Guruku, Tanda Jasamu Selalu di Hati

Written By Peradaban Dunia on Wednesday, 21 January 2015 | 23:25

Karya Thayeb Loh Angen
 Penulis novel Teuntra Atom dan novel Aceh 2025

  Ditulis untuk dibacakan oleh kemenakan yang baru tamat sekolah dasar, dan ini untuk guru-guruku juga karena dulu aku tidak sempat membacanya.

Anak sekolah dan guru-gurnya. Foto: skpantai.files.wordpress.com
Guruku, sebelum ayahku dan ibuku menghantarkanku ke sekolah ini,
aku belum mengenalmu dan belum mengenal apapun yang engkau ajarkan.
Setelah aku di sini, engkau membimbingku mengenal segala-gala.
Dengan tulus hati, engkau menuntunku sepanjang hari,
berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun.

Kini, apa yang kutahu adalah hasil pelajaran darimu, wahai guru-guruku.
Kini, tahun-tahun pun terlewati, engkau memberiku ijazah,
pertanda kita segera berpisah.

Setelah bertahun-tahun mendidikku, kini aku tidak bisa lagi di sini.
Wahai sekalian guru-guruku, maafkanlah segala salah-salahku.
Terima kasih atas ilmu yang engkau beri,
Jasamu tiada terganti.
Engkaulah pahlawanku, pahlawan sejati.
Tanda jasamu selalu di hati.
Takzimku.
Selamat tinggal.

19 Januari 2015

Setelah 2 Kali, PuKAT Hentikan Bincang Travelog Aceh ke Istanbul

Written By Peradaban Dunia on Sunday, 18 January 2015 | 17:34

Istana Topkapi tinggalan Turki Utsmani terlihat dari Harem, Istanbul, Turki. Foto: wikimedia.org
Banda Aceh - Setelah 2 kali membuat Bincang Kebudayaan tentang Travelog Aceh ke Istanbul, yakni di ACC Sultan II Selim pada 25 Desember 2014 dan di Darussalam pada 8 Januari 2015, lembaga Pusat Kebudayaan Aceh - Turki (PuKAT) mencukupkan acara tersebut.

Aktivis PuKAT, Thayeb Loh Angen, mengatakan bahwa acara tersebut direncanakan sebanyak empat kali, tiga kali di Banda Aceh dan sekali lagi di Lhokseumawe. Namun, pihaknya melihat bahwa acara itu terlalu diminati oleh banyak orang mengingat di ACC Sultan II Selim dan Darussalam dihadiri oleh ratusan orang.

“PuKAT adalah organisasi yang belum besar dan belum sanggup menampung minat orang yang begitu banyak, karenanya kami mohon maaf kepada masyarakat karena harus menghentikan acara tersebut. Dan, kalau memungkinkan kita akan melanjutkan acara tersebut, sekidaknya sekali di Lhokseumawe," kata Thayeb.

Penulis novel Aceh 2025 ini mengatakan bahwa PuKAT akan membuat acara lainnya sebagaimana biasa yang dihadiri puluhan orang saja. Acara tersebut, kata dia, sesuai dengan misi PuKAT, yakni, senantiasa mengangkat tokoh Aceh serta belajar dari sejarah.

"Pada Maret 2015, PuKAT akan bekerja sama dengan manajemen gedung Turki ACC Sultan II Selim untuk mengadakan acara memperingati 101 tahun lahirnya tokoh Aceh Ali Hasjmy. Di bulan Maret 2015 juga, akan dibuat acara pengingat meninggalnya tokoh Aceh Abuya Muhibuddin Waly. Kedua acara tersebut akan dilaksanakan di gedung Turki ACC Sultan II Selim," kata Thayeb.

Thayeb mengatakan bahwa pihaknya sudah menghubungi keluarga kedua tokoh Aceh tersebut untuk acara dimaksud. Ada banyak hal yang orang Aceh di masa kini bisa belajar dari Ali Hasjmy dan Muhibuddin Waly. Mereka adalah tokoh Aceh yang dikenal oleh dunia, akan tetapi Aceh mengabaikannya.

"Kalau saja orang Aceh sekarang belajar dari tokoh-tokohnya, Aceh akan lebih baik hari ini. Kita bisa memulai itu sekarang,” kata Thayeb

Maret 2015: 101 Tahun Ali Hasjmy dan Haul Muhibuddin Waly

Written By Peradaban Dunia on Friday, 16 January 2015 | 18:57


Banda Aceh - Lembaga Pusat Kebudayaan Aceh - Turki (PuKAT) akan mengadakan acara memperingati 101 tahun lahirnya tokoh Aceh Ali Hasjmy pada Maret 2015 dan mengadakan peringatan meninggalnya tokoh Aceh Abuya Muhibuddin Waly.

“Kedua acara tersebut akan dilaksanakan di gedung Turki ACC Sultan II Selim. Sebagaimana biasanya, manajemen gedung Turki tersebut memberikan hak pakai tempat secara cuma-cuma untuk acara kebudayaan yang dibuat secara sekarela oleh PuKAT,’ kata Thayeb.

Thayeb menyatakan bahwa PuKAT akan senantiasa mengajak semua orang untuk mengingat dan mengangkat tokoh Aceh serta belajar dari sejarah. Ia mengatakan, bersama Dr Mehmet Ozay, sudah menghubungi keluarga kedua tokoh Aceh tersebut untuk acara dimaksud.

“Aceh mestinya belajar dari Ali Hasjmy dan Abuya Muhibuddin Waly. Kedua profesor ini adalah tokoh Aceh yang dikenal oleh dunia. Kalau saja orang Aceh sekarang mahu belajar dari tokoh-tokohnya, Aceh akan lebih baik hari ini,” kata Thayeb.pd

Sayap Batman Hollywood di Indra Puri

Written By Peradaban Dunia on Monday, 12 January 2015 | 15:49

Mengunjungi meuseuraya yang dibuat oleh Kumpulan Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh) di kumpulan makam Syaikh Sufi, gampong Ulee Kareueng, Indra Puri, Aceh Besar, Ahad 28 Desember 2014.

Gambar serupa sayap batman di film The Dark Knight yang ada di salah satu nisan di kumpulan makam Syaikh Sufi, gampong Ulee Kareueng, Indra Puri, Aceh Besar, Ahad 28 Desember 2014. Foto: Mapesa.

Hari itu adalah salah satu dari hari yang senantiasa kuingat karena sepulang dari sana, aku dan Lodins dimandikan oleh hujan deras sepanjang perjalanan dari Montasik ke Lamgugop, Banda Aceh.

Dan karenanya, esok malam aku diserang oleh penyakit demam selama dua hari. Butuh waktu hamper dua pekan untuk memulihkan lagi tenaga. Inilah salah satu penyebab aku tidak menuliskan ini bersegera setelah meuseuraya sebagaimana yang sudah-sudah.

Pada pagi menjelang siang di hari itu, aku dan Lodins berkendara menuju kumpulan makam yang disebutkan oleh sang Duta Nisan Aceh, Mizuar. Itu adalah hari yang cerah. Tidak ada tanda-tanda hujan di langit atas kami, ada gumpalan mendung, akan tetapi akan jauh.

Begitu melewati pemancar RRI Indra Puri, aku menghubungi Mizuar. Dia pun memandu melalui telepon genggam selama belasan menit. Akhirnya aku dan Lodins pun sampai di sebuah kebun yang dipenuhi oleh semak belukar. Terlihat sebuah kumpulan makam kecil. Hanya ada beberapa pasang nisan. Tidak ada yang menarik. Setelah melewati semak belukar dan parit bergenang air dan lumpur, kami pun sampai di makam yang tengah dibersihkan.

Sekira Sembilan anggota Mapesa terlihat. Mereka tengah mencoba menggali nisan besar yang rebah untuk diangkat dan didirikan kembali. Kami pun ikut membantu. Di antara nisan di sana, nisan yang tengah diangkat itulah yang menarik perhatianku. Sebuah gambar kaligrafi berbentuk lingkaran ada di sana. Aku tidak tahu, sepertinya terasa dekat dengan nisan itu. Entah siapa seniman pengukirnya dan entah siapa yang dimakamkan di sana.

Setelah nisan itu didirikan, maka handai taulan pun mengambil air dari parit di dekat pemakaman untuk membersihkannya sehingga kaligrafi bukti sejara di sana pun terlihat. Aku pun kian menyukai nisan bergambar kaligrafi lingkaran itu.

Aku duduk menghadap sebuah nisan yang telah lebih dahulu dibersihkan. Ia berukuran kecil dan memiliki bahu sebagaimana sebagian besar nisan Aceh masa Aceh Darussalam di tempat lain.
“Lihat, ini gambar Batman!” seru Amrizal seraya berjalan cepat dari nisan berkaligrafi lingkaran menjuju nisan yang tengah kupandang. Ia menunjuki gambar Batman yang dimaksud.

Tentu saja aku terkejut. Aku tidak memperhatikan itu, tadinya, karena aku memang tidak menyukai benda-benda kecil. Aku menyukai artefak berukuran besar seperti bangunan istana dan mesjid, benda yang tidak bisa dipindahkan.

“Batman?” aku mendekati gambar yang ditunjuk. Aku teringat pada film The Dark Knight (Battman II) yang dikeluarkan pada tahun 2008, perisitiwa besar di film itu terjadi di kota Gotham, sebuah kota yang tampilannya seperti New York. Itu adalah salah satu film yang sangat kusukai. Bahkan aku telah memutarnya berulang kali di laptop.

Aku masih sanggup menontonnya lagi. Memang benar. Gambar itu mirip sayap Batman, pakaian berbentuk manusia kelelawar besar dengan keahliah dan senjata canggih yang menjadi lambang penegak keadilan di kota Gotham.

“Mungkinkan orang Hollywood diilhami oleh nisan-nisan ini? Kapankah mereka kemari?” tanyaku di dalam hati.

“Akan tetapi Batman itu meniru kelelawar, namun bukan tidak mungkin menyebutkan orang Amerika itu meniru Aceh, atau setidaknya, orang Hollywood dan seniman pengukir nisan di Indra Puri ini memiliki asal ilham yang sama, yakni kekelawar. Namun, orang Aceh telah melakukannya sekitar empat ratus tahun lebih dahulu daripada orang Amerika itu,” aku membatin.

“Disebutkan bahwa itu gambar bulan sabit yang menghadap ke atas sebagaimana yang terukir di tulak angin rumah-rumah di Aceh dan menunasah di masa silam seta di hujung teratas kubah masjid,” kata Mizuar.

“Bisa saja pendapat itu hanya untuk mereka-reka, akan tetapi itu memang lebih seupa dengan sayap kelelawar, bukan bulan sabit. Kalau bulan sabit akan dibuat langsung meruncing, tidak perlu bergerigi. Apabila itu disebut seni, maka kita bias mengaitkannya dengan sesuatu yang lebih dekat lebih dahulu. Itu lebih dekat dengan sayap kelelawar daripada bulan sabit yang menghadap ke langit,” kataku di dalam hati seraya merekam gambar itu.

Hatiku masih tertanya-tanya. Mengapa itu serupa dengan sayap kelelawar atau kalong, dan mengapa orang Amerika Serikat juga memiliki buah pikiran membuat film Batman? Ini mencerminkah bahwa empat ratus tahun lalu, seniman Aceh telah berpikiran maju tentang gambar.

Hollywood membuat lambang Batman untuk penegak keadilan, apakah penghuni nisan bergambar kaligrafi yang dilindungi oleh garis bergerigi serupa sayap kelelawar juga penegak keadilan di masanya? Apakah nama kota itu memiliki nama yang serupa Geureudong? Dan apakah penjahat-penjahatnya juga bersembunyi di saluran besar yang berada di dalam kegelapan di bawah kota serupa Geureudong itu?

Setahuku tidak ada nama kota serupa Gotham di Aceh, namun kota yang diawali oleh hurug ‘G’ ada beberapa, di antaranya: Geureudong, Garut, Gurugok, Gandapura, dan lainnya. Apakah nama kota Gotham di film The Dark Knight (Ksatria Kegelapan) milik Hollywood itu tiruan nama Geureudong yang pemilik nama di nisan itu adalah penegak keadilannya? Ah, setelah nisan itu dibaca oleh peneliti kebudayaan Islam yang filsuf, Taqiyuddin Muhammad, pertanyaan-pertanyaan ini mungkinkah akan terjawab? 

Peserta meuseuraya yang dibuat oleh Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh) di kumpulan makam Syaikh Sufi, gampong Ulee Kareueng, Indra Puri, Aceh Besar, Ahad 28 Desember 2014. Foto: Mapesa
Setelah membersihkan nisan-nisan itu, Mizuar mengajak kami ke sebuah kumpulan makam yang nisannya lebih banyak dan lebih besar. Ternyata itulah yang disebutkan beberapa hari lalu, nisan kerabat Sultan Iskandar Muda. Lalu, kami pulang, langit mulai memperlihatkan mendung. Dan nisan-nisan itu, amat banyak yang belum dibersihkan, apalagi dibaca tulisan yang ada padanya.

Oleh Thayeb Loh Angen, aktivis di PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh - Turki)

50 Pelajar SMAN 5 Lokseumawe Kunjungi 4 Situs Samudera Pasai

Sebanyak 50 orang pelajar Sekolah Menengah Atas Negeri 5 Lhokseumawe menziarahi 4 situs Kesultanan Samudera Pasai: Makam Sultan Malik Ash-Shalih, Jrat Puet Ploh Puet (Makam 44), Makam Putroe Nahrisyah, Makam Batee Balee, Ahad 11 Januari 2015. Kunjungan sejarah tersebut didampingi oleh 8 orang anggota lembaga CISAH (Center for Information of Samudera Pasai Heritage). Foto: Almuzalir.

Sebanyak 50 orang pelajar SMA (Sekolah Menengah Atas) Negeri 5 Lhokseumawe menziarahi 4 kumpulan makam yang menjadi situs Kesultanan Samudera Pasai. Kunjungan sejarah tersebut didampingi oleh 8 orang anggota lembaga CISAH (Center for Information of Samudera Pasai Heritage) dengan seragam khas hitamnya.

Pemimpin kunjungan pelajar tersebut, Almuzalir, mengatakan bahwa itu adalah kunjungan wisata sejarah kedua yang dilakukan oleh pelajar SMAN 5 setelah meuseuraya pada 21 Desember 2014 di makam Tgk Bak Leumbee, gampong Ulee Kareueng, Indra Puri, Aceh Besar, yang dipawangi oleh perkumpulan Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh).

Sebanyak 50 orang pelajar Sekolah Menengah Atas Negeri 5 Lhokseumawe menziarahi 4 situs Kesultanan Samudera Pasai: Makam Sultan Malik Ash-Shalih, Jrat Puet Ploh Puet (Makam 44), Makam Putroe Nahrisyah, Makam Batee Balee, Ahad 11 Januari 2015. Kunjungan sejarah tersebut didampingi oleh 8 orang anggota lembaga CISAH (Center for Information of Samudera Pasai Heritage). Foto: Almuzalir.
"Sepulang kembali ke tanah Samudera Pasai, rasa ingin tahu terhadap sejarah daripada sekalian pelajar SMAN 5 Lhokseumawe pun semakin besar. Semangat mereka yang menggebu-gebu tidak bisa dibendung lagi, serta-merta mereka pun mengajak untuk didampingi ke situs Kesultanan Samud
ra Pasai," kata Almuzalir, guru SMAN 5 Lhokseumawe yang menjadi pelopor wisata sejarah.

Dalam penziarahan yang dilakukan pada Ahad 11 Januari 2015 ini, murid-murid didampingi oleh Al Muzalir, Tuti Meutia, Asmaulhusna, dan Zulfadli. Dengan penuh semangat, mereka mengunjungi komplek makam Sultan Malik As-Shalih, kemudian ke Makam 44, kumpulan Makam Putroe Nahrisyah, dan yang terakhir ke situs Makam Batee Balee.

"Untuk mengangkat lagi sejarah Aceh, kita mesti mengenalkannya pada orang muda yang masih berada di bangku sekolah," tegas Almuzalir.

Kepala Sekolah SMAN 5 Lhokseumawe, Nuraini, M. Pd, mendukung penuh pelaksanaan pelestarian sejarah Aceh. Dia telah menyusun program rutin sekolah ke depan dengan memasukkan wisata sejarah menjadi bagian ekstra kurikuler di sekolah SMA Negeri 5 Lhokseumawe.

"Ini adalah hal yang sangat positif agar generasi Aceh ke depan tahu bagaimana kejayaan Kesultanan  Samudra Pasai dan kegemilangan Kesultanan Aceh Darussalam, dan bagaimana hebatnya leluhur kita orang Aceh. Kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan kita siapa lagi," kata Nuraini.

Kepala sekolah ini mengharapkan supaya setiap sekolah yang ada di Kota Lhokseumawe dan wilayah Aceh lainnya bisa menggalakkan pelajar-pelajarnya untuk terlibat juga dalam pelestarian sejarah. Nuraini ingin dunia pendidikan bertindak sesegera mungkin dalam memperkenalkan sejarah, adat dan budaya kita Aceh kepada generasi.

Sebanyak 50 orang pelajar Sekolah Menengah Atas Negeri 5 Lhokseumawe menziarahi 4 situs Kesultanan Samudera Pasai: Makam Sultan Malik Ash-Shalih, Jrat Puet Ploh Puet (Makam 44), Makam Putroe Nahrisyah, Makam Batee Balee, Ahad 11 Januari 2015. Kunjungan sejarah tersebut didampingi oleh 8 orang anggota lembaga CISAH (Center for Information of Samudera Pasai Heritage). Foto: Almuzalir.
"Kami harapkan kepada pemerintah agar lebih, lebih, dan lebih berperan lagi dalam hal pelestarian sejarah, tidak ada gunanya status otonomi khusus serta predikat daerah istimewa apabila kita tidak melestarikan sejarah,” kata kepala sekolah.

Ramlan Yunus, anggota lembaga CISAH yang ikut memandu perjalanan tersebut menjelaskan kepada sekalian pelajar di kompleks makam periode pertama Samudra Pasai (Makam Malikussaleh). Ia menceritakan tentang asal penamaan negeri Sumatra (Samudra Pasai).

"Negeri ini telah dikenal oleh tokoh-tokoh penjelajah dunia sekira permulaan abad 13 Masehi, bahwa kawasan tersebut sudah dihuni oleh kaum muslimin. Kemudian hal tersebut sesuai dengan temuan beberapa makam yang bertarikh lebih awal dari nisan makam Malik Ash-Shalih (pendiri kesultanan Samudra Pasai)," kata Yunus.

Menurut Yunus, satu di antara tokoh itu Ibnu Mahmud yang makamnya di Lubok Tuwe Meurah Mulia. Di epitaf nisan makamnya wafat pada tahun 622H/1226M. Ini menjelaskan bahwa Ibnu Mahmud tersebut mangkat 74 tahun lebih awal dari Malik Ash-Shalih; 1297 M.

Sebanyak 50 orang pelajar Sekolah Menengah Atas Negeri 5 Lhokseumawe menziarahi 4 situs Kesultanan Samudera Pasai: Makam Sultan Malik Ash-Shalih, Jrat Puet Ploh Puet (Makam 44), Makam Putroe Nahrisyah, Makam Batee Balee, Ahad 11 Januari 2015. Kunjungan sejarah tersebut didampingi oleh 8 orang anggota lembaga CISAH (Center for Information of Samudera Pasai Heritage). Foto: Almuzalir.
Anggota CISAH yang juga juru kunci kompleks makam Nahrasyiyah tersebut menguraikan tentang kepribadian serta asal usul Malik Ash-Shalih sesuai kajian Abu Taqiyuddin Muhammad yang termaktub dalam buku "Daulah Shalihiyyah di Sumatera".

Selesai di kompleks periode pertama di Beuringen, pelajar beserta rombongan berkunjung ke kumpulan makam "Jrat Peut Ploh Peut" (Makam 44) yang berjarak sekitar 200 meter dari sana dan berada di tengah tambak warga, disitu juga diperkenalkan dengan tokoh Samudra Pasai.

"Di antara puluhan nisan tampak dua yang istimewa, yaitu makam Raja Assuar dan Liy Afeng. Dari penaman tersebut diperkirakan keduanya adalah tokoh dari luar yang telah menyatu dengan negeri Pasai dan diberikan jabatan tertentu dalam pemerintahan," kata anggota CISAH, Khairul Syuhada di dalam kerumunan pelajar.

Setelah memasuki gampong Kuta Krueng, rombongan memasuki pemakaman periode II yang dikenal dengan makam Nahrisyah yang menurut penamaan orang setempat disebut Jrat Teungku Kuta Karang. Selanjutnya menuju kumpulan makam periode akhir (Batee Balee, di Gampong Meucat Blang Me, Kec Samudera.

Sebanyak 50 orang pelajar Sekolah Menengah Atas Negeri 5 Lhokseumawe menziarahi 4 situs Kesultanan Samudera Pasai: Makam Sultan Malik Ash-Shalih, Jrat Puet Ploh Puet (Makam 44), Makam Putroe Nahrisyah, Makam Batee Balee, Ahad 11 Januari 2015. Kunjungan sejarah tersebut didampingi oleh 8 orang anggota lembaga CISAH (Center for Information of Samudera Pasai Heritage). Foto: Almuzalir.
Dalam pemanduannnya, delapan orang suka relawan kebudayaan anggota CISAH berbaur dalam semangat tinggi pelajar serta beberapa orang guru SMAN 5 Lhokseumawe yang menapaki beberapa kumpulan makam pembesar Kesultanan Samudera Pasai.

"Di sini kita menemukan sebuah kecintaan tinggi akan marwah yang diwarisi leluhur kita terdahulu, tidak semua bangsa memiliki kemulian ini, oleh karena itu mari kita menjadi pewaris  yang baik bagi pendahulu kita," ungkap Sukarna Putra, wakil ketua CISAH saat menutup kunjungan "Wisata Sejarah" setengah hari di kumpulan makam Batee Balee.

Oleh Thayeb Loh Angen, Pusat Kebudayaan Aceh - Turki (PuKAT).

Al-Kahhar 1565 - Mars Lada Sicupak

Written By Peradaban Dunia on Wednesday, 7 January 2015 | 17:54


Alauddin Ri'ayat Syah
Sultan Aceh termasyhur
Al-Kahhar Yang Agung
Sultan kita tergagah

Dia pengutus kafilah
menghadap khalifah
Turki Utsmaniyah
Raja Rum diraja dunia

Umar Husen pemimpin
penghantar lada bergunca-gunca
emas perak diserta
armada kapal tangguh

Istanbul bandar megah
melabuhlah kafilah
Suleiman Yang Agung
pimpin perang Hongari

Dua tahun pun lewat
syahid Al Qanuni
diganti Sultan Selim Dua
utusan Aceh disambut

Sicupak lada tersisa
cendera mata buat raja Rum
baru bertahta sedia
titah dukung Aceh

Sebuah meriam
sekapal logam tuangan
belasan ahli puluhan tukang
dibawa ke Sumatera.

07 Januari 2015

Oleh Thayeb Loh Angen, aktivis di Pusat Kebudayaan Aceh - Turki (PuKAT)

Sang Raja Giok

Written By Peradaban Dunia on Saturday, 27 December 2014 | 01:23


Pada zaman pemerintahan sultan Meurah Pupok, hiduplah seorang pejabat kampung yang suka mengumpulkan batu giok dan membangga-banggakannya kepada siapapun yang ia jumpai. Sehari-harinya, ia mencari batu giok dan mengumpulkannya di dalam gudang yang besar.


Apabila ia berjalan, tangannya tergantung berat karena kesepuluh jemari tangannya terpasang cincin yang lingkaran dan batunya terbuat dari batu giok sebesar ibu jari kaki. Di lengan ia memakai gelang batu giok. Di lehernya ia punya kalung batu giok yang seberat buah mangga.


Apabila berbicara, ia selalu mengangkat tangannya, mengelus wajah, memengang telinga, supaya giok di tangannya terlihat. Dia terus mencari batu giok daripada seluruh negeri. Sampai suatu ketika, ia memerintahkan puluhan tukang batu dan bangunan untuk mengeluarkan semua batu giok yang berada di dalam gudangnya yang luas.

Maka berkumpullah sekalian tukang itu di sana. Mereka melakukan tugas masing-masing. Ada yang memecahkan batu giok menjadi tepung dijadikan semen. Ada yang memahatnya menjadi tiang, dinding, pintu, jendela, atap, dan sebagainya.


Ketika semen yang terbuat daripada batu giok siap, ia pun memulai memerintahkan membuat tapak (pondasi) rumah, semua bahannya daripada batu giok.

Sudah setahun, atap dari batu giok telah pun selesai dibangun, tinggal dinding dan lantainya. Memasuki tahun kedua selesailah sebuah rumah besar yang semua bahnnya terbuat daripada batu giok. Pemilik rumah itu pun disebut Raja Giok.


Tahun ketiga, kabar bahwa seorang pejabat kampung telah mendirikan sebuah rumah dari batu giok pun sampai ke telinga sultan, karena kehairanannya, maka sang sultan bersama pengawalnya pun mengunjungi rumah itu.

Setelah perjalanan tujuh hari tujuh malam, sampailah sang sultan dan pengawalnya ke rumah yang dituju. Namun, tiba-tiba angin puting beliung pun datang menyapu bersih seluruh kampung itu, termasuk rumah Raja Giok dan kafilah sang sultan.


Ada seorang anak lelaki kecil yang selamat karena saat disapu angin puting beliung ia dihempaskan ke atas tumpukan kapas yang membukit di kampung seberang sungai, yang berjarak sekira sepuluh batu dari kampung Raja Giok.

Dialah yang mencerikan kisah Raja Giok ini kepada sekalian orang, dan orang-orang itu pun menceritakannya kepada orang lain.


Masa pun berlalu, cerita itu terus diwariskan secara turun temurun, dan sampailah cerita itu kepadaku daripada bapakku daripada kakekku daripada buyutku. Karena ianya sampai kepadaku, makanya kini sampailah cerita ini kepadamu. Bahwa di masa dahulu kala ada seseseorang yang telah membangun sebuah rumah besar atau istana yang semua bahannya terbuat daripada batu giok.

Namun anak kecil itu tidak tahun siapa nama asli si Raja Giok itu. Dan sebagaimana bapakku dan kakeku dan buyutku, aku pun tidak tahun siapa nama anak kecil itu.

Dan, tatkala bapakku menceritakan itu kepadaku kemarin, aku pun terkesima, bahwa seseorang yang di mas hidupnya pernah membangun sebuah istana dari batu giok saja tidak diketahui namanya bahkan pusaranya bahkan sisa buatannya, apalagi aku ini yang tidak memiliki sebutir giok pun.

Cerpen: Oleh Thayeb Loh Angen, penulis novel Teuntra Atom (CAJP, 2009) dan Novel Aceh 2025 - 1446 H (Yatsrib Baru, 2014)

Joel Pase Luncurkan "Aceh Pusaka" di Travelog Aceh ke Istanbul

Written By Peradaban Dunia on Friday, 26 December 2014 | 18:16


“Aceh tanoh lonsayang peunulang raja-raja
Aceh beutapeutimang beugot jipandang le donya
bek le karu tamtum su beude
bek le pake ngon syedara
amanah po beumurah hate kuta ngon gle meuseunia

Aceh ngon Turki na seujarah
kalon kisah sicupak lada
Ukeue Aceh tapeuwoe marwah
ban seujarah sultan diraja”
-Joel Pase

Dari Kiri: Joel Pase, Baiquni Hasbi, Ariful Azmi Usman dalam acara Travelog Aceh ke Istanbul yang dilaksanakan oleh PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh - Turki) bekerja sama dengan YTB (T.C. Başbakanlik) Yurtdişi Türkler ve Akraba Topluluklar Başkanliği di Sultan II Selim ACC (Aceh Community Center), Banda Aceh, Kamis malam 25 Desember 2014. Foto: Rezy Maulana/Khalis Sury.
Saya minta izin, meluncurkan lagu Aceh Pusaka ini di acara Travelog Aceh ke Istanbul malam ini,” kata Joel Pase seraya siap-siap bernyanyi.

Joel Pase adalah bintang lagu Aceh teratas sekarang. Lelaki ini punya kecakapan dalam beberapa bidang selain menyanyi. Dia seorang guru yang mencintai sejarah. Dan yang paling penting, dia seorang pemandu acara yang handal. Dengan percaya dirinya, dia pun menguasai panggung.


Keahliannya memandu acara dibuktikan pada bincang kebudayaan Travelog Aceh ke Istanbul: Sebuah Perjalanan Ariful Azmi Usman, di Sultan II Selim ACC (Aceh Community Center), Banda Aceh, Kamis malam 25 Desember 2014.
Acara tersebut dilaksanakan oleh PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh-Turki) berkerja sama dengan YTB (T.C. Başbakanlik) Yurtdişi Türkler ve Akraba Topluluklar Başkanliği. Sejak 2013, pengurus Sultan II Selim ACC memberikan hak pakai tempat secara cuma-cuma untuk acara yang dibuat oleh PuKAT.

Joel Pase tampil memandu acara dan bernyanyi dengan pakaian khas Aceh, baju hitam berkancing kuning, celana hitam, dan sungket berdasarkan merah kuning.

Lagu berjudul “Saleuem Mulia” membuka acara tersebut. Yang terkesan dari penampilannya malam itu ialah, Joel Pase memandu acara Aceh dan Turki sebagai orang Aceh.

Bahasa Turki yang disebutkannya di acara hanyalah “Nasilsil” dan “Iyiyim” dan “Tesekkur Erderim” yang dipelajarinya beberapa menit sebelum acara pada pembicara Baiquni Hasbi yang mengambil S2 bidang sejarah di Ankara University, Turki.

Selain Joel Pase yang sudah menjadi bintang sebelum malam itu, ada dua orang lagi yang menjadi bintang acara, mereka adalah sejarawan muda Baiquni Hasbi dan jurnalis muda Ariful Azmi Usman. Ternyata, Joel Pase telah mengenal keduanya jauh tahun sebelum acara ini.

“Sejak dulu saya ingin ke Istanbul, akan tetapi kedua kawan saya yang impiannya ke pusat dunia tersebut tidak sebesar sayalah yang telah berkunjung ke sana,” kata Joel Pase di tengah acara yang disambut sorak-sorai hadirin yang berjumlah dua ratus orang lebih.

Baiquni Hasbi yang baru saja menerbitkan bukunya yang berjudul “Relasi Kerajaan Aceh Darussalam dan Kerajaan Utsmani” berbicara tentang Aceh di mata penduduk dunia di masa silam. Aceh adalah bangsa besar yang paling kaya dan kuat, begitulah yang dikenal oleh dunia.

Penuturan sejarawan muda Baiquni anak daripada prof Hasbi Amiruddin ini telah membuat hadirin lebih mengenal Aceh dan hubungannya di dalam sejarah dengan Turki Usmani.

Mejelang Baiquni Hasbi menuturkan sejarah, Joel Pase menyanyikan lagu “Aceh Pusaka”. Itu adalah kali pertama ia nyanyikan lagu tersebut dengan diiringi musik di panggung di hadapan banyak pengunjung.

“Saya minta izin, meluncurkan lagu Aceh Pusaka ini di acara Travelog Aceh ke Istanbul malam ini,” kata Joel Pase seraya siap-siap bernyanyi.

Ariful Azmi Usman yang tengah menyelesaikan buku tentang perjalanannya ke Istanbul, menceritakan apa saja pengalaman itu selayang pandang, selama sebulan ia di kota dua benua dalam mengikuti program Harman Intership yang ditugaskan di kantor televisi negara Turki TRT Turk di Istanbul.

Sebelum bukunya diterbitkan, Ariful akan menceritakan pengalamannya empat kali, di Sultan II Selim malam itu adalah yang pertama, yang ke dua di Auditorium FKIP Unsyiah pada 8 Januari 2015, yang ketiga di SMAN 1 Peukan Bada, yang keempat di Aula FSIP Unimal Lhokseumawe.

Keberhasilan acara malam itu merupakan andil daripada semua panitia, direktur dan anggota Sultan II Selim ACC, pembicara, dan seluruh hadirin, serta media-media yang telah bersedia menyiarkan acara tersebut, baik sebelum mahupun sesudahnya.

Eungkhui adalah makanan khas yang dibuat oleh ahli tata boga Zahraini yang disediakan pada malam itu menjadi hidangan khusus. Diperkirakan itu pertama kali orang-orang di Banda Aceh mengenal eungkhui dengan curak tersebut.

Dan Joel Pase menutup acara ini dengan lagu “Puga Nanggroe” yang punya lirik, di antaranya:

“Jak tajak woe hai adoe jak tajak woe
Jak tapuwoe nanggroe nyoe beu lagee nyang ka. …”

Oleh Thayeb Loh Angen, aktivis di PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh - Turki)

Isa Sulaiman yang Hilang Tidak Terganti

Written By Peradaban Dunia on Thursday, 25 December 2014 | 11:52

Dari kanan: Pembicara Halimatunsakdiah (isteri almarhum Muhammad Isa Sulaiman), Juanda Jamal (Sekjen ACSTF), Saiful Mahdi (Peneliti Aceh Institute), dan Thayeb Loh Angen (aktivis PuKAT) yang memandu acara. Foto: Lodins.

Ada sebuah rasa ketersanjungan bahwa hadirin dari akademisi, aktivis, mahasiswa, wartawan dan lainnya kagum pada tokoh sosiolog Aceh Profesor Muhammad Isa Sulaiman yang meninggal dunia pada bencana smong (tsunami) 24 Desember 2004.

Acara yang sempat tertunda selama satu jam lebih tersebut akhirnya berlangsung khidmat yang hadirin masih setia mengikutinya sampai menjelang magrib saat acara berakhir. Sekitar tiga puluhan orang ini memang datang khusus untuk mengikuti acara tersebut. Saya kagum dan bangga akan hal itu, bangga pada hadirin, pada pembicara handal di samping saya, dan almarhum.

Acara ini untuk mengenang Muhammad Isa Sulaiman yang dilaksanakan oleh PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh - Turki) yang tempatnya disediakan cuma-cuma oleh pengurus ACC (Aceh Community Center) Sultan II Selim Banda Aceh, pada 24 Desember 2014. Terlihatlah semua tentang almarhum.

Setelah mendengar penuturan dari peneliti Aceh Institute Saiful Mahdi, sekjen Achehnes Civil Society Task Force (ACSTF) Juanda Jamal, dan isteri Isa Sulaiman Halimatunsakdiah, saya tertegun, ternyata Isa Sulaiman berada di balik gerakan cendikiawan di Aceh yang mencetus perdamaian.

Saiful Mahdi dan Juanda Jamal mengisahkan pengalaman mereka bersama almarhum Isa Sulaiman dalam gerakan cendikiawan Aceh dalam perbaikan pola pikir terutama mendamaikan dua pihak yang berperang (RI dengan GAM).

Kedua tokoh Aceh ini berkesimpulan bahwa Isa Sulaiman adalah tokoh bijaksana yang berani bersikap dan sikapnya jelas serta mahu mengambil akibat dari sikap itu. Sang pejuang sejati yang langka ditemukan di dalam diri tokoh lain.

Dari sinilah saya menyadari bahwa Isa Sulaiman adalah salah seorang tokoh penting di balik perdamaian yang terjadi hari ini. Kiranya ia tidak sempat melihat hasil daripada perjuangannya. Akan tetapi jasanya telah pun ditarikhkan.

Isa Sulaiman adalah orang yang tepat waktu. Misalnya ada sebuah acara, akan tetapi tatkala waktu mulai tiba baru datang satu dua orang, Isa Sulaiman tetap memulainya. Pola ini yang sepertinya dipakai beberapa organisasi sekarang.

Dari melihat gaya dan mendengarkan penuturan Saiful Mahdi dan Juanda Jamal, saya pun menyadari bahwa saya tidak ada apa-apanya apabila dibandingkan dengan kedua orang aktivis senior ini, baik di dalam pengetahuan, pengalaman, sikap, mahupun di bidang lainnya.

Isteri almarhum, Halimatunsakdiah menuturkan bahwa Isa Sulaiman adalah seorang yang tidak pernah memarahinya dan anak-anak mereka. Dan, ke mana-mana dan di manapun Isa Sulaiman membawa buku di tangannya. Bahkan menjelang syahid dihempas smong, dia tengah membaca buku.

Hadirin ada yang mengusulkan supaya ditulis sebuah buku tentang riwayat hidup Muhammad Isa Sulaiman. Dan pembicara menerima usulan itu yang mungkin nantinya akan dilaksanakan oleh Aceh Institute, sebuah lembaga yang Isa Sulaman adalah pendirinya.

Hanya dari penuturan tokoh-tokoh inilah saya mengenal Isa Sulaiman. Saya tidak pernah berjumpa dengannya di kala hidup, belum pernah membaca karyanya. Baru sebulan lalu pada akhir Nopember 2014, seorang pendiri PuKAT, Mehmet Ozay berkata,

"Saudara Thayeb, bagaimana kalau pada hari sebelum 26 Desember ini kita buat acara mengingatkan Isa Sulaiman, kita peringati 10 tahun smong (tsunami) dengan itu?"

"Boleh, kita akan minta tempat acara kepada direktur ACC Sultan II Selim, semoga ia bersedia memberikan kita pakaikan tempat di sana secara cuma-cuma sebagaimana biasa. Siapa Isa Sulaiman?"

Maka Mehmet Ozay menceritakan sedikit tentang almarhum, akan tetapi saya tidak bisa menemukan foto dan riwayat hidupnya di waktu itu. Juga tidak tahu nama iserinya.

Esoknya, Mehmet Ozay pun mengajak saya menjumpai Juanda Jamal. Kami berjumpa di sebuah tempat di Simpang Lima, Banda Aceh yang Juanda Jamal tengah ada acara di sana. Dan di hari selanjutnya, Mehmet Ozay mengundang Saiful Mahdi untuk ikut acara.

Setelahnya, Tuan Saiful Mahdi meminta saya untuk mengunjungi rumah almarhum, menemui keluarganya. Maka saya pun menghubungi Juanda Jamal untuk itu. Dan selanjutnya, kami pun ke Kampung Mulia, ke rumah almarhum.

Di dalam acara tersebut saya sempat membaca penuturan Anthony Reid hasil wawancara Mehmet Ozay pada 20 Desember 2014 di dalam Bahasa Inggris, dan diterjemahkan oleh Nia Deliana. Juanda Jamal membagi-bagikan buku tulisan Muhammad Isa Sulaiman "Mosaik Konflik Aceh" di dalam acara tersebut, sebagai hadiah, kenduri daripada almarhum, katanya.

Begitulah, acara itu terjadi karena banyak hal, yakni: Saiful Mahdi, Juanda Jamal, Halimatunsakdiah yang dengan suka rela mengisi acara. Juga karena adanya hadirin mahu dating. Yang paling penting, Mehmet Ozay pengusul acara, dan pemberi tempat acara adalah direktur ACC Sultan II Selim Muhammad Fauzan Azim Syah dan anggotanya yang ikut membantu. Dan karena Nia Deliana, Zahraini, Aldi Yukihiro, Ariful Azmi Usman dan kawan-kawannya yang ikut membantu. Itu semua terjadi karena izin Allah Ta'ala.

Dan terima kasih kepada semua haandai taulan di media-media yang telah menyiarkan acara ini dan acara sebelumnya dan insyaallah acara sesudahnya. Kiranya hanyalah Allah Ta’ala jua yang bisa membalas kebaikan itu.
 
Oleh Thayeb Loh Angen, aktivis di PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh - Turki)

Almuzalir Pemula Tindak Pelajar Berwisata Sejarah

Written By Peradaban Dunia on Tuesday, 23 December 2014 | 23:46

Menyaksikan kunjungan Almuzalir dan 23 orang pelajar dan 2  orang lulusan SMAN 5 Kota Lhokseumawe dalam acara meuseraya membersihan makam dan mengatur nisan-nisan di kumpulan makam Tgk. Bak Lembee di Gampong Ulee Kareung, Indra Puri, Kabupaten Aceh Besar, lalu ke kumpulan makam di Kandang XII Banda Aceh dan Meurah II di Mata Ie Aceh Besar, Minggu 21 Desember 2014 yang dipawangi oleh CISAH (Center for Information of Samudera Pasai Heritage) dan Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh).

 
Almuzalir (kanan), guru SMAN 5 Lhokseumawe
yang menggerakkan wisata sejarah untuk pelajar
tengah bebicara dengan Duta Museum Aceh Mujiburrizal,
di Kandang XII Banda Aceh,
Ahad 21 Desembber 2014. Foto: Lodins.

Sebagaimana telah beberapa kali, hari Ahad tanggal 21 Desember 2014 ini pun saya mengikuti acara meuseuraya yang dipawangi oleh Mapesa dan CISAH, membersihkan makam-makam Aceh yang di bawahnya disemayamkan orang-orang berpengaruh di masa Aceh Darussalam dan lainnya untuk kemudian dirapikan dan dibaca oleh peneliti kebudayaan Islam yang filsuf Taqiyuddin Muhammad.


Yang menarik hari ini adalah adanya 23 orang pelajar dan 2 orang lulusan SMAN 5 Lhokseumawe yang dibawa oleh guru mereka Almuzalir dan didampingi oleh Mutia Wardani seorang guru yang pembina OSIS.


Sebenarnya, saya sudah tahu acara ini sejak dua hari sebelumnya atas kabaran daripada Mizuar sang Duta Nisan Aceh pada malam tatkala saya dan Lodins ke rumahnya di Bitai. Namun saya telah terlebih dahulu berjanji dengan uztaz Ameer Hamzah untuk menyertainya di acara Aceh TV dari pukul 08:00 sampai pukul 10:00 pagi.

Karenanya menjelang siang barulah saya memiliki kesempatan untuk ke makam Indra Puri bersama Aldi Yukihiro, Lodins, dan Hidayatullah. Namun tatkala kami sampai di Samahani, Mizuar mengabarkan bahwa kafilah di Indra Puri telah berangkat kembali ke Banda Aceh dengan tujuan kandang XII. Mereka bersegera meninggalkan Indra Puri karena hujuan turun. Maka kami pun menjuju Kandang XII dan menunggu mereka di sana.

Thayeb Loh Angen
bersama Direktur Utama Aceh TV A Dahlan TH
setelah acara yang dipandu ustaz Ameer Hamzah,
Ahad 21-12-2014. Foto: Lodins.
Setelah menunggu beberapa saat di Kandang XII, tibalah mereka, sebuah bus sekolah kota Lhokseuamwe yang di hadapannya ditulis “Kota Budaya, Islami…” tulisan itu langsung mengingatkan bagaimana sejak beberapa tahun terakhir saya memasyhurkan kata “Kota Budaya” untuk Paloh Dayah. Saya mempersaksikan tulisan itu kepada Aldi Yukihiro, dan dia pun tertawa seraya mengangkat ibu jarinya. Dia tahu benar bagaimana saya mendakwahkan “Kota Budaya”.

Mengapa harus Paloh Dayah? Alasan yang mudah diterima, adalah bebas menamakan itu untuk tempat lahir saya sendiri sebagai penduduk yang telah turun temurun di sana daripada menabalkannya untuk tempat lain. Adalah membanggakan apabila Lhokseumawe atau kota lain memakainya.

Di Kandang XII sekalian pelajar takjub pada nisan-nisan dan dengan khidmad mendengar penjelasan
tentangnya oleh arkeolog Deddy Satria, Duta Meseum Aceh Mujiburrizal, dan Duta Nisan Aceh Mizuar Mahdi. Semuanya direkam oleh RA Karamullah dari Glamour Pro.

Hujan tipis mengerai Kandang XII. Sejuk. Kami tidak bisa berkeliaran di halaman makam. Dan pohon jeumpa keubiru di sisinya hanya memilliki beberapa kuntum bunga, lainnya telah pun gugur bersama angin dan hujan.

Setelah sekalian pelajar bertanya tentang apapun di sana, Mizuar Mahdi mengarahkan mereka ke Makam Meurah II. Saya, Aldi Yukihiro, Lodins, dan Hidayatullah berangkat lebih dahulu karena beda kenderaan dengan pengembara dari Lhokseumwe dan pemandu jalannya.

Setelah melewati stasiun TV di Mata Ie, kami berhenti di sebuah kedai nasi untuk membeli makan siang dan melahapnya di sekitar makam Meurah II. Saya sebagai pemandu jalan yang telah ke sana beberapa waktu lalu pun sempat salah menunjuki jalan, dan bus sekolah pengembara dari Lhokseumawe pun terlihat mendahului dari jalan yang baru saja kami tinggalkan untuk menikung ke arah yang salah.

Sesampai di Makam Meurah II, kami pun makan siang. Ternyata kaiflah di dalam bus sekolah tadi belum makan juga dan makanan yang telah mereka pesan segera menyusul. Di sanalah saya melihat, beberapa orang daripada pelajar itu mengurumuni Deddy Satria dan Mizuar Mahdi untuk menanyakan apa saja tentang makam itu.


Dari kanan: Afrizal Hidayat, Sukarna Putra, Hidayatullah,
Thayeb Loh Angen, Aldi Yukihiro, Masykur, dan 
Anzir di halaman Kandang XII Banda Aceh.
Terlihat bunga-bunga jeumpa keubiru berhamburan
diterbangkan angin dan hujan,
Ahad 21 Desember 2014. Foto: Amrizal.
 
 
 

 
Saya pun terpikir, bagaimana Almuzalir meyakinkan anak-anak itu untuk menyukai sejarah sehingga akhirnya mereka bersikeras untuk mendaki gunung Seulawah sejauh itu untuk ke sini, tentu saja itu bukan sekedar berlibur di akhir pekan. Tidak begitu, mereka berlumuran tanah saat kerja bakti (meuseuraya) di Indra Puri tadi.

“Mereka jauh-jauh daripada Lhokseumawe, menempuh perjalanan ratusan batu hanya untuk berlumuran tanah membersihkan makam-makan masa silam. Apakah generasi emas telah bangkit lagi di negeri ini. Mungkinkah ini menuju puncak dari permulaan itu karena biasanya sebuah gerakan akan segera mencapai puncaknya apabila orang Pasai (Lhokseumawe, Aceh Utara, Bireuen, Aceh Timur) telah ikut serta?” pikirku dalam kemasygulan.

Setelah mereka mendengar banyak penjelasan dari beberapa orang ahli di sana, tibalah makan siang. Mereka pun makan di sebuah balai dekat makam. Setelahnya giliran RA Karamullah yang mewawancarai mereka.

Melihat seorang pelajar yang penuh semangat mewawancarai ahlinya, secara bercanda saya mengatakan mengapa saya tidak ikut diwawancarai. Akan tetapi guru dan ahli di sana menganggap itu benar-benar. Biarkan saja. Tatkala di rumah Mizuar dua hari lalu, ia meminta saya ikut memberikan beberapa penjelasan kepada sekalian pelajar ini, akan tetapi saya menolaknya karena itu bukan bidang saya dan PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh - Turki) tidak bergerak di bidang ini.

Setelah beberapa pertanyaan, terlihat si pelajar perempuan tadi mulai tidak memahami atau tidak menyukai pembicaraan dan dia mengarahkan kepada kawannya untuk bertanya. Tentu saja, apa yang saya katakan adalah tentang PuKAT dan sejarah Aceh dan Turki, yang mereka kira tidak ada hubungan dengan kunjungan mereka ke makam-makam hari itu.

Selang sehari setelahnya, tatkala bicara dengan Aldi Yukihiro dan Lodins, Aldi mengatakan bahwa pelajar itu memberikan kertas yang ditulis wawancara dengan saya kepada temannya. Mungkin tidak dipakai. Saya pun tertawa. Memang itu bukan wawancara sebenarnya.


Mutia Wardani, pembina OSIS SMAN 5 Lhokseumawe,
 tengah bicara dengan pelajar di kumpulan makam sultan Aceh Darussalam,
Kandang XII, Banda Aceh, Ahad 21 Desember 2014. Foto: Lodins.
Yang sebenarnya adalah -saya sudah mengatakan kepada Almuzalir di ketika berada di Kandang XII- juga kepada pelajar yang mewawancarai itu di Meurah II, bahwa pada 10 Februari 2015, PuKAT membuat acara Bincang Kebudayaan bertajuk “Travelog Aceh ke Istanbul: Sebuah Perjalanan Ariful Azmi Usman, di Aula FISIP Unimal, Bukit Indah, Lhokseumawe.

Saya mengundang sekalian pelajar itu, dan saya akan cari Almuzalir untuk menghantar surat undangan resminya supaya dia membawa ke-23 orang pelajar itu, juga siapa saja yang lainnya yang bersedia ikut ke acara tersebut.

Mungkin juga, sebagai penghargaan, pada acara 10 Februari 2015 tersebut saya akan mengajak kafilah PuKAT berkunjung ke sekolah SMAN 5 Lhokseumawe karena mereka telah mengharumkan perjuangan mengenalkan kembali sejarah Aceh.


Tabik hormat untuk Almuzalir, Mutia Wardani pembina dan M Al Furqan ketua OSIS SMAN 5 Lhokseumawe, dan sekalian pelajar yang ikut hari itu, serta kepada CISAH dan Mapesa yang memandu mereka. Dan, tentu saja, itu semua berkat kehendak Allah Ta’ala, dan tentulah itu bagian daripada hasil dakwah-dakwah sang filsuf Taqiyuddin Muhammad.

 
Oleh Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan di PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh - Turki).

15 Ribu Buku Masa Silam di Pustaka Ali Hasjmy

Written By Peradaban Dunia on Monday, 22 December 2014 | 20:14

Oleh Abdul Aziz

Mahasiswa di Banda Aceh


Pustaka dan Museum Ali Hasjmy, Banda Aceh. Foto: muthia-deliana.blogspot.com
Seperti halnya museum lainnya, di museum Ali Hasjmy juga banyak menyimpan berbagai jenis koleksi. Museum terletak di kawasan Banda Aceh, tepatnya di daerah jendral Sudirman No 20. Pada awalnya museum ini kediamannya Prof Ali Hasjmy, beliau lahir pada tanggal 28 Maret 1914 di daerah Lampaseh, Banda Aceh.

Semasa hidupnya beliau pernah menjabat sebagai gubernur Aceh periode 1957-1964 dan juga pernah menjadi Rektor IAIN Jami’ah Ar-Raniry. Selain itu Prof Ali Hasjmy juga dikenal sebagai seorang ulama, seniman, budayawan dan juga seorang politikus di Aceh.

            Pada tahun 1989 Prof Ali Hasjmy mendirikan sebuah yayasan pendidikan Ali Hasjmy yang bisa menampung sekitar 15. 000 buku naskah masa silam yang ditulis dalam berbagai bahasa.
            Museum yang diresmikan oleh Menteri Kependudukan dan Lingkungan hidup pada tanggal 15 Januari 1991 ini terdapat enam lemari  yang berbariskan  buku-buku maupun benda-benda yang penuh akan nilai sejarah.

Selain itu ada juga empat ruangan, yaitu ruangan Khatukhanah Teungku Chik Di Kuta Karang yang berisikan kitab-kitab masa silam awal abad ke XX, yang kedua ruangan Warisan Budaya Nenek Puteh  yang menyimpan warisan budaya Aceh, yang ketiga ruangan Khazanah Ali Hasjmy di dalamnya terdapat dokumen-dokumen pribadi miliknya, dan yang terakhir ruangan teknologi tradisional Aceh, pada ruangan ini menyimpan hasil kerajinan dari masyarakat Aceh.

            Menurut seorang narasumber yang saya temui, dia menyebutkan bahwa pada saat gempa dan smong (tsunami) memporak-porandakan Aceh 2004 silam, museum ini tidak mengalami kerusakan yang begitu parah, mungkin karena letaknya  jauh dari laut. Hanya lantainya saja yang tergenang air laut dan buku-buku yang jatuh menjadi basah, namun hal tersebut sudah teratasi dengan dijemur dan dikeringkan dengan mesin pemanas dan sudah kembali tersusun rapi di rak buku.

            Semenjak diresmikan pada tanggal 15 januari 1991 hingga saat ini, museum ini banyak dikunjungi oleh masyarakat dan juga mahasiswa yang ingin mencari bahan kuliah mereka. Bahkan ada juga Mahasiswa dari luar negeri yang datang ke museum ini untuk mencari bahan karya ilmiahnya.

            Ya, itulah Prof Ali Hasjmy walaupun telah lama menghadap sang ilahi tetapi ruh jihadnya tetap hidup sepanjang masa.

Tambo Tgk Chik Kuta Karang di Museum Ali Hasjmy

Oleh Muhammad Rizki
Mahasiswa di Banda Aceh


Pustaka dan Museum Ali Hasjmy, Banda Aceh. Foto:
Museum Ali Hasjmy adalah sebuah tempat menyimpan beragam kumpulan benda bersejarah tentang Aceh dan berbagai peninggalan dokumen penting yang bisa kita jadikan bahan penelitian. Museum ini terletak di kota Banda Aceh, jalan Jendral Sudirman No. 20. Museum dan perpustakaan ini diresmikan pada tanggal 15 Januari 1991.

Museum ini dulunya merupakan tempat kediaman Prof. Ali Hasjmy. Beliau dilahirkan di Lampaseh, Banda Aceh 28 Maret 1914 dan meninggal di Banda Aceh, 18 Januari 1998. Ia hidup dengan seorang pasangan yang bernama Zuriah Hasjmy. Ia pernah menjabat sebagai gubernur Aceh dan rektor IAIN Arraniry. Beliau juga dikenal sebagai seorang ulama dan politikus di Aceh.

 Di dalam perpustakaan ini terbagi empat ruangan, yaitu ruangan warisan budaya Nenek Puteh, di dalamnya terdapat benda-benda warisan seperti senjata khas Aceh dan pakaian adat Aceh. Selanjutnya ruangan Khutubkhanah, di dalamnya terdapat peninggalan buku-buku masa silam. Kemudian ruangan khasanah Ali Hasjmy, yang berisi dokumen pribadi milik Ali Hasjmy, yang terakhir terdapat ruangan teknologi tradisional Aceh, yang terdapat hasil kerajinan dari masyarakat  Aceh.
 
Di dalam ruangan ini juga terdapat enam lemari yang mana di lemari tersebut terdapat bermacam buku, seperti buku sejarah, politik, sosial budaya, hukum, agama dan masih banyak lagi buku-buku yang lain yang terdapat di prpustakaan ini. Ada juga lemari  yang terdapat piagam atau penghargaan yang beliau peroleh.
Di sisi belakang gedung ini juga terdapat balai Meunasah Bale Teungku Haji Aziz, dan di depan balai tersebut juga terdapat tambo (beduk) warisan syeh Abbas (Teuku Chik Kuta Karang) seorang ulama yang menguasai bermacam ilmu, almarhum adalah Al-Farabinya nusantara, tambo ini telah berusia sekitar 178 tahun. Di sana pun ada sebuah sebuah rumah adat Aceh.
Pada saat tsunami 2004 museum ini tidak mengalami kerusakan yang parah karena jauh dari laut, seperti kata penjaga museum.
 
"Ketika smong museum ini tidak mengalami kerusakan yang parah, jadi cuma sedikit perbaiki terhadap museum dan perpustakaan Ali Hasjmy tersebut.”

Halimatunsakdiah: Beliau Bersama Kami Menjelang Diterjang Smong

Written By Peradaban Dunia on Thursday, 18 December 2014 | 15:08

Halimatunsakdiah, isteri sosiolog almarhum Muhammad Isa Sulaiman.
Foto: Aldi Yukihiro.
Muhammad Isa Sulaman, Sosiolog Handal Yang Hilang Tidak Terganti

Banda Aceh - Prof M Isa Sulaiman seorang sosiolog Aceh pendiri Aceh Institute yang meninggal dunia pada bencana smong 26 Desember 2004. Tatkala smong (air bah dari laut atau tsunami) datang, ia berada di dalam kamar.

“Pada saat bencana smong terjadi di hari 26 Desember 2004, kami berada di rumah. Saya lebih dahulu keluar karena mengejar seorang anak kami yang masih kecil yang telah lebih dahulu lari keluar,” kenang Halimatunsakdiah yang merupakan isteri almarhum Muhammad Isa Sulaiman.

Semua kisah meninggalnya Isa Sulaiman dan karya-karyanya akan dikemukakan pada Rabu 24 Desember 2014 pada pukul 15:00 WIB sampai selesai di gedung Turki, Aceh Community Center Sultan II Selim, Banda Aceh.

Pencerita tentang itu adalah peneliti Aceh Institute Saiful Mahdi, sekjen ACSTF Juanda Jamal, dan isteri almarhum Isa Sulaiman Halimatunsakdiah.

Prof M Isa Sulaiman merupakan tokoh Aceh yang paling penting di antara banyak tkoh cendkiawan di Aceh. Dia, merupakan seorang sosiolog hebat yang pernah dimiliki oleh Aceh.

Orang-orang di Aceh seyogianya mengingat Isa Sulaiman, mengingat perjuangannya dan mempelajaripengetahuan yang diwariskannya di antaranya yang berada di dalam buku-bukunya, seperti: “Sejarah: Sebuah Gugatan Terhadap Tradisi”, “Aceh Merdeka: Ideologi Kepemimpinan dan Gerakan”, dan “Mosaik Konflik Aceh”.

Kegiatan dalam rangka memperingati bencana smong ke 10 tahun itu diperbuat oleh organisasi antarabangsa Pusat Kebudayaan Aceh - Turki (PuKAT) secara kebersamaan yang tempat untuk acaranya diberikan hak pakai cuma-cuma oleh pengurus gedung Turki ACC Sultan II Selim.ldn

24 Des Halimatunsakdiah Bicara Tentang Isa Sulaiman

Written By Peradaban Dunia on Wednesday, 17 December 2014 | 23:28

Banda Aceh - Halimatunsakdiah akan bicara tentang Prof M Isa Sulaiman, seorang sosiolog Aceh pendiri Aceh Institute yang meninggal dunia pada bencana smong 26 Desember 2004.

"Pada saat bencana smong terjadi di hari 26 Desember 2004, kami berada di rumah. Saya lebih dahulu keluar karena mengejar seorang anak kami yang masih kecil yang telah lebih dahulu lari keluar," kata kenang Halimatunsakdiah yang merupakan isteri almarhum Muhammad Isa Sulaiman.

Acara mengenang jasa Isa Sulaiman tersebut dilangsungkan pada Rabu 24 Desember 2014 pada pukul 15:00 WIB sampai selesai di gedung Turki, Aceh Community Center Sultan II Selim, Banda Aceh.

Kegiatan dalam rangka memperingati bencana smong ke 10 tahun itu diperbuat oleh organisasi antarabangsa Pusat Kebudayaan Aceh - Turki (PuKAT).

Aktivis PuKAT, Thayeb Loh Angen, mengatakan bahwa Prof M Isa Sulaiman merupakan tokoh Aceh yang paling penting. Dia, kata Thayeb, merupakan seorang sosiolog hebat yang pernah dimiliki oleh Aceh.
Halimatunsakdiah, isteri Muhammad Isa Sulaiman. Foto: Aldi Yukihiro.

"Kita mengajak orang-orang di Aceh untuk mengingatnya, mengingat perjuangannya dan mempelajaripengetahuan yang diwariskannya di antaranya yang berada di dalam buku-bukunya, seperti: "Sejarah: Sebuah Gugatan Terhadap Tradisi", "Aceh Merdeka: Ideologi Kepemimpinan dan Gerakan", dan "Mosaik Konflik Aceh"," kata Thayeb.

Menurutnya, Aceh memiliki banyak tokoh cendikiawan. Kita mengajak sekalian orang untuk mengingat mereka dan belajar dari pengalaman hidup dan karya-karya mereka.

Muhammad Isa Sulaiman
"Pembicara di bincang-bincang ini adalah Saiful Mahdi, Juanda Jamal, dan Halimatunsakdiah yang merupakan isteri almarhum Muhammad Isa Sulaiman. Ini adalah kegiatan kebersamaan yang tempat untuk acaranya diberikan hak pakai cuma-cuma oleh pengurus gedung Turki ACC Sultan II Selim tersebut," kata Thayeb.zhr

Berita Pilihan

Berita Campuran

 
Web Design : Peradaban Dunia Team | Redaksi | About
Copyright © 2011. Peradaban Dunia - All Rights Reserved
www.peradabandunia.com