background img

The New Stuff

Pemerhati HAM, Saifuddin Bantasyam, SH; MA, (kanan) bersama Kepala BP SPAM (Badan Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum Regional Aceh) Drs. Azhari Ali, MM. Ak (tengah) dan Teuku Zulkhairi (kiri) dalam Bincang Kebudayaan bertajuk "Solusi Air Bersih Untuk Aceh dalam Pandangan Kebudayaan dan Hak Asasi Manusia". Acara ini dilaksanakan oleh Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT) bersama managemen gedung Turki Sultan II. Selim ACC, Banda Aceh, Sabtu (27/6/2015).  Foto: Ariful Azmi Usman.

Banda Aceh - Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT) kemarin (27/6/2015) bersama managemen gedung Turki Sultan II. Selim ACC, Banda Aceh menyelenggarakan Bincang Kebudayaan bertajuk "Solusi Air Bersih Untuk Aceh dalam Pandangan Kebudayaan dan Hak Asasi Manusia".

Pemerhati HAM, Saifuddin Bantasyam, SH; MA, bersama Kepala BP SPAM (Badan Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum Regional Aceh) Drs. Azhari Ali, MM. Ak kemarin (27/6) menjadi pemateri.

Saifuddin mengatakan, pemerintah seharusnya menjadikan air sebagai pilihan utama dalam setiap program yang dijalankannya karena hal itu kebutuhan Hak Azazi Manusia (HAM). Air, kata Saifuddin, merupakan alat utama bersuci yang merupakan prasyarat ibadat wajib dan hal terpenting dalam penerapan syariat Islam.

"Air adalah sumber utama kehidupan makhluk hidup, tujuh hari kita tidak minum bisa meninggal, beda dengan makanan. Tapi kenyataannya saat ini masih banyak orang yang menganggap remeh akan hal ini," kata Saifuddin yang juga dosen Komunikasi Politik di FSIP Unsyiah.

Saifuddin Bantasyam berharap pemerintah agar bisa lebih memerhatikan kebutuhan utama ini. Karena akan melahirkan banyak permasalahan lain jika ini tidak diselesaikan dengan bijak.

"Warga bisa menggugat pemerintah di pengadilan jika pemerintah tidak mampu selesaikan persoalan air ini. Tapi juga, class action ini baru bisa dilakukan jika warga telah memiliki wawasan yang cukup dan bukti yang kuat yang bisa dibawa ke pangadilan. Penggunaan hak-hak sipil ini akan mempercepat terpenuhinya hak azazi warga untuk memperoleh layanan air bersih yang standar," tegas lelaki yang juga pakar politik dan hukum ini.

Pakar Air Bersih, Azhari Ali, mengatakan, dirinya telah tenemukan solusi untuk ir bersih supaya tersedia di seluruh Aceh. Azhari mengatakan, dirinya dipercaya menangani proyek air bersih di Aceh Utara, yang akan dijadikan pilot projeck untuk seluruh Aceh. Menurutnya, selama bertahun-tahun mengurusi air bersih, dirinya mendapatkan Aceh Utara dan Bireuen merupakan wilayah terbaik dalam hal mengurusi air bersih.

Sementara Banda Aceh, kata Azhari, sebagai pusat Aceh, saat ini memiliki sekitar ada 80 sekian persen pelanggan air bersih di kota Banda Aceh yang terdaftar di PDAM. Namun dari jumlah tersebut baru sekitar 52 persen air bisa digunakan secara baik di kota Banda Aceh, karena ada pelanggan-pelanggan yang sudah tidak aktif lagi dan ada yang belum mendapatkan air.

"Saya telah menulusuri, untuk Banda Aceh, Sungai Sarah bisa menjadi solusi untuk sumber air karena saat ini di Banda Aceh belum ada sumber air baku. Sungai Sarah lebih tepat untuk menjadi sumber air dan lagi ianya masih alami dan belum tercemar. Walau begitu pemerintah kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh besar harus mengkomunikasikan hal ini dengan baik. Karena sungai Sarah berada di wilayah Aceh Besar," kata Kepala BP SPAM.arfa

Saifuddin Bantasyam: Air Bersih HAM dan Prasyarat Syariat Islam



Banda Aceh - Sekolah Hamzah Fansuri (SHF) yang tengah menjalankan Kelas Sastra dan Perkabaran menyambut baik rencana Kongres Peradaban Aceh bertema "Penguatan Bahasa-bahasa Lokal di Aceh" yang akan dilaksanakan Oktober 2015 di Banda Aceh atas gagasan Forum Diaspora Aceh Jakarta.

Pengurus SHF, Thayeb Loh Angen, mengatakan, rencana tersebut merupakan langkah maju dari politisi yang selama ini lupa tentang keberadaan Aceh. Ternyata, kata Thayeb, kesadaran dari politisi muncul juga akhirnya.

"Selama ini kaum muda berteriak-teriak tentang peradaban dan apa saja. Namun suara kami kecil, walaupun terdengar sayup-sayup. akan tetapi apabila kaum tua dan poltisi telah mengambil andil, maka Aceh Baru akan segera terbentuk," kata Thayeb yang juga aktivis di Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT) ini.

Tema yang akan diangkat tersebut, kata Thayeb, mendukung ide persatuan Aceh dengan menghargai kekayaan budaya masing-masing wilayah. Thayeb menegaskan bahwa pengakuan pada keberagaman dan kesamaan budaya adalah pemersatu yang terbaik.

"Rencana para politisi ini memang terlambat, akan tetapi lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Kita tidak akan menganggap rencana tersebut sebagai kampanye, akan tetapi kita menilai itu adalah rencana yang baik dari politisi dan kaum tua. Semoga Allah merestuinya," kata penulis novel Aceh 2025 ini.

Thayeb menyebutkan bahwa beberapa tahun lalu kongres bahasa daerah pernah dilakukan oleh pemerintah di Aceh, akan tetapi gagal karena sistemnya salah. Pada waktu itu, kata Thayeb, bahasa pengantar dalam kongres tidak disebutkan sehingga acara kacau dan bubar.

"Panitia harus menentukan bahasa pengantar acara ini, yakni bahasa Melayu/Jawi/Indonesia, Kegagalan pada acara lalu terjadi karena masing-masing wilayah berbicara dengan bahasa suku mereka sendiri dan sebagian hadirin tidak mengerti. Untuk itulah maka di kongres nanti, semua hadirin harus menyampaikan bahasa daerahnya dengan bahasa persatuan," kata Thayeb mengutip isi bincangan dengan seorang yang pernah mengukuti kongres bahasa beberapa tahun lalu.
 
 

Sekolah Hamzah Fansuri Sambut Baik Rencana Kongres Peradaban Aceh



Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh) mengadakan acara perpisahan menyambut bulan puasa tahun ke 1436 hijrah nabi, Jumat 12 Juni 2015, di Kedai Pantai Cermin, Banda Aceh. Foto: Thayeb Loh Angen.

 
 
Oleh Thayeb Loh Angen

Kami berada di atas kedai berlantai papan. Dari sini bisa melihat laut melalui mulut kuala yang kini dangkal di hujung Krueng Neng, Kuala Cangkoi, Gampong Blang, Banda Aceh, 12 Juni 2015. Tempat kami berada ini dekat dengan tugu Ikrar Lamteh.

Di sanalah anggota Daud Beureueh menyatakan diri kembali menjadi warga negara RI yang punya sistem anti agama. Itu sebuah peristiwa sejarah di Aceh yang kemudian dikutuk-kutuk oleh orang yang suka menghakimi masa silam.

Kedai ini mengapung di atas air. Tiang-tiang betonnya ditancapkan ke tanah berlumpur. Kalau siang hari, akan terlihat pulau Weh di Utara, ada perahu-perahu yang melintas. Namun apabila malam seperti ini, hanya tampak lampu jingga di perahu nelayan dari kejauhan.

Lampu remang-remang berwarna merah, kuning, hijau, dan putih di kedai ini membangkitkan rasa romantisme bagi pengunjung, apalagi yang terbanyak terlihat adalah pasangan muda-mudi. Kedai ini memiliki beberapa bagian yang ketinggiannya berbeda.

Di atas pintu yang menjurus ke beranda yang dari sana terlihat langsung babah kuala (Kuala), tertulis "Kawasan Syariat Islam". Tulisan itu menegaskan bahwa yang dilarang oleh yang telah menerapkan Syariat Islam juga dilarang di kedai ini.

Pengurus kota beranggapan bahwa pelanggaran syariat Islam itu sebagaimana yang ikut disebut di kedai ini, seperti berzina dalam berbagai tingkatan. Pemerintah belum menganggap makan riba, korupsi, mengambil fee proyek atau mengambi gaji tanpa berkerja bagi PNS, dan sebagainya adalah pelanggaran syariat, walaupun mudharatnya untuk umat jauh lebih besar.

Ada media mengabarkan bahwa penerapan syariat di kota ini masih seperti menebang pohon di hutan, sebagian ditebang sebagian dibiarkan. Apabila pelangar syariat Islam yang ditangani pemerintah adalah masyarakat kecil, niscaya akan dihukum. Media itu mengabarkan bahwa ada rahasia umum tentang kejadian menggelikan di kota yang pemimpinnya mendakwahkan berzikir dengan suara nyaring dan beramai-ramai ini.

Beberapa tahun lalu, ada seorang penjabat kota yang berusia muda dan seorang separuh umur yang dekat dengan pemimpin di wilayah ini dikabarkan ditemukan berzina, akan tetapi tidak dihukum. Semoga Allah Ta’ala segera menghadirkan pemimpin yang adil untuk kota ini sebagaimana Sultan Al-Kahar Yang Agung dan Sultan Iskandar Muda Yang Adil.

Di sisi lain, sebagian penduduk kota ini mempermasalahkan banyak hal yang tidak kunjung selesai, namun di antara waktunya yang jarang berada di dalam wilayah, walikota mengurus hal yang sebenarnya bisa diurus oleh seorang kepala keluarga atau kepala dusun.

Air bersih tidak merata di kota ini, kalau air bersih tidak merata bagaimana orang bisa bersuci dengan baik dan sempurna? Begitupun listrik sering dipadamkan tanpa pemberitahuan. Kadang listrik dipadamkan di saat shalat magrib sehingga mengganggu kenyamanan beribadah umat Islam sebagai penduduk terbanyak kota ini.

Kedua masalah mendasar kebutuhan manusia ini, air bersih dan daya listrik yang cukup, tidak disebut sebagai pelanggaran syariat. Hak asasi manusia penduduknya belum terpenuhi.

Pemahaman pemerintah tentang syariat Islam di kota ini seperti pemahaman anak-anak tentang shalat, yakni meruku’ sujud dan sebagainya disertai mulut komat-kamit, tidak tahu apa yang harus dibaca apalagi dihayati, serta membaca kata ‘amin’ dengan nyaring. kota ini butuh cendikiawan yang tulus untuk mengurusi banyak hal.

Tulisan di atas pintu kedai tadi pun tidak mencegah pasangan tanpa ikatan nikah untuk bermesra-mesra sebagaimana yang telihat malam itu. Sementara di tengah kota, saat menuju ke kedai ini, kami melihat ada ribuan orang berpakaian putih duduk menghadap panggung pertunjukan zikir di lapangan Blang Padang. Mereka mengkuti zikir bersama yang didukung walikota, sebuah majelis yang lebih terlihat seperti pertunjukan panggung paduan suara melafazkan zikir dan nyanyian nazam.

Tulisan di pintu tadi lebih berkesan bertujuan apabila di kedai ini terjadi hal yang dilarang oleh orang-orang yang menganggap diri mereka sebagai ‘tangan Tuhan di bumi, penegak kebenaran’, maka pemilik kedai bisa membuktikan bahwa telah ikut melarangnya.

Kembali pada tujuan pertemuan malam ini.

Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh) selama ini berkutat dengan nisan-nisan zaman yang terbengkalai, suatu kegiatan berwarna hitam dan merah. Namun malam ini, tidak seperti biasanya, lembaga yang anggotanya para orang muda pencinta sejarah ini membuat kegiatan berwarna merah jambu (pink -Eng), warna yang dilekatkan pada romantisme dan suka ria.

Inilah acara perpisahan menyambut bulan puasa tahun ke 1436 hijrah nabi, bahwa kegiatan diskusi akhir pekan dan meuseuraya (gotong-royong) mingguan Mapesa akan dilanjutkan setelah hari raya Idul Fitri. Ada lima belas anggota Mapesa yang hadir. Dua belas orang lelaki dan tiga orang perempuan.

"Kita duduk di atas laluan utusan Sultan II Selim yang menuju Bitai, yang kemudian dikenal sebagai kampung Turki di Banda Aceh," kata Duta Nisan Aceh, Mizuar Mahdi Al-Asyi. Kenangan yang disebutkan Mizuar itu terjadi pada waktu 448 tahun lalu. Sejarah merah merah jambu hubungan Aceh dengan Turki.

"Di sini bekas tempat perang, sebelum smong (tsunami) masih terlihat bekas bivak-bivak Belanda. Akan tetapi jangan membicarakan perang lagi, sudah cukup itu," kata Deddy Satria, seorang arkeolog yang belasan tahun terakhir meneliti secara sukarela. Sebelumnya ia bergelut di dunia seni, seorang pemain biola yang handal.

Deddy Satria merupakan seorang dari tokoh andalan Mapesa selain Taqiyuddin Muhammad, seorang ahli membaca kaligrafi di batu nisan (inskripsi) dan sastrawan yang filsuf.

Walaupun ini acara santai dan bukan untuk berdiskusi sejarah, namun setelah beberapa saat Deddy Satria tiba, Mizuar dan Afrizal langsung membicarakan hasil penelitian terakhir tentang nisan-nisan di Samahani, Aceh Besar. Dan itu pun menjadi bincang-bincang (diskusi) ilmiah di saat hadirin lain bercengkrama tentang hal berbeda.

Pertemuan ini bersifat santai, hanya acara minum jus dan kopi bersama. Melihat setelah satu jam berlalu tidak membicarakan hal penting tentang tujuan pertemuan, sorang anggota memprotes ketua Mapesa, Muhajir Ibnu Marzuki.

"Siapa yang memilih tempat ini untuk pertemuan? Saya harus datang ke sini dari hujung ke hujung! Dan kita sudah lama duduk di sini, tetapi tidak disampakan sesuatu yang penting," kata Deasi, seorang guru yang telah ke Papua untuk pertukaran guru. Sebelum ke Papua, ia pernah ke Amerika dalam rangka pertukaran mahasiswa.

Deasi bergabung dengan para suka relawan yang kegiatan terbanyaknya membersihkan-menyelamatkan batu nisan (peugleh jrat) bersejarah ini dalam tahun terakhir. Ia bertempat tinggal di luar perbatasan Banda Aceh bagian timur, dan tempat ini berada di perbatasan Banda Aceh bagian Barat.

Hadirin pun mencoba menyepakati isi kegiatan pertemuan berikutnya, acara buka puasa bersama yang didahului kunjungan ke beberapa tempat bersejarah. Namun waktu untuk pertemuan itu belum bisa dipastikan.

Mereka hanya menyepakati bahwa malam ini tidak akan ada yang begadang sampai larut malam. Sebelum tengah malam, pertemuan bubar dan hadirin pulang ke tempat masing-masing.

Mapesa Menjelang Puasa di Kota Al-Kahar



2025 sebagaimana judul sebuah novel "Aceh 2025" yang diluncurkan pada 12 Februari 2015 adalah angka yang mengandung permainan arti dalam ilmu penanggalan dunia.

Para mistikus angka ada yang menganggapnya suci (sacral). Sebuah abad berjumlah 100 tahun, maka 25 tahun adalah seperempat awal abad 21 Masehi. Menurut mereka, mistik angkanya adalah: 2025, 4, dan 21. Novel Aceh 2025 ditulis selama 4 tahun di bagian awal abad 21 Masehi. Benarkah itu?

Pemilihan angka 25 untuk judul buku ini bukanlah sebuah kesengajaan. Awalnya buku itu ingin diberi judul "Aceh 2021", akan tetapi karena terlambat selesai, maka angkanya harus ditambah supaya ada jeda 10 tahun dari masa buku itu diluncurkan dengan masa yang disebut di dalamnya. Maka jadilah Aceh 2025.

Apakah 2025 tahun terpenting di dalam cerita tersebut? Ternyata yang menjadi bagian awal penyebab perubahan secara menyeluruh di Aceh dari rangkaian tahun di dalam cerita itu adalah sesuatu yang terjadi pada tahun 2020, sebuah revolusi. Revolusi Putih. Revolusi yang lahir karena kemarahan yang amat sangat dan dilampiaskan secara cerdas.

Siapa yang marah, karena apa, kepada siapa? Cerita ini mengemukankan bahwa rakyat marah besar terhadap penjabat pemerintah dan penguasa ekonomi secara kejam (feodal) yang bermain-main atas nama rakyat dan negara. Revolusi itu mengubah sistem pemerintahan di Aceh sehingga sebuah peradaban baru terbentuk. Orang-orang pun bertanya, apakah itu akan benar-benar terjadi?

Yang terpenting dari isi cerita "Aceh 2025" adalah sistem pemerintahan, ekonomi, budaya, pendidikan, politik, dan sebagainya. Penerbit Yatsrib Baru ingin mengundang para ahli di masing-masing bidang tersebut untuk mengungkapkannya sehingga misteri "Aceh 2025" akan lebih terkuak di masa kini.

Oleh Thayeb Loh Angen, penulis novel Aceh 2025.

10 Tahun Sebelum 2025


 
Kolam peninggalan Tgk Chik Di Paloh, di Paloh Dayah, Mukim Paloh Timu, Lhokseumawe. Foto: Thayeb Loh Angen
 
Banda Aceh - Keturunan Tgk Chik Di Paloh yang kini tersebar di berbagai belahan dunia, diundang berkumpul pada hari Ahad 2 Agustus 2015, di makam Tgk Chik Di Paloh, Cot Trieng, Paloh Timu, Lhokseumawe.

Demikian kata sekretaris panitia persiapan acara reuni akbar, H Rusli (Cek Li), melalui telepon seluler, Rabu 17 Juni 2015, di Mns Meuria Paloh, Lhokseumawe.

"Sebulan lalu kita sudah mengadakan rapat dan terbentuklah pengurus sementara. Drs H Zakaria Zainal Abidin, yang sekarang Kepala Sekolah MIN Meuria Paloh, terpilih sebagai ketua, dan saya sebagai sekretaris," kata Cek Li.

Malam kemarin, kata Rusli, pengurus sementara komunitas turunan Tgk Chik Di Paloh menyepakati untuk mengadakan acara reuni tersebut.

"Kami mengharapkan semua keturunan Tgk Chik Di Paloh bisa menghadiri acara ini, baik undangannya dapat kami sampaikan lagsung atau tidak. Datanglah, kita akan musyawarahkan bagaimana ke depan," kata Cek Li.

Pertemuan reuni ini, kata Rusli merupakan hal yang baru pertama kali dilakukan sehingga pihaknya mengharapkan Allah Ta’ala memudahkan urusan dan ia berharap ada gunanya.

"Tgk Chik Di Paloh adalah ulama turunan Hadramaut, Yaman. Nama aslinya adalah Syeikh Abdussalam Al-Yamani," kata lelaki yang pernah menjadi jurnalis di salah satu koran harian umum nasional ini.tla


2 Agustus 2015, Turunan Tgk Chik Di Paloh Ban Sigom Donya Reuni Akbar


Kegiatan Kelas Sastra dan Perkabaran Sekolah Hamzah Fansuri di kantin SMEA Lampineung, Banda Aceh, Jum’at 12/06/2015. Pertemuan ini merupakan yang terakhir kali sebelum memasuki bulan suci Ramadhan 1436 H. Setelah hari raya Idul Fitri akan dilajutkan dengan pelajaran sastra. Foto: Muhammad Reza.

Banda Aceh - Sekolah Hamzah Fansuri kembali gelar kegiatan belajar menulis di kantin SMEA Lampineung, Banda Aceh, Jum’at 12/06/2015. Pertemuan ini merupakan yang terakhir kali sebelum memasuki bulan suci Ramadhan 1436 H.

 Thayeb Loh Angen, Kepala sekaligus Pengajar Sekolah Hamzah Fanshuri menuturkan, memilih warung kopi sebagai tempat belajar bertujuan untuk menarik perhatian generasi muda agar jangan hanya dijadikannya sebagai tempat nongkrong, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai wahana belajar.

 “Kita harus mengubah kebiasaan masyarakat Aceh secara perlahan-lahan, supaya mereka memanfaatkan warung kopi dengan sebaik-baiknya. Sebab, selama ini orang-orang luar mengenalnya dimanfaatkan hanya untuk bersantai dan didominasi oleh pengangguran yang malas, padahal tidak sedemikian rupa,” tambah Thayeb yang juga aktivis di PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki).

 Senada dengan itu, salah satu siswa Sekolah Hamzah Fansuri, Fira Zakia, mengatakan warung kopi di Banda Aceh kebanyakan sudah mempunyai fasilitas untuk kegiatan-kegiatan seperti rapat, seminar, worshop dan lain-lain. Menurutnya, tempat yang tersedia sangat cocok untuk acara-acara sederhana.

“Belajar di sini memberi kesan yang berbeda dengan di tempat biasanya, sangat jarang bisa menikmat kopi sambil belajar, selain itu yang menarik adalah pelayanannya sangat bagus, ruangan juga dilengkapi mesin pendingin (AC),” kata Fira.nzr

Kedai Kopi Jadi Tempat Belajar


Bunga tulip di Istanbul, April 2014. Tulip adalah bunga yang dibudidayakan secara besar-besaran oleh Sultan Turki Usmani terutama pada masa pemerintahan Sultan Ahmed III. Bunga yang mekar pada musim semi (April) selama sebulan ini sekarang dipakai sebagai logo resmi Turkish Tourism. Foto. Nawawi

Oleh: Fira Al Haura
Mahasiswa, penulis muda Aceh.


Keindahan adalah sesuatu yang menawan mata. Begitu pula dengan Tulip yang menawan Sultan Kerajaan Ottoman Turki, suatu ketika. Begitu, menurut sejarah.

Jika musim semi datang di belahan Eropa sana, maka Belanda akan ditumbuhi dengan bunga-bunga yang menawan di April tiap tahunnya. Setangkai bunga yang sebenarnya adalah bunga nasional Iran dan Turki. Hingga akhirnya negeri kincir angin itu pun disebut dengan julukan bunga tersebut. Tulip, nama bunganya.

  Kata "tulip" sendiri berasal dari bahasa Turki yang artinya "surban", semacam kain yang dililit untuk menutupi kepala. Bunga liar yang tumbuh di kawasan Asia Tengah ini pertama kali dibudidayakan pada awal tahun 1000-an, pada masa pemerintahan kekhalifahan Ustmaniyah, terutama masa kekuasaan Sultan Ahmed III.

 Pada masa itu istana memiliki sebuah dewan khusus yang membudidayakan bunga-bunga tulip. Dewan itu dipimpin oleh seorang Turki yang juga merupakan kepala perangkai bunga istana yang tugasnya memberikan nama yang indah dan puitis bagi bunga-bunga tersebut. Seperti Those that burn the heart, Matchless Pearl, Rose of colored Glass, Increase of Joy, Big Scarlet, Star of Felicity, Diamond Envy, atau Light of the Mind. Inilah yang disebut Era Bunga Tulip. Barulah sekitar abad ke 16 tahun 1550-an tulip mulai dibawa ke Belanda oleh kapal-kapal yang berasal dari Istanbul.

 Di abad yang sama pula, Aceh yang jaraknya beribu-ribu kilometer dari Turki sedang dalam keadaan genting. Kejayaan Kerajaan Samudera Pasai telah runtuh. Akhirnya kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya membentuk federasi dan mendirikan kerajaan baru bernama Kerajaan Aceh Darussalam.

 Keadaan genting ini ditambah dengan datangnya tentara Portugis ke wilayah ini. Untuk itu, demi memperkuat posisinya di mata dunia, Kerajaan Aceh berinisiatif mencari dukungan pada kerajaan Islam yang terbesar di dunia, yaitu Turki Usmani atau yang dikenal dengan Dinasti Ottoman.

 Sultan ketiga Kerajaan Aceh Darussalam, yaitu Sultan Alaidin Riayat Syah al-Qahhar, mengirimkan utusan, di antaranya bernama Omar dan Hussain, untuk menemui pejabat Kesultanan Ottoman pada 7 Januari 1565 dengan membawa sejumlah besar komoditas berharga ke Konstantinopel. Peristiwa inilah yang disebut sebagai kisah ‘meriam lada secupak’.

 Beberapa abad setelahnya, perang antara Kesultanan Aceh melawan Belanda dimulai Pada tanggal 26 Maret 1873 Belanda menyatakan perang kepada Aceh dan mulai melepaskan tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal perang Citadel van Antwerpen. Pada 5 April 1873, Belanda mendarat di Pantai Ceureumen di bawah pimpinan Johan Harmen Rudolf Kohler, dan langsung menguasai Mesjid Raya Baiturrahman.

 Perang ini pecah karena Belanda merasa ketakutan terhadap kebijakan Aceh yang mengadakan hubungan diplomatik sebagai akibat perjanjian Sumatera 1871 dengan Konsul Amerika Serikat, Kerajaan Italia dan Kesultanan Usmaniyah di Singapura. Aceh juga kembali mengirim utusan ke Turki Usmani. Upaya diplomatik inilah yang menjadi alasan Belanda menyerang Aceh karena dikhawatirkan pengaruh Aceh di seputar Selat Melaka menguat kembali. Wakil Presiden Dewan Hindia Frederik Nicolaas Nieuwenhuijzen dengan dua kapal perangnya datang ke Aceh dan meminta keterangan dari Sultan Mahmud Syah tentang apa yang sudah dibicarakan di Singapura itu, tetapi Sultan Mahmud menolak untuk memberikan keterangan. 

 Sehubungan dengan invasi Belanda ini kembali menguatkan hubungan antara Aceh dan Ottoman. Ini menjadi faktor pendorong bagi elit penguasa Aceh untuk menghidupkan kembali hubungan lama dengan Dinasti Ustmani dan berupaya untuk bergabung atau berbagi hak teritorial dengan supremasi Ottoman. Upaya Aceh mengirim utusan ke Konstantinopel melalui serangkaian kunjungan mendapat sorotan bukan hanya dari beberapa media di Konstantinopel tetapi juga menyebabkan Perang Belanda menjadi isu politik internasional.

 Begitulah masa lalu menuangkan hubungan segitiganya. Belanda dan Turki dihubungkan dengan indahnya Tulip. Aceh dan Belanda yang berdarah dalam perangnya. Serta Turki dengan kisah ‘meriam lada secupak’nya dengan Aceh.

Menziarahi Aliansi antara Aceh dan Ottoman


Popular Posts