Laksamana Keumala Hayati, Inovator Kemiliteran Dunia

Written By Peradaban Dunia on Thursday, 16 April 2015 | 21:22

Oleh Thayeb Loh Angen
Aktivis di Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT)


Laksamana Keumala Hayati adalah seorang pembaharu (inovator), penyemangat (motivator) ulung yang berhasil menjadikan kemalangan menjadi keberuntungan. Di penghujung abad XVI Masehi, banyak tentara laki-laki di Sumatera meninggal dalam perang dengan Protugis di perairan Selat Melaka.

Keumala Hayati yang merupakan lulusan Akademi Bitai Ma’had Baitul Maqdis meminta pendapat beberapa ulama (menurut sebuah riwayat, ia meminta pendapat itu pada Qadhi Malikul Adil yang saat itu Maulana Syekh Hamzah Fansuri?). Ulama-ulama pun menyetujui rencananya untuk mengumpulkan janda-janda dari tentara negara Aceh Darussalam yang syahid dan dilatih bertempur secara profesional.

Setelah ulama dan petinggi kesultanan mendukung, maka perwira marinir handal, Keumala Hayati, yang suaminya ikut syahid di dalam perang dengan Portugis ini pun mengumpulkan perempuan-perempuan yang di kemudian hari dijuluki dengan Laskar Inong Balee.

Sekalian perempuan itu secara suka rela menjadi tentara, dengan sadar dan mengetahui akhir dari itu, yakni syahid yang mungkin saja jasadnya akan terbuang ke laut dan dimakan ikan, menyusul suami-suami, anak, dan kerabat mereka.

Setelah beberapa waktu, bukan saja janda perang Portugis yang ikut Laskar Inong Balee, namun sekalian gadis pun berebutan mendaftakan diri mereka menjadi tentara Laksamana Keumala Hayati karena mengagumi kepemimpinannya dalam membela negara dan Islam.

Ini menunjukkan betapa Keumala Hayati memiliki kharisma yang kuat di mata masyarakat dan merupakan seorang guru yang handal yang mampu membangun sebuah pasukan perang yang terdiri dari perempuan, terlatih dengan baik, dan itu pertama kali terjadi di dunia.

Penilaian terhadap Laksamana Keumala Hayati bukanlah sekedar menyebutkannya sebagai laksamana perempuan. Keadaan Aceh Darussalam pada masa itu adalah kekurangan tentara karena perang selama berpuluh-puluh tahun.

Perempuan-perempuan perkasa, pasukan berani mati. Kesatria Sumatera dari Aceh Darussalam. Kemunculan pasukan pasukan ini pun terdengar sampai ke balik Benteng La Famosa di Melaka dan penduduk negeri lain pun ikut mendengarnya. Dunia pun terkjejut. Dan Laksamana Keumala Hayati bersama Laskar Inong Baleenya menjadi kabar hangat antara benua.

Telinga-telinga tentara Portugis yang telah menduduki Melaka itu pun sakit mendengarnya. Mereka tidak pernah mendapatkan lawan yang sekuat Aceh Darussalam. Dan kini, hal yang memalukan, mereka harus melawan pasukan perempuan yang berjumlah ribuan orang. Apa yang terjadi itu pun terdengar sampai ke daratan Afrika, Asia, dan Eropa.

Apa yang dibuat oleh Keumala Hayati lebih dari 400 tahun lalu, menjadi bukti pada masyarakat dunia bahwa perempuan bisa  menjadi pemimpin besar seperti laki-laki. Penduduk dunia, sejak lama telah menyandingkan perempuan-perempuan dari Aceh dengan tokoh perempuan dunia lainnya.
Tentara Potugis itu berpikir, betapa malunya apabila mereka dikalahkan oleh perempuan yang menurut orang Eropa saat itu adalah penduduk kelas dua. Akan tetapi mereka bisa menyelamatkan muka karena perempuan-perempuan yang mereka hadapi bukanlah perempuan Eropa yang hanya mengurusi bayi dan dapur.

Portugis bisa membela dirinya bahwa mereka hadapi adalah perempuan Aceh Darussalam, perempuan-perempuan yang telah dilatih berperang dengan baik dalam sebuah akademi marinir terbesar di Asia Tenggar saat itu, dan datang dengan kapal perang bersenjata lengkap dan canggih untuk menyerang mereka di benteng-benteng pertahanan, Semenanjung Melaka.

Tentara Portugis menangkis tudingan, bahwa dengan melawan perempuan-perempuan itu pun bisa mati, apalagi hanya duduk santai di belakang benteng La Famosa. Setelah Laskar Inong Balee semakin kuat dalam beberapa pertempuaran, tentara-tentara laki-laki pun diserahkan di bawah komando Laksama Keumala Hayati dalam rangka menjaga perairan Selat Melaka dari bajak laut Eropa dan menyerang Portugis yang menduduki Melaka.

Dari sudut pandang ilmu kemiliteran, yang paling menentukan dilakukan oleh Keumala Hayati adalah mampu melahirkan pasukan tentara perempuan dalam jumlah besar dengan disiplin tinggi. Lalu menaiki kapal perang dan berlajar menyeberangi Selat Melaka yang berarus deras, untuk menyerang tentara Potrugis yang saat itu merupakan angkatan laut besar dunia. Itulah pembaharuan kemiliteran dunia di Asia Tenggara.

Apakah hanya kemampuan mencipta pasukan dan ilmu kepemimpinan saja yang dikuasai Laksamana Keumala Hayati? Ia menguasai lima bahasa, yakni Arab, Spanyol, Inggris, Melayu, dan Aceh. Selain memimpin pasukan tempur dalam jumlah besar, Laksamana Keumala Hayati dipercayakan sebagai ketua protokoler Kesultanan Aceh Darussalam yang dengannya, apa dan siapa saja untuk dan atas nama Sultan Aceh Darussalam, harus melalui Laksamana Keumala Hayati.

Selain itu, Laksamana Keumala Hayati itu merupakan seorang akademisi yang handal. Surat-surat dan karyanya mensit diteliti di berbagai pustaka dunia, seperti di Portugal, Turki, Inggris, Perancis, Belanda. Sejarah hidup Laksamana Keumala Hayati bukan saja tentang seorang tentara perempuan yang belum ada tandingannya setelah lebih empat ratus tahun.

Namun sejarah hidup Laksamana Keumala Hayati juga kisah ia sebagai seorang isteri, ibu, guru, pemimpin, penulis, dan anggota masyarakat dunia yang terhormat yang alangkah baiknya diteladani oleh orang Aceh mahupun penduduk dunia lainnya.*

Dendam Politik, Pemimpin Islam Bangladesh Digantung

Written By Peradaban Dunia on Monday, 13 April 2015 | 03:25

Pemimpin oposisi Bangladesh, Muhammad Kamaruzzaman, dalam pengawalan ketat polisi. (Dok. Reuters)

Dhaka - Pemimpin Partai Jamaat-e-Islami yang merupakan partai oposisi Bangladesh, Muhammad Kamaruzzaman, 63 tahun, dihukum mati oleh penguasa negeri tersebut dalam sebuah sidang terencana karena balas dendam politik. 

Demikian kata pejabat sementara Ketua Partai Jamaat-e-Islami, Maqbul Ahmed, yang mendeklarasikan hari Minggu (12/4) sebagai hari untuk mendoakan Kamaruzzaman dan perdamaian. Maqbul mengatakan, pada Senin (13/4), partai itu berencana mengadakan unjuk rasa. 
 
"Ia dibunuh di Penjara Pusat Dhaka setelah Mahkamah Agung menolak kasasi yang diajukannya. Pemimpin kami dihukum mati dengan tuduhan kejahatan perang tahun 1971. Padahal itu perang yang memerdekakan Bangladesh dari Pakistan. Walaupun divonis mati oleh pengadilan, beliau tidak mau meminta pengampunan dari Presiden," kata Maqbul. 

Sebelum pembunuhan berlangsung, pasukan keamanan ditempatkan di sekitar penjara. Semua jalan ke sana ditutup dan tentara berpatroli di ibu kota. Sementara pasukan paramiliter Penjaga Perbatasan Bangladesh disiagakan di seluruh negara untuk mengantisipasi rencana unjuk rasa besar-besaran.ded/cnnindonesia.com 

Ebru Gulsen dan Laila Peurigi 1566

Written By Peradaban Dunia on Wednesday, 8 April 2015 | 16:01

Karya
Thayeb Loh Angen
Pengarang Novel Teuntra Atom dan Novel 2025, Aktivis di Pusat Kebudayaan Aceh - Turki (PuKAT)
 
 
TATKALA Ebru Gulsen menjual kain di Pasar Aceh, aku dan suamiku tengah mengumpulkan lada-lada kering di Indra Puri. Lada-lada itu baru saja kami angkut dari Lamteuba.
 
“Cut Nyak Meurandeh, pajan keuh sangkira taba lada-lada nyoe u Syah Bandar(kapan kita angkut lada-lada ini ke pelabuhan)?” Laila Peurigi berteriak di sudut krong.

“Besok.”

Kulihat Laila Peurigi tidak berkata apa-apa lagi. Ia sibuk menggulung kain-kain sana’ani yang dibelinya dari Ebru Gulsen dan dihadiahkan kepadaku sehelai. Kemarin ia mengabarkan tentang munculnya seorang penyair dari Istanbul, Ebru Gulsen, di Bandar Aceh Darussalam.

“Aku akan mengajakmu menjumpai Ebru Gulsen.”

“Aku tidak bisa bahasa Rum (Turki -peny).”

“Ia bisa bahasa Arab. Bawalah Nyak Siti Priya. Mintalah Ebru mengajarkannya cara menulis puisi.”

“Apakah menurutmu, dara Rum berambut pirang itu mahu mengajarkannya?”

“Bahkan Ebru adalah guru yang baik bagi anak dara kecilmu itu. Ia datang dari tepi Harem yang terhormat.”
***
 
Ratusan orang dari berbagai negeri berdesakan di Pelabuhan Ulee Lheue. Aku, Laila Peurigi, dan Nyak Siti Priya berdiri di hadapan belasan karung lada. Syah Bandar muncul dan berbicara dengan Cut Nyak Meurandeh. Setelah ada kesepakatan harga, lada-lada itu diangkut ke kapal dari Maghrib (Maroko -peny) yang dilabuhkan paling belakang dan akan segera berangkat ke Madagaskar.

Mereka bertiga menuju rumah bermalam tempat Ebru Gulsen tinggal. Di antara jurung yang di kiri kanannya berbaris perahu, mereka mendengar bacaan syair yang syahdu mendayu diiringi suara
rapai.

“Itu anak-anak nelayan di pelabuhan. Mereka membaca syair-syair itu setiap hari, setelah ayah-ayah mereka menjual barang-barang ke Syah Bandar,” kata Laila Peurigi.

Mereka bertiga sampai di rumah Ebru Gulsen yang saat itu baru saja selesai menamatkan membaca surat Yasin. Mereka duduk di beranda rumah itu seraya menatap pantai dan barisan perahu.

“Kakanda Laila, menurut orang di pelabuhan, engkau pernah mengalahkan kapal Peurigi (Portugis -peny) hanya dengan perahu. Benarkah?” Tanya Ebru Gulsen.

“Maksudku awalnya hanyalah mengejar kapal mereka dengan perahu nelayan.”

“Bagaimanakah ceritanya?”

“Itu terjadi pada suatu malam.”

Maka aku pun menceritakan kisah Laila Peurigi yang terjadi setahun lalu.
Pada suatu malam, Laila Peurigi diberitahukan oleh nahkoda perahu-perahu besarnya bahwa ada tiga buah kapal Peurigi mendekati teluk Ujong Pancu. Maka Laila yang memiliki dua puluh perahu besar penangkap ikan pun memerintahkan supaya semua perahu itu dilayarkan segera untuk menghadang kapal-kapal Peurigi.

Sekalian nahkoda itu berpikir bahwa itu perintah gila. Namun apa hendak dikata, mereka adalah pekerja dan Peurigi adalah musuh yang mesti diusir. Tidak ada pilihan lain. Suami Laila yang merupakan kepala sebuah pasukan tentara Kesultanan Aceh Darussalam telah syahid saat berperang dengan sebuah kafilah armada Peurigi di dekat perairan Nikobar.

Tiga buah kapal Peurigi yang ingin mendekat tidak menduga akan dihadang oleh dua puluh kapal kecil. Dengan penghadangan sebanyak itu, walaupun mereka bisa mendarat, akan tetapi tidak mungkin bisa selamat. Kapal-kapal Peurigi menembakkan beberapa meriam untuk menakut-nakuti perahu-perahu. Akan tetapi perahu-perahu itu terus mendekati kapal-kapal tersebut. Namun malang, sembilan perahu itu pun tenggelam.

Sebelum meriam ditembakkan, ternyata sekalian pelaut anggota Laila Peurigi telah melompat dari perahu dan berenang menyelinap ke kapal-kapal penjahat dari Eropa selatan tersebut. Perang di atas kapal itu pun tidak terelakkan sampai tengah malam. Sebuah kapal Peurigi ditengelamkan, dua buah lagi melarikan diri.

Anehnya, tidak ada seorang pun pelaut Laila Peurigi yang syahid. Semuanya selamat. Dan, Laila Peurigi terlihat di ujung tiang kapal yang tengah tenggelam. Dialah yang menenggelamkannya. Sekalian pelautnya pun heran dengan terlihatnya Laila, mereka tidak menduga tuan perahu itu ikut dalam pengejaran.

Esoknya, perempuan bernama Nyak Meurah Intan Baiduri, isteri almarhum Laksamana Muda Amat Lila Wangsa itu pun disebut Laila Peurigi yang artinya malam Peurigi atau penghancur Peurigi pada suatu malam, karena itu adalah kemenangan telak sekalian pelautnya atas pelaut Peurigi yang berjumlah lebih banyak dan bersenjata lebih lengkap.

Mendengar cerita itu, Ebru Gulsen manggut-manggut. Ia senang ada yang menenggelamkan kapal Peurigi.

Laila Peurigi pun mengatakan maksud kedatangannya membawa seorang dara kecil dan ibundanya.

“Aku bukanlah seorang guru. Bahasa Arabku tidak baik. Lagi pula, aku ke negeri ini untuk menjemput calon suamiku,” jawab Ebru Gulsen yang baru beberapa hari tiba dari Istanbul.

“Bahasa Arab atau Turki sama saja. Yang penting anak dara kecil bisa sastra. Kami akan membantu apapun keperluanmu saat di sini. Seorang dara dari negeri yang amat jauh tetaplah butuh saudara perempuannya di negeri yang baru didatangi.”

“Baiklah, Nyak Siti Priya akan menjadi muridku, dan kalian adalah saudara tuaku,” Ebru Gulsen memeluk Laila Peurigi. Aku dan Nyak Siti Priya ikut memeluk mereka.portalsatu.com

Doy

Written By Peradaban Dunia on Monday, 6 April 2015 | 22:27


Sultan Turki Usmani. Gambar: pasukanottoman.wordpress.com
Cerpen
Taqiyuddin Muhammad

Mereka semua menatap mata Raja. Sinar mata yang membersitkan kekuatan tekad serta kasih sayang itu berkaca-kaca menahan geram dan gemuruh amarah dalam dada.

Para pembesar negeri yang berkumpul di balai utama istana kala itu sedang dihimpit gundah. Menyerah dan tunduk kepada musuh Allah dan Rasul-Nya tidak akan pernah jadi pilihan untuk selamanya. Tapi kekuatan dan persiapan perang yang mereka miliki belum menjamin kemenangan.

Suasana dalam balai utama untuk beberapa saat menjadi hening. Sementara mata menatap ke arah Raja, segenap pikiran orang-orang yang hadir dalam ruang itu tercurah kepada persoalan nasib bangsa.

Kecuali Doy, seorang hamba sahaya yang berdiri di belakang barisan para pembesar untuk melayani berbagai keperluan. Orang tuanya adalah tawanan perang ketika baginda Meurhoem Ayahanda Raja menaklukkan pantai barat sepuluh tahun lalu. Doy tampak sama sekali tidak perduli dengan persoalan dan suasana sekitarnya. Ia asik mengamat-amati pakaian Raja. Baju Raja yang bersulam mutiara. Kulahkama yang berkilau keemasan. Hulu rincong yang berlapis emas dan bertatah ratna mutu manikam.

“Duli Tuanku Syah ‘Alam,” terdengar suara Panglima Prang memecah keheningan.
“Perkara yang sedang kita hadapi adalah cobaan Allah untuk menguji sejauh mana keteguhan hati kita dalam membela agama-Nya. Tuanku Syah ‘Alam, nyatalah bagi kami inilah sebaik-baik kesempatan bagi kami untuk mati fi sabilillah, menggapai kesyahidan yang selama ini kami nanti-nantikan.”

“Tiada keraguanku akan hal itu, wahai Panglima,” jawab Baginda Raja dengan nada suara membutirkan kasih sayang.

“Tiada keraguanku akan hal itu,” Baginda mengulang ucapannya lagi, “tapi alangkah berat hatiku andaikata menang tak berhasil diraih. Bagaimanakah kiranya rakyat kita. Anak-anak dan cucu kita nantinya. Perang adalah perkara besar. Amat tidak tentramlah hatiku melihat rakyatku menderita. Apakah mereka sudah bersiap lahir dan batin untuk menghadapi cobaan ini?”

Suasana kembali hening beberapa saat sampai Saiduna Syaikh angkat bicara, “Kalau begitu yang Tuan hamba katakan, baiknyalah Tuan hamba melihat langsung keadaan rakyat Tuan hamba. Apakah mereka telah bersiap lahir dan batin untuk menanggung ini perkara.”
 
“Semoga Allah memuliakan Saiduna Syaikh Tuan Guru kami. Demikian itulah pula yang datang ke dalam pikiran kami, wahai Saiduna. Baiknya itu segera kami lakukan,” ucap Baginda.
 
Tidak lama kemudian Raja terlihat melangkah ke luar benteng istana dengan hanya ditemani dua pengawal, Pang Hasan dan Pang Ahmad.
 
Melihat itu, Doy yang sedari tadi menyembunyikan suatu hasrat dalam hatinya berjalan mengendap-endap lalu menyelinap masuk ke bilik malabis, kamar khusus untuk pakaian Raja. Sesaat berada di di dalamnya, Doy terpaku kagum, matanya terbelalak penuh gairah melihat segala rupa pakaian kebesaran kerajaan yang indah-indah yang digunakan dalam berbagai munasabah. Ragam warna serta ragam hiasan yang tersulam dengan benang-benang keemasan dan keperakan. Ia merasa seperti berada di sebuah taman impian. Di bibirnya tersungging senyum lebar.

Doy kemudian menyentuh dan mengusap pakaian-pakaian yang berbahan halus dan mewah itu satu persatu sampai akhirnya tak dapat menahan diri lagi. Ia mengambil salah satu pakaian, memakainya dan segera berdiri di depan cermin. Ia berputar-putar di depan cermin; samping kiri, samping kanan, belakang, dan kembali ke muka. Ia lantas tertawa gelak.

Doy mulai lupa diri. Satu persatu pakaian raja dipakainya. Puas dengan satu diganti dengan yang lain. Setiap kalinya diiringi gelak tawa.

Setelah berjam-jam Doy dalam kemabukannya itu terdengar pintu bilik malabis dibuka. Ternyata Baginda sudah kembali. Raja bermaksud untuk mengganti pakaiannya yang sudah basah dengan peluh.

“Apa yang kamu lakukan Doy?!” tanya Baginda Raja yang terperanjat saat melihat Doy berada dalam bilik malabisnya. Pang Hasan dan Pang Ahmad pun maju dengan langkah sigap, tangan keduanya sudah menggenggam hulu pedang.

“Aku raja. Aku raja!” teriak Doy. Wajahnya tegang.

“Aku raja. Aku raja!” teriak Doy lagi.

Pang Hasan dan Pang Ahmad sudah menghunus pedang, namun gerak mereka terhenti ketika terdengar suara Baginda tertawa. Mereka menoleh kepada Baginda yang masih saja tertawa. Kening mereka berkerut limau purut.

Selang beberapa menit, sambil menyeka matanya yang berair karena tertawa, Baginda Raja berkata, “Baiklah, Doy. Kamulah raja..haha...! Kamu raja Doy..hahaha!”

Raja lalu memberi isyarat kepada dua pengawalnya untuk mendekat. Baginda belum bisa menghentikan tawanya. “Haha.. kamu berdua biarkan Doy begitu..hahaha! Biarkan ia sampai lelah dan tertidur lalu angkat dia ke kamarnya,” kata Baginda Raja kepada kedua pengawalnya dengan suara halus yang diselang tawa.

“Baiklah, Raja Doy,” ujar Baginda lagi kepada Doy, “Nanti bila kamu sudah siap, kedua pelayanmu ini akan mengangkatmu ke singgasana...hahaha!”

Baginda kemudian segera keluar dari bilik malabis menuju balai musyawarah di mana pembesar-pembesar kerajaan dan orangkaya-orangkaya sudah menunggunya di sana. Memasuki ruang balai, senyum lebar masih melekat di wajah Baginda yang tampan dan berwibawa. Sebaliknya, suasana dalam balai musyawarah masih seperti dinaungi awan kelabu. Akan halnya nasib bangsa yang besar ini ke depan telah mengisi seluruh ruang pikiran dan benak. Saat melihat senyum lebar Baginda Raja, para pembesar dan orangkaya menjadi masygul dan heran, namun tak berani berucap sepatah kata.

“Tuan-tuan yang berbahagia,” Baginda mulai angkat bicara, “adalah karena karunia Allah Ta’ala semata-mata, bangsa kita ini telah ditakdirkan untuk menanggung amanah yang besar. Kita bertanggungjawab untuk senantiasa menegakkan Agama Allah dan memilihara kemaslahatan Muslimin di masa saja mereka berada. Adalah karena karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita, pemimpin dan rakyat bangsa ini, akan selalu siap dan tegar menghadapi berbagai rupa ujian di dalam jalan-Nya. Kabar gembira bagi Tuan-tuan kami sampaikan, bahwa rakyat kita telah bersedia dengan tekad kuat dan keteguhan hati yang tiada tandingnya untuk menghadapi apa saja yang mesti kita hadapi demi membela Agama dan tanah air kita. Bukan kemegahan dunia yang kita cari, tapi kemuliaan abadi di akhirat lah yang sesungguhnya kita tuju. Yakinlah Tuan-tuan akan pertolongan Allah dan kemenangan dari-Nya. Maka segeralah bersiap-siap, Tuan-tuan. Ke padang kesyahidan dan kemenangan kita menuju!”

Selesai Baginda menyampaikan kata-katanya, ruang balai seketika menjadi riuh. Takbir dan tahmid terdengar bergemuruh. Beberapa di antara mereka dengan penuh semangat mengulang-ulang ucapan Raja, “Ke padang kesyahidan, Tuan-tuan! Ke padang kesyahidan! Ke padang kesyahidan!”

Baginda berkaca-kaca matanya menahan keharuan. Sejenak kemudian Baginda telah keluar dari balai musyawarah. Di depan pintu, Baginda berpapasan dengan dua pengawalnya, Pang Hasan dan Pang Ahmad, yang sedang menggotong Doy ke kamarnya.

“Subhanallah wa bihamdihi.. teramat besarlah anugerah Allah kepada aku hamba-Nya. Dalam susah hati diberikan pula aku suka dan tawa,” ucap Baginda sambil tersenyum.
 


Dari: facebook.com/paduka.raja.146

Sulaman Pengantin

Written By Peradaban Dunia on Sunday, 5 April 2015 | 18:01


Bulan gerhana, anak-anak bersenda ria
Ke mana bulanku, Mama?
Ia telah dilumuri darah malam
aku suka merahnya.

Aku meloncat-loncat dalam temaram
tidak ada suara pungguk
tidak ada cahaya malam
tapi mataku bercahaya
aku senang, Mama
bulan itu tidak jatuh ke atasku.
Esok pagi, aku masih punya mata hari.

Aku ingin merah bulan itu
bergambar mawar seperti di bantalku

Mama, siapa yang melukisi bulan
aku ingin di sana ada bebunga aneka warna
ada daun-daun, seperti sulaman di baju pengantin
yang dirindukan dara pada akhir musim.

Mama, di jubah pengantinku
ada sulaman zaman berwarna purnama.

Kedai Kupi Aceh

“Pemerintah Aceh sekarang harus belajar pada manajemen kedai kupi yang melayani pembeli dengan baik selama 24 jam sehari. Kalau telat semenit saja pelanggan mereka akan lari dan kedai itu tutup. Aceh harus bekerja 25 jam sehari supaya bisa bangkit.”
Dr Mehmet Ozay, Sosiolog Turki
Dr Mehmet Ozay, Sosiolog Turki


Oleh
Thayeb Loh Angen
Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT)

Kedai kupi di Banda Aceh telah tumbuh menjamur sejak 2005, setelah bencana gempa dan smong 26 Desember 2004. Kini setelah 10 tahun, kedai kupi itu semakin banyak. Memang sebagian ada yang bangkrut karena tidak mampu memenuhi kebutuhan pelanggan.

Ada beberapa hal yang mengubah budaya Aceh dengan kehadiran kedai kupi ini. Datangnya masyarakat dari kebudayaan yang berbeda dari luar Aceh, juga kebutuhan akan makanan dan minuman serba cepat tersaji karena kesibukan penanggulangan wilayah bencana, melahirkan pasar dan kedai-kedai darurat yang akhirnya dijadikan usaha berterusan karena lamanya pemulihan keadaan.

Pengaruh buruk dari kedai kupi tidak akan dibicarakan di sini. Sebelum ini, kedai kupi adalah tempat khusus lelaki. Namun kini, terutama di kota Banda Aceh, kedai kupi juga tempat bagi perempuan -walaupun hanya sebagian kecil. Bahkan orang Tiunghua yang secara sengaja membatasi pergaulannya dengan penduduk dalam, telah mengunjungi beberapa kedai kupi tertentu.

Bagaimana dengan bahan baku kupi, apakah biji kupi yang dipakai semuanya dari Aceh? Bubuk kupi ulahan dan bungkusan dari luar pun banyak memenuhi kedai-kedai tersebut. Dan, yang paling membedakan kedai kupi di Banda Aceh dengan tempat lain adalah disediakannya internet cuma-cuma dan layar untuk menyaksikan pertandingan sepak bola- seakan-akan itu menjadi wajib.

Namun, benarkah itu cuma-cuma? Harga minuman dan makanan di kedai kupi yang menyediakan internet dan layar cuma-cuma lebih mahal daripada yang tidak menyediakannya. Gaya kedai kupi Banda Aceh kini telah tersebar di tempat lain.

Lalu, apa yang bisa dipelajari dari kedai kupi di Banda Aceh?

Seorang sosiolog asal Istanbul, Turki, Dr Mehmet Ozay yang telah pulang pergi mengunjungi Aceh sejak tahun 2006, mengatakan:

“Pemerintah Aceh sekarang harus belajar pada manajemen kedai kupi yang melayani pembeli dengan baik selama 24 jam sehari. Kalau telat semenit saja pelanggan mereka akan lari dan kedai itu tutup. Aceh harus bekerja 25 jam sehari supaya bisa bangkit.”

Sejumlah Tanya

 
 
 
Karya
Taqiyuddin Muhammad
 
Sampai kapan kita baru sadar
bangun dari lena yang panjang
mengapa rela negeri dinistakan
sendi-sendi martabatnya dipatahkan
dicacah-cacah seperti huma tak bertuan
mengapa rela atas perbuatan semena-mena
kemana jiwa yang dulu kita banggakan
saat kita berdiri dengan kepala tegak
menentang badai mengatakan tidak
tidak untuk ketidakadilan
tidak untuk kesewenang-wenangan
tidak untuk kekerasan
tidak untuk kebiadaban
kemana pergi jiwa yang kita rindukan
mengapa rela seolah kita tiada
apalah nyawa
apalah harta
jika kita tiada dan bukan siapa-siapa.
 
Dari: facebook.com/paduka.raja.146

Catatan Setelah Hampir Sembilan Tahun

Maskirbi, Puisi Setelah Tiada
 
Oleh
D Kemalawati
 
Dari kanan: D Kemalawati, Helmi Hass, Edi Sutarto, Helvy Tiana Rosa, di Banda Aceh, Maret 2015. Foto: facebook.com/deknong.kemalawati 
Sudah hampir Sembilan tahun aku memendam tulisan untuknya. Tidak sebuah puisi pun mampu kutuliskan. Padahal hampir di setiap kesempatan aku sering membaca ‘Kesaksian’nya. Malam tadi, kudengar bait-bait kesaksian itu diantara deras music di Tower CafĂ©. Aku mengenali suara dan irama pembacaan puisi itu. Dengan bangga kukatakan kepada  Victor Pagadaev, penyair Rusia yang secara sengaja datang ke Aceh memenuhi undangan peluncuran  buku ‘Secangkir Kopi’ oleh The Gayo Institut, bahwa itu adalah rekaman suaraku. Victor mengatakan suara music terlalu dominan dari pembacaan puisinya dan ia kurang dapat menangkap setiap kata yang aku ucapkan.  Tidak demikian bagiku. Setiap kata dari puisi Kesaksian itu begitu lesap dalam jiwaku. Aku menghayati setiap kali aku mendengarnya meski dalam hingar sebuah kafe.
 
Victor, sama sekali tak menanyakan puisi siapa yang aku bacakan dalam rekaman itu. Dia hanya berceloteh sedikit tentang pembacaan puisi sesaat nanti yang juga akan diiringi music rokc. Dia khawatir music lebih dominan dari suara penyair yang akan membaca karyanya. Tentu aku berusaha meyakinkannya bahwa pembacaan puisi diiringi music akan membuat suasana peluncuran buku akan lebih menarik dari sekedar seremoni belaka. Kurasa dari peluncuran buku inillah, aku akan memulai menulis tentangnya.
 
Sore itu, di kantin Taman Budaya Banda Aceh, aku ceritakan padanya tentang kegigihan seorang perempuan penyair, Herlela Ningsih namanya. Perempuan bersahaya itu bersama rekan-rekannya yang bergabung dalam Himpunan Perempuan Seni Budaya Pekan Baru (HPSBN)  telah menghimpun dan menerbitkan puisi-puisi para penyair perempuan, dimulai dengan antologi puisi Penyair Perempuan Pekanbaru dengan judul Musim Berganti, dilanjutkan dengan antologi puisi Penyair Perempuan Sumatera dengan judul Musim Bermula, antologi puisi Penyair Perempuan Indonesia dengan judul Kemilau Musim dan yang baru saja aku hadiri adalah peluncuran antologi puisi Penyair Perempuan Nusantara berjudul Gemilang musim di  Bandar Serai, Pekan Baru (20 Desember 2004). Keterlibatanku mengisi buku puisi tersebut tak lepas dari campur tangannya. Dialah yang merekomkan namaku untuk diundang mengirim karya kesana. Dan ketika surat undangan dari Himpunan Perempuan Seni Budaya Pekan Baru (HPSBN) tiba ke Taman Budaya Aceh, dia yang selalu mengaku pegawai rendah di sana segera menghubungiku dan berulangkali mengingatkan betapa pentingnya mengirim karya ke sana.
Sambil berebutan roti Cane, Ia menantangku.
 
“Kalau seorang Herlela Ningsih bisa menghimpun penyair nusantara dan menerbitkan buku, bagaimana dengan penyair perempuan Aceh? Bisakah ke depan penerbitan buku sastra dimulai dari sini?”
Spontan aku berseru.
 
“Bisa Mas!”
Tantangan itu bukan yang pertama dan terakhir. Dan mungkin bukan hanya kepadaku saja Ia berucap seperti itu. Besoknya, disela-sela musyawarah Dewan Kesenian Aceh, ia mengajak beberapa teman sastrawan untuk membentuk komunitas sastra. Kepadaku, ia berkata:”Sebelum musyawarah dilanjutkan, kita duduk sebentar di Meunasah Tuha untuk membicarakan komunitas sastra.  Sebanyak ini sastrawan kita masak tak bisa bergabung dalam satu bahkan lebih komunitas?”
 
Dua hal itu, kemudian menjadi hal penting bagiku setelah dia tiada. Aku kehilangannya dalam ruangan acara malam itu. Dia pulang ke Kajhu menjelang malam hari. Lubna, gadis kecilnya sakit.  Aku sempat melihat putra sulungnya yang akrab dipanggil Puput  menjumpainya menjelang sore. Ya, Puput  datang untuk mengabari keadaan adik bungsunya yang harus dibawa berobat ke dokter. Besoknya, tak ada yang mengira bencana sedahsyat itu melanda negeri ini. Jangankan rumahnya, dimana suara ombak dan lidahnya yang kadang menjulang terlihat dan terdengar nyata, radius lebih dari empat kilometer dari laut ombak begitu ganas menerjang. Dia, Maskirbi sekeluarga dan ribuan jiwa lainnya hilang tak tahu jasadnya. Tak ada yang bisa kutulis untuknya selaku penyair saat itu, meski beberapa puisi  sempat kutulis. Aku hanya membaca kesaksiannya dalam bait-bait puisi dimana pun aku didaulat untuk membaca puisi tsunami. Bagiku, puisi tsunami seutuhnya untuknya adalah membacakan karyanya yang abadi.
 
Aku kembali kepada dua hal penting di atas. Pertama, penerbitan karya sastra dan yang kedua, komunitas sastra. Penerbitan karya sastra di Aceh pasca tsunami menjadi hal yang menarik untuk diperjuangkan. Bagaimana tidak, karya-karya sastra yang telah dibukukan dan disimpan di perpustakaan-perpustakaan, dijual di toko-toko buku, mengisi lemari buku para kolektor, dan yang dimiliki para sastrawan hampir semua hancur diremuk tsunami. Penerbitan karya sastra serta merta menjadi pemikiran dan tentu untuk memulainya dibutuhkan lembaga resmi. Bersama beberapa teman yang komit di bidang sastra, akhirnya kami (Helmi Hass, Harun Al Rasyid, Sulaiman Tripa, Saiful Bahri,  dan D Kemalawati) dibantu oleh Erwinsyah dan Mutia Erawati menggerakan   Lapena (Lembaga Kebudayaan) yang telah didaftar dengan resmi  ke notaris pada September 2004. Lapena belum eksis  karena pendirinya Helmi Hass yang sekaligus menjadi derektur eksekutif, saat itu masih sebagai ketua Dewan Kesenian Aceh.
 
 Antologi puisi Ziarah Ombak (Lapena, 2005) adalah buku pertama yang diterbitkan Lapena.  Untuk pertama kalinya, bersama Sulaiman Tripa menjadi editor buku puisi yang memuat puisi penyair Aceh yang selamat tsunami, penyair Aceh korban tsunami, penyair Indonesia dan luar negeri yang menulis tentang tsunami Aceh. Buku Ziarah Ombak itu diluncurkan pertama sekali di Universitas Kebangsaan Malaysia, atas inisiatif Sastrawan Malaysia Siti Zainon Ismail yang merupakan Pensyarah di sana. Ziarah Ombak menjadi satu-satunya buku puisi yang diraikan besar-besaran di Pustaka Negeri Awam Perak atas anjuran Raja Ahmad Aminullah, penyair dan pelukis Malaysia yang masih kerabat dekat Raja Perak. Ke dua acara peluncuran buku tersebut, puisi Kesaksian Maskirbi dan puisi Kepada Pelukis Ombakku Virse Venny selalu kubacakan. Dan yang kutahu kedua puisi tersebut selalu membuat emosi pendengarnya begitu teraduk-aduk. Konflik dan tsunami, dua tragedy besar yang meluluhlantakkan Aceh terungkap jelas dan tuntas dalam dua puisi tersebut. Bahkan, saat puisi tersebut dibacakan di Ubud pada Malam Untuk Aceh dalam rangkaian Ubud Writer and Reader Festival (2005), penonton yang pada umumnya tak memahami bahasa Indonesia tak mampu menahan air matanya (kesaksian Robin Lim, Bumi Sehat Bali)
 
Setelah Buku Ziarah Ombak, para pendiri Lapena yang memiliki naskah  seperti: Sulaiman Tripa, Harun Al Rasyid, D Kemalawati mulai merapikan naskah dan mengusahakan dana penerbitan. Maka terbitlah  setelah itu kumpulan cerpen Menunggu Pagi Tiba, karya Sulaiman Tripa (Lapena, 2005), Kumpulan puisi Surat Dari Negeri Tak Bertuan, karya D Kemalawati (Lapena, 2006), dan berturut-turut setelah itu antologi puisi Nyanyian Manusia (Harun Al Rasyid), Garis ( puisi Wina SW1), Lampion (Kumpulan puisi penyair perempuan Aceh), Aku, Bola dan Sepatu (Puisi Fathurrahman Helmi), Pada Tikungan Berikutnya (kumpulan cerpen Musmarwan Abdullah). Tanah Perempuan (naskah drama Helvi Tiana Rosa),  dan lainnya.
 
Setelah hampir sembilan tahun, sudah tiba saatnya aku menulis tentang dua harapan Maskirbi padaku  yang dengan kehendakNya telah terujud meski jauh dari kesempurnaan. Lebih dari tiga puluh judul buku sudah kami terbitkan dan Lapena sebagai lembaga yang bergerak di bidang kebudayaan meski tanpa sponsor masih tetap melaksanakan kegiatan sastra. Dan malam ini, di sela peluncuran buku puisi Secangkir Kopi yang diterbitkan The Gayo Institute aku bangga bisa memberikan beberapa buku sastra terbitan Lapena kepada Victor Pagadaev. Aku ada bersama karya, bersuara bersama penyairnya, bersama dengan komunitas sastra lainnya yang tumbuh dan berkembang dengan sehat. Berbahagia atas kelahiran buku-buku yang akan bersaksi setelah kita tiada. Aku merasakan Maskirbi ada bersama Salman Yoga, Wiratmadinata, MY Bombang, Fikar W Eda dan penyair lainnya, membaca karya di panggung yang sama malam tadi.
 
Bukan hanya mengharap aku bisa menerbitkan buku, mendirikan lembaga kebudayaan, tetapi perjalanan-pergaulanku dalam ranah sastra ini juga berawal dari kepercayaan yang diberikannya kepadaku pada awal-awal keberadaanku dalam dunia sastra. Di beberapa lomba baca puisi, Maskirbi sebagai juri memberikan nilai bagus untukku hingga beberapa kali aku menjadi juara baca puisi. Bermodalkan juara baca puisi, aku diikutsertakan dalam pagelaran puisi teateral bersama Wina SW1, Sumiati, Inda Rufiani, Fikar W Eda, Wiratmadinata, AA Manggeng di Taman Ismail Marzuki. Aku melihat bagaimana sosok Maskirbi yang berbadan mungil itu begitu besar pengaruhnya di sana. Banyak sastrawan besar yang kenal dekat dengan Maskirbi dan akrab dengannya. Itulah saat pertama kali aku tampil di panggung nasional dan bertemu dengan banyak penyair nasional.
 
Maskirbi secara khusus pernah mengajakku bergabung dengan teater Mata, pimpinannya. Aku masih mahasiswi saat itu. Dan akan segera praktek mengajar. Aku tak ingin terikat dengan jadwal latihan yang ketat yang berlaku di Teater Mata. Jadi aku memilih untuk tidak menjadi anggota aktif dan siap bermain dengan teater mana saja yang tidak mengikat anggotanya. Bila pada akhirnya aku lebih focus pada menulis, membaca puisi kurasakan restu dari Maskirbi dengan memilih puisi-puisiku untuk lomba baca puisi Piala Maja. Maskirbi juga yang memulai menjadikan aku juri baca puisi. Andai hari ini Maskirbi masih ada, Ia pasti merasa tak salah mengajakku menjadi juri karena aku telah menjadi juri/curator tingkat nasional.
 
Walau kadang aku gamang dengan kemampuanku, aku tetap telah melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Dan sebenarnyalah kegamangan yang kurasakan itu kubaca juga dalam puisi Maskirbi saat aku tak tahu untuk apa kutulis puisi.
 
UNTUK APA MENULIS PUISI
Maskibi
 
Terkadang kita terperangkap
oleh ketidak benaran
lalu mengawini ketidakjujuran
kesadaran cuma sebuah kesaksian
seperti bumi ketika menyaksikan matahari
diperkosa bulan
 
kita semakin tidak mengerti
untuk apa menulis puisi
bila Cuma sebagai saksi
bila Cuma sebagai puisi
 
terkadang kita terpenggal-penggal
mencincang tubuh sendiri
karena kita sering menikam kesadaran
kita tak lebih sebagai pembunuh
lalu untuk apa menulis puisi
 
Banda Aceh, 29 Agustus 1986
 
Ya, kadang aku  bertanya, “Untuk apa menulis puisi?”
Sekarang aku berharap dengan menulis  puisi semoga menjadi saksi setelah aku tiada.
 
 
Banda Aceh, Akhir September 2013
 
Dari: facebook.com/deknong.kemalawati

Hikayat, Nafas Sastra Aceh dari Zaman ke Zaman

Wina SW1 (kiri). Foto: penyairnusantaraaceh.blogspot.com
Sekapur sirih
Apa itu sastra Aceh? Karya sastra yang mana saja yang layak disebut sebagai karya sastra Aceh? Apakah hanya karya-karya sastra yang berbahasa Aceh saja? Apa saja ciri dan bentuknya? Dan bagaimana perkembangannya dari zaman ke zaman? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini yang ingin saya bahas secara sepintas.
Ketika berbicara tentang sastra Aceh, orang pasti akan langsung teringat akan Hamzah Fanshuri dengan Syair Perahu yang sufi atau Hikayat Prang Sabil-nya Tgk Chik Pante Kulu yang mampu membakar semangat rakyat Aceh untuk mempertahankan tanah kelahirannya dari penjajahan Belanda.
Padahal sastra Aceh tidak hanya itu. Ada banyak karya sastra yang bertebaran di Aceh. Baik itu dalam bahasa Aceh ataupun dalam bahasa-bahasa lain yang ada di Aceh.(Ada sekitar sepuluh bahasa dan suku bangsa di Aceh. Aceh adalah suku terbesar yang mendiami wilayah pesisir. Selain itu ada suku Gayo, Aneuk Jamee, Tamiang, Kluet dan seterusnya). Bahasa Aceh adalah bahasa yang paling banyak penggunanya. Sayangnya, hanya sedikit karya-karya dalam bahasa daerah ini yang terekspos atau terpublikasi.
Bentuk karya yang ada juga bermacam-macam. Ada hikayat, syair, pantun, dan prosa. Namun dari semua bentuk karya sastra tersebut, karya yang paling dominan dan ada dalam semua bahasa di Aceh adalah Hikayat. Hikayat bisa ditemui dalam karya sastra lisan maupun tulisan, mulai dari dulu sampai sekarang. Jadi tidak salah, kalau kita menyebut bahwa hikayat adalah nafas sastra aceh.
Keberadaan sastra di Aceh bisa dibagi dalam beberapa periode, yaitu zaman kerajaan dan perang Aceh, zaman kemerdekaan, masa konflik, dan pasca tsunami.
Sastra Aceh pada zaman kerajaan dan perang Aceh
Awal keberadaan sastra di Aceh bisa dilihat jauh sebelum Indonesia ada, yaitu sekitar abad ke-13, pada saat Aceh masih dalam bentuk kerajaan. Ada banyak karya sastra berupa kitab-kitab, hikayat dan sastra tutur. Karya tulisan umumnya menggunakan tulisan Jawi, bahasa Melayu dan Arab. Sedangkan sastra lisan umumnya menggunakan bahasa daerah karena lebih komunikatif saat berkomunikasi langsung dengan pendengarnya.
Pada zaman ini, ada beberapa karya legendaris dari Aceh yang mendunia. Karya-karya ini punya kekuatan dan ciri khas tersendiri. •Hikayat adalah karya yang menonjol pada zaman ini. Hikayat-hikayat yang memiliki kekuatan dan bertahan sampai sekarang, antara lain adalah Syair perahu(Hamzah Fanshuri), •Bustanul as salatin (Nuruddin Arraniry), dan Hikayat Prang Sabil (Tgk Chik Pante Kulu). Selain itu juga ada Hikayat Malem Dagang, Hikayat Pocut Muhammad, Hikayat Putroe Bungsu dan beberapa hikayat yang tidak diketahui penulisnya.
Karya sastra tulisan lebih sedikit dibandingkan dengan karya sastra tutur. Karya sastra tutur ini lebih merakyat dan berkembang pesat. Hikayat yang tidak ditulis tetapi dituturkan secara spontan dan dihafalkan cukup banyak. Hampir semua orang di Aceh pandai bertutur secara spontan.
Seorang ibu bersyair atau membacakan hikayat saat menidurkan anaknya, penari menyanyikan syair dan hikayat secara spontan saat menari, para pedagang obat keliling bersyair saat menjual obatnya di depan umum, shalawat-shalawat dan hikayat para rasul diajarkan oleh para teungku (ulama, guru agama, pemimpin pasantren) saat mengajarkan para santri. Hikayat dan sastra tutur tumbuh dan berkembang begitu saja di mana-mana di Aceh.
Penyebab lain, mengapa sastra tulisan lebih sedikit adalah karena orang Aceh lebih suka bertutur daripada menulis. Juga pada masa itu, walaupun semua orang bisa membaca tulisan Arab atau Melayu Jawi, hanya kalangan yang berpendidikan saja yang bisa menulis dalam huruf latin di Aceh. Ini salah satu penghambat sedikitnya karya berbentuk tulisan di Aceh.
Para sastrawan legendaris pada masa ini, memiliki kekuatan dan karakter tersendiri. Hamzah Fanshuri (1575-1625), misalnya. Seorang penyair sufi yang karya-karyanya jauh melampaui zamannya, sehingga dianggap sesat oleh mereka-mereka yang menafsirkannya secara berbeda. Sehingga banyak karya-karyanya yang dibakar atas perintah Nurrudin Arraniry, pemuka agama pada masa itu. Salah satu kitab yang ditulisnya “Syarab al-asyiqin” atau “Minuman segala orang yang berahi”
Tgk Syekh Abdurrauf al Singkili atau lebih dikenal dengan Tgk Syiah Kuala (yang namanya kemudian dijadikan nama universitas negeri di Aceh) juga banyak menuliskan kitab-kitab pendidikan dan agama yang berisikan syair-syair ma’rifat.
Tgk Chik Pante Kulu, juga seorang ulama besar. Dia menuliskan Hikayat Prang Sabil. Hikayat ini cukup dikenal dan merakyat dalam bentuk tutur. Kekuatan kata-katanya mampu menggerakkan orang Aceh untuk mati syahid melawan kaphe Beulanda.
Para sastrawan legendaris ini semuanya memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi dan menguasai beberapa bahasa. Mereka juga berasal dari kalangan keluarga yang berpendidikan dan semuanya laki-laki. Pada masa ini, tidak ditemukan karya sastra yang ditulis perempuan (kalaupun ada, belum terekspos).
Sastra Aceh pada zaman kemerdekaan
Dua abad terlampaui, sastra Aceh terus berkembang dan hikayat terus lahir di mana-mana. Bentuk sastra modern yang berasal dari barat juga mulai menampakkan pengaruhnya dalam karya sastra di Aceh. Banyak sastrawan yang melahirkan karya tulisan. Lebih banyak dari abad sebelumnya. Namun tidak ada satu pun karya yang mendunia yang lahir pada saat ini. Ada beberapa sastrawan yang cukup dikenal di nusantara (Indonesia dan dunia melayu). Salah satu yang paling menonjol dan banyak berkarya dan berperan dalam membangkitkan sastra dan pendidikan di Aceh adalah A Hasjmy.
Puisi “Menyesal” karyanya masih dihafal dengan baik oleh anak-anak sekolah sampai ke pelosok Aceh. Dia tidak hanya berkarya, namun juga sangat aktif dalam mengumpulkan karya-karya sastra dan budaya yang ada di Aceh. Dia menulis buku “Aceh dalam sejarah” dan mendirikan museum A Hasjmy. Apa yang dikumpulkannya sangat membantu bahan kajian sastra dan budaya yang dilakukan oleh para peneliti.
Para sastrawan yang menonjol pada zaman ini antara lain TA Talsya, A Rivai Nasution, Agam Wispi, T. Iskandar, Tgk Adnan PMTOH, Mak Lapee dan lain-lain. Dua nama yang terakhir Tgk. Adnan PMTOH dan Mak Lapee adalah tokoh teater tutur. Tgk Adnan PMTOH, sang troubadour, menggabungkan kemampuannya berhikayat, monolog, musik dan teater. Ketika ia bertutur, orang sanggup duduk sampai pagi mendengarkan kisahnya. Cerita yang paling sering disajikannya adalah Hikayat Malem Dagang.
Angkatan saat ini cukup banyak. Karya yang dihasilkan tidak hanya sebatas hikayat dan syair, tetapi juga sudah mulai lahir novel, puisi modern, dan essai. Hanya saja pada masa ini, publikasi sangat lemah, sehingga karya-karya yang ada, walaupun banyak yang bagus, namun tidak dikenal luas.
Angkatan setelah ini yang banyak berkarya dan dikenal, antara lain: Hasyim KS, Ibrahim Kadir, Nurdin AR, LK Ara, Maskirbi, Tjoet Sofyan, Syamsul Kahar, Barlian AW, Rosni Idham dan lain-lain. Karya-karya mereka juga sudah mulai dikenal di luar Aceh.
Sastra Aceh masa konflik
Angkatan setelah ini atau angkatan 80-an, Helmi hass, Doel CP Allisah, Fikar W Eda, Wiratmadinata, Nurdin F Joes, Sulaiman Tripa, Mustafa Ismail, Arafat Nur, Harun Al Rasyid, Saiful Bahri, Musmarwan Abdullah, M Nasir AG, AA Manggeng, Agus Nur Amal,. Pada era ini, sastrawan perempuan mulai bermunculan. Sebut saja D Kemalawati, Nani HS, Wina SW1, Faridha, Faridah, Rianda dan Virsevenny.
Sebelum konflik memuncak, potret tanah kelahiran dan nafas alam banyak terekam dalam karya-karya sastra yang ada. Ketika konflik memuncak, rekaman tangis, amarah, pemberontakan dan semangat mengalir dalam syair-syair ataupun karya-karya yang ada. Hikayat dan pengaruh hikayat masih terasa, namun karya-karya sastra modern lebih mendominasi.
Cerita-cerita hikayat juga banyak yang di-Indonesiakan. Hanya sangat sulit menerbitkan karya-karya yang ada. Sehingga karya-karya tersebut beredar dalam bentuk kopian ataupun beredar di kalangan terdekat saja. Ada beberapa lembaga kesenian, seperti Dewan Kesenian Aceh, Lembaga Adat dan Kebudayaan (LAKA) dan Lembaga Penulis Aceh (LAPENA) sempat mencetak dan menerbitkan beberapa karya.
Aktivitas sastra juga sangat variatif dan mulai sering diadaakan. Misalnya Pengadilan Puisi, Lomba Musikalisasi Puisi, Lomba Penulisan Puisi, Bedah Buku, dan seminar. Hanya sayang, tidak ada karya legendaris pada masa ini.
Sastra Aceh pascatsunami dan sekarang
Bencana tsunami pada 26 Desember 2004 tidak hanya menghancurkan Aceh, namun juga membawa pergi sejumlah besar asset budaya dan seniman di Aceh. Maskirbi, M Nurgani Asyik, Virsevenny, Siti Aisyah dan beberapa nama lain ikut hilang bersama ombak.
Begitu juga Pusat Informasi dan Dokumentasi Aceh (PDIA) yang menyimpan dokumen-dokumen sastra dan budaya, Kantor DKA dan LAKA ikut lenyap dibawa tsunami. Aceh dan Indonesia kehilangan banyak.
Namun bencana ini juga membawa perubahan besar bagi perkembangan sastra di Aceh. Orang-orang mulai melirik dan ingin tahu lebih banyak tentang karya-karya sastra di Aceh. Apalagi setelah banyak dari karya-karya tersebut dipublikasikan. Penerbit lokal pun mulai bermunculan. Kehausan para penulis Aceh untuk menerbitkan karyanya, akhirnya terobati juga.
Penyair, budayawan dan sastrawan muda pun mulai bermunculan. Mereka punya gaya lebih berani dan bebas serta usianya berkisar antara 17-30 tahun. Keberadaannya juga dikenal sampai tingkat dunia. Ada Azhari, Reza, Fauzan, Salman Yoga, Cut Januarita,. Sebenarnya mereka sudah mulai berkarya di awal tahun 2000-an.
Mereka tidak hanya berkarya, tetapi juga menerbitkan karya-karya sastra lokal dalam bentuk buku dan memotivasi calon-calon penulis muda dengan mengadakan pelatihan-pelatihan dan aneka lomba.
Mengapa tidak ada lagi karya sastra Aceh legendaris sekarang ini?
Jalan untuk menuju sastra yang lebih baik mulai terbuka lebar di Aceh. Bakat-bakat muda yang potensial bermunculan. Namun, mengapa tidak ada karya-karya legendaris yang lahir? Karya-karya besar yang mampu melampaui zamannya? Apakah karya itu sudah lahir namun belum tersentuh publikasi? Bagaimana pula dengan keberadaan hikayat yang telah menjadi nafas sastra Aceh dari zaman ke zaman? Ada apa dengan sastra Aceh sekarang
Karya-karya hikayat masih terus lahir dan dipublikasi. Tetapi dibandingkan karya-karya sastra lain, hikayat seperti dinomorduakan. Pengenalan hikayat di sekolah-sekolah hampir tidak ada, para penulis hikayat sulit sekali mempublikasikan karyanya. Akhirnya mereka mempublikasikannya sendiri dan mengedarkannya dalam kalangan terbatas.
Namun, di hati masyarakat, hikayat tetap mendapat tempat walaupun tidak sekuat di masa lalu. Hikayat yang dituturkan secara lisan terus tumbuh di seluruh pelosok Aceh. Ada banyak hikayat baru yang dilahirkan, namun kurang mendapat perhatian dari peneliti, padahal mungkin di antaranya ada hikayat-hikayat bagus yang punya kekuatan seperti yang dituliskan Hamzah Fanshuri.
Ada banyak pertanyaan yang harus dijawab oleh sastrawan Aceh. Agar karyanya mendapat tempat di daerahnya sendiri, khususnya di kalangan generasi penerus, para sastrawan mulai turun ke sekolah-sekolah dan memperkenalkan karya-karyanya. Buku-buku pun mulai dijadikan bacaan di sekolah.
Untuk mendapatkan tempat yang mendunia, para sastrawan Aceh sekarang yang jumlahnya cukup banyak, mungkin perlu bekerja lebih keras untuk menunjukan jati diri dalam karyanya, sehingga punya sesuatu yang berbeda. Tidak ada salahnya berkaca dari masa lalu untuk melahirkan karya agung yang besar di masa depan.
Jika ingin sastra Aceh terus berkembang dan semakin kuat, maka, hikayat yang sudah mendarah daging di Aceh harus lebih diperhatikan dan dikembangkan. Karena nafas sastra Aceh ada di sana.
Tulisan ini pernah dipublikasikan di http://www.acehforum.or.id dan komunitassastra.wordpress.com 
12 Februari 2008.

Berita Pilihan

Berita Campuran

 
Web Design : Peradaban Dunia Team | Redaksi | About
Copyright © 2011. Peradaban Dunia - All Rights Reserved
www.peradabandunia.com