akan memotivasi kita dalam berkerja. “Alhamdulillah, ternyata saya berhasil. Dan sampai sekarang masih diamanahkan untuk memimpin gedung ACC Sultan II Selim,” ujar Fuzan yang juga fasih berbahasa Inggris.
***

Para pengunjung bersiap-siap mengikuti bagian kedua acara tersebut. Sebagian peserta ada yang keluar untuk menuju bagan dan sekedar mencari udara segar di luar sebelum mengikuti sesi yang ini. Sejenak panitia memutar lagu Instrumental Hub Fi Istanbul (Cinta di Istanbul) dan Instrumental Turkey Music. Alunan musik yang sangat syahdu. Terasa ruangan seminar seperti menjelma menjadi Istanbul. Peserta yang kebanyakan muda-mudi generasi masa depan Aceh.

Dalam angan-angan, saya menatap mereka seperti gadis dan lelaki Turki yang berhidung mancung, lagi putih yang berwajah cantik dan tampan. Namun angan-angan itu berhenti dengan cepat ketika panitia mematikan musik itu dan memberi aba-aba kalau acara peluncuran buku “Istanbul, Warna Ibukota Dunia” akan segera dimulai.

Moderator mepersilahkan Sulaiman Tripa sebagai punyunting akhir buku Istanbul Warna Ibukota Dunia untuk memberikan pendapatnya mengenai buku itu. Pertama ia merasa salut kepada penulis buku itu, Arifun Azmi Usman. Seorang wartawan foto di surat kabar Harian Rakyat Aceh, tetapi juga bisa menulis buku setebal itu padahal perjalanannya ke Istanbul sangat singkat.

“Penulis buku ini memberi pesan kepada kita, siapapun bisa menulis, walaupun wartawan foto sekalipun,” ujar Sulaiman Tripa.

Dengan mimik bicara yang sedikit ketawa ia melanjutkan kata-katanya “Walaupun Ariful menulis satu paragaf dengan satu titik, tidak masalah. Karena setiap buku akan melalui proses editing,” ujar dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala ini.

Sulaiman Tripa tidak banyak membahas tentang buku itu. Ia juga ingin secepatnya mendengar penuturan langsung pengalaman Arifun Azmi Usman selama sebulan di Istanbul dan mngenai proses penulisan buku setebal itu, padahal perjalanannya di sana sangat singkat.

Dengan langkah cepat, anak muda bernama Ariful Azmi Usman menuju atas panggung yang disambut riuh tepuk tangan peserta. Di sana terlihat jelas penulis buku itu melempar senyum kepada para hadirin. Senyum indah, seindah secuil kota Istanbul yang ada di sampul buku. Ariful menceritakan perjalanannya ke Turki selama sebulan untuk mewakili PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh Turki) dalam studi budaya ke Istanbul.

Ia mengunjungi beberapa tempat bersejarah di sana, seperti gereja Ayasofya yang pernah menjadi mesjid setelah penaklukan Konstantinopel, lalu sekarang berubah menjadi museum. Ia juga mengunjungi Mesjid Biru (Blue Mousque) atau juga dikenal dengan Mesjid Sultanahmet II yang menjadi ikon kota Istanbul.

Dengan cerita singkat itu, Ariful telah membuat peserta yang mendengar terkesima. Wajah-wajah mereka menyiratkan juga ingin ke sana. Ariful yang masih sangat muda, telah memperoleh prestasi yang luar biasa. Mengunjungi Istanbul adalah impian semua orang, walau bagaimanapun Istanbul sekarang, dulu pernah jaya Islam di sana dengan nama kotanya Islambul.

Pengalaman indah kalau tidak berbagi dengan mereka yang belum ke sana belumlah cukup. Dengan alasan itu, Ariful harus menulis pengalamannya di sana. Namun Ariful juga berasalan menulis itu juga penting, karena dengan menulis akan membuat hidup lebih lama.

“Kita bisa hidup 60 tahun atau lebih sesuai yang Allah kehendaki, namun dengan menulis kita bisa hidup seribu tahun,” ujar mahasiswa FISIP Unsyiah ini memberi semangat.

Buku Istanbul Warna Ibukota Dunia telah membuat beberapa peserta yang hadir di situ bergairah, ingin menulis dan membuat pengalamannya ditulis ke dalam bentuk buku. Seolah-olah tidak ingin ketinggalan dengan apa yang dilakukan oleh Ariful Azmi Usman. Ilham, seorang peserta peluncuran buku yang duduk di sebelah kanan saya, juga baru beberapa saat saling berkenalan, berujar dengan spontan.

“Kalau Ariful telah menulis Istanbul Warna Ibukota Dunia. Tahun 2017 atau 2018 saya akan menulis buku Sanliurfa Kota Wisata Sufi Dunia, karena di sana pernah tinggal Syaikh Badiuzzaman Said Nursi,” ujar Mahasiswa UIN Ar-Raniry ini yang juga mengagumi negara Turki.
***

Pelajar Sekolah Hamzah Fansuri mendapat kesempatan berharga setelah peluncuran buku selesai dilaksanakan. Atas perintah guru SHF Thayeb Loh Angen, para pelajar menuju ke kedai Taufik Kupi yang berada di belakang gedung ACC Sultan II Selim, melalui gang sempit.

Setelah sampai di kedai Taufik Kupi, kami dibawa ke meja yang terlebih  dahulu telah diisi oleh tiga orang. Dua orang dari mereka merupakan sangat asing di mata kami. Thayeb Loh Angen memperkenalkan mereka kepada kami, pertama Saiful Bahri yang memakai baju dinas PNS, dan Sulaiman Juned yang memakai topi bewana merah. Seorang lagi laki-laki yang memakai kacamata yang telah kami lihat tadi saat peluncuran buku, Sulaiman Tripa.

Saiful Bahri tidak kami kenal sebelumnya, namun beliau seorang cerpenis senior, cerpennya tidak sedikit telah diterbitkan harian Serambi Indonesia. Di sela-sela pertemuan itu beliau menyampaikan keluh kesah dalam menulis waktu muda dulu, harus menulis dalam lembaran buku tulis memakai pena.

“Kami dulu menulis tidak memakai sarana elektronik, sangat sederhana media menulis dulu,” ujar Saiful juga penulis cerpen Cot Lamkuweuh.

Sulaiman Juned dan Sulaiman Tripa juga tidak mau ketinggalan dalam menyampaikan pengalamannya dalam menulis. Sulaiman Juned yang saat ini telah menetap di Padang dan menjadi dosen salah satu perguruan tinggi di sana, juga berbagi tips kepada penulis muda yang tergabung dalam SHF (Sekolah Hamzah Fansuri).

“Untuk menulis yang baik, harus terlebih dahulu menjadi pembaca yang baik, untuk menjadi pembaca yang baik maka harus menjadi penyimak yang baik. Kalau itu sudah terhimpun dalam diri setiap individu, maka ia akan menjadi penulis yang baik,” ujar Sulaiman Juned dengan mimik sedikit tegas.

Sedangkan Sulaiman Tripa, sebelumnya hanya membaca tulisan-tulisan beliau lewat rubrik opini Serambi Indonesia, hari itu dapat bertatap muka langsung dengannya. Dengan nada lembut dan bersahaja ia menyampaikan kepada penulis pemula seperti pelajar SHF untuk fokus kepada jenis tulisan yang disukai.

“Kalau suka menulis cerpen, maka fokus kepada cerpen. Jangan terlalu cepat-cepat menulis novel, apalagi ilmu tentang novel itu belum dikuasai,” ujar Sulaiman Tripa yang sekarang juga aktif menulis di blog www.kupiluho.wordpress.com.

Beberapa pengalaman berharga telah didapat pada hari itu di ACC Sultan II Selim, mulai dari travelog Aceh ke Istanbul, hingga penulis senior Aceh yang telah meluangkan waktunya lalu memberi pengalaman dan ilmu-ilmu kepenulisan. Sekarang bisa memilih, ingin menciptakan pengalaman berharga untuk berbagi kepada orang lain, atau tetap sebagai penikmat pengalaman-pelangalaman orang lain.
 
Ditulis oleh Rahmatullah Yusuf Gogo sebagai tugas menulis featured di kelas Sastra dan Perkabaran Sekolah Hamzah Fansuri, Kamis 21 Mei 2015.

Alunan Hub fi Istanbul di Sultan II Selim ACC


Belajar mengajar Kelas Sastra dan Perkabaran Sekolah Hamzah Fansuri, bersama Sulaiman Juned (kiri), Saiful Bahri, dan Sulaiman Tripa (kanan), di kedai Taufik Kupi, Banda Aceh, 19 Mei 2015. Foto: Rahmatullah Yusuf Gogo.
Pelajar Sekolah Hamzah Fansuri kembali mengikuti latihan belajar menulis di Sultan Selim II, Banda Aceh, Selasa(19/05/2015). Seperti informasi yang didapat Selasa itu, di Sultan Selim II diadakan acara seminar kepemimpinan bersamaan dengan peluncuran buku Istanbul Warna Ibu Kota Dunia.

Pelajar Sekolah Hamzah Fansuri mendapat kesempatan mengikuti acara ini, mereka langsung mengisi bangku-bangku kosong yang sudah tersedia. Di depan terlihat pemateri sedang menyampaikan materinya. Nazarullah salah seorang siswa Hamzah Fansuri penasaran siapa ketiga pemateri tersebut, tidak berlangsung lama pemberian materi pun selesai. Kemudian dilanjutkan sesi tanya jawab, di sinilah moderator menyebutkan beberapa kali nama pemateri di depan. Mereka itu adalah Taufik, Nahar Aba Hakim, dan Muhammad Fauzan Azim Syah.

Taufik adalah seorang yang sukses membangun kedai kopi yang sangat terkenal di Banda Aceh.
“Pemimpin itu harus melayani. Ada 3 hal konsep sukses saya yaitu melayani, menjaga kualitas dan serah diri pada Allah. Manajemen saya manejemen Allah,” kata Taufik yang warungnya dikenal dengan “Taufik Kupi” itu.

Nahar Aba Hakeem mengatakan pemimpin adalah orang-orang yang berani berbuat hal yang lebih besar terdadap apa yang dipimpinya. Pemimpin memiliki tanggung jawab yang besar  terhadap apa yang dicita-citakan suatu lembaga yang dipimpin. Banyak orang di dunia tetapi  hanya sedikit yang mau jadi pemimpin,” tambahnya.

Muhammad Fauzan Azim Syah, Direktur Gedung Sultan Selim II membagikan beberapa pengalaman yang telah ia tempuh untuk memimpin gedung ini.

“Jika ingin dihargai kita harus merasa menghargai orang lain, bangunlah sifat keterbukaan dengan bawahan, carilah orang yang visinya sejalan dengan yang kita harapkan,” kata Fauzan yang terlihat gagah itu.

Selesai seminar kepemimpinan, kemudian dilanjutkan acara peluncuran buku. Moderator terlihat sedang menaiki panggung dan langsung membuka acara itu. Sulaiman Tripa, salah seorang penyunting buku tersebut dipanggil untuk menyampaikan beberapa patah kata. Dia pun tidak segan-segan langsung maju ke depan panggung.

“Penyuntingan bukan keahlian saya, ini saya lakukan atas permintaan teman saya yakni Thayeb,” ujar Sulaiman.

“Saya sangat bangga kepada yang sudah mau menulis buku setebal ini. Selama sebulan ikut beajar di Turki mampu telah melahirkan sebuah karya yang bagus, ini adalah hal yang sangat luar biasa, “ kata Sulaiman yang tampak terharu.

“Tidak seperti mahasiswa saya di kampus, mahu mengajukan judul skripsi, tapi tidak memperlihatkan tulisannya, saat ditanya, ia menjawab bahwa tulisannya masih dalam kepala,” tambah Sulaiman yang juga dosen Universitas Syiah Kuala itu seperti menyindir.

Tak lama setelahnya, giliran Ariful Azmi Usman, penulis buku Istanbul Warna Ibu Kota Dunia.

“Perjalanan selama satu bulan ke negeri bulan sabit itu dalam berangka belajar tentang kebudayaan, ada banyak pengalaman yang saya dapatkan di sana,” ujar Ariful.

“Saat di Turki keadaan sedang musim panas, setiap hari selalu merakan panasnya terik matahari, sangat ingin saya melihat salju, tapi salju hanya di daratan Eropa lain,” tambahnya seperti bercanda.

“Sebenarnya perjalanan ke Turki bukan saya yang pertama kalinya, telah banyak yang ke sana dan belum ada yang mau menulis sebelumnya. Buku Istanbul ini sebagai kenangan sejarah bahwa saya sudah pernah ke sana. Menulis adalah cara yang tepat untuk mengabadikan sejarah, sangat indah bila mau menulis tentang sejarah kisah perjalanan hidup dan seketika sudah tuha kita dapat memperlihatkan itu kepada anak-anak cucu kita,” kata Ariful.

Pada peluncuran buku ini panitia menyediakan 100 buku untuk dibagikan ke para undangan, buku diberikan kepada tamu yang memiliki kupon yang telah dibagikan.

“Buku ini tidak dijual, saya ingin berbagi kepada kawan-kawan yang membutuhkan. Bagi yang tidak
memiliki kupon, kalau ingin mendapatkan bukunya bisa jumpai saya,” katanya yang juga mahasiswa FISIP Unsyiah itu.

Bagian terakhir dalam acara peluncuran buku yang diterbitkan oleh Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT) dan Departemen Beasiswa di bawah Perdana Menteri Turki (YTB) tersebut, beberapa tokoh penting dipanggil ke panggung untuk menandatangani bingkai buku yang telah disediakan.

Beberapa tokoh itu adalah Sulaiman Tripa, Muhammad Fauzan Azim Syah, Thayeb Loh Angen, dan beberapa yang lainnya. Setiap mereka juga mendapatkan buku yang bertajuk Istanbul Warna Ibu Kota Dunia sebagai cendera mata.

Dengan berakhir acara seminar dan peluncuran buku berduyn-duyunlah para tetamu undangan meninggalkan Gedung Sultan Selim II. Hanya beberapa arang yang tergabung Siswa Kelas Sastra dan Perkabaran Sekolah Hamzah Fansuri yang masih terlihat mondar-mandir di sekitar gedung itu, bukan mengapa, mereka akan belajar menulis yang dipandu oleh Thayeb Loh Angen di sekitar gedung itu.

Tepat di belakang Gedung Sultan Selim II ada sebuah kedai kopi, ke sanalah mereka diarahkan Thayeb. Ternyata sampai di sana ada beberapa orang yang telah menunggu tepat di bawah pohon yang rindang, lalu merapatlah semua pelajar SHF bersama tiga orang itu. Para pelajar Thayeb sangat penasaran akan siapa ke tiga orang tersebut.

“Ini hari yang bersejarah, inilah para sastrawan senior Aceh, sulit sekali bisa menghadirkan mereka ke hadapan kita,” ujar Thayeb sangat bersemangat.

“Mereka telah banyak melahirkan karya-karya di tanah rencong ini, kalian boleh bertanya apa saja pada mereka,” lanjutnya. Sebelum berbincang-bincang panjang lebar, satu persatu dari mereka diminta Thayeb untuk memperkenalkan diri. Mereka pun satu persatu memperkenalkan diri. Rupanya ketiga orang tersebut adalah Sulaiman Tripa (Dosen Unsyiah), Sulaiman Juned, dan Saiful Bahri.

Tanpa bermaksud memaksa Thayeb meminta mereka untuk menyampaikan beberapa nasehat dan motivasi belajar menulis kepada pelajarnya.

Lalu satu persatu dimulai Sulaiman Tripa, mengatakan sangat senang atas berdirinya Sekolah Hamzah Fansuri ini, dia berharap sekolah ini terus berkembang.

“Agar menjadi penulis kita harus membiasakan menulis dari sekarang, menulis jangan sebagai simbol saja, tapi  harus melahirkan karya-karya yang dapat dibaca orang lain. Mula-mula tulislah apa saja yang ingin ditulis. Ketika sudah sangat dikuasai kamu akan menemukan bidang menulis apa yang sangat kamu minati, maka konsentrasilah pada satu bidang itu,” kata Sulaiman yang terlihat sangat serius.

Sulaiman Juned, yang juga Dosen di Padang Panjang, mengatakan ada beberapa hal yang harus dipelajari untuk menjadi penulis yaitu membaca, menyimak, berbicara, dan menulis.

“Membaca yang dimaksud adalah membaca fenomena alam sekitar kita. Menyimak, simaklah dengan baik ketika orang menyampaikan sesuatu. Berbicara, ketika sering membaca dan menyimak maka akan dapat berbicara dengan baik. Menulis, setelah menguasai ketiga hal di atas lalu menulislah, pasti kamu akan dapat menulis dengan baik,” kata Juned.

Saiful Bahri, mengatakan berpandangan sedikit berbeda dengan Juned. “Modal utama menulis adalah membaca buku, membaca dapat memperkaya diri tentang kosa kata, gaya bahasa, alur cerita dan banyak lainnya. Berbeda buku berbeda isinya, maka akan sangat mudah bila menguasai banyak kata, bahasa, dan alurnya,” ujar Saiful.

”Menjadi penulis harus terus mambaca dan, pengalaman saya membaca itu mesti dari buku-buku,” lanjutnya.

Beberapa saat kemudian, Sulaiman berkata ia ada janji dengan seseorang  sehingga harus segera meninggalkan tempat itu. Thayeb dan lain-lain harus rela merelakannya. Sulaiman tampak sedang memanggil penjaga warung dan membayar semua minuman yang telah diminum. Berselang beberapa menit Juned dan Saiful pun minta pamit juga. Tinggallah hanya Thayeb dan muridnya.

Kala Thayeb sedang berbincang dengan para siswanya datanglah seorang yang berbadan besar dan beramput panjang, perawakannya hampir seperti preman India, namanya adalah Sarjev. Dia seorang penata panggung.

“Untuk acara-acara festival biasanya kita yang merancang panggung dan segala setingan acara,” kata sarjev. Lelaki itu terlihat seperti terburu-buru, sebentar berbicara ia langsung meninggalkan tempat itu. Kemudian bincang-bincang sesama pelajar pun berlanjut.

Tampak hari semakin gelap, pertanda kegiatan belajar harus dipadai. Thayeb pun mengatakan sebelum dipadai ia meminta satu per satu siswa Sekolah Hamzah Fansuri menjelaskan beberapa hal penting yang telah mereka dapati sejak mengikuti seminar kepemimpinan sampai mereka mendapatkan ilmu dari beberapa sastrawan Aceh.

Lapuran Nazarullah, untuk tugas menulis feature Kelas Sastra dan Perkabaran Sekolah Hamzah Fansuri Banda Aceh, 19 Mei 2015. 

Memetik Ilmu di Sultan Selim II



Banda Aceh - Pemuda peduli kesehatan jiwa yang menamai diri sebagai Griya Schizofren Aceh, mengadakan seminar tentang pengembangan komunitas yang disampaikan  oleh Muhammad Fatun, salah seorang tim The Leader Aceh. Seminar yang berlangsung selama tiga jam itu diadakan di Sektertariat Komisi Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Aceh, Banda Aceh, Sabtu (23/05/2015).

Seminar yang diikuti oleh 22 anggota Griya Schizofren Aceh merupakan bagian dari kegiatan rutin setiap bulan dengan tema dan pemateri yang berbeda-beda. Materi yang disampaikan kali ini tentang pengembangan komunitas dan kepemimpinan. Dalam diskusi itu para peserta diajarkan cara menganalisis masalah dalam kelompok, membuat dinamika kelompok dan menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan menggunakan strategi tertentu.

Muhammad Fatun, dalam pidatonya, mengatakan, sebagai komunitas yang baru terbentuk, harus punya konsep dan tujuan  yang jelas serta kekompakan yang utuh dari setiap anggota komunitas, dengan begitu setiap program yang telah dibuat mudah untuk dijalankan.

“Suatu komunitas yang baru akan mudah berkembang bila banyak melakukan kerjasama dengan komitas lain, terutama dengan komunitas yang telah lama berdiri dan kaya pengalaman,” ujar Fatun.

Sementara ketua Griya Schizofren Aceh Yelli Sustarina, S.Kep, mengatakan, tujuan dari seminar ini untuk bekal dan pembalajaran bagi 22 anggota Griya Schizofren Aceh yang baru direkrut dalam menjalankan semua program di komunitas ini.

“Seminar ini sekaligus untuk melatih keterampilan anggota Griya Schizofren dalam menghadapi pasien gangguan jiwa yang ada di Rumah Sakit Jiwa, karena menghadapi orang gangguan jiwa bukan hal sepele, perlu mental yang kuat,” ujar Yelli yang juga mahasiswi Profesi Nursee Fakultas Keperawatan Unsyiah.

Menurutnya lagi, dengan bekal yang cukup, komunitas ini akan melatih keterampilan orang gangguan jiwa yang ada di Rumah Sakit Jiwa untuk membuat hand made yang menghasilkan produk.

“Melalui produk-produk tersebut akan membuktikan bahwa orang gangguan jiwa juga bisa melakukan kreativitas jika dilatih dan dibina dengan baik,” tambahnya lagi.ryg

Griya Schizofren Aceh Belajar Pengembangan Komunitas


Belajar menulis feature Kelas Sastra dan Perkabaran Sekolah Hamzah Fansuri di Taman Hutan Kota BNI, Gampong Tibang, Banda Aceh, Jumat sore, (22/05/2015). Foto: Fira Zakia.

Banda Aceh - Sejumlah siswa yang tergabung dalam Kelas Sastra dan Perkabaran Sekolah Hamzah Fansuri mengikuti pelajaran menulis feature yang dipandu oleh Thayeb Loh Angen di Taman “Hutan Kota BNI”, Gampong Tibang, Banda Aceh. Siswa yang berjumlah lima orang tersebut terlihat antusias mengikuti kelas di alam terbuka pada Jumat sore, (22/05/2015).

Kelas menulis featured ini merupakan lanjutan dari kelas menulis sebelumnya dengan materi menulis berita langsung yang juga dilaksanakan di kelas alam terbuka seperti di Makam Kandang XII, Museum Rumoh Aceh dan Kedai Kopi Taufik.

Menurut Thayeb Loh Angen (36), menggelar kelas di alam terbuka seperti di Taman Hutan Kota untuk membuat siswa lebih santai, apalagi siswa yang terdiri dari beberapa Universitas di Banda Aceh ini telah terbiasa belajar dalam ruangan tertutup di kampusnya masing-masing.

“Belajar di alam terbuka seperti ini akan menjadi kenang-kenangan sendiri dan akan diingat selalu oleh peserta, apalagi tempatnya berbeda-beda, membuat para siswa tidak mudah jenuh,” ujar penulis Novel 2025 ini.

Taman Hutan Kota BNI yang setiap sorenya dipadati oleh pengunjung, tidak mempengaruhi proses belajar mengajar yang dilaksanakan oleh Sekolah Hamzah Fansuri. Bahkan kegiatan tersebut mendapat perhatian pengunjung yang berlalu-lalang dalam taman.

Nazarullah (23), seorang siswa Sekolah Hamzah Fansuri yang mengikuti kelas hari itu, mengatakan, dirinya tidak merasa risih sama sekali dengan banyak perhatian pengunjung.

Peserta belajar feature Kelas Sastra dan Perkabaran
Sekolah Hamzah Fansuri mengabadikan diri dalam
gambar setelah kegiatan belajar mengajar di Taman
Hutan Kota BNI, Gampong Tibang, Banda Aceh,
Jumat sore, (22/05/2015).
Foto: Pengunjung Sukarelawan.

“Tidak masalah dengan banyak perhatian pengunjung, karena selama ini memang tidak banyak orang membuka kelas di alam terbuka seperti di Taman Hutan Kota, jadi wajar saja banyak yang memperhatikan,” ujar Nazarullah.

Namun ia juga berharap, semoga pengunjung tidak hanya memperhatikan saja, tapi juga bisa termotivasi belajar di alam terbuka seperti ini.

“Semoga mereka dapat mengikuti jejak kami membuka kelas di alam terbuka seperti ini,” ujarnya lagi.ryg


Ditulis oleh Rahmatullah Yusuf Gogo pelajar Kelas Sastra dan Perkabaran Sekolah Hamzah Fansuri, Jum’at Mei 2015.

Pelajar SHF Belajar di Taman Hutan Kota


Belajar mengajar Kelas Sastra dan Perkabaran Sekolah Hamzah Fansuri, bersama Sulaiman Juned (dua dari kiri), Saiful Bahri (kiri), dan Sulaiman Tripa (dua dari kanan), di kedai Taufik Kupi, Banda Aceh, 19 Mei 2015. Foto: Rahmatullah Yusuf Gogo.
Brum....
Brum..
Brum...


Suara desingan motor saling bersahutan di seputaran pakir gedung Sultan Selim II. Berbagai jenis motor dan mobil ternyata telah berjajar rapi di sepanjang halaman gedung tersebut seketika aku pun melihat jam tangan lagi, ternyata pukul telah menunjukkan 15.15 WIB dan itu menandakan kami sudah telat 15 menit dari jadwal masuk kelas Sekolah Hamzah Fansuri hari ini, Selasa (19/05/2015).

Di samping itu, kami pun merasa kebingungan bersama tak tahu lagi harus melangkah ke mana lagi untuk menuju kelas alam kami di SHF, mengingat tempat ini masih asing bagi kami meski sebelumnya hanya pernah mendengar namanya saja yang berisi tentang bagaimana kemegahan gedung ini dalam setiap even pengunaannnya oleh berbagai kalangan untuk menyemarakkan kegiatan yang mereka laksanakan.
“Kring, kring, kring” kucoba menelpon salah satu temanku yang sudah lebih dulu datang.

“Masuk saja terus ke ruang seminar lantai dua, kami di situ,” ujar suara teman kami, Rahmatullah, di seberang sana. Bergegas kami berempat pun langsung ke lantai dua dan di sana kami dapati orang-orang sangat ramai, suara dari dalam ruang nyaring sedikit demi sedikit terdengar hingga keluar.

“Permisi, Bang. Silakan tulis nama di daftar sini,” kata salah seorang perempuan di depan pintu.

Kami pun berempat saling bertatapan, “Kenapa kelas hari ini di sini,” kata temanku berbadan gempal. Seketika aku pun baru teringat bahwa hari ini ada acara seminar kepemimpinan sekaligus peluncuran buku salah satu teman lamaku Ariful. Bersamaan dengan itu kami pun lalu bergegas saling menulis nama di daftar tersebut, lantas melangkah masuk untuk menjalani acaranya.

Berada di dalam gedung Sultan Selim II ini sungguh sangat nyaman. Kursi yang berjejeran dari bawah ke atas seperti sebuah gunung yang terus menjulang tinggi ke atas dan mempertontonkan keindahan yang ada di bawahnya dan di sini tontonan itu adalah mereka sang pengisi acara kepemimpinan serta Ariful Usman penulis buku Istanbul Warna Ibukota Dunia  yang sebentar lagi akan peluncurannya.

“Jadi pemimpin itu harus bisa melayani bukan dilayani dan saya memakai tiga konsep yang pertama enak makanannya, yang kedua enak pelayanan, dan yang ketiga bersih tempatnya, dan selanjutnya saya serahkan kepada yang di atas,” ujar narasumber pemilik Taufik Kupi di bawah sana.

Setelah seminar selesai, acara selanjutnya adalah peluncuran buku dari penulis muda yang disponsori langsung oleh  Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT) dan Departemen Beasiswa di bawah Perdana Menteri Turki, YTB (Yabancı Türkiye Bursları).

Ariful merupakan seorang mahasiswa FISIP di Unsyiah. Perjalannya ke Turki di bulan Agustus 2014 kemarin dalam sebuah kegiatan memperdalam keahlian dan pertukaran budaya telah menghantarkannya menjadi seorang penulis. Karyanya hari ini pun menjadi batu loncatan pertamanya. Meski di usia muda dan berprofesi sebagai wartawan foto di salah satu surat kabar di Aceh namun kemunculannya dalam penulisan buku perlu diacungi ibu jari.

“Menulis tidak sulit, semua orang bisa menulis yang penting memiliki keinginan untuk menulis,” kata Ariful di sela-sela kata sambutanya. Ia menambahkan, “Menulislah karena dengan menulis kalian dapat hidup seribu tahun lagi, seperti, …,” katanya.

Seketika riuh tepuk tangan bergema di ruangan dan tanpa terasa, hatiku pun ikut merasakan kehangatan semangat darinya.

Setelah kata sambutan tersebut, dilanjuti dengan acara foto bersama juga penandatanganan cendera mata sebagai lambang peluncuran buku tersebut. Satu persatu dari orang-orang besar undangan naik ke podium, ada kajur komunikasi Unsyiah, penyunting bukunya Sulaiman Tripa, juga salah  seorang penulis Aceh lainnya seperti Thayeb Loh Angen juga beberapa rekan PuKAT lainnya.

Kulirik jam, ternyata ashar telah tiba seiring dengan penutupan acara hari ini. Kami para siswa SHF pun masih rada-rada bingung apakah hari ini ada kelas atau tidak, mengingat acara ini pun telah selesai. Akan tetapi ternyata ada. Setelah keluar dari ruang yang sebelumnya ada pembagian buku gratis juga, namun kami tak mendapatinya mengingat tidak ada kupon karena telat datang, lantas kami pun bergegas pergi menunaikan shalat. Ternyata di jalan kami terpisah dengan  dua teman lainnya yang tertinggal di atas.

“Ayuk, lansung kita shalat saja duluan,” kata Rahmatullah, teman di SHF.

“Nanti pun mereka menyusul juga,” tambahnya. Kami pun bersegera pergi.

Di teras lobi depan, kami berpapasan dengan guru SHF, Thayeb, serta ketua kelas kami, Muhajir, yang sedia setiap saat di sampingnya.

“Ya, sudah, shalat dulu, nanti lepas shalat kita duduknya,” kata Ketua Kelas. Seketika kami pun langsung bersiap-siap untuk shalat asar, dan ini berarti kelas tetap ada hari ini.

“Horeee.....,” aku membatin.

Di depan, kami pun langsung berpapasan dengan mushala setelah melewati lapangan basket. Ketika melangkahkan kaki ke halaman mushalla, terlebih dulu kami harus melewati taman kanak-kanak. Mushalla ini merupakan halaman belakang dari kantor balai kota Banda Aceh. Sungguh membuatku terjekut, tidak menyangkanya. Dan berarti gedung Sultan Selim II ini langsung berbelakngan dengan Balai Kota. Makanya semua jamaah yang kudapati shalat di sini pun banyak yang berseragam PNS dan ternyata pagawai Balai Kota dan kantor Depag Aceh.

Usai menunaikan kewajiban, kami pun keluar bergegas untuk melanjutkan kegiatan hari ini, masuk kelas SHF.

“Jadi, di mana kelas ktia hari ini?” Tanyaku kepada temanku, Rahmad.

“Di kedai kopi belakang gedung ini,” jawabnya.

Aku pun binggung sehingga di sepanjang perjalanan memikirkan itu kedai kopi karena sejauh pandanganku tidak ada kedai kopilah di sini.

“Dan bukankah tempat kami berada ini sekarang tepat di belakang gedung Sultan Selim II?” Sergah hatiku, namun ternyata dugaanku tidak benar. Setelah melewati tempat parkir tampaklah sebuah pintu kecil yang menghubungkan ke sebuah kedai kopi di dalamnya.

Di kedai kopi itu, ternyata kami mendapati kawan-kawan yang sebelumnya tertinggal di belakang sana. Mereka sudah lebih dulu sampai di sini, juga  tampak guru kami juga ketua kelas, tapi ada tiga orang lagi yang duduk bersama mereka. Belum kami tahu siapa gerangan mereka  dengan raut muka agak tuha, kecuali satu orang yang sebelumnya sudah terlebih dulu kukenal lewat acara tadi sebagai penyunting buku, Sulaiman Tripa.

Kuamati sekeliling, suasana di sini ternyata tidak kalah nyaman dengan kedai-kedai kopi lainnya, di mana-mana kesibukan juga orang berbicara silih berganti bersahutan menyemarakkan keramaian ala kedai kopi. Di sela-sela penglihatanku perkenalanpun berlangsung dari kami para pelajar terlebih dahulu, lalu dilanjuti dengan mereka yang masih membingungkanku. Setelah perkenalan ternyata kusadari mereka adalah para penulis yang sangat produktif di masanya juga di masa kini dengan berbagai karya mereka, yakni Sulaiman Juned serta Saiful Bahri.

Lantas pembicaraan pun berlangsung seputaran dunia tulis menulis. Sulaiman Juned mengatakan.

"Ada empat ketrampilan menulis, pertama membaca, bukan saja buku tetapi juga baca alam ini bagaimana ia bekerja mengharmoniskan kehidupan makhluk didalamnya, kedua menyimak atau mendengarkan setiap orang bicara dengan baik dan menyerapnya menjadi pengetahuan sendiri, ketiga setelah itu berbicara, berbicaralah kalian apa-apa yang baik setelah sebelumnya kalian menemukannya dari membaca juga mendegar, dan keempat baru menulis, barulah kalian akan bisa menulis akan apa yang kalian telah alami sebelumnya sekaligus memperkayanya dengan tiga hal tadi, dan sungguh keempat hal tersebut merupakan kunci wajib yang harus dimiliki seorang penulis sejati," tutupnya.

Setelahnya silih berganti mereka memberikan semangat (motivasi) bagi kami para pelajar SHF ini. Berbagai masukan yang positif coba mereka berikan untuk menumbuhkan minat kami pada dunia tulis menulis ini seperti mereka sebelumnya, dan ini sungguh ampuh pada kenyataanya, melihat teman-temanku yang lain ketika menyimak.

Kulihat mereka semua sangat antusias bertanya ini itu tentang kepenulisan. Para senior pun mereka sangat santun dalam menjawab setiap apa yang ditanyakan dan ini merupakan sebuah gambaran kelas yang  ideal seperti yang sang guru kami di SHF inginkan dalam proses belajar mengajarnya di sekolah ruang terbuka, yakni dengan kelas ini diharapakan para pelajar mampu dengan baik dalam berfikir saat belajar mengajar sedang berlangsung.

Menurut guru kami pula, “Udara yang dirasakan di kelas belajar pada alam terbuka ini lebih efektif,” dan kenyataannya bagi kami para pelajar tentang sebuah pembaharuan kelas belajar seperti ini nyatanya cukup pengaruh bagi proses belajar kami hingga kini. Meski tempatnya berganti-ganti yang namun karena suasana pergantian inilah selalu dapat menjadi tolak ukur kenyamanan tersendiri bagi penyerapan kami dalam menangkap ilmunya.

Seperti halnya tempat ini, walau di kedai kopi belakang gedung Sultan Selim II sekalipun, tetapi tetap saja bisa menjadi ruang belajar produktif, dan ditambah lagi hari ini dengan kedatangan penulis-penulis senior Aceh untuk memotivasi belajar kami meski moment mengajar itu harus “ditodong” terlebih dahulu oleh guru SHF, Thayeb Loh Angen.

Lapuran Muhammad Zulkausar barazy sebagai tugas menulis feature di kelas Sastra dan Perkabaran Sekolah Hamzah Fansuri, Jumat 22 Mei 2015.

Sekolah Hamzah Fansuri Sang Pelopor Ruang Belajar Terbuka


Forum OSIS SMA/Sederajat sekecamatan Samalanga galang dana untuk Rohingnya yang terdampar di Aceh beberapa hari yang lalu, Jumat, 22 Mei 2015.


Bireuen - Forum OSIS SMA/Sederajat sekecamatan Samalanga galang dana untuk muhajirin Rohingnya yang didaratkan oleh nelayan Aceh di pantai Aceh Utara dan Timur, beberapa hari lalu.

Forum ini merupakan gabungan dari OSIS-OSIS Sekolah Menengah Atas yang ada di ruang lingkup Kecamatan Samalanga.

Ini merupakan hari kedua penggalangan dana untuk Rohingnya yang dilakukan di Samalanga, penggalangan dana ini akan dilaksanakan selama delapan hari.

Demikian kata Tata Mandala Putra salah satu pelajar yang tergabung dalam forum penggalangan dana tersebut, Jum'at (22/05/2015).

“Hingga hari kedua, dana yang terkumpul dari masyarakat Samalanga berjumlah lebih kurang 3 juta. Semoga terus bertambah hingga hari ke delapan nanti. Kami mendirikan posko OSIS SMA sekeluarga peduli Rohinggnya di depan puskesmas Samalanga,” kata Tata.

Menurut Tata, sekolah-sekolah yang tergabung dalam forum tersebut adalah SMA N 1 Samalanga, SMA N 2 Samalanga dan SMA N 3 Samalanga.

“Kami berharap dengan sumbungan yang akan kami bawa nanti setidaknya dapat meringankan beban saudara kita yang hingga hari ini masih sangat perlu bantuan bantuan dari kita. Memang jumlah yang akan kami bawa nanti tidak seberapa banyak, namun inilah yang dapat kami lakukan,” tutup Tata.

Laporan Mirza Saputra, dari Samalanga.

Forum OSIS SMA Se-Samalanga Bantu Muhajirin Rohingnya


Popular Posts