Bukan Albatros

Written By Peradaban Dunia on Saturday, 28 March 2015 | 06:32

Karya Thayeb Loh Angen




Apabila kukatakan tentang Aceh sekarang begini begitu kepadamu, jangan mempercayaiku karena aku bukanlah referensi untuknya.

Namun, engkau tidak bisa menghindariku manakala kukatakan sesuatu tentang masa hadapannya, sebab aku telah berenang ke samudera masa hadapan dan terbang melintasi zaman dengan sayapku yang tidak sekukuh albatros.

Dan, yang kutahu adalah sayapmu lebih kuat tertimbang sayapku, akan tetapi engkau seperti angsa yang berpikir tidak ditakdirkan menjadi penerbang.
Sementara ibundamu melahirkanmu sebagai merpati.


Banda Aceh, 28 Maret 2015

Kekasihku di Bandar Zaman

Written By Peradaban Dunia on Friday, 27 March 2015 | 20:51

Puisi Thayeb Loh Angen


Thayeb Loh Angen. Foto: Hermadi Ilyas, 2006.
Banda Aceh di dalam lipatan waktu
telah melahirkan cerita seperti nenek kita
menceritakan kisah-kisah menakjubkan

Yang paling bersejarah bagiku adalah senyumanmu
yang mengembang di antara wajah kota yang kuncup cemberut

Oh, kekasihku
di jalan pulang itu ada barisan nisan yang menindih tertindih
serpihan perang Salib.

Walaupun zaman telah hilang,
masih ada cintaku padamu yang mengungkapkan
bahwa sejarah negeri ini dibangun dengan cinta
bahkan perang sekalipun.

Jangan, jangan biarkan sultan-sultan itu cemburu
pada penistaan ini zaman
Tidak, tidak akan kubuat sultan dan penglima masygul
Sebelum kita mampu mengembalikan kursi emas itu
aku senantiasa mengirimkan surat cinta kepadanya
kutitipkan pada angin barat daya.

Tidak ada musim yang tidak mengenal surat cintaku padamu
tidak ada zaman yang tidak mencatatnya
catatan itu kupahatkan di ingatan waktu.

Banda Aceh 27 Maret 2015

Apa Isi Cawatmu



Puisi Thayeb Loh Angen

Janjimu membakari kami
di atas podium propaganda
di kebun kelapa

Janji itu mengangkatmu ke kursi
tetapi kini,
waktu zuhurmu tujuh kali sehari

Orang merdeka menepati janji,
begitu juga lelaki.

Apa merek cawatmu
Apa pula isinya,
ataukah engkau tidak punya.

Banda Aceh, 27 Maret 2015

Sasterawan, Ambil Alihlah Kasus Saut Situmorang dan Fatin Hamama, Selamatkan Dunia Sastera Kita

Oleh Thayeb Loh Angen
Penulis novel Aceh 2025


Saut Situmorang. Foto: Tempo.co
Beberapa laman pemberita mengabarkan bahwa sasterawan Saut Situmorang dijemput anggota Kepolisian Resor Jakarta Timur di rumahnya di Danunegaran, Mantrijeron, Yogyakarta pada siang Kamis, 26 Maret 2015.

Ada ada tiga orang yang datang dan sekitar 20 sastrawan dan penulis Yogyakarta datang ke rumah Saut untuk memberi dukungan. Saut adalah penulis buku puisi saut kecil bicara dengan tuhan menumpang kereta api daripada Yogyakarta menuju Jakarta dengan didampingi Katrin Bandel, istrinya yang juga kritikus sastra, dan Iwan Pangka, pengacaranya.

Iwan Pangka menjelaskan bahawa Saut dipanggil untuk dimintai keterangan dalam kasus pencemaran nama baik Fatin Hamama, kemudian pulang setelah memberikan keterangan. Fatin Hamama, penyair Jakarta, melaporkan Saut dan sastrawan Iwan Soekri Munaf ke polisi karena dianggap telah mencemarkan nama baiknya melalui komentar-komentar mereka di Facebook.

Kasus ini bermula dari terbitnya buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh yang mengguncangkan jagat sastra. Di dalam buku itu, nama Denny J.A., konsultan politik pendiri Lingkaran Survei Indonesia, masuk dalam jajaran sastrawan besar Nusantara.

Polemik soal buku itu pun ramai di laman grup Facebook bernama Anti Pembodohan Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Di situlah, Iwan Soekri, Saut, dan banyak sastrawan lain menyampaikan kritiknya atas terbitnya buku tersebut. Sejumlah sastrawan menuding Fatin sebagai “makelar” Denny J.A. dalam penulisan buku itu.

Terlepas daripada benar atawa tidaknya isi buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh yang tidak ada pengaruh apapun bagiku itu, sahaya sampaikan kepada masyarakat sastera di Indonesia, marilah kita menggandengkan tangan untuk membela setiap sasterawan.

Jangan serahkan urusan yang terkait karya sastera dan sasterawan kepada kepolisian. Apabila ada masalah, marilah kita selesaikan sesama sasterawan. Selamatkan dunia sastera.
Cukuplah sasterawan besar Indonesia Pramoedya Ananta Toer sahaja yang dipenjara karena karyanya, cukuplah karya Bapak Sastera Dunia Melayu (Asia Tenggara) Hamzah Fansuri sahaja yang dimusnahkan karena perbedaan pendapat dengan penguasa.

Wahai handai taulan sekalian sasterawan di Indonesia, terutama yang bertempat tinggal dekat dengan Fatin Hamama dan Saut Situmorang, ambillah alih kasus itu daripada kepolisian dan marilah kita tangani sendiri urusan masyarakat kita, masyarakat sastera.

Pemain film dan penyanyi ada yang telah terjun ke dunia politik, sebahagian daripada mereka telah tercemarkan namanya. Kita, wahai handai taulan masyarakat sastera, semasih ada waktu, marilah menyelamatkan dunia dan masyarakat kita, dunia dan masyarakat sastera. Ambil alihlah kasus Fatin Hamama dan Saut Situmorang. Salam sastera daripada Banda Aceh.

Aceh Menuntut Kejahatan Belanda Setelah 142 Tahun

Written By Peradaban Dunia on Thursday, 26 March 2015 | 16:36

Belasan masyarakat sipil peduli sejarah Aceh menggelar aksi di depan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Kamis (26/3). Aksi ini adalah rangkaian acara memperingati 142 tahun perang untuk Aceh yang dilakukan Kerajaan Belanda. Foto: Sabarun/ACEHKITA.COM
Banda Aceh - Belasan masyarakat sipil peduli dengan sejarah Aceh menggelar aksi di depan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Kamis (26/3). Aksi ini dalam rangka memperingati 142 tahun perang Aceh yang dilakukan pemerintah Belanda.
 
Selain berorasi, peserta aksi juga membawa sejumlah poster dan spanduk serta bendera Alam Pedang, bendera kerjaan Aceh dulu. Sambil menyanyikan lagu hikayat Prang Sabi, hikayat penyemangat rakyat Aceh saat masih perang, juga seorang peserta aksi membacakan puisi. Pesan puisi ini untuk hentikan kekerasan dan tidak lupa dengan sejarah Aceh.
 
Setelah mereka juga membacakan sumpah perang kerajaan Aceh darussalam yang dipimpin oleh seorang peserta aksi. Kemudian sumpah ini diikuti oleh seluruh peserta aksi secara serentak.
 
Salah seorang anggota unjuk rasa tersebut, Haekal Afifa mengatakan, rakyat Aceh tidak boleh lupa dengan sejarah invasi militer Pemerintah Belanda 142 tahun lalu, tepatnya pada 26 Maret 1873. Pada saat itu, Pemerintah Belanda mengeluarkan maklumat secara resmi perang dengan Kerajaan Aceh.
 
“Sampai saat ini Belanda belum mencabut maklumat ini, jadi kami meminta kepada Pemerintah Belanda untuk segera mencabut maklumat itu,” kata Haekal, Kamis (26/3) di Banda Aceh. Ia dan perserta unjuk rasa tersebut menamakan diri sebagai Koalisi Bersama Rakyat Aceh (KBRA).
 
Pengunjuk rasa menuntut tanggung jawab kejahatan Belanda tersebut meminta kepada Pemerintah Belanda untuk meminta maaf atas invansi militernya 142 tahun lalu pada Kerajaan Aceh. Dalam hal ini bisa diwakili oleh Duta Besar Belanda yang ada di Indonesia untuk mengeluarkan pernyataan resmi permintaan maaf pada seluruh rakyat Aceh dan bangsa Indonesia.
 
“Belanda belum pernah minta maaf, jadi pihak Belanda harus minta maaf pada rakyat Aceh melalui media nasional dan internasional,” pintanya.
 
Selain itu, pihaknya juga meminta kepada Pemerintah Aceh agar menjadikan sejarah perang Aceh agar dimasukkan dalam kurikulum sekolah. Baik tingkatan Sekolah Dasar (SD) hingga pada tingkat Perguruan Tinggi.
 
“Karena selama ini ada banyak sejarah Aceh yang tidak sesuai diajarkan di sekolah-sekolah dan untuk mengenang perang Aceh dulu, Pemerintah Aceh sebaiknya mendirikan satu tugu untuk mengenangnya seperti tugu mengenang tsunami,” tegasnya.habadaily.com

Tangké Band Unjuk Taring pada 28 Maret 2015

Written By Peradaban Dunia on Wednesday, 25 March 2015 | 18:35

 
Banda Aceh - Tangké Band, salah satu band etnik Aceh selama ini sering tampil di pangung-panggung besar di Aceh akan meluncurkan album pertamanya bertajuk “Meleuha”. Acara peluncuran tersebut akan dihelat bertepatan empat tahun Tangké berkarya, Sabtu (28/3/2015) malam, di Gedung Turki Sultan II Selim ACC, Banda Aceh.
 
Manajer Tangké Band, Karimullah Djafar, mengatakan, saat ini semua personel Tangké sedang fokus mempersiapkan komposisi untuk ditampilkan pada malam peluncuran nanti.
 
“Anak-anak semuanya sedang sibuk dalam minggu ini, mulai dari latihan rutin untuk perfom pada malam acara, juga bersama panitia mempersiapkan kebutuhan-kebutuhan dan konsep acara,” kata Karimullah, Selasa (24/3/2015).
 
Untuk acara nanti, katanya, Tangké Band akan membawakan beberapa lagu andalannya yang ada dalam album perdananya. Selain Tangké, acara launching tersebut juga akan dimeriahkan oleh penyanyi etnik papan atas Aceh, Joel Pasee, Sanggar Seni Seulaweuet, Tereza Aceh, Amoba Band dan beberapa band lainnya.
 
“Kita sedang mempersiapkan semenarik mungkin agar acara nanti bisa dinikmati oleh semua pecinta musik etnik Aceh. Semoga acara kami ini sukses,” harapnya.
 
Ia menjelaskan, Tangké setelah terbentuk pada 20 Februari 2011 silam mulai berkarya dengan tujuan melahirkan album bergenre etnik Aceh modern. Tangké, sebutnya, mulai dipercaya untuk mengisi acara-acara besar di Aceh.
 
Bahkan, di akhir 2011 band yang digawangi oleh alumnus IAIN Ar-Raniry (sekarang UIN) itu sempat mengisi acara world music dengan musisi dari berbagai negara di Institute Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, Sumatera Barat.
 
“Kalau rekaman kita mulainya akhir 2012 di Opay Studio, Banda Aceh. Untuk rekaman kita menghabiskan waktu hampir dua tahun, dan di pertengahan 2014 kemarin kita selesaikan video klip, itu juga menghabiskan waktu hampir satu tahun lamanya,” ungkap Karimullah.
 
Vocalis Tangké, Subur Dani atau yang sering disapa Syeh Bor mengatakan, untuk album perdana ini Tangké Band menggaet label besar di Aceh, yakni Kasga Record miliknya Syekh Ghazali LKB yang sebelumnya telah meluncurkan puluhan album, seperti album Rafly Kande, Liza Aulia, Saleum Group dan lain-lain.
 
“Untuk album pertama ini ada 5.000 keping VCD Tangké Band yang sudah siap diproduksi di Jakarta. Insya Allah, dalam waktu dekat akan segera dipasarkan ke seluruh Aceh,” sebutnya.
 
Pada malam peluncuran nanti, Tangké juga akan mendonasikan setengah dari penjualan album pertama untuk dana kebencanaan melalui Gerakan Sidroe Siribee (Geroebee) Sultan II Selim PMI Aceh. Selain itu akan ada doorprize bagi penonton yang beruntung.
 
“Mari kita lihat pertunjunkan Tangké Band di malam launching nanti, catat tanggalnya dan pastikan anda menyaksikan aksi kreatif anak muda Aceh ini,” tutupnya.habadagang.com

Doa Giok dalam "Percakapan Batu-batu" Taufik Sentana

Oleh Thayeb Loh Angen
Penulis novel Teuntra Atom dan novel Aceh 2025
 

Taufik Sentana Hidayat. Foto: Facebook.com
Puisi karya Taufik Sentana yang berjudul "Percakapan Batu-batu" terlahir karena kegilaan beberapa orang Aceh terhadap batu giok baru-baru ini. Wajar saja puisi tersebut lahir karena Taufik telah lama menetap di Meulaboh -salah satu tempat yang di sekitarnyalah giok banyak ditemukan. Dan, salah satu bagian terbaik puisi ini adalah tidak ada sepatah pun kata ‘giok’ di dalamnya.

Mengapa seorang guru agama peduli pada pencabutan batu dari tempatnya yang merusak alam secara langsung dan tidak. Menggilanya orang-orang di sekeliling pada batu, tentu akan meresahkan penyair yang berpikir. Sebelum pada giok, Aceh telah pernah dijangkiti wabah bonsai dan ephorbia.
Tatkala gila bonsai mewabah, banyak tunggul kayu di kebun, bebukitan, dan hutan-hutan di Aceh digali dan dicabut. Itu sama merusak tanah dengan gilanya giok.

Puisi yang disiarkan Minggu, 22 Maret 2015 ini menarik perhatian saya karena mengangkat sesuatu dari sisi filosofis -tentu dari sudut pandang Islam karena penulisnya adalah guru agama Islam di Madrasah Tsanawiyah- tentang tindakan orang-orang di Aceh mencabut batu (giok) dari habitatnya lalu diasah menjadi cincin dan liontin.

Pada larik-larik awal puisi ini, penyair ini mengajak kita mendengarkan suara batu-batu yang usianya tidak terhitung lagi tatkala benda itu diambil dari tempatnya dan diasah. Kemudian hanya untuk menjadi hiasan. Sementara tanah tempat batu itu diambil terusak. Apabila batunya besar, bisa berakibat lebih buruk, yakni, hilangnya keseimbangan rangka tanah yang berakibat keruntuhan (longsor -Jawa).

Saat engkau memisahkan batu-batu itu dari tanah kediamannya,
membelah, atau memecah dan membentuknya
ia tetap setia pada kejadiannya.

Batu-batu itu tetap setia pada kudratnya walaupun telah dicabut dari tanah. Walaupun telah dipecah-pecahkan berkeping, lalu diasah-asah, batu-batu itu masih tetap akan terus berzikir kepada Tuhan semesta alam. Kira-kira begitulah yang dimaksudkan oleh Taufik.

Setiap serpihan dan potongan dariku
Adalah zikir untuk-Nya.
Setiap rupa baru dari wujudku
menjadi rangkaian sujudku.

Untunglah batu-batu itu hanya untuk dipakai di tangan dan leher, tidak untuk dibuat patung dan disembah sebagaimana berhala, walaupun kadang ada yang memuja-mujanya dengan anggapan bahwa beberapa jenis batu itu memiliki khasiat tertentu, kadang itu menyebabkan syirik, akan tetapi tidak sampai menjadi berhala sebagaimana kaum Hindu menyembah patung dewa dewi dan Nasrani menyembah patung Yesus dan Salib. Kepercayaan terhadap adanya khasiat dari batu sudah ada sejak masa silam, jauh zaman sebelum penyakit gila giok menjangkiti sebagian masyarakat Aceh dari orang renta sampai anak-anak.

Mengapa batu-batu itu tidak dibiarkan saja di tempatnya seumur masa supaya mereka bertasbih kepada Allah Taala dengan nyaman? Begitulah risauan lelaki yang pernah bergabung di FLP Aceh periode awal berdirinya.

Batu-batu itu telah dicabut dari tanah, kelak kita yang akan ditanam sebagaimana batu-batu itu, dulunya. Puisi Taufik bukan ini saja, banyak puisi yang telah ditulisnya, akan tetapi entah kapan buku kumpulan puisi anak Melayu ini akan dapat kita baca. Puisinya ini, walaupun tidak sesyahdu karya Amir Hamzah dan tidak semendalam karya Hamzah Fansuri, akan tetapi telah bisa dimasukkan ke dalam puisi yang berhasil, setidaknya untuk ukuran puisi yang ditulis di Aceh di zaman ini.

Bila dibandingkan dengan saya, Taufik Sentana Hidayat jauh lebih ahli menulis, dan ia beruntung bisa menulis puisi, bukan seperti saya yang ingin menjadi penyair malah novel yang saya terbitkan.

Dan, percakapan batu-batu yang didengarkan Taufik dari alam Meulaboh akan terus terdengar sepanjang zaman, melintasi masa batu kembar untuk kita berbicara. Batu kembar yang tidak mengiasi jemari tangan ataupun kalung di leher yang disebut cincin dan liontin berharga mahal. Batu kembar itu tidak semahal giok, itu batu disebut nisan, satu di kepala, satu di kaki.

Nab Bahany As: Saat Menjabat Gubernur Aceh Ali Hasjmy Memakai Guru Spiritual

Written By Peradaban Dunia on Saturday, 21 March 2015 | 21:09

Acara 101 Tahun Ali Hasjmy: Foto dari Kiri: Aktivis PuKAT dan penulis Thayeb Loh Angen, sastrawan Aceh Saiful Bahri, pengamat budaya Aceh Nab Bahany As, Ketua MAA Badruzzaman Ismail, Pakar pendidikan dan guru besar di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Darwis A. Soelaiman, sastrawan dan pendakwah Ameer Hamzah, murid Ali Hasjmy dan pernah jadi wartawan Tempo Muhammad, cucu Ali Hasjmy Iqbal Ali Hasjmy, di acara memperingati 101 Tahun Lahir Ali Hasjmy yang dilangsungkan di Gedung Turki Sultan II Selim ACC, Banda Aceh, Selasa, 17 Maret 2015. Acara ini dilaksanakan oleh PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh - Turki (PuKAT) dan Managemen Gedung Turki Sultan II Selim ACC. Foto: Ariful Azmi Usman.
Banda Aceh - Ali Hasjmy (1914-1998 M) adalah guru spiritual, dan ia memakai guru spiritual saat menjadi gubernur di Aceh. Namun gubernur Aceh kini tidak memakai guru spiritual. Selama menjadi gubernur Aceh, satu-satunya orang yang memakai guru spiritual setelah Ali Hasjmy adalah Ibrahim Hasan.

Demikian kata pengamat budaya Aceh Nab Bahany As di dalam acara memperingati 101 Tahun Lahir Ali Hasjmy yang dilangsungkan di Gedung Turki Sultan II Selim ACC, Selasa, 17 Maret 2015. Kata dia, seharusnya pemimpin di Aceh saat ini pun memiliki guru-guru spiritual.

“Dua tahun lalu dan tahun lalu bersama Dekan Dakwah UIN kami meminta kepada pemerintah dan menyiapkan Ali Hasjmy sebagai pehlawan nasional. Kami menyiapkan semuanya, namum sampai kini saya belum berkomunikasi dengannya sampai sejauh mana sekarang proses itu,” kata Nab Bahany.

Ia menanggapi pembicaraan guru besar Unsyiah Darwis A Soelaiman, bahwa sebelum dirinya menerima kertas tulisan Darwis A Soelaiman yang diberikan Thayeb Loh Angen. Darwis dan Nab Bahany membandingkan Ali Hasjmy dengan Mohammad Iqbal (1887-1938 M).

“Suatu hari seorang murid bertanya pada Iqbal, “apa tanda orang beriman?” Iqbal menjawab “Orang yang tersenyum saat menghadapi maut. Dan setelah itu Iqbal jatuh sakit. Si murid penanya tadi mendampinginya samapi meninggal, ia tidak tahu Iqbal meninggal karena tidak ada perubahan pada wajah, kata Nab Bahany.

Menurutnya, Ali Hasjmy adalah satu-satunya tokoh nasional yang bersedia tinggal di daerah. Hamka tinggal di Jakarta. Ali Hasjmy adalah tokoh Aceh, berjasa di dalam pendirian Kopelma Darussalam, bersama banyak tokoh lainnya.

“Selain Ali Hasmy, yang berjasa di dalam pembangunan Kopelma Darussalam adalah Tuanku Muhammad yang dikenal dengan Ampon Po yang saat itu menjabat Camat di Darussalam. Atas perintah Ampon Po lah tanah untuk Kopelma dihadiahkan oleh masyarakat. Kata orang di sana, ‘kalau Ampon Po yang minta, lebih luas dari itu pun kami kasih,” kata Nab Bahany.
 
Lapuran Thayeb Loh Angen, Pusat Kebudayaan Aceh - Turki (PuKAT).

Badruzzaman Ismail: Ali Hasjmy Seorang Humanis, Rendah Hati, Religius, dan Tidak Pakai Ajudan

Written By Peradaban Dunia on Thursday, 19 March 2015 | 20:52

Ketua MAA (Majelis Adat Aceh) Badruzzaman Ismail (kiri), Pakar pendidikan dan guru besar di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Darwis A. Soelaiman (dua dari kanan), sastrawan dan pendakwah Ameer Hamzah (kanan), di acara memperingati 101 Tahun Lahir Ali Hasjmy yang dilangsungkan di Gedung Turki Sultan II Selim ACC, Banda Aceh, Selasa, 17 Maret 2015. Acara ini dilaksanakan oleh PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh - Turki (PuKAT) dan Managemen Gedung Turki Sultan II Selim ACC. Foto: Ariful Azmi Usman.
Banda Aceh - Ali Hasjmy (1914-1998 M) merupakan seorang budayawan yang memiliki pikiran-pikiran yang universal dan memperhatikan kemanusiaan. Ia hampir tidak pernah terlibat dengan konflik fisik dengan siapapun dirinya seorang yang humanis dan menghindari konflik dengan siapapun. Saat menjadi gubernur Aceh, Ali Hasjmy tidak memakai ajudan.

Demikian kata Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Badruzzaman Ismail, di dalam acara memperingati 101 Tahun Lahir Ali Hasjmy yang dilangsungkan di Gedung Turki Sultan II Selim ACC, Selasa, 17 Maret 2015. Menurutnya, karena terlalu humanis, sesekali pengikutnya semisalnya di kampus kesulitan dengan sikap filosofis. Pernah, Ali Hasjmy menjenguk seorang artis yang dipenjara dengan membawa buku dan semacamnya sampai artis itu menangis karena kepedulian itu.

“Saya sering mengkritisi Ali Hasjmy, tapi di luar forum, jarang yang berani mengkritiknya. Saya melihat keteguhan Ali Hasjmy memegang pada Allah dan rasa sayangnya pada alam dan manusia. Mereka melayani siapapun, dari pembesar sampai pengemi. Saya setuju dengan pak Prof Dr Darwis. Saya mendukung pendapat bahwa Ali Hasjmy seorang filsuf,” kata Badruzzaman.

Badruzzaman megatakan bahwa dirinya pernah bertanya tentang maksud Ali Hasjmy menulis puisi berjudul Aku Serdadumu. Ali Hasjmy menjawab, “Kelemahan kita adalah tidak pernah menghargai jasa baik orang. Dia itu pemimpin besar”. Dan karenanya Badruzzaman kagum pada Ali Hasjmy.

“Tidak ada ilmu hari ini tanpa ada ilmu orang dulu. Benang merah itu terus berlanjut. Saat pertemuan di Helsinki, saya singgah di Jerman, masuk ke sebuah universitas. Di sana ada sebuah patung pendiri universitas. Saya juga lihat di Malaysia, ada beberapa orang yang mengambil Ali Hasjmy sebagai disertasinya. Di Aceh bagaimana?” kata Badruzzaman.

Tokoh adat ini menjelaskan bahwa di dalam kehidupan budaya Aceh, tidak ada gap antara agama dan negara. Itu yang dipertegas oleh Ali Hasjmy yang merupakan tokoh yang mementingkan pendidikan.
“Ali Hasjmy sangat mandiri. Ia tidak pernah minta bantuan pada orang. Ia selalu mengangkat sendiri kopernya. Di dalam tasnya banyak alat. Ada radio kecil yang pada malam ia putar radio-radio seluruh dunia sehingga sering ditelpon oleh radio seperti BBC untuk diwawancarai,” kata Badruzzaman.

Ketua MAA menjelaskan bahwa Ali Hasmy selalu menyiapkan semua kebutuhan pribadi dengan baik, tidak ada yang tergesa-gesa. Ali Hasjmy adalah orang yang tidak suka mitos. Semangatnya luar biasa. Kepribadiannya diteladani. Ketika ia datang di sebuah acara, semua hadirin diam, bahkan sampai Ali Hasjmy duduk belum ada yang berani bicara.

“Saya selama 12 tahun dekat dengannya, tidak pernah saya dengar sekalipun dia memburuk-burukkan orang. Saya pernah memancing, tapi beliau santai saja. Pernah orang mengkritisi tulisannya. Ia menjawab, ‘itu yang beliau lihat, belum habis ia kupas, dan ini pendapat saya, belum habis saya kupas,” kata Badruzzaman.

Badruzzaman pernah menyampaikan kepada Ali Hasmy tentang adanya orang yang memprotes mengapa Ali Hasjmy saja yang ditulis, sementara orang lain pun banyak jasa tapi tidak ditulis. Ali Hasmy menjawab, “Yang saya buat belum habis saya tulis. Kalau orang merasa ada berbuat, maka tulislah.” Ali Hasmy seorang pemberi semangat (motivator).

“Beliau hidup sederhana. Saat beliau meninggal, wajahnya kuning dan prosesnya cepat. Ali Hasjmy membalikkan pendapat bahwa Aceh menjajah Malaysia. Kata Ali Hasjmy, Aceh membantu Malaysia melawan Portugis. Waktu beliau dioperasi menjelang meninggal, yang beliau tangisi adalah museum dan pustakanya,” kata Badruzzaman.

Menurut Badruzzaman, bangsa besar adalah bangsa yang menjaga prinsip budayanya. Mereka sanggup membuat subur negerinya yang kering kerontang. Aceh punya banyak SDA tapi membuang-buangnya. Kita tidak bersyukur.

“Waktu mendirikan fakultas dakwah, Prof Harun Nasution membantah ide Ali Hasjmy untuk nedirikan fakultas dakwah bahwa itu adalah sebuah lelucon. Namun Ali Hasmy menyatakan bahwa sumber ilmu adalah dakwah. Dan kemudian Fakultas Dakwah disetujui, didirikan di IAIN banda Aceh, lalu di seluruh banyak tempat di luar Aceh,” kata Badruzzaman.

Lapuran Thayeb Loh Angen, Pusat Kebudayaan Aceh - Turki (PuKAT).

Darwis A Soelaiman: Ali Hasjmy Filsuf dari Aceh Seperti Mohammad Iqbal dari India

Written By Peradaban Dunia on Tuesday, 17 March 2015 | 21:43

Pakar pendidikan dan guru besar di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Darwis A. Soelaiman (dua dari kanan), sastrawan dan pendakwah Ameer Hamzah (kanan), Ketua MAA Badruzzaman (dua dari kiri), dan aktivis PuKAT dan penulis Thayeb Loh Angen (kiri), di acara memperingati 101 Tahun Lahir Ali Hasjmy yang dilangsungkan di Gedung Turki Sultan II Selim ACC, Banda Aceh, Selasa, 17 Maret 2015. Acara ini dilaksanakan oleh PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh - Turki (PuKAT) dan Managemen Gedung Turki Sultan II Selim ACC. Foto: Ariful Azmi Usman.

Banda Aceh - Ali Hasjmy (1914-1998 M) merupakan seorang pemikir atau filsuf seperti Mohammad Iqbal dari India. Kedua-duanya merupakan sastrawan yang terlibat di dalam dunia politik. Namun Ali Hasjmy menulis dalam bahasa Melayu (Indonesia), bukan dalam bahasa Inggris seperti Mohammad Iqbal (1887-1938 M) sehingga lebih dikenal dunia dan mendapatkan hadiah Nobel. 

Demikian kata pakar pendidikan guru besar di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Darwis A. Soelaiman, di dalam acara memperingati 101 Tahun Lahir Ali Hasjmy yang dilangsungkan di Gedung Turki Sultan II Selim ACC, Selasa, 17 Maret 2015. Menurutnya, Ali Hasjmy melahirkan tulisan berisi filsafat sehingga sesuai disebut filsuf. 

“Dalam karya sastranya Ali Hasmy mengandung banyak nilai-nilai filsafat. Ali Hasjmy lebih banyak mendapatkan penghargaan dari luar negeri bila dibandingkan dengan Mohammad Iqbal," kata Darwis dalam acara yang dilaksanakan oleh PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki) dengan tempat acara diberi pakai cuma-cuma oleh managemen Sultan II Selim ACC.

Darwis mengisahkan, tatkala dirinya berada di bangku kelas 6 SD (Sekolah Dasar), ia telah membaca tiga buku tulisan Aceh: Leburnya Peradaban Aceh, Lhee Saboh Nang karya Abu Bakar Aceh, dan sajak karangan Ali Hasjmy. Darwis paling ingat sajak Ali Hasjmy yang berjudul Sawah karena ia tinggal di dekat sawah. 

“Pada tahun 1966 baru saya kenal langsung Ali Hasjmy. Saat itu ia membuat seminar tentang integrasi antara MIN dan SD. Ali Hasjmy memiliki pandangan yang amat berbeda dengan beberapa orang lain. Setelahnya dibentuk tim membentuk integrasi MIN dan SD. Semua itu diterapkan pada sekolah percobaan teladan, di Lamteumen dan Lamnyong,” sebut Darwis dalam acara yang dihadiri sastrawan (Saiful Bahri, Nab Bahany AS), aktivis perempuan, aktivis MAPESA, awak media, akademisi, dan cucu Ali Hasjmy tersebut.

Darwis mengatakan, setelah seminar tersebut, keluar SK Menteri yang menyamakan sekolah agama dan sekolah umum. Itu salah satu pengaruh Ali Hasjmy di Aceh dan Indonesia. Pakar pendidikan itu mengisahkan lagi, dirinya diberikan jabatan sebagai Sekretaris di majalah Sinar Darussalam oleh Ali Hasjmy. 

“Saya dan Pak Badruzzaman Ismail, diminta menjadi anggota MUI (Majelis Ulama Indonesia). Dan, ketika saya di DKA (Dewan Kesenian Aceh), Ali Hasjmy di LAKA (Lembaga Adat dan Kebudayaan Aceh)Saat itu Ali Hasjmy banyak mengadakan seminar yang dihadiri orang-orang dari luar negeri,” kata lulusan Amerika Serikat ini di acara yang dipandu oleh sastrawan dan pendakwah Ameer Hamzah.

Setelah pemateri lainnya Badruzzaman Ismail, Ketua MAA (Majelis Adat Aceh -red), menyampaikan tentang Ali Hasjmy dan Tanya jawab dengan hadirin, Darwis menyebutkan, dirinya setuju dengan Badruzzaman bahwa Ali Hasjmy adalah seorang humanis. Tetapi, kata Darwis, harus ditambah, Ali Hasjmy adalah seorang humanis religius. Pembicaraan selama acara semakin meyakinkan Darwis bahwa tentang rencananya membuat desertasi yang mengukuhkan bahwa Ali Hasjmy adalah seorang filsuf. 

“Di sisi pendidikan, saya (guru besar -red) di bidang pendidikan, Ali Hasjmy memiliki pemikiran yang baik. Iqbal menghendaki manusia insan kamil, falsafah kesempurnaan manusia. Ali Hasjmy juga memiliki falsafah manusia pari purna. Mereka setara. Di bidang kemanusiaa dan kepemimpinan, Ali Hasjmy orang yang sangat tenang walaupun di saat orang lain panik. Ia bukan orang yang meledak-ledak. Ia adalah orang besar yang berjiwa tenang,” kata Darwis.


Lapuran Thayeb Loh Angen, Pusat Kebudayaan Aceh - Turki (PuKAT).

Hari ini Aceh Peringati Lahir 101 Tahun Ali Hasjmy

Ali Hasjmy
Banda Aceh - Ali Hasjmy merupakan tokoh Aceh yang dilahirkan pada masa 101 tahun lalu. Untuk mengingatkan bahwa ia telah meninggalkan banyak jasa untuk Aceh, Lembaga PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh- Turki) melangsungkan acara “Memperingati 101 Tahun Lahir Ali Hasjmy” di Sultan II Selim ACC gedung Turki, Selasa 17 Maret 2015, pukul 14:00 s/d selesai.

Pakar pendidikan Prof Darwis A Soelaiman, Ketua MAA (Majelis Adat Aceh) Badruzzaman Ismail, cucu Ali Hasjmy Iqbal Surya Hasjmy, diundang menjadi pembicara yang akan dipandu oleh sastrawan dan pendakwah Aceh Drs Ameer Hamzah.

Acara tersebut diperbuat oleh lembaga PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh-Turki) dengan tempat acara didukung penuh secara cuma-cuma oleh managemen Sultan II Selim ACC gedung Turki.

Menanggapi acara peringatan tersebut, seorang sastrawan Aceh, Nab Bahany AS, mengatakan bahwa pada tahun lalu, pernah dibuat sebuah seminar Peringatan 100 Tahun Ali Hasmy di Pustaka dan Museum Ali Hasjmy yang mengusulkan supaya Ali Hasjmy dijadikan Pahlawan Nasional Indonesia.

“Hari itu Dr Rani Usman ikut menjadi pembicara, sudah beberapa prosedur yang ditempuh, namun kami belum tahu hasil dari beberapa usaha pengusulan Ali Hasjmy sebagai pahlawan nasional,” kata Nab Bahany di Banda Aceh.

Aktivis PuKAT, Thayeb Loh Angen, mengatakan bahwa acara peringatan 101 tahun Ali Hasjmy sebagai pengingat bagi orang Aceh semata bahwa Aceh punya seorang brilyan yang bernama Ali Hasjmy. Acara ini, kata Thayeb, terbuka untuk umum dan peserta boleh datang tanpa mendaftar.

"Ini bukan untuk melanjutkan program pengusulan Ali Hasjmy sebagai pahlawan nasional, akan tetapi agenda mengangkat kembali tokoh-tokoh Aceh, perihal nantinya apa penghargaan oleh masyarakat untuk mereka adalah tergantung pada masyarakat Aceh sendiri. PuKAT hanya pengingat, tidak mendesak apapun kepada siapapun," kata Thayeb yang pada Februari lalu meluncurkan buku keduanya sebuah novel yang berjudul Aceh 2025.

Thayeb menegaskan, pada awal 2013 lalu PuKAT juga pernah membuat acara mengangkat Ali Hasjmy yang menghadirkan sastrawan Ameer Hamzah dan Agus Nur Amal sebagai pembicara.

"Dalam acara pada 2013 lalu, Ameer Hamzah menyatakan, 'apabila penyair Tengku Amir Hamzah disebut Raja Pujangga Baru, maka Ali Hasjmy adalah khalifahnya',” kata Thayeb.pd

11 Maret, Aceh Bedah karya Abuya Muhibbuddin Waly

Written By Peradaban Dunia on Sunday, 8 March 2015 | 17:53

Abuya Muhibbuddin Waly. darussalamalwaliyyah.blogspot.com
Banda Aceh - Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT) berkerjasama dengan managemen gedung Turki Sultan II Selim ACC kembali mengadakan acara mengangkat tokoh Aceh.

Kali ini, organisasi kebudayaan lintas bangsa tersebut mengangkat seorang ulama cendikiawan Aceh, Prof Abuya Muhibbuddin Waly, yang merupakan anak daripada Abuya Muda Wali Al Khalidy.

Acara tersebut akan dilangsungkan pada siang pukul 14:00 sampai selesai, Rabu 11 Maret 2015, di ruang seminar Gedung Turki Sultan II Selim ACC, Banda Aceh.

Dr Abdullah Tsani, seorang pengajar di Fakultas Adab UIN Banda Aceh dan sastrawan yang juga pendakwah Aceh Drs Ameer Hamzah telah memastikan diri menjadi pembicara di minbar kebudayaan tersebut.

Seorang anak Abuya Muhibbuddin Waly yang bernama Tgk Amal Muhibbuddin Waly akan menjadi pemandu acara tersebut. Ia akan menceritakan riwayat almarhum yang jarang diketahui masyarakat, seperti Abuya mentalqin Hasan Di Tiro pada hari pemakaman dalam waktu yang lama, sampai kuburan itu sepi, sementara tokoh Aceh lain di tenda berbincang-bincang.

“Banyak tulisan-tulisan Abuya Muhibbuddin Waly yang belum diterbitkan. Kini tengah kami kumpulkan dan akan dihadirkan ke masyarakat apabila waktunya tepat,” kata Tgk Amal, beberapa waktu lalu di Banda Aceh.

Aktivis PuKAT, Thayeb Loh Angen, mengatakan, organisasi antarabangsa PuKAT memiliki agenda khusus tahun 2015, yakni mengangkat tokoh Aceh yang masih hidup atau yang telah meninggal dunia. Di antara tokoh yang sudah diangkat, kata Thayeb, adalah Hasan Tiro, P Ramlee, Ali Hasjmy, dan kini Abuya Muhibbuddin Waly.

“Selain 11 Maret memperingati Abuya, pada tanggal 17 Maret kita akan peringati 101 tahun lahir Ali Hasjmy di gedung ini juga, " kata Thayeb

Thayeb mengaku, managemen gedung Turki Sultan II Selim ACC memberikan hak pakai tempat acara secara cuma-cuma sebagai bentuk dukungan mereka terhadap kemanusiaan dan kebudayaan Aceh sebagaimana tujuan gedung itu dibangun oleh Turk Kizilay. Kata dia, pihak keluarga almarhum juga banyak membantu sehingga acara penghargaan terhadap karya Abuya bisa dilaksanakan dengan baik.

"Orang-orang Aceh sebaiknya belajar pada tokoh-tokohnya yang telah diakui dunia. Insyaallah Aceh bisa kembali berjaya," kata Thayeb yang pada Februari lalu meluncurkan novel keduanya ‘Aceh 2025’.

Kelompok Musik Aceh Tangke Luncurkan Album Pertama pada 28 Maret


Banda Aceh - Setelah menderita sakit parah sekian lama, dunia musik Aceh mulai bangkit dan mengenalkan dirinya. Itu diawali oleh Album Nyawoung. Setelah Nyawoung (nyawa -Melayu) pun 'dicabut' dan menjadi legenda yang tersamarkan, muncullah grup KanDe. Setelah KanDe (kandil -Melayu) pun 'pecah' dan lenyap di pasar, muncullah Cupa Band. 

Setelah Cupa (retak atau ternoda -Melayu) pun cupa benar dan menghilang, muncullah Grup Band Tangke. Semoga Tangke (tangkai -Melayu) ini terus melekat di batang cangkir, tidak akan patah sebagaimana grup musik pendahulunya yang telah menyerah kalah. 

Setelah empat tahun berkarya, kelompok musik asal Aceh, Tangke Band, akan segera meluncurkan album pertama “Meleuha” setelah persiapan panjang yang melelahkan.

Perjalanan album perdana dari Tangke ini penuh tantangan, sejak 2011 dimulai hingga sekarang asam manis telah banyak dilewati oleh anggota hingga pada tahap proses rekaman dan produksi.

“Ada banyak tantangan pastinya, tapi seiring waktu terus berjalan kita harapkan karya album pertama ini bisa menjadi obat perindu untuk masyarakat Aceh pada umumnya dan rakan-rakan Tangke khususnya,” ujar vokalis Tangke, Subur Dani, kemarin, di Banda Aceh.

Subur menambahkan, dalam rangka memberikan apresiasi tersebut kepada masyarakat dan penggemar setia, Tangke secara sederhana memberikan persembahan lewat peluncuran album Meuleuha yang akan dilangsungkan di Aula gedung Turki Sultan II Selim ACC, Banda Aceh.

“Insyaallah saat ini kita masih dalam persiapan, peluncuran album kita rencanakan di Gedung Sultan II Selim ACC pada Sabtu malam, 28 Maret 2015 mendatang,” ujarnya.

Pada malam peluncuran nanti, Tangke juga akan menyedekahkan sebagian hasil penjualan pertama VCD untuk dana kebencanaan Geuroebee (Geurakan Sidroe Siribee) yang ditangani oleh Sultan II Selim PMI Aceh.

Selain itu, masih dalam rangka HUT #5thiloveaceh, Komunitas @iloveaceh juga akan membagikan album perdana “Meleuha” kepada sejumlah followers alias #ATwitLovers dengan beberapa kejutan dan linimasa akun @iloveaceh.iloveaceh.org

Bintang Radio Asean Cut Ika Liana pun Menikah

Cut Ika Liana dan Amar di hari kenduri perkawinan mereka, kemarin, di Banda Aceh. Foto:facebook.com/ozayayank.yaya 
Banda Aceh - Bintang nyanyi radio tingkat Asean, Cut Ika Liana, telah mengakhiri masa lajangnya. Ia dinikahi oleh Amar, seorang pemuda asal Pidie yang menjadi managernya. Kenduri pernikahan mereka dilangsungkan di lantai 4 hotel Regina Banda Aceh.

Cut Ika Liana adalah perempuan kelahiran Bireuen, Aceh. Ia menjadi duta nyanyi Indonesia untuk Asean setelah meraih Juara I Bintang Radio Tingkat Nasional di Yogyakarta pada 2010. Saat itu ia membawakan lagu Simfoni Hitam yang dimasyhurkan Sherina. Ia menyisihkan 119 peserta lainnya.

 Cut Ika Liana dan Amar melangsungkan ijab qabul di Masjid Jamik Oman Lamprit Banda Aceh, Jumat, 6 Maret 2015. Setelahnya, dilangsungkan walimah atau kenduri perkawinan mereka di Hotel Regina. Sekalian pengunjung dihidangkan kuah beulangong dan dihibur dengan pertunjukan musik.

“Acara walimah hari ini berjalan seperti diharapkan, terima kasih bauat semua para udangan yang sudah berhadir di hari bersejarah dalam hidup Ika,” kata Ika.habadaily.com

Berita Pilihan

Berita Campuran

 
Web Design : Peradaban Dunia Team | Redaksi | About
Copyright © 2011. Peradaban Dunia - All Rights Reserved
www.peradabandunia.com