53 Jenis Buah-buahan Langka di Aceh

Written By Peradaban Dunia on Saturday, 25 October 2014 | 04:16

Boh tuba atau buah read custard apple. Foto: tropicalfruitnursery.com

Inilah jenis-jenis buah-buahan langka yang bisa dimakan di Aceh:


1. Boh tuba, rasanya manis, berbau harum. Dimakan tatkala lebah.
2. Boh setui, rasanya masam, hampir tidak berbau. Dimakan tatkala masak.
3. Boh gunci, rasanya masam, hampir tidak berbau. Dimakan menatah-mentah.
4. Boh ciko, rasanya lemak, berbau tajam. Sebagai bumbu masak.
5. Boh rambee, rasanya manis masam, hampir tidak berbau. Dimakan tatkala masak.

6. Boh kumbang, rasanya masam manis, berbau harum. Dimakan tatkala masak.
7. Boh meulinjee, rasanya manis masam, berbau harum. Dimakan tatkala masak.
8. Boh punti, rasanya manis lemak, berbau harum. Dimakan tatkala lebah.
 9. Boh pu'uek, rasanya masam tu'ie, berbau tajam. Dimakan tatkala putik.
10. Boh kuini, rasanya manis, berbau harum. Dimakan tatkala lebah.

11. Boh teumeurheue, rasanya masam, hampir tidak berbau. Dimakan mentah.
12. Boh mane, rasanya pahit tuli, hampir tidak berbau. Dimakan tatkala lebah untuk pencegah atau mengobati bisul secara telak.
13. Boh teumiki, rasanya manis, hampir tidak berbau. Dimakan tatkala lebah.
14. Boh ladong, rasanya manis lemak, hampir tidak berbau. Dimakan setelah dimasak dengan api.
15. Boh janeng, rasanya lemak, hampir tidakberbau. Dimakan setelah diolah dan dimasak.

16. Boh timon tikoh, rasanya masam tawar sebagaimana timun biasa, hampir tidak berbau. Dimakan mentah, bisa menjadi penyeimbang tekanan darah.
17. Boh rambot bue, rasanya manis masam sebagaimana buah markisa, hampir tidak berbau. Dimakan mentah.
18. Boh jok, rasanya tawar lemak, hampir tidak berbau. Dimakan setelah diolah.
19. Boh mancang, rasanya manis masam, berbau tajam. Dimakan tatkala masak.
20. Boh rusep, rasanya manis masam, hampir tidak berbau. Dimakan masak.

21. Boh kupula, rasanya klat lemak, hampir tidak berbau. Dimakan tatkala masak.
22. Boh ceumpedak, rasanya manis, berbau harum tajam. Dimakan tatkala masak.
23. Boh keulayu, rasanya manis klat, hampir tidak berbau. Dimakan tatkala masak.
24. Boh meuriya, rasanya klat, hampir tidak berbau. Dimakan tatkala masak.
25. Boh limeng sagoe, rasanya manis masam, hampir tidak berbau. Dimakan tatkala masak.

26. Boh pisang wak, sebagai makanan bayi Aceh, rasanya manis klat, hampir tidak berbau. Dimakan tatkala putik dan masak.
27. Boh cengklek, rasanya chueng masam, berbau. Dimakan tatkala masak setelah diolah.
28. Boh ceuradi, rasanya masam manis, hampir tidak berbau. Dimakan tatkala masak.
29. Boh Keusuma, rasanya manis lemak, hampir tidak berbau. Dimakan tatkala masak setelah dipeujruek.
30. Boh geurumbang, rasanya masam klat lemak, hampir tidak berbau. Dimakan tatkala putik dan masak.

31. Boh kulu, rasanya tawar lemak, hampir tidak berbau. Dimakan tatkala putik sebagai gulai.
32. Boh meunjeue, rasanya masam tu'ie, hampir tidak berbau. Dimakan tatkala masak.
33. Boh teue, rasanya manis lemak, berbau tajam. Dimakan tatkala lebah.
34. Boh lipah, rasanya lemak manis, hampir tidak berbau. Dimakan tatkala masak.
35. Boh gawee, rasanya manis masam, hampir tidak berbau. Dimakan tatkala putik dan masak.

36. Boh bayi, rasanya meuhong lemak, hampir tidak berbau. Dimakan setelah dileue.
37. Boh trueng kachueng, rasanya manis agak gatal, hampir tidak berbau. Dimakan tatkala masak.
38. Boh sirieh-sirieh, rasanya manis, hampir tidak berbau. Dimakan tatkala masak.
39. Boh birah, rasanya gatal lemak, hampir tidak berbau. Dimakan tatkala putik setelah dimasak dengan api.
40. Boh beureunee, rasanya manis lemak, hampir tidak berbau. Dimakan mentah.

41. Boh rinda, rasanya masam, hampir tidak berbau. Dimakan tatkala masak.
42. Boh bie, rasanya lemak, hampir tidak berbau. Dimakan setelah dimasak dengan api.
43. Boh gadong, rasanya tawar lemak, hampir tidak berbau. Dimakan setelah dimasak dengan api.
44. Boh awe, rasanya manis masam, hampir tidak berbau. Dimakan tatkala masak.
45. Boh langla, rasanya lemak, hampir tidak berbau. Dimakan setelah dimasak dengan api.

46. Boh geulima bruek, rasanya manis masam, hampir tidak berbau. Dimakan tatkala masak.
47. Boh pinueng nahu, rasanya manis lemak, berbau harum. Dimakan tatkala lebah.
48. Boh trueng cawieng, rasanya gatal meuhong, hampir tidak berbau. Dimakan sebagai sayuran.
49. Boh pisang bue, rasanya manis, hampir tidak berbau. Dimakan tatkala masak.

50. Boh keurundong, rasanya masam lemak, hampir tidak berbau. Dimakan tatkala masak.
51. Boh keutapang, rasanya klat lemak, hampir tidak berbau. Dimakan tatkala masak.
52. Boh bili, rasanya manis lemak, hampir tidak berbau. Dimakan tatkala masak.
53. Boh keumude, rasanya masam, berbau tajam. Dimakan putik sebagai dan apabila masak diperas.

Oleh: Thayeb Loh Angen dan Aldi Yukihiro

Wali Kota Berjilbab Pertama di Eropa

Written By Peradaban Dunia on Friday, 24 October 2014 | 03:31

Amra Babic, 43, berhasil mencatatkan namanya dalam sejarah setelah memenangi pemilihan wali (pilwali) Kota Visoko, Bosnia & Herzegovina. Foto: rtvusk.ba.
Sarajevo - Amra Babic, 43, berhasil mencatatkan namanya dalam sejarah setelah memenangi pemilihan wali (pilwali) Kota Visoko, Bosnia & Herzegovina. Itu terkait dengan statusnya sebagai muslimah yang berhijab (jilbab). Babic pun tak hanya tercatat sebagai wali kota perempuan pertama yang berjilbab di negerinya, tetapi juga di seantero Eropa.

Perempuan yang juga berprofesi sebagai ekonom itu pun menyebut kemenangannya tersebut sebagai sebuah model bagi Eropa dan Islam. Menurut dia, terpilihnya dirinya itu merupakan kemenangan besar dari demokrasi.

"Rekan-rekan saya maupun warga kota (Visoko, Red) menunjukkan semangat keterbukaan. Mereka memilih tak hanya karena saya perempuan, tetapi karena saya mengenakan busana yang menutupi seluruh aurat. Ini penghormatan terhadap Islam," paparnya kepada Agence France-Presse Rabu (24/10).

"(Kemenangannya ) ini adalah model bagi Eropa. Lebih dari itu, juga model bagi Timur dan Barat yang bertemu di sini, di Bosnia," lanjut ibu tiga anak tersebut.

Babic, yang sejak lama secara teratur sudah mengenakan hijab itu, memenangi 30 persen suara dalam pilwali di Kota Visoko pada Minggu lalu (21/10). Kota kecil yang terletak di dekat Sarajevo, ibu kota Federasi Bosnia & Herzegovina, tersebut berpenduduk sekitar 50 ribu jiwa. Mayoritas atau sekitar 75 persen di antaranya adalah etnis Bosnia. Sisanya adalah warga Serbia, Kroasia, dan sejumlah etnis lain. Dia pun akan menjabat wali kota selama empat tahun.

Dua hari setelah terpilih, Babic yang tergabung dalam Partai Aksi Demokratis atau SDA (partai Muslim utama di Bosnia) itu sibuk menerima banyak telepon berisi ucapan selamat. Karangan bunga juga berdatangan ke rumah dan kantornya.

"Islam sangat jelas memperhatikan kaum perempuan," ujar Babic. Sebelum bertarung dalam pilwali, dia menjabat menteri keuangan di Kanton (setingkat provinsi) Zenica-Doboj. Di Bosnia, terdapat 10 kanton.

Babic percaya bahwa negaranya berada di antara negara-negara Eropa modern. ’’Saya pun yakin bahwa jilbab yang saya kenakan tidak akan menjadi penghalang. Eropa akan memahami bahwa itu terkait dengan penghormatan rakyat pada identitas mereka sendiri dan toleransi mereka untuk menghormati hak orang lain," jelasnya.

Dia pun membuktikannya. Saat Babic melintas di tengah Kota Visoko, dengan jilbabnya, beberapa pria yang kongko di luar kafe langsung berdiri dan mematikan rokoknya. Sikap tersebut sebagai penghormatan kepada wali kota baru mereka. Ekonom 43 tahun tersebut menjadi buah bibir di negeri Balkan yang telah lama dikoyak perang.

Kemenangannya justru terjadi di tengah banyak negara Eropa lain berdebat tentang pemberlakuan peraturan yang melarang pemakaian jilbab bagi perempuan Muslim. Turki dan mayoritas negara Muslim lain yang coba mendapatkan keanggotaan Uni Eropa meminta blok negara Benua Biru itu menjaga supaya simbol agama tidak dicampuradukkan dalam urusan kehidupan publik.

Bagi Babic, kemenangannya merupakan bukti bahwa penerapan ajaran Islam tak bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi Barat. "Ini adalah kemenangan bagi toleransi," ujar janda pahlawan perang itu.

"Kami mengirim pesan dari Visoko soal toleransi, demokrasi, dan kesetaraan," serunya.
Selama berabad-abad, Bosnia menjadi negara tempat berbagai budaya dan agama hidup damai.

Muslim Bosnia, Kristen Ortodoks Serbia, dan Katolik Roma Kroasia bisa berdampingan. Meski beberapa kali terjadi konflik, secara umum mereka hidup damai sampai pecah Perang Balkan pada 1990-an. (AFP/AP/cak/dwi/jppn)

P Ramlee yang Dihargai Setelah Mati


Sebelum ini saya takjup akan negara Malaysia yang begitu menghargai P Ramlee, dan menurut kabar pun sekalian sastrawannya. Beberapa bulan lalu, seorang kawan yang bernama Muzakir, ianya sering pulang pergi Aceh - Malaysia menceritakan bahwa pengagum P Ramlee membuat P Ramlee baru secara hidup.

Menurutnya, ada seorang yang dikhususkan berpenampilan sebagaimana P Ramlee secara nyata, dan beberapa orang lain menyerupai kawan P Ramlee. Bahkan mereka mempunyai hidangan pagi berupa kopi dan pisang sebagaimana kebiasaan seniman keturunan Aceh tersebut. Dan, film P Ramlee diputar 24 jam setiap harinya tanpa henti di rumah kediamannya, sampai sekarang masih pun begitu.

Ketakjuban saya bahwa P Ramlee dihormati sebagai seniman agung di Malaysia yang dipuja-puja karya dan kehadirannya semasa hidup, ternyata hanyalah mitos. Setelah saya membaca buku karangan Zadi Zolkafli yang berjudul 'Koleksi P Ramlee' yang diterbitkan di Kuala Lumpur pada 2011, mitos itu pun runtuh seketika, dan saya pun merenung sejenak.

Ternyata, P Ramlee tidak seberuntung yang saya duga semasa dia hdup. Namun Malaysia secara cepat menyadari kekeliruannya, dan bangsa Melayu itu pun mengangkat P Ramlee lebih tinggi daripada langit ke tujuh. Namun, itu untuk Malaysia bukanlah lagi untuk P Ramlee.

"P Ramlee adalah keturunan Aceh" begitulah tulis Zaedi Zolkafli. P Ramlee dilahirkan di Pulau Pinang pada 22 Maret 1929, ayahnya Teuku Nyak Puteh dari Paloh Pineung, Lhokseumawe, Aceh. Selama hidup dia telah mencipta 401 lagu dan puluhan film, mendapatkan juara film di Malaysia dan Jepang.

Namun, penghargaan yang patut untuk mendukung impiannya memajukan film Malaysia tidak dijumpainya tatkala hidup. Setelah berjaya dengan perusahaan rekaman Singapura, P Ramlee berkarya di Kuala Lumpur. Namun yang dia alami tidaklah seindah impian. Dia pernah disuraki suruh turun dari panggung tatkala tengah bernyanyi.

Lagu terakhirnya berjudul "Air Mata di Kuala Lumpur" pertanda kekecewaannya karena gagal mewujudkan impiannya setelah hijrah ke Kuala Lumpur. Pada 29 Mei 1973 ia meninggal dunia karena sakit jantung. Sejak itulah ia dihargai oleh bangsa dan negaranya. Dan namanya sering dijadikan alat kampanye politik. Ironis.

Pada 6 Juni 1990, P Ramlee dianugerahkan derajat kebesaran negara pangkat kedua dengan julukan " Panglima Setia Mahkota". Itu 17 tahun setelah dia meninggal dunia. Julukan 'Tan Sri" diberikan oleh Runne Shaw, seorang pengusaha Malay Film Productions, pada 2 Junji 1965 tatkala Singapura akan berpisah dari Malaysia.

Julukan kebesaran lain diberikan setelah P Ramlee tiada.  Dan, Malaysia yang menyadari kesalahannya pun segera bertindak, dengan sepuluh langkah, P Ramlee dibuat lekat dengan telinga dan lidah serta ingatan setiap orang di Malayia serta disiarkan ke luar negara.

Malaysia kini mengangkat nama P Ramlee sampai ke langit ke tujuh karena di masa hidupnya P Ramlee telah mengangkat Malaysia ke langit ke sembilan. Apakah kebesaran P Ramlee bisa menjadi percerahan bagi orang Aceh untuk berkarya lebih baik dan menjadi orang besar?

Oleh Thayeb Loh Angen, aktivis di Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT).

Merespon Hasil Seminar On Islamic Teachings: Dialogue, Peace and Conflict Resolution in Aceh

Oleh PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki)

Berdasarkan publikasi Serambi Indonesia tanggal 18/10/2014 bertajuk ‘Akademisi Berperan dalam  Mengkampanyekan Islam Damai’ mengulas tentang Seminar On Islamic Teachings: Dialogue, Peace And Conflict Resolution yang diadakan di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh hari Jumat minggu lalu.  Dalam berita tersebut,  Seminar ini telah  melahirkan beberapa masukan. PuKAT sebagai organisasi dengan konsentrasi budaya merasa perlu memberikan peran lewat tanggapan-tanggapan yang diharapkan dapat menjadi pertimbangan tambahan untuk berbagai kalangan masyarakat di Aceh. Berikut adalah masukan-masukan dari seminar tersebut sekaligus respons dari PuKAT.

1). Aceh perlu memperbaiki kesatuan internal

Tidak ada yang menyangkal kebenaran pernyataan di atas. Tapi untuk mulai membangun kesatuan tersebut, yang pertama harus dikerjakan adalah terbangunnya kesatuan identitas berdasarkan sejarah, tradisi, dan agama.  Kesatuan ini terlebih dahulu perlu dimulai antara institusi-institusi pendidikan tinggi modern dengan institusi-institusi pendidikan tradisional. Mereka harus belajar untuk tidak menyudutkan satu sama lainnya baik secara ide ataupun praktis.

Kesatuan ini akan menuntun pada penglihatan yang jelas terhadap definisi permasalahan-permasalahan Aceh yang sebenarnya. Sepertinya realita diatas bisa dimulai dengan jawaban dari pertanyaan, apakah ada undangan terhadap tokoh keagamaan atau kelompok-kelompok dari institusi pendidikan tradisional ketika Seminar ini berlangsung atau kurangnya minat yang ditunjukkan oleh kelompok kedua? Atau mereka memang dikesampingkan?

2). Syariat Islam harus menjawab persoalan good governance, kesejahteraan, ekonomi masyarakat, dan pendidikan

Pernyataan diatas adalah ungkapan-ungkapan yang sudah terdengar sejak awal implementasi Shariah Islam di Aceh. Tapi persoalannya, pegawai-pegawai dinas shariah Islam dari kalangan atas hingga bawah tidak merasa terdampingi dengan institusi institusi sekuler. Good governance, menurut penglihatan dinas diatas berasal dari sistem pemerintahan sekuler yang bersebrangan dengan sistem Islam.

Jika mind-set telah terbentuk seperti ini, maka mengharapkan hanya pihak Dinas Shariah Islam duduk bersama di satu meja, membicarakan upaya-upaya untuk mencapai good governance, barangkali tidak cukup mampu memberikan jawaban seperti yang diharapkan. Jadi, harus ada kelompok konsultan dari berbagai latar pengetahuan dan praktis yang diputuskan oleh pihak Shariah Islam sendiri, karena, ingin diakui atau tidak, pengetahuan rata-rata pegawai dinas shariah Islam tentang good governance hanya berada pada tahap  preliminary saja.

Diyakini dalam fenomena selama ini, ada hal-hal yang baik sekaligus Islami yang tersebut dalam good governance tapi karena datangnya dari sistem sekuler maka pemikiran dan prospek praktisi lebih dipengaruhi oleh prasangka. Tidak bisa disangkal bahwa selama tidak membuka ruang untuk kelompok dengan ide berbeda, persoalan masyarakat Aceh yang sebenarnya tidak akan mampu didefinisikan. Jadi bagaimana ingin mengharapkan solusi datang?

3). Perguruan tinggi Islam harus tampil sebagai komunitas Islam moderat

Dalam konteks Aceh, terminologi ‘moderat’ diatas sedikit membingungkan. Kata ‘moderat’ biasanya, jika ia bermakna anjuran, disematkan pada kelompok-kelompok yang berpikiran dan berpraktik fundamentalis. Apakah mereka yang member masukan ini mengganggap Islam di Aceh adalah Islam fundamentalist?

Perlu ditegaskan untuk tidak mencampur adukkan ideologi yang dipromosikan secara turun-temurun oleh Barat kepada Timur tengah dan menyetarakan penggunaanya terhadap wilayah-wilayah Muslim lainnya didunia, apalagi dengan mengait-ngaitkannya dengan kenyataan ISIS sekarang. Selain itu, kalimat ‘Islam moderat’ adalah subjek yang sangat-sangat post modern yang aplikasinya telah dapat mencapai masyarakat-masyarakat yang telah melalui proses dari transformasi klasikal. Tapi Aceh masih merupakan masyarakat transisi yang masih harus bergelut dengan persoalan-persoalan identitas, kenyataan-kenyataan sosial berdasarkan geografi tertentu, dan masih belajar menanggapi pengaruh luar.

Islam di Aceh adalah Islam yang mempromosikan kedamaian. Secara sejarah kalimat sebelumnya sudah terbangun dengan baik. Tapi sekurang-kurangnya dimulai dari tahun 1873 hubungan antara masa lalu dengan masa modern Aceh terputus dengan hebatnya dikarenakan ratusan tokoh-tokoh keagamaaan syahid dan warisan-warisan intelektual dari mereka habis terbakar. Jadi institusi pendidikan Islam, baik yang modern maupun yang tradisional harus menemukan kembali apa yang telah hilang tidak hanya secara praktikal tapi juga secara mental.

4). Pendidikan perlu dikemas dalam desain kurikulum Islam yang damai

Islam dalam kosakata bahasa Arab berarti damai. Jadi apa yang dimaksudkan dalam hal ini? Jika konotasi diatas dicampur-adukkan dengan kenyataan hukuman-hukuman yang diimplementasikan shariah Islam atau pendidikan Jihad di Institusi Islam maka ada kebutuhan untuk melihat secara keseluruhan. Damai dalam Islam berarti tanggung jawab. Bahkan aksi disiplinari dalam Islam bertujuan untuk mendirikan kedamaian baik untuk individual atau untuk masyarakat.

5). Akademisi harus tahu menempatkan diri secara keilmuan dan ranah praktisi

Benar sekali. Tapi ini tidak bisa diselesaikan oleh masing masing individual tapi harus melalui perkembangan kebijakan institusi itu sendiri, aplikasi anggaran, dan keterlibatan mereka dengan masyarakat secara setara.

Untuk mewujudkan hal ini barangkali diperlukan 3 sistem kelompok; 1). Akademik, 2). Pemerintah, 3). Sektor swasta dan umum.  Semua kelompok ini bekerjasama secara sejajar dan mengambil kewajiban yang berbeda melalui transparansi dan kerjasama penuh. Nah, katakanlah ini sistemnya. Lalu bagaimana shariah Islam berkontribusi didalamnya? Disinilah letaknya implementasi teori dan praktis keagamaan. Setiap kelompok Muslim perlu membumikan kinerja-kinerja yang jujur, sadar lingkungan, dan konsisten terhadap hak-hak kelompok dan hak-hak lingkungan, yang secara jelas telah diprioritaskan dalam Islam.

6). Kurikulum pendidikan perlu memperhatikan cross cultural dan cross religion

Lagi-lagi kita kembali pada poin bagaimana masyarakat Aceh perlu memulihkan budaya dan identitasnya sendiri terlebih dahulu. Cross Cultural dan religion akan dialami oleh masyarakat Aceh ketika mereka bersinggungan dengan orang non-Aceh di Indonesia dan Internasional dimana mereka akan menghadapi berbagai dilema secara kejiwaan dan fisik yang menuntut penyelesaian-penyelesaian dari kepribadian sendiri.

Nah, jika kepribadian itu tidak dipenuhi dengan penemuan terhadap identitas dan budaya sendiri, setiap generasi akan terjebak dalam inferioriti. Contoh, coba kita lihat kondisi kejiwaan generasi Aceh tingkat SMA dan universitas dihadapan kelompok kelompok non-Aceh yang misalnya dari Jakarta atau internasional.

Kita ambil contoh yang paling sederhana, yaitu Jilbab. Berapa banyak mereka yang memakai Jilbab selama di Aceh dan kemudian melepaskannya ketika berada diwilayah selain Aceh atau diluar negeri. Apakah ini yang disebut cross culture and religion?. Tentu tidak. Esensinya, cross culture bagi masyrakat Aceh pada masa ini adalah kemampuan memahami dan menghargai perbedaan budaya dan agama lainnya tanpa harus terpaksa mengubah atau mengenyampingkan identitas dirinya.

7). Pendidikan harus bebas dari etnosentrisme


Adakah pendidikan yang bersifat ethnocentrisme di Aceh? Hingga saat ini diketahui pencipta kurikulum di Aceh bersumber dari dinas kementrian pendidikan Indonesia yang memprioritaskan neutralitas pendidikan dalam segala aspek. Ethnocentrisme untuk bagian tertentu penting dimiliki misalnya dalam tahap pembentukan dan aplikasi kebijakan lokal. Sejauh ini, ethnocentrisme di Aceh masih berada dalam tahap wajar karena belum ditemukan indikasi-indikasi anarkisme yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Aceh. Jikapun ada, itu bukan dilandasi oleh sifat kesukuan tapi lebih pada faktor politik. (PuKAT/19 Oktober 2014).

PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki) merupakan sebuah organisasi antar bangsa yang bergerak di bidang kebudayaan, berpusat di Banda Aceh.

Baca P Ramlee di Lamuri

Aktivis dari Majelis Seni P Ramlee, Aldi Yukihiro dan Dayat, serta Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki, Ariful Azmi Usman dan Thayeb Loh Angen tengah membaca buku-buku tentang P Ramlee di bekas pusat kerajaan Lamuri, bukit Lamreh, Aceh Besar, 23 Oktober 2014.

Written By Peradaban Dunia on Wednesday, 22 October 2014 | 06:16



Mengapa orang Aceh Menyebut Rum untuk Turki?

Anggota DPD RI senator Aceh Fachrul Razi dan buku 'Kesultanan Aceh dan Turki - Antara Fakta dan Legenda' di dalam sebuah kesempatan di Banda Aceh.
Ada apa dengan Turki di dalam sejarah dan kebudayaan orang Aceh? Kata Turki baru terdengar setelah perang dunia ke II di telinga orang Aceh. Sebelumnya, sebutan yang masyhur untuknya adalah Rum yang menurutkan kata Rum di dalam Al-Quran, yang menjadi nama surat ke 30 dalam kitab suci Umat Islam tersebut.

Surah Ar-Rum terdiri atas 60 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah. Dinamakan Ar-Rum yang berarti Bangsa Romawi (Bizantium). Namun di sini kita tidak tengah membicarakan sebutan di dalam kitab suci Al-Quran tentang bangsa Rum. Itu sudah banyak dibicarakan oleh sekalian ahli tafsir.

Kita pusatkan perhatian dan pembicaraan semata pada bangsa Rum dalam pandangan orang Aceh. Mengapa orang Aceh hanya mengenal Rum bukan Turki. Ini sedikit banyak terkait pada ingatan (memori) sejarah warisan, sebagaimana orang-orang Aceh sebelum ini, akan bingung tatkala disebutkan Singapura, akan tetapi mereka langsung mengerti saat disebutkan Tumasek, sebuah pulau kampung nelayan. Begitu pula orang Semenanjung Melaka dan Singapura yang bingung tatkala disebutkan Aceh Utara atau Lhokseumawe, akan tetapi langsung berbinar matanya ketika disebutkan Pasai.

Menyebutkan Rum untuk Turki menandakan orang Aceh dekat dengan Al-Quran dan tidak berencana mengubah sebuatan tersebut. Bagi Aceh, Rum adalah bangsa perkasa yang menaklukkan benteng terkuat di dunia di zaman itu yang melindungi Kota Konstantin (Konstantinopel) dalam peristiwa penaklukan di bawah pimpinan Sultan Mehmet Al-fatih pada 1453 Masehi.

Dan, sejarah lada Sicupak yang terjadi sekitar tahun 1560-an Masehi membuat Rum menjadi bangsa yang penting bagi Aceh, selain bagi dunia Islam secara keseluruhan.

Dalam bagian sejarah tersebut, Sultan Al-Kahhar Yang Agung mengirimkan utusan ke Konstantinopel untuk menemui sultan Sulaiman Yang Agung demi membeli beberapa pucuk meriam secara pertukaran barang (barter) dan bantuan ahli-ahli perang dalam rangka memperkuat bala tentara Aceh Darussalam yang tengah memerangi Portugis di negeri lindungan Aceh, Semenanjung Melaka.

Disayangkan, sejarah itu tidak ditulis dengan rapi di masanya oleh Aceh sehingga perbedaan tahun, nama orang, dan jumlah bantuan pun sedikit berbeda tatkala diceritakan secara turun temurun, bahkan ianya terkadang menjadi legenda. Namun, Turki menuliskannya dengan baik, tentang apa yang terjadi di Istanbul. Akan tetapi karena Aceh tidak menuliskannya secara baik, maka bagian sejarah tersebut yang berlaku di Aceh telah beragam.

Secara logika sejarah, tanpa adanya sejarah Lada Sicupak, niscaya tidak ada cerita penyerangan Portugis ke Melaka, baik di masa al-Kahhar mahupun di masa Iskandar Muda.

Hubungan langsung yang merasuk ke dalam sistem kenegaraan selama ratusan tahun tersebut telah meninggalkan kesan-kesan abadi pada orang Aceh. Budaya-budaya Turki telah pun tertanam di dalam masyarakat, baik disadari mahupun tidak.

Hubungan Aceh dengan Turki telah terjalin selama sekitar 400 tahun, yang terusak bersama diserangnya Aceh oleh bajak laut Belanda pada 26 Maret 1873. Maka di masa kini, walaupun Aceh Darussalam tidak lagi tersebut sebagai negara orang Aceh akan tetapi Republik Indonesia, dan Turki tidak lagi Kesultanan Turki Utsmani akan tetapi Republik Parlementer Turki, namun sejarah hubungan Aceh dengan Turki terlalu kukuh untuk tergantikan.

Semuanya telah merasuki kebudayaan dan sejarah. Sebagaimana diketahui, sejarah dan kebudayaan tidak mengenal nama negara mahupun tapal batasnya.

Rum tetap menjadi sebuah bangsa yang menjadi abang bagi orang Aceh, dan Aceh menjadi adik di Asia Tenggara dari pandangan orang Turki. Dr Mehmet Ozay, sosiolog asal Uskudar Istanbul di dalam bukunya 'Kesultanan Aceh dan Turki - Antara Fakta dan Legenda' hubungan itu adalah ide orang Aceh, Acehlah yang datang ke Istanbul (Konstantinopel) untuk menjalin hubungan dengan Raja Rum (Sultan Turki) dan disambut dengan baik oleh Raja Rum walaupun di kala itu ada permintaan serupa dari utusan sebuah negeri di India. Namun Raja Rum memilih membantu Aceh.

Pengakuan Turki tersebut terlihat kembali setelah bencana laut smong (tsunami), Tuan Recep Tayyip Erdogan -presiden Turki sekarang- yang saat itu menjabat sebagai Perdana Menteri Turki pun datang ke Aceh, yang disambut dengan bendera Turki dari Pelabuhan Udara (Bandara) Sultan Iskandar Muda ke Banda Aceh. Semoga Allah Ta'ala senantiasa melimpahkan rahmat-Nya untuk Sultan Al-Kahhar Yang Agung dan Sultan Sulaiman Yang Agung. Salam untuk Raja Rum, pemimpin besar dunia saat ini, Tuan Recep Tayyip Erdogan.

Oleh Thayeb Loh Angen, aktivis di Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT).

Sastrawan Aceh Hendaknya Memasyhurkan Bahasa Jawi

Written By Peradaban Dunia on Sunday, 19 October 2014 | 13:35

Sastrawan, yakni penulis novel, cerpen, puisi, hikayat, pantun, yang ada di Aceh atau keturunan Aceh sudah masanya untuk kembali kepada jati diri kita dengan memasyhurkan kembali bahasa kita sendiri, bahasa Jawi (Melayu-Sumatera) yang telah berjaya semenjak Samudera Pasai berdaulat.

Sudah terbukti bahwa peradaban kita maju di masa kita menunjukkan jati diri bangsa kepada dunia, di mana pada zaman itu kitalah yang mengajarkan bahasa kepada orang lain di negeri-negeri berbahasa Melayu di Asia Tenggara. Masa-masa itu akan kembali, dan mesti kita kembalikan!

Sudah pun kita lihat bahasa kita terusak sejak mengikutikan diri akan orang lain, bahkan kita tidak pun dimunculkan di atas walaupun bakat dan kecerdasan kita di atas mereka. Oleh karena itu, apabila ingin menjadi sastrawan sejati maka masyhurkanlah bahasa indatu kita sendiri, bukan menjadi perusak bahasa dengan mencampur-adukkannya dengan bahasa lain.

Kita masih bisa menyaksikan dan membaca tulisan-tulisan penulis di masa gemilang yang kini kita sebut kitab Jawi. Mereka telah menulis buku pada masa ratusan tahun sebelum kita hadir di bumi, dan di kala itu orang Eropa masih berada di dalam kegelapan.

Kembali tanyakanlah pada diri kita sendiri, apa yang kita mahu carikan di dalam dunia tulis menulis ini, apakah semata kemasyhuran, belanja, atau apa sahaja? Apapun yang kita cari, maka kemasyhuran dan semacamnya pastilah kita dapat.

Namun apabila kita tidak ingin memperbaiki bangsa dengan dakwah di dalam tulisan-tulisan kita, maka apabila kita mati, selesailah sudah itu bahkan akan diminta pertanggung-jawaban oleh Tuhan. Bahkan kadang di saat kita masih hidup pun telah dianggap tidak ada karena kita tidak ada gunanya buat orang lain, untuk bangsa.

Maka gunakanlah kemampuan kita di dalam menulis untuk memperbaiki peradaban bangsa ini, untuk menyelamatkan budaya kita, untuk memperbaiki akhlak (moral) bangsa kita, untuk memajukan pemikiran anak negeri, untuk beribadah kepada Allah Ta'ala, sebagai hadiah akan bangsa ini. Sarungkan rincong ambil pena.

Oleh Thayeb Loh Angen

Menunggu Sikap Pemerintah Aceh Tentang Lamuri

Written By Peradaban Dunia on Friday, 17 October 2014 | 22:25

Peneliti mengangkat nisan salah seorang raja Lamuri yang rebah di tanah bukit Lamreh, Aceh Besar, 1 Agustus 2014. Foto: RA Karamullah
Setelah kabar tentang rencana pembangunan lapangan golf di situs Kerajaan Lamuri di Lamreh, Aceh Besar, menghilang, kini isu tentang tapak penting sejarah Islam di Asia Tenggara tersebut kembali menghangat, setelah penelitian para ahli dari Unsyiah, USU, USM Malaysia dan dibantu oleh tenaga ahli independen (Taqiyuddin Muhammad dan Deddy Satria) tentangnya.

Sebagaimana diketahui, Lamuri adalah kawasan yang dilihat dari sudut pandang berbeda antara pemerintah dan pemerhati kebudayaan. Pemerintah berencana membebaskan tanah situs Lamuri untuk pembangunan lapangan golf supaya ekonomi masyarakat membaik. Sebaliknya pemerhati kebudayaan berharap pembebasan tanah Lamuri difungsikan untuk penelitian dan dikembangkan menjadi tujuan wisata sejarah dan berguna untuk ekonomi masyarakat dengan datangnya pengunjung dari dalam dan luar negeri.

Dari pemberitaan media beberapa tahun yang lalu setelah dimsyhurkan pembangunan lapangan golf di kawasan situs sejarah Lamuri pemerintah sebagai penanggung jawab  telah mengundang beberapa instansi terkait termasuk masyarakat setempat dan sudah mendapatkan persetujuan.

Beberapa orang di sekitar situs menyebutkan bahwa sebagian besar dari mereka yang di tanahnya terdapat situs Lamuri telah mendapatkan uang panjar dari pihak pembeli tanah untuk lapangan golf. Satria, salah seorang dari pemilik tanah di sekitar Benteng Inong Balee mengaku telah mendapatkan uang tersebut sebanyak Rp 20 juta. Dia tidak mengetahui berapa jumlah uang yang diterima oleh pemilik tanah lainnya. Menurutnya, semua dari mereka telah mendapatkan uang panjar dengan jumlah yang sama walaupun luas tanah mereka berbeda. Adi, pemilik tanah di sekitar mercusuar pun mengaku hal yang sama.

Siapa sebenarnya yang telah mengeluarkan uang untuk pembelian tanah di situs tersebut? Akan tetapi itu bisa disebut kabar baik. Pembebasan tanah tersebut, tinggal dilanjutkan, hanya saja, apabila dahulu diniatkan untuk membangun lapangan golf, kini penyelesaian pembeliannya dengan tujuan untuk penelitian, pelestarian, dan pengembangan situs yang kemudian dimanfaatkan sebagai rujukan sejarah dan tempat wisata.

Beberapa hari lalu, media besar dan beberapa media lainnya di Aceh memberitakan dengan hangat tentang penelitian Lamuri. Baru tanggapan ada dari BPCB (Badan Pelestarian Cagar Budaya) Aceh-Sumut yang merupakan bukan bagian dari pemerintah Aceh akan tetapi perwakilan kementrian dari Jakarta. Namun belum ada tanggapan dari Pemerintah Aceh yang ditunggu-tunggu oleh sekalian orang.

Dan, berdasarkan peristiawa pada sambutan apel setelah Idul Fitri 1435 H dan Pertemuan dengan Kepala SKPA, Senin, 4 Agustus 2014, Gubernur Aceh menyatakan,

“Humas Pemerintah Aceh adalah central pencitraan Pemerintah yang saya pimpin dan humas berfungsi sebagai media pencitraan Pemerintah Zikir ini. Makanya Kampanye kesuksesan setiap dinas harus melalui sirkulasi HUMAS.”

Di dalam pernyataan tersebut, gubernur melanjutkan,

"Instruksi ini penting, supaya pemerintah Aceh kuat dan bergema, maka semua pernyataan kepala SKPA di media itu harus atas nama gubernur Aceh. Bek saboh peurahoe, dua boh keumudoe, Semuanya harus atas nama Gubernur Aceh. Ta bangun Aceh, han mada ngen choem jaroe. Kalau keberatan, tinggal hadap saya, biar saya ganti segera.”

Maka, kini Kita tunggu penjelasan dari Kabag Humas Aceh tentang situs Lamuri di Lamreh, Aceh Besar.

Oleh Irfan M Nur, aktivis kebudayaan

ALA-ABAS dan Hilangnya Tanah

Foto: ojannad.blogspot.com
Beberapa orang kawan mengajak saya untuk menanggapi isu ALA-ABAS (Aceh Leuser Antara (ALA) dan Aceh Barat Selatan (ABAS), akan tetapi saya berpikir: bukankah sebelum menyatakan perang secara resmi terhadap sultan Aceh, bajak laut Belanda menelurkan isu pemekaran bagi rakyat Minang di Sumatera bagian tengah dengan dalih, mengapa harus membayar pajak kepda Aceh untuk perlindungan dari serangan negeri luar, lalu mereka pun memisahkan diri dari Aceh Darusslam.

Setelahnya, memang mereka tidak lagi membayar pajak untuk Aceh, akan tetapi itu bukan karena mereka berkuasa, namun karena semua harta mereka telah pun dikuasai oleh Belanda oleh karena Aceh tidak bertanggung jawab lagi untuk melindungi Minang karena telah memisahkan diri.

Begitupun penduduk di pantai barat, selatan, dan tengah Aceh itu sekarang, apabila nantinya terjadi pemisahan itu, mereka memang tidak akan diatur lagi oleh Aceh, itu bukan karena mereka miliki hak mengatur diri mereka sendiri sebagai propinsi, akan tetapi karena tidak ada lagi yang mereka bisa atur sebab semua tanah di sana dari pantai ke gunung telah pun menjadi milik perusahaan-perusahaan.

Bahkan semua penduduk pun membuat rumah di atas tanah perusahaan daripada orang-orang yang mengurus pemisahan ALA-ABAS dari wilayah Pemerintahan Aceh. Begitulah, surat-surat itu diubah tatkala pengubahan wilayah dari propinsi Aceh ke ALA-ABAS. Bersiaplah untuk kehilangan seluruh tanah warisan Anda, apabila Anda memilih ALA-ABAS sebagai propinsi.

Aceh di bagian utara dan timur tidak akan kehilangan apapun, akan tetapi yang pasti, penduduk ALA-ABAS akan kehilangan seluruh tanahnya. Musuh orang pantai barat selatan dan tengah Aceh adalah penduduk mereka sendiri yang menelurkan isu propinsi ALA-ABAS. Sejarah meninggalan pelajaran, maka selamatlah orang-orang yang mahu berpikir.

Oleh Thayeb Loh Angen

Debat Tentang Bahasa Novel Aceh 2025

Written By Peradaban Dunia on Thursday, 16 October 2014 | 16:29


Tentang saya memakai bahasa Jawi (Melayu Pasai-Sumatera) di dalam Novel Aceh 1446 H (2025 M), ada beberapa orang kawan yang mempertanyakan kepatutannya di masa ini.

"Mengapa memakai bahasa lama yang akan sulit dipahami oleh generasi sekarang, mengapa tidak memakai bahasa Indonesia saja?"

Saya pun menjelaskan dengan rinci apa jua yang mesti diketahui, namun sang kawan masih pun tidak setuju. Akhirnya saya pun menjawab dengan kalimat yang berkesimpulan.

"Inilah bahasa yang benar, bahasa yang dikenal dengan bahasa Indonesia sekarang adalah seperti ini, sementara yang sering terdengar di sinetron-sinetron dan buku-buku terkini yang santai dan sebagainya, pemberitaan-pemberitaan, dan lainnya, adalah bahasa campuran, bahasa asli yang dicampur dengan bahasa Inggris yang telah dirusak juga dengan bahsa Jawa dan lainnya. Saya tidak tahu itu bahasa apa. Generasi sekarang yang mesti mengerti tentang bahasa mereka sendiri dan kembali menggunakannya."

Pihak lain mempertanyakan tentang kebenaran bahasa tersebut,
"apakah telah membincangkannya dengan pakar bahasa?"

Saya pun menjelaskan dengan rinci apa jua yang mesti diketahui, namun sang kawan masih pun tidak setuju. Akhirnya saya pun menjawab dengan kalimat yang berkesimpulan.

"Saya dilahirkan dan dibesarkan di Paloh Dayah, yang termasuk tempat di mana bahasa Jawi (Melayu) itu lahir. Kepada pakar yang mana saya harus bertanya, sementara pakar bahasa sekarang hanya menguasai bahasa Indonesia yang telah rusak, atau bahasa Aceh dan sebagainya. Mereka belajar tata bahasa Indonesia itu yang menurutkan aturan bahasa Inggris atau lainnya, sementara bahwa yang saya pakai ini telah memiliki aturan (grammer) sejak ratusan tahun sebelum aturan bahasa Inggris diciptakan."

Saya melanjutkan.

"Apabila saya harus bertanya tentang bahasa ini (Jawi) maka saya harus menemui guru-guru pengajian di kampung yang mengajarkan kitab-kitab berbahasa Jawi. Namun, saya sendiri juga pembaca kitab-kitab itu. Dalam hal ini sayalah profesornya, saya yang berani menggunakan bahasa ini di zaman yang bahasa ibu kita telah dirusak dengan hormat. Setelah novel Aceh 2025 terbit, apabila perlu, saya akan membuat kongres bahasa Jawi dengan menghadirkan ahli-ahli baca manuskrip daripada kaum cendikiawan."

Oleh Thayeb Loh Angen

Apa itu Boh Ara Hanyot

Bebek Mandarin adalah unggas cantik yang mirip itik liar atau ara di Aceh. Foto: dody94.wordpress.com
Pada suatu ketika, terjadilah banjir raya di Paloh Dayah. Sekalian anak muda dan beberapa lelaki berkeluarga pun menjadi tukang kail ikan dadakan. Mereka mencari ikan seungko (lele) atau apa sahaja yang biasanya menyukai air keruh sehingga aliran air banjir yang pekat adalah hari raya mereka.

Sebagian pengail mendapatkan ikan, sebagian lagi tidak.
Orang-orang lewat pun berseru,
"Pu na le roh? (Apa banyak ikan yang terkail?)," tanya orang-orang yang lewat.

"Hana, sang suwah tapreh boh ara hanyot," (Tidak, mungkin harus kita tunggu telur ara hanyut {untuk lauk pengganti ikan yang tidak makan kail)," canda si pengail.

"Beh pane na hanyot boh ara?" (Tidak mungkin telur ara hanyut).

Maka cerita itu pun berlanjut. Di kemudian hari, maka di Aceh termasyhurlah kalimat, "Lagee tapreh boh ara hanyot" (bagaikan menungggu telur ara hanyut) apabila tengah menanggapi hal yang dianggap tidak akan kunjung datang.

Namun ada sedikit kekeliruan dalam memahami hal tersebut, terutama oleh orang yang tidak hidup di kampung-kampung yang ada rawa atau orang yang tidak mengenal ara yang satu ini. Ara yang masyhur dikenal adalah sebatang pohon yang berbuah banyak berasa gatal, tidak bisa dimakan. Itulah ara yang dianggap oleh sebagian orang yang dimaksud di dalam kalimat itu.

Akan tetapi bagaimana mungkin orang akan menamsilkan sesuatu dengan menunggu hanyutnya buah-buah gatal dari hutan yang tidak bisa dimakan atau digunakan di tempat lain. Maka apa itu boh ara hanyot?

Boh ara adalah telur ara (itik liar yang tersebar di rawa-rawa di Aceh), hanyot adalah hanyut. Ara dalah jenis unggas liar yang kini menjadi salah satu binatang langka karena banyaknya rawa-rawa yang kering atau beralih guna menjadi tanah kering atau sawah dan kebun yang bersih.

Telur memiliki sifat tenggelam oleh air dan tidak mungkin mengapung kecuali ianya telah membusuk atau air telah dicampur dengan garam. Dan, ara tidak pernah bertelur di tempat yang mudah tertarik oleh air bah dan banjir. Sebagaimana binatang lain, unggas itu pun memiliki firasat (insting) untuk melindungi apa jua benda miliknya sendiri.

Maka menunggu telur ara hanyut adalah hal yang sia-sia walaupun ara betina memang bertelur. Telur ara tidak mungkin dihanyutkan oleh air banjir. Istilah serupa yang digunakan untuk hal yang sama sekali mustahil adalah  "Lage tapreh lungkee mie jitimoh" (Seperti menunggu kucing beertanduk".

Oleh Thayeb Loh Angen

Ratu di Hatiku

Written By Peradaban Dunia on Sunday, 12 October 2014 | 14:10

Bungong Jeumpa Aceh. Foto: wikifresh.blogspot.com
Sebagaimana madah pujangga akan kekasihnya
maka kurmadahkan lagu-laguan hatiku kepadamu
Bahwa engkau telah menempati hatiku
sebagaimana bebintang menempati hati ahli nujum

Hanya engkaulah yang menempati hatiku
sesempurna harum menempati jeumpa,
tidak ada yang bisa menggantikanmu di hatiku
sebagaimana cayaha bumi tidak bisa menandingi purnama

Dan ketahuilah wahai kekasihku,
di hatiku engkau menjadi ratu sendirian,
Di sana engkau akan dicumbu-rayu oleh kesetiaan,
dilindungi oleh pengertian, dan
diselamatkan oleh kasih sayang.

Oleh Thayeb Loh Angen


Patrick Modiano Memenangkan Nobel Sastra Dunia 2014

Written By Peradaban Dunia on Friday, 10 October 2014 | 17:29


Patrick Modiano, winner of the 2014 Nobel prize in literature. Photograph: Catherine Helie/AP/theguardian.com

Paris - Penghargaan Nobel Sastra tahun ini diberikan kepada Patrick Modiano, Jumat, 10/10/2014. Patrick Modiano merupakan warga negara Perancis ke sebelas yang berhasil meraih penghargaan bergengsi tersebut.

Patrick Modiano mengaku tidak tahu kenapa ia terpilih. Kepada wartawan yang menyergapnya, ia mengatakan akan mengecek kebenaran berita ini ke tetangganya. Karya sastra Modiano yang pemalu ini memang tidak banyak dikenal di luar Perancis. Novel karya Modiano, yang dijuluki Proust - nya Perancis masa kini, mengisahkan tentang manusia dalam pusaran ingatan, identitas, rasa bersalah dan kehampaan.

Dengan penghargaan ini, Modiano kini masuk dalam kalangan elit sastrawan dunia, termasuk Albert Camus, sosok yang melegenda, yang ia kagumi sejak kecil. Selama 45 tahun, Patrick Modiano menulis sekitar 29 buku. Buku pertamanya adalah "La Place De L'etoile" yang ia garap tahun 1968.
Novel ini merupakan karya terbaik Modiano. Setelah itu, sejumlah karya lainnya meraih penghargaan bergengsi seperti, Rue Des Boutiques Obscures, dan Les Boulevards De Ceinture. Namun karena pemalu, nama Modiano tidak dikenal.

Modiano kini berhak mendapatkan uang satu koma satu juta dolar Amerika, selain penghargaan Nobel. Bagi pecinta buku, Modiano dianggap setara dengan penulis Haruki Murakami, sastrawan Ngungi Wa, asal Kenya atau Philip Roth asal Amerika Serikat.

Selama ini Nobel Sastra lebih banyak diraih penulis berbahasa Inggris, baru diikuti, Perancis dan Jerman. Modiano merupakan sastrawan Perancis ke sebelas yang meraih Nobel. Terakhir adalah Jean Marie Gustave Le Clezio, pada tahun 2008.indosiar.com

Berita Pilihan

Berita Campuran

 
Web Design : Peradaban Dunia Team | Redaksi | About
Copyright © 2011. Peradaban Dunia - All Rights Reserved
www.peradabandunia.com