Wartawan Aceh Belajar Tuhfah

Written By Peradaban Dunia on Thursday, April 24, 2014 | 1:03 AM

Tgk H Mulyadi Nurdin,Lc,MH (kiri) yang lebih dikenal dengan Abi Mulaydi, Abi Mulyadi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di kedai kopi Rumoh Aceh, Jeulingke, Banda Aceh, Kamis 23 April 2014. Pengajian yang dipandu oleh Zainal Arifin M Nur (kanan) tersebut membincangkan tentang shalat dengan sumber kajian kitab Tuhfah al-Muhtaj bi Syarh al-Minhaj yang merupakan sebuah kitab fiqh terkenal, rujukan para ulama mazhab al-Syafi’i. Kitab ini karya al-Imam Syihabuddin Abu al-‘Abbas Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hajar al-Makki al-Haytami (909-973H), yang lebih terkenal dengan Ibn Hajar al-Haytami. Foto: Thayeb Loh Angen.

Aceh Masa Depan

Written By Peradaban Dunia on Saturday, April 19, 2014 | 1:27 AM

(Ramalan Keadaan di Aceh Sekitar Tahun 2030 M)


Motto:
(Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan, (dengan) sebuah negeri yang dulunya aman lagi tentram, rizkinya datang kepadanya melimpahruah dari segala penjuru, tapi penduduknya mengingkari nikmat Allah, karena itu Allah memperasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” QS Annahlu, 112)

Akhir musim dingin Baltik tahun ke limabelas bermukim di sana, aku pulang ke Aceh. Pesawat tumpanganku mendarat di ujung gerimis, puisi langit untuk bumi Aceh. Kutumpang taksi bergambar lelaki dan perempuan telanjang keliling Banda Aceh. Gerimis menghilang bersama muncul kebingunganku di ujung utara Sumatra itu.

Deru-deru aneka kenderaan pelobang ozon menembus kaca taksi. Gedung-gedung ratusan lantai berdiri gelisah saling mencibir sepanjang jalan utama ibukota negeri. Tak tampak lagi gubuk-gubuk beratap rumbia berdinding papan bekas menggapai-gapai langit di pinggir kali. Entah kemana menghilang. Gedung-gedung modern milik investor luar negeri dikelilingi jalan-jalan bertindih setelah menendang cucu-cucu ulama masa lalu itu. Sebagian penduduk Aceh menjadi timbunan trotoar sepanjang rel kereta api elektrik milik perusahaan kapitalis barat.

Di halaman gedung-gedung gelisah itu, orang-orang berjalan berlawanan arah tanpa menyalami ala semut. Binatang pencinta gula itu lebih bersahabat dari penduduk Aceh Masa Depan. Lelaki memakai celana sepaha, perempuan bercelana sepaha berkaos tanpa lengan, sebagian hanya ber-BH dan celana dalam.

Negeri lahirku sejati telah merdeka, bahkan dari moral kemanusiaan, bukan Aceh yang sebelum kutinggalkan memimpikan syariat Islam, aturan manusiawi bermartabat, pembeda manusia Aceh dengan hewan tak mukallaf. Pedagang-pedagang kakilima, asongan, gerobak keliling telah disingkirkan ke pedalaman, tepi Kuta Malaka, tempat kakek mereka menyusun kekuatan baru menggempur bajingan Belanda yang barusan membakar Mesjid Raya.

Kuusap-usap mataku, kuharap tadi hanya halusinasi efek berlama-lama di angkasa. Kubuka mataku, kuusap-usaplagi. Orang-orang di halaman gedung-gedung dan trotoar itu masih setengah telanjang seperti keledai terlatih akan main sirkus.

“Bukankah ini negeri Islam?” Kutoleh supir taksiku. Lelaki asal Meulaboh itu menyeringai. “Kau baru turun dari langit, ya?”

“Aku baru pulang belajar kepemimpinan manusiawi dari kutub utara.”

“Kau terlalu kuno untuk pendatang dari kutub utara. Legenda yang kausebut hanya lelucon masa silam. Lihat! Kini kita merdeka. Teknologi-teknologi mutakhir kita gunakan. Pabrik menjadi rusuk negeri. Kita sudah merdeka. Kita, di timur sudah semaju barat. Terlalu kuno untuk mengenang mitos yang kausebut.”

“Aku bicara agama. Pada abad pertengahan kita dikenal dunia karena Islam. Jika tak Islam, kita tak berhak atas tanah warisan endatu ini. Mewarisi tanah senyawa keyakinannya,” aku menggeretakkan gerahang, ingin menggigit merih supir kulit coklat itu dan kuludah keluar jendela taksi.
“Itu tahayul!” Supir taksiku tertawa.

Kini ingin kupelintir kepala berambut keritingnya dan kulempar ke jalan.
“Kau terkutuk! Durhaka, kafir. Kita keturunan aulia di tanah pusakanya. Kafir tak berhak atas pusaka ini. Kenapa harus kufur. Kita bisa berteknologi tinggi sekaligus menjadi muslim sejati.”

“Aku memang durhaka. Tanah Aceh ini memang terkutuk. Dimamah perang sepanjang usianya, dimamah prahara. Dijajah bangsa monyet tujuh puluh tahun.” “Cukup! Antarkan aku ke Masjid Raya.” Aku lantang.
Lelaki berambut keriting itu tertawa, meneguk sisa minuman beralkohol buatan perusahaan Jepang di Takengon. Lalu ia mengerang, tendang gas, melesat, menyelip kenderaan depan, padahal takada yang mengejar. Aku tak dapat lagi memperhatikan kota, hanya terlihat tanah seisi kota telah dibeton.

Aku meresa terjebak di sarang setan. Kota lahirku yang kubayangkan seperti Bagdad ala Harun Alrasyid di zaman modern, kini dirasuk naluri hewani dasar. Dipimpin orang-orang yang dulu dibiayai pemerintah belajar ke negara-negara barat. Ketika kembali, mereka menduduki posisi penting dalam parlemen, menjadi pemimpin negeri. Mengkastakan ala rimba yang dipertahankan Kesultanan Aceh Darussalam, ulee balang, ampon, ulama, lamiet, sejenis kasta primitif barat moderen mengkultuskan barat nomor satu, Timur kedua, campuran timur-barat ketiga, timur tengah dan anjing piaraan barat keempat, Asia jauh dan Afrika kelima. Kemajuan tehnologi tak diimbangi kemanusiaan sejati.

Aku menyesal tak mengikuti perkembangan tanah rincong ini. Kuharap ini hanya mimpi buruk di negeri yang peradaban dan kebudayaannya telah diperkosa kapitalis dan liberalis, filosois yang seharusnya dicoba dulu pada binatang.

Di halaman Masjid Raya, aneka mainan manual dan elektrik berjajar, anak-anak bersorak. Panggung konser dan tarian desain artis Amerika melengkapi sudut halaman. Musik-musik mengalun dari sound system mesjid. Kubah-kubah Masjid Raya bergambar wajah Karl Mark, dinding luar bertengger gambar-gambar telanjang pelacur.

Dinding dalam bergantung gambar-gambar telanjang penyanyi, artis peran, bintang-bintang olahraga. Gadis-gadis berpakaian tipis menari ballet dan seudati di lantai marmar Masjid Raya. Aku menelan liur. Kutarik-tarik rambutku, sakit. Aku sedang sadar. Rak-rak buku bertengger samping mesjid.

Atas rak terbesar ditulis dengan warna merah: “Ketika Hindu datang, kita lupakan roh-roh ghaib, kita gulingkan batu keramat ke laut, kita bangun pura. Ketika Islam datang, kita hancurkan pura, kita bangun masjid. Ketika bajingan Belanda menyerang, mereka membakar mesjid, membunuh ulama, membunuh raja, menghancurkan istana, membakar kitab-kitab dan rumah kita. Ketika bangsa monyet menyerang, mereka menghancurkan identitas kita. Kita tak membakar mesjid, tapi kita lebih baik dari bajingan Belanda.”

Aku tak bisa bersuara, kerongkonganku dicekik rasa bingung. Gadis-gadis berpakaian tipis bergulig-guling di lantai marmar Masjid Raya, mengendurkan otot bebas penyakit mereka, yang sebelumnya telah bebas iman seperti tubuh anjing-anjing salju kutub utara. Tapi, gadis-gadis itu tak lebih buruk dari khatib-khatib dan dai-da’i yang berceloteh sampai liur berbusa di mimbar hanya untuk dapat honor di mesjid tempat wisata itu yang kini dibangun hasil pajak produk babi-babi masalalu.

Aku menuju kolam ikan halaman mesjid. Berwudhuk. Orang-orang setengah telanjang sekeliling mesjid mengerutkan dahi menatapku. Bertahun-tahun tak melihat orang berwudhuk. Agama dan moral najis di Aceh masa depan ini.

Aku masuk mesjid raya, salat tahyat mesjid. Para gadis berpakaian tipis berhenti menari dan mengelilingiku, memperhatikan gerakan shalatku seraya melantunkan lagu kebangsaaan.

“Tadi tarian apa?” Seorang gadis berambut cat merah, agar mirip blonde, si tuan kelas satu menurut orang primitif, gadis itu terbelalak menatapku. Aku menggigit gerahang. Kalau saja tak kulihat apa yang terjadi di Aceh Nasa Depan tadi, sudah kucekik leher mulus itu. Kupikir, pertanyaannnya tadi hinaaan, tapi nada suaranya bersungguh.

Kutengadah, kutatap langit-langit mesjid raya yang kini jadi tempat latihan tarian dan vocal itu. Kuterangkan tentang shalat.

“Kawan-kawan, kita kedatangan manusia zaman unta!” Bulek gadungan itu tertawa. Gadis lain pun terkikik. Cucu-cucu ulama yang dibantai pengusaha elektronik itu menari kembali, diiringi instrument orkestra yang dimainkan lelaki dan perempuan telanjang di ruangan yang dulu tempat mimbar. Seperti sebuah kursi pendeta di negeri eropa abad pertengahan, diduduki pelacur pembantai seraya bernyanyi setelah pendeta dipenggal oleh penyerang beragama sama tetapi lain mazhab.

Ratusan tahun setelahnya, akhir abad duapuluh, di timur tengah, Irak-Iran saling bantai atas nama Tuhan yang satu. Peyakin Tuhan bisa sesadis Kolombus pembantai penduduk asli Benua Baru, mengandalkan naluri hewani.

Setelah berdoa aku keluar. Gadis-gadis penari itu lebih baik dari ratu Isabella Spanyol yang membantai umat Islam sedang shalat jumat di mesjid Aya sofia.
Aku lunglai, menuju ruangan rak buku samping mesjid raya, mencari-cari sejarah Aceh setelah kutinggalkan limabelas tahun lalu. Orang-orang berprestasi di sekolah dan universitas dikirim belajar ke Negara-negara kapitalis barat.

Kemodernan, tehnologi harus mereka kuasai untuk membangun aceh masa depan, tanpa bimbingan iman memadai sehingga perlahan-lahan menjadi budak mesin-mesin seperti budak-budak Babylonia kuno membangun taman gantung untuk raja penindas. Infrastruktur kota dibangun moderen dilengkapi energi listrik penghancur bumi.

Orang-orang kelas ampon, uleebalang, tingggal di rel estate, orang-orang awam dan lamiet tersingkir ke pegunungan, nomaden. Perusahaaan-perusahaan pengelola kebun milik asing mendepak pewaris sah tanah Aceh itu. Investor-investor asing itu berdansa di aceh masa depan yang penduduknya mereka mitoskan kelas lima, setingkat lebih rendah dari anjing-anjing piaraan barat.

Kapitalis-kapitalis ateis bebas tanam modal tanpa pajak, asal mempekerjakan warga Aceh sebagai budak penghasil uang yang telah dirasuki mitos westernisasi, barat segala-galanya’. Siaran-siaran televisi diisi iklan-iklan, bulek-bulek gadungan merajai layer televisi, yang dipadati hiburan-hiburan amoral seperti televisi-televisi monyet masalalu, yang korban moralnya kini menjadi penguasa dengan hukum kapitalis komunis, kaku tak manusiawi.

Sekolah-sekolah sekuler didirikan. Aceh harus maju(si)! Dayah-dayah difasilitasi barat untuk melenyapkan roh religi penghuni lembaga pendidikan murni islam itu. Perlahan-lahan sekuler juga, bergabung dengan system sekolah-sekolah materialis, penjual pengetahuan.

Tokoh-tokoh agama dan guru mengajar hanya demi segenggam uang, buruh, bukan amalan baik sebagai ajaran nabi Muhamjmad Saw. Panutan jiwa lenyap. Orang-orang tak percayai lagi agama. Pelajaran agama dihilangkan di sekolah-sekolah. Syeh Hamzah fansuri As Singkili, Syeh Abdurrauf Syiah Kuala, Lakseumana

Po Cut Nyak Keumalahayati, Syeh Teungku Chik Saman Di Tiro menangis dalam kubur.
Jiwa-jiwa manusiawi keturunan bangsawan Parsi kuno ini telah menyingkir bersama asap-asap pabrik kapitalis, tak seperti di tanah asal endatunya, Iran, bertehnologi tinggi, tapi total menanentang barat. Ulama-ulama ikhlash dan warga percaya Tuhan harus menyingkir ke hutan-hutan, bergabung dengan orang tersingkir lain yang terusir di tanah kelahirannya sendiri. Yang tak menyingkir atau kebarat-baratan, segera dibantai.
Seperti kata Karl Mark, dedengkot atheis moderen, “Agama dan moral harus dibasmi dengan jijik.” Sepenuhnya telah berlaku di Aceh Masa Depan.

Remaja-remajanya berlomba menjadi penyanyi dan seni peran cengeng tak bermoral, meniru siaran televisi monyet masalalu, boneka produk komersial, tempat warga negeri berpedoman gaya hidup, kitab suci zaman moderen, pengganti mengaji alquran dan mengajar anak-anak setiap lepas magrib oleh ibu-ibu Aceh masa silam.

Aku keluar Mesjid Raya. Gontai. Merasa diriku hanya seonggok daging antara sapi perah perusahaan asing. Kuseret tubuhku. Takkan pernah kutemukan negeriku kembali seperti kenangan sejarah. Acehmasadepan lepas dari masa lalu, hilang sejatidiri, nilai-nilai tak lagi penting ketika hasrat dasar hewani dikedepankan.

“Di mana bisa kuterapkan ilmu manusiawi yang kupelajari belasan tahun?” Kudekati sebuah mobil kerangkeng berisi anjing-anjing.

“Mungkin pada kalian?” Kuelus-elus punggung anjing hitam. Binatang pelolong penuh curiga itu manggut-manggut, menggigit, sepotong roti lemak babi buatan perusahaan China di Singkil.
“Inikah impian pejuang-pejuang dulu? Aceh semaju Singapura dan Jepang fisiknya, tapi jiwanya sehampa domba-domba negeri barat.”

“Hei, kaubicara pada anjingku?” Seorang berteriak belakang stir mobil kerangkeng pengusung anjing, seperti prajurit mengusung raja masa lalu itu pun melesat ke pantai Lhoknga, pantai yang kapan dan siapapun bebas berjalan telanjang dan bersenggama tanpa nikah seperti anjing-anjing dalam mobil itu. Anjing-anjing impor dari negeri barat, warga kelas empat, setingkat lebih tinggi dari warga acehmasadepan.

Anjing-anjing terlatih dari negeri barat yang ilmuannya kini bimbang, masygul, menyadari negeri yang mereka puja akan segera menjadi sejarah, melengkapi kebodohan Alexander The Great, Napoleon Bonaporte, Adolf Hitler, pembantai-pembantai itu. Segera dilupakan penduduk bumi mendatang seperti dilupakan Sulthan Iskandar Muda dan Keumalahayati pernah memerintah seantero Sumatra dan beberapa negeri Semenanjung Asia Melayu.

Meraih, dicaci, dipuja dan mati menyatu tanah, sang ibu yang setiap detik dirusak asak-anaknya. Ilmuan-ilmuan gelisah itu kini berbondong-bondong ke Timur Tengah, mempelajari agama langit terakhir dan memeluknya sampai ajal. Keyakinan yang dulu mereka benci ternyata menyuguhkan ketenangan dan kekayaan jiwa yang selama ini hampa, takkan mereka tukari dengan teori-teori dan tehnologi perusak alam yang mereka pelajari dan sembah sepanjang usia.

Dalam sisa-sisa kebingungan hidupnya, ilmuan-ilmuan masygul itu berpikir, seandainya mereka dilahirkan, besar dan bekarya dalam negeri panganut agama langit terakhir, itu sudah tak sempat. Mati di sana pun sebuah anugrah langit. Dalam kesunyian jiwa di akhir hayat, setiap insani mengharapkan hidupnya abadi, menyadari segala yang dimiliki dipaksa kekuatan tak terdeteksi untuk meninggalkan. Membuat Stalin, si ateis sadis, pembantai ribuan ahli agama, memanggil pastor saat tergeletak tak berdaya di ranjang menjelang ajalnya, dan memohon pada orang yang amat dibenci dulu, suatu paling dipandang jijik di hari lalunya, berdo’a.

Kuterima pesan singkat profesorku dari tepi Laut Baltik,

“Pepatah kuno kalian, ‘mengharap pipit terbang, merpati di tangan dilepaskan.”
Sekularisme atheis diterapkan di Aceh ba’da prahara seperti Kamal Aththartuk mentalak Islam dalam sistem pemerintahan Turkey hanya agar diakui Eropa. Ulama-ulama tulus Aceh tak mengajak umat membuat revolusi seperti menjatuhkan Syah Iran dan mendirikan negara berusuk Islam.

Ulama-ulama pengecut itu berandil besar membuat Aceh Masa Depan menjadi atheis. Filosof bejat, Snouck Hurgronje dan monyet-monyet hambanya telah berhasil dan bisa menari ballet di liang kubur bersama malaikat buruk rupa diiringi tabuhan gamelan dan simphoni Beethophen.

“Aha! Aceh masa depan hanya dihuni para pecundang, para pewaris bangsa sejati telah syahid di medan juang!” Seorang perempuan bercadar keturunan Lakseumana Keumalahayati berteriak dari sebuah mobil polisi kerajaan yang melintas depanku.

Perempuan bercadar itu dituding mengganggu stabilitas nasional, barusan melarang anak-anak uleebalang istana menari bernyanyi dalam mesjid.

Kuikuti mobil polisi, budak sistem tak manusiawi, itu. Adakah penolong cucu Lakseumana Keumalahayati dari eksekusi di halaman mesjid raya esok pagi? Seperti Meurah Pupok dieksekusi Iskandarmuda. Sama-sama tewas demi keutuhan rajadiraja, yang satu korban perangkap pengintai tahta ayahanda, yang satu korban kepengecutan ulama ba’da prahara.wp
Juni 2008

Thayeb Loh Angen, aktvis kebudayaan, penulis novel Teuntra Atom

Bentuk Bendera Aceh Harga Mati?

Written By Peradaban Dunia on Friday, April 18, 2014 | 6:35 PM

Semua ini akan berlalu

-Filsuf Persia


Mengapa Aceh takut untuk mengubah bendera yang diusulkan sementara Republik Turki tidak menghiraukan sama sekali tatkala bendera yang dihadiahi oleh Ottoman setelah peristiwa Lada Sicupak (1560-an) untuk Kesultanan Aceh Darussalam ditambah garis hitam dan putih oleh Paduka Yang Mulia (PYM) Hasan Tiro.

Diubah atau tidaknya itu bendera, Aceh tidak kehilangan apa-apa. Apabila disebutkan Aceh kehilangan kesultanannya, dan tidak ingin kehilangan benderanya, maka ketahuilah bahwa bendera yang diusulkan untuk bendera Aceh (yang berstatus pemerintahan setingkat provinsi di dalam NKRI) adalah bendera yang dibuat sejak sekitar 1976 M dalam rangka membangkitkan negara Aceh di zaman modern.

Sebuah nama dan bentuk negara, lambang, bendera, dan sebagainya bisa saja berubah. Yang penting untuk dipahami adalah filosofinya. Apabila Aceh mahu mati-matian mempertahankan bentuk benderanya, mengapa tidak mati-matian pula membela yang sama pentingya?

Di samping itu, negara sebesar Indonesia yang memiliki banyak tentara, tidak perlu mengkhawatirkan tentang bendera Aceh. Berikan saja apa yang diminta oleh pemerintah Aceh, banyak hal lain yang harus diurus untuk kepentingan nasional.

Bagi kami rakyat, bendera Aceh itu merupakan harga diri dari keberadaan kami di zaman ini, perkara bentuk dan sebagainya dapat diterima menurut tuntutan zaman. Yang penting, cepat sahkan bendera kami!

Thayeb Loh Angen, juru propaganda kebudayaan

Cendikiawan Turki Kunjungi Aceh

Written By Peradaban Dunia on Monday, April 14, 2014 | 12:02 AM

Prof. Dr. Mehmet Cengiz Kayacan, wakil rektor Suleyman Demirel University, Turki (kiri) memberikan zakat dan sedekah akan pimpinan dayah Puteri Ummahatul Muslimin (kanan), Montasik, Aceh Besar, Ahad, 13 April 2014. Dalam kunjungan tersebut, dia ditemani oleh lima orang cendikiawan lainnya. Setelah ke Montasik yang ditemani oleh aktivis di LSM PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh Dan Turki) dengan juru bahasa Andi Irawan (dua dari kiri) dan Teuku Zulkhairi (dua dari kanan), delegasi University Turki bertemu dengan Gubernur Aceh dan rektorat Universitas Syiah Kuala sebagai tujuan utama. Foto: Thayeb Loh Angen.




Dermaga Ule Lheue

Written By Peradaban Dunia on Saturday, April 12, 2014 | 8:18 PM

Ule Lheue, Banda Aceh
Puisi-puisi karya Zahraini Za

Puisi 1

Dermaga Ule Lheue

Angin membawaku dalam sebuah mimpi
Di dermaga Ule Lheue mimpi kutalukkan
Menjauh angan di mana kau janjikan
Beribu janji ingin kuleburkan di dermaga Ule Lheue

Jauh di utara sebuah moment ingin diukir
Berubah janji disapu angin pantai PIM
Kembali janji akan diukir di dermaga Ule Lheue
Kucoba tak terhapus oleh ombak dan angin dermaga Ule Lheeu
Kutunggu dan kutunggu mimpi itu
Di dermaga Ule Lheue.

Bna, 18 September 2013


Puisi 2

Sejumput

Hiaskan dalam tirani klasik
Berpadu diri dalam sejawan anggur
Nuansa biru di antara rerumputan padi tirani
Sejumput hasrat yang menggelitik
Dalam derai langkah yang tertahan
Sejumput yang dipunyai hantarkan nuansa suci
Menggelegar Rabb di antara biduk malam sepi
Akankah sejumput tirani kuasakan diri.

Bna, 6 April 2014

Puisi 3

Kolam Teratai 

Tanggal 6 Agustus 2013 
Menuai sebuah teratai, 
tertutup cinta belibis di kolam bersayap mawar merah 
Memendam rindu di balik beningnya kolam cinta 
Cinta belibis menari-nari 
Mengajak petak umpet di balik teratai.


Zahraini Za, Mahasiswa Pascasarjana Unsyiah, Direktris Utama Az-Zahra Boutique, Banda Aceh. Puisi-puisi ini akan diterbitkan di dalam buku antologi tunggal puisinya yang berjudul 'Pelangi di Tanah Bandar', akan diterbitkan di Banda Aceh, Mai 2014.

Kemana Hilangnya Tualang

Written By Peradaban Dunia on Friday, April 11, 2014 | 5:19 PM

Cerpen: Thayeb Loh Angen

Disiarkan di Buletin Tuhoe Edisi XVI, Desember 2013
Pohon langka. Foto: tamaneden100.wordpress.com

Kini, Apa Maun menjadi geuchik Gampong Tak Bernama. Ia ditunjuk, walau tidak mahu. Tidak ada orang lain yang berani menjadi geuchik di sana. Semua orang disalahkan dan selalu kalah berdebat dengan Apa Maun.

Para Tuha Peut Gampong mengambil sikap, kalau Apa Maun tidak mau menjadi geuchik, maka ia harus pergi selamanya. Maka, Apa Maun yang sangat mencintai kampungnya, terpaksa menjadi geuchik.

Sehari setelah dilantik, ia berlagak seperti gubernur. Ke mana pun, ia pergi dengan pengawalan ketat diiringi sirine, walau itu hanya perjalanan makan siang. Tanda lampu persimpangan pun ia langgar.

Istrinya yang seorang perempuan ta’at beribadah selalu menasehati bahwa melanggar tanda lampu di persimpangan termasuk mengkorupsi hak pengguna jalan. Tapi Apa Maun bersikeras, ia hanya meniru rombongan gubernur, bupati, atau walikota.

Ini berbeda dengan Apa Main, sepupunya yang menjabat Keujruen Blang sejak sepuluh tahun lalu. Kalau tiba di persimpangan bertanda lampu penyebrangan, Apa Main menunggu warna hijau menyala sebelum melintas, walau tidak ada satu kenderaan pun yang melaju dari arah lain.

“Disiplin adalah kau melakukan hal benar walaupun saat ketika kau ada kesempatan dan berkuasa melakukan hal sebaliknya,” yakin Apa Main. Tentu, Apa Maun menertawakan sikap Apa Main.

Karena isterinya membujuk dengan santun dalam beberapa tahun, maka Apa Maun akhirnya mematuhi aturan. Bahkan ia mulai mencintai seni dan kebudayaan, yang dulu dianggapnya hal tidak berguna.

Pada bulan Muharram di tahun ketiga menjabat sebagai geuchik, Apa Maun berencana mengadakan rapai Uroh yang diikuti oleh perapai dari seluruh negeri. Acara itu akan dilaksanakan saat bulan Molod berakhir. Ia memerintahkan Keujruen Blang untuk mengumpulkan sebanyak seribu buah alat rapai.

Keujruen Blang menjalankan perintah. Setelah satu bulan, ia hanya dapat mengumpulkan lima ratus buah alat rapai. Ia menemui Apa Maun di kantornya. Geuchik itu sedang menabuh-nabuh rapai seraya melantunkan beberapa bait syair.

 “Baloh Tualang kulet jih himbee bek kapeumalee kee hai kayee rimba,
meunyoe han ka meusu ban yoh dilee, kupeh bak batee beukah dua.”
Apa Maun menyambut Apa Main.

“Harus ada seribu buah, cari sampai dapat. Berapa uang kauperlukan, semua kusediakan. Yang penting ada seribu rapai.”

“Ini sudah dari seluruh negeri. Untuk mencapai jumlah itu kita harus membuat rapai lain.”

“Buatlah itu. Kumpulkan seluruh pembuat rapai. Lima ratus buah alat rapai harus siap bulan depan. Sebelum 15 Ra’jab harus kita laksanakan rapai uroh ban sigom nanggroe,” kata Apa Maun.

Apa Main mengumpulkan para pembuat alat rapai. Hanya ada dua puluh satu orang dalam negeri itu. Semuanya sudah berusia di atas lima puluh tahun. Mereka menuju hutan-hutan.

Hari pertama dan kedua mereka ke hutan di seputaran gunung Seulawah. Hari ketiga dan keempat ke hutan seputaran gunung Geureudong, hari ke lima dan keenam mereka ke wilayah gunung Leuser. Hanya ada tiga batang pohon Tualang. Dan hanya satu akar yang bisa diambil.

Para pembuat rapai membaca pesan kepada pohon Tualang selaku sesama makhluk hidup:

Assalamualaikom bani Tualang,
Beuna ban nan meusu beuraya
lon koh bani phon lon peubreueh pade
Tujuh seuen bude lonjak tueng gata
Oh kuboh kulet ka meuniet bajee
Bek kapeumale kee di keue rakyat ba
E tualang manyang
Meusu meugrang-grang oh malam jua
Pawang tuha guree keuh dikah
Kutueng tuah kah kupeusa dua.

 “Itu hanya cukup untuk dua baloh rapai, tapi tidak bisa juga untuk rapai ulee. Kita butuh empat ratus sembilan puluh delapan buah alat rapai lagi,” kata pembuat rapai yang lain.

“Ambil pohon apa saja, yang penting jumlah rapai cukup,” Apa Main mengurut-urut kepala. Maka, para pembuat rapai mencari pohon-pohon yang cocok untuk dipotong saat air laut surut.
Tiga pekan berlalu, Apa Main dan pembuat rapai telah mendapatkan cukup kayu sebagai bahan baku baloh rapai.

“Apa menurutmu Apa Maun akan menerima ini?” tanya pembuat rapai.

“Kalau ia tidak terima, minta ia carikan sendiri pohon tualang ke rimba Tuhan,” Apa Main tertawa sinis.

“Kau Keujruen Blang yang kurang ajar,” kata pembuat rapai.

“Ini namanya kreatif, banyak ide. Kalau bicara seperti ini lagi, kupotong gajimu.”
Apa Main dan rombongan pulang. Para pembuat rapai masuk ke bengkelnya masing-masing setelah membagi kayu sama banyak untuk membuat alat musik rapai.

Setelah dua pekan berlalu, semua rapai sudah siap dan dikumpulkan ke kantor geuchik kampung tak bernama.

“Ini baloh rapai bukan dari kayu tualang, Apa Main, Keujruen Blang macam apa, kau!” Teriak Apa Maun seraya berkacak pinggang.

“Aku hanya membuat keinginanmu mengadakan acara seribu rapai tercapai. Tapi kalau aku bersikeras semua balohnya dari kayu tualang seperti katamu, maka kita harus mencari bibit pohon tualang, lalu menanam, merawat, dan menunggunya besar, sekitar lima puluh tahun lagi baru dapat kita potong untuk baloh rapai, setelahnya baru dapat membuat acara rapai sebesar rencana gilamu. Aku hanya memanfaatkan yang ada, supaya seribu rapai bukan hanya sekedar bermimpi,” kata Apa Main.

“Lalu, kena hilangnya Tualang?” Apa Maun mendesah.
Apa Main, para pembuat rapai, dan masyarakat yang sudah mengerumuni halaman kantor geuchik menggeleng-geleng.

“Keujruen Gle, tolong cari, ke mana hilangnya Tualang!” perintah Apa Maun pada seorang berpeci ala Yaman. Lelaki itu mengangguk.

“Bagaimana acara rapai urohnya, Teungku Peutua?” Tanya Keujruen Peukan atau Syah Bandar.

“Kita laksanakan pada purnama ini, tujuh hari tujuh malam. Kau yang atur semuanya.”
Apa Maun menemui kepala instansi semak belukar yang jauh dari kampungnya. Tidak ada jawaban tentang Tualang. Ia menuju bidang pemberi izin hak perusakan hutan. Tidak ada jawaban. Setelah keluar dari kantor itu, ia menuju sebuah kedai kopi dan memesan perasan ranup.
Ia mendengar percakapan pengunjung di sana.

“Pemerintah sekarang, dengan penjaga hutannya sangat mudah kita tipu. Dulu, aku pernah menipu orang yang menipu banyak cendekiawan di negara yang besar. Lihat saja hutan-hutan itu. Pohon-pohon tualang, meureuboe, dan meranti semua habis kubabat, itu mahal harganya,” kata lelaki itu.

“Bagaimana cara kautipu gubernur itu?”

“Mudah saja, gubernur mengelilingi hutan dengan helikopter. Aku suap pilotnya, dan sebagai tokoh masyarakat orang yang kenal hutan, aku ikut naik ke helikopter itu. Pilot hanya melintasi ke koordinat yang kukasih. Setelahnya si gubernur tidak percaya lagi laporan aktivis lingkungan atau pemberitaan media tentang penghancuran hutan,” lelaki itu tertawa.

“Kau sendirian yang membabat hutan di seluruh negeri ini?”

“Tidak, ada puluhan orang, cuma aku yang terbanyak karena dapat menipu siapa saja. Sekarang, bahkan ratusan orang yang tidak memiliki hak merusak hutan pun ikut menebang pohon-pohon belantara.”
Kuping Apa Maun memerah mendengar percakapan itu. Ia memesan minuman lagi. Padahal yang tadi belum habis. Segelas minuman panas dalam gelas besar.

Ketika pelayan hampir melewati pengunjung yang mengaku membabat hutan tualang, Apa Maun bangkit dan berpura terjatuh seraya sengaja menumpahkan air panas dalam gelas dari tabak si pelayan ke wajah si pembabat hutan. Lalu, ia berpura-pura minta maaf seraya tertawa dalam hati.

“Itu hanya segelas air yang tumpah ke atasmu, tidak sebanyak banjir yang dihadapi rakyat karena kayu-kayu telah kautebang,” kata Apa Maun.

Pengunjung yang kulit wajahnya memerah hampir terkelupas itu memaki-maki Apa Maun seraya mendekat ingin memukulnya. Para pengunjung memegang lelaki itu.

“Ini orang yang menghancurkan hutan sehingga negeri kita banjir,” Apa Maun mendekati dan meninju wajah lelaki yang masih mengumpat tapi terdengar seperti menangis tersebut.
Pengunjung yang tadi hanya memegang si penghancur hutan, meniru tingkah Apa Maun. Kontan saja, lelaki itu babak belur.

“Tunggu,” Apa Maun menghentikan keroyokan. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah lelaki yang terkulai dengan nafas tertahan-tahan itu.

“Di mana aku bisa dapat bibit tualang untuk membudidayakannya?” Apa Maun berkara lirih.

“Kau a, a, akan kut kurt kutuntut di pep, pep, pengadilan negara,” si pembabat hutan berusaha keras mengucapkan kata-kata.

“Setahuku kau kini berada di pengadilan adat karena membasmi pohon tualang sebagai bahan baku baloh rapai, kau melanggar hukum adat. Apa mahu lagi?” Apa Maun berkata lebih nyaring.

“Harus ada qanun tentang penyelamatan jenis kayu yang hal terkait dengan kebudayaan, misalnya pohon Tualang sebagai bahan baku baloh rapai, bahan pembuat seurune kale, dan sebagainya,” kata pengunjung yang dari tadi hanya menyaksikan yang terjadi.

“Tepat sekali, sekolahmu yang tinggi itu ternyata ada gunanya,” Apa Maun membayar minuman dan kerusakan kedai itu, lalu keluar. Dua mobil polisi muncul dengan suara sirine bising. Apa Maun menghilang ke balik kerumunan orang.*

Thayeb Loh Angen, Aktivis Kebudayaan di Pusat Kebudayaan Aceh-Turki (PuKAT), penulis novel Teuntra Atom.

Meunang ngon Le Syedara - Imum Jhon

Written By Peradaban Dunia on Thursday, April 10, 2014 | 12:15 AM

video

Lagu ini adalah karya Imum Jhon, seorang bekas gerilyawan (Eks Kombatan) Aceh yang diluncurkan menjelang Pemilu Legislatif 9 April 2014, di Aceh, Sumatra, Indonesia. Lagu yang dinyanyikan sendiri oleh Imum Jhon ini berhimpun di dalam album Geundrang Politek.

Allah Neupeumeunang Partai Aceh - Imum Jhon

Written By Peradaban Dunia on Wednesday, April 9, 2014 | 11:24 PM

video

Lagu ini adalah karya Imum Jhon, seorang bekas gerilyawan (Eks Kombatan) Aceh yang pada awalnya diperuntukkan bahagi kampanye Partai Aceh untuk Pemilu Legislatif 9 April 2014, di Aceh, Sumatra, Indonesia. Lagu yang dinyanyikan sendiri oleh Imum Jhon ini berhimpun di dalam album Geundrang Politek.

Pemilu Aceh Aman

Written By Peradaban Dunia on Tuesday, April 8, 2014 | 10:55 PM

Orang Aceh Pilih Pemilu Damai. Foto: penaone.com
Beberapa kekerasan menjelang pemilu 9 April 2014, seperti pemukulan, pembakaran, penembakan, merupakan hal yang bisa dimaklumi oleh orang yang mahu berpikir jernih. Itu merupakan warisan dari perang gerilya di Aceh yang berakhir tatkala Memorandum of Understanding (MoU) antara GAM dan RI pada 15 Agustus 2005 ditandatangani di Helsinki, Finlandia.

Kekerasan yang telah terjadi akibat pelakunya terpancing itu tidak akan merusak perdamaian Aceh yang telah diraih secara berpayah-payah walaupun dengan harga murah. Kekerasan itu umpama orang membuat sebuah kenduri besar yang menggunakan ribuan piring dan gelas, perkara adanya satu atau dua benda dari kaca itu pecah merupakan hal yang biasa. Kita tahu bahwa tidak ada seorang pun di Aceh yang ingin menderita karena bencana buatan serupa perang raya yang menyakitkan itu.

Memang tidak ada orang waras yang mahu membenarkan kejahatan pendukung sebuah partai politik yang menganiaya anggota partai lain, tetapi mahu tidak mahu kita diharuskan oleh alam untuk memahami bahwa Aceh baru saja selesai berperang. Trauma itu belum pun menghilang dari setiap pikiran orang Aceh. Sampai saat ini, kita masih berusaha keras untuk melupakan perang tersebut demi menjaga perdamaian.

Anda di luar Aceh tidak bisa mengatakan bahwa pemilu kami akan tidak aman dengan adanya beberapa kekerasan tersebut. Perdamaian itu baru mencapai usia 9 tahun pada 15 Agustus 2014 nanti. Apabila dibandingkan dengan manusia, perdamaian Aceh belum cukup umur sehingga tentang keamanan, Aceh belum bisa dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia yang tidak mengenal perang. Aceh harus dibandingkan dengan tempat di negara lain yang baru selesai berperang seperti Iraq, Afrika, Bosnia, dan sebagainya.

Kekarasan yang terjadi menjelang pemilu ini baru terjadi di antara pendukung partai politik, belum naik kelas sampai kepada elit politik atau sekalian calon legislatif (caleg), dan lainnya di antara partai. Di luar negeri sana, bahkan pendukung klub sepak bola saja ada yang berkelahi, pun ada yang menembak pemainnya. Maka, kekerasan di kelas bawah tersebut belum menggoyangkan pilar utama partai politik di Aceh.

Baru bisa disebutkan bahwa rencana pemilu Aceh tersebut kurang aman untuk dilanjutkan apabila ada calon dari sebuah partai politik memukul calon dari partai lain. Apabila itu terjadi, maka Mahkamah Konstitusi (MK) RI punya alasan kuat untuk membatalkan pemilu 9 April 2014 di Aceh dan Komisi Independen Pemilihan (KIP) akan membuka pendaftaran ulang dengan tidak melibatkan calon pejabat yang saling pukul tersebut.

Kenyataan Aceh yang masih belum cukup umur di dalam perdamaian ini bisa membenarkan kebijakan Jakarta tatkala mengirimkan banyak anggota pengaman pemilu ke Aceh. Namun dalam hal ini, Jakarta tidak perlu khawatir karena Aceh masih di dalam NKRI. Jakarta harus takut apabila Aceh menolak untuk ikut pemilu. Tetapi itu tidak akan terjadi selama partai yang dibentuk oleh bekas penentang NKRI masih bersemangat mengikuti pemilu.

Tentang partai politik manakah yang mungkin mendapatkan suara terbanyak, kita tidak bisa pastikan. Hasil pemungutan suara nantilah yang menentukan hal tersebut. Namun, apabila ingin mereka-reka berdasarkan beberapa fakta di lapangan, maka kita bisa melihat apa yang terjadi di wilayah yang terbanyak penduduk di Aceh, yakni Lhokseumawe dan Aceh Utara yang sepanjang sejarah Aceh menjadi penentu suara politik.

Di bekas kesultanan Samudera Pasai tersebut, Partai Aceh (PA) masih didukung kuat oleh rakyat. Di mana-mana kampanye akbar PA banyak dihadiri oleh penduduk. Setiap kampanye PA di sana selalu disesaki oleh puluhan ribu orang dengan memakai baju merah berlambang PA. Itu memang menyakitkan bagi sebagian orang, tetapi fakta yang terjadi terlalu sulit untuk bisa dibantah.

Bagaimana apabila kita memakai sebuah sebuah sudut pandang yang berbeda dengan yang sering dimitoskan oleh sebagian orang, yakni ‘pemilih cerdas yang kebanyakan menghuni perkotaan tidak akan memilih PA’. Marilah kita melihat paramida terbalik bahwa banyaknya pendukung PA di perkampungan disebabkan mereka dekat dengan perang raya di masa sebelum MoU Helsinki.

Kedekatan itu membuat mereka merasa terpanggil untuk mengikuti apa saja arahan dari bekas gerilyawan GAM. Dalam hal ini, arahan untuk memilih PA. Ini membuktikan bahwa kesadaran masyarakat perkampungan di Aceh lebih baik daripada masyarakat perkotaan. Mereka menyadari bahwa memilih partai lokal lebih menguntungkan Aceh dalam berbagai hal daripada memilih partai nasional.

Rasa ‘nasionalisme Aceh’ yang disiarkan selama masa Reformasi Indonesia pada 1998 sampai MoU Helsinki 2005 di Aceh, telah mengikis sebagian besar pesona partai nasional, terutama di perkampungan. Pesona itu telah direbut secara mutlak oleh PA walaupun dalam beberapa waktu terakhir telah sedikit berkurang.

Namun, kurangnya ahli politik di dalam tubuh PA membuat sebuah hal penting tidak terjadi, yakni menyakinkan sekalian rakyat Aceh supaya memusuhi partai nasional yang ada di Aceh. Sebelum itu berlangsung, sesuatu yang merugikan Aceh pun terjadi, yakni terpecahnya sebagian kecil bekas gerilyawan, ada sedikit orang yang bergabung dengan PNA (Partai Nasional Aceh).

Keluarnya sebagian kecil orang dari PA dan membuat PNA terlihat semacam rekayasa oleh beberapa pihak supaya PA tidak melawan partai nasional, tetapi melawan sesama bekas gerilyawan, sesama Aceh. Sementara, dalam pandangan poltik, apabila Aceh ingin benar-benar memanfaatkan hak kekhususan yang diberikan kepadanya, maka ia harus memenangkan partai lokal yang lahir akibat adanya MoU Helsinki antara GAM dan RI.

Kesadaran akan kepentingan politik Aceh inilah yang belum dimiliki oleh sebagian orang, termasuk cendikiawan sehingga mereka tidak mendukung partai lokal. Ini membuktikan bahwa cendikiawan semacam itu masih awam dalam bidang poltik yang sesungguhnya karena masih memakai pola pikir sebelum adanya MoU Helsinki. Mereka adalah orang-orang yang ketinggalan siaran terkini dari pesawat politik dunia di Aceh.

Dengan kenyataan ini, kekerasan menjelang pemilu 9 April 2014 di Aceh merupakan hal yang tidak perlu dibesar-besarkan. Tidak perlu dihayalkan yang macam-macam, apalagi mengaitkannya dengan keberlangsungan peradamaian karena MoU Helsinki.

Manakala ribuan batang bedil itu sudah dipotong pada masa sembilan tahun lalu, ternyata masih ada satu atau dua yang tersisa meletuskan kembali pelurunya karena persaingan partai di tahun ini, tetapi itu tidaklah mungkin menghentikan perdamaian yang mengangumkan dan murah itu. Selat Malaka tidak akan berbau pesing oleh kencing beberapa orang pelaut.

Thayeb Loh Angen, Aktivis kebudayaan di Pusat Kebudayaan Aceh Dan Turki (PuKAT).

Bulu Elang

Written By Peradaban Dunia on Sunday, April 6, 2014 | 11:32 PM

PUISI karya: Thayeb Loh Angen

Bayi elang. Foto: kicauburung.net
Untuk Kekasihku Hayati

Kekasihku Hayati, ada sekawanan bayi elang mengajak akan aku untuk berkhayal tentang mengelilingi dunia ini disebabkan mereka telah bisa terbang di atasnya bagaikan elang dewasa.
Mereka mengajakku dengan kata yang membakar bagaikan lahar,
tetapi wahai kekasihku, Hayati, tahukah engkau bahawa sayap-sayap dan tubuh sekalian mereka tidaklah berbulu, dan bulu-bulu yang telah luruh itu tidak akan pernah tumbuh lagi karena kulit mereka telah pun diracuni.
Kutunjukkan itu akan mereka dan sekalian bayi elang pun murka seraya berkata lagi,
“Ketahuilah bahwa kami ini anak elang! Manakala kelak kami memiliki sekalian bulu bagaikan elang dewasa, niscaya sudahlah pasti bisa melakukannya.”
Wahai Hayati, kekasihku, sesungguhnya ayam atawa itik, apalagi merpati lebih mungkin untuk mendapatkan sebagaimana impian mereka disebabkan memiliki bulu walaupun sayapnya pendek.
Jikalau mereka mahu mengakui bahwa mereka tidak akan memiliki lagi bulu-bulu, niscaya engkau pun bisa memberikan akan mereka sekalian bulu palsu, namun keangkuhan adalah musuh terbesar manusia dalam mencapai kebijaksanaan.
Memang zadah, ternyata aku pun bagian daripada bayi elang tanpa bulu itu.
Bulu-bulu kami itu dicabut dan kulit kami diracuni tatkala pertengahan bulan ke delapan tahun kelima setelah ribu kedua lahirnya Al-Masih.
Kini wahai Hayati, kekasihku, bagaimanakah bisa kuberikan akan mereka sekalian bulu-bulu
sementara aku sendiri pun tidak memiliknya.

6 Aril 2014

Thayeb Loh Angen, Aktivis kebudayaan di Pusat Kebudayaan Aceh-Turki (PuKAT).

Kehilangan Aceh

Written By Peradaban Dunia on Wednesday, April 2, 2014 | 11:16 PM



Aceh
Telah kehilangan makna syair pujangga
Telah kehilangan bijak fatwa ulama
Telah kehilangan wibawa titah pemimpin
Telah kehilangan cinta sesama.

Lhokseumawe, 2 April 2014

Oleh: Thayeb Loh Angen

Pemilu Lokal di Turki Bentuk Sejarah Baru Eurasia

Written By Peradaban Dunia on Sunday, March 30, 2014 | 11:29 PM

Para pemilih mendatangi tempat-tempat pemungutan suara hari Minggu di Turki untuk pemilu lokal yang sebagian besar dipandang sebagai referendum mengenai perdana menteri negara itu dan partainya yang memerintah, Partai AK.

Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan memberikan suaranya di TPS di Istanbul, Turki.
Istanbul - Negara Eurasia Turki yang dipimpin oleh Perdana Mentri Recep Tayyip Erdogan kini berjuang melawan tuduhan korupsi yang telah memaksa pengunduran diri beberapa menteri negara.

Untuk menjaga keseimbangan kepentingan negara bekas pusat Romawi Timur (Konstantinopel) dan Ottoman Turkish tersebut, perdana menteri telah memblokir akses ke Twitter dan YouTube setelah beberapa penyadapan dan media sosial menyairkan tuduhan korupsi dalam pemerintah Turki.

Kelompok-kelompok HAM dan negara-negara NATO sekutu Turki secara luas mengecam Erdogan atas pemblokiran akses ke Internet itu tanpa mempertimbangkan kepentingan nasional Turki.

Pemilu hari Minggu ini adalah yang pertama sejak protes anti-pemerintah secara nasional tahun lalu yang memicu keributan selama berminggu-minggu yang menewaskan delapan orang dan melukai ribuan lainnya.

Meskipun ada berbagai tantangan baru-baru ini, Erdogan mengatakan ia memperkirakan Partai AK akan menang dalam pemungutan suara itu.

Lima puluh juta orang diperkirakan akan memberikan suara dalam pemilu lokal itu, yang dipantau oleh sejumlah besar pemantau pemilu.voaindonesia.com  

Arafat Nur Bacakan Karyanya di ASEAN Literary Festival

Written By Peradaban Dunia on Friday, March 28, 2014 | 6:16 PM

Arafat Nur (dua dari kiri memengang hulu pengeras suara) membacakan penggalan kisah dalam novel terbarunya Burung Terbang di Kelam Malam di panggung Asean Literary Festifal (ALF), Taman Ismail Marzuki (TIM), 21-23 Maret 2014. 
Jakarta - Arafat Nur tampil membacakan penggalan kisah dalam novel terbarunya Burung Terbang di Kelam Malam di panggung Asean Literary Festifal (ALF) di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta yang akan berlangsung baru-baru ini.
 
Sebelum tampil, Sabtu (22/3) petangnya, dia sempat memaparkan masalah konflik Aceh di sesi Writter’s Coner. Penampilannya ini sempat terusik dengan kebisingan, dan membuat Arafat melontarkan kata-kata kesal yang membuat hadirin bersorak dan tertawa-tawa.
 
Selama mengisi sejumlah acara itu, novelis Aceh ini tampak agak emosi dan mengkritik sejumlah kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat. “Apa itu nasionalisme? Mereka menyuruh kita untuk mendahului kepentingan umum daripada pribadi. Sedangkan mereka mendahulukan kepentingan pribadi dengan korupsi,” kata Arafat dengan suara menyeru.
 
Dari dulu pemerintah itu tetap tidak adil terhadap rakyat, terlebih lagi terhadap Aceh. mereka habis mengeruk semua kekayaan Aceh untuk dibawa ke Jakarta. Kata Arafat, sampai ke Jakarta mereka mengkorupnya secara bersama-sama.
 
Secara tegas Arafat mengatakan, bahwa orang Aceh tidak membenci Jawa. “Yang kami benci itu adalah pemerintahnya yang jahat dan tidak adil. Sebagaimana juga orang Jawa membenci pemimpin yang oteriter dan sewenang-wenang. Jadi, janganlah salah sangka. Kalau ada orang Aceh yang membenci orang Jawa, sebetulnya orang itu juga membenci orang Aceh,” ujarnya.
 
Arafat melanjutkan, perang berkepanjangan telah melahirkan kebodohan, sifat dengki, dan juga munculnya orang-orang picik. Hal ini dapat dimaklumi karena perang membuat kehidupan semakin surut. “Di Aceh sendiri banyak orang yang tidak menyukai saya. Mereka tidak paham dengan novel yang saya tulis. Novel saya membela Aceh, tapi mereka memahami sebaliknya,” kata Arafat.
 

Dalam ASEAN Literary Festival ini juga dihadiri puluhan penulis, akademisi, dan kritikus dari Indonesia dan negara lainnya, baik ASEAN dan non-ASEAN akan ikut andil. Negara-negara Asia Tenggara yang tergabung dalam Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), memiliki banyak kesamaan, termasuk dalam hal sastra dan budaya.[]

Dan Kota Terbesar di Aceh pun Merah

Written By Peradaban Dunia on Wednesday, March 26, 2014 | 1:55 AM

Islamic Center Lhokseumawe terlihat daripada Lapangan Hiraq Lhokseumawe tatkala puluhan ribu orang telah berkumpul di sana, 24 Maret 2014, mengikuti kampenye akbar oleh Partai Aceh (PA) di lapangan pusat kota terbesar di Aceh tersebut. Sekalian orang pendukung partai yang dibentuk oleh bekas gerilyawan ini datang dihalau daripada wilayah Pase (Lhokseumawe dan Aceh Utara). Foto: Thayeb Loh Angen

Puluhan ribu orang menyesaki Lapangan Hiraq Lhokseumawe, 24 Maret 2014, mengikuti kampenye akbar oleh Partai Aceh (PA) di lapangan pusat kota terbesar di Aceh tersebut. Sekalian orang pendukung partai yang dibentuk oleh bekas gerilyawan ini datang dihalau daripada wilayah Pase (Lhokseumawe dan Aceh Utara). Foto: Thayeb Loh Angen

Pemadam Kota Lhokseumawe menyemburkan air siraman ke atas puluhan ribu orang yang telah berkumpul di terik matahari Lapangan Hiraq Lhokseumawe, 24 Maret 2014, mengikuti kampenye akbar oleh Partai Aceh (PA) di lapangan pusat kota terbesar di Aceh tersebut. Sekalian orang pendukung partai yang dibentuk oleh bekas gerilyawan ini datang dihalau daripada wilayah Pase (Lhokseumawe dan Aceh Utara). Foto: Thayeb Loh Angen



Berita Pilihan

Berita Campuran

 
Web Design : Peradaban Dunia Team | Redaksi | About
Copyright © 2011. Peradaban Dunia - All Rights Reserved
www.peradabandunia.com