Written By Peradaban Dunia on Wednesday, 22 October 2014 | 06:16



Mengapa orang Aceh Menyebut Rum untuk Turki?

Anggota DPD RI senator Aceh Fachrul Razi dan buku 'Kesultanan Aceh dan Turki - Antara Fakta dan Legenda' di dalam sebuah kesempatan di Banda Aceh.
Ada apa dengan Turki di dalam sejarah dan kebudayaan orang Aceh? Kata Turki baru terdengar setelah perang dunia ke II di telinga orang Aceh. Sebelumnya, sebutan yang masyhur untuknya adalah Rum yang menurutkan kata Rum di dalam Al-Quran, yang menjadi nama surat ke 30 dalam kitab suci Umat Islam tersebut.

Surah Ar-Rum terdiri atas 60 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah. Dinamakan Ar-Rum yang berarti Bangsa Romawi (Bizantium). Namun di sini kita tidak tengah membicarakan sebutan di dalam kitab suci Al-Quran tentang bangsa Rum. Itu sudah banyak dibicarakan oleh sekalian ahli tafsir.

Kita pusatkan perhatian dan pembicaraan semata pada bangsa Rum dalam pandangan orang Aceh. Mengapa orang Aceh hanya mengenal Rum bukan Turki. Ini sedikit banyak terkait pada ingatan (memori) sejarah warisan, sebagaimana orang-orang Aceh sebelum ini, akan bingung tatkala disebutkan Singapura, akan tetapi mereka langsung mengerti saat disebutkan Tumasek, sebuah pulau kampung nelayan. Begitu pula orang Semenanjung Melaka dan Singapura yang bingung tatkala disebutkan Aceh Utara atau Lhokseumawe, akan tetapi langsung berbinar matanya ketika disebutkan Pasai.

Menyebutkan Rum untuk Turki menandakan orang Aceh dekat dengan Al-Quran dan tidak berencana mengubah sebuatan tersebut. Bagi Aceh, Rum adalah bangsa perkasa yang menaklukkan benteng terkuat di dunia di zaman itu yang melindungi Kota Konstantin (Konstantinopel) dalam peristiwa penaklukan di bawah pimpinan Sultan Mehmet Al-fatih pada 1453 Masehi.

Dan, sejarah lada Sicupak yang terjadi sekitar tahun 1560-an Masehi membuat Rum menjadi bangsa yang penting bagi Aceh, selain bagi dunia Islam secara keseluruhan.

Dalam bagian sejarah tersebut, Sultan Al-Kahhar Yang Agung mengirimkan utusan ke Konstantinopel untuk menemui sultan Sulaiman Yang Agung demi membeli beberapa pucuk meriam secara pertukaran barang (barter) dan bantuan ahli-ahli perang dalam rangka memperkuat bala tentara Aceh Darussalam yang tengah memerangi Portugis di negeri lindungan Aceh, Semenanjung Melaka.

Disayangkan, sejarah itu tidak ditulis dengan rapi di masanya oleh Aceh sehingga perbedaan tahun, nama orang, dan jumlah bantuan pun sedikit berbeda tatkala diceritakan secara turun temurun, bahkan ianya terkadang menjadi legenda. Namun, Turki menuliskannya dengan baik, tentang apa yang terjadi di Istanbul. Akan tetapi karena Aceh tidak menuliskannya secara baik, maka bagian sejarah tersebut yang berlaku di Aceh telah beragam.

Secara logika sejarah, tanpa adanya sejarah Lada Sicupak, niscaya tidak ada cerita penyerangan Portugis ke Melaka, baik di masa al-Kahhar mahupun di masa Iskandar Muda.

Hubungan langsung yang merasuk ke dalam sistem kenegaraan selama ratusan tahun tersebut telah meninggalkan kesan-kesan abadi pada orang Aceh. Budaya-budaya Turki telah pun tertanam di dalam masyarakat, baik disadari mahupun tidak.

Hubungan Aceh dengan Turki telah terjalin selama sekitar 400 tahun, yang terusak bersama diserangnya Aceh oleh bajak laut Belanda pada 26 Maret 1873. Maka di masa kini, walaupun Aceh Darussalam tidak lagi tersebut sebagai negara orang Aceh akan tetapi Republik Indonesia, dan Turki tidak lagi Kesultanan Turki Utsmani akan tetapi Republik Parlementer Turki, namun sejarah hubungan Aceh dengan Turki terlalu kukuh untuk tergantikan.

Semuanya telah merasuki kebudayaan dan sejarah. Sebagaimana diketahui, sejarah dan kebudayaan tidak mengenal nama negara mahupun tapal batasnya.

Rum tetap menjadi sebuah bangsa yang menjadi abang bagi orang Aceh, dan Aceh menjadi adik di Asia Tenggara dari pandangan orang Turki. Dr Mehmet Ozay, sosiolog asal Uskudar Istanbul di dalam bukunya 'Kesultanan Aceh dan Turki - Antara Fakta dan Legenda' hubungan itu adalah ide orang Aceh, Acehlah yang datang ke Istanbul (Konstantinopel) untuk menjalin hubungan dengan Raja Rum (Sultan Turki) dan disambut dengan baik oleh Raja Rum walaupun di kala itu ada permintaan serupa dari utusan sebuah negeri di India. Namun Raja Rum memilih membantu Aceh.

Pengakuan Turki tersebut terlihat kembali setelah bencana laut smong (tsunami), Tuan Recep Tayyip Erdogan -presiden Turki sekarang- yang saat itu menjabat sebagai Perdana Menteri Turki pun datang ke Aceh, yang disambut dengan bendera Turki dari Pelabuhan Udara (Bandara) Sultan Iskandar Muda ke Banda Aceh. Semoga Allah Ta'ala senantiasa melimpahkan rahmat-Nya untuk Sultan Al-Kahhar Yang Agung dan Sultan Sulaiman Yang Agung. Salam untuk Raja Rum, pemimpin besar dunia saat ini, Tuan Recep Tayyip Erdogan.

Oleh Thayeb Loh Angen, aktivis di Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT).

Sastrawan Aceh Hendaknya Memasyhurkan Bahasa Jawi

Written By Peradaban Dunia on Sunday, 19 October 2014 | 13:35

Sastrawan, yakni penulis novel, cerpen, puisi, hikayat, pantun, yang ada di Aceh atau keturunan Aceh sudah masanya untuk kembali kepada jati diri kita dengan memasyhurkan kembali bahasa kita sendiri, bahasa Jawi (Melayu-Sumatera) yang telah berjaya semenjak Samudera Pasai berdaulat.

Sudah terbukti bahwa peradaban kita maju di masa kita menunjukkan jati diri bangsa kepada dunia, di mana pada zaman itu kitalah yang mengajarkan bahasa kepada orang lain di negeri-negeri berbahasa Melayu di Asia Tenggara. Masa-masa itu akan kembali, dan mesti kita kembalikan!

Sudah pun kita lihat bahasa kita terusak sejak mengikutikan diri akan orang lain, bahkan kita tidak pun dimunculkan di atas walaupun bakat dan kecerdasan kita di atas mereka. Oleh karena itu, apabila ingin menjadi sastrawan sejati maka masyhurkanlah bahasa indatu kita sendiri, bukan menjadi perusak bahasa dengan mencampur-adukkannya dengan bahasa lain.

Kita masih bisa menyaksikan dan membaca tulisan-tulisan penulis di masa gemilang yang kini kita sebut kitab Jawi. Mereka telah menulis buku pada masa ratusan tahun sebelum kita hadir di bumi, dan di kala itu orang Eropa masih berada di dalam kegelapan.

Kembali tanyakanlah pada diri kita sendiri, apa yang kita mahu carikan di dalam dunia tulis menulis ini, apakah semata kemasyhuran, belanja, atau apa sahaja? Apapun yang kita cari, maka kemasyhuran dan semacamnya pastilah kita dapat.

Namun apabila kita tidak ingin memperbaiki bangsa dengan dakwah di dalam tulisan-tulisan kita, maka apabila kita mati, selesailah sudah itu bahkan akan diminta pertanggung-jawaban oleh Tuhan. Bahkan kadang di saat kita masih hidup pun telah dianggap tidak ada karena kita tidak ada gunanya buat orang lain, untuk bangsa.

Maka gunakanlah kemampuan kita di dalam menulis untuk memperbaiki peradaban bangsa ini, untuk menyelamatkan budaya kita, untuk memperbaiki akhlak (moral) bangsa kita, untuk memajukan pemikiran anak negeri, untuk beribadah kepada Allah Ta'ala, sebagai hadiah akan bangsa ini. Sarungkan rincong ambil pena.

Oleh Thayeb Loh Angen

Menunggu Sikap Pemerintah Aceh Tentang Lamuri

Written By Peradaban Dunia on Friday, 17 October 2014 | 22:25

Peneliti mengangkat nisan salah seorang raja Lamuri yang rebah di tanah bukit Lamreh, Aceh Besar, 1 Agustus 2014. Foto: RA Karamullah
Setelah kabar tentang rencana pembangunan lapangan golf di situs Kerajaan Lamuri di Lamreh, Aceh Besar, menghilang, kini isu tentang tapak penting sejarah Islam di Asia Tenggara tersebut kembali menghangat, setelah penelitian para ahli dari Unsyiah, USU, USM Malaysia dan dibantu oleh tenaga ahli independen (Taqiyuddin Muhammad dan Deddy Satria) tentangnya.

Sebagaimana diketahui, Lamuri adalah kawasan yang dilihat dari sudut pandang berbeda antara pemerintah dan pemerhati kebudayaan. Pemerintah berencana membebaskan tanah situs Lamuri untuk pembangunan lapangan golf supaya ekonomi masyarakat membaik. Sebaliknya pemerhati kebudayaan berharap pembebasan tanah Lamuri difungsikan untuk penelitian dan dikembangkan menjadi tujuan wisata sejarah dan berguna untuk ekonomi masyarakat dengan datangnya pengunjung dari dalam dan luar negeri.

Dari pemberitaan media beberapa tahun yang lalu setelah dimsyhurkan pembangunan lapangan golf di kawasan situs sejarah Lamuri pemerintah sebagai penanggung jawab  telah mengundang beberapa instansi terkait termasuk masyarakat setempat dan sudah mendapatkan persetujuan.

Beberapa orang di sekitar situs menyebutkan bahwa sebagian besar dari mereka yang di tanahnya terdapat situs Lamuri telah mendapatkan uang panjar dari pihak pembeli tanah untuk lapangan golf. Satria, salah seorang dari pemilik tanah di sekitar Benteng Inong Balee mengaku telah mendapatkan uang tersebut sebanyak Rp 20 juta. Dia tidak mengetahui berapa jumlah uang yang diterima oleh pemilik tanah lainnya. Menurutnya, semua dari mereka telah mendapatkan uang panjar dengan jumlah yang sama walaupun luas tanah mereka berbeda. Adi, pemilik tanah di sekitar mercusuar pun mengaku hal yang sama.

Siapa sebenarnya yang telah mengeluarkan uang untuk pembelian tanah di situs tersebut? Akan tetapi itu bisa disebut kabar baik. Pembebasan tanah tersebut, tinggal dilanjutkan, hanya saja, apabila dahulu diniatkan untuk membangun lapangan golf, kini penyelesaian pembeliannya dengan tujuan untuk penelitian, pelestarian, dan pengembangan situs yang kemudian dimanfaatkan sebagai rujukan sejarah dan tempat wisata.

Beberapa hari lalu, media besar dan beberapa media lainnya di Aceh memberitakan dengan hangat tentang penelitian Lamuri. Baru tanggapan ada dari BPCB (Badan Pelestarian Cagar Budaya) Aceh-Sumut yang merupakan bukan bagian dari pemerintah Aceh akan tetapi perwakilan kementrian dari Jakarta. Namun belum ada tanggapan dari Pemerintah Aceh yang ditunggu-tunggu oleh sekalian orang.

Dan, berdasarkan peristiawa pada sambutan apel setelah Idul Fitri 1435 H dan Pertemuan dengan Kepala SKPA, Senin, 4 Agustus 2014, Gubernur Aceh menyatakan,

“Humas Pemerintah Aceh adalah central pencitraan Pemerintah yang saya pimpin dan humas berfungsi sebagai media pencitraan Pemerintah Zikir ini. Makanya Kampanye kesuksesan setiap dinas harus melalui sirkulasi HUMAS.”

Di dalam pernyataan tersebut, gubernur melanjutkan,

"Instruksi ini penting, supaya pemerintah Aceh kuat dan bergema, maka semua pernyataan kepala SKPA di media itu harus atas nama gubernur Aceh. Bek saboh peurahoe, dua boh keumudoe, Semuanya harus atas nama Gubernur Aceh. Ta bangun Aceh, han mada ngen choem jaroe. Kalau keberatan, tinggal hadap saya, biar saya ganti segera.”

Maka, kini Kita tunggu penjelasan dari Kabag Humas Aceh tentang situs Lamuri di Lamreh, Aceh Besar.

Oleh Irfan M Nur, aktivis kebudayaan

ALA-ABAS dan Hilangnya Tanah

Foto: ojannad.blogspot.com
Beberapa orang kawan mengajak saya untuk menanggapi isu ALA-ABAS (Aceh Leuser Antara (ALA) dan Aceh Barat Selatan (ABAS), akan tetapi saya berpikir: bukankah sebelum menyatakan perang secara resmi terhadap sultan Aceh, bajak laut Belanda menelurkan isu pemekaran bagi rakyat Minang di Sumatera bagian tengah dengan dalih, mengapa harus membayar pajak kepda Aceh untuk perlindungan dari serangan negeri luar, lalu mereka pun memisahkan diri dari Aceh Darusslam.

Setelahnya, memang mereka tidak lagi membayar pajak untuk Aceh, akan tetapi itu bukan karena mereka berkuasa, namun karena semua harta mereka telah pun dikuasai oleh Belanda oleh karena Aceh tidak bertanggung jawab lagi untuk melindungi Minang karena telah memisahkan diri.

Begitupun penduduk di pantai barat, selatan, dan tengah Aceh itu sekarang, apabila nantinya terjadi pemisahan itu, mereka memang tidak akan diatur lagi oleh Aceh, itu bukan karena mereka miliki hak mengatur diri mereka sendiri sebagai propinsi, akan tetapi karena tidak ada lagi yang mereka bisa atur sebab semua tanah di sana dari pantai ke gunung telah pun menjadi milik perusahaan-perusahaan.

Bahkan semua penduduk pun membuat rumah di atas tanah perusahaan daripada orang-orang yang mengurus pemisahan ALA-ABAS dari wilayah Pemerintahan Aceh. Begitulah, surat-surat itu diubah tatkala pengubahan wilayah dari propinsi Aceh ke ALA-ABAS. Bersiaplah untuk kehilangan seluruh tanah warisan Anda, apabila Anda memilih ALA-ABAS sebagai propinsi.

Aceh di bagian utara dan timur tidak akan kehilangan apapun, akan tetapi yang pasti, penduduk ALA-ABAS akan kehilangan seluruh tanahnya. Musuh orang pantai barat selatan dan tengah Aceh adalah penduduk mereka sendiri yang menelurkan isu propinsi ALA-ABAS. Sejarah meninggalan pelajaran, maka selamatlah orang-orang yang mahu berpikir.

Oleh Thayeb Loh Angen

Debat Tentang Bahasa Novel Aceh 2025

Written By Peradaban Dunia on Thursday, 16 October 2014 | 16:29


Tentang saya memakai bahasa Jawi (Melayu Pasai-Sumatera) di dalam Novel Aceh 1446 H (2025 M), ada beberapa orang kawan yang mempertanyakan kepatutannya di masa ini.

"Mengapa memakai bahasa lama yang akan sulit dipahami oleh generasi sekarang, mengapa tidak memakai bahasa Indonesia saja?"

Saya pun menjelaskan dengan rinci apa jua yang mesti diketahui, namun sang kawan masih pun tidak setuju. Akhirnya saya pun menjawab dengan kalimat yang berkesimpulan.

"Inilah bahasa yang benar, bahasa yang dikenal dengan bahasa Indonesia sekarang adalah seperti ini, sementara yang sering terdengar di sinetron-sinetron dan buku-buku terkini yang santai dan sebagainya, pemberitaan-pemberitaan, dan lainnya, adalah bahasa campuran, bahasa asli yang dicampur dengan bahasa Inggris yang telah dirusak juga dengan bahsa Jawa dan lainnya. Saya tidak tahu itu bahasa apa. Generasi sekarang yang mesti mengerti tentang bahasa mereka sendiri dan kembali menggunakannya."

Pihak lain mempertanyakan tentang kebenaran bahasa tersebut,
"apakah telah membincangkannya dengan pakar bahasa?"

Saya pun menjelaskan dengan rinci apa jua yang mesti diketahui, namun sang kawan masih pun tidak setuju. Akhirnya saya pun menjawab dengan kalimat yang berkesimpulan.

"Saya dilahirkan dan dibesarkan di Paloh Dayah, yang termasuk tempat di mana bahasa Jawi (Melayu) itu lahir. Kepada pakar yang mana saya harus bertanya, sementara pakar bahasa sekarang hanya menguasai bahasa Indonesia yang telah rusak, atau bahasa Aceh dan sebagainya. Mereka belajar tata bahasa Indonesia itu yang menurutkan aturan bahasa Inggris atau lainnya, sementara bahwa yang saya pakai ini telah memiliki aturan (grammer) sejak ratusan tahun sebelum aturan bahasa Inggris diciptakan."

Saya melanjutkan.

"Apabila saya harus bertanya tentang bahasa ini (Jawi) maka saya harus menemui guru-guru pengajian di kampung yang mengajarkan kitab-kitab berbahasa Jawi. Namun, saya sendiri juga pembaca kitab-kitab itu. Dalam hal ini sayalah profesornya, saya yang berani menggunakan bahasa ini di zaman yang bahasa ibu kita telah dirusak dengan hormat. Setelah novel Aceh 2025 terbit, apabila perlu, saya akan membuat kongres bahasa Jawi dengan menghadirkan ahli-ahli baca manuskrip daripada kaum cendikiawan."

Oleh Thayeb Loh Angen

Apa itu Boh Ara Hanyot

Bebek Mandarin adalah unggas cantik yang mirip itik liar atau ara di Aceh. Foto: dody94.wordpress.com
Pada suatu ketika, terjadilah banjir raya di Paloh Dayah. Sekalian anak muda dan beberapa lelaki berkeluarga pun menjadi tukang kail ikan dadakan. Mereka mencari ikan seungko (lele) atau apa sahaja yang biasanya menyukai air keruh sehingga aliran air banjir yang pekat adalah hari raya mereka.

Sebagian pengail mendapatkan ikan, sebagian lagi tidak.
Orang-orang lewat pun berseru,
"Pu na le roh? (Apa banyak ikan yang terkail?)," tanya orang-orang yang lewat.

"Hana, sang suwah tapreh boh ara hanyot," (Tidak, mungkin harus kita tunggu telur ara hanyut {untuk lauk pengganti ikan yang tidak makan kail)," canda si pengail.

"Beh pane na hanyot boh ara?" (Tidak mungkin telur ara hanyut).

Maka cerita itu pun berlanjut. Di kemudian hari, maka di Aceh termasyhurlah kalimat, "Lagee tapreh boh ara hanyot" (bagaikan menungggu telur ara hanyut) apabila tengah menanggapi hal yang dianggap tidak akan kunjung datang.

Namun ada sedikit kekeliruan dalam memahami hal tersebut, terutama oleh orang yang tidak hidup di kampung-kampung yang ada rawa atau orang yang tidak mengenal ara yang satu ini. Ara yang masyhur dikenal adalah sebatang pohon yang berbuah banyak berasa gatal, tidak bisa dimakan. Itulah ara yang dianggap oleh sebagian orang yang dimaksud di dalam kalimat itu.

Akan tetapi bagaimana mungkin orang akan menamsilkan sesuatu dengan menunggu hanyutnya buah-buah gatal dari hutan yang tidak bisa dimakan atau digunakan di tempat lain. Maka apa itu boh ara hanyot?

Boh ara adalah telur ara (itik liar yang tersebar di rawa-rawa di Aceh), hanyot adalah hanyut. Ara dalah jenis unggas liar yang kini menjadi salah satu binatang langka karena banyaknya rawa-rawa yang kering atau beralih guna menjadi tanah kering atau sawah dan kebun yang bersih.

Telur memiliki sifat tenggelam oleh air dan tidak mungkin mengapung kecuali ianya telah membusuk atau air telah dicampur dengan garam. Dan, ara tidak pernah bertelur di tempat yang mudah tertarik oleh air bah dan banjir. Sebagaimana binatang lain, unggas itu pun memiliki firasat (insting) untuk melindungi apa jua benda miliknya sendiri.

Maka menunggu telur ara hanyut adalah hal yang sia-sia walaupun ara betina memang bertelur. Telur ara tidak mungkin dihanyutkan oleh air banjir. Istilah serupa yang digunakan untuk hal yang sama sekali mustahil adalah  "Lage tapreh lungkee mie jitimoh" (Seperti menunggu kucing beertanduk".

Oleh Thayeb Loh Angen

Ratu di Hatiku

Written By Peradaban Dunia on Sunday, 12 October 2014 | 14:10

Bungong Jeumpa Aceh. Foto: wikifresh.blogspot.com
Sebagaimana madah pujangga akan kekasihnya
maka kurmadahkan lagu-laguan hatiku kepadamu
Bahwa engkau telah menempati hatiku
sebagaimana bebintang menempati hati ahli nujum

Hanya engkaulah yang menempati hatiku
sesempurna harum menempati jeumpa,
tidak ada yang bisa menggantikanmu di hatiku
sebagaimana cayaha bumi tidak bisa menandingi purnama

Dan ketahuilah wahai kekasihku,
di hatiku engkau menjadi ratu sendirian,
Di sana engkau akan dicumbu-rayu oleh kesetiaan,
dilindungi oleh pengertian, dan
diselamatkan oleh kasih sayang.

Oleh Thayeb Loh Angen


Patrick Modiano Memenangkan Nobel Sastra Dunia 2014

Written By Peradaban Dunia on Friday, 10 October 2014 | 17:29


Patrick Modiano, winner of the 2014 Nobel prize in literature. Photograph: Catherine Helie/AP/theguardian.com

Paris - Penghargaan Nobel Sastra tahun ini diberikan kepada Patrick Modiano, Jumat, 10/10/2014. Patrick Modiano merupakan warga negara Perancis ke sebelas yang berhasil meraih penghargaan bergengsi tersebut.

Patrick Modiano mengaku tidak tahu kenapa ia terpilih. Kepada wartawan yang menyergapnya, ia mengatakan akan mengecek kebenaran berita ini ke tetangganya. Karya sastra Modiano yang pemalu ini memang tidak banyak dikenal di luar Perancis. Novel karya Modiano, yang dijuluki Proust - nya Perancis masa kini, mengisahkan tentang manusia dalam pusaran ingatan, identitas, rasa bersalah dan kehampaan.

Dengan penghargaan ini, Modiano kini masuk dalam kalangan elit sastrawan dunia, termasuk Albert Camus, sosok yang melegenda, yang ia kagumi sejak kecil. Selama 45 tahun, Patrick Modiano menulis sekitar 29 buku. Buku pertamanya adalah "La Place De L'etoile" yang ia garap tahun 1968.
Novel ini merupakan karya terbaik Modiano. Setelah itu, sejumlah karya lainnya meraih penghargaan bergengsi seperti, Rue Des Boutiques Obscures, dan Les Boulevards De Ceinture. Namun karena pemalu, nama Modiano tidak dikenal.

Modiano kini berhak mendapatkan uang satu koma satu juta dolar Amerika, selain penghargaan Nobel. Bagi pecinta buku, Modiano dianggap setara dengan penulis Haruki Murakami, sastrawan Ngungi Wa, asal Kenya atau Philip Roth asal Amerika Serikat.

Selama ini Nobel Sastra lebih banyak diraih penulis berbahasa Inggris, baru diikuti, Perancis dan Jerman. Modiano merupakan sastrawan Perancis ke sebelas yang meraih Nobel. Terakhir adalah Jean Marie Gustave Le Clezio, pada tahun 2008.indosiar.com

Rahasia di Balik Berdirinya Mesjid Assa’adah Tgk Chik Di Paloh

Pemandangan meunasah dari atas atap mesjid Assa'adah Tgk Chik Di Paloh, Paloh Dayah, Lhokseumawe, Aceh pada 7 Oktober 2014. Foto: Lodins
Di Kota Budaya Paloh Dayah, Lhokseumawe, ada satu orang (namanya saya rahasiakan untuk menjaga nama baik walaupun sebenarnya orang itu tidak punya nama baik). Ia merupakan sepupu saya sendiri karena ayahnya adalah satu ibu dengan ayah saya. Orang ini memiliki kelicikan, angkuh, dan pandai membual.

Ia pernah ke sebuah dayah selama beberapa tahun, lalu berhenti dan pulang ke Paloh Dayah kemudian membual bahwa ia belajar agama hampir selama dua puluh tahun. Ia bersikap seolah-olah dia adalah ulama besar walaupun saat itu bacaan ayat di dalam shalatnya saat jadi imam shalat, kurang fasih, dan hukum fiqih pun ia tahu alakadar. Bahkan di Paloh Dayah ada beberapa orang lain yang lebih pandai ilmu agama dan lebih lama di dayah daripadanya.

Ia membangga-banggakan dirinya, suka berdebat dan merendahkan orang lain yang bicara dengannya, itu dilakukannya untuk membuat orang lain menganggap dirinya pandai, selain itu dia pun mengaku belajar ilmu mantra-mantra untuk menakut-nakuti orang, supaya orang-orang di sana menganggapnya lebih hebat daripada tabib yang sudah berpengalaman puluhan tahun. Orang ini ingin menjadi orang yang paling terpandang di sana. Ia juga membangga-banggakan balai pengajiannya.

Pada suatu ketika, penduduk Paloh Dayah ingin mendirikan kembali mesjid di sana, karena di masa dahulu di situ pernah didirkan sebuah mesjid oleh Tgk Chik Di Paloh. Dan pangkal (modal) untuknya telah ada sepetak tanah yang diwaqafkan oleh ayah kami, Tgk Sulaiman bin Dadeh. Semua orang Paloh Dayah, termasuk tokoh gampong setuju, akan tetapi orang ini menolaknya.

Si pembual itu ingin mesjid didirikan tatkala muridnya sudah dianggap mengetahui agama lebih banyak dan dia sendiri bisa dipilih menjadi imam mesjid, padahal sebagai imum meunasah pun dia belum bisa dipercaya. Maka orang-orang pun menunda rencana tersebut karena saat itu si penipu ini telah menjadi pemuka agama di sana, yang ditunjuk karena sebuah kecelakaan, artinya ia bukan yang dijagokan walaupun telah sekian lama membual bahwa dirinya hebat.

Pada suatu hari, orang yang paling berminat mendirikan mesjid pun berkata pada saya tentang niatnya dan berkeluh kesah tentang penolakan rencana tersebut oleh si pembual yang saya sebutkan tadi.
Maka saya tanya kepada Tgk tadi, "Apakah Tgk benar-benar ingin mesjid itu didirikan di kampung kita?"

Dan dia pun mengiyakan dengan mantap. Lalu saya memberikan sebuah saran, ia membantahnya pertama kali, akan tetapi kemudian dengan setengah yakin dia pun setuju melakukannya.

Maka dibuatlah sebuah rapat kecil di rumahnya, dihadiri oleh beberapa orang tokoh pemuda dan Kampong, salah seorang dari mereka kini menjadi geuchik di Paloh Dayah. Salah satu dari mereka langsung memberikan uang sebanyak Rp 50 ribu untuk membuat stempel. Itu adalah sedekah pertama untuk mesjid yang kini bernama "Assa'adah Tgk Chik Di Paloh" selain sepetak tanah yang diwaqafkan oleh ayah kami sekitar dua puluh tahun sebelumnya.

Kemudian dibuatlah rapat gampong khusus untuk menguatkan rencana pendirian mesjid, dan dalam kepengurusan panitia pembangunannya, tidak ada nama si pembual itu karena ia memang tidak setuju mesjid didirikan.

Maka waktu pun berjalan, waqaf-waqaf pun berdatangan sedemikian cepatnya sehingga tapak dasar (pondasi) mesjid pun telah didirikan. Saat itu, ibu saya, Cut Zubaidah binti Teuku Juhan, telah shalat di atas tanah yang baru ada pondasi mesjid tersebut, dua rakaat shalat hajat. Jadi sejarahnya pun lengkap, ayah kami pewaqaf tanah yang pertama dan ibu kami adalah orang yang melaksanakan shalat pertama kali di sana.

Dan, setelahnya, begitu melihat mesjid sudah mulai dibangun dan tidak bisa dihentikan lagi serta sudah mulai banyak uang, maka si pembual melakukan sebuah sabotase dengan memperalat seorang pemuda di sana, tetangganya yang suka bersuara lantang. Lalu ketua panitia pembangunan yang diangkat oleh masyarakat pun mengundurkan diri, dan si pembual naik sebagai gantinya.

Yang membuat saya terlegitik sampai kini, si pembual itu dianggap orang alim yang mendukung agama. Ia masih membual bahwa tanpa dia mesjid itu tidak akan berdiri. Satu lagi karena saya sesekali meluruskan kesalahannya, dia pun memfitnah saya sebagai orang yang mengganggu pembangunan gampong.

Tidak cukup di Paloh Dayah saja, ia bahkan memfitnah saya kepada tokoh di kampung tetangga seperti di Paloh Meuria dan Paloh Punti karena si pembual itu tahu bahwa saya punya nama baik di kampung-kampung itu. Akan tetapi saya tidak memiliki waktu untuk meluruskan kedunguan itu melainkan apabila ada orang yang menanyakannya langsung kepada saya disebabkan saya percaya akan kekuasaan Allah Ta'ala.

Yang aneh, sebagian tokoh itu percaya pada bualan si penipu itu dan menganggapnya sebagai pahlawan, sementara, saya yang merancang strategi supaya mesjid itu berdiri dianggap pengganggu. Juga, seabenarnya, seluruh rancangan mesjid, jaringan pewaqaf, khatib, dan sebagainya adalah diurus oleh Tgk yang dahulu rumahnya tempat rapat pembentukan mesjid untuk pertama kalinya.

Dan kini kabarnya, Tgk itu telah mengundurkan diri dari kepengurusan panitia pembangunan mesjid. Parahnya lagi, si pembual itu lagi-lagi memfitnah bahwa Tgk tadi mengambil uang mesjid; sementara pada kenyataan adalah sebaliknya karena Tgk tersebut dikenal sebagai salah satu orang paling jujur di wilayah tersebut. Kejujurannya membuat panitia pembangunan mesjid di gampong tetangga tetap bersikeras mempertahankannya mengurusi uang mesjid walaupun dia sendiri telah berkali-kali menyatakan ingin undur diri dari tanggung jawab tersebut yang sudah dijalaninya selama bertahun-tahun.

Satu lagi, pada bulan Ramadhan 1435 H, puluhan murid dayah yang berasal dari beberapa gampong di Mukim Paloh membuat acara silaturrahim untuk menguatkan rencana pendirian kembali dayah Tgk Chik Di Paloh. Walaupun telah diundang, akan tetapi tidak ada seorang pun dari tokoh gampong yang hadir.

Dugaan kuat mereka, usaha pendirian kembali Dayah Tgk Chik Di Paloh dihalang-halangi oleh si pembual tadi karena diperkirakan ia takut apabila dayah itu berdiri maka pengaruhnya di Paloh Dayah akan lenyap karena dia memiliki banyak kekurangan untuk dipercaya mengurusi dayah.

Kemungkinan ia menyadari bahwa kedunguan dan keburukan perangai membuatnya tidak sesuai untuk dijadikan guru apalagi pemimpin di dayah, kecuali melalui cara licik dan curang sebagaimana yang dilakukannya dengan ketokohan agama di gampong dan kepengurusan pembangunan mesjid.

Itulah yang terjadi di Paloh Dayah, pengkhianat dan penipu dianggap terhormat, dan orang tulus dan jujur dikucilkan dan difitnah. Saya menyampaikan ini karena kebenaran harus diungkapkan dan orang-orang tidak lagi tertipu dengan ija ridak (kain yang disangkutkan di leher) dan ucapan nama Tuhan oleh si pembual. Semoga Allah Ta’ala membuka pintu hidayah kepada kita semua. Amin.

Oleh Thayeb Loh Angen

Apa yang Dibanggakan dari Sebuah "Negara Demokrasi"?

Written By Peradaban Dunia on Thursday, 9 October 2014 | 15:50

Ariful Azmi Usman tatkala mengunjungi kantor berita TRT (Turkish Radio and Television) Corporation di Istanbul, Turki, dalam kegiatan Harman Intership, Agustus 2014.  Foto: facebook.com
Oleh Ariful Azmi Usman

Semakin banyak membaca, semakin banyak tahu bahwa demokrasi adalah sistem yang membingungkan, semakin banyaknya orang yang berdemo berebut kekuasaan, sampai-sampai mereka lupa juga apa itu demokrasi. Isi otaknya adalah uang dan uang.

Perlu dicatat, dalam sistem demokrasi, apapun yang kalian pilih (manusia berbentuk apapun) tetap saja yang kaya tetap kaya, yang miskin tetap miskin, dan yang tidak berpendidikan tetap saja tidak berpendidikan (terkecuali jika mereka berusaha lewat tangan dan kaki mereka sendiri bukan oleh pemerintah).

Lalu kenapa harus begitu membabi buta dalam berfanatik? Sampai-sampai ada orang yang berilmu dan terhormat keluar dari mulut mereka golput adalah haram!

Dahulu ada yang namanya kekhalifahan Andalusia yang berpusat di Spanyol, Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus, Bani Abbasiah yang berpusat di Bagdad, dan Turki Utsmani yang berpusat di Istanbul. Setelah Andalusia dan kekhalifahan lainnya runtuh, kekuatan Islam berpusat di Istanbul di bawah kekhalifahan Turki Utsmani, rakyat dan bangsanya maju semaju-majunya peradaban di dunia.

Ketika Eropa masih dalam keterpurukan dan kegelapan, Islam dengan sistem khalifah sudah berperadaban tinggi dan memimpin pemerintahan dunia secara adil dan manusiawi untuk semua umat! Di mana yang susah dibantu yang mampu, yang tidak bisa belajar dibantu negara agar berpendidikan, Di mana kebaikan tersebar dari ujung negeri sampai ujungnya lagi! Di mana rumah sakit bukan penganut paham politik uang! Ketika kepedulian masih ada dan orang tidak mati karena tidak punya uang untuk berobat! Tidak ada yang perlu diragukan, benar?

Al-Andalusia mempunyai pelayanan publik yang adil dan beradab, tidak ada yang namanya kaya dan miskin, tidak ada yang namanya ruang VVIP dan ruangan ekonomi menengah ke bawah, semua sama rata antara yang kaya dan miskin, semua manusia sama! Tapi demokrasi? Silahkan dilihat sendiri!

Sedangkan peradaban barat maju kerena runtuhnya kekhalifahan di Al-Andalus akibat perang salib yang biadab dipimpin oleh Paus Urban II yang sudah kalang kabut melihat peradaban Islam yang begitu besar sedangkan dia sendiri dan bangsa Eropa lainnya hanya sisa-sisa kejayaan Romawi yang sudah dihancurkan oleh pasukan Islam. Tentara salibis merampok sebisa-bisanya, menjarah sebisa-bisanya, membunuh apapun, menghancurkan apapun, dan di sanalah mereka merampok harta kekayaan Islam! Ya... Ilmu pengetahuan Islam.

Haruskah Aku Mencintai Negara Demokrasi ini? No!

Semua orang menginginkan kehidupan yang tolong-menolong, tidak peduli antara yang kaya dan miskin, semua sama dan semua hanya manusia, hidup berdampingan. Inilah Khalifah, di mana dunia berjalan sebagai mana mestinya, hak-hak manusia dijamin oleh para pemimpin mereka bukan diperkosa haknya seperti saat ini.

Kami putera puteri yang masih memegang Kartu Identitas Indonesia tercinta, semua orang sadar dan tahu, negara kami adalah negara besar di dunia dengan kebesaran Allah atas sumber alam dan segala kecukupannya yang diberikan Allah kepada bangsa ini. Namun yang kami dapatkan tidak sebesar apa yang mereka katakan, dan apa yang kami yakini. Inikah demokrasi? Apa yang mau dibanggakan dari sistem yang sebagian 'mereka' menyebutkannya sebagai sistem 'gagal' ini?!.

Ariful Azmi Usman, mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), peserta Harman Intership 2014 di Istanbul, Turki, dan anggota Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT).

Fatih Seferagic, Pemuda Hafal Quran yang Lebih Ganteng dan Gaul daripada Justin Bieber

Fatih Seferagic in support of Peter Kassig. Foto: Facebook.com
Banda Aceh - Usianya masih 19 tahun, namun kepandaiannya mengaji dan melantunkan ayat-ayat Alquran dikagumi remaja-remaja sebayanya. Kendati demikian, sebagai remaja, Fatih Seferagic tetap melakoni hobinya dari main games hingga ice skating. Satu lagi, pemuda Islam ini lebih ganteng dan gaul daripada Justin Bieber.

Video Fatih yang melantunkan ayat-ayat Alquran ini ramai tersebar di Youtube dan dibicarakan di berbagai media sosial, dari twitter hingga Facebook. Dalam video itu, Fatih melantunkan qiro'ah dengan menjadi imam salat berjamaah. Semua ayat-ayat panjang itu dilantunkan Fatih di luar kepala.

Seperti dikutip dari Muslim Youth Musing, remaja kelahiran Jerman, 2 Maret 1995 itu mulai belajar menghafal Alquran pada usia 9 tahun dan bisa menghafal Alquran alias hafiz, tiga tahun berikutnya. Fatih belajar di suatu sekolah yang khusus menghafal Quran di Baltimore, Maryland.

Keluarga Fatih yang berdarah Bosnia itu memang pindah ke Amerika Serikat saat usia Fatih 4 tahun. Setelah komplet menghafalkan Alquran, Fatih tetap melanjutkan sekolah untuk mempelajari hadis. Pada 2010, Fatih diterima di Bayyinah Dream Program, yang memungkinkannya untuk belajar bahasa Arab.

Namun demikian, di sela-sela dia belajar agama, pemuda ini juga berorganisasi. Fatih adalah ketua Remaja Masjid Shaykh Yasir Birjas di Dallas, Texas. Dia juga bergabung dengan situs reliji remaja, Muslim Youth Musing. Situs ini membahas permasalahan remaja dilihat dari sudut pandang Islam. Nah, Fatih tergabung menjadi salah satu penulisnya.

Tentu saja, sebagai remaja Fatih juga melakoni hobinya, seperti menulis, membaca, main games, belajar bahasa, filsafat dan psikologi. Dan seperti remaja di Amerika Serikat (AS) pada umumnya, Fatih juga memiliki akun media sosial di Twitter dan Facebook.

Bahkan dalam akun Facebooknya, Fatih mengaku menyukai olahraga ice skating. Saat memposting dirinya yang diambil dengan iPhone sedang berkostum pinguin dengan status "At work" alias di tempat kerja. Dan pada postingan berikutnya, Fatih pun menjelaskan apa yang dilakukannya.

Fatih Seferagic dan isterinya Saffiya Kara. Foto: mimbarhati.blogspot.com/Dita R
"Untuk kamu semua yang bertanya apa yang saya lakukan di tempat kerja setelah saya memposting diri saya dengan kostum pinguin, ini dia! Saya cinta ice skate, jadi saya bekerja di tempat ice skating saat akhir pekan," tulis Fatih dalam Facebook-nya.

Tak hanya itu, Fatih juga menawarkan khusus Alquran privat melalui Skype, khusus bagi yang bertempet tinggal di AS dan Kanada. Oh ya, satu lagi, karena kelebihannya menghafal Alquran, pemuda good looking ini tampaknya memiliki banyak penggemar, utamanya, ehem, dari kaum hawa.

Di Facebook-nya, sudah 317, 916 ribu yang 'like' akun milik Fatih, di Twitter sudah ada 67, 6 ribu follower. Selain berkomentar mengenai kemampuannya, rata-rata yang berkomentar mengenai penampilan fisiknya seperti 'ganteng', 'cute', 'funny' dan sebagainya.detik.com

Editor: Thayeb Loh Angen

Guna Meriam dalam Perang Aceh

Written By Peradaban Dunia on Wednesday, 8 October 2014 | 13:18

Pasukan TNI Kodam Iskandar Muda dari kesatuan Artileri Medan (Armed) melakukan demonstrasi penembakan meriam kaliber 105 mm/Howitzer ke udara pada HUT Ke-69 TNI di Lapangan Blangpadang, Banda Aceh, Selasa (7/10/2014). Foto: Serambinews.com 
Saya tertarik membaca sebuah berita berjudul “Meriam Itu untuk Kondisi Tertentu” yang disiarkan oleh Serambinews.com pada Rabu, 8 Oktober 2014.  Kalimat tersebut merupakan pernyataan Kasdam IM, Brigjen TNI Purwadi Mukson seusai memimpin upacara HUT Ke-69 TNI di Lapangan Blangpadang.

Diberitakan meriam kaliber 105 mm/Howitzer milik Yon Armed 17/105 Laweung yang ditampilkan tersebut di lapangan acara termasuk salah satu Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) TNI terbaru yang dimiliki Kodam IM.

Berita ini mengutip kalimat langsung dari Kasdam, “Itu (Meriam -red) dibutuhkan untuk kondisi tertentu guna memberi bantuan tembakan, apalagi Aceh berada di wilayah perbatasan Indonesia.”

Ketertarikan saya terhadap berita tersebut karena menyebutkan tentang meriam dan kegunaannya. Ini mengingatkan saya akan meriam buatan Turki yang dibeli oleh Aceh Darussalam yang kemudian dikenal dengan ‘Meriam Lada Sicupak’. Itu adalah meriam pertama yang ada di Asia Tenggara, diangkut ke Bandar Aceh sekitar tahun 1560-an. Kemudian daripada itu Aceh Darussalam membuat sendiri Meriam dengan bantuan ahli dan sebagian bahan didatangkan dari Turki.

Saya pun tidak mengerti kondisi tertentu yang dimaksudkan oleh Kasdam karena saya tidak memiliki pengetahuan apapun tentang itu. Namun saya akan mengangkat beberapa guna meriam di masa silam, di masa senjata berat tersebut pertama kali dibuat di Aceh.

Tentu saja kecanggihan Meriam di masa itu dengan di masa ini jauh berbeda, akan tetapi benda itu memiliki kekuatan yang hampir sama walaupun dibuat oleh negara yang berbeda, dan kemungkinan juga kegunaannya pun sama di setiap zaman, yakni, menghancurkan kapal dan benteng pertahanan lawan, serta meruntuhkan mental musuh.

Aceh membeli Meriam dari Turki dan kemudian membuatnya sendiri karena kala itu Portugis yang telah menduduki Melaka yang merupakan wilayah lindungan Aceh memakai meriam di kapal-kapalnya dan telah mendirikan sebuah benteng bernama Lafamosa di Melaka yang juga dilengkapi dengan meriam.

Aceh butuh Meriam untuk menembak kapal-kapal dan benteng Portugis yang telah merampas Melaka yang tentu saja akan mengkafirkan penduduknya setelah dikuasai sehingga Aceh mati-matian berusaha mengusir Portugis dari sana. Ini berarti, meriam bukan untuk menembak orang, akan tetapi untuk menembak benda keras yang tidak mungkin dirusak atau dihancurkan dengan senjata biasa. Meriam adalah senjata berat untuk mengguncangkan mental musuh karena menyadari bahwa andalan mereka bisa dihancurkan.

Dengan gunanya seperti itu, maka meriam tidak akan berguna apabila dipakai melawan pasukan gerilya yang tidak membuat benteng dan tidak naik kapal atau kendaraan besar di darat. Aceh tidak punya perang di daratan Sumatera dalam ukuran besar sampai Belanda menyatakan perangnya pada 26 maret 1873. Sebelum itu Aceh selalu berperang di laut karena menjaga perairan Selat Melaka dari gangguan bajak laut dari Eropa. Kapal-kapal yang terlewatkan dari pantauan Acehlah yang membawa bajak laut yang kemudian menjajah pulau Jawa, Borneo (Kalimanan), Sulawesi, Semenanjung Melayu.

Dengan memiliki senjata yang dibantu buat oleh ahli dari Turki dan tentara yang dilatih oleh Turki Aceh mampu menjaga Sumatera selama ratusan tahun, yang di masa itu pulau Jawa telah tunduk kepada Belanda.

Niscaya, meriam-meriam Aceh banyak dipakai di dalam kapal laut daripada di daratan Sumatera sendiri sehingga setelah kekuatan Aceh dipecahbelahkan oleh bajak laut Belanda dari hujung Sumatera bagian timur dan selatan sampai sebagian utara, Aceh telah kehilangan sebagian besar kapal dan meriamnya karena perang selama ratusan tahun di laut melawan bajak laut dari Eropa seperti dari Portugis dan Belanda, yang semuanya diperkirakan ada Inggris di belakangnya.

Sejarah telah mencatat bahwa sebuah negara, apalagi Indonesia yang memiliki wilayah luas dan dipisahi oleh belasan ribu pulau-pulau memang mesti memiliki senjata berat seperti meriam-meriam dengan mutu yang baik dengan jumlah banyak untuk mempertahankan kedaulatannya. Satu hal yang saya heran dengan Indonesia, mengapa Suharto menguatkan angkatan darat semata, sementara Indonesia adalah wilayah maritim.

Akan tetapi saya tidak terlalu heran dan mereka-reka alasan Suharto, selain ia adalah angkatan darat, kemungkinan besar itu dilakukan karena Indonesia (menurut perbandingan senjata yang saya baca di media online) kekurangan jumlah kapal perang laut dan udaranya apabila dibandingkan dengan wilayah perairan dan udaranya yang begitu luas.

Dari keadaan itu, saya lihat NKRI tidak berusaha keras untuk mempertahankan wilayahnya di tapal batas perairan, apalagi udara, akan tetapi memasang perangkap di darat sehingga setiap serangan oleh ‘tamu kurang ajar’ dari negara luar (yang nekat), setelah ‘disalam-salaman’ oleh marinir dan angkatan udara, niscaya akan disambut dengan ‘penuh hormat’ oleh angkatan darat yang jumlahnya banyak dan dilatih cara perang gerilya.

Akan tetapi, meriam dengan mutu yang baik dan jumlah banyak memang dibutuhkan, karena setelah meriam tidak bisa lagi ditembakkan, seperti nasib negara Kesultanan Aceh Darussalam setelah Maret 1873, sebuah pertahanan langsung sebuah negara segera bisa ditaklukkan oleh musuh yang menyerang walaupun sisa-sisa pasukannya melawan secara gerilya.

Melawan secara gerilnya setelah kalah dalam perang langsung adalah untuk mempertahankan harga diri, bukan untuk kemenangan, kecuali Vietnam yang belajar perang gerilya dari buku karangan Nasution, Sumatera. Vietkong sejak awal melawan secara gerilya, bukan setelah kalah adu kekuatan seperti Aceh Darussalam.

“Bangsa besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya” kata pendiri NKRI, Sukarno. Dari jumlah penduduk dan luas wilayah, Indonesia adalah negara yang besar, bagaimana dengan menghargai sejarahnya yang majemuk dan beragam di setiap pulau, terutama di Aceh, seperti kata sang pendiri?

Oleh Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan 

Sebelum Qanun Basmi Koruptor Ada Tundalah Pemberlakuan Qanun Jinayah

Written By Peradaban Dunia on Saturday, 4 October 2014 | 05:06


Pemberlakuan Qanun Jinayah Sebaiknya Ditunda Sampai Qanun Cegah Korupsi  dan Basmi Koruptor Dibuat Disahkan Diberlakukan


“Wahai manusia! Sungguh telah hancur-hancuran umat sebelum kamu karena (mempermainkan hukum), kalau pejabat dan orang-orang terpandang mereka yang melakukan tindak kriminal maka para penegak hukumnya meninggalkan atau mempermainkan hukum itu. Akan tetapi jika orang-orang kecil/lemah yang melakukannya mereka menegakkan hukum dengan keras. Demi Allah, seandainya Fatimah anaknya Muhammad yang mencuri niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya.” (Hadis riwayat Bukhari, Muslim, dll.) 

Sebagai orang Aceh yang menghormati indatu, saya setuju apabila shari'ah Islam diberlakukan di Aceh secara kaffah dan benar dan akan menentang siapa dan apapun yang mengganggunya. Itu akan mengagumkan. Pemberlakuan itu diharapkan menempuh langkah-langkah anak tangga secara tertib, dimulai dari atas ke bawah secara adil.

Sejatinya, yang lebih dahulu dilakukan ialah membuat qanun tentang mencegah korupsi dan membasmi koruptor karena itu asal daripada bencana umat. Bahkan hukuman mati adalah sesuai untuk koruptor supaya biang penyakit bangsa itu musnah dari negeri ini.

Setelah itu barulah qanun tentang hal lain yang mungkin kesalahannya dilakukan oleh rakyat seperti qanun jinayah yang di dalamnya ada hukuman cambuk diberlakukan. Jadi, semua mesti dilakukan secara teratur. Itulah keseimbangan, itulah keadilan.

Akan tetapi ada kekeliruan dalam anak tangga proses itu yang dibuat oleh DPRA (Dewan Perwakilan rakyat Aceh) yang lebih dahulu mengatur hukum untuk rakyat jelata yang sebagian besar masih menderita. Ini menandakan bahwa kekuasaan yang ada pada DPRA telah dimanfaatkan secara semena-mena dengan mengatas namakan Islam. Kita butuh orang bijak untuk menelaah masalah ini.

Itu salah satu bentuk kezaliman, di mana penjudi dan sebagainya yang hidupnya melarat dan kurang pendidikan dicambuk, sementara pencuri uang umat (koruptor) malah bebas menebar pesona, bahkan dihormati di setiap jamuan dan celakanya dicium tangannya pula karena dianggap terhormat.

Karena terlanjur disahkan dan dianggap patut oleh orang yang tidak menelaah apa dan mengapa secara lebih jauh, sebaiknya qanun itu ditunda terlebih dahulu pemberlakuannya, dan diminta dengan tegas, qanun mencegah korupsi dan membasmi koruptor dibuat dan disahkan lalu dijalankan, baru kemudian disusul pemberlakuan qanun jinayah.

Dengan mengikuti anak tangga ini, niscaya penentang sekuat apapun akan takluk kepada kehendak rakyat Aceh. Penting dipahami oleh orang Islam bahwa menolak qanun jinayah yang dibuat oleh manusia di DPRA bukan menolak hukum Islam. Itu adalah perangkap untuk umat yang dibuat oleh anggota dewan.

Penting dipahami oleh orang anti Islam bahwa Anda tidak bisa menolak sesuatu tanpa memberikan penyelesaian (solusi) yang lebih baik sementara peradaban Islam telah terbukti lebih manusiawi daripada yang dilakukan oleh umat lain sepanjang sejarah.

Kepada penentang qanun jinayah, saya ini bukan kawan kalian, akan tetapi kali ini saya tidak akan melawan kalian sebagaimana yang terjadi dengan seruan walikota Lhokseumawe tentang larangan perempuan duduk secara phang (mengangkang) di dudukan belakang sepeda motor. Saya melawan kalian tentang itu dahulu karena itu menyangkut adat budaya wilayah kami, bukan karena hukum Islam.

Kepada pendukung shari'ah Islam: saya adalah kawan kalian, akan tetapi kali ini saya meminta qanun jinayah ditunda diberlakukan, dan marilah kita bertindak secara bersama dan serentak untuk mendesak DPRA supaya membuat qanun mencegah korupsi dan membasmi koruptor kemudian memberlakukannya, setelah itu qanun jinayah baru adil dilaksanakan. Takutlah akan Allah Yang Maha Adil dan ikutilah Rasulnya yang merupakan manusia yang paling adil.

Oleh Thayeb Loh Angen

Berita Pilihan

Berita Campuran

 
Web Design : Peradaban Dunia Team | Redaksi | About
Copyright © 2011. Peradaban Dunia - All Rights Reserved
www.peradabandunia.com