Surat Terbuka untuk Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdoğan dari Thayeb Loh Angen

Written By Peradaban Dunia on Thursday, July 24, 2014 | 4:31 AM

Kepada Yth: 

Pemimpin Yang Agung, Tuan Recep Tayyip Erdoğan

Recep Tayyip Erdoğan. Foto: wikipedia.org
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Saya tidak perlu mengatakan di sini tentang kemajuan sikap bangsa Turki semenjak Tuan memimpinnya, seluruh dunia tahu itu dan banyak pemimpin lain pun melakukannya. Namun, Tuan telah melakukan hal yang menisbahkan Tuan adalah pemimpin yang agung dan Turki sebagai bangsa beradab yang mempedulikan bangsa lain.

Kami telah mengikuti perkembangan sikap Tuan dan bangsa Turki terhadap pembantaian massal oleh negara Israel terhadap bangsa Palesina di Gaza. Protes-protes terhadapnya dilakukan di berbagai belahan bumi.

Namun, yang paling berani dan berpengaruh dari sekaian sikap itu ialah sikap Tuan Recep Tayyip Erdoğan, dengan:

1. Menyatakan bahwa Israel lebih kejam daripada Hitler karena membantai orang Palestina;
2. Pemboikotan setiap barang buatan (produk) Israel di wilayah negara Turki;
3. Yang paling mengesankan adalah sikap Tuan yang menolak untuk berbicara dengan presiden Amerika Serikat Barack Obama karena ia mendukung penyerangan oleh Israel ke Gaza, Palestina.

Panjang umur Pemimpin Yang Agung.

Banda Aceh, 24 Juli 2014.

Wassalam,
Thayeb Loh Angen.
Pusat Kebudayaan Aceh-Turki (PuKAT), Aceh, Indonesia.

Fadhli Aksi Ceramah di Banda Aceh

Written By Peradaban Dunia on Saturday, July 19, 2014 | 3:39 AM


Muhammad Zulfadli

Banda Aceh - Peserta asal Aceh di Akademi Sahur Indosiar- Aksi Dai Indosiar 2014, Muhammad Zufadhli (Fadhli Aksi) dipastikan besok akan mengantarkan tausiah di Banda Aceh. fahdli direncanakan akan membawa tausiah di acara Silaturrahmi dan buka puasa bersama dengan wartawan dan organisasi kemasyarakatan di Banda Aceh.

Muhammad Zulfadhli adalah Mahasiswa Al-Muslim Aceh dan Alumni Pasantren Moderen Misbahul Ulum, Aceh," berhasil melewati gerbang AKSI Indosiar 2014 baru baru ini.

Kasubag makalah walikota, Wirzaini, mengatakan Fadhli Aksi juga akan menghadiri undangan Walikota Banda Aceh Hj Illiza Sa'aduddin Djamal SE, pada kegiatan Silaturrahmi dan buka puasa bersama dengan wartawan dan organisasi kemasyarakatan yang bertempat Kediaman Walikota Banda. Lr. Bak Asan Dsn. Siyung Yung Gp.lamdingin, Banda Aceh.

Sementara itu, abang kandung Fadhli Aksi, Joel Pasee, membenarkan bahwa Fadhli Aksi akan memenuhi undangan teman teman di Banda Aceh, yaitu besok, Sabtu, (19 Juli 2014) pada kegiatan ajang Silaturrahmi dan buka puasa bersama dengan wartawan dan organisasi kemasyarakatan di Banda Aceh,

“Iini sebuah penghargaan bagi Fadhli untuk menyampaikan rasa terimaksihnya kepada masyarakat Aceh dan Banda Aceh khususnya yang sudah membantu SMS dan dukungan kepada Fadhli di Aksi Indosiar selama ini" kata Joel Pasee, Jumat (18/7) di Banda Aceh. .

Joel Pasee juga mengaku, sejak kembali Fadhli ke Aceh, fadhli juga melakukan Tabligh Akbar Keliling "Roadshow Aceh Ramadhan" dengan tema "Fadhli Saweue Syedara".
Sebelumnya Fadhli juga sudah bertausiah di Bireuen, Lhokseumawe dan Insyaallah besok akan tampil di Banda Aceh.akunya.dedex ktb

PuKAT Kirim Mahasiswa ke Harman Internship Turki

Ariful Azmi Usman. Foto: Facebook.com
Banda Aceh - Pusat Kebudayaan Aceh-Turki (PuKAT) mengririmkan seorang mahasiwa dari Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) untuk mengikuti Harman Internship Program (GIPUS - Global Internship Program for Undergraduated Students) yang akan berlangsung pada 1 sampai 31 Agustus 2014 di Istanbul, Turki.

Acara tersebut diperbuat oleh Eurasia Turkic Culture Strategic Research Foundation (ASAV) dan diikuti oleh mahasiswa daripada beberapa benua. Ariful Azmi Usman (21),  terpilih mewakili Indonesia setelah  mengikuti berbagai tahapan seleksi bersama sejumlah calon peserta lainnya, mulai dari seleksi berkas hingga tahap wawancara dengan perwakilan pelaksana program di Malaysia.

Setelah mengikuti seleksi selama dua bulan oleh pengurus PuKAT, Ariful terpilih mewakili Aceh dan Indonesia. Mahasiswa yang juga merupakan Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia (PW PII) Aceh asal Kota Lhokseumawe tersebut, mengaku sangat bersyukur bisa membawa nama Aceh dan Indonesia di kancah Internasional.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur terpilih menjadi wakil Aceh dan Indonesia dalam program ini. Seleksinya saya ikut sejak akhir Maret lalu, dan pengumumannya sekitar bulan Juni 2014 kemarin, rencanaya saya berangkat akhir bulan ini, insya Allah,” kata Ariful, Jumat, (18/7/2014).

Menurut Ariful, tak hanya Indonesia, perwakilan dari negara lain juga  ikut hadir dalam acara ini, dan akan ditempatkan pada perusahaan dan lembaga yang telah ditentukan. Tak hanya itu, para peserta juga mengikuti berbagai seminar dan kunjungan formal selama di Turki. “Di sana nanti saya akan bergabung dengan kawan-kawan dari negara lain, masing-masing negara diwakili satu orang,” jelasnya.serambinews.com

Sri Maulita Dapat Bantuan KWPSI

Written By Peradaban Dunia on Thursday, July 17, 2014 | 9:43 PM

Wartawan Peradaban Dunia, Thayeb Loh Angen (tiga dari kanan) dan sineas Irfan M Nur (dua dari kanan), menyerahkan bantuan dari Kaukus Wartawan Peduli Sayriat Islam (KWPSI) kepada Sri Maulita, yatim penderita bocor jantung asal Reubee, Kecamatan Delima, Pidie, yang kini ditampung sementara di rumah wartawan Harian Serambi Indonesia, Zainal Arifin M Nur, selama masa tunggu waktu operasi tiba di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA), Banda Aceh, (17/07/2014). Terlihat di foto (dari kanan): Abdullah, Irfan M Nur, Thayeb Loh Angen, Sri Maulita, Darma, Juliani, Ifra Munira, Humaira. Foto: Zainal Arifin M Nur.
Banda Aceh - Harian Serambi Indonesia memberitakan sebagaimana laporan Zainal Arifin M Nur, Sri Maulita (14), terlahir dalam keluarga miskin di Gampong Meunasah Daboh, Reubee, Kecamatan Delima, Pidie. Ayahanda daripada Sri Maulita yang bernama Mukhlis Ibrahim telah pun meninggal dunia pada bulan Ramadhan tahun 2011 lalu.

Sejak itulah Sri Maulita hidup bersama ibundanya Darma (32), abangnya Arismunandar (kini berusia 16 tahun dan berstatus siswa MAN Delima), serta adik perempuannya, Khairun Nisa Fitri (12). Dia bersama abangnya, terkadang juga adiknya yang kini duduk di kelas 6 MIN Reubee, ikut bekerja membantu sang ibunda sebagai pekerja upahan di sawah.

Awalnya semua berjalan sebagaimana biasa, sebagaimana kehidupan kebanyakan penduduk fakir dan yatim di pedalaman Aceh. Hingga sejak tiga bulan terakhir, tepatnya pada November 2013, Darma pun melihat perubahan pada diri puterinya.

Sri Maulita yang biasanya ceria pun sering terlihat murung dan kerap menyendiri. Maulita juga tidak lagi mampu mengayuh sepeda untuk menuju sekolahnya di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Gampong Aree, yang berjarak sekitar 3 kilometer dari rumahnya.


SRI Maulita, duduk di pangkuan ibundanya, Darma, ditemani sang adik Khairun Nisa, di rumah mereka, Gampong Daboh Reubee, Kecamatan Delima, Pidie, Jumat (31/01/2014).  Foto: Serambinews.com/Zainal Arifin.
Darma mengatakan bahwa terkadang dirinya menemukan Maulita menangis sendiri. Saat kelelahan waktu pulang sekolah, tubuhnya kerap bergetar dan suhu badannya panas. Du'a untuk kepulihan Sri Maulita masih pun diharapkan dari kita.serambinews.com

Fachrurrazi: Lagu Prang Sabi Ala Niken Harus Segera Ditarik dari Youtube

Written By Peradaban Dunia on Tuesday, July 15, 2014 | 6:50 AM

Lembaran Asli Hikayat Prang Sabi karangan Tgk Chik Pante Kulu. Foto: wikipedia.org
Banda Aceh – Mantan Aktivis GAM, memprotes keras terhadap dinyanyikannya Hikayat Prang Sabi yang merupakan syair pembangkit semangat perang di Aceh oleh Niken KDI dengan arransmen dangdut dan direkam untuk dikomersilkan.

“Syair Hikayat Prang Sabi pembangkit semangat perang di Aceh karangan Tgk Chik Pante Kulu yang telah dikumandangkan sejak masa peperangan dengan Belanda menjadi syair yang dihormati oleh seluruh rakyat Aceh. Tgk. Chik Pante Kulu merupakan Sosok tokoh Ulama Kharismatik Aceh yang dengan susah payah mengarang hikayat tersebut guna untuk membangkitkan semangat pejuang untuk mengusir Penjajah Belanda,” kata Fachrurrazi, di Banda Aceh, 14 Juli 2014.

Dia menyatakan, syair itu juga turut dikumandangkan oleh tentara GAM sebelum Penandatanganan MoU Helsinki. Namun, kata dia, tingkah Niken telah menjatuhkan marwah Hikayat tersebut.

“Kami kecewa ketika mendengar dan melihat Vidio klip Hikayat Prang Sabi yang dinyanyikan oleh Cut Niken. Itu merupkan penghinaan. Sebagai langkah damai, kami minta lagu tersebut segera ditarik dari youtube yang telah tersebar luas dan Cut Niken beserta krunya meminta ma’af kepada rakyat Aceh,” kata Fachrurrazi.

Fachrurrazi juga mengatakan, hal-hal yang menyangkut kebanggaan rakyat Aceh seperti Hikayat Prang Sabi, sebaiknya tidak dijadikan bahan komersial dan tempat mencari popularitas. HIkayat Prangsabi sangat berbeda dengan Hikayat-hikayat lainya. Kata dia, tidak wajar bagi Niken yang merupakan seorang penyanyi dangdut KDI untuk menyanyikan hikayat tersebut dengan bahasa Aceh yang tidak begitu fasih.

“Itu adalah lagu semangat perang, musik yang sesuai untuknya adalah orchestra atau marching band yang dinyanyikan oleh orang-orang yang benar-benar ahli dengan persiapan yang cukup, bukan dinyanyikan sembarangan untuk joget-joget dan mencari tenar sebagaimana yang dibuat oleh Cut Niken,” kata Fachrurrazi.

Fachrurrazi
Fachrurrazi menyatakan, dia dan rekan-rekan sama sekali tidak akan bernegosiasi dengan pihak ILA Production tentang lagu tersebut. Karena, menurutnya, itu bukan masalah kebebasan mengekspresikan seni, tetapi itu adalah masalah harga dari sebuah karya seni yang legendaris milik seluruh rakyat Aceh dari zaman ke zaman.

Fachrurrazi juga menekankan kepada pemerintah Aceh untuk menjaga keorisinalan hikayat tersebut agar tidak diutak atik oleh pihak-pihak tertentu.

“Sebelum masalah ini menimbulkan konflik yang meluas, kami minta, lagu itu segera dihapus dari youtube dan ILA Production bersama krunya meminta ma’af kepada rakyat Aceh,” kata Fachrurazi.

Aulia Fitri selaku Sutradara di ILA Production saat dihubungi Reportase kamarin 14/07/2014, malam via telpon seluler mengatakan, “ Bahwasanya lagu Hikayat Prangsabi Cipta Tgk. Chik Pante Kulu yang dinyanyikan oleh Cut Niken KDI itu merupakan Singel yang belum dijadikan sebuah Album.”

Saat ditanya mengenai kecaman dari sejumlah Aktivis tentang beredarnya Singel Hikayat Prang Sabi di Youtube yang dinyanyikian Cut Niken KDI, Aulia Fitri menjawab, “Bahwasanya makna lagu Hikayat Prang Sabi tergantung pola pikir, bagaimana yang menilainya.*

Doto dan Mualem Beda Pilihan, Terpecah atau Siasah?

Written By Peradaban Dunia on Friday, July 11, 2014 | 2:28 AM

Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda, 2 Nopember 1949.
Foto: indonesianfilmcenter.com
Pemilihan presiden Republik Indonesia (RI) yang telah dilangsungkan kemarin, 9 Juli 2014. Di Aceh, yang merupakan wilayah bekas perang pemberontakan, telah terjadi hal yang mengejutkan masyarakat Aceh, Indonesia, dan negara lainnya. Dua orang pemimpin tertinggi, secara terang-terangan menyatakan mendukung pasangan calon yang berbeda di antara dua pasangan yang tersedia.

Didukungnya pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) nomor urut 1 Probowo-Hatta oleh Muzakir Manaf atau Mualem yang merupakan Ketua Umum Partai Aceh (PA) sekaligus Wakil Gubernur Aceh telah dihujat sejak awal oleh beberapa pihak dan didukung penuh oleh pihak lainnya.

Dan tatkala, Zaini Abdullah atau Doto yang merupakan petinggi PA dan sekaligus menjabat sebagai Gubernur Aceh mendukung capres dan cawapres nomor urut 2 Jokowi-JK, maka orang-orang pun berteriak, Partai Aceh terbelah. Benarkah? Sesederhana itukah masalahnya?

Jawaban yang sebenarnya tidak akan pernah ditemukan karena jawaban ahli siasah (politik -red) –terlebih tatkala waktu pemilihan presiden hampir tiba- akan sarat pertimbangan kepentingan ke depan dan dukungan di masa kini. Baik Muzakir Manaf mahupun Zaini Abdullah, tidak akan menjawab apa yang sebenarnya terjadi, akan tetapi dapat diperkirakan bahwa kedua pemimpin Aceh tersebut akan menjawab, apa yang seharusnya diyakini oleh sekalian orang.

Marilah kita telusuri beberapa kabaran yang disiarkan oleh berbagai media. Muzakir Manaf, secara terus terang melarang rakyat di Aceh untuk mendukung Partai Demokrasi Indonesia – Perjuangan (PDI-P) dan calon yang dinaikkannya karena petinggi partai ini yang menjabat Presiden Indonesia kala itu memberlakukan Darurat Militer (DM) di Aceh pada 2003.

DM menyebabkan GAM terjepit dan banyak anggotanya bersama sebagian rakyat Aceh meninggal dunia. Pernyataan tersebut mengenyampingkan keberadaan Jusuf Kalla (JK) yang tatkala menjabat sebagai Wakil Presiden RI merupakan salah seorang yang memiliki andil besar terjadinya penandatanganan perdamaian GAM-RI pada 2005 di Helsinki, ibukota Finladia.

Sementara, sebagian orang tidak menyukai Prabowo karena ianya merupakan petinggi Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Indonesia tatkala diberlakukannya Daerah Operasi Militer (DOM) untuk Aceh (1989-1998) oleh petinggi partai Golongan Karya (Golkar) Suharto dengan mengirimkan Kopassus ke Aceh.

Marilah kita lihat perkara ini lebih dekat dengan timbangan bahwa ingatan merupakan hal yang penting.
Pembenci Jokowi karena petinggi PDI-P memberlakukan DM untuk Aceh akan mendukung Prabowo yang merupakan petinggi Kopassus tatkala anggota pasukan itu dikirim ke Aceh sebagai pelaksana DOM.

Itu memang ironis, yakni suatu kejadian atau keadaan yang bertentangan dengan yang diharapkan atau yang seharusnya terjadi, tetapi sudah menjadi suratan takdir. Keadaan ini bersifat ironi karena ‘pasta kebenaran’ yang diyakini dan diharuskan meyakini oleh pendukung dari kedua kubu tersebut bertentangan dengan keadaan yang sesungguhnya.

Bedasarkan apa yang telah dilakukan oleh keempat capres-cawapres atau partainya tersebut, Aceh tidak bisa berharap banyak tentang kemajuan dan kehormatan, siapapun yang terpilih di antara mereka. Aceh mesti memiliki kecerdasan, kegigihan, dan keberanian untuk bangkit dan berdiri tegak dengan tubuhnya sendiri.

Berdasarkan itulah, Aceh yang sudah pengalaman dikhianati oleh Indonesia, akan menghindari akibat buruk dari permainan tersebut. Dan, capres-cawapres yang hanya memiliki dua nomor urut membuat itu mudah dilakukan dengan aman.

Cara terbaik adalah, meyakinkan Jakarta bahwa Aceh mendukung kedua capres-cawapres tersebut sekaligus dengan memberikan bukti bahwa itu sikap yang sebenarnya, bukan kangkang lueng (mengangkangi parit, kakinya berada di kedua sisi parit sehingga akan dianggap bagian oleh kedua belah pihak).

Maka, wakil Gubernur Aceh mendukung nomor urut 1 dan Gubernur Aceh mendukung nomor urut 2 sehingga siapapun yang menang, Aceh akan dihitung sebagai pendukung presiden pemenang. Baru kali ini, Aceh mengambil langkah tepat untuk menghadapi permainan dari Jakarta, baik itu disengaja atau merupakan sebuah kebetulan, kebetulan yang terncana.

Aceh yang baru beberapa tahun selesai berperang dengan RI masih menjadi acuan bagi pemain Jakarta, seberapa jauh mereka berhasil meraih pendukung. Keadaan ini membuat Aceh tetap penting bagi partai nasional walaupun suara terbanyak untuk pemilihan di tingkat nasional berada di pulau Jawa dan kertas suara di Aceh tidak akan berpengaruh banyak untuk kemenangan.

Menyadari kenyataan seperti itu, Aceh tidak mahu lagi terjebak di dalam perangkap permainan Jakarta, maka menjadi tukang kangkang lueng adalah pilihan cerdas untuk menghadapi orang yang sudah terbukti sering mengingkar janjinya. Seandainya itu memang siasah petinggi Aceh, berarti Aceh sudah menguasai keadaan dan sudah siap untuk bangkit.

Siapapun yang disahkan terpilih dan dilantik sebagai presiden RI nantinya, Aceh tetap mesti berusaha keras untuk mendapatkan haknya. Itu telah dibuktikan oleh Aceh yang hampir seratus persen mendukung SBY sebagai presiden, tetapi sampai hari ini pembagian hasil migas dan bendera Aceh belum pun disahkan sebagaimana keinginan Aceh.

Dan, harapan kami kepada Tuan Gubernur Aceh Zaini Abdullah dan Tuan Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf, hendaknya kalian berdua yang telah dipercayakan sebagai pemimpin Aceh, meyakinkan kami sekalian rakyat bahwa Anda berdua bisa bekerja sama dalam hal apapun supaya Aceh bisa dibangun sebagaimana keinginan rakyat.

Pemilihan presiden RI telah selesai, dengan sendirinya pertikaian di antara kalian pun selesai. Sesederhana itulah harapan kami. Sapu kheun sapue pakat (seiya sekata -red) sebagaimana amanah indatu (nenek moyang –red), ingin kami lihat dari kalian berdua. Anda berdua, wahai Tuan Gubernur dan Tuan Wakil Gubernur adalah cerminan kami bagi orang luar.

Apabila baik kebijakan kalian, maka baiklah kami, apabila kalian bertindak salah, maka salahlah kami walaupun kami bertindak benar dalam kehidupan kami sehari-hari. Akan tetapi, karena telah memilih kalian sebagai pemimpin, maka kami ikut bertanggung jawab atas apa yang kalian lakukan.

Seorang penyair besar dari Persia yang bernama Sa'adi Shirazy pernah mengungkapkan, ‘Jika Sultan menganggap benar tindakannya mengambil sebagian telur secara paksa, maka pasukannya akan mengambil ribuan unggas dari panggangannya.’

Thayeb Loh Angen, Pemerhati Politik Aceh, Aktivis Kebudayaan di Pusat Kebudayaan Aceh-Turki (PuKAT).

Kepada Nasionalis Aceh yang Terasing

Written By Peradaban Dunia on Monday, July 7, 2014 | 8:30 AM


Engkau mahu mengajak kami mengangkat senjata lagi?
Simpanlah mimpi itu sebagai penghias tidur siangmu
di musim salju, dingin, dan gugur.

Lihatlah ribuan nyawa yang menghilang paksa,
telah pun disia-siakan,
alasan untuk peristiwa itu kini telah pun ditelan lagi
bagaikan ludah-ludah ular,
setetespun tidak terjatuh ke rerumputan.

Apabila tidak tahu berapa jumlah kematian
yang harus dilalui,
apabila tidak tahu kapan dan bagaimana itu harus berakhir,
janganlah memulai perang.

Apabila tidak mahu menggenggam bara
dengan tanganmu sendiri,
janganlah menyalakan api
di dalam gerimis dan angin kencang.

Sesuatu yang menghilang di atas meja
tidak akan ditemukan di medan perang
atau pidato yang menyala-nyala,
tetapi ianya akan ditemukan di meja yang lain.

Sudahkah engkau begitu terhormat sehingga
sekalian orang harus membuat meja itu kembali
dan engkau di sana mengambil yang telah menghilang?

Oleh Thayeb Loh Angen, Aktivis Kebudayaan.

Meura Farisa, Dara Bandar Aceh

Written By Peradaban Dunia on Friday, July 4, 2014 | 9:37 AM


Gambaran. Foto: kavehfarrokh.com
Halaman rumah Orang Kaya Maha Lila Selangsa pun senyap. Lampu-lampu jingga dari jalan berbaris bersambung dengan lampu di gerbang rumah panggung di atas tanah sepuluh petak. Meura Narindi dan Seulangsa sudah dari tadi tidak bergerak di kamar depan. Lima tentara penjaga di gerbang berbicara pelan.

Meura Farisa mengambil pedang dan panah, lalu melompat ke kandang kuda. Binatang itu tidak meringkik melihat wajah tuannya, dan sudah terbiasa diajak mengelilingi kota tengah malam. Dara itu melepaskan kuda hitam dan menunggangnya melewati gerbang. Empat orang penjaga berdiri menghormat dan mencegat Meura Farisha.

“Baginda Orang Kaya Maha Lila Selangsa Seulangsa memerintahkan kami agar tidak mengizinkan Po Cut keluar tatkala malam,” penjaga itu berkata mantap, tapi suaranya bergetar, takut dihajar Meura Farisha yang terkenal suka memukul siapa saja.

“Jika itu engkau lakukan, besok kuminta ayahanda memindahkan tugasmu ke Indra Puri, di sana engkau bisa mencegah gajah yang terantai,” Meura Farisha tidak bergerak di atas punggung kuda hitamnya. Penjaga yang mencegat tadi menoleh empat temannya yang mengangkat bahu.

Penjaga pencegat tidak bergerak. Mereka berpikir, kalau memaksa mencegat si dara, pasti mereka tidak bisa menang melawannya dan besok mereka akan dipindahkan ke Indra Puri, kalau mereka membiarkan Meura Farisha pergi dan Orang Kaya Maha Lila Selangsa tahu, maka besok mereka akan dimarahi tetapi tidak dipindah tugaskan karena Meura Farisha memaksa, tetapi itu akan mencemarkan nama baik mereka sebagai ksatria.

‘Awas!” Meura Farisha memacu kuda hitamnya memembus barisan empat orang penjaga. Keempat lelaki itu terpaksa melumpat ke rerumputan, lalu segera mengadukan kejadian itu akan Orang Kaya Maha Lila Selangsa yang tengah tidur di ruang utama rumahnya. 

Bila jenuh di rumah, dia keluar dan berkuda sampai mulut binatang itu berbusa. Jalan-jalan berkerikil campur tanah itu mengepulkan debu. Dara itu melewati pangkalan tentara penjaga istana, menuju Keutapang. Dia menghentikan kuda. Pangkalan tentara istana senyap. Tidak ada tentara yang berkeliaran selain sepuluh orang tentara penjaga yang bersantai-santai di gerbang seperti biasanya.

Meura Farisha menuju sudut terjauh dari gerbang dan menambatkan kuda, lalu memanjat dinding pangkalan tentara istana, setinggi seorang dewasa. Tidak ada tentara yang berkeliaran. Dia mengendap-endap, menuju lapangan tengah, tempat biasanya tentara berkumpul. Tidak ada orang. Dara itu melewati lapangan tengah, menuju ruangan tertutup, tempat rapat tentara Istana. Sebuah lampu menyala di ruangan luas itu, puluhan lampu lain tidak dinyalakan.

Dari celah dinding tampak Beurehoi dan tiga perwiranya berbincang. Meura Fasrisha mendekatkan kuping ke lubang itu. Samar-samar terdengar perbincangan itu.

“Keluarga Sultan Iskandar Muda harus didiamkan lebih dulu, lalu pengumuman, saat Sultan kembali, dia telah kehilangan tahta kesultanannya, dan kita hapuslah dia dari sejarah,” Beureuhoi menatap tiga perwira di depannnya.

“Kapan kita mulai?”

“Selain malam ini, saat semua senyap dan terlelap, dan begitu terbangun, mereka melihat sejarah telah berubah.”

Meura Farisha pucat mendengar rencana Beurehoi. Gadis berambut bergelombang itu mengendap dan menjauh dari ruangan itu. Tapi begitu sampai di lapangan, dua orang tentara menghadangnya.

“Tidak boleh ada yang tahu aku ke sini,” Meura Farisha mencabut pedang dan berlari kencang seraya menebas dua tentara yang menghadangnya. Dua tentara itu menghindar, tapi lengan mereka tergores. Dara itu menaiki dinding pangkalan tentara istana cepat-cepat dan menuju kuda hitamnya. Kuda hitam pun melesat.

Penjaga pangkalan tentara istana telah mengetahui penyusupan dan mengenal Meura Farisha, tidak ada perempuan lain yang membawa pedang dan panah di Bandar Aceh. Beureuhoi memerintahkan ratusan tentara untuk mengejar Meura Farisha dan ratusan lainnya menjaga sekeliling rumah Seulangsa. Ribuan tentara lain sedang berlatih sebagai persiapan untuk kudeta di Pantai Ule Lheue.

Meura Farisha memacu kuda ke perkampungan. Ratusan tentara yang mengejarnya pun kehilangan jejak.

Kalau pun dara itu tidak masuk ke jalan-jalan kecil perkampungan, kuda hitamnya tidak mampu dikejar oleh kuda manapun di negeri ini. Meura Farisha menikung ke kebun mangga di tepi persawahan. Baru sesaat di sana, dia pun berhenti, rombongan pasukan kuda pengejarnya melewati jalan di depannya berdiri, sekira dua ratus langkah. Meura Farisha memacu lagi kuda ke arah yang tadi dia lewati, dara itu memilih jalan perkampungan supaya tidak melewati pangkalan tentara istana.

Di jalan perkampungan, dia menghentikan kuda, membiarkan rombongan gajah lewat. Baharu beberapa saat memacukan akan kudanya, sebuah kawanan gajah pun lewat lagi. Meura Farisha berhenti, tidak berani berhadapan dengan gajah. Dia termangu di atas punggung kuda, dia berpikir, jika dirinya berhenti terus di sana, kawanan gajah bisa saja melintasinya, bila dia kembali ke jalan yang telah dilewati, kawanan gajah bisa saja sudah ada di sana, bila dia meneruskan perjalanan, kawanan gajah bisa saja sudah ada di depan. Tidak ada yang bisa dilakukannya. Dara itu tidak mengerti  mengapa gajah-gajah bisa berkeliaran.

“Aku harus cari tempat bermalam,” Meura Farisha meneruskan perjalanan, memilih terus diam di sana atau mundur sama akibatnya dengan maju. Jalan-jalan perkampungan lewat, dia memasuki pusat bandar kembali. Namun, begitu tiba di persimpangan dekat pohon meranti sebesar gajah, dia tersentak dan menghentikan kudanya.

Pasukan berkuda telah menghadang.

“Engkau menyusup ke pangkalan tentara istana, kami harus membawamu ke Panglima Beuruhoi,” seru seorang tentara yang berdiri paling hadapan.

“Boleh sahaja jika engkau bisa,” Meura Farisha mencabut pedang tanpa turun dari punggung kuda hitamnya.

Tentara yang berdiri paling hadapan pun mundur dan mencabut pedang, disusul  oleh ratusan tentara  lain.
Selama ini mereka hanya mendengar cerita bahwa ada seorang dara di lingkungan istana yang ahli ilmu perang, tetapi tidak mahu menjadi tentara. Dan, dara itu suka berkelahi dengan siapapun. Inilah kesempatan bagi mereka untuk membuktikan apakah cerita itu benar atau tidak.

Pertarungan Meura Farisha melawan ratusan tentara itu pun terjadi di persimpangan Lambaro. Manakala pertempuran itu terjadi, sekawanan gajah melintasi kebun-kebun di sekitar. Penduduk yang yang tadinya terlelap di rumah masing-masing, kini terjaga.

Meura Farisha menebas satu persatu tentara yang menghadangnya. Bau darah menyebar di bawah keremangan purnama di persimpangan itu. Kuda tentara yang tewas pun meringkik dan melesat ke jalan mana saja tanpa arah. Bagi kuda, kehilangan tuan berarti kehilangan tujuan. Setelah sebagian tewas dan tergeletak di jalan, seorang tentara menyerukan mundur. Maka, ratusan tentara itu menunggang kuda ke arah yang berlawanan dari Meura Farisha muncul tadinya.  

Dara itu pun menyeka akan keringatnya, mengelap pedang dengan dedaunan di tepi jalan seraya memandang ratusan tentara yang menghilang di hujung jalan dalam keremangan purnama. Mayat-mayat bergelimpangan di persimpangan itu. Dia menyentakkan akan tali kekang kudanya, dan binatang terlatih itu pun melangkahi mayat-mayat, menuju jalan yang darah tidak tumpah di sana.

Meura Farisha terus memacu kuda ke pusat Bandar Aceh Darussalam, mencari rumah bermalam. Tetapi tidak jadi, jika ke penginapan, tentara Beuruhoi mudah menemukannya. Maka, dia pun menikung ke Darussalam, dekat perguruan tinggi antara bangsa yang disebut Dayah.

“Beureuhoi harus dicegah,” desis dara itu seraya memacu kudanya.

***
Cerpen oleh Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan di Pusat Kebudayaan Aceh – Turki (PuKAT), penulis novel Teuntra Atom, novelnya yang berjudul ‘Aceh 2025’ dalam proses penerbitan.
Cerita ini telah disiarkan di Suara Darussalam keluaran bulan I Tahun 2014. Ianya adalah penggalan dari naskah novel berjudul ‘Penakluk dari Timur’ yang ditulis sejak 2010, belum diterbitkan.

Erdogan dan Kesiapan Masyarakat Turki

Written By Peradaban Dunia on Tuesday, July 1, 2014 | 10:36 PM

Masyarakat Turki yang telah tercerdaskan menyadari bahwa AKP dan Erdogan memiliki kekurangan, tetapi apabila mereka tidak mendukung Erdogan dan AKP-nya, maka kemalangan seperti Libya, Irak, dan negara lainnya yang akan dialami, dan itu merupakan hal pantang. 



Jatuhnya pemerintahan Suharto di Indonesia, Pakistan, Afghanistan, Saddam Husein di Irak, Muammar Khadafi di Libya, Tunisia, Husni Mubarak di Mesir merupakan sebuah mata rantai penghancuran yang dilakukan oleh pihak Barat terhadap negeri berpenduduk muslim terbanyak yang mulai bangkit.

Penghancuran itu didahului dengan membentuk opini masyarakat dunia melalui media-media yang mereka kuasai yang dibantu oleh orang dalam yang telah dibayar. Tatkala negara-negara tersebut semakin kuat di dalam bidang politik dan ekonomi, niscaya mereka dihancurkan dengan tangan anak bangsa mereka sendiri yang bisa disuap dan punya kesakit hatian terhadap pemimpin.

Di antara rangkaian itu, hanyalah Turki di bawah pimpinan Perdana Mentri Erdogan yang mampu menghadapi serangan opini Barat dengan bertahan, menenerjemahkan, menyerang balik, dan maju. Apa kekurangan negeri-negeri berpenduduk Islam lain dan apa kelebihan Erdogan di Turki?

Di antara sekian banyak penyebab, yang paling mendasar adalah, sejak awal Erdogan telah menyiapkan masyarakatnya untuk berjiwa merdeka sehingga menyakini bahwa kepentingan Turki ditentukan oleh orang Turki sendiri.

Keberhasilan Erdogan menjaga kedaulatan Turki pun berkaitan dengan yang dilakukan oleh Mustafa Kemal Attartuk (Bapak Turki) dan Erbakan sebelumnya, bahwa kedaulatan Turki di atas segalanya. Namun, kesipapan masyarakat Turki yang dibina oleh Erdogan mampu menendang semua pendapat yang bernilai fitnah tentang keburukan pemerintahannya.

Masyarakat Turki yang telah tercerdaskan menyadari bahwa AKP dan Erdogan memiliki kekurangan, tetapi apabila mereka tidak mendukung Erdogan dan AKP-nya, maka kemalangan seperti Libya, Irak, dan negara lainnya yang akan dialami, dan itu merupakan hal pantang.

Dengan jiwa nasionalisme yang tinggi, masyarakat Turki menepis segala isu dan mengambil sikap untuk mendukung pemimpin mereka yang telah menguatkan politik dan ekonomi Turki sehingga dalam sepuluh tahun terakhir menjadi negara yang berwibawa kembali sehingga kegemilangan Romawi Timur (Bizantium) dan Usmani pun bisa dikembalikan.

Manakala saya melihat di video yang disiarkan di berbagai media dunia yang mempertunjukan Erdogan mengambil bendera Turki yang diletakkan di lantai halaman di pertemua G20, saya meyakini bahwa sampai kapanpun Erdogan akan didukung oleh rakyat Turki, karena Turki memiliki nasionalisme yang tinggi dan amat sangat mencintai bendera mereka.

Apabila merunut akan kegemilangan masa silam yang pernah memimpin peradaban dunia, Irak memiliki Mesopotania dan Abbasiah, Mesir memiliki Fir’un, Pakistan adalah Pesia, dan sebagainya walaupun itu berada di jauh zaman sebelum Bizantium dan Kekhalifahan Turki Usmani dengan ibukotanya Konstantinopel (Istanbul sekarang).

Dengan kenyataan ini, Aceh yang pernah memiliki peradaban Samudera Pasai dan Aceh Darussalam, masih seperti anak elang kebilangan induknya dan bersama ayam setelah 1873 sampai sekarang. Ini membuktikan bahwa kegemilangan masa lalu memang penting, tetapi tidak cukup untuk membangun peradaban dan kekuatan di masa sekarang dan di masa hadapan. Kesiapan masyarakat sekaranglah yang lebih utama. Dan, Turki memiliki itu.

Indonesia, yang telah runtuh karena reformasi yang didahului oleh fitnah akan Suharto, belum pun bisa bangkit. Dan masyarakat sekarang bisa merasakan bahwa Indonesia telah ditipu dengan isu reformasi palsu. Yang ada setelahnya hanyalah kekacauan ekonomi dan politik, saham-saham penting negara harus dijual akan asing, dan yang lebih parah, munculnya media massa yang dikuasai asing.

Dan krisis Asia Tenggara pada 1998 hanya untuk menjatuhkan Suharto karena Indonesia telah kuat di bidang militer dan ekonomi. Bagaimana tidak, perusahaan dirgantara negara yang dibangun oleh Habibie telah membuat pesawat air bus tercanggih di dunia. Amerika pun takut karenanya.

Suharto tidak menyiapkan masyarakatnya. Begitupun Aceh, GAM tidak menyiapkan masyarakat Aceh sehingga pada halauan ratusan ribu orang di Banda Aceh pada 1999 atas nama referendum, tidak menuntut referendum setelah mereka berkumpul. Begitupun setelah penandatanganan damai dengan NKRI pada 2005, sampai sekarang Aceh tidak secara mutlak memilih partai yang dibentuk oleh pejuang GAM.

Apakah Kesiapan Masyarakat itu?

Kesiapan masyarakat adalah sikap dan tindakan rakyat tanpa dikomando mampu menentukan pilihannya sendiri dan menepis isu dan pendapat (opini) yang dibentuk oleh media massa sehingga mereka tetap tunduk akan pemimpin yang membela kepentingannya.

Turki memiliki hal tersebut sehingga tetap memilih partai AKP pimpinan Erdogan dalam pemilihan kepala wilayah bulan Maret lalu di tengah memanasnya fitnah yang dilakukan oleh media Barat.

Oleh Thayeb Loh Angen, Aktivis Kebudayaan di Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT).

Bahaya Film dan Game Amerika

Written By Peradaban Dunia on Monday, June 30, 2014 | 8:30 PM

Lembah Hollywood. Foto: blog.ub.ac.id
Sebagian besar penduduk Indonesia diperkirakan pernah menyaksikan film buatan Hollywood, Amerika Serikat oleh karena serangan pasar film asing ke televisi Indonesia dimenangkan oleh Amerika, Cina, dan India. Ketiga negara besar dan kuat tersebut sama-sama membuat propaganda melalui film, namun kita membicarakan Amerika semata karena cara negara inilah yang terbilang kasar.

Terbilang kasar? Ya. Seni di dalam film Amerika tidak sehalus yang dikatakan oleh orang-orang. Film-film yang dihasilkan dari lembah Hollywood sering menampilkan bangsa lain selain Amerika dan agama lain (terutama Islam) selain agama terbanyak penganut di sana sebagai masyarakat rendahan. Selain mengampanyekan budaya mereka, sekaligus merendahkan yang selain mereka –ini tidak dilakukan oleh Cina dan India melalui Hongkong Film dan Bollywood.

Inti daripada propaganda Amerika di dalam film-film tersebut menerangkan bahwa negara yang belum ada tatkala Aceh Darussalam menjalani zaman kegemilangan itu memiliki tentara yang hebat dengan senjata tercanggih. Dan di sana mereka mengampanyekan budaya mereka seperti perzinahan (sex bebas), minun alkohol dan suka menyerang negara lain adalah hal yang baik.

Selama masih menonton film Hollywood, secara tanpa sadar, orang-orang akan termakan dengan propaganda tersebut. Namun, bagi orang yang mahu berpikir dan mengetahui sisi lain daripada gaya Amerika, ia akan tahu bahwa film-film Hollywood berisi kepalsuan untuk menipu penduduk dunia.

Sebagai contoh, sudah amat sangat jelas bahwa Amerika kalah total ketika berperang dengan Vietkong di Vietnam, namun mereka tetap saja menipu dengan Film Rambo dan lainnya, menciptakan legenda palsu. Lihatlah di setiap film-film itu, selalu saja diperlihatkan bendera Amerika dan hampir rata-rata memperlihatkan salib –apakah ini ada kaitannya dengan Perang Salib?

Film-film itu didukung oleh negara dan disesuaikan dengan kepentingan politik dan agama negara. Begitupun di India, negara mendukung pembuatan film-film yang kemudian di kumpulkan di Bollywood Mumbai, sebelum dipilih yang mana disiarkan ke seluruh dunia dan yang mana Cuma untuk orang India di sana. Itu sebagai senjata India untuk mengampanyekan budayanya –dalam melawan Cina dan Barat.

Hongkong, yang lebih dahulu maju di bidang film daripada India, melakukan hal yang sama. Ini bagaikan bumi dan langit apabila dibandingkan dengan yang terjadi di Aceh. Pemerintah akan heran dengan belanja yang ratusan juta Rupiah –apalagi milyaran- untuk sebuah film dokumenter sejarah, misalnya.

Kata pejabat-pejabat itu, film tidak bisa dipertanggungjawabkan karena tidak berbentuk benda sebagaimana jalan, bangunan, jembatan dan sebagainya. –Mendengar jawaban tersebut, kita merasa ada sesuatu yang menghiris-hiris di badan, makanya jangan pilih ‘lutung’ menjadi pemimpin daerah, anggota dewan, dan PNS.

Apa akibat-akibat buruk dari disaksikannya film Hollywood oleh masyarakat Islam? Hal yang paling nyata adalah mereka akan mendukung liberalisme, perzinahan, mengatakan orang Islam (terutama yang di seputaran Timur Tengah ) sebagai teroris, anti partai atau negara berdasarkan Islam, dan lainnya.

Ketika menyaksikan film Hollywood, umat Islam sendiri bersurak-sorai tatkala tokoh utama menganiaya umat Islam yang disebutkan sebagai teroris yang dibuat berperangai buruk di dalam film tersebut. Kini, bila diperhatikan, Amerika tengah mengampanyekan sihir melalui film Hollywood-nya. Itu, sebagaimana kekerasan, perzinahan, dan semacamnya adalah hal yang bertentangan dengan fitrah kehormatan manusia sehingga dilarang oleh Islam.

Sekarang, apabila mendapatkan film Hollywood yang secara kasar mengampanyekan kepentingan dan agama Amerika, perut saya langsung terasa mual seperti di dekat kubangan tinja (septy Tank) yang terbuka. Yang ironis, umat Islam sengaja membeli televisi dan benda serupa untuk menonton siaran-siaran yang membuat dirinya kehilangan jati diri.

Indonesia yang penduduknya terbanyak Islam malah memiliki perusahaan film yang dikuasai oleh kapitalis yang berpikiran liberal yang cenderung membuat film dengan kualitas rendah -terbanyak sinema elektronik (sinetron)- yang mengedepankan perzinahan dan keserakahan. Lebih kurang, perfilman Indonesia sama menjajahnya dengan yang datang dari luar, namun kualitas, filosofi, dan seninya jauh lebih buruk.

Menyaksikan (menonton) film-film dan sinetron itu, bukan saja menyita waktu yang sedikit diberikan oleh Tuhan, tetapi ianya juga bagaikan racun yang merusak iman sebagaimana api di dalam sekam, tidak terlihat tetapi perlahan-lahan mampu membakar sampai semuanya menjadi abu.

Nyatalah bahwa film dan apapun media audio visual, termasuk games adalah media propaganda terbaik di zaman ini. Amerika memanfaatkan hal ini untuk mengelabui kita. Mengapa kita tidak melakukannya untuk memperkuatkan diri dengan membuat film dan games yang mengangkat martabat Aceh?

Oleh Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan di Pusat Kebudayaan Aceh-Turki (PukAT)

Mahasiswa Aceh Raih Master dengan Nilai Tertinggi di Universitas Al-Azhar

Written By Peradaban Dunia on Saturday, June 28, 2014 | 11:44 PM

Sidang Iva Aulia Trisnadi. Foto: Doc. Suara Al-Azhar.
Kairo - Tidak seperti biasanya, Universitas Al-Azhar (24 Juni 2014) menggelar Sidang Tesis Magister selama hampir 6 Jam dari Jam 17.00 – 23.00 di Kampus Fakultas Bahasa Arab Universitas Al-Azhar Darrasah Cairo, padahal pada umumnya sidang tesis maupun disertasi berkisar antara 2-3 jam. Adalah Ivan Aulia Trisnadi, Lc., Mahasiswa Indonesia asal Aceh Darussalam yang mengalami sidang dengan durasi waktu paling lama tersebut, untuk meraih gelar Master of Art, jurusan Balaghah.

Ivan Aulia pada akhirnya dinyatakan lulus dengan nilai Summa Cumlaude dan penghargaan serta rekomendasi agar tesisnya diterbitkan oleh perguruan tinggi dan dibagikan kepada seluruh perguruan tinggi di Mesir dan negara-negara Arab. Ini adalah nilai tertinggi untuk gelar master di Universitas Al-Azhar, dan sangat jarang mahasiswa yang meraih gelar yang sangat prestisius ini, termasuk mahasiswa Mesir sendiri.

Sebelum sidang tesis dimulai, Pembimbing utama penulisan tesis ini Prof. Dr. Ibrahim Mohamed Abdellah al-Khuly, dalam sambutannya antara lain memuji dan menyatakan bahwa Ivan Aulia adalah mahasiswa yang tekun dan sangat sabar dalam menyelesaikan tesisnya. Penelitiannya untuk menyelesaikan tesis berjudul "Attasybih baina el-Haqiqah wal Majaz" ini dIselesaikan dalam waktu selama 6 tahun. Bukan waktu yang pendek memang, tetapi hasilnya sangat bagus dan bermanfaat.

Lamanya sidang di hadapan 4 orang Guru Besar Penguji tersebut bukan karena kekurang matangan hasil penelitian, tetapi lebih karena keinginan para penguji untuk menyempurnakan hasil penelitian tersebut menjadi hasil karya yang monumental, termasuk bagi Fakultas Bahasa Arab Universitas tertua di dunia ini. Maka tak heran jika semua penguji mencoba memberikan kritik dan saran hampir di setiap halaman tesis setebal 500 halaman lebih tersebut.


Sidang tesis juga dihadiri oleh Dr. Fahmy Lukman, M. Hum., Atase Pendidikan KBRI Cairo, M. Nur Salim, Sekretaris III Pensosbud KBRI Cairo, Prof. Dr. Syamsul Hadi, S.U., M.A, Guru Besar Linguistik FIB Universitas Gadjah Mada, para dosen Fakultas Bahasa Arab Al-Azhar dan mahasiswa-mahasiswi Indonesia, Mesir dan Mahasiswa Asing lainnya yang diperkirakan berjumlah 250 orang.atdikcairo.org

Seni Gerakan Kebudayaan dan ‘Mencuri Kambing’ Ala Sun Tzu

Written By Peradaban Dunia on Tuesday, June 24, 2014 | 6:38 PM

Anda harus menjadi perubahan yang Anda ingin saksikan di dunia.
-Mahatma Ghandi, Filsuf India


Di masa Orde Baru berkuasa, kebudayaan Aceh dikikis perlahan bagaikan riak-riak dan ombak mengikis pasir di pantai. Nilai-nilai Islam menjadi hal yang jauh dan hampir menjadi tabu dibawa ke hadapan khalayak, apalagi ke dalam pemerintahan. Sekulerisme yang dijalankan di negeri berpenduduk Islam terbesar di dunia, yakni Indonesia, lebih lagi di Aceh, jauh lebih buruk daripada di negeri lain yang berpenduduk Islam.

Republik Turki, yang juga berpenduduk terbanyak Islam dan memakai sistem negara sekuler, tidak seburuk Indonesia. Umat Islam, terutama di Aceh semestinya bersyukur karena Hasan Di Tiro membakar semangat kebangsaan Aceh sejak 4 Desember 1976, yang dengannya Islam terangkat karena kebudayaan Aceh dan Islam telah menyatu selama ratusan tahun.

Hasan Di Tiro tidak membangkaitkan Pan Islamisme sebagaimana Daud Beureueh, tetapi ianya mengangkat Acehisme. Acehisme lebih bisa diterima oleh negara-negara sekuler yang menjadi penguasa di PBB. Namun, Negara Aceh sebagaimana Timor Leste tidak akan pernah disetujui oleh Negara-negara kuat tersebut karena mereka tahu apabila Aceh tidak lagi di bawah RI, Islam di Asia Tenggara akan mencapai kejayaannya kembali sebagaimana sejarah telah membuktikannya selama ratusan tahun.

Orang harus berpikir waras supaya bisa melihat semua sisi baik dari apa yang sudah dibuat oleh Hasan Di Tiro. Maka, paranoid yang hanya membaca beberapa berita atau buku tentangnya akan menjadi orang yang tersesat di antara hutan belantara sejarah.

Lalu, apa hubungannya gerakan kebudayaan di Aceh di zaman sekarang dengan Hasan Di Tiro yang menyatakan bahwa sejarah lebih kuat daripada ribuan senjata? Menjawab pertanyaan ini, tidaklah sesederhana yang dipikirkan oleh orang. Apabila dikatakan tidak, maka orang-orang tersadarkan akan sejarah dan mengurusnya seraca khusus setelah perdamaian dari perang yang dinyalakan oleh Hasan Di Tiro.

Apabila dibilang memang terkait, maka bukti menyatakan sebaliknya secara telak. Hasan Di Tiro, sebagaimana di dalam dramanya ‘The Drama of Achehnese History 1873-1978, hanya memusatkan perhatian pada sejarah dan keadaan Aceh dari 26 maret 1873 ke depan.

Sementara gerakan kebudayaan yang muncul sekarang lebih tertarik memusatkan perhatian pada masa kegemilangan Aceh Darussalam dan Samudra Pasai (Abad XII – abad XVII Masehi) yang di masa itu menjadi pusat peradaban Islam di Asia Tenggara.

Keadaan satu lagi yang menyatakan bahwa gerakan kebudayaan sekarang terpisah dari perjuangan Hasan Di Tiro adalah sikap orang KPA dan PA yang menisbahkan dirinya sebagai penerus ideologi Hasan Di Tiro tidak menganggap gerakan kebudayaan yang dilakukan oleh beberapa organisasi kebudayaan di luar pemerintah sebagai hal penting.

Dunia tahu bahwa Hasan Di Tiro suka menulis dan seorang pembaca buku. Kini, apakah orang-orang yang disebutkan sebagai pengikutnya suka membaca buku dan apakah mereka juga suka menulis? Hasan Di Tiro, pada awalnya membuat gerakan intelektual, bukan gerakan militan. Namun yang berkembang adalah sayap yang militan. Sementara di zaman ini, otak lebih mahal daripada tenaga. Simpan Rincong Ambil Pena.

Penelitian tentang tinggalan Samudra Pasai yang dilakukan oleh CISAH (Central Information for Samudra Pasai Heritage) –sebuah organisasi yang dibentuk oleh Taqiyuddin Muhammad- (kini juga tengah meneliti tinggalan Aceh Darussalam) dan beberapa organisasi lain yang muncul hampir sezaman, tidak mendapat perhatian dari pemerintah Aceh dan dan Kabupaten/Kota sebagaimana seharusnya, yang penjabat-penjabat itu hampir semuanya dikendalikan oleh KPA dan PA.

Sebagai contoh, Muhammad Thaib (cek mad), tokoh yang dibesarkan oleh GAM, yang dinaikkan oleh PA sebagai bupati Aceh Utara periode 2012-2017, telah bertemu dengan Taqiyuddin Muhammad dan kawan-kawan di dalam sebuah acara resmi, dan di hadapan rakyat ia mengatakan puja-pujian tentang penelitian itu.
Lalu setelahnya, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Hasil-hasil penelitian tersebut tidak disiarkan -apalagi mendukung penelitian selanjutnya- oleh pemerintah Aceh Utara di bawah kepemimpinan Cek Mad.

Apakah seorang bupati tidak bisa dipercaya lagi kata-katanya, ataukah ada pembisik di sekelilingnya yang sengaja merusak dengan halus, kita tidak tahu. Kejadian serupa juga terjadi di pemerintah kota Banda Aceh dan Dinas Kebudayaan Aceh.

Kejadian-kejadian tersebut mengingatkan saya tentang sebuah kisah yang terjadi di Paloh Dayah, pada suatu masa.

Pada tahun Jim, ada sekumpulan orang yang mencari bibit gaharu dan cendana untuk diselamatkan dan diperbanyak. Tetapi alangkah terkejutnya mereka manakala sampai di sebuah hutan yang dipenuhi oleh pohon gaharu dan cendana. 

Di dalamhutan itu ada sekawanan monyet yang mencabut-cabut benih kayu berharga itu, mematahkan cabangnya, meluruhkan daun-daunnya untuk digigit-gigit dan disemburkan kembali; monyet-monyet itu membuang berak di atas cabang dan daun-daun yang telah tercabut, sebagian mereka bergelantungan di cabangnya, merusak tunas di semua dahan dan batang yang hampir kering.

“Dasar monyet!” teriak kafilah penyelamat gaharu. 

“Begitulah pohon berharga di tangan sekalian monyet,” pikir mereka. 

Saya tidah tahu, apakah aktivis kebudayan sekarang akan meilai begitu kepada orang dinas kebudayaan.

Maka, di manakah benang merah itu terputus atau tersambungkan?

Kesalahan yang dilakukan oleh petinggi GAM adalah tidak menyiapkan anggotanya dan masyarakat Aceh untuk mencintai Aceh bersama apa saja warisan indatu (nenek moyang). Kesalahan ini terjadi karena kurangnya pengetahuan oleh pelaku. Sampai sebelum perjanjian damai15 Agustus 2005, yang diseru-serukan adalah melawan kezaliman pemerintah, bukan memperkuat masyarakat Aceh.
Di dalam seni perang Sun Tzu, salah satu pasalnya dari 36 pasal, yakni

 “Mencuri kambing di sepanjang perjalanan.” 

Ini bermakna, di sepanjang jalan untuk mencapai tujuan akhir yang besar, pejuang mesti memanfaatkan peluang kecil itu untuk mengambil sesuatu yang dengannya pasukan bisa bertahan dan tujuan besar tersebut mudah untuk diraih, atau supaya apabila tercapai ia tidak akan terlepas lagi.

Namun, yang ironis dan tragis, pasal tersebut dipahami dengan ‘mencuri kambing’ secara harfiah. ‘Kambing-kambing’ yang dicuri tersebut bisa dalam bentuk meminta bagian dari sebuah pengerjaan (proyek) dari pemerintah atau lainnya tanpa bekerja, bisa berupa pembagian uang aspirasi anggota dewan, bisa lain-lainnya. Dengan kejadian tersebut, pejuang pun menjadi pencuri kambing dan melupakan tujuan akhirnya, yakni membuat bangsa kembali bermartabat.

Artinya, waktu sebagian dari orang-orang ini disibukkan dengan memperkaya diri, dan untuk menyikapi ketidak adilan -yang kini mereka pun telah menjadi penyebabnya- mereka akan mencari-cari kesalahan pihak lain, tanpa mengakui kesalahan diri, bahkan membenarkan kesalahan diri.

Sudah dua periode orang-orang ini menguasai pemerintahan, apakah visi misi membangun Aceh berjalan sepenuhnya, apakah korupsi semakin berkurang ataukah semakin bertambah? Bagian-bagian dari ideologi Acehisme itu memang masih menjadi barang dagangan yang diminati oleh pasar.

Di dalam setiap perjuangan, ada pejuang, sesuatu yang diperjuangkan, untuk siapa diperjuangkan, dan siapa musuh bersama. Sekalian aktivis kebudayaan yang terbagi di dalam beberapa organisasi adalah pejuangnya, yang diperjuangkan adalah penggalian filsosofi dan penyelawatan dari warisan indatu (nenek moyang Aceh) dan pengenalannya akan orang Aceh dan penduduk dunia.

Dalam hal tersebut, yang diperjuangkan tersebut adalah untuk orang Aceh sekarang dan generasi dunia selanjutnya. Musuh bersama adalah perusak warisan tersebut, baik yang berbentuk benda mahupun bukan berbentuk benda serta orang yang berkuasa dan berkewajiban menyelamatkannya (pemerintah) tetapi tidak menyelamatkannya.

Sebaiknya kita mengenali diri sendiri, apa yang kita perjuangkan, untuk siapa kita perjuangkan, dan siapa musuh kita bersama, dan bagaimana membuat musuh itu bisa menjadi kawan yang baik, sebagaimana seorang bijak menasehati kita bahwa satu orang musuh sudah banyak dan seribu orang teman masihlah sedikit.
Oleh Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan di Pusat Kebudayaan Aceh – Turki (PuKAT)

Antara Makam Al-Qahhar Yang Agung dan Titik Nol Banda Aceh yang Berbau Busuk

Written By Peradaban Dunia on Sunday, June 22, 2014 | 12:25 AM

Antara Tiang-Tiang Athena, Darul Hikmah Baghdad, Dinding Konstantinopel, Halaqah Samudera Pasai, dan Dermaga Krueng Aceh

Salam’alaikum ya ahlil qubur
Tafakkur kami di sini
Engkau telah pun membina peradaban luhur
Tersungkur negeri di tangan kami.

Peneliti Islam Taqiyuddin Muhammad (dua dari kiri) menjelaskan makna kaligarafi di makam Sultan Alaidin Al-Qahhar Yang Agung di Kandang XII, Banda Aceh, 19 Juni 2014. Terliaht di foto: Sukarna Putra (kiri), Saiful (dua dari kanan), Thayeb Loh Angen (kanan).  Foto: Irfan M Nur.
Malam yang bersejarah itu ialah Jumat, 19 Juni 2014. Kami mengunjungi Kandang XII tempat bersemayamnya sultan-sultan kami yang agung. Setelahnya, kami bertujuh pun mengunjungi Titik Nol Banda Aceh yang berbau sampah sehingga siapapun yang ke sana akan merasakan perutnya mual-mual, bahkan muntah. Tetapi beberapa media menyiarkan bahwa titik itulah kebanggaan kota Madani Banda Aceh. Ironis, demikian istilahnya.

Salah satu jasad yang terbaring di Kandang XII adalah milik sultan besar Aceh Alaidin Al-Qahhar Yang Agung. Beliaulah yang mengirimkan utusan ke Konstantinopel (Istanbul) di bawah pimpinan Orang kaya Maha Raja Lela Umar dan Husen dalam masa sekitar tahun 1560-an Masehi. Itulah peristiwa yang dikenal dengan Lada Sicupak, yang karenanyalah Aceh semakin kuat dalam mempertahankan kedaulatan Islam di Sumatra dan Semenanjung Melaka serta negeri-negeri lainnya.

Sultan Al-Qahhar juga yang menyusun dan memberlakukan aturan-aturan yang membuat Aceh kuat dan maju di zaman itu sebagai negara terbesar di Asia Tenggara. Di hadapan makamnyalah kami bertafakur. Bukan semata mengakui kebesarannya, akan tetapi pun mengakui kelemahan kami yang belum pun berjaya menguatkan kembali peradaban ini.

Setelah mengagumi keindahan ukiran-ukiran di nisan yang terbuat dari batu dan perunggu itu, juga mengambil hikmah daripada apa yang telah diperbuat oleh yang jasadnya dibaringkan di dalam batu itu, kami pun terpikir, seberapa banyakkah orang yang telah mengunjungi tempat ini?

Dari puluhan ribu penduduk Banda Aceh sekarang, berapa orangkah yang telah mengunjungi makam-makam orang mulia tersebut? Dan, apakah pemimpin Aceh sekarang mahu mengambil pelajaran darinya? Setelah melihat-lihat, mengusap-usap nisan, dan berdu’a beberapa kata, kami pun meninggalkan makam sultan besar tersebut.

Mizuar Mahdi (kanan), Thayeb Loh Angen (kiri) membaca tulisan di tugu titik nol Banda Aceh. Bau busuk dari tumpukan sampah yang menggunung di TPA di samping tugu tersebut membuat mereka harus menutup hidung dengan kerah baju tebal. Foto: Irfan M Nur.
Lalu kami pun menuju titik nol kota Banda Aceh, di Gampong Jawa, yang terletak tepat di sisi pagar tempat pembuangan sampah terbesar di Aceh. Bayangkan saja bagaimana baunya. Sesampai di sana, kami ingin menuliskan beberapa puisi karena itu berada di sini hujung Krueng Aceh. Jangankan menulis puisi, berbicara lama-lama pun kami tidak sanggup, bau dari tempat sampah yang menggunung itu telah merasuki penciuman kami.

Menurut beberapa kabar, titik nol tersebut adalah kebanggan kota ini. Kami pun terpikir, apakah sampah-sampah yang dikumpulkan dari puluhan ribu penduduk Banda Aceh inilah yang ingin diperlihatkan dan diperciumkan akan sekalian pengunjung titik nol di Bandar Wisata Islami, Kota Madani ini?

Dan menurut cerita, di bawah tumpukan sampah yang menggunung itu pun terdapat banyak nisan Aceh yang berukir dengan hiasan kaligrafi berisi ayat Al-Quran dan nama-nama orang yang disemayamkan di sana. Setelah beberapa sa’at, kami tidak sanggup lagi bertahan di titik nol itu karena di dalam perut seperti ada benda yang bergerak-gerak, ingin muntah.

Maka, bau-bau yang juga melekat di pakaian, kulit, dan rambut kami, serta angin laut yang menghalau ke selatan, membuat kami segera meningalkan tempat andalan Banda Aceh itu secepat kendaraan kami bisa melaju.

Dan, kami pun singgah di sebuah kedai di tepi Krueng Aceh. Di ruang yang menjurus ke sungai itu pun kami berbincang melintasi zaman kegemilangan, seraya sesekali memandang air Krueng Aceh yang memantulkan cahaya kuning dari penerangan tepi kali yang dibuat di masa Allah Yarham Mawardy Nurdin menjadi Walikota Banda Aceh.

Sebagaimana malam-malam sebelumnya, kami membicarakan tentang peradaban Aceh yang pernah gemilang hasil bentukan tokoh-tokoh besar. Bagaimana pencerahan dan filosofi dari kegemilangan tersebut bisa kembali dihadirkan sesuai dengan perkembangan zaman yang sekarang telah pun dikuasai oleh Barat, yang di masa kegemilangan tersebut, mereka masih berupa bangsa yang tertinggal.

Angin laut yang berhembus, sedikit demi sedikit menghilangkan bau sampah titik nol Banda Aceh yang melekati pakaian dan rambut kami. Kami merasakan seperti ahli filsuf yang berbincang di antara tiang-tiang Athena, Yunani; darul hikmah Baghdad, dinding Konstantinopel, halaqah Samudera Pasai, dan dermaga Krueng Aceh.

Seakan, malam itu, kami (Taqiyuddin Muhammad, irfan M Nur, Sukarna Putra, Mizuar Mahdi, Saiful dan kawannya dari sebuah kampung di Aceh Utara) menyaksikan Sultan Alaidin Al-Qahhar Yang Agung melintasi bagian Krueng Aceh di hadapan kami, yang disambut dengan elu-elu kebesaran oleh sekalian rakyat yang berbaris di tepi sungai itu.

Kami pun menyaksikan, bagaimana rombongan Lada Sicupak melintasi sungai ini tatkala menuju Konstantinopel, dan dua tahun setelahnya, tatkala kembali daripada kota terbesar di Eropa sebagai pusat pemerintahan dunia tersebut.


Apa yang kami bayangkan pada malam itu adalah khayalan tentang masa silam. Sementara yang dibutuhkan sekarang, baik daripada rakyat biasa atau pemimpin negeri, ialah seayogianya Tuan dan Puan sekalian mengunjungi Kandang XII dan mengambil pelajaran daripada apa yang telah diperbuat oleh sultan-sultan Aceh yang agung.

Oleh Thayeb Loh Angen, aktivis Kebudayaan di Pusat Kebudayaan Aceh-Turki (PuKAT).

Berita Pilihan

Berita Campuran

 
Web Design : Peradaban Dunia Team | Redaksi | About
Copyright © 2011. Peradaban Dunia - All Rights Reserved
www.peradabandunia.com