Bagilah Aceh ke dalam 6 Wilayah

Written By Peradaban Dunia on Saturday, July 26, 2014 | 3:06 PM

Tol. Foto: Antara
Sistem kapitalisme yang membentuk pusat pembangunan di satu titik sudah masanya ditinggalkan. Pembangunan Aceh mesti dibagi ke dalam enam wilayah supaya terciptanya keadilan, pemerataan populasi, pendidikan, ekonomi, dan sebagainya yang semuanya akan menciptakan peradaban yang seimbang.

Dengan pembagian ini, niscaya tidak ada wilayah yang terpinggirkan dalam bidang apapun. Pemusatan pembangunan pendidikan atau industri ke dalam satu wilayah akan menciptakan kesenjangan sebagaimana yang sudah-sudah sehingga orang-orang berdesakan ke Banda Aceh.

Enam wilayah tersebut, dengan kekhususan masing-masing, telah saya rincikan di dalam novel yang berjudul ‘Aceh 1446 H- 2025 M’ yang dalam proses penerbitan, yang akan sampai di tangan masyarakat, paling cepat pada Agustus 2014, insya Allah. Karena secara lengkap telah disebutkan di sana, maka di sini hanya saya sebut sebagiannya.

Enam wilayah itu ialah Banda Aceh/Aceh Besar, Meulaboh/Nagan, Barus (Kutacane/Subulussalam), Takengon/Bener Meriah, Tamiang/Langsa/Aceh Timur, Pase (Lhokseumawe/Aceh Utara). Jarak tempuh di antara ke enam wilayah ini lebih kurang sama.

Dengan adanya pembagian wilayah tersebut, maka masyarakat yang berada di Singkel, misalnya, tidak perlu ke Banda Aceh untuk memperbaiki dirinya, cukup ke Barus. Pembagian pembangunan ini memiliki kekhasan masing-masing, misalnya wilayah pendidikan di Barus, wilayah industri dibangun di Pase, dan sebagainya.

Kita mesti membentuk jaring-jaring kuat di antara wilayah itu. Kendaraan penghubung (transportasi) darat harus dibuat rel listrik dan atau jalan layang. Pembangunan tersebut bisa dilakukan dengan mudah oleh pemimpin-pemimpin di Aceh, hanya tinggal niat baik.

Yang menghairankan, mengapa itu tidak dilakukan supaya Aceh menjadi sebuah wilayah yang mandiri dan bermartabat. Jikalau tidak ada pemimpin Aceh yang melakukan itu, apabila Allah Ta’ala memberikan kesempatan, saya akan melakukannya. Amin.

Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan di Pusat Kebudayaan Aceh-Turki (PuKAT).

Ringkasan Sejarah Umat Muslim Hui Cina

Elder Women of Hui Nationality, Xinjiang. Foto: travelchinaguide.com

Alexander Berzin
April 1995

Kaum-Kaum Minoritas Nasional Muslim di Cina

Menurut sensus pada 1990, jumlah penduduk Muslim di Republik Rakyat Cina mencapai angka 17,6 juta; 8,6 juta di antaranya merupakan orang Hui, 7,2 juta orang Uighur, 1,1 juta orang Kazakh, 375.000 orang Kirgiz, 33.500 orang Tajik, dan 14.500 orang Uzbek. Orang Hui utamanya berbahasa Cina, orang Tajik bicara dalam bahasa Indo-Eropa yang berhubungan dengan bahasa Persia, dan yang lain sisanya bicara dalam dialek-dialek Turki. 
Orang Hui termasuk khas di antara lima puluh enam kewarganegaraan Cina yang diakui secara resmi; kekhasannya adalah bahwa agama (Islam) menjadi satu-satunya kategori jati-diri penyatu di antara mereka. Mereka tidak memiliki sebuah bahasa nasional yang dipakai secara umum, mereka telah mengalami banyak kawin-campur dengan orang Cina Han, dan mereka hidup hampir di setiap kota dan kota kecil di sepanjang Cina. 
Mereka memiliki satu daerah otonomi – Ningzia, di antara Gansu sebelah selatan dan Mongolia Dalam – dua prefektur dan sembilan kabupaten otonomi. Kata dalam bahasa Cina “Hui” juga digunakan untuk mengacu pada seluruh umat Muslim, baik di dalam maupun di luar Cina.

Asal-Usul Orang Hui

Walaupun orang Hui merupakan salah satu dari kaum minoritas nasional Cina, mereka tidak terdiri dari bangsa yang seragam. Mereka berasal dari Arab, Persia, Asia Tengah, dan Mongol, dan tiba di Cina dalam beberapa gelombang. Utusan Islam Arab pertama datang ke Cina di masa Wangsa Tang pada 651 M, sembilan belas tahun setelah Nabi Muhammad wafat dan satu tahun setelah penaklukan Arab atas Persia. Sejak itu, walau sebagian besar merupakan orang Arab, ada juga sejumlah kecil pedagang Persia yang bermukim di pesisir tenggara Cina. 
Pada 758, kaisar Cina Tang mengajukan permohonan pada Khalifah Abbasiyyah di Baghdad untuk mengirimkan 20.000 bala tentara untuk membantu memadamkan pemberontakan An Lushan. Para serdadu Arab dan Persia ini menetap di Cina setelahnya, bermukim di wilayah-wilayah barat laut Ningzia dan Gansu. Kemudian, pada 801 bangsa Tibet melibatkan 20.000 tentara bayaran Arab dan Sogdiana untuk membantu mereka dalam perang melawan kerajaan Nanzhao di Yunan, sebelah barat daya Cina. Walaupun Tibet mengalami kekalahan, para prajurit Muslim ini tetap tinggal di daerah itu. 
Gelombang kedatangan bangsa Arab terjadi lagi saat 15.000 prajurit Arab tiba pada 1070 dan 1080 atas undangan kaisar Cina Song Sebelah Selatan untuk membangun sebuah kawasan penyangga di Cina sebelah timur laut antara kerajaannya yang menciut dan Kekaisaran Khitan yang meluas.
Akan tetapi, bagian terbesar dari masyarakat Hui turun dari dua sampai tiga juta orang Muslim Asia tengah yang dibawa oleh penguasa Mongol, Khubilai (Kublai) Khan ke Cina pada 1270an sebagai pasukan tempur cadangan. Mereka membantu penaklukannya atas Cina sebelah selatan pada 1279 dan, di masa damai, menetap di seluruh Cina sebagai pedagang, buruh tani, dan pengrajin.
Salah satu cucu Khubilai Khan, Ananda, dibesarkan oleh orangtua asuhnya yang Muslim Persia. Pada 1285, ia menjadi Pangeran di Anxi, sebuah wilayah yang membentangi wilayah kerajaan Tangut yang takluk di Gansu, Ningzia, dan Sichuan. Kaum Tangut mengikuti perpaduan ajaran Buddha Tibet dan Cina. Bersama sepupunya, Ghazan Khan dari Wangsa Ilkhaniyyah di Persia, Pangeran Ananda menjadi mualaf pada 1295. 
Alhasil, 150.000 bala tentara Mongol yang kuat di Anzi dan sebagian besar kaum Tangut juga menganut Islam. Oleh karena itu, pada akhir Wangsa Yuan Mongol pada 1368, orang Hui menjadi kaum minoritas terbesar di Cina.

Perlindungan terhadap Orang Hui Selama Wangsa Ming

Menurut banyak cendekiawan, pendiri Wangsa Ming, Wangsa Cina Han pribumi yang memerintah Cina setelah bangsa Mongol, sebetulnya merupakan seorang keturunan Hui, walaupun kenyataan ini tetap disembunyikan. Setelah mengalahkan bangsa Mongol, ia memberikan kemerdekaan keagamaan, politik, dan ekonomi pada masyarakat Hui. Akan tetapi, sebagai cara untuk melindungi mereka dari prasangka orang Cina Han, ia menitahkan bahwa orang Hui wajib menikahi, berbicara dalam bahasa, dan berbusana layaknya orang Cina. Sejak saat ini, orang Hui kehilangan akar kebudayaan mereka yang beragam.

Penganiayaan Umat Muslim oleh Manchu semasa Wangsa Qing

Sebagai reaksi keras terhadap perlindungan Ming atas orang Hui, Wangsa berikutnya yang memerintah Cina, Wangsa Qing Manchu (1644 – 1912), memulai tindakan penganiayaan terhadap orang Muslim di Cina. Penganiayaan ini merembet ke umat Muslim Uighur di Turkistan Timur pula. Antara tahun 1648 dan 1878, lebih dari dua belas juta orang Muslim Hui dan Uighur terbunuh dalam sepuluh perlawanan gagal melawan penindasan Qing. 
Akan tetapi, orang Tibet yang juga ditindas oleh pasukan-pasukan Manchu dan Cina Han, mempertahankan hubungan baik dengan orang Hui. Dalai Lama Kelima, misalnya, mengunjungi para pemimpin Islam Hui di Yinchuan, ibukota Ningxia sekarang, pada 1652 dalam perjalanannya menuju Istana Kerajaan Manchu di Beijing. Mereka membahas persoalan-persoalan filsafat dan keagamaan.

Perpindahan ke Kirgizstan – Orang Dungan

Dua gelombang orang Hui berpindah ke Turkistan Barat di bawah kekuasaan Rusia pada akhir abad ke-19. Kelompok pertama tiba pada 1878 dari Gansu dan Shanzi, setelah permberontakan yang gagal melawan kekuasaan Manchu. Gelombang kedua datang pada 1881 dari lembah Sungai Ili di Turkistan Timur sebelah barat jauh. 
Bangsa Rusia telah menduduki daerah ini pada 1871, tapi setelah wilayah tersebut kembali ke pangkuan Cina dengan berlakunya Perjanjian St. Petersburg pada 1881, penduduk setempat diberi pilihan menjadi warga negara Cina atau Rusia. Dua gelombang pendatang Hui ini sebagian besar bermukim di lembah Sungai Chu Kirgizstan, dekat Bishkek. Mereka menyebut dirinya Orang Dungan.

Hui Barat dan Timur

Kini, orang Hui di Cina terbagi menjadi dua kelompok besar. Orang Hui Barat, berpusat di Ningxia, juga hidup di Gansu (baik di bagian dalam maupun luar Amdo), Qinghai, belahan barat Mongolia Dalam, dan provinsi-provinsi Cina sebelah utara seperti Shaanzi, Shanxi, Henan, dan Hebei. Inilah orang-orang Muslim yang dalam jumlah besar pindah ke Tibet Tengah dan yang sekarang memiliki sepertiga dari keseluruhan toko yang ada di Lhasa. 
Pusat kerohanian dan kebudayaan mereka adalah Lingxia, yang berkedudukan di antara Wihara Labrang dan Lanzhou di Gansu. Orang Hui Timur utamanya tinggal di belahan timur Mongolia Dalam.berzinarchives.com

Di Turki, Kucing dan Anjing Jalanan Dipelihara oleh Negaranya

Written By Peradaban Dunia on Friday, July 25, 2014 | 11:40 AM

Seekor anjing memakan makanan dari vending machine buatan perusahaan bernama Pugedon yang disediakan oleh negara di Istanbul, Turki. Foto: why-ed.com
Di beberapa negara, kucing dan anjing dibiarkan survive sendiri sebagaimana manusia yang sama-sama mencari makanan untuk bertahan hidup. Di antara mereka haru mengalami nasib malang karena kelaparan atau bahkan disiksa oleh manusia itu sendiri.

Lain halnya dengan di Turki baru-baru ini. Negara itu bahkan memberikan kesempatan bagi para binatang jalanan seperti anjing dan kucing untuk bisa tetap makan dan minum. Di sana ada sebuah vending machine yang secara otomatis bisa mengeluarkan makanan dan minuman untuk para anjing dan kucing yang lewat.

Cara kerja mesin ini juga membuat banyak orang lebih perhatian dan sadar akan lingkungan. Saat ada orang yang punya air mineral dan tak bisa menghabiskannya, mereka bisa menyalurkan airnya pada lubang khusus mesin ini. Air itu nantinya akan diminum oleh kucing atau anjing yang lewat.

Seorang anak memasukkan minuman dan makanan ke dalam vending machine buatan perusahaan bernama Pugedon yang disediakan oleh negara di Istanbul, Turki. Dan seekor anjing melahap makanan yang disediakan. Foto: inquisitr.com

Vidio tentang orang-orang memasukkan makanan dan air ke mesin tersebut dan anjing memakannya bisa dilihat di sini: https://www.youtube.com/watch?v=SZ7Znh67lnA

Selain itu, botol plastik tadi bisa dimasukkan ke lubang yang lain, kemudian makanan untuk anjing dan kucing ini akan keluar di wadah sebelah tempat minum. Tak hanya orang dewasa, anak-anak sangat antusias menyambut mesin yang sangat bermanfaat ini.

Selain bisa mengurangi masalah sampah plastik, juga bisa berbagi dan lebih memperhatikan binatang jalanan yang terlantar seperti anjing dan kucing. Sebelumnya, sekitar 150.000 anjing dan kucing terlantar di jalanan dan tak ada yang memperhatikan. Sampai sebuah perusahaan memberikan perhatian khusus pada masalah ini.

Anak-anak Turki bersuka ria memasukkan makanan dan minuman ke dalam vending machine buatan perusahaan bernama Pugedon yang disediakan oleh negara di Istanbul, Turki. Foto: elitedaily.com
Perusahaan itu bernama Pugedon. Mereka membuat sebuah vending machine yang bermanfaat bagi lingkungan, manusia dan binatang terlantar. Setidaknya ini merupakan awal dari hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam sekitarnya. Mengingat belakangan juga banyak sekali masalah sampah dan penyiksaan hewan.

Wah, semoga makin banyak negara yang mencoba sistem ini. Siapa tahu Indonesia juga bisa menerapkannya. Karena tak sedikit muda-mudi kita yang sangat peduli dengan kucing dan anjing yang terlantar.

Seekor kucing memakan makanan dari vending machine buatan perusahaan bernama Pugedon yang disediakan oleh negara di Istanbul, Turki.. Foto: kelownanow.com
Kasih sayang terhadap binatang yang dicontohkan oleh orang Turki ini mengingatkan kita pada novel 'My Name is Red' karya Orhan Pamuk, penduduk Istanbul, Turki yang memenangkan nobel sastra dunia pda tahun 2006.

Dua orang gadis Turki memasukkan makanan dan air ke dalam vending machine buatan perusahaan bernama Pugedon yang disediakan oleh negara di Istanbul, Turki. Foto: why-ed.com
Di dalam buku yang mengisahkan ketinggian peradaban Islam di zaman Ottoman Turkish itu terdapat satu bab yang berjudul 'Aku adalah Seekor Anjing'. Apakah pemberian makanan untuk anjing dan kucing terlantar di Turki ini dipengaruhi oleh buku tersebut atau tidak, hanya orang Turki yang mengetahuinya.

Dan, itu menunjukkan bahwa bangsa Turki memiliki peradaban yang tinggi, jangankan manusia, anjing dan kucing jalanan saja dihargai dan diberikan makanan dan minuman.vemale.com

Dukung Fadhli Aceh Bertahan di Delapan Besar AKSI Indosiar Malam Ini

Written By Peradaban Dunia on Thursday, July 24, 2014 | 6:45 AM

Ketik Fadhli (spasi) AKSI (kirim) ke 7288

Zul Fadhli
Banda Aceh - Muhammad Zul Fadhli, satu dari sepuluh kontestan yang tampil di Akademi Sahur Indonesia (AKSI) Indosiar 2014 malam ini. Kehadiran Fadhli di AKSI Indosiar kali ini untuk mengharumkan nama Provinsi Aceh di tingkat nasional.

“Alhamdulillah Fadhli masuk 10 besar, ini merupakan doa masyarakat Aceh dimana Fadhli tampil kembali bersaing bersama finalis lainnya di AKSI Indosiar 2014, mohon dukungan penuh dari masyarakat Aceh ban Sigom Aceh, dan Masyarakat Indonesia dari sabang sampai Maroke, dan seluruh teman teman di yang di negeri jiran yakni satu Malaysia dan seluruh masyarakat diseluruh dunia yang menyaksikan AKSI mala ini yang disiarkan langsung di Indosiar,” kata Fadhli AKSI yang saat ini sedang berada di Jakarta, Rabu, 23 Juli 2014.

Fadhli akan tampil malam ini dengan tausiah bertema “Mengembangkan Kualitas Umat”. Fadhli satu dari empat kontestan AKSI asal Aceh, yang masih bertahan. Beberapa waktu lalu ia sudah melakukan Tabligh Akbar “Saweu Syedara” ke sejumlah daerah di Aceh, seperti Aceh Utara, Lhokseumawe, Bireuen, Banda Aceh, dan Sigli.

“Saya mengucapkan banyak terimakasih atas dukungan selama ini dan mengajak semua masyarakat Aceh mendukungnya kembali di persaingan 10 besar yang sangat sengit ini, dengan cara Ketik AKSI (spasi) FADHLI kirim ke 7288, ‘Beumeuhasee lagee ban hajat’,” cetusnya.

Seperti diketahui, Fadhli adalah generasi Aceh yang memiliki segudang prestasi, dia merupakan buah hati dari almarhum Tengku Razali dan Zarniah dan merupakan adik kandung dari pelantun lagu Ratep Meutuah, Joel Pasee, penyanyi Aceh yang juga memiliki segudang prestasi.

Lelaki kelahiran Blang Pulo 19 Desember 1989 ini, pada 2008 silam mendapatkan juara pertama lomba Pidato antar sekolah se-Kota Lhokseumawe. Selanjutnya, pada tahun 2010 dirinya berhasil meraih juara pertama khutbah jumat se-Kota Lhokseumawe.

Pada tahun 2013 lalu, prestasi yang sangat membanggakan Aceh dan Universitas Almuslim tempatnya menuntut ilmu, ia meraih juara kedua Lomba Pidato Bahasa Melayu Internasional, memperebutkan piala Perdana Menteri Malaysia.*

Surat Terbuka untuk Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdoğan dari Thayeb Loh Angen

Kepada Yth: 

Pemimpin Yang Agung, Tuan Recep Tayyip Erdoğan

Recep Tayyip Erdoğan. Foto: wikipedia.org
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Saya tidak perlu mengatakan di sini tentang kemajuan sikap bangsa Turki semenjak Tuan memimpinnya, seluruh dunia tahu itu dan banyak pemimpin lain pun melakukannya. Namun, Tuan telah melakukan hal yang menisbahkan Tuan adalah pemimpin yang agung dan Turki sebagai bangsa beradab yang mempedulikan bangsa lain.

Kami telah mengikuti perkembangan sikap Tuan dan bangsa Turki terhadap pembantaian massal oleh negara Israel terhadap bangsa Palesina di Gaza. Protes-protes terhadapnya dilakukan di berbagai belahan bumi.

Namun, yang paling berani dan berpengaruh dari sekalian sikap itu ialah sikap Tuan Recep Tayyip Erdoğan, dengan:

1. Menyatakan bahwa Israel lebih kejam daripada Hitler karena membantai orang Palestina;
2. Pemboikotan setiap barang buatan (produk) Israel di wilayah negara Turki;
3. Yang paling mengesankan adalah sikap Tuan yang menolak untuk berbicara dengan presiden Amerika Serikat Barack Obama karena ia mendukung penyerangan oleh Israel ke Gaza, Palestina.

Panjang umur Pemimpin Yang Agung.

Banda Aceh, 24 Juli 2014.

Wassalam,
Thayeb Loh Angen.
Pusat Kebudayaan Aceh-Turki (PuKAT), Aceh, Indonesia.

Fadhli Aksi Ceramah di Banda Aceh

Written By Peradaban Dunia on Saturday, July 19, 2014 | 3:39 AM


Muhammad Zulfadli

Banda Aceh - Peserta asal Aceh di Akademi Sahur Indosiar- Aksi Dai Indosiar 2014, Muhammad Zufadhli (Fadhli Aksi) dipastikan besok akan mengantarkan tausiah di Banda Aceh. fahdli direncanakan akan membawa tausiah di acara Silaturrahmi dan buka puasa bersama dengan wartawan dan organisasi kemasyarakatan di Banda Aceh.

Muhammad Zulfadhli adalah Mahasiswa Al-Muslim Aceh dan Alumni Pasantren Moderen Misbahul Ulum, Aceh," berhasil melewati gerbang AKSI Indosiar 2014 baru baru ini.

Kasubag makalah walikota, Wirzaini, mengatakan Fadhli Aksi juga akan menghadiri undangan Walikota Banda Aceh Hj Illiza Sa'aduddin Djamal SE, pada kegiatan Silaturrahmi dan buka puasa bersama dengan wartawan dan organisasi kemasyarakatan yang bertempat Kediaman Walikota Banda. Lr. Bak Asan Dsn. Siyung Yung Gp.lamdingin, Banda Aceh.

Sementara itu, abang kandung Fadhli Aksi, Joel Pasee, membenarkan bahwa Fadhli Aksi akan memenuhi undangan teman teman di Banda Aceh, yaitu besok, Sabtu, (19 Juli 2014) pada kegiatan ajang Silaturrahmi dan buka puasa bersama dengan wartawan dan organisasi kemasyarakatan di Banda Aceh,

“Iini sebuah penghargaan bagi Fadhli untuk menyampaikan rasa terimaksihnya kepada masyarakat Aceh dan Banda Aceh khususnya yang sudah membantu SMS dan dukungan kepada Fadhli di Aksi Indosiar selama ini" kata Joel Pasee, Jumat (18/7) di Banda Aceh. .

Joel Pasee juga mengaku, sejak kembali Fadhli ke Aceh, fadhli juga melakukan Tabligh Akbar Keliling "Roadshow Aceh Ramadhan" dengan tema "Fadhli Saweue Syedara".
Sebelumnya Fadhli juga sudah bertausiah di Bireuen, Lhokseumawe dan Insyaallah besok akan tampil di Banda Aceh.akunya.dedex ktb

PuKAT Kirim Mahasiswa ke Harman Internship Turki

Ariful Azmi Usman. Foto: Facebook.com
Banda Aceh - Pusat Kebudayaan Aceh-Turki (PuKAT) mengririmkan seorang mahasiwa dari Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) untuk mengikuti Harman Internship Program (GIPUS - Global Internship Program for Undergraduated Students) yang akan berlangsung pada 1 sampai 31 Agustus 2014 di Istanbul, Turki.

Acara tersebut diperbuat oleh Eurasia Turkic Culture Strategic Research Foundation (ASAV) dan diikuti oleh mahasiswa daripada beberapa benua. Ariful Azmi Usman (21),  terpilih mewakili Indonesia setelah  mengikuti berbagai tahapan seleksi bersama sejumlah calon peserta lainnya, mulai dari seleksi berkas hingga tahap wawancara dengan perwakilan pelaksana program di Malaysia.

Setelah mengikuti seleksi selama dua bulan oleh pengurus PuKAT, Ariful terpilih mewakili Aceh dan Indonesia. Mahasiswa yang juga merupakan Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia (PW PII) Aceh asal Kota Lhokseumawe tersebut, mengaku sangat bersyukur bisa membawa nama Aceh dan Indonesia di kancah Internasional.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur terpilih menjadi wakil Aceh dan Indonesia dalam program ini. Seleksinya saya ikut sejak akhir Maret lalu, dan pengumumannya sekitar bulan Juni 2014 kemarin, rencanaya saya berangkat akhir bulan ini, insya Allah,” kata Ariful, Jumat, (18/7/2014).

Menurut Ariful, tak hanya Indonesia, perwakilan dari negara lain juga  ikut hadir dalam acara ini, dan akan ditempatkan pada perusahaan dan lembaga yang telah ditentukan. Tak hanya itu, para peserta juga mengikuti berbagai seminar dan kunjungan formal selama di Turki. “Di sana nanti saya akan bergabung dengan kawan-kawan dari negara lain, masing-masing negara diwakili satu orang,” jelasnya.serambinews.com

Sri Maulita Dapat Bantuan KWPSI

Written By Peradaban Dunia on Thursday, July 17, 2014 | 9:43 PM

Wartawan Peradaban Dunia, Thayeb Loh Angen (tiga dari kanan) dan sineas Irfan M Nur (dua dari kanan), menyerahkan bantuan dari Kaukus Wartawan Peduli Sayriat Islam (KWPSI) kepada Sri Maulita, yatim penderita bocor jantung asal Reubee, Kecamatan Delima, Pidie, yang kini ditampung sementara di rumah wartawan Harian Serambi Indonesia, Zainal Arifin M Nur, selama masa tunggu waktu operasi tiba di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA), Banda Aceh, (17/07/2014). Terlihat di foto (dari kanan): Abdullah, Irfan M Nur, Thayeb Loh Angen, Sri Maulita, Darma, Juliani, Ifra Munira, Humaira. Foto: Zainal Arifin M Nur.
Banda Aceh - Harian Serambi Indonesia memberitakan sebagaimana laporan Zainal Arifin M Nur, Sri Maulita (14), terlahir dalam keluarga miskin di Gampong Meunasah Daboh, Reubee, Kecamatan Delima, Pidie. Ayahanda daripada Sri Maulita yang bernama Mukhlis Ibrahim telah pun meninggal dunia pada bulan Ramadhan tahun 2011 lalu.

Sejak itulah Sri Maulita hidup bersama ibundanya Darma (32), abangnya Arismunandar (kini berusia 16 tahun dan berstatus siswa MAN Delima), serta adik perempuannya, Khairun Nisa Fitri (12). Dia bersama abangnya, terkadang juga adiknya yang kini duduk di kelas 6 MIN Reubee, ikut bekerja membantu sang ibunda sebagai pekerja upahan di sawah.

Awalnya semua berjalan sebagaimana biasa, sebagaimana kehidupan kebanyakan penduduk fakir dan yatim di pedalaman Aceh. Hingga sejak tiga bulan terakhir, tepatnya pada November 2013, Darma pun melihat perubahan pada diri puterinya.

Sri Maulita yang biasanya ceria pun sering terlihat murung dan kerap menyendiri. Maulita juga tidak lagi mampu mengayuh sepeda untuk menuju sekolahnya di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Gampong Aree, yang berjarak sekitar 3 kilometer dari rumahnya.


SRI Maulita, duduk di pangkuan ibundanya, Darma, ditemani sang adik Khairun Nisa, di rumah mereka, Gampong Daboh Reubee, Kecamatan Delima, Pidie, Jumat (31/01/2014).  Foto: Serambinews.com/Zainal Arifin.
Darma mengatakan bahwa terkadang dirinya menemukan Maulita menangis sendiri. Saat kelelahan waktu pulang sekolah, tubuhnya kerap bergetar dan suhu badannya panas. Du'a untuk kepulihan Sri Maulita masih pun diharapkan dari kita.serambinews.com

Fachrurrazi: Lagu Prang Sabi Ala Niken Harus Segera Ditarik dari Youtube

Written By Peradaban Dunia on Tuesday, July 15, 2014 | 6:50 AM

Lembaran Asli Hikayat Prang Sabi karangan Tgk Chik Pante Kulu. Foto: wikipedia.org
Banda Aceh – Mantan Aktivis GAM, memprotes keras terhadap dinyanyikannya Hikayat Prang Sabi yang merupakan syair pembangkit semangat perang di Aceh oleh Niken KDI dengan arransmen dangdut dan direkam untuk dikomersilkan.

“Syair Hikayat Prang Sabi pembangkit semangat perang di Aceh karangan Tgk Chik Pante Kulu yang telah dikumandangkan sejak masa peperangan dengan Belanda menjadi syair yang dihormati oleh seluruh rakyat Aceh. Tgk. Chik Pante Kulu merupakan Sosok tokoh Ulama Kharismatik Aceh yang dengan susah payah mengarang hikayat tersebut guna untuk membangkitkan semangat pejuang untuk mengusir Penjajah Belanda,” kata Fachrurrazi, di Banda Aceh, 14 Juli 2014.

Dia menyatakan, syair itu juga turut dikumandangkan oleh tentara GAM sebelum Penandatanganan MoU Helsinki. Namun, kata dia, tingkah Niken telah menjatuhkan marwah Hikayat tersebut.

“Kami kecewa ketika mendengar dan melihat Vidio klip Hikayat Prang Sabi yang dinyanyikan oleh Cut Niken. Itu merupkan penghinaan. Sebagai langkah damai, kami minta lagu tersebut segera ditarik dari youtube yang telah tersebar luas dan Cut Niken beserta krunya meminta ma’af kepada rakyat Aceh,” kata Fachrurrazi.

Fachrurrazi juga mengatakan, hal-hal yang menyangkut kebanggaan rakyat Aceh seperti Hikayat Prang Sabi, sebaiknya tidak dijadikan bahan komersial dan tempat mencari popularitas. HIkayat Prangsabi sangat berbeda dengan Hikayat-hikayat lainya. Kata dia, tidak wajar bagi Niken yang merupakan seorang penyanyi dangdut KDI untuk menyanyikan hikayat tersebut dengan bahasa Aceh yang tidak begitu fasih.

“Itu adalah lagu semangat perang, musik yang sesuai untuknya adalah orchestra atau marching band yang dinyanyikan oleh orang-orang yang benar-benar ahli dengan persiapan yang cukup, bukan dinyanyikan sembarangan untuk joget-joget dan mencari tenar sebagaimana yang dibuat oleh Cut Niken,” kata Fachrurrazi.

Fachrurrazi
Fachrurrazi menyatakan, dia dan rekan-rekan sama sekali tidak akan bernegosiasi dengan pihak ILA Production tentang lagu tersebut. Karena, menurutnya, itu bukan masalah kebebasan mengekspresikan seni, tetapi itu adalah masalah harga dari sebuah karya seni yang legendaris milik seluruh rakyat Aceh dari zaman ke zaman.

Fachrurrazi juga menekankan kepada pemerintah Aceh untuk menjaga keorisinalan hikayat tersebut agar tidak diutak atik oleh pihak-pihak tertentu.

“Sebelum masalah ini menimbulkan konflik yang meluas, kami minta, lagu itu segera dihapus dari youtube dan ILA Production bersama krunya meminta ma’af kepada rakyat Aceh,” kata Fachrurazi.

Aulia Fitri selaku Sutradara di ILA Production saat dihubungi Reportase kamarin 14/07/2014, malam via telpon seluler mengatakan, “ Bahwasanya lagu Hikayat Prangsabi Cipta Tgk. Chik Pante Kulu yang dinyanyikan oleh Cut Niken KDI itu merupakan Singel yang belum dijadikan sebuah Album.”

Saat ditanya mengenai kecaman dari sejumlah Aktivis tentang beredarnya Singel Hikayat Prang Sabi di Youtube yang dinyanyikian Cut Niken KDI, Aulia Fitri menjawab, “Bahwasanya makna lagu Hikayat Prang Sabi tergantung pola pikir, bagaimana yang menilainya.*

Doto dan Mualem Beda Pilihan, Terpecah atau Siasah?

Written By Peradaban Dunia on Friday, July 11, 2014 | 2:28 AM

Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda, 2 Nopember 1949.
Foto: indonesianfilmcenter.com
Pemilihan presiden Republik Indonesia (RI) yang telah dilangsungkan kemarin, 9 Juli 2014. Di Aceh, yang merupakan wilayah bekas perang pemberontakan, telah terjadi hal yang mengejutkan masyarakat Aceh, Indonesia, dan negara lainnya. Dua orang pemimpin tertinggi, secara terang-terangan menyatakan mendukung pasangan calon yang berbeda di antara dua pasangan yang tersedia.

Didukungnya pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) nomor urut 1 Probowo-Hatta oleh Muzakir Manaf atau Mualem yang merupakan Ketua Umum Partai Aceh (PA) sekaligus Wakil Gubernur Aceh telah dihujat sejak awal oleh beberapa pihak dan didukung penuh oleh pihak lainnya.

Dan tatkala, Zaini Abdullah atau Doto yang merupakan petinggi PA dan sekaligus menjabat sebagai Gubernur Aceh mendukung capres dan cawapres nomor urut 2 Jokowi-JK, maka orang-orang pun berteriak, Partai Aceh terbelah. Benarkah? Sesederhana itukah masalahnya?

Jawaban yang sebenarnya tidak akan pernah ditemukan karena jawaban ahli siasah (politik -red) –terlebih tatkala waktu pemilihan presiden hampir tiba- akan sarat pertimbangan kepentingan ke depan dan dukungan di masa kini. Baik Muzakir Manaf mahupun Zaini Abdullah, tidak akan menjawab apa yang sebenarnya terjadi, akan tetapi dapat diperkirakan bahwa kedua pemimpin Aceh tersebut akan menjawab, apa yang seharusnya diyakini oleh sekalian orang.

Marilah kita telusuri beberapa kabaran yang disiarkan oleh berbagai media. Muzakir Manaf, secara terus terang melarang rakyat di Aceh untuk mendukung Partai Demokrasi Indonesia – Perjuangan (PDI-P) dan calon yang dinaikkannya karena petinggi partai ini yang menjabat Presiden Indonesia kala itu memberlakukan Darurat Militer (DM) di Aceh pada 2003.

DM menyebabkan GAM terjepit dan banyak anggotanya bersama sebagian rakyat Aceh meninggal dunia. Pernyataan tersebut mengenyampingkan keberadaan Jusuf Kalla (JK) yang tatkala menjabat sebagai Wakil Presiden RI merupakan salah seorang yang memiliki andil besar terjadinya penandatanganan perdamaian GAM-RI pada 2005 di Helsinki, ibukota Finladia.

Sementara, sebagian orang tidak menyukai Prabowo karena ianya merupakan petinggi Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Indonesia tatkala diberlakukannya Daerah Operasi Militer (DOM) untuk Aceh (1989-1998) oleh petinggi partai Golongan Karya (Golkar) Suharto dengan mengirimkan Kopassus ke Aceh.

Marilah kita lihat perkara ini lebih dekat dengan timbangan bahwa ingatan merupakan hal yang penting.
Pembenci Jokowi karena petinggi PDI-P memberlakukan DM untuk Aceh akan mendukung Prabowo yang merupakan petinggi Kopassus tatkala anggota pasukan itu dikirim ke Aceh sebagai pelaksana DOM.

Itu memang ironis, yakni suatu kejadian atau keadaan yang bertentangan dengan yang diharapkan atau yang seharusnya terjadi, tetapi sudah menjadi suratan takdir. Keadaan ini bersifat ironi karena ‘pasta kebenaran’ yang diyakini dan diharuskan meyakini oleh pendukung dari kedua kubu tersebut bertentangan dengan keadaan yang sesungguhnya.

Bedasarkan apa yang telah dilakukan oleh keempat capres-cawapres atau partainya tersebut, Aceh tidak bisa berharap banyak tentang kemajuan dan kehormatan, siapapun yang terpilih di antara mereka. Aceh mesti memiliki kecerdasan, kegigihan, dan keberanian untuk bangkit dan berdiri tegak dengan tubuhnya sendiri.

Berdasarkan itulah, Aceh yang sudah pengalaman dikhianati oleh Indonesia, akan menghindari akibat buruk dari permainan tersebut. Dan, capres-cawapres yang hanya memiliki dua nomor urut membuat itu mudah dilakukan dengan aman.

Cara terbaik adalah, meyakinkan Jakarta bahwa Aceh mendukung kedua capres-cawapres tersebut sekaligus dengan memberikan bukti bahwa itu sikap yang sebenarnya, bukan kangkang lueng (mengangkangi parit, kakinya berada di kedua sisi parit sehingga akan dianggap bagian oleh kedua belah pihak).

Maka, wakil Gubernur Aceh mendukung nomor urut 1 dan Gubernur Aceh mendukung nomor urut 2 sehingga siapapun yang menang, Aceh akan dihitung sebagai pendukung presiden pemenang. Baru kali ini, Aceh mengambil langkah tepat untuk menghadapi permainan dari Jakarta, baik itu disengaja atau merupakan sebuah kebetulan, kebetulan yang terncana.

Aceh yang baru beberapa tahun selesai berperang dengan RI masih menjadi acuan bagi pemain Jakarta, seberapa jauh mereka berhasil meraih pendukung. Keadaan ini membuat Aceh tetap penting bagi partai nasional walaupun suara terbanyak untuk pemilihan di tingkat nasional berada di pulau Jawa dan kertas suara di Aceh tidak akan berpengaruh banyak untuk kemenangan.

Menyadari kenyataan seperti itu, Aceh tidak mahu lagi terjebak di dalam perangkap permainan Jakarta, maka menjadi tukang kangkang lueng adalah pilihan cerdas untuk menghadapi orang yang sudah terbukti sering mengingkar janjinya. Seandainya itu memang siasah petinggi Aceh, berarti Aceh sudah menguasai keadaan dan sudah siap untuk bangkit.

Siapapun yang disahkan terpilih dan dilantik sebagai presiden RI nantinya, Aceh tetap mesti berusaha keras untuk mendapatkan haknya. Itu telah dibuktikan oleh Aceh yang hampir seratus persen mendukung SBY sebagai presiden, tetapi sampai hari ini pembagian hasil migas dan bendera Aceh belum pun disahkan sebagaimana keinginan Aceh.

Dan, harapan kami kepada Tuan Gubernur Aceh Zaini Abdullah dan Tuan Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf, hendaknya kalian berdua yang telah dipercayakan sebagai pemimpin Aceh, meyakinkan kami sekalian rakyat bahwa Anda berdua bisa bekerja sama dalam hal apapun supaya Aceh bisa dibangun sebagaimana keinginan rakyat.

Pemilihan presiden RI telah selesai, dengan sendirinya pertikaian di antara kalian pun selesai. Sesederhana itulah harapan kami. Sapu kheun sapue pakat (seiya sekata -red) sebagaimana amanah indatu (nenek moyang –red), ingin kami lihat dari kalian berdua. Anda berdua, wahai Tuan Gubernur dan Tuan Wakil Gubernur adalah cerminan kami bagi orang luar.

Apabila baik kebijakan kalian, maka baiklah kami, apabila kalian bertindak salah, maka salahlah kami walaupun kami bertindak benar dalam kehidupan kami sehari-hari. Akan tetapi, karena telah memilih kalian sebagai pemimpin, maka kami ikut bertanggung jawab atas apa yang kalian lakukan.

Seorang penyair besar dari Persia yang bernama Sa'adi Shirazy pernah mengungkapkan, ‘Jika Sultan menganggap benar tindakannya mengambil sebagian telur secara paksa, maka pasukannya akan mengambil ribuan unggas dari panggangannya.’

Thayeb Loh Angen, Pemerhati Politik Aceh, Aktivis Kebudayaan di Pusat Kebudayaan Aceh-Turki (PuKAT).

Kepada Nasionalis Aceh yang Terasing

Written By Peradaban Dunia on Monday, July 7, 2014 | 8:30 AM


Engkau mahu mengajak kami mengangkat senjata lagi?
Simpanlah mimpi itu sebagai penghias tidur siangmu
di musim salju, dingin, dan gugur.

Lihatlah ribuan nyawa yang menghilang paksa,
telah pun disia-siakan,
alasan untuk peristiwa itu kini telah pun ditelan lagi
bagaikan ludah-ludah ular,
setetespun tidak terjatuh ke rerumputan.

Apabila tidak tahu berapa jumlah kematian
yang harus dilalui,
apabila tidak tahu kapan dan bagaimana itu harus berakhir,
janganlah memulai perang.

Apabila tidak mahu menggenggam bara
dengan tanganmu sendiri,
janganlah menyalakan api
di dalam gerimis dan angin kencang.

Sesuatu yang menghilang di atas meja
tidak akan ditemukan di medan perang
atau pidato yang menyala-nyala,
tetapi ianya akan ditemukan di meja yang lain.

Sudahkah engkau begitu terhormat sehingga
sekalian orang harus membuat meja itu kembali
dan engkau di sana mengambil yang telah menghilang?

Oleh Thayeb Loh Angen, Aktivis Kebudayaan.

Meura Farisa, Dara Bandar Aceh

Written By Peradaban Dunia on Friday, July 4, 2014 | 9:37 AM


Gambaran. Foto: kavehfarrokh.com
Halaman rumah Orang Kaya Maha Lila Selangsa pun senyap. Lampu-lampu jingga dari jalan berbaris bersambung dengan lampu di gerbang rumah panggung di atas tanah sepuluh petak. Meura Narindi dan Seulangsa sudah dari tadi tidak bergerak di kamar depan. Lima tentara penjaga di gerbang berbicara pelan.

Meura Farisa mengambil pedang dan panah, lalu melompat ke kandang kuda. Binatang itu tidak meringkik melihat wajah tuannya, dan sudah terbiasa diajak mengelilingi kota tengah malam. Dara itu melepaskan kuda hitam dan menunggangnya melewati gerbang. Empat orang penjaga berdiri menghormat dan mencegat Meura Farisha.

“Baginda Orang Kaya Maha Lila Selangsa Seulangsa memerintahkan kami agar tidak mengizinkan Po Cut keluar tatkala malam,” penjaga itu berkata mantap, tapi suaranya bergetar, takut dihajar Meura Farisha yang terkenal suka memukul siapa saja.

“Jika itu engkau lakukan, besok kuminta ayahanda memindahkan tugasmu ke Indra Puri, di sana engkau bisa mencegah gajah yang terantai,” Meura Farisha tidak bergerak di atas punggung kuda hitamnya. Penjaga yang mencegat tadi menoleh empat temannya yang mengangkat bahu.

Penjaga pencegat tidak bergerak. Mereka berpikir, kalau memaksa mencegat si dara, pasti mereka tidak bisa menang melawannya dan besok mereka akan dipindahkan ke Indra Puri, kalau mereka membiarkan Meura Farisha pergi dan Orang Kaya Maha Lila Selangsa tahu, maka besok mereka akan dimarahi tetapi tidak dipindah tugaskan karena Meura Farisha memaksa, tetapi itu akan mencemarkan nama baik mereka sebagai ksatria.

‘Awas!” Meura Farisha memacu kuda hitamnya memembus barisan empat orang penjaga. Keempat lelaki itu terpaksa melumpat ke rerumputan, lalu segera mengadukan kejadian itu akan Orang Kaya Maha Lila Selangsa yang tengah tidur di ruang utama rumahnya. 

Bila jenuh di rumah, dia keluar dan berkuda sampai mulut binatang itu berbusa. Jalan-jalan berkerikil campur tanah itu mengepulkan debu. Dara itu melewati pangkalan tentara penjaga istana, menuju Keutapang. Dia menghentikan kuda. Pangkalan tentara istana senyap. Tidak ada tentara yang berkeliaran selain sepuluh orang tentara penjaga yang bersantai-santai di gerbang seperti biasanya.

Meura Farisha menuju sudut terjauh dari gerbang dan menambatkan kuda, lalu memanjat dinding pangkalan tentara istana, setinggi seorang dewasa. Tidak ada tentara yang berkeliaran. Dia mengendap-endap, menuju lapangan tengah, tempat biasanya tentara berkumpul. Tidak ada orang. Dara itu melewati lapangan tengah, menuju ruangan tertutup, tempat rapat tentara Istana. Sebuah lampu menyala di ruangan luas itu, puluhan lampu lain tidak dinyalakan.

Dari celah dinding tampak Beurehoi dan tiga perwiranya berbincang. Meura Fasrisha mendekatkan kuping ke lubang itu. Samar-samar terdengar perbincangan itu.

“Keluarga Sultan Iskandar Muda harus didiamkan lebih dulu, lalu pengumuman, saat Sultan kembali, dia telah kehilangan tahta kesultanannya, dan kita hapuslah dia dari sejarah,” Beureuhoi menatap tiga perwira di depannnya.

“Kapan kita mulai?”

“Selain malam ini, saat semua senyap dan terlelap, dan begitu terbangun, mereka melihat sejarah telah berubah.”

Meura Farisha pucat mendengar rencana Beurehoi. Gadis berambut bergelombang itu mengendap dan menjauh dari ruangan itu. Tapi begitu sampai di lapangan, dua orang tentara menghadangnya.

“Tidak boleh ada yang tahu aku ke sini,” Meura Farisha mencabut pedang dan berlari kencang seraya menebas dua tentara yang menghadangnya. Dua tentara itu menghindar, tapi lengan mereka tergores. Dara itu menaiki dinding pangkalan tentara istana cepat-cepat dan menuju kuda hitamnya. Kuda hitam pun melesat.

Penjaga pangkalan tentara istana telah mengetahui penyusupan dan mengenal Meura Farisha, tidak ada perempuan lain yang membawa pedang dan panah di Bandar Aceh. Beureuhoi memerintahkan ratusan tentara untuk mengejar Meura Farisha dan ratusan lainnya menjaga sekeliling rumah Seulangsa. Ribuan tentara lain sedang berlatih sebagai persiapan untuk kudeta di Pantai Ule Lheue.

Meura Farisha memacu kuda ke perkampungan. Ratusan tentara yang mengejarnya pun kehilangan jejak.

Kalau pun dara itu tidak masuk ke jalan-jalan kecil perkampungan, kuda hitamnya tidak mampu dikejar oleh kuda manapun di negeri ini. Meura Farisha menikung ke kebun mangga di tepi persawahan. Baru sesaat di sana, dia pun berhenti, rombongan pasukan kuda pengejarnya melewati jalan di depannya berdiri, sekira dua ratus langkah. Meura Farisha memacu lagi kuda ke arah yang tadi dia lewati, dara itu memilih jalan perkampungan supaya tidak melewati pangkalan tentara istana.

Di jalan perkampungan, dia menghentikan kuda, membiarkan rombongan gajah lewat. Baharu beberapa saat memacukan akan kudanya, sebuah kawanan gajah pun lewat lagi. Meura Farisha berhenti, tidak berani berhadapan dengan gajah. Dia termangu di atas punggung kuda, dia berpikir, jika dirinya berhenti terus di sana, kawanan gajah bisa saja melintasinya, bila dia kembali ke jalan yang telah dilewati, kawanan gajah bisa saja sudah ada di sana, bila dia meneruskan perjalanan, kawanan gajah bisa saja sudah ada di depan. Tidak ada yang bisa dilakukannya. Dara itu tidak mengerti  mengapa gajah-gajah bisa berkeliaran.

“Aku harus cari tempat bermalam,” Meura Farisha meneruskan perjalanan, memilih terus diam di sana atau mundur sama akibatnya dengan maju. Jalan-jalan perkampungan lewat, dia memasuki pusat bandar kembali. Namun, begitu tiba di persimpangan dekat pohon meranti sebesar gajah, dia tersentak dan menghentikan kudanya.

Pasukan berkuda telah menghadang.

“Engkau menyusup ke pangkalan tentara istana, kami harus membawamu ke Panglima Beuruhoi,” seru seorang tentara yang berdiri paling hadapan.

“Boleh sahaja jika engkau bisa,” Meura Farisha mencabut pedang tanpa turun dari punggung kuda hitamnya.

Tentara yang berdiri paling hadapan pun mundur dan mencabut pedang, disusul  oleh ratusan tentara  lain.
Selama ini mereka hanya mendengar cerita bahwa ada seorang dara di lingkungan istana yang ahli ilmu perang, tetapi tidak mahu menjadi tentara. Dan, dara itu suka berkelahi dengan siapapun. Inilah kesempatan bagi mereka untuk membuktikan apakah cerita itu benar atau tidak.

Pertarungan Meura Farisha melawan ratusan tentara itu pun terjadi di persimpangan Lambaro. Manakala pertempuran itu terjadi, sekawanan gajah melintasi kebun-kebun di sekitar. Penduduk yang yang tadinya terlelap di rumah masing-masing, kini terjaga.

Meura Farisha menebas satu persatu tentara yang menghadangnya. Bau darah menyebar di bawah keremangan purnama di persimpangan itu. Kuda tentara yang tewas pun meringkik dan melesat ke jalan mana saja tanpa arah. Bagi kuda, kehilangan tuan berarti kehilangan tujuan. Setelah sebagian tewas dan tergeletak di jalan, seorang tentara menyerukan mundur. Maka, ratusan tentara itu menunggang kuda ke arah yang berlawanan dari Meura Farisha muncul tadinya.  

Dara itu pun menyeka akan keringatnya, mengelap pedang dengan dedaunan di tepi jalan seraya memandang ratusan tentara yang menghilang di hujung jalan dalam keremangan purnama. Mayat-mayat bergelimpangan di persimpangan itu. Dia menyentakkan akan tali kekang kudanya, dan binatang terlatih itu pun melangkahi mayat-mayat, menuju jalan yang darah tidak tumpah di sana.

Meura Farisha terus memacu kuda ke pusat Bandar Aceh Darussalam, mencari rumah bermalam. Tetapi tidak jadi, jika ke penginapan, tentara Beuruhoi mudah menemukannya. Maka, dia pun menikung ke Darussalam, dekat perguruan tinggi antara bangsa yang disebut Dayah.

“Beureuhoi harus dicegah,” desis dara itu seraya memacu kudanya.

***
Cerpen oleh Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan di Pusat Kebudayaan Aceh – Turki (PuKAT), penulis novel Teuntra Atom, novelnya yang berjudul ‘Aceh 2025’ dalam proses penerbitan.
Cerita ini telah disiarkan di Suara Darussalam keluaran bulan I Tahun 2014. Ianya adalah penggalan dari naskah novel berjudul ‘Penakluk dari Timur’ yang ditulis sejak 2010, belum diterbitkan.

Erdogan dan Kesiapan Masyarakat Turki

Written By Peradaban Dunia on Tuesday, July 1, 2014 | 10:36 PM

Masyarakat Turki yang telah tercerdaskan menyadari bahwa AKP dan Erdogan memiliki kekurangan, tetapi apabila mereka tidak mendukung Erdogan dan AKP-nya, maka kemalangan seperti Libya, Irak, dan negara lainnya yang akan dialami, dan itu merupakan hal pantang. 



Jatuhnya pemerintahan Suharto di Indonesia, Pakistan, Afghanistan, Saddam Husein di Irak, Muammar Khadafi di Libya, Tunisia, Husni Mubarak di Mesir merupakan sebuah mata rantai penghancuran yang dilakukan oleh pihak Barat terhadap negeri berpenduduk muslim terbanyak yang mulai bangkit.

Penghancuran itu didahului dengan membentuk opini masyarakat dunia melalui media-media yang mereka kuasai yang dibantu oleh orang dalam yang telah dibayar. Tatkala negara-negara tersebut semakin kuat di dalam bidang politik dan ekonomi, niscaya mereka dihancurkan dengan tangan anak bangsa mereka sendiri yang bisa disuap dan punya kesakit hatian terhadap pemimpin.

Di antara rangkaian itu, hanyalah Turki di bawah pimpinan Perdana Mentri Erdogan yang mampu menghadapi serangan opini Barat dengan bertahan, menenerjemahkan, menyerang balik, dan maju. Apa kekurangan negeri-negeri berpenduduk Islam lain dan apa kelebihan Erdogan di Turki?

Di antara sekian banyak penyebab, yang paling mendasar adalah, sejak awal Erdogan telah menyiapkan masyarakatnya untuk berjiwa merdeka sehingga menyakini bahwa kepentingan Turki ditentukan oleh orang Turki sendiri.

Keberhasilan Erdogan menjaga kedaulatan Turki pun berkaitan dengan yang dilakukan oleh Mustafa Kemal Attartuk (Bapak Turki) dan Erbakan sebelumnya, bahwa kedaulatan Turki di atas segalanya. Namun, kesipapan masyarakat Turki yang dibina oleh Erdogan mampu menendang semua pendapat yang bernilai fitnah tentang keburukan pemerintahannya.

Masyarakat Turki yang telah tercerdaskan menyadari bahwa AKP dan Erdogan memiliki kekurangan, tetapi apabila mereka tidak mendukung Erdogan dan AKP-nya, maka kemalangan seperti Libya, Irak, dan negara lainnya yang akan dialami, dan itu merupakan hal pantang.

Dengan jiwa nasionalisme yang tinggi, masyarakat Turki menepis segala isu dan mengambil sikap untuk mendukung pemimpin mereka yang telah menguatkan politik dan ekonomi Turki sehingga dalam sepuluh tahun terakhir menjadi negara yang berwibawa kembali sehingga kegemilangan Romawi Timur (Bizantium) dan Usmani pun bisa dikembalikan.

Manakala saya melihat di video yang disiarkan di berbagai media dunia yang mempertunjukan Erdogan mengambil bendera Turki yang diletakkan di lantai halaman di pertemua G20, saya meyakini bahwa sampai kapanpun Erdogan akan didukung oleh rakyat Turki, karena Turki memiliki nasionalisme yang tinggi dan amat sangat mencintai bendera mereka.

Apabila merunut akan kegemilangan masa silam yang pernah memimpin peradaban dunia, Irak memiliki Mesopotania dan Abbasiah, Mesir memiliki Fir’un, Pakistan adalah Pesia, dan sebagainya walaupun itu berada di jauh zaman sebelum Bizantium dan Kekhalifahan Turki Usmani dengan ibukotanya Konstantinopel (Istanbul sekarang).

Dengan kenyataan ini, Aceh yang pernah memiliki peradaban Samudera Pasai dan Aceh Darussalam, masih seperti anak elang kebilangan induknya dan bersama ayam setelah 1873 sampai sekarang. Ini membuktikan bahwa kegemilangan masa lalu memang penting, tetapi tidak cukup untuk membangun peradaban dan kekuatan di masa sekarang dan di masa hadapan. Kesiapan masyarakat sekaranglah yang lebih utama. Dan, Turki memiliki itu.

Indonesia, yang telah runtuh karena reformasi yang didahului oleh fitnah akan Suharto, belum pun bisa bangkit. Dan masyarakat sekarang bisa merasakan bahwa Indonesia telah ditipu dengan isu reformasi palsu. Yang ada setelahnya hanyalah kekacauan ekonomi dan politik, saham-saham penting negara harus dijual akan asing, dan yang lebih parah, munculnya media massa yang dikuasai asing.

Dan krisis Asia Tenggara pada 1998 hanya untuk menjatuhkan Suharto karena Indonesia telah kuat di bidang militer dan ekonomi. Bagaimana tidak, perusahaan dirgantara negara yang dibangun oleh Habibie telah membuat pesawat air bus tercanggih di dunia. Amerika pun takut karenanya.

Suharto tidak menyiapkan masyarakatnya. Begitupun Aceh, GAM tidak menyiapkan masyarakat Aceh sehingga pada halauan ratusan ribu orang di Banda Aceh pada 1999 atas nama referendum, tidak menuntut referendum setelah mereka berkumpul. Begitupun setelah penandatanganan damai dengan NKRI pada 2005, sampai sekarang Aceh tidak secara mutlak memilih partai yang dibentuk oleh pejuang GAM.

Apakah Kesiapan Masyarakat itu?

Kesiapan masyarakat adalah sikap dan tindakan rakyat tanpa dikomando mampu menentukan pilihannya sendiri dan menepis isu dan pendapat (opini) yang dibentuk oleh media massa sehingga mereka tetap tunduk akan pemimpin yang membela kepentingannya.

Turki memiliki hal tersebut sehingga tetap memilih partai AKP pimpinan Erdogan dalam pemilihan kepala wilayah bulan Maret lalu di tengah memanasnya fitnah yang dilakukan oleh media Barat.

Oleh Thayeb Loh Angen, Aktivis Kebudayaan di Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT).

Berita Pilihan

Berita Campuran

 
Web Design : Peradaban Dunia Team | Redaksi | About
Copyright © 2011. Peradaban Dunia - All Rights Reserved
www.peradabandunia.com